Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Menurut pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, kesehatan
merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Pasal 28 bagian H menyebutkan bahwa. Setiap
orang berhak hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Upaya
kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara
terpadu, terintegrasi, dan berkesinambunan untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan,
pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
1.2 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 disusun dengan tujuan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pada pasal 108 ayat 1 menyebutkan bahwa
Praktik kefarmasian yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional
harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai
degan ketentuan peraturan perundang-undangan.
1.3 Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Pasal 14 ayat 1 menyebutkan bahwa
Setiap fasilitas distribusi atau penyaluran sediaan farmasi berupa obat harus memiliki
seorang apoteker sebagai penanggung jawab.Apoteker sebagai penanggung jawab dapat
dibantu oleh apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian.Pekerjaan kefarmasian
dalam fasilitas distribusi atau penyaluran sediaan farmasi sebagaimana dimaksud dalam pasal
14 harus memenuhi Cara Distribusi Obat yang Baik yang ditetapkan oleh menteri.

1.4 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah


Seiring dengan penerapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi
Daerah, maka ada beberapa hal yang didesentralisasikan ke daerah (provinsi, kabupaten/kota)
termasuk desentralisasi pada bidang kesehatan. Tanggung jawab pengadaan obat esensial
untuk pelayanan kesehatan dasar bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat,
melainkan tanggung jawab pemerintah daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Masing-masing
daerah Provinsi/Kabupaten/Kota mempunyai struktur organisasi dan kebijakan tersendiri
dalam pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan.
1.5 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1426/Menkes/SK/XI/2002 tentang
Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan telah dijelaskan secara
lebih rinci fungsi dan tugas apoteker dalam unit distribusi IF kabupaten/kota. Obat publik
yang dikelola pada fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah termasuk IF
Kabupaten/Kota haruslah obat generik, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Pemerintah.
1.6 Kebijakan Obat Nasional (KONAS) 2005
Berdasarkan Kebijakan Obat Nasional (KONAS) 2005, kebijakan pengelolaan obat publik
dan perbekalan kesehatan di kabupaten/kota dipusatkan pada Unit Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota yang dikenal dengan one gate policy drug supply management. Fungsi yang
harus dijalankan meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan
pelaporan, dan evaluasi yang terintegrasi dengan unit kerja terkait. Pelaksanaan pengelolaan obat
ini secara rinci dijelaskan pada Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di
Negara Kepulauan Tahun 2007 dan Peraturan Kepala BPOM RI Nomor Hk.03.1.34.11.12.7542
Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik.

1.7 Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)


Pekerjaan kefarmasian dalam fasilitas distribusi atau penyaluran sediaan farmasi harus
memenuhi ketentuan Cara Distribusi Obat yang Baik yang tercantum pada Peraturan Kepala

BPOM RI No. HK.03.1.34.11.12.7542 tahun 2012. Cara Distribusi Obat yang Baik, yang
selanjutnya disingkat CDOB, adalah cara distribusi/penyaluran obat dan/atau bahan obat yang
bertujuan memastikan mutu sepanjang jalus distribusi/penyaluran sesuai persyaratan dan tujuan
penggunaannya. Aspek-aspek yang harus dikelola dengan baik menurut CDOB antara lain:
1. Manajemen Mutu
Fasilitas distribusi harus mempertahankan sistem mutu yang mencakup tanggung jawab,
proses dan langkah manajemen risiko terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan. Fasilitas
distribusi harus memastikan bahwa mutu obat dan/atau bahan obat dan integritas rantai
distribusi dipertahankan selama proses distribusi. Seluruh kegiatan distribusi harus ditetapkan
dengan jelas, dikaji secara sistematis dan semua tahapan kritis proses distribusi dan
perubahan yang bermakna harus divalidasi dan didokumentasikan. Sistem mutu harus
mencakup prinsip manajemen risiko mutu.Pencapaian sasaran mutu merupakan tanggung
jawab dari penanggung jawab fasilitas distribusi, membutuhkan kepemimpinan dan
partisipasi aktif serta harus didukung oleh komitmen manajemen puncak.
2. Organisasi, Manajemen, dan Personalia
Pelaksanaan dan pengelolaan sistem manajemen mutu yang baik serta distribusi obat
dan/atau bahan obat yang benar sangat bergantung pada personil yang menjalankannya.Harus
ada personil yang cukup dan kompeten untuk melaksanakan semua tugas yang menjadi
tanggung jawab fasilitas distribusi.Tanggung jawab masing-masing personil harus dipahami
dengan jelas dan dicatat.Semua personil harus memahami prinsip CDOB dan harus menerima
pelatihan dasar maupun pelatihan lanjutan yang sesuai dengan tanggung jawabnya.Harus ada
struktur organisasi untuk tiap bagian yang dilengkapi dengan bagan organisasi yang
jelas.Tanggung jawab, wewenang dan hubungan antar semua personil harus ditetapkan
dengan jelas.Harus dipastikan tersedianya personil yang kompeten dalam jumlah yang
memadai di tiap kegiatan yang dilakukan di rantai distribusi, untuk memastikan bahwa mutu
obat dan/atau bahan obat tetap terjaga.
Manajemen puncak di fasilitas distribusi harus menunjuk seorang penanggung
jawab.Penanggung jawab harus memenuhi tanggung jawabnya, bertugas purna waktu dan
memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Jika penanggung jawab
fasilitas distribusi tidak dapat melaksanakan tugasnya dalam waktu yang ditentukan, maka
harus dilakukan pendelegasian tugas kepada tenaga teknis kefarmasian.Penanggung jawab
harus seorang Apoteker yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi sesuai peraturan
perundang-undangan.Di samping itu, telah memiliki pengetahuan dan mengikuti pelatihan
CDOB yang memuat aspek keamanan, identifikasi obat dan/atau bahan obat, deteksi dan

pencegahan masuknya obat dan/atau bahan obat palsu ke dalam rantai distribusi. Adapun
tugas pokok dan fungsi apoteker di PBF antara lain:
a. Menyusun, memastikan dan mempertahankan penerapan sistem manajemen mutu;
b. Fokus pada pengelolaan kegiatan yang menjadi kewenangannya serta menjaga akurasi
dan mutu dokumentasi;
c. Menyusun dan/atau menyetujui program pelatihan dasar dan pelatihan lanjutan mengenai
CDOB untuk semua personil yang terkait dalam kegiatan distribusi;
d. Mengkoordinasikan dan melakukan dengan segera setiap kegiatan penarikan obat
dan/atau bahan obat;
e. Memastikan bahwa keluhan pelanggan ditangani dengan efektif;
f. Melakukan kualifikasi dan persetujuan terhadap pemasok dan pelanggan;
g. Meluluskan obat dan/atau bahan obat kembalian untuk dikembalikan ke dalam stok obat
dan/atau bahan obat yang memenuhi syarat jual;
h. Turut serta dalam pembuatan perjanjian antara pemberi kontrak dan penerima kontrak
yang menjelaskan mengenai tanggung jawab masing-masing pihak yang berkaitan dengan
distribusi dan/atau transportasi obat dan/atau bahan obat;
i. Memastikan inspeksi diri dilakukan secara berkala sesuai program dan tersedia tindakan
perbaikan yang diperlukan;
j. Mendelegasikan tugasnya kepada Apoteker/tenaga teknis kefarmasian yang telah
mendapatkan persetujuan dari instansi berwenang ketika sedang tidak berada di tempat
dalam jangka waktu tertentu dan menyimpan dokumen yang terkait dengan setiap
pendelegasian yang dilakukan;
k. Turut serta dalam setiap pengambilan keputusan untuk mengkarantina atau memusnahkan
obat dan/atau bahan obat kembalian, rusak, hasil penarikan kembali atau diduga palsu;
l. Memastikan pemenuhan persyaratan lain yang diwajibkan untuk obat dan/atau bahan obat
tertentu sesuai peraturan perundang-undangan.
3. Bangunan dan Peralatan
Bangunan harus dirancang dan disesuaikan untuk memastikan bahwa kondisi
penyimpanan yang baik dapat dipertahankan, mempunyai keamanan yang memadai dan
kapasitas yang cukup untuk memungkinkan penyimpanan dan penanganan obat yang baik,
dan area penyimpanan dilengkapi dengan pencahayaan yang memadai untuk memungkinkan
semua kegiatan dilaksanakan secara akurat dan aman.Semua peralatan untuk penyimpanan
dan penyaluran obat dan/atau bahan obat harus didesain, diletakkan dan dipelihara sesuai

dengan standar yang ditetapkan.Harus tersedia program perawatan untuk peralatan vital,
seperti termometer, genset, dan chiller.Peralatan yang digunakan untuk mengendalikan atau
memonitor lingkungan penyimpanan obat dan/atau bahan obat harus dikalibrasi, serta
kebenaran dan kesesuaian tujuan penggunaan diverifikasi secara berkala dengan metodologi
yang tepat.Kalibrasi peralatan harus mampu tertelusur.
4. Operasional
Semua tindakan yang dilakukan oleh fasilitas distribusi harus dapat memastikan bahwa
identitas obat dan/atau bahan obat tidak hilang dan distribusinya ditangani sesuai dengan
spesifikasi yang tercantum pada kemasan. Fasilitas distribusi harus menggunakan semua
perangkat dan cara yang tersedia untuk memastikan bahwa sumber obat dan/atau bahan obat
yang diterima berasal dari industri farmasi dan/atau fasilitas distribusi lain yang mempunyai
izin sesuai peraturan perundang-undangan untuk meminimalkan risiko obat dan/atau bahan
obat palsu memasuki rantai distribusi resmi. Operasional meliputi proses penerimaan,
penyimpanan, pemisahan obat dan/atau bahan obat, pemusnahan obat dan/atau bahan obat,
pengambilan, pengemasan, pengiriman, ekspor dan impor. Proses penerimaan bertujuan untuk
memastikan bahwa kiriman obat dan/atau bahan obat yang diterima benar, berasal dari
pemasok yang disetujui, tidak rusak atau tidak mengalami perubahan selama transportasi.
Obat dan/atau bahan obat tidak boleh diterima jika kedaluwarsa, atau mendekati tanggal
kedaluwarsa sehingga kemungkinan besar obat dan/atau bahan obat telah kedaluwarsa
sebelum digunakan oleh konsumen.
Kegiatan yang terkait dengan penyimpanan obat dan/atau bahan obat harus memastikan
terpenuhinya kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan dan memungkinkan penyimpanan
secara teratur sesuai kategorinya; obat dan/atau bahan obat dalam status karantina, diluluskan,
ditolak, dikembalikan, ditarik atau diduga palsu.Harus diambil langkah-langkah untuk
memastikan rotasi stock sesuai dengan tanggal kedaluwarsa obat dan/atau bahan obat
mengikuti kaidah First Expired First Out (FEFO). Obat dan/atau bahan obat harus ditangani
dan disimpan sedemikian rupa untuk mencegah tumpahan, kerusakan, kontaminasi dan
campur-baur.Obat dan/atau bahan obat tidak boleh langsung diletakkan di lantai.
Jika diperlukan, obat dan/atau bahan obat yang mempunyai persyaratan khusus harus
disimpan di tempat terpisah dengan label yang jelas dan akses masuk dibatasi hanya untuk
personil yang berwenang.Sistem komputerisasi yang digunakan dalam pemisahan secara
elektronik harus dapat memberikan tingkat keamanan yang setara dan harus tervalidasi.
Obat dan/atau bahan obat yang akan dimusnahkan harus diidentifikasi secara tepat,
diberi label yang jelas, disimpan secara terpisah dan terkunci serta ditangani sesuai dengan

prosedur tertulis. Prosedur tertulis tersebut harus memperhatikan dampak terhadap kesehatan,
pencegahan pencemaran lingkungan dan kebocoran/ penyimpangan obat dan/atau bahan obat
kepada pihak yang tidak berwenang.
Proses pengambilan obat dan/atau bahan obat harus dilakukan dengan tepat sesuai
dengan dokumen yang tersedia untuk memastikan obat dan/atau bahan obat yang diambil
benar. Obat dan/atau bahan obat yang diambil harus memiliki masa simpan yang cukup
sebelum kedaluwarsa dan berdasarkan FEFO. Nomor bets obat dan/atau bahan obat harus
dicatat. Pengecualian dapat diizinkan jika ada kontrol yang memadai untuk mencegah
pendistribusian obat dan/atau bahan obat kedaluwarsa.Obat dan/atau bahan obat harus
dikemas sedemikian rupa sehingga kerusakan, kontaminasi dan pencurian dapat
dihindari.Kemasan harus memadai untuk mempertahankan kondisi penyimpanan obat
dan/atau bahan obat selama transportasi. Kontainer obat dan/atau bahan obat yang akan
dikirimkan harus disegel.
Prosedur tertulis untuk pengiriman obat dan/atau bahan obat harus tersedia.Prosedur
tersebut harus mempertimbangkan sifat obat dan/atau bahan obat serta tindakan pencegahan
khusus.Dokumen untuk pengiriman obat dan/atau bahan obat harus disiapkan dan harus
mencakup sekurang-kurangnya informasi berikut:
Tanggal pengiriman
Nama lengkap, alamat (tanpa akronim), nomor telepon dan status dari penerima (misalnya

Apotek, rumah sakit atau klinik);


Deskripsi obat dan/atau bahan obat, misalnya nama, bentuk sediaan dan kekuatan (jika

perlu);
nomor bets dan tanggal kedaluwarsa
Kuantitas obat dan/atau bahan obat, yaitu jumlah kontainer dan kuantitas per kontainer

(jika perlu);
Nomor dokumen untuk identifikasi order pengiriman
Transportasi yang digunakan mencakup nama dan alamat perusahaan ekspedisi serta
tanda tangan dan nama jelas personil ekspedisi yang menerima (jika menggunakan jasa
ekspedisi) dan kondisi penyimpanan;
Ekspor obat dan/atau bahan obat dapat dilakukan oleh fasilitas distribusi yang memiliki

izin.Pengadaan obat dan/atau bahan obat melalui importasi dilaksanakan sesuai peraturan
perundang-undangan.Di pelabuhan masuk, pengiriman obat dan/atau bahan obat harus
disimpan pada kondisi yang sesuai dalam waktu sesingkat mungkin.Importir harus
memastikan bahwa obat dan/atau bahan obat ditangani sesuai dengan persyaratan
penyimpanan pada saat di pelabuhan masuk agar terhindar dari kerusakan.

5. Inspeksi Diri
Inspeksi diri harus dilakukan dalam rangka memantau pelaksanaan dan kepatuhan
terhadap pemenuhan CDOB dan untuk bahan tindak lanjut langkah-langkah perbaikan yang
diperlukan.Program inspeksi diri harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditetapkan dan
mencakup semua aspek CDOB serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
pedoman dan prosedur tertulis.Inspeksi diri tidak hanya dilakukan pada bagian tertentu saja.
Inspeksi diri harus dilakukan dengan cara yang independen dan rinci oleh personil yang
kompeten dan ditunjuk oleh perusahaan. Audit eksternal yang dilakukan oleh ahli independen
dapat membantu, namun tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk memastikan
kepatuhan terhadap penerapan CDOB. Audit terhadap kegiatan yang disubkontrakkan harus
menjadi bagian dari program inspeksi-diri.Semua pelaksanaan inspeksi diri harus
dicatat.Laporan harus berisi semua pengamatan yang dilakukan selama inspeksi.Salinan
laporan tersebut harus disampaikan kepada manajemen dan pihak terkait lainnya.Jika dalam
pengamatan ditemukan adanya penyimpangan dan/atau kekurangan, maka penyebabnya harus
diidentifikasi dan dibuat CAPA.CAPA harus didokumentasikan dan ditindaklanjuti.
6. Transportasi
Selama proses transportasi, harus diterapkan metode transportasi yang memadai. Obat
dan/atau bahan obat harus diangkut dengan kondisi penyimpanan sesuai dengan informasi
pada kemasan.Metode transportasi yang tepat harus digunakan mencakup transportasi melalui
darat, laut, udara atau kombinasi di atas.Apapun moda transportasi yang dipilih, harus dapat
menjamin bahwa obat dan/atau bahan obat tidak mengalami perubahan kondisi selama
transportasi yang dapat mengurangi mutu.Pendekatan berbasis risiko harus digunakan ketika
merencanakan rute transportasi.
7. Dokumentasi
Dokumentasi yang baik merupakan bagian penting dari sistem manajemen mutu.
Dokumentasi tertulis harus jelas untuk mencegah kesalahan dari komunikasi lisan dan untuk
memudahkan penelusuran, antara lain sejarah bets, instruksi, prosedur. Dokumentasi
merupakan dokumen tertulis terkait dengan distribusi (pengadaan, penyimpanan, penyaluran
dan pelaporan), prosedur tertulis dan dokumen lain yang terkait dengan pemastian mutu.
Dokumentasi terdiri dari semua prosedur tertulis, petunjuk, kontrak, catatan dan data, dalam
bentuk kertas maupun elektronik. Dokumentasi yang jelas dan rinci merupakan dasar untuk
memastikan bahwa setiap personil melaksanakan kegiatan, sesuai uraian tugas sehingga
memperkecil risiko kesalahan.Dokumentasi harus komprehensif mencakup ruang lingkup
kegiatan fasilitas distribusi dan ditulis dalam bahasa yang jelas, dimengerti oleh personil dan

tidak berarti ganda.Prosedur tertulis harus disetujui, ditandatangani dan diberi tanggal oleh
personil yang berwenang.Prosedur tertulis tidak ditulis tangan dan harus tercetak.Setiap
perubahan yang dibuat dalam dokumentasi harus ditandatangani, diberi tanggal dan
memungkinkan pembacaan informasi yang asli.Jika diperlukan, alasan perubahan harus
dicatat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tugas Pokok Dan Fungsi Apoteker


Tugas pokok dan fungsi apoteker pada unit distribusi pemerintah UPT farmasi di

Kota/Kabupaten yaitu sebagai penanggungjawab IFK dan pelaksana distribusi di IFK.


2.1.1 Tupoksi Apoteker di UPT Farmasi Kabupaten/Kota
a. Apoteker sebagai Kepala IFK
Dalam Kepmenkes No.1426/Menkes/SK/XI/2002 dinyatakan bahwa kepala atau penanggung
jawab Instalasi Farmasi Propinsi/Kabupaten adalah apoteker. Hal serupa juga disebutkan dalam
Peraturan Kepala BPOM No Hk.03.1.34.11.12.7542 Th. 2012 (Pedoman Teknis CDOB) bahwa
instalasi sediaan farmasi adalah sarana yang digunakan untuk mendistribusikan atau menyalurkan
sediaan farmasi milik pemerintah dengan penanggung jawab harus seorang apoteker.
Adapun tupoksi dari apoteker sebagai kepala/penanggung jawab IFK adalah sebagai berikut :

Menggandakan dan mensosialisasikan KepMenkes serta informasi lain tentang obat dan

perbekalan Kesehatan pada instansi terkait dan lintas program


Menyusun, memastikan, dan mempertahankan penerapan sistem manajemen mutu

Memastikan inspeksi diri dilakukan secara berkala sesuai program dan tersedia tindakan
perbaikan yang diperlukan

Mengkoordinasikan dan melakukan dengan segera setiap kegiatan penarikan obat dan/atau
bahan obat

Meluluskan obat dan/atau bahan obat kembalian untuk dikembalikan ke dalam stok obat
dan/atau bahan obat yang memenuhi syarat jual

Turut serta dalam setiap pengambilan keputusan untuk mengkarantina atau memusnahkan obat
dan/atau bahan obat kembalian, rusak, hasil penarikan kembali atau diduga palsu

Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan ke Puskesmas dan subunitnya.

b. Apoteker sebagai Penanggungjawab dan Pelaksana Distribusi


Dalam UU no 36 tahun 2009 yang merupakan pengganti dari UU No 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, dinyatakan

bahwa pemerintah

harus

menjamin

ketersediaan, pemerataan,

keterjangkauan serta mutu dari perbekalan kesehatan terutama obat esensial untuk memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah menyerahkan
kewenangan pada tiap daerah kabupaten/kota untuk melakukan pengelolaan obat publik dan
perbekalan kesehatan di daerahnya masing-masing berlandaskan UU No 32 tahun 2004 tentang
otonomi daerah. Dalam PP 51 tahun 2009 Pasal 14 Ayat (1) dijelaskan bahwa fasilitas distribusi
adalah sarana yang digunakan untuk mendistribusikan/menyalurkan sediaan farmasi yang salah
satunya berupa Instalasi Sediaan Farmasi dengan penanggung jawab adalah harus seorang
apoteker. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan distribusi dimuat dalam Kepmenkes
No.1426/Menkes/SK/XI/2002

yang

menyatakan

bahwa

pelaksana

pendistribusian

dan

penyimpanan, evaluasi, pencatatan, perencanaan kebutuhan, pelayanan informasi obat, untuk


obat publik dan perbekalan kesehatan adalah apoteker/S1/D3 Farmasi/asisten apoteker dengan
jumlah minimal satu orang dan dapat dibantu oleh tenaga lulusan SMU. Dalam Peraturan Kepala
BPOM No Hk.03.1.34.11.12.7542 Th. 2012 tentang Pedoman Teknis CDOB, disebutkan bahwa
instalasi sediaan farmasi adalah sarana yang digunakan untuk mendistribusikan atau menyalurkan
sediaan farmasi milik pemerintah, dan manajemen puncak di fasilitas distribusi harus menunjuk
penanggung jawab seorang apoteker.

Kegiatan distribusi di IFK dilakukan untuk memenuhi kebutuhan obat publik dan perbekalan
farmasi di unit pelayanan kesehatan dasar yang ada di sekitar wilayah Kabupaten/Kota tersebut.
Agar kegiatan ini berjalan dengan baik, maka harus ditunjuk seorang apoteker yang memenuhi
kualifikasi dan kompetensi sesuai peraturan perundang-undangan sebagai penanggung jawab.
Berikut ini adalah tupoksi apoteker sebagai penanggung jawab dan pelaksana distribusi sediaan
farmasi di UPT farmasi kabupaten/kota.
-

Fokus pada pengelolaan kegiatan yang menjadi kewenangannya serta menjaga akurasi dan

mutu dokumentasi,
Memastikan bahwa keluhan pelanggan ditangani dengan efektif
Melakukan kualifikasi dan persetujuan terhadap pemasok dan pelanggan
Turut serta dalam pembuatan perjanjian antara pemberi kontrak dan penerima kontrak yang
menjelaskan mengenai tanggung jawab masing-masing pihak yang berkaitan dengan distribusi

dan/atau transportasi obat dan/atau bahan obat


Menyusun dan/atau menyetujui program pelatihan dasar dan pelatihan lanjutan mengenai

CDOB untuk semua personil yang terkait dalam kegiatan distribusi


Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk

Puskesmas dan sub unitnya


Bertanggungjawab terhadap pendistribusian obat kepada unit pelayanan kesehatan dasar
Perencanaan distribusi, meliputi :
a. Merumuskan stok optimum
b. Penetapan frekuensi pengiriman obat-obatan ke unit pelayanan kesehatan
c. Penyusunan peta lokasi, jalur dan jumlah pengiriman

Pencatatan pendistribusian obat, meliputi :


a.

Buku harian penerimaan dan pengeluaran obat

b.

Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)

c.

Laporan mutasi obat

d.

Laporan distribusi obat

Mendelegasikan tugasnya kepada Apoteker/tenaga teknis kefarmasian yang telah mendapatkan


persetujuan dari instansi berwenang ketika sedang tidak berada di tempat dalam jangka waktu

tertentu dan menyimpan dokumen yang terkait dengan setiap pendelegasian yang dilakukan
Memastikan pemenuhan persyaratan lain yang diwajibkan untuk obat dan/atau bahan obat
tertentu sesuai peraturan perundang-undangan.

2.2

Formularium Nasional (Fornas)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 Tentang
Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional, Formularium Nasional adalah daftar
obat yang disusun oleh komite nasional yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, didasarkan pada
bukti ilmiah mutakhir berkhasiat, aman, dan dengan harga yang terjangkau yang disediakan serta
digunakan sebagai acuan penggunaan obat dalam jaminan kesehatan nasional.
Daftar obat yang terdapat dalam Formularium Nasional (FORNAS) tercantum dalam
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 328/MENKES/SK/VII/2013 Tentang
Formularium Nasional.
Dengan adanya formularium nasional ini memungkinkan masyarakat memiliki hak yang
sama terhadap setiap obat. Fornas hanya mencakup obat dengan bukti ilmiah terkini dan valid,
hanya obat yang paling cost effective, hanya obat yang memiliki safety profile terbaik dan
indikasi obat sesuai yang disetujui saat registrasi di BPOM. Berdasarkan hal tersebut Fornas
dapat memberikaan manfaat positif kepada masyarakat. Berikut adalah manfaat dari Formularium
Nasional :
1. Menghindari obat dengan bukti ilmiah terbatas atau tanpa bukti ilmiah yang valid
2. Mengoptimalkan ketersediaan dan distribusi obat agar akses masyarakat merata
3. Mencegah penggunaan obat dengan harga yang sangat mahal
4. Menghindari moral Hazard dalam peresepan obat di fasilitas pelayanan kesehatan
5. Melindungi pasien dari risiko penggunaan obat off label dan melindungi tenaga kesehatan
dari risiko hukum
6. Menghindari pemborosan biaya untuk obat branded
7. Menghindari diskriminasi ketersediaan obat yang memiliki manfaat sama
2.3

E-katalog Kemenkes
Dalam rangka menjamin transparansi dan pemerataan obat, pemesanan obat yang terdapat

dalam fornas dapat dilakukan secara online melalui e-katalog. E-katalog merupakan sistem online
yang memuat daftar obat yang ada di dalam Fornas beserta harga jual per satuan tiap obat
tersebut.Untuk mempermudah pengadaan obat, LembagaKebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP) telah menetapkan KatalogElektronik (e-katalog) Obat yang berisi daftar
harga, spesifikasi dan penyediaobat.Pengadaan obat dilaksanakan berdasarkan e-katalogobat
denganmenggunakan metode pembelian secara elektronik (e-purchasing) sebagaimanatercantum
dalam e-katalog. Obat yang ditetapkan oleh Kepala LKPP (dapatdilihat dalam website resmi
LKPP : inaproc.lkpp.go.id) atau pembelian secaramanual.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 48 tahun 2013 tentang petunjuk pelaksanaan
pengadaan obat dengan prosedur e-purchasing berdasarkan e-katalog, diketahui bahwa eprocurement adalah pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi
informasi

dan

transaksi

elektronik

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-

undangan.Penerapan e-purchasing ini bertujuan untuk:


1. Meningkatkan transparansi/keterbukaan dalam proses pengadaan barang/jasa.
2. Meningkatkan persaingan yang sehat dalam rangka penyediaan pelayanan publik dan
penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan proses pengadaan barang/jasa.
Sesuai ketentuan yang berlaku, pengadaan barang/jasa secara elektronik atau e-Procurement
dapat dilakukan dengan e-Tendering atau e-purchasing. E-Tendering merupakan tata cara
pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua
penyedia barang/jasa yang terdaftar pada sistem elektronik. Prinsip pemilihan penyedia
barang/jasa secara elektronik sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012, yaitu efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.
Sedangkan e-purchasing obat merupakan tata cara pembelian barang/jasa sesudah sistem ekatalog

terbangun.

Dengan

telah

terbangunnya

sistem

e-katalogobat,

maka

Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi (K/L/D/I) tidak perlu melakukan proses pelelangan, namun


dapat langsung memanfaatkan sistem e-katalogobat dalam pengadaan obat dengan prosedur epurchasing. Alur proses e-purchasing Obat dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Alur Proses e-purchasing Obat


Berdasarkan gambar tersebut diketahui persiapan dan tahapan proses e-purchasing Obat.
Persiapan proses pengadaan obat dengan e-purchasing adalah :
1. K/L/D/I membuka Portal Pengadaan Nasional untuk melihat e-katalogobat yang memuat
nama provinsi, nama obat, nama penyedia, kemasan, harga satuan terkecil, distributor dan
kontrak payung penyediaan obat.
2. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menyusun Rencana Pengadaan Obat sesuai Rencana
Kebutuhan Obat dan ketersediaan anggaran berdasarkan kelompok sebagai berikut:
a. Rencana Pelaksanaan Pengadaan Obat berdasarkan e-katalogobat (Form 1), yaitu
daftar obat dalam Rencana Kebutuhan Obat yang terdapat di dalam sistem E-katalog
obat yang ditayangkan di Portal Pengadaan Nasional.
b. Rencana Pelaksanaan Pengadaan Obat di luar e-katalogobat (Form 2), yaitu daftar
obat dalam Rencana Kebutuhan Obat di luar e-katalogobat.

Kedua daftar Rencana Pengadaan Obat yang akan diadakan tersebut ditandatangani oleh
PPK dan Apoteker sebagai penanggung jawab.
3. Daftar Rencana Pengadaan Obat berdasarkan e-katalogobat (Form 1) yang sudah
ditandatangani selanjutnya diteruskan oleh PPK kepada Pokja Unit Layanan Pengadaan
(ULP)/Pejabat Pengadaan untuk diadakan dengan prosedur ePurchasing.
4. Daftar Rencana Pengadaan Obat diluar e-katalogobat (Form 2) selanjutnya diteruskan
oleh PPK kepada Pokja Unit Layanan Pengadaan (ULP)/Pejabat Pengadaan untuk
diadakan sesuai Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 sebagaimana telah diubah
dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012.
Sebelum melakukan pengadaan obat dengan prosedur e-purchasing, PPK, Pokja ULP dan
Penyedia harus terdaftar di Aplikasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) di Website
Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sesuai Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor 17 Tahun 2012 tentang e-purchasing. Selanjutnya
Pokja ULP/Pejabat Pengadaan, Penyedia dan PPK dapat login untuk melakukan epurchasing.Tahapan yang dilakukan dalam e-purchasing obat adalah sebagaiberikut:
1. Pokja ULP/Pejabat Pengadaan membuat permintaan pembelian obat berdasarkan
pengelompokan penyedia melalui aplikasi e-purchasing, sesuai daftar rencana pengadaan
obat (Form 1) yang diberikan oleh PPK.
2. Pokja ULP/Pejabat Pengadaan selanjutnya mengirimkan permintaan pembelian obat
kepada penyedia yang terdaftar pada e-katalogmelalui aplikasi e-purchasing.
3. Penyedia obat yang telah menerima permintaan pembelian obat dari Pokja ULP/Pejabat
Pengadaan memberikan persetujuan/penolakan atas permintaan pembelian obat melalui
aplikasi e-purchasing dan apabila menyetujui, menunjuk distributor dari daftar distributor
yang sudah ditentukan dari semula dan ditampilkan dalam e-katalogobat.
4. Sesudah persetujuan oleh Penyedia, Pokja ULP/Pejabat Pengadaan memberikan
persetujuan/penolakan dan apabila menyetujui, meneruskan kepada PPK melalui aplikasi
e-Purchasing.
5. PPK selanjutnya melakukan konfirmasi persetujuan/penolakan pembelian obat kepada
distributor melalui aplikasi e-purchasing.
6. Sesudah konfirmasi persetujuan, PPK dan distributor melakukan perjanjian pembelian
obat secara manual sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan
barang/jasa Pemerintah.
7. Sesudah dilakukan penandatanganan perjanjian pembelian obat antara PPK dan
distributor, dilanjutkan dengan proses pengadaan sesuai peraturan perundang-undangan di
bidang pengadaan barang/jasa Pemerintah.

8. Perjanjian pembelian obat antara PPK dan distributor dikirimkan kepada Pokja
ULP/Pejabat Pengadaan dan selanjutnya Pokja ULP/Pejabat Pengadaan mengunggah
(upload) perjanjian pembelian obat pada aplikasi e-purchasing.
Dalam hal terdapat gangguan teknis pada aplikasi e-purchasing sehingga aplikasi tersebut
tidak

dapat

dipergunakan

untuksementara

waktu,

maka

K/L/D/I

dapat

melakukan

prosespengadaan tanpa melalui prosedur e-purchasing (secaramanual/offline) dengan tetap


mengacu pada harga dan penyediayang dimuat dalam e-katalog. Proses pengadaan yang
dilakukansecara manual tersebut memerlukan dokumen pengadaan yangmeliputi: a) undangan
negosiasi; b) berita acara proses negosiasi; c)permintaan pembelian; dan d) perjanjian pembelian.

BAB III
4 PILAR KEBERHASILAN DISTRIBUSI MELALUI E-KATALOG DAN FORNAS DI
ERA JKN DI PELAYANAN FARMASI DI PUSKESMAS
3.1 Peran Setiap Tingkatan dalam Proses Distribusi Sediaan Farmasi Milik Pemerintah
Penerapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah membawa
implikasi terhadap pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan di Pusat, Provinsi, maupun
Kabupaten/Kota. Tanggung jawab pengadaan obat esensial untuk pelayanan kesehatan dasar
bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Masingmasing daerah Provinsi/Kabupaten/Kota
mempunyai struktur organisasi dan kebijakan tersendiri dalam pengelolaan obat dan perbekalan
kesehatan.
Alur dan prosedur distribusi sediaan farmasi di unit distribusi pemerintah dapat mengacu
pada Good Distribution Practice (GDP) maupun Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).
Kedua pedoman tersebut secara garis besar memuat ketentuan yang sama mengenai aspek
distribusi. Dalam GDP disebutkan bahwa hanya orang atau badan yang memegang lisensi yang
berwenang yang dapat melakukan proses distribusi (WHO, 2010). Instalasi sediaan Farmasi
adalah sarana yang digunakan untuk mendistribusikan / menyalurkan sediaan farmasi milik
pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah Kabupaten/Kota (BPOM, 2012).
a. Peranan Pemerintah Pusat
Fungsi pemerintah pusat dalam manajemen kefarmasian di era desentralisasi meliputi
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) yang terkait dengan manajemen
kefarmasian di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK). Adapun spesifikasi fungsi pemerintah
pusat adalah sebagai berikut :
-

Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), pedoman pengobatan, penetapan harga
obat generik, pedoman pelayanan kefarmasian, dan materi pelatihan manajemen pelayanan

kefarmasian.
Menyediakan obat buffer stok nasional. Buffer stok nasional adalah obat dan perbekalan
kesehatan yang disediakan sebagai stok penyangga di tingkat nasional yang diprioritaskan
untuk mengatasi kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan sektor publik, untuk kejadian
luar biasa (KLB), bencana berskala nasional, serta untuk kebutuhan dari komponen
masyarakat untuk memperluas jangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan.

Melakukan pelatihan petugas pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan di provinsi

maupun Kabupaten/Kota dengan prioritas Kabupaten/Kota bentukan baru.


Melakukan bimbingan teknis, monitoring, dan evaluasi ketersediaan obat publik dan

perbekalan kesehatan.
Menyediakan pedoman pengobatan dasar di puskesmas.
Menyediakan fasilitator untuk pelatihan pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan.
Menyediakan
pedoman
advokasi
penyediaan
anggaran
kepada
pemerintah

provinsi/Kabupaten/Kota.
(Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan RI, 2010)
b. Peranan Pemerintah Provinsi
Peran pemerintah provinsi dalam pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan di era
desentralisasi adalah sebagai berikut :
-

Menyediakan dan mengelola obat buffer stok Provinsi. Buffer stok provinsi adalah obat dan
perbekalan kesehatan yang disediakan sebagai stok penyangga di tingkat provinsi yang
diprioritaskan untuk mengatasi kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan sektor publik,

untuk KLB dan bencana berskala provinsi.


Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di

Kabupaten/Kota.
Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan

Perbekalan Kesehatan ke Kabupaten/Kota.


Menyediakan Fasilitator untuk pelatihan pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan di

Kabupaten/Kota maupun Puskesmas.


Melaksanakan Advokasi Penyediaan Anggaran Kepada Pemerintah Provinsi.

c. Peranan Pemerintah Kabupaten/Kota


Peran pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan di era
desentralisasi adalah sebagai berikut :
-

Perencanaan kebutuhan obat untuk pelayanan kesehatan dasar disusun oleh tim perencanaan

obat terpadu berdasarkan sistem bottom up.


Perhitungan rencana kebutuhan obat untuk satu tahun anggaran disusun dengan menggunakan

pola konsumsi dan atau epidemiologi.


Mengkoordinasikan perencanaan kebutuhan obat dari beberapa sumber dana, agar jenis dan

jumlah obat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak tumpang tindih.
Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk

Puskesmas.
Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan

Perbekalan Kesehatan ke Puskesmas.


Melaksanakan Advokasi Penyediaan Anggaran Kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap pendistribusian obat kepada

unit pelayanan kesehatan dasar.


Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap penanganan obat dan
perbekalan kesehatan yang rusak dan kadaluwarsa.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap jaminan mutu obat yang ada

di Instalasi Farmasi Kabupaten dan UPK.


3.2 Alur dan Prosedur Pengelolaan Obat di UPT Farmasi Kabupaten/Kota
Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) adalah unit pengelola teknis yang mengelola obat dan
perbekalan kesehatan di daerah kabupaten/kota (BPOM, 2012). Adapun tahapan pengelolaan obat
publik dan perbekalan kesehatan yang dilakukan oleh IFK meliputi perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian ke unit pelayanan kesehatan dasar yang ada di wilayah
Kabupaten/Kota, pencatatan dan pelaporan, serta supervisi dan evaluasi. Berikut ini adalah
penjelasan prosedur pengelolaan obat yang dilakukan oleh IFK.
a.

Perencanaan
Perencanaan bertujuan untuk menetapkan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan

yang tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar. Berkaitan dengan hal tersebut,
diperlukan koordinasi dan keterpaduan dalam hal perencanaan kebutuhan obat dan perbekalan
kesehatan sehingga pembentukan tim perencanaan obat terpadu merupakan suatu kebutuhan
dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana melalui koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi antar instansi yang terkait dengan perencanaan obat di setiap
kabupaten/kota.
Tim Perencanaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Terpadu di Kabupaten/Kota dibentuk
melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota. Tim Perencanaan Terpadu terdiri dari :
- Ketua : Kepala Bidang yang membawahi program kefarmasian di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
- Sekretaris
: Kepala Unit Pengelola Obat Kabupaten/Kota atau Kepala Seksi
Farmasi yang menangani kefarmasian Dinas Kesehatan.
- Anggota
: terdiri dari unsur-unsur unit terkait seperti Sekretariat Daerah
Kabupaten/ Kota serta unsur Program yang terkait di Dinkes Kabupaten/Kota.
Dalam perencanaan kebutuhan obat ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh tim
perencanaan obat terpadu, meliputi :
1. Tahap Pemilihan Obat

Pemilihan obat berdasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum dalam Daftar Obat
Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dan Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) yang masih
berlaku dengan patokan harga sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Daftar Harga
Obat untuk Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dan Obat Program Kesehatan. Fungsi
pemilihan obat adalah untuk menentukan apakah obat benar-benar diperlukan sesuai dengan pola
penyakit yang ada. Pada perencanaan kebutuhan obat apabila dana tidak mencukupi, perlu
dilakukan analisa kebutuhan sesuai anggaran yang ada (dengan menggunakan metode
perhitungan ABC) dan untuk seleksi obat perlu dilakukan analisa VEN. Untuk mendapatkan
perencanaan obat yang tepat, seleksi kebutuhan obat harus mempertimbangkan beberapa hal
berikut :
-

Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang memberikan efek terapi jauh

lebih baik dibandingkan resiko efek samping yang akan ditimbulkan.


Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari duplikasi dan kesamaan

jenis.
Hindari penggunaan obat kombinasi kecuali jika obat tersebut mempunyai efek yang lebih

baik dibandingkan obat tunggal.


- Memiliki rasio manfaat/biaya yang paling menguntungkan.
2. Tahap Kompilasi Pemakaian Obat
Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahui pemakaian setiap bulan dari masingmasing jenis obat di Unit Pelayanan Kesehatan/ Puskesmas selama setahun, serta untuk
menentukan stok optimum. Data pemakaian obat di puskesmas diperoleh dari Lembar Pemakaian
dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yang dikirimkan dari puskesmas ke IFK dan berdasarkan
Pola Penyakit.
Informasi yang didapat dari kompilasi pemakaian obat adalah sebagai berikut:
-

Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing Unit Pelayanan Kesehatan/ Puskesmas.
Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh Unit Pelayanan

Kesehatan/ Puskesmas.
- Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/ Kota.
- Pola penyakit yang ada.
3. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat
Menentukan kebutuhan obat merupakan salah satu pekerjaan kefarmasian yang harus
dilakukan oleh Apoteker di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota. Dengan koordinasi dan proses
perencanaan untuk pengadaan obat secara terpadu (termasuk obat program), maka diharapkan
obat yang direncanakan dapat tepat jenis, jumlah dan waktu serta mutu yang terjamin. Untuk

menentukan kebutuhan obat dilakukan pendekatan perhitungan melalui metoda konsumsi dan
atau morbiditas.
-

Metoda Konsumsi
Didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat
yang dibutuhkan berdasarkan metoda konsumsi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Pengumpulan dan pengolahan data
b) Analisa data untuk informasi dan evaluasi
c) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat
d) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana

Metode Morbiditas
Metoda morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Adapun
faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit dan lead time. Langkahlangkah dalam metoda ini adalah:
a) Memanfaatkan pedoman pengobatan.
b) Menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani.
c) Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit.
d) Menghitung jumlah kebutuhan obat.

4. Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat


Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
5.

Menetapkan rancangan stok akhir periode yang akan datang.


Menghitung rancangan pengadaan obat periode tahun yang akan datang.
Menghitung rancangan anggaran untuk total kebutuhan obat.
Pengalokasian kebutuhan obat per sumber anggaran.
Tahap Penyesuaian Pengadaan Obat
Dengan melaksanakan penyesuaian perencanaan obat dengan jumlah dana yang tersedia,

maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing
jenis obat dan jumlah kemasan untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang.
b.

Pengadaan
Pengadaan

obat

dan

perbekalan

kesehatan

dilaksanakan

oleh

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa


Instansi Pemerintah dan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pengadaan obat
dan perbekalan kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) dibiayai melalui berbagai
sumber anggaran. Berbagai sumber anggaran yang membiayai pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan antara lain:

a. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK)


b. PAD/APBD II
c. Askes
d. Program Kesehatan
e. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
f. Sumber-sumber lain.
Pengadaan obat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Keputusan Presiden
No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah,
baik melalui lelang, pemilihan langsung, penunjukan langsung untuk pengadaan skala kecil,
pengadaan bersifat mendesak, penyediaan barang/jasa tunggal dan swakelola. Adapun hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pengadaan obat adalah sebagai berikut :
1

Kriteria Obat dan Perbekalan Kesehatan/ Pemilihan Metode Pengadaan


Terdapat beberapa kriteria obat yang diadakan dalam distribusi sediaan farmasi di UPT

Farmasi Kabupaten/Kota, meliputi :


-

Obat tercantum dalam daftar obat Generik, Daftar Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD),
daftar Obat Program Kesehatan, serta Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang masih

berlaku.
Obat telah memiliki Izin Edar atau Nomor Registrasi dari Kementerian Kesehatan R.I cq.

Badan POM.
Batas kadaluarsa obat pada saat pengadaan minimal 2 tahun.
Khusus untuk vaksin dan preparat biologis ketentuan kadaluwarsa diatur tersendiri.
Obat memiliki Sertifikat Analisa dan uji mutu yang sesuai dengan nomor batch masing-

masing produk.
Obat diproduksi oleh Industri Farmasi yang memiliki Sertifikat CPOB.
Persyaratan Pemasok
Pemilihan pemasok adalah penting karena dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas obat

yang akan diadakan. Persyaratan pemasok adalah sebagai berikut :


-

Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi / Industri Farmasi yang masih berlaku.
Pedagang Besar Farmasi (PBF) harus ada dukungan dari Industri Farmasi yang memiliki
Sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) bagi tiap bentuk sediaan obat yang

dibutuhkan untuk pengadaan.


Pedagang Besar Farmasi atau Industri Farmasi harus memiliki reputasi yang baik dalam
bidang pengadaan obat.

Pemilik dan atau Apoteker penanggung jawab Pedagang Besar Farmasi, Apoteker penanggung
jawab produksi dan quality control Industri Farmasi tidak sedang dalam proses pengadilan

atau tindakan yang berkaitan dengan profesi kefarmasian.


Mampu menjamin kesinambungan ketersediaan obat sesuai dengan masa kontrak.
Penentuan Waktu Pengadaan dan Kedatangan Obat
Waktu pengadaan dan waktu kedatangan obat dari berbagai sumber anggaran perlu

ditetapkan berdasarkan hasil analisis data:


4

Sisa stok dengan memperhatikan waktu


Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran
Rata-rata pemakaian
Waktu tunggu / lead time
Penerimaan dan Pemeriksaan Obat
Penerimaan dan pemeriksaan merupakan salah satu kegiatan pengadaan agar obat yang

diterima sesuai dengan jenis dan jumlah serta sesuai dengan dokumen yang menyertainya.
5

Pemantauan Status Pesanan


Petugas Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota memantau status pesanan secara berkala.

Pemantauan dan evaluasi pesanan harus dilakukan dengan memperhatikan nama obat, satuan
kemasan, jumlah obat yang diadakan, obat yang sudah diterima, dan obat yang belum diterima.
c.Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan
obat dan perbekalan kesehatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta
gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dan perbekalan kesehatan. Tujuan penyimpanan
obat dan perbekalan kesehatan adalah untuk :
1. Memelihara mutu obat,
2. Menghindari penyalahgunaan dan penggunaan yang salah,
3. Menjaga kelangsungan persediaan,
4. Memudahkan pencarian dan pengawasan.
Kegiatan penyimpanan obat yang dilakukan oleh staf Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
(IFK) meliputi penyiapan sarana penyimpanan, pengaturan tata ruang, penyusunan obat, dan
pengamatan mutu obat.
d.

Distribusi
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan pengiriman obat,

terjamin keabsahan, tepat jenis dan jumlah secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan
unit-unit pelayanan kesehatan. Kegiatan distribusi obat di Kabupaten/ Kota terdiri dari kegiatan
distribusi rutin dan kegiatan distribusi khusus.

Kegiatan Distribusi Rutin


Kegiatan distribusi rutin mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan umum di unit

pelayanan kesehatan. IFK merencanakan dan melaksanakan pendistribusian obat ke unit


pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya sesuai kebutuhan masing-masing UPK. Untuk itu
dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
-

Perumusan Stok Optimum


Perumusan stok optimum persediaan dilakukan dengan memperhitungkan siklus distribusi

rata-rata pemakaian, waktu tunggu serta ketentuan mengenai stok pengaman. Rencana distribusi
obat ke setiap unit pelayanan kesehatan termasuk rencana tingkat persediaan, didasarkan kepada
besarnya stok optimum setiap jenis obat di setiap unit pelayanan kesehatan. Penghitungan stok
optimum dilakukan oleh Instalasi Farmasi Kab/Kota dengan rumus berikut.

Penetapan Frekuensi Pengiriman Obat ke Unit Pelayanan


Frekuensi pengiriman obat ke unit pelayanan ditetapkan dengan memperhatikan beberapa

hal, yaitu:
a. Anggaran yang tersedia
b. Jarak dan kondisi geografis dari IFK ke UPK
c. Fasilitas gudang UPK
d. Sarana yang ada di IFK
-

Penyusunan Peta Lokasi, Jalur dan Jumlah Pengiriman


Agar alokasi biaya pengiriman dapat dipergunakan secara efektif dan efisien maka IFK perlu

membuat peta lokasi dari unit-unit pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya. Hal ini sangat
diperlukan terutama untuk pelaksanaan distribusi aktif dari IFK. Jarak (km) antara IFK dengan
setiap unit pelayanan kesehatan dicantumkan pada peta lokasi. Dengan mempertimbangkan jarak,
biaya transportasi atau kemudahan fasilitas yang tersedia, dapat ditetapkan rayonisasi dari
wilayah pelayanan distribusi. Disamping itu dilakukan pula upaya untuk memanfaatkan kegiatankegiatan tertentu yang dapat membantu pengangkutan obat ke UPK. Misalnya kunjungan rutin
petugas Kabupaten ke UPK, pertemuan dokter Puskesmas yang diselenggarakan di
Kabupaten/Kota dan sebagainya. Atas dasar ini dapat ditetapkan jadwal pengiriman untuk setiap
rayon distribusi misalnya ada rayon distribusi yang dapat dilayani sebulan sekali, ada rayon

distribusi yang dapat dilayani triwulan dan ada yang hanya dapat dilayani tiap enam bulan
disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
2

Kegiatan Distribusi Khusus


Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat publik dan perbekalan kesehatan

di luar jadwal distribusi rutin, meliputi :


-

Program kesehatan
Kejadian Luar Biasa (KLB)
Bencana (alam dan sosial)
Kegiatan distribusi khusus di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dilakukan dengan prosedur

sebagai berikut:
-

Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota dan pengelola program Kabupaten/ Kota, bekerjasama
untuk mendistribusikan masing-masing obat program yang diterima dari propinsi, atau
kabupaten/ kota.

Distribusi obat program ke Puskesmas dilakukan oleh IFK atas permintaan penanggung jawab
program. Misalnya pelaksanaan program penanggulangan penyakit tertentu seperti Malaria,
Frambusia dan penyakit kelamin. Apabila obatnya diminta langsung oleh petugas program
kepada IFK Kabupaten/Kota tanpa melalui Puskesmas, maka petugas yang bersangkutan harus
membuat permintaan dan laporan pemakaian obat yang diketahui oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.

Obat program yang diberikan langsung oleh petugas program kepada penderita di lokasi
sasaran, diperoleh/diminta dari Puskesmas yang membawahi lokasi sasaran. Setelah selesai
pelaksanaan pemberian obat, bilamana ada sisa obat harus dikembalikan ke Puskesmas yang
bersangkutan. Khusus untuk Program Diare diusahakan ada sejumlah persediaan obat di
Posyandu yang penyediaannya diatur oleh Puskesmas.

Untuk KLB dan bencana alam, distribusi dapat dilakukan melalui permintaan maupun tanpa
permintaan oleh Puskesmas. Apabila diperlukan, Puskesmas yang wilayah kerjanya terkena
KLB/Bencana dapat meminta bantuan obat kepada Puskesmas terdekat.
Tatacara pendistribusian obat dari IFK ke unit pelayanan kesehatan dasar di wilayahnya

dapat dilakukan melalui prosedur berikut :


1. IFK Kabupaten/Kota melaksanakan distribusi obat ke Puskesmas dan di wilayah kerjanya
sesuai kebutuhan masing-masing Unit Pelayanan Kesehatan.
2. Puskesmas Induk mendistribusikan kebutuhan obat untuk Puskesmas Pembantu, Puskesmas
Keliling dan Unit-unit Pelayanan Kesehatan lainnya yang ada di wilayah binaannya.

3. Distribusi obat-obatan dapat pula dilaksanakan langsung dari IFK ke Puskesmas Pembantu
sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah atas persetujuan Kepala Puskesmas yang
membawahinya.
Tata cara distribusi obat ke Unit Pelayanan Kesehatan dapat dilakukan dengan cara
penyerahan oleh IFK ke Unit Pelayanan Kesehatan, pengambilan sendiri oleh UPK di IFK, atau
cara lain yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.
e.Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan data obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota merupakan
rangkaian kegiatan dalam rangka penatausahaan obat-obatan secara tertib baik obat-obatan yang
diterima, disimpan, didistribusikan maupun yang digunakan di Puskesmas dan unit pelayanan
kesehatan lainnya. Adapun laporan dan catatan yang perlu disusun Instalasi Farmasi Kabupaten
(IFK) terdiri dari :
1. Laporan

dinamika

logistik

dilakukan

oleh

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota

ke

Walikota/Bupati dengan tembusan kepada Kadinkes Provinsi tiga bulan sekali dan dari
Provinsi ke Kementrian Kesehatan Cq. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes tiga bulan sekali.
2. Laporan tahunan/ profil pengelolaan obat Kab/ Kota dikirim kepada Dinkes Provinsi dan
setelah dikompilasi oleh Dinkes Provinsi dikirimkan kepada Kemenkes Cq. Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alkes.
3. Kartu stok dan kartu stok induk.
4. LPLPO dan SBBK.
5. Buku penerimaan.
6. Buku pengeluaran.
f. Supervisi dan Evaluasi
Supervisi yang dilakukan oleh petugas IFK adalah proses pengamatan secara terencana dari
unit yang lebih tinggi (Instalasi Farmasi Propinsi/Kabupaten/Kota) terhadap pelaksanaan
pengelolaan obat oleh petugas pada unit yang lebih rendah (Puskesmas/Puskesmas
Pembantu/UPT lainnya). Pengamatan diarahkan untuk menjaga agar pekerjaan atau kegiatan
yang dilakukan sesuai dengan pedoman yang disepakati bersama. Kegiatan supervisi meliputi :
a. Proses penyusunan rencana
b. Persiapan pelaksanaan (tenaga, dana, waktu, check list)
c. Pelaksanaan (kunjungan, diskusi, umpan balik, penyelesaian)
d. Pemanfaatan hasil supervisi (kompilasi hasil, analisa, rekomendasi tindak lanjut)

Analisa dan evaluasi terhadap hasil-hasil monitoring ini perlu dilakukan untuk memastikan
bahwa mutu hasil kerja dari petugas mencapai apa yang diinginkan. Evaluasi dilakukan dengan
membandingkan suatu kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang diamati, yang dijelaskan
sebagai berikut:
a. Rencana dengan realisasi,
b. Hasil dengan sasaran,
c. Proses kerja dengan sistem prosedur yang berlaku,
d. Sasaran kerja dengan ketentuan dan prosedur,
e. Biaya yang dipergunakan dengan anggaran yang tersedia, dan lain-lain.
3.3

Empat Pilar Keberhasilan dalam Distribusi


Tahun 2013 adalah pemberlakuan ketