Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya
penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Acuan dan Perancah. Makalah ini disusun
sebagai pengganti ujian yang dilakukan setelah praktik Acuan dan Perancah. Informasi yang
disajikan saya diperoleh dari sumber di internet.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada
selaku dosen pembimbing selama praktik berlangsung.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi
penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun dalam bekal pengalaman bagi saya untuk lebih baik di
masa yang akan datang.

Depok, Maret 2015

penyusun
PENULIS

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Pada masa sekarang ini bangunan-bangunan yang dibangun baik gedung,
jembatan maupun bangunan lainnya, mayoritas komponen bangunannya terbuat dari
beton. Beton merupakan struktur utama pada suatu bangunan yang terdiri dari campuran
semen, air, pasir, dan agregat kasar, yang berfungsi untuk menopang beban yang terjadi.
Pada awalnya beton merupakan bahan yang elastis, tetapi setelah umur tertentu akan
mengeras dan mempunyai kekuatan tertentu pula, sehingga dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
Untuk membentuk beton menjadi bentuk yang diinginkan diperlukan suatu alat
bantu yang biasa dikenal dengan sebutan Acuan dan Perancah/Bekisting/ Form Work
yang berupa cetakan, atau suatu konstruksi sementara dari suatu bangunan yang
berfungsi untuk mendapatkan suatu konstruksi beton yang diinginkan sesuai dengan
porsinnya sebagai bangunan pembantu. Acuan Perancah bersifat sementara yang harus
kuat dan kokoh, namun mudah dibongkar agar tidak menimbulkan kerusakan pada
beton.
Baik buruk dari pengerjaan acuan dan perancah dapat mempengaruhi hasil akhir
dari mutu beton yang dikerjakan. Acuan yang kurang baik dapat menimbulkan kerugian
seperti kehilangan material, perubahan dimensi beton, perubahan struktur bangunan,
dan juga dapat mempengaruhi keselamatan pekerja. Dalam pelaksanaannya seorang ahli
di bidang tersebut harus mempunyai keterampilan khusus dan mempunyai pengetahuan
dasar yang cukup tentang acuan dan perancah.

1.2

TUJUAN PRAKTIK
1. Menyelesaikan target materi perkuliahan semester satu untuk kelas Konstruksi

Sipil jurusan Teknik Sipil Politeknik Jakarta.

2. Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori tentang pekerjaan beton

yang mana harus menggunakan acuan ataupun perancah.


3. Masiswa diharapkan mampu melaksanakan pekerjaan acuan dan perancah secara

nyata seperti pada kenyataan yang terdapat dilapangan.


4. Mahasiswa diharapkan dapat lebih mengerti manajemen waktu, biaya, dan mutu

dalam pekerjaan beton khususnya pada bagian pekerjaan acuan dan perancah.

1.3

MANFAAT PRAKTIK
1.

Dapat memperkaya diri guna bekal di kemudian hari mengenai konstruksi

acuan perancah.
2.

Dapat mengetahui teknik pengerjaan acuan perancah yang baik dan benar.

3.

Mahasiswa dapat memperhitungkan waktu yang dibutuhkan dalam

penyelesaian konstruksi acuan perancah.


4.

Mahasiswa dapat menyadari akan keberadaan potensi dirinya serta kondisi

lingkungan yang menunjang untuk dapat dikembangkan dan berupaya menjadikan


diri sebagai sumber daya manusia yang berkualitas.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1

PENGERTIAN
Acuan dan perancah adalah suatu konstruksi yang besifat sementara pada praktik
kerja beton sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan Dari namanya acuan dan perancah,
terbagi menjadi dua fungsi, yaitu fungsi acuandan fungsi perancah. Acuan yang dimaksud
adalah sebagai cetakan atau patokan untuk ukuran maupun bentuk beton
yangdiinginkan, sedangkan perancah adalah sebagai penyokong tegak dan lurusnya acuan
tersebut.
Suatu konstruksi acuan dan perancah harus dapat memungkinkan melakukan
kegiatan-kegiatan:
a.1. Memasang atau merangkai tulangan beton,
a.2. Mengecat adukan beton,
a.3. Mudah melepaskan cetakan sehingga beton tidak rusak.

2.2

MACAM-MACAM KONSTRUKSI
Dalam ilmu teknik sipil terdapat 3 macam jenis konstruksi, yaitu :
a. konstruksi kayu,
b. konstruksi baja,
c. konstruksi beton bertulang.
Masing-masing konstruksi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan:.
a)

Konstruksi kayu

Keuntungan :

Mudah dalam perawatan,

Tidak dapat menghantarkan listrik.

Kerugian :

b)

Susah untuk dibentuk sesuai dengan keinginan,

Mudah lapuk atau di makan rayap.

Konstruksi baja.

Keuntungan :

Baja memiliki tingkat keutuhan yang lebih tinggi.

c)Konstruksi beton.

Keuntungan :

2.3

Mudah didalam pembuatan.

SYARAT-SYARAT ACUAN DAN PERANCAH


Perencanaan acuan dan perancah harus dapat memenuhi persyaratan aspek bisnis
dan teknologi. Agar konstruksi dapatberfungsi dengan baik harus memenuhi:

Kualitas
1. Ukuran sesuai dengan yang diinginkan,
2. Hasil akhir permukaan beton harus baik dan benar,

3. Posisi atau letak acuan dan perancah harus sesuai dengan yang direncanakan.

Keamanan
1.

Harus stabil tidak goyah,

2.

Acuan dan perancah harus kuat menahan beban,

3. Acuan dan perancah harus kaku.

Ekonomis
1.

Mudah dikerjakan dengan tidak banyak membutuhkan tenaga kerja,

2.

Mudah dipasang untuk menghemat waktu,

3.

Mudah dibongkar dengan tidak merusak beton.

2.4

TIPE-TIPE ACUAN DAN PERANCAH


Pesatnya perkembangan dan banyaknya tuntutan yang harus dipenuhi agar hasil dari
suatu konstruksi baik danekonomis, maka saat ini tipe-tipe formwork berkembang
menjadi tiga, yaitu:
1. Formwork Konvensial/Tradisional
Bahan dasarnya dikerjakan secara tradisional.
Bahan acuan adalah papan.
Bahan perancahnya adalah dolken (kayu hutan), kasau, dan bambu.
2. Formwork Semi Sistem
Bahan dasarnya dibuat dengan sistem pabrikasi yang ukurannya sesuai

dengan bentuk beton yang diinginkan.


Bahan acuan adalah multiplek dan plat.
Bahan perancahnya adalah scaffolding atau baja yang dipabrikasi.
3. Formwork Full Sistem
Bersifat full universal, digunakan secara berulang kali.
Bahan acuan dan bahan perancah dirangkai secara pabrikasi.

Jenis bekisting sistem ini sudah dikenal di Indonesia, sebagai berikut:


a. Formwork Pearl

Dibuat dari kayu plywood dan profil baja.Pada selasarnya, panel


formwork ini dipakai untuk semua jenis struktur beton (kolom, dinding,
plat, dan balok).
Komponennya terdiri dari:
7

Balok penahan,
Plywood,
Pengikat melintang dari profil baja.

Keuntungan penggunaan bekisting pearl:


Singkatnya masa konstruksi.
Mutu permukaan beton cukup baik.
Kebersihan proyek dapat dijaga.
Tingkat pengulangan bahan bekinting cukup tinggi
b. Formwork Doka

Pada dasarnya sama dengan pearl, bedanya pada balok penahannya


berupa profil tersusun. Dua-duanya mengandalkankekuatan lem khusus

2.5

SYARATSYARAT UMUM ACUAN DAN PERANCAH


1.

Kuat
Didalam pekerjaan ini beban-beban beton yang berada pada bekisting dan beban lain
yang dipikul oleh bekisting itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu acuan
perancah yang kuat untuk dapat memikul beban yang diterimanya.
Berat Sendiri (Beton)

Cetakan harus sanggup menahan berat beton yang di cetakan.


