Anda di halaman 1dari 4

2.

1 SALAK
Tanaman salak (Sallaca sumatrana) adalah salah satu tanaman asli Indonesia.
Tanaman ini termasuk suku palem yang rendah, berakar serabut, tegak, hampir tidak
berbatang, cabangnya sangat banyak, berduri dan tingginya 1,5-5 meter.
Berdasarkan Anonim, klasifikasi dari salak adalah :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Palmales

Family

: Palmae

Genus

: Salacca

Species

: Salacca sumatrana

Daerah pertumbuhan yang baik untuk tanaman salak yaitu pada tanah
podsolik dengan ketinggian 700 meter diatas permukaan laut. Disamping itu, tanaman
salak membutuhkan penyinaran matahari yang tidak langsung dan kelembapan yang
tinggi selama pertumbuhannya, sehingga biasanya diantara tanaman salak sering
ditanami pohon-pohon yang tinggi dengan daun yang mudah busuk jika telah gugur.
Untuk kawasan Sumatera, Salak (Salacca sumatrana) banyak dijumpai di
kawasan Padang Sidempuan, yang mendapat julukan kota Salak. Julukan ini
dibuktikan dengan produksi salak dapat mencapai 8370 ton pada tahun 2007 dan
meningkat menjadi 9140 ton pada tahun 2008. Produksi salak terbanyak terdapat di
Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara dan Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua
(Anonim.2010)

2.2 BIJI SALAK


Buah Salak terdiri atas 3 bagian utama yakni kulit buah, daging buah dan biji.
Pada salak, biji berwarna kehitaman dan memiliki struktur sebagian cembung dan
sebagian datar. Dan pada tiap 1 daging buah, hanya terdapat 1 biji. Biji salak
termasuk dalam biji yang mengalami dormansi sekunder, yakni proses penghentian
pertumbuhan oleh keadaan lingkungan yang terjadi pada saat biji telah matang dan

dalam proses imbibisi biji. Biji salak dapat mengalami dormansi sekunder selama
sebulan setengah. Struktur morfologi salak dan biji salak seperti pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Struktur Morfologi Salak dan Biji Salak


(Sumber : Anonim dan Dokumentasi Penulis)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh (Aji. 2012), bahwa
kandungan pada biji salak yakni selulosa. Dan sebagai tambahan akan kandungan biji
salak yakni air 54,84%, lemak 0,48%, protein 4,22%, karbohidrat 38,9%. (Ariel.
2012).
2.3 CMC (Carboxy Methyl Cellulose)
CMC (Carboxy Methyl Cellulose) atau Karboksimetil selulosa merupakan
merupakan eter polimer selulosa linear dan berupa senyawa anion, yang bersifat

biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang
larut dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang pH sebesar
6.5 sampai 8.0, stabil pada rentang pH 2 10, bereaksi dengan garam logam berat
membentuk film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi dengan
senyawa organik.
CMC (Carboxy Methyl Cellulose) atau Karboksimetil selulosa telah banyak
digunakan dan bahkan memiliki peranan yang penting dalam berbagai aplikasi.
Karboksimetil selulosa secara luas digunakan dalam bidang pangan, kimia,
perminyakan, pembuatan kertas, tekstil, serta bangunan. Khusus di bidang pangan,
karboksimetil selulosa dimanfaatkan sebagai stabilizer, thickener, adhesive, dan
emulsifier. Karboksimetil selulosa atau Carboxymethyl Cellulose (CMC) banyak
digunakan pada berbagai industri seperti: detergen, cat, keramik, tekstil, kertas dan
makanan. Fungsi CMC disini adalah sebagai pengental, penstabil emulsi atau
suspense dan bahan pengikat (Arum.2005)
Proses pembuatan karboksi metil selulosa melalui 2 (dua) tahap reaksi, yaitu
pertama reaksi alkalisasi dan kedua reaksi eterifikasi . Pada reaksi tahap pertama,
yaitu alkalisasi merupakan reaksi antara selulosa dengan larutan soda (basa) menjadi
alkali selulosa (selulosa bersifat larut dalam larutan soda). Sedangkan tahap kedua,
yaitu eterifikasi merupakan reaksi antara alkali selulosa dengan senyawa natrium
kloro asetat menjadi natrium karboksi metil selulosa (Na.CMC) yang membentuk
larutan kental (Linda.2012).

METODE PENELITIAN
Proses pembuatan CMC terdiri dari dua tahap
yaitu proses isolasi selulosa eceng gondok dan proses
sintesis CMC.
2.1 Isolasi Selulosa Eceng Gondok
Batang eceng gondok yang diperoleh dari daerah
Tangerang dibersihkan, dikeringkan dan digiling
menjadi serbuk dengan ukuran 60 mesh. Serbuk eceng
gondok ini dihilangkan kandungan lilinnya dengan
proses ekstraksi menggunakan campuran larutan
toluena-etanol dengan perbandingan volume 2:1.
Kemudian dilanjutkan dengan proses bleaching untuk
109
Jurnal Integrasi Proses Vol. 5, No. 2 (Juni 2015) 108 - 114

menghilangkan lignin dengan menggunakan larutan


NaClO2 1% dalam suasana asam pada suhu 800C
selama 3 jam dan proses dehemiselulosa yaitu proses
penghilangan
hemiselulosa
dengan
menggunakan
larutan NaOH 17,5% b/v selama 3 jam pada suhu
ruang.Kemudian
dilakukan
pencucian dengan
akuades dan etanol 96%.
2.2 Sintesis CMC
Pada proses pembuatan CMC, sebanyak 10 gram
selulosa dimasukkan ke dalam media reaksi campuran
isopropanol-isobutanol dan diaduk selama 10 menit.
Kemudian
tahap
alkalisasi dilakukan dengan
menambahkan 30 ml larutan NaOH ke dalam labu
reaksi selama 1 jam dengan pengadukan pada suhu
ruang.Setelah
itu
dilanjutkan dengan
proses
karboksimetilasi
dengan
menambahkan NaMCA
sebanyak 12 gram ke dalam labu reaksi pada suhu
550C dan diaduk selama 3,5 jam. Setelah proses
karboksimetilasi
selesai, sampel
kemudian
dinetralkan dengan asam asetat glasial dan dibilas
dengan etanol 96%. CMC yang diperoleh kemudian
dikeringkan. Proses pembuatan CMC ini dilakukan
pada variasi komposisi media pelarut 20:80, 40:60 ,
50:50 , 60:40 , dan 80:20 serta variasi konsentrasi
NaOH 10% dan 35%
pada masing-masing variasi
komposisi pelarut.
2.3 Karakterisasi Selulosa dan CMC
Karakterisasi selulosa dan CMC dilakukan dengan
uji Fourier Transform Infrared (FTIR) dan X-Ray
Diffraction (XRD).Selain itu, CMC yang diperoleh juga
dianalisis nilai DS, viskositasdan kemurniannya. Nilai
DS ditentukan dengan menggunakan metode standar
Cellogen-Dai-Chi Kogio Seiyaku Co. Ltd. di Balai Besar
Pulp dan Kertas (BBPK), Bandung.
Uji nilai DS dilakukan untuk mengetahui jumlah
gugus OH yang tergantikan oleh ClCH2COONa sebagai
penanda terbentuknya CMC, sedangkan uji kemurnian
untuk mengetahui tingkat kemurnian CMC dilihat dari
produk samping yang terbentuk.Pada pengujian nilai
viskositas CMC yang diperoleh, uji
dilakukan pada
larutan CMC 2% dan diukur menggunakan viskometer
(Wijayani dkk.,2005). Uji viskositas dilakukan dengan
melarutkan CMC kering dengan aquades kemudian
dilakukan pengukuran viskositas dengan viskometer
pada kecepatan 30 rpm.