Anda di halaman 1dari 21

ASKEB PATHOLOGI

PERSALINAN
Asuhan Kebidanan dengan
INVERSIO UTERI

Disusun Oleh:
TIYA ARISMA (2010.1216)

AKADEMI KEBIDANAN SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH

SEPANJANG SIDOARJO
Jl. Raya rame Pilang No.04 Wonoayu Sidoarjo

2011 2012
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.

Segala puji syukur kami panjatkan Kehadirat Allah SWT. Tuhan Seru Sekalian Alam. Kepada-Nya saya
memohon dan kepada-Nya kami meminta pertolongan dan Alhamdulillah atas rahmat dan hidayah-Nyalah
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul INVERSIO UTERI tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan bayak terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
Ibu Djauharoh, SST selaku dosen mata kuliah pathologi persalinan yang telah membimbing dan menuntun kami
dengan penuh kesabaran, ketabahan dan seikhlsan, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan, namun skami sudah berupaya untuk menampilkan yang terbaik. Maka dari itu kritik dan saran
dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan pembuatan makalah.
Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya,
AMIN..!!!!!!!!!!
Wassalamualaikum Wr. Wb

Sidoarjo, Mei 2012

Penyusun

LANDASAN TEORI INVERSIO UTERI


PENDAHULUAN
Di negara-negara miskin dan sedang berkembang, kematian maternal merupakan masalah besar
namun sejumlah kematian yang cukup besar tidak dilaporkan dan tidak tercatat dalam statistik resmi. Tingkat
kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 5 10 per 100.000 kelahiran penduduk, sedangkan di
Indonesia diperkirakan sekitar 450 per 100.000 kelahiran hidup .
Penyebab kematian maternal cukup kompleks, salah satunya adalah terjadinya perdarahan post partum
. Perdarahan post partum adalah sebab penting kematian ibu, dari kematian ibu yang disebabkan oleh
perdarahan (perdarahan post partum, plasenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus dan ruptur
uteri) disebabkan oleh perdarahan post partum. Yang termasuk etiologi perdarahan post partum adalah atonia
uteri, retensio plasenta, trauma jalan lahir, inversio uteri, ruptur uteri dan gangguan sistem pembekuan darah.
Inversio uteri merupakan suatu keadaan kegawatdaruratan obstetrik yang jarang terjadi (1 per 2000
12.000 kelahiran), namun umumnya kelainan tersebut menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian
yang tinggi (15 70%), biasanya yang terjadi adalah syok yang berat.

PEMBAHASAN
1.

DEFINISI

Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri, dapat secara
mendadak atau terjadi perlahan. (Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB untuk Pendidikan
Bidan,Prof.dr.Ida Bagus M,SpOG)

Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke
dalam kavum uteri. (Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi,dr. Delfi Lutan Sp.OG)

Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana bagian atas uterus (fundus uteri ) memasuki kavum
uteri sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri, bahkan ke dalam vagina
atau keluar vagina dengan dinding endometriumnya sebelah luar.(Ilmu Kandungan,Sarwono
Prawiroharjo)

Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana badan rahim berbalik, menonjol melalui serviks (leher
rahim) ke dalam atau ke luar vagina. (Obstetri Patologi ,UNPAD

Inversio uteri merupakan keadaan dimana bagian atas uterus memasuki kavum uteri, sehingga
fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Peristiwa ini jarang sekali ditemukan,
terjadi tiba-tiba dalam kala III/ segera setelah plasenta keluar.(Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal,Sarwono Prawiroharjo)

Presentasi

Inversi uterus mungkin hadir :


Akut - dalam waktu 24 jam setelah melahirkan
Subacutely - lebih dari 24 jam dan sampai 30 hari postpartum
Kronis - lebih dari 30 hari setelah melahirkan
2.

1.
2.
3.