Berat Hidup

Cetakan harus sanggup menahan beban hidup, yaitu : baik orang yang sedang
mengerjakan beton tersebut, Vibrator, dan adanya kemungkinan terjadinya suatu
Gempa atau Retakan.
Pembebanan :
Beban mati (DL)
a.3.1)

Akibat beton

a.3.2)

Akibat acuan

Beban hidup (LL)


2.

Kaku

Kaku atau tidak bergerak sangat penting pada acuan dan perancah ini, karena apabila
perancah tersebut tidak kaku atau dapat bergerak, maka hasil yang akan dicapai tidak
maksimal karena bentuk yang ingin kita capai tidak sempurna.
3.

Mudah dibongkar

Acuan dan perancah harus mudah dibongkar karena acuan hanya bersifat sementara,
dan hal ini menyangkut efisiensi kerja, yaitu tidak merusak beton yang sudah jadi dan
acuan perancahnya dapat digunakan berkali-kali.
4.

Ekonomis dan Efisien

Didalam pembuatan acuan dan perancah tidak perlu bahan yang terlalu bagus,
namun jangan pula bahan yang sudah tidak layak pakai. Karena kita harus membuat
acuan dan perancah sehemat mungkin dengan tidak mengurangi mutu dari bekisting
dan didalam pembongkarannya acuan dapat digunakan kembali sehingga
menghemat biaya.

5.

Rapi

Rapi dalam penyusunan sehingga bisa enak dilihat dengan kasat mata dan mudah
dalam penyusunan dan pembongkaran.
6.

Rapat

Kerapatan suatu bekisting sangat mempengaruhi didalam proses pengecoran. Karena


apabila bekisting yang kita pakai tidak rapat maka adukan yang kita pakai tadi akan
keluar dan akan mengakibatkan mutu beton yang kurang bagus karena pasta semen
9

keluar dari bekisting


Bersih

7.

Untuk mendapatkan hasil yang baik cetakan harus bersih apabila cetakan tidak
bersih, maka dalam proses pengecoran kotoran mungkin akan naik dan masuk ke
dalam adukan beton sehingga akan mengurangi mutu beton dan apabila kotoran
tidak naik maka kotoran tersebut akan melekat pada bagian bawah beton sehingga
sulit untuk dibersihkan.

2.6

KERUGIANKERUGIAN JIKA ACUAN DAN PERANCAH KURANG BAIK


1.

Perubahan geometric
Perubahan ini mengakibatkan bentuk yang kita harapkan tidak sesuai

dengan rencana, misalkan : suatu konstruksi yang menyiku menjadi tidak siku,
akibatnya akan mengadakan perbaikan lagi atau misalkan perlu ditambahkan
pekerjaan finishing lagi.
2.

Penurunan mutu beton


Seperti halnya terjadi kebocoran pada acuannya, hal ini akan

mengakibatkan air yang diikuti semen tadi keluar sehingga mutu / kekuatan
beton menjadi berkurang
3.

Terjadinya perubahan dimensi


Terjadinya perubahan ukuran dari dimensi yang kita rencanakan akibatnya

jika terjadi perubahan ini maka akan memperbesar dan memperkecil


volumenya. Sedangkan untuk melakukan perbaikan akan membutuhkan waktu
dan biaya lagi, hal ini akan menghambat pekerjaan yang lainnya.

