Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TEKNIK REFRIGERASI

PENGESAN PADA IKAN (ICING)

Disusun oleh
Adeyan Al Fikri

(135080307111006)
T02

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah mencurahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini
mengenai Pengesan pada Ikan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Teknik
Refrigerasi.
Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, bukan karena
usaha dari saya selaku penulis, melainkan banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang
telah membantu saya baik itu dosen saya dan semua pihak yang telah
membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah mengenai Pengesan pada Ikan jauh dari
sempurna, untuk itu saya selaku penulis makalah ini mengharapkan saran dan
kritik yang membangun demi kesempurnaan tugas saya selanjutnya.
Demikian saya selaku penulis makalah, mohon maaf bila dalam pembuatan
makalah ini ada hal-hal yang kurang berkenan. Semoga makalah yang saya buat
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.

Malang, 1 Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................

Daftar Isi............................................................................................

ii

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang......................................................................

1.2 Rumusan Masalah................................................................

1.3 Tujuan....................................................................................

2. Pembahasan
2.1 Pengetian Pendinginan.........................................................

2.2 Pengertian Es........................................................................

2.2.1 Jenis Es Air Tawar...................................................

2.2.2 Jenis Es Air Garam..................................................

2.2.3 Jenis Es Air Laut......................................................

2.2.4 Jenis Es Kering.......................................................

2.3 Macam-macam Bentukan Es................................................

2.4 Prosedur Pendinginan Ikan dengan Es................................

2.5 Cara Pendinginan Ikan dengan Es.......................................

2.6 Cara Penyusunan Ikan pada Pendinginan...........................

2.7 Kelebihan dan Kelemahan Pengesan..................................

10

2.8 Menghitung Kebutuhan Es dalam Pendinginan Ikan............

11

3. Penutup
3.1 Kesimpulan............................................................................

13

3.2 Saran.....................................................................................

13

Daftar Pustaka..................................................................................

14

1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Ikan merupakan sumber protein hewani dan juga memiliki kandungan gizi
yang tinggi di antaranya mengandung mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh.
Protein dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pengganti sel-sel tubuh kita
yang telah rusak. Selain air, protein merupakan bagian utama dari susunan
(komposisi) tubuh kita.
Tetapi produk perikanan tersebut merupakan produk yang memiliki sifat
sangat mudah rusak/busuk. Tubuh ikan mempunyai kadar air yang tinggi dan pH
tubuh yang mendekati netral sehingga merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lain. Proses perubahan pada
tubuh ikan terjadi karena adanya aktivitas enzim, mikroorganisme atau oksidasi
oksigen Penanganan dilakukan dalam rangka menghambat proses penguraian
jaringan tubuh (pembusukan) sehingga ikan dapat disimpan selama mungkin
dalam keadaan baik. Oleh karenanya begitu ikan tertangkap harus diangkat
secepat mungkin ke atas kapal dan ditangani dengan baik serta hati-hati untuk
kemudian disimpan di cold storagedengan menggunakan metode pegawetan
yang menggunakan es (iceing) atau bisa diolah bahkan langsung dimasak untuk
dikonsumsi (Hedrianto, 2016).
Pendinginan

merupakan

perlakuan

yang

paling

umum

dalam

mempertahankan mutu hasil perikanan terutama dalam tahap penanganan.


Dalam penanganan ikan segar diupayakan suhu selalu rendah mendekati 0 oC
dan dijaga pula jangan sampai suhu naik akibat terkena sinar matahari atau
kekurangan es. Penanganan ikan harus dilakukan secepat mungkin untuk
menghindari kemunduran mutu ikan sehingga diperlukan bahan dan media
pendinginan yang sangat cepat dalam menurunkan suhu ikan pada pusat
thermal ikan. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat
kesegaran ikan. Tingkat kesegaran ikan akan semakin cepat menurun atau ikan
akan mudah menjadi busuk pada suhu tinggi dan sebaliknya pembusukan dapat
dihambat pada suhu rendah (Suparno, et al., 1993 dalam Sulastri, 2011 ).
Salah satu metode pendinginan yang paling mudah dan murah adalah
dengan pengesan. Es sanggup mendinginkan ikan dengan cepat karena sifatnya
sebagai thermostat yang baik. Oleh karena itu panas dari tubuh ikan akan cepat
1

ditarik keluar sehingga ikan cepat menjadi dingin dan menghambat proses
pembusukan pada ikan.

1.2

Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :

Apa pengertian dari pendinginan?