KLASIFIKASI
Inversio uteri dibagi atas :
Inversio uteri ringan
Fundus uteri terbalik menonjol dalam kavum uteri, namun belum keluar dari ruang rongga rahim.
Inversio uteri sedang
Fundus uteri terbalik dan sudah masuk dalam vagina.
Inversio uteri berat
Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina.
(Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan,Prof.dr.Ida Bagus M,SpOG)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN


PRODI D-III KEBIDANAN
T.A 2013-2014

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul Inversio Uteri.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Asuhan
Kebidanan Pada Persalinan. Dalam penulisan makalah ini juga, tidak sedikit hambatan
yang kami hadapi, karena kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Namun kami
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat tuntunanNya dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi
dapat teratasi.
Untuk itu dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih
kepada semua pihak yang telah bersedia membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Selain itu kami juga mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak, demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Lamongan, 12 November 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................


ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................
1.3 Tujuan.........................................................................................................
1.4 Manfaat......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengrertian .................................................................................................
2.2 Derajat........................................................................................................
2.3 Penyebab ...................................................................................................
2.4 Penatalaksanaan..........................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.....................................................................................................
3.2 Saran.................................................................................................... ......
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di negara-negara miskin dan sedang berkembang, kematian maternal
merupakan masalah besar namun sejumlah kematian yang cukup besar tidak
dilaporkan dan tidak tercatat dalam statistik resmi. Tingkat kematian maternal di
negara-negara maju berkisar antara 5 10 per 100.000 kelahiran penduduk, sedangkan
di Indonesia diperkirakan sekitar 450 per 100.000 kelahiran hidup .
Penyebab kematian maternal cukup kompleks, salah satunya adalah terjadinya
perdarahan post partum . Perdarahan post partum adalah sebab penting kematian ibu,
dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan post partum,
plasenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus dan ruptur uteri)
disebabkan oleh perdarahan post partum. Yang termasuk etiologi perdarahan post
partum adalah atonia uteri, retensio plasenta, trauma jalan lahir, inversio uteri, ruptur
uteri dan gangguan sistem pembekuan darah.
Inversio uteri merupakan suatu keadaan kegawatdaruratan obstetrik yang
jarang terjadi (1 per 2000 12.000 kelahiran), namun umumnya kelainan tersebut
menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian yang tinggi (15 70%), biasanya
yang terjadi adalah syok yang berat.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari inversio uteri?
1.2.2 Apa saja pembagian derajat inversio uteri?
1.2.3 Apa penyebab dari inversio uteri?
1.2.4 Bagaimana penatalaksanaan inversio uteri?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian dari inversio uteri
1.3.2 Mengetahui pembagian derajat inversio uteri
1.3.3 Mengetahui penyebab dari inversio uteri
1.3.4 Mengetahui penatalaksanaan inversio uteri
1.4 Manfaat
Menambah pengetahuan tentang fisiologi inversi uteri dan penatalaksanaannya.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Inversio uteri adalah suatu keadaan dimana bagian atas uterus (fundus
uteri) memasuki cavum uteri sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam
kavum uteri bahkan kedalam vagina atau keluar vagina dengan dinding
endometriumnya sebelah luar. (Sarwono Prawirohardjo,2009;442)
Inversio uteri adalah terbaliknya fundus uteri ke dalam kavum uteri yang dapat
menimbulkan nyeri dan perdarahan. (Manuaba,2008;171)
Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana badan rahim berbalik, menonjol
melalui serviks (leher rahim) ke dalam atau ke luar vagina. (FK UNPAD, 2003;238)
Inversio uteri merupakan keadaan dimana bagian atas uterus memasuki kavum
uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Peristiwa
ini jarang sekali ditemukan, terjadi tiba-tiba dalam kala III/ segera setelah plasenta
keluar.
2.2 Derajat
1. Derajat Pertama
Inverso uteri hanya sampai ostium uteri internum. Teraba fundus uterinya
hilang atau terdapat lekukan
2. Derajat kedua
Seluruh endometrium terbalik, tetapi tidak sampai luar perineum. Fundus uteri
hilang saat palpasi.
3. Derajat Ketiga
Seluruh endometrium terbalik sampai tampak diluar perineum dan dapat
disertai plasenta yang masih melekat. Fundus uteri sama sekali tidak dapat diraba.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

2.3 Penyebab
Pada Grandemultipara karena terjadi atonia uteri
Tali Pusat terlalu pendek
Tarikan tali pusat terlalu keras sedangkan kontraksi uterus belum siap untuk
melahirkan plasenta.
Pelaksanaan perasat crede, saat kontraksi uterus belum siap untuk mendorong
plasenta lahir
Plasenta terlalu erat melekat pada tempat implantasinya.
Tonus otot rahim yang lemah
Canalis servikalis yang longgar
2.4 Tanda dan Gejala

Rasa nyeri yang hebat dan dapat menimbulkan syok. Rasa nyeri yang hebat tersebut

disebabkan karena fundus uteri menarik adneksa serta ligamentum


infundibulopelvikum dan ligamentum rotundum kanan dan kiri ke dalam terowongan
inversio sehingga terjadi tarikan yang kuat pada peritoneum parietal.
Perdarahan yang banyak akibat dari plasenta yang masih melekat pada uterus, hal ini

dapat juga berakibat syok .


2.5 Diagnosa
Diagnose juga bisa ditegakkan apabila pemeriksa menemukan beberapa tanda
inversi uterus yang mencakup:
Uterus menonjol dari vagina.
Fundus tidak tampaknya berada dalam posisi yang tepat ketika dokter palpasi

(meraba) perut ibu.


Adanya perdarahan yang tidak normal dan perdarahannya banyak bergumpal.
Tekanan darah ibu menurun (hipotensi).
Ibu menunjukkan tanda-tanda syok (kehilangan darah) dan kesakitan
Di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih

melekat.
Bila baru terjadi maka, maka prognosis cukup baik akan tetapi bila kejadian cukup

lama maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia,
nekrosis, dan infeksi.
2.4 Penatalaksanaan
1. Pencegahan : hati-hati dalam memimpin persalinan, jangan terlalu mendorong rahim
atau melakukan perasat Crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam menarik tali
pusat serta melakukan pengeluaran plasenta dengan tajam.
2. Bila telah terjadi maka terapinya :
Bila terjadi syok atau perdarahan, gejala ini diatasi dulu dengan infus intravena cairan
elektrolit dan tranfusi darah.
Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya renjatan vasovagal dan perdarahan
maka harus segera dilakukan tindakan reposisi secepat mungkin.
Segera lakukan tindakan reposisi
Bila plasenta masih melekat , jangan dilepas oleh karena tindakan ini akan memicu
perdarahan hebat
Salah satu tehnik reposisi adalah dengan menempatkan jari tangan pada fornix
posterior, dorong uterus kembali kedalam vagina, dorong fundus kearah umbilikus dan
memungkinkan ligamentum uterus menarik uterus kembali ke posisi semula .
Rangkaian tindakan ini dapat dilihat pada gambar 1

Sebagai tehnik alternatif : dengan menggunakan 3 4 jari yang diletakkan pada

bagian tengah fundus dilakukan dorongan kearah umbilkus sampai uterus kembali
keposisi normal.
Setelah reposisi berhasil, tangan dalam harus tetap didalam dan menekan fundus uteri.
Berikan oksitosin atau Suntikkan intravena 0,2 mg ergomitrin kemudian dan jika
dianggap masih perlu, dilakukan tamponade uterovaginal dan setelah terjadi kontraksi,
tangan dalam boleh dikeluarkan perlahan agar inversio uteri tidak berulang.
Bila reposisi per vaginam gagal, maka dilakukan reposisi melalui laparotomi.
PERAWATAN PASCA TINDAKAN
1. Jika inversi sudah diperbaiki, berikan infus oksitoksin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl
0,9 % atau Ringer Lactat) 10 tetes/menit :
a. Jika dicurigai terjadi perdarahan, berikan infus sampai dengan 60 tetes permenit.
b. Jika kontraksi uterus kurang baik, berikan ergometrin 0,2 mg atau prestaglandin
2. Berikan Antibiotika proflaksis dosis tunggal :
a. Ampisilin 2 gr IV dan metronidazol 500mg IV
b. Sefazolin 1 gr IV dan metranidazol 500 mg IV
3. Lakukan perawatan pasca bedah jika dilakukan koreksi kombinasi abdominal vaginal
4. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam 48
jam:
a. Ampisilin 2 gr IV tiap 6 jam
b. Gestamin 5 mg/kg berat badan IV setiap 24 jam
c. Metranidazol 500mg IV setiap 8 jam
5. Berikan analgesik jika perlu