10

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PEMBUATAN PAPAN DUGA (BOWPLANK)


Papan duga dibuat untuk as bangunan, letak bangunan serta ketinggian bangunan
yang merupakan pekerjaan awal dari pekerjaan kosntruksi di lapangan.
Bentuk konstruksi papan duga ada 2 macam, yaitu:
1. Papan Duga Tertutup

Digunakan pada bangunan yang memiliki jumlah as bangunan yang banyak


2. Papan Duga Terbuka

Digunakan pada bangunan yang memiliki jumlah as bangunan relative sedikit


Fungsi papan duga (Bowplank) adalah :
1. Menentukan elevasisudut ketinggian
2. Menentukan as bangunan

Menentukan letak bangunan :


1. jenis jenis elevasi atau ketinggian (suatu bangunan gedung)
2. Sama tinggi dengan lantai bangunan
3. Lebih tinggi dengan lantai bangunan
4. Lebih rendah dengan lantai bangunan
langkah kerja :
1. Tentukan bentuk kosntruksi papan duga yang akan dibuat dan ditentukan as-as

bangunannya (1,5m dari as bangunan)

11

2. Tancapkan patok utama dengan ketinggian yang telah ditentukan dan di

tancapkan kira-kira 25cm ke dalam tanah


3. Buat atau tancapkan kaso di titik sudut-sudut pertama. Letakkan pada jara

yang telah disesuaikan dengan ukuran papan


4. Tarik garis lurus untuk acuan pembuatan patok berikutnya ukur/elevasi

ketinggian patok dengan menggunakan selang air, tancapkan dan beri patok di
masing masing sudut untuk mengetahui apakah patok yang telah kita buat siku
atau tidak. Bila ditinjau dengan menggunakan prinsip-prinsip phytagoras atau
perbandingan sisi 3:4:5
5. Ulangi langkah kerja nomor 4 untuk pembuatan patok 3 dan 4 setelah adanya

pengukuran panjang dan jarak patok ke patok. Cek kembali kesikuannya


6. Pasang papan sesuai ketinggian bowplank dan dipukulkan pada tiang

bowplank, lalu tarik benang yang kedua ujungnya terlah diberi pemberat dan
letakkan pada bowplank segaris dengan as bangunan.
7. cek titik sudut benang, harus tepat diatas titik sudut as bangunan dengan

menggunakan unting-unting

12

8. Pada papan duga (bowplank), beri tanda panah atau segitiga dengan

menggunakan kapur tepat di as nya atau di besi tanda dengan menggunakan


dua buah paku yang ditancapkan berbentuk V atau dengan menggergaji papan
duga sedalam 1mm. Jika as yang dibuat banyak dapat diberi nomor dan
ketinggian masing masing

3.2 PEMBUATAN BEKISTING KOLOM


Bentuk penampang kolom ada yang berbentuk bulat, persegi panjang , atau
bentuk sisi yang tidak beraturan. Pada pekerjaan bekisting kolom kali dibuat bentuk
persegi.
Kolom yang dibuat kemudian diberi klem penjepit yang berfungsi untuk
mengakukan kolom.
Pada umumnya, kolom tidak di cor pada waktu yang bersamaan dengan balok
lantai yang berada di atasnya melainkan mendahuli beberapa hari, untuk
mempermudah penuangan dan pemadatan adukan beton pada pengecoran kolom.
Biasanya dibuatkan jendela penuangan pada tempat-tempat tertentu, terutama pada
struktur kolom tinggi dengan menggunakan kolom pipa atau selang pengantar untuk
menghindari terjadinya segregasi dari agregatnya.
13

Langkah kerja:
1.

Menentukan letak kolom dan membuat bowplank untuk menentukan

as kolom. As yang digunakan adalah as pinjaman.


2.

Merangkai papan untuk cetakan samping menggunakan klem dengan

menggunakan jarak antara 50-80cm.


3.

Rangkai keempat sisi kolom dengan memsatikan bahwa tulangan

kolom sudah terselubungi dan penampang sudah selesai dengan rencana


4.

Tegakkan cetakan kolom pada as yang sudah ditentuan.

5.

Pasang kaso penjepit cetakan tepat pada klemnya yang saling

mengikat pada keempat sisi


6.

cek ketegakkan menggunaan unting-unting, lalu pasang skoor,

diagonal dan horizontal agar konstruksinya kokoh dan kaku

3.3 BEKISTING BALOK


Struktur balok beton andalah konstruksi yang menghubungkan satu kolom dengan
kolom lainnya untuk menopang lantai dan beban yang ada di atasnya. Bentuk
penampang balok beton pada umumnya persegi panjang dengan posisi berdiri.
Bagian-bagian dari acuan terdiri dari:

14

1.

Dinding atau papan acuan


Bagian ini terdiri dari bahan multiplek/papan kayu yang disambung rapat

2.

Gelagar
Bagian ini terbuat dari papan kayu/kayu kaso

3.

Dudukan
Bagian ini menggunakan bahan balok agar tekanan merata atas permukaan
tanah

4.

Tiang penyokong atau perancah


Bagian ini menggunakan bahan kayu 4/6 , 5/7 , 5/10 atau dolkan dipasang
dengan jarak antar tiang 40-60cm

5.

Pengaku tiang
Bagian ini berfungsi sebagai pengakai diagonal agar konstruksi lebih kaku
digunakan bahan papan/kaso

Langkah kerja :
1.

Menentukan dan mengukur ketinggian dasar cetakan balok, lalu

menarik 2 buah benang dengan ketinggan sama dan sejajar untuk patokan
memasang dasar cetakan balok
2.

Memasang balok atas sebagai tempat berdirinya perancah atau tiang

3.

Mendirikan tiang-tiang perancah di atas balok alas dengan jarak 60cm

4.

Memasang skoor horizontal atau diagonal untuk pengau tiang dari

papan 2/20 atau kaso 4/6


5.

Memasang gelagar dengan posisi bagian atas menyentuh benang

6.

Memasang cetakan balok, mulai dari cetakan alas lalu cetakan

sampingnya

15

7.

Memasang skoor untuk cetakan samping tepat pada klemnya dan

memasang balok pengamit untuk menjepit alas cetakan

3.4 BEKISTING PLAT LANTAI


Pada umumnya lantai dicor bersama-sama dengan balok bekisting lantai harus
dapat menahan beban yang bekerja diatasnya agar memenuhi syarat sebagai acuan
dan perancah serta tidak melebihi lendutan yang diijinkan. Bagian pada acuan lantai
yang menerima beban terdiri dari balok kayu yang dihubungkan satu dengan yang
lainnya di bantu oleh papan pengokoh dan struktur skoor yang terdiri dari kayu papan
agar konstruksi stabil, tebal lantai beton untuk lantai umumnya bekisting antara 1215cm
Tipe struktur plat lantai beton antara lain :
Plat lantai yang didukung oleh struktur balok
Plat lantai rata, tidak sama tanpa balok

16

plat lantai system waffle atau grid


Plat lantai rata, tebal sama di dukung struktur baja

pada umumnya struktur plat lantai dan balok menjadi satu kesamaanyang
monolit, maka formwork balok yang menjadi satu kesatuan dengan plat lantai. Ada 2
elevasi yang perlu diperhatika, yaitu:

1.

Elevasi dasar balok

2.

Elevasi dasar plat

Langkah kerja :
1. Memasang tiang untuk patokan tinggi lantai, lalu ratakan dengan menggunakan

waterpass dan tarik benang


2. Memasang balok alas dalu mendirikan tiang diatasnya dengan jarak diantara

tiang 50-80cm. Tingginya tidak boleh melebihi tiang-tiang patokan


3. Memasang skoor untuk mendukung berdirinya tiang
4. Memasang gelagar dengan posisi gelagar yang bagian atas menyentuh benang

patokan
5. Memasang cetakan alas dari multiplek yang diletakan diatas gelagar

17

3.5 BEKISTING TANGGA


Konstruksi tangga berfungsi sebgai penghubung lalu lintas dari satu lantai ke lantai
berikutnya. Tangga memiliki bentuk konstruksi antara lain lurus, tangga bordes
berbelok arah (bentuk L), tangga bordes lengan berbelok arah, tangga putar, dan lainlain

Tahap-tahap pembuatan cetakan tangga, meliputi:


1. Pemasangan tiang tiang

Sebelum pemasangan, tiang yang akan dikerjakan harus diukur dahulu tinggi
tiang yang dibutuhkan, dengan jalan menarik benang dari lantai di bawahnya
sepanjang bentang tangga yang direncanakan. Kemudian ditentukan letak tiang
tiangnya. Pada tempat tempat itu diukur tingginya dan ukuran ukurannya ini
adalah ukuran tinggi tiang yang dibutuhkan lalu dipasang pada masing - masing
tempat tadi. Tinggi tiang jangan diukur tepat dengan ukuran tadi tapi dikurangi
sedikit, dengan maksud agar lebih mudah di dalam penimbangan gelagar.
Pemasangan tiang tiang ini tidak berbeda dengan pemasangan tiang pada balok
dan lantai, baik dudukannya ataupun penyekorannya
2.

Penimbangan gelagar
Setelah pemasangan tiang tiang selesai lalu dilanjutkan dengan penimbangan
dan pemasangan gelagar. Penimbangan gelagar hampir sama dengan penimbangan
gelagar untuk cetakan lantai, hanya benang pedoman tidak horizontal, tetapi sesuai
dengan kemiringan tangga.

3. Pemasangan papan lantai

Pemasangan papan lantai tidak banyak berbeda dengan pemasangan papan


lantai acuan pada cetakan lantai. Kita tinggal memasang di atas gelagargelagar
yang sudah terpasang di bawahnya dan memakukannya pada gelagar tadi.
4.

Pemasangan dinding cetakan beserta penggambaran tride tridenya


Bagian tepi lantai yang sudah terpasang tadi harus lurus sesuai dengan lebar
tangga. Baru setelah itu, dinding cetakan dipasang pada tepi lantai cetakan, berdiri
vertikal kemudian disokong pada bagian atasnya dengan tiang bagian luar di

18

samping dinding tadi, sedang bagian bawah ditahan oleh papan penguat yang
dipakukan pada gelagar. Penggambaran tridetridenya dengan menggunakan
waterpass, siku, dan meteran.
5. Pemasangan papan pencetak optride

Setelah semua tride tergambar pemasangan papan papan pencetak, optride


tidak bisa langsung dipasang tapi harus terlebih dahulu dilakukan pemasangan
penulangan. Setelah pemasangan penulangan selesai, papan papan optride
dipasang dengan diperkuat oleh klos yang dipakukan pada dinding cetakan. Pada
bagian tengah papan ini diberi sokong dipakukan dengan sebilah kayu yang kita
pasang miring dari atas ke bawah.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
19

Bekisting atau perancah sangat penting dalam pembuatan beton karena dapat
mempengaruhi bentuk dan kualitas dari beton tersebut. bekisting juga tidak perlu
menggunakan kayu yang mahal atau kayu yang kualitas bagus, cukup dengan kayu
yang biasa saja ataupun dengan kayu yang murah seperti kayu/papan albasiah
bekisting sudah bisa dibuat.

4.2 SARAN
1. untuk mengurangi penggunaan kayu, sebaiknya menggunakan scaffolding sebagai

pengganti kayu atau bambu


2. Gunakan pengukuran unting-unting dalam pengukuran ketegakkan
3. jika bekisting balok bergeser, bekisting sebaiknya ditahan dengan gelagar

dibawahnya yang terlebih dahulu di waterpass


4. Apabila mendapatkan kesulitan dalam menentukan elevasi atau ketinggian suatu

bangunan karena berbedanya hasil penentuan elevasi dari patok satu ke patok
lainnya, gunakan selang dengan benar agar menjaga kedataran antar papan

20

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

http://kodokebonceng.blogspot.com/2011/06/laporan-praktek-kerja-bengkel-acuandan.html
http://building-smart.blogspot.com/2009/09/acuan-dan-perancah.html
http://endysri.blogspot.com/2013/08/laporan-bengkel-acuan-dan-perancah.html
http://www.scribd.com/doc/53337468/acuan-dan-perancah#scribd

21