Apa itu es dan jenis- jenis dari es?

Bagaimana prosedur pendinginan pada ikan dengan menggunakan es?

Bagaimana cara penyusunan ikan saat pendinginan?

Apa kelebihan dan kekurangan pendinginan dengan metode pengesan?

1.3

Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah mengetahui tentang pendinginan ikan,


cara pendinginan ikan dengan es, cara penyusunan ikan, dan prosedur
pendinginan ikan. Selain itu juga untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata
kuliah Teknik Refrigerasi sebagai salah satu syarat kelulusan.

2. PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Pendinginan

Pendinginan adalah suatu metode perlakuan suhu rendah tetapi masih


diatas titik beku, baik secara sendirian maupun dikombinasikan dengan teknik
pengawetan lain. Pendinginan ikan merupakan salah satu proses yang umum
digunakan

untuk

mengatasi

masalah

pembusukan

ikan,

baik

selama

penangkapan, pengangkutan maupun penyimpanan sementara sebelum diolah


menjadi produk lain (Akmal, 2014).
Menurut

Widiantoko

(2011),

pendinginan

atau

refrigerasi

ialah

penyimpanan dengan suhu rata-rata yang digunakan masih di atas titik beku
bahan. Kisaran suhu yang digunakan biasanya antara 1oC sampai +4oC. Pada
suhu tersebut, pertumbuhan bakteri dan proses biokimia akan terhambat.
Pendinginan biasanya akan mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari
atau beberapa minggu, tergantung kepada jenis bahan pangannya. Pendinginan
yang biasa dilakukan di rumah-rumah tangga adalah dalam lemari es yang
mempunyai suhu 2oC sampai +16oC.
Kemudian adapun syarat-syarat yang harus terpenuhi dari media
pendingin menurut Khairi (2012), adalah sebagai berikut:
1.

Tidak meninggalkan zat racun atau zat berbahaya lainnya.

2.

Mempunyai kemampuan untuk menyerap panas dari tubuh ikan.

3.

Mudah dan praktis dalam penggunaannya.

4.

Ekonomis.

2.2

Pengertian Es

Menurut Wikipedia (2015), es adalah air yang membeku. Pembekuan ini


terjadi bila air didinginkan di bawah 0 C(273.15 K, 32 F) pada tekanan atmosfer
standar. Es dapat terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dengan tekanan yang
lebih tinggi juga, dan air akan tetap sebagai cairan atau gas sampai -30 C pada
tekanan yang lebih rendah.

Es batu merupakan produk pelengkap yang sering disajikan bersama


minuman dingin dan dianggap aman untuk dikonsumsi.Dalam masyarakat, es
batu dikenal sebagai air yang dibekukan.Pembekuan ini terjadi bila air
didinginkan di bawah 0 C. Air yang digunakan dalam pembuatan es batu
haruslah air yang higienis dan memenuhi standar sanitasi. Sampai saat ini,
belum ada peraturan pemberian izin atau rekomendasi kelayakan usaha es batu
yang baku ditinjau dari segi higienis dan sanitasi, dikarenakan usaha es batu
masih dalam skala kecil dan merupakan usaha rumah tangga, sehingga higienis
dan sanitasinya masih diragukan (Hadi, et al., 2014).

2.2.1 Jenis Es Air Tawar


Es air tawar merupakan jenis es yang umum ditemui dalam melakukan
proses pendinginan pada ikan. Selain karena harganya yang murah, es yang
terbuat dari air tawar tidak memberikan dampak negatif yang terlalu menonjol
yaitu es air tawar sangat mudah mencair dibandingkan es yang terbuat dari
bahan lain. Hal ini disebabkan suhu beku es air tawar yang hanya mencapai 0
o

C, tidak seperti lainnya yang bias mencapai dibawah titik beku 0 oC.

2.2.2 Jenis Es Air Garam


Es air garam merupakan jenis es yang terbuat dari air tawar dan
ditambahkan dengan garam dengan perbandingan tertentu biasanya air : garam
(1:1). Dengan ditambahkan garam suhu dalam es air garam lebih stabil dan
dibawah titik beku air (0 oC), sehingga tidak mudah mencair saat digunakan pada
proses pendinginan ikan. Selain itu garam juga memiliki sifat bakterisida dan
bakteriostatik sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba, Namun rasa
asin pada garam juga dapat mempengaruhi rasa daging ikan menjadi asin. Dan
daging ikan saat di thawing biasanya akan terdapat rongga seperti sarang lebah
(honeycomb) akibat dari proses partial freezing atau slow freezing pada ikan.
Kecepatan es mencair dapat dihindari dengan menambahkan garam,
karena garam dapat menurunkan titik beku. Dengan demikian es yang terbuat
dari bahan bersalinitas tinggi akan memiliki suhu yang lebih stabil dan lebih
rendah dibandingkan dengan air murni (Ningsih, 2012).

2.2.3 Jenis Es Air Laut

Es air laut juga merupakan salah satu jenis es yang berbahan dasar dari
air laut. Karena air laut juga memiliki kandungan garam sehingga baik sifat
maupun keunggulan dan kelebihan dari es air laut sama dengan es air garam.
Hanya saja es air laut biasanya diproduksi dan langsung digunakan oleh kapalkapal besar yang berada ditengah laut.
Kandungan garam mempunyai pengaruh yang pasti dan jelas pada sifat
sifat air. Kerapatan (density) maksimal air murni terjadi pada suhu 4 OC, namun
kerapatan air laut akan terus meningkat hingga titik beku. Karena mengandung
garam maka titik beku air laut menjadi lebih rendah daripada 0OC. penurunan titik
beku air laut ini merupakan fungsi dari salinitas. Air laut yang bersalinitas 35 ppt
mempunyai titik beku -1,9OC. Dengan terjadi pembekuan maka kerapatan akan
menurun sehingga es terapung di permukaan (Ningsih, 2012).

2.2.4 Jenis Es Kering


Menurut Wikipedia (2016), es kering adalah bentuk padat dari karbon
dioksida yang biasanya digunakan sebagai pendingin. Keuntungan dari es kering
adalah suhunya lebih rendah daripada es dari air dan tidak meninggalkan sisa
apapun. Es kering biasanya digunakan untuk menjaga agar makanan beku tetap
terjaga dinginnya di tempat yang tidak tersedia mesin pendingin. Es kering akan
tersublimasi pada suhu 78.5 C (109.3 F) pada tekanan atmosfer. Suhu yang
luar biasa dingin ini menyebabkan es kering yang berbentuk padat berbahaya
untuk dipegang tanpa pengaman karena akan menyebabkan perih karena
kedinginan (frostbite). Es kering pada umumnya merupakan senyawa yang tidak
berbahaya, tapi dalam konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan asfiksi
karena kekurangan oksigen.
Es kering umumnya digunakan dengan cara ditambahkan ke media
pendingin es sehingga kemampuan menyerap panas ikan lebih besar
dibandingkan media es saja. Kecepatan penurunan suhu lebih cepat karena
daya serap panas yang besar disebabkan oleh rendahnya titik suhu sublimasi
dari es kering, yaitu sekitar -78,5oC (Sondoro, 2011).

2.3

Macam-macam Bentukan Es

Menurut Mesin Raya (2010), beberapa es diatas memiliki ciri-ciri yang kegunaan
masing-masing, yaitu :

a) Ice Cube (Es Kubus)


5

Jika dalam bahasa indonesia disebut dengan es batu bentuk kubus adalah
hasil dari pembekuan air yang dibentuk menjadi kubus dengan ukuran 2 cm x
2 cm x 2 cm. Es Batu bentuk ini bisa Anda aplikasikan pada beberapa jus,
lemon tea, teh racik, dll. Untuk membuat es bentuk kubus Anda dapat
menggunakan Mesin Ice Cube yang saat ini diperjual belikan sesuai dengan
kapasitas yang bapak perlukan.
b) Ice Block (Es Balok)

Es Balok mungkin beberapa dari Anda sudah tidak asing dengan es batu
bentuk ini, ya memang es batu ini sangat mudah Anda temukan saat
Bapak/Ibu berkunjung di beberapa restaurant. Hal ini karena kebutuhan es
batu di berbagai restaurant sangat banyak sehingga mereka banyak yang
menggunakan es balok ini. Satu balok es dapat digunakan hingga 50 gelas
jus ata minuman dingin yang Anda buat. Anda dapat menggunakan Mesin Ice
Block, mesin ini dapat memproduksi hingga 10.125 kg/24 jam.
c) Es Salju (Snow Ice)

Bentuk dan tekstur es satu ini sangat lembut dan bersih sama persis seperti
salju yang sering kita jumpai di berbagai negara yang memiliki empat musim.
6

Es salju dapat Anda campurkan pada es campur dan dapat dipastikan cita
rasa akan sangat berbeda menjadi lebih segar dan lebih nikmat. Beberapa
aplikasi es ini yaitu : Es Campur, Pendingin ikan, Wine, dan dapat anda
padukan dengan berbagai minuman. Mesin yang digunakan untuk membuat
es salju adalah Snow Ice Maker.
d) Flake Ice

Es satu ini biasa digunakan untuk pendinginan ikan, tatakan sashimi, maupun
campuran hal ini karena bentuk es ini pecahan kecil-kecil. Sehingga
pengusaha tidak perlu repot lagi menghancurkan bongkahan es. Mesin yang
digunakan untuk memproduksi es ini disebut dengan Flake Ice Maker yang
dapat memproduksi hingga 350 kg/24 jam.
e) Ice Ball ( Es Bola)

Inovasi es batu terbaru diproduksi menggunakan Ice Ball Maker dengan dua
pilihan bentuk yaitu : Es Bulat Polos dan Es Bulat Bola dengan menggunakan
cetakan yang terbuat dari Silicone Food Grade. Es batu bentuk bola ini dapat
diaplikasikan pada Whiski, Rum, Cognac, Vodca, Tequilla, Cocktail Klasik, dll

2.4

Prosedur Pendinginan Ikan dengan Es

Menurut Papilaya (2011), langkah-langkah pendinginan ikan dengan es


adalah dengan mempersiapkan peti /cool box tempat ikan, lalu tempat tersebut
dibersihkan dan diberi lapisan es yang cukup.Ikan-ikan yang telah dibersihkan
disusun berjajar di dalam peti tersebut, lalu ditutupi dengan pecahan es.
Perbandingan yang baik antara ikan dan es adalah 2 : 1 atau 1 : 1. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pendinginan dengan menggunakan es adalah:
a) Lapisan es dan ikan tidak boleh lebih tinggi dari 50 cm, sebab kalau lebih
tinggi akan menyebabkan ikan disebelah bawah akan tergencet dan rusak.
b) Jika tinggi peti es lebih dari 50 cm, sebaiknya diberi sekat hidup untuk
menahan beban ikan di sebelah atas.
c) Jenis ikan yang berkulit dan berduri kasar jangan dicampur dengan ikan yang
berkulit halus.
d) Makin cepat ikan diberi es makin baik, sebab pembusukan tidak sempat
berlangsung.
Menurut Khairi (2012), es yang di gunakan untuk pendinginan ikan harus
di hancurkan terlebih dahulu menjadi bongkahan atau disebut menjadi butiranbutiran yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Ukuran butiran bongkahan
es kira-kira 1-2 cm. pemakaian bongkahan es yang terlalu besar dan runcing
dapat mengakibatkan kerusakan fisik ikan. Sementara butiran yang terlalu kecil
akan menyebabkan butiran es cepat melebur dan juga membendung aliran air ke
bawah sehingga terjadi genangan air antar lapisan ikan. Oleh karena itu,
pemakaian es balok yang di hancurkan akan lebih baik dari pada yang di serut
karena akan di peroleh butiran es yang berbeda-beda. Disarankan tidak
menghancurkan es balok di atas tumpukan ikan karena akan mengakibatkan
kerusakan fisik pada ikan.

2.5

Cara Pendinginan Ikan dengan Es

Menurut Razi (2015), cara pendinginan dengan es batu ada 2, yaitu:

a) Tumpukan, es batu ditebarkan ke dasar wadah peyimpanan ikan hingga


membentuk lapisan es setebal 5 cm. Kemudian ikan dicampurkan ke dalam
wadah tersebut. Pada lapisan ikan yang paling atas ditutupi dengan
hancuran es setebal 7 cm, lalu wadah ditutup agar tidak terjadi kontak
dengan udara disekitarnya.

b) Berlapis, es batu ditebarkan di dasar wadah penyimpanan hingga


membentuk lapisan stebal 5 cm. Selanjutnya di atas lapisan es batu
tersebut disusun ikan secara teratur dengan bagian perut menghadap
ke bawah agar cairan es batu yang meleleh tidak tergenang di bagian
perut ikan. Pada bagian atas ditaburkan kembali es batu sehingga
membentuk lapisan setebal 7 cm, selanjutnya wadah ditutup agar tidak
terjadi kontak dengan udara luar.

Sumber : Razi, 2015.