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Inversio uteri adalah terbaliknya fundus uteri ke dalam kavum uteri yang dapat
menimbulkan nyeri dan perdarahan. Terdiri atas derajat satu, dua dan tiga,
penatalaksanaan umum dengan dilakukan reposisi uteri.
3.2 Saran
3.2.1 Mahasiswa harus mampu memahami etiologi inversio uteri

3.2.2 Mahasiswa harus mampu melakukan penatalaksanaan apabila ditemukan kasus


inversio uteri

DAFTAR PUSTAKA
1. Manuaba,
Chandranita,
dkk.2008.gawat-darurat-Obstetri-Ginekologi&ObstetriGinekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC
2. Manuaba, Fajar, dkk.2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC
3. Saifuddin,Abdul
B.2001.Pelayanan
Kesehatan
Maternal
Dan
Neonatal.
Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
4. Padjajaran,Universitas.2003.Obstetri Patologi Edisi 2,Jakarta : EGC
5. Wiknjosastro, H. 2006.Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
6. http://tiyaarisma.blogspot.com/2012/05/landasan-teori-inversio-uteri.html
http://dianuul.blogspot.com/2014/03/inversio-uteri.html

materi inversio uteri


Perdarahan pasca persalinan di bagi menjadi perdarahan pasca persalinan primer dan
sekunder:
1. Perdarahan pasca persalinan primer (Early Postpartum Haemorrhage, atau perdarahan
pascapersalinan segera).
Perdarahan pascapersalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama
Perdarahan pascapersalinan primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan
robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
2. Perdarahan pascapersalinan sekunder (Late Postpartum Haemorrhage, atau perdarahan
masa nifas, atau perdarahan pascapersalinan lambat, atau PPP kasep).Perdarahan
pascapersalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab utama Perdarahan
pascapersalinan sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran.
a. Definisi
Perdarahan pascapersalinan salah satunya dapat disebabkan oleh:
Inversio uteri adalah bagian atas uterus memasuki cavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah
dalam menonjol ke dalam cavum uteri.
Pada inversio uteri menahun, yang di temukan beberapa lama setelah persalinan, sebaiknya di
tunggu berakhirnya involusi kemudian di lakukan pembedahan pervaginam. Inversio uteri
jarang terjadi, tetapi jika terjadi, dapat menimbulkan syok yang berat.
Menurut dr. Ida Bagus GdeManuaba, SpOG) Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri
masuk ke dalam kavum uteri, dapat secara mendadak atau perlahan. Kejadian ini biasanya disebabkan
pada saat melakukan persalinan plasenta secara Crede, dengan otot rahim belum berkontraksi
dengan baik. Inversio uterim emberikan rasa sakit yang dapat menimbulkan keadaan syok.
b. Pembagian inversio uteri :
1.
Inversio uteri ringan/ inversio uteri inkomplit : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri namun
belum keluar dari ostium uteri
2.
Inversio uteri sedang /inversio uteri inkomplit :: terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina.
3.
Inversio uteri berat/ inversio prolaps : uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian
sudah keluar vagina.

pembagian klasifikasi inversio uteri

Klasifikasi prolapsus uteri


-Tingkat I : Uterus turun dengan serviks paling rendah dalam introitus vagina
-Tingkat II: uterus sebagian besar keluar dari vagina
-Tingkat III : Uterus keluar seluruhnya dari vagina yang disertai dengan inversio vagina
( prosidensia uteri)
c.

Etiologi Inversio Uteri


Penyebab Inversio Uteri yaitu :
1. Spontan : grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan, tekanan intra
abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk).
2. Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang
dipaksakan, perlekatan plasenta pada dinding rahim.

d. Faktor yang mempermudah terjadinya inversio uteri :


1. Tunus otot rahim yang lemah
2. Tekanan atau tarikan pada fundus (tekanan intraabdominal, tekanan dengan tangan, tarikan
pada tali pusat)
3. Canalis servikalis yang longgar.
4. Patulous kanalis servikalis.Frekuensi inversio uteri : angka kejadian 1: 20.000 persalinan.
. Akibat traksi talipusat dengan plasenta yang berimplantasi dibagian fundus uteri dan
dilakukan dengan tenaga berlebihan dan diluar kontraksi uterus akan menyebabkan inversio
uteri
e.

Tanda gejala inversio uteri


gejala klinis inversio uteri:

1.

Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat, perdarahan yang banyak
sampai syok.Apalagi bila plasenta masih melekat dansebagian sudah ada yang terlepas dandapat terjadi
strangulasi dan nekrosis.
2.
Pemeriksaan dalam : Bila masih inkomplit maka pada daerahsimfisis uterus teraba fundus
utericekung ke dalam. Bila komplit, di atas simfisis uterusteraba kosong dan dalam vagina terabatumor
lunak. Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik).
Tanda dan gejala inversio uteri yang selalu ada
a) Uterus terlihat
b) Uterus bisa terlihat sebagai tonjolan mengilat, merah lembayung di vagina
c) Plasenta mungkin masih melekat (tampak tali pusat)
d) Perdarahan

Tanda paling sering inversio uteri adalah perdarahan, tetapi cepatnya ibu mengalami kolaps
dengan jumlah kehilangan darahnya
a) Syok berat
b) Nyeri
c) Nyeri abdomen bawah berat, disebabkan oleh penarikan pada ovarium dan peritoneum
serta bias disertai rasa ingin defekasi
d) Lumen vagina terisi massa
Tanda dan gejala yang kadang kadang ada :
a) Syok neurogenik
b) Pucat dan limbung
Gejala klinis prolapsus uteri :
Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya cukup berat tapi
keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak seperti nyeri,
Muntah, kolps ( jarang), keluhan- keluhannya :
- Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia ekstema
(vagina atau perasaan berat pada perut bagian bawah
- Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan berbaring.
- Timbulnya gejala-gejala dari : Sitokel : Pipis sedikit-sedikit dan sering, tak puas dan stress
inkontinensia (tak dapat menahan BAK) karena dinding belakang uretra tertarik, sehingga
fungsi sfincter terganggu. Rektokel : terjadi gangguan defikasi seperti obstipasi, karena faeces
berkumpul di rongga rektokel. Koitus terganggu, juga berjalan dan bekerja. Leukorea, karena
bendungan/kongesti daerah serviks. Luka lecet pada portio karena geseran celana dalam.
Enterokel, menyebabkan rasa berat dan penuh pada daerah panggul. Servisitis dapat
menyebabkan infertility. Menoragia karena bendungan
f.

Komplikasi inversio uteri:


1. Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
2. Dekubitis
3. Hipertropi serviks uteri dan elongasioa
4. Gangguan miksi dan stress inkontenensia

5. Infeksi saluran kencing


6. Infertilitas
7. Gangguan partus
8. Hemoroid
9. inkarserasi usus

g. Diagnosis perdarahan pasca persalinan


Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu
pendek. Tetapi bila perdarahan sedikit dalam jangka waktu lama, tanpa disadari pasien telah
kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat
dan tekanan darah menurun
Diagnosis Perdarahan Pascapersalinan
- Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
- Memeriksa plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak.
- Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari:
- Sisa plasenta atau selaput ketuban
- Robekan rahim
- Plasenta suksenturiata
- Inspekulo: untuk melihat robekan pada serviks, vagina, dan varises yang pecah
- Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb, COT (Clot Observation Test), dll
Perdarahan pascapersalinan ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan
hingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan syok. Atau dapat berupa
perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus yang juga bahaya karena kita
tidak menyangka akhirnya perdarahan berjumlah banyak, ibu menjadi lemas dan juga jatuh
dalam presyok dan syok. Karena itu, adalah penting sekali pada setiap ibu yang bersalin
dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin, serta pengawasan tekanan darah, nadi,
pernafasan ibu, dan periksa juga kontraksi uterus perdarahan selama 1 jam.

skema sikap bidan

h. Patofisiologi inversio uteri


Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan
plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan. Dengan berjalannya waktu, lingkaran
konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil danuterus akan terisi darah.
Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada ligamentumligamentum, fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul karena peningkatan tekanan
intra abdominal dan faktor usia. Karena serviks terletak diluar vagina akan menggeser celana
dalam dan menjadi ulkus dekubiltus (borok). Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya
fasia dinding depan vagina (mis : trauma obstetrik) sehingga kandung kemih terdorong ke
belakang dan dinding depan vagian terdorong ke belakang. Dapat terjadi URETROKEL,
karena uretra ikut dalam penurunan tersebut. Dapat terjadi REKTOKEL, karena kelemahan
fasia di dinding belakang vagina, ok trauma obstetri atau lainnya, sehingga rektum turun ke
depan dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan. Dapat terjadi
ENTEROKEL, karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang isinya usus halus atau sigmoid
dan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan. Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel
dan kolpokel disebut prolaps vagina.Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps
vagina dapat berdiri sendiri
Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masukIni
adalah merupakan komplikasi kala III persalinan yang sangat ekstrem. Inversio Uteri terjadi
dalam beberapa tingkatan, mulai dari bentuk ekstrem berupa terbaliknya terus sehingga
bagian dalam fundus uteri keluar melalui servik dan berada diluar seluruhnya ke dalam
kavum uteri. Oleh karena servik mendapatkan pasokan darah yang sangat banyak maka
inversio uteri yang total dapat menyebabkan renjatan vasovagal dan memicu terjadinya
perdarahan pasca persalinan yang masif akibat atonia uteri yang menyertainya Inversio Uteri
dapat terjadi pada kasus pertolongan persalinankala III aktif . khususnya bila dilakukan
tarikan talipusat terkendali pada saat masih belum ada kontraksi uterus dan keadaan ini
termasuk klasifikasi tindakan iatrogenic
i.

Penatalaksanaan inversio uteri :


Dalam memimpin persalinan harus dijaga kemungkinan timbulnya inversio uteri. Tarikan
pada tali pusat sebelum plasenta benar-benar lepas, jangan dilakukan dan apabila melakukan
prasat Crede harus diperhatikan syarat-syaratnya.
Apabila terdapat inversio uteri dengan gejala-gejala syok, maka harus diatasi lebih dulu
dengan infuse i.v cairan elektrolit dan transfusi darah, segera sesudah itu dilakukan reposisi.

reposisi

Apabila reposisi pervaginam gagal, sebaiknya dilakukan pembedahan menurut Haultein


(dikerjakan laparotomi, dinding belakang lingkaran konstriksi dibuka, sehingga
memungkinkan penyelenggaraan reposisi uterus sedikit demi sedikit, kemudian luka di
bawah uterus dijahit dan luka laparotomi ditutup).

reposisi dengan laparotomi

Pencegahan Inversi Sebelum Tindakan :


- Koreksi Manual
o Pasang sarung tangan DTT
o Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukkan kembali melalui
serviks.Gunakan tangan lain untuk membantu menahan uterus dari dinding abdomen.Jika
plasenta masih belum terlepas,lakukan plasenta manual setelah tindakan koreksi.masukkan
bagian fundus uteri terlebih dahulu.
o Jika koreksi manual tidak berhasil,lakukan koreksi hidrostatik.
- Koreksi Hidrostatik
o Pasien dalam posisi trendelenburg dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum.
o Siapkan sistem bilas yang sudah desinfeksi,berupa selang 2 m berujung penyemprot
berlubang lebar.Selang disambung dengan tabung berisi air hangat 2-5 l(atau NaCl atau infus
lain) dan dipasang setinggi 2 m.
o Identifikasi forniks posterior.
o Pasang ujung selang douche pada forniks posterior sampai menutup labia sekitar ujung
selang dengan tangan.
o Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula.
- Koreksi Manual Dengan Anestesia Umum
o Jika koreksi hidrostatik gagal,upayakan reposisi dalam anastesia umum. Halotan
merupakan pilihan untuk relaksasi uterus.

Koreksi Kombinasi Abdominal Vaginal


Kaji ulang indikasi
o Kaji ulang prinsip dasar perawatan operatif
o Lkukan insisi dinding abdomen sampai peritoneum,dan singkirkan usus dengan
kasa.tampak uterus berupa lekukan.
o Dengan jari tangan lakukan dilatasi cincin konstriksi serviks.
o Pasang tenakulum melelui cincin serviks pada fundus.
o Lakukan tarikan atau traksi ringan pada fundus sementara asisten melakukan koreksi
manual melalui vagina.
o Jika tindakan traksi gagal,lakukan insisi cincin kontriksi serviks di bagian belakang untuk
menghindari resiko cedera kandung kemih,ulang tindakan dilatasi,pemasangan tenakulum
dan fraksi fundus.
o Jika koreksi berhasil,tutup dinding abdomen setelah melakukan penjahitan hemostasis dan
dipastikan tidak ada perdarahan.
o Jika ada infeksi ,pasang drain karet.

j.

Perawatan Pasca Tindakan


o Jika inversi sudah diperbaiki,berikan infuse oksitisin 20 unit dalam 500 ml I.V. (NaCl 0.9 %
atau ringer laktat) 10 tetes/menit.
- Jika dicurigai terjadi perdarahan,berikan infus sampai dengan 60
tetes/ menit.
- Jika kontraksi uterus kurang baik,berikan ergometrin 0,2 mg .
o Berikan antibiotic propilaksis dosis tunggal:
- Ampisilin 2g I.V dan metronidazol 500 mg I.V
- Atau sevasolin 1g I.V dan metrodinasol 500 mg I.V
o Lakukan perawatan paska bedah jika dilakukan koreksi kombinasi abdominal vaginal.
o Jika ada tanda infeksi berikan sntibiotik kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48
jam.
o Berikan analgetik jika perlu.
Pencegahan
Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran :
- Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi cukup
- Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti : Tidak mengedan sebelum waktunya, Kala II
jangan terlalu lama, Kandung kemih kosongkan), episiotomi agar dijahit dengan baik,
Episiolomi jika ada indikasi, Bantu kala II dengan FE atau VE

Pengobatan
Pengobatan tanpa operasi
- Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara pada prolapsus uteri ringan, ingin punya anak
lagi, menolak untuk dioperasi, Keadaan umum pasien tak mengizinkan untuk dioperasi

- Caranya : Latihan otot dasar panggul, Stimulasi otot dasar panggul dengan alat listrik,
Pemasangan pesarium, Hanya bersifat paliatif, Pesarium dari cincin plastic
Prinsipnya : alat ini mengadakan tekanan pada dinding atas vagina sehingga uterus tak dapat
turun melewati vagina bagian bawah. Biasanya dipakai pada keadaan: Prolapsus uteri
dengan kehamilan, Prolapsus uteri dalam masa nifas, Prolapsus uteri dengan dekubitus/ulkus,
Prolapsus uteri yang tak mungkin dioperasi : keadaan umu yang jelek
Pengobatan dengan operasi
- Operasi Manchester/Manchester-Fothergill
- Histeraktomi vaginal
- Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)
- Operasi-operasi lainnya :Ventrofiksasi/hlsteropeksi, Interposisi
Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya cara yang terbaik adalah dengan :
- Pemasangan pesarium
- Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium)
Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/materi-inversio-uteri.html#ixzz3NA6BCCPu

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/materi-inversio-uteri.html

INVERSIO UTERI

dr.Bambang Widjanarko, SpOG


Fak.Kedokteran & Kesehatan UMJ JAKARTA

Inversio Uteri merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi yaitu


berkisar antara 1 : 2000 s/d 20.000 kehamilan namun dengan cepat dapat
menyebabkan mortalitas maternal.
Ini adalah merupakan komplikasi kala III persalinan yang sangat ekstrem
Inversio Uteri terjadi dalam beberapa tingkatan, mulai dari bentuk ekstrem
berupa terbaliknya terus sehingga bagian dalam fundus uteri keluar melalui
servik dan berada diluar seluruhnya ( gambar 1 a dibawah ).

Gambar 1. Reposisi Inversio Uteri.


( a ) Inversio uteri total ( b ) Reposisi uterus melalui servik. ( c ) Restitusi
uterus
Oleh karena servik mendapatkan pasokan darah yang sangat banyak maka
inversio uteri yang total dapat menyebabkan renjatan vasovagal dan memicu
terjadinya perdarahan pasca persalinan yang masif akibat atonia uteri yang
menyertainya.
PATOLOGI
Inversio Uteri dapat terjadi pada kasus pertolongan persalinan kala III aktif .
khususnya bila dilakukan tarikan talipusat terkendali pada saat masih belum
ada kontraksi uterus dan keadaan ini termasuk klasifikasi tindakan iatrogenik (
gambar 2 )

Gambar 2. Akibat traksi talipusat dengan plasenta yang berimplantasi


dibagian fundus uteri dan dilakukan dengan tenaga berlebihan dan diluar
kontraksi uterus akan menyebabkan inversio uteri
Faktor yang berhubungan dengan INVERSIO UTERI
1. Riwayat inversio uteri pada persalinan sebelumnya
2. Implantasi plasenta di bagian fundus uteri
3. Atonia uteri
4. Penatalaksanaan kala III aktif yang salah

PENATALAKSANAAN
90% kasus inversio uteri disertai dengan perdarahan yang masif dan lifethreatening.
Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya renjatan vasovagal dan
perdarahan maka harus segera dilakukan tindakan reposisi secepat
mungkin.
Segera lakukan tindakan resusitasi

Bila plasenta masih melekat , jangan dilepas oleh karena tindakan ini
akan memicu perdarahan hebat
Salah satu tehnik reposisi adalah dengan menempatkan jari tangan
pada fornix posterior, dorong uterus kembali kedalam vagina, dorong
fundus kearah umbilikus dan memungkinkan ligamentum uterus
menarik uterus kembali ke posisi semula . Rangkaian tindakan ini dapat
dilihat pada gambar 1
Sebagai tehnik alternatif : dengan menggunakan 3 4 jari yang
diletakkan pada bagian tengah fundus dilakukan dorongan kearah
umbilkus sampai uterus kembali keposisi normal.
Setelah reposisi berhasil, tangan dalam harus tetap didalam dan
menekan fundus uteri. Berikan oksitosin dan setelah terjadi kontraksi ,
tangan dalam boleh dikeluarkan perlahan agar inversio uteri tidak
berulang.
Bila reposisi per vaginam gagal, maka dilakukan reposisi melalui
laparotomi ( gambar 3 )

- See more at: http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/09/inversiouteri.html#sthash.yWSJLRS0.dpuf


http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/09/inversio-uteri.html

Anda mungkin juga menyukai