2.6

Cara Penyusunan Ikan pada Proses Pendinginan

Menurut Hedrianto (2016), penyusunan ikan dapat dilakukan dengan


menggunakan berbagai cara berikut.
a. Bulking
Bulking dilakukan dengan cara es batu disusun selapis demi selapis dalam
sebuah wadah. Bagian dasar dan bagian tepi wadah harus diberi lapisan es batu
setebal 5 cm untuk mencegah perambatan panas dari udara di bagian luar. Tebal
antara ikan dan lapisan es batu sebaiknya sama dan usahaka agar setiap tubuh
ikan tertutup lapisan es. Bila jumlah ikan yang akan di dinginkan sangat banyak,
untuk mempermudah penyusunan ikan, sebaiknya wadah dilengkapi dengan
sekat hidup (sekat yang dapat dibongkar pasang) terbuat dari kayu.
b. Shelfing
Prinsip kerja ini sama dengan bulking yang dilengkapi dengan sekat hidup. Jarak
antar sekat sekitar 20 cm dan setiap sekat hanya menampung satu lapis ikan.
Penyusunan ikan ini dianggap dapat menghabiskan waktu, tenaga, dan tempat
sehingga biasanya hanya digunakan untuk penyimpanan ikan berukuran besar.
Namun demikian, dengan cara ini mutu ikan tetap baik dan kehilangan berat
karena tertekan dapat dikurangi.
c. Boxing

Boxing adalah proses penyusunan ikan dengan menggunakan kotak (box)


terbuat dari alumunium atau plastik. Ikan yang disusun dalam kotak harus
terlebih dahulu dicampur dengan es batu, agar tingkat kesegarannya dapat
dipertahankan lebih lama.

Sumber : Razi, 2015.

2.7

Kelebihan dan Kelemahan Metode Pengesan

Menurut Khairi (2012),sebagai media pendingin, es mempunyai beberapa


kelebihan:
a) Mempunyai kapasitas pendingin yang besar per satuan berat yaitu 80
kkal per kg es.
b) Tidak membahayakan konsumen.
c) Bersifat thermostatic, yaitu selalu menjaga suhu sekitar 0C.
d) Ekonomis
e) Relatife mudah dalam penanganannya.
Ditambahkan oleh Papilaya (2011), sebenarnya pemakaian es sangat baik,
karena hal-hal berikut :
a) Es sanggup mendinginkan ikan dengan cepat, panas dari ikan ditariknya
sehingga ikan cepat dingin dan pembusukan terhambat.
b) Es berasal dari air sehingga tidak akan menimbulkan kesulitan apa-apa
dan tidak membahayakan kesehatan orang.
c) Es melindungi ikan dari kekeringan dan ikan tidak cukup didinginkan saja
tetapi harus dijaga jangan sampai kering, kalau kering akan timbul
perubahan pada otot serta warna dagingnya.

10

d) Es mudah dibuat dan diperoleh.


Kemudian

untuk

kelemahan

dari

metode

pendinginan

dengan

menggunakan es adalah :
a) Memerlukan tempat penyimpanan yang luas
b) Es juga mudah mencair apabila terkena suhu ruang
c) Hasil lelehan dari es yang mencair juga dapat melarutkan protein larut air
dalam daging ikan.
d) Ukuran es yang terlalu besar dan runcing juga dapat melukai daging ikan
sehingga dapat menurunkan kualitas ikan.

2.8

Menghitung Kebutuhan Es dalam Pendinginan Ikan

Menurut

Ganis

(2013),

hukum

kekekalan

energi

berlaku

dalam

menghitung jumlah es yang dibutuhkan untuk mendinginkan ikan. Apabila tidak


ada faktor-faktor lain yang memengaruhi maka panas yang perlu diambil dari
ikan setara dengan panas yang diserap oleh es untuk meleleh. Jumlah panas
yang terlibat di dalam proses pemanasan atau pendinginan dihitung dengan
rumus sebagai berikut :
Q = B x PJ x Dt

untuk proses yang melibatkan perubahan suhu.

Atau
Q=BxL

untuk proses pada suhu tetap (pelelehan dan pembekuan).

Keterangan :
Q

= jumlah panas yang ditambahkan atau diambil (kkal)

= berat benda yang dipanaskan atau didinginkan (kg)

PJ

= panas jenis (kkal/kg/oC)


PJ ikan berkisar 0,6 0,8 kkal/kg/ oC sesuai dengan kandungan airnya.
Jika kandungan air tidak diketahui, sebaiknya diambil nilai tertinggi 0,8.

Dt

= selisih antara suhu awal dengan suhu akhir (oC)

= panas laten, yang diperlukan untuk membekukan atau melelehkan


(kakl/kg).

Contoh:
Jika ikan seberat 1 ton dengan suhu awal 22oC akan didinginkan menjadi 0oC,
diketahui panas jenis ikan 0,8. Berapa jumlah es yang diperlukan?
Jawab:

11

Panas yang dikeluarkan dari ikan untuk mendinginkan dari 22oC menjadi
0oC.
Q = 1.000 x 0,8 x (22 0) = 17.600 kkal

Berat es yang diperlukan


Q

=BxL

17.600 = B x 80
B

= 17.600 : 80 = 220 kg

12

3. PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Dari hasil pembahasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan sebagai


berikut :

Pendinginan adalah suatu metode perlakuan suhu rendah tetapi masih


diatas titik beku, baik secara sendirian maupun dikombinasikan dengan
teknik pengawetan lain.

Salah satu metode pendinginan pada ikan adalah dengan pengesan


(icing). Jenis es yang digunakan pada pendinginan ada beberapa macam
seperti es air tawar, es air garam, es air laut, es kering.

Ada beberapa macam bentukan es diantaranya adalah ice cube (es


kubus), ice block (es balok), snow ice (es salju), flake ice, dan ice ball
(es bola).

Ada 3 macam cara penyusunan ikan saat proses pendinginan, yaitu :


bulking, shelfing, dan boxing.

3.2

Saran

Saran untuk pembaca adalah agar selalu disesuaikan jenis es mana yang
terbaik untuk digunakan pada proses pendinginan ikan sesuai dengan situasi
dan kondisi yang terbaik pada ikan tersebut, sehingga tidak terjadi penurunan
mutu ikan selama proses pendinginan.

13

DAFTAR PUSTAKA

Ganis, Lucky R. 2013. Menghitung Kebutuhan Es dalam Pengawetan Ikan.


http://mediapenyuluhan.blogspot.co.id/2013/02/normal-0-falsefalse-false-en-us-x-none.html. Diakses pada tanggal 30 Mei 2016.
Hadi, Basri, Elizabeth Bahar, dan Rima Semiarti. 2014. Uji Bakteriologis Es Batu
Rumah Tangga yang digunakan Penjual Minuman di Pasar Lubuk
Buaya Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, Vol.3(2).
Hedrianto.

2016.

Penanganan

Ikan

dengan

Es.

http://blog-

hedrianto.blogspot.co.id/2016/02/makalah-penanganan-ikandengan-es.html. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.


Khairi,

Ihsanul.

2012.

Media

dan

Teknik

Pendinginan

Ikan.

ihsanulkhairi86saja.wordpress.com/2012/01/23/media-dan-teknikpendinginan-ikan-2/. Diakses pada tanggal 30 Mei 2016.


Mesin

Raya.

2010.

Mengenal

Berbagai

Jenis

dan

Bentuk

Es

Batu.

http://www.mesinraya.co.id/mengenal-berbagai-jenis-dan-bentukes-batu.html. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.


Ningsih, Rahayu S. 2012. Pengukuran Titik Leleh Es. http://rahayuseptia.
blogspot.co.id/2012/01/laporan-tphp-pengukuran-titik-leleh-es.html
. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.
Papilaya,

Chlasye. 2011. Teknik Pendinginan Ikan dengan Es. thekisekichlasye.blogspot.co.id/2011/11/teknik-pendinginan-ikan-denganes.html. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.

Razi,

Fahrur.

2011.

Pendinginan

Ikan.

http://komunitaspenyuluh

perikanan.blogspot.co.id/2015/02/pendinginan-ikan.html.

Diakses

pada tanggal 30 Mei 2016.


Sondoro, Yunias. 2011. Pengawetan Ikan dengan Menggunakan Es Kering.
http://yunias19ocean.blogspot.co.id/2011/05/pengawetan-ikandengan-menggunakan-es.html. Diakses pada tanggal 30 Mei
2016.
Sulastri,

Suhana.

2011.

Pendinginan

Ikan

dengan

Es.

http://suhanasulastri.blogspot.co.id/2011/03/pendinginan-ikandengan-es.html. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.

14

Wikipedia. 2015. Es. https://id.wikipedia.org/wiki/Es. Diakses pada tanggal 29


Mei 2016.
. 2016 . Es Kering. https://id.wikipedia.org/wiki/Es_kering. Diakses
pada tanggal 29 Mei 2016.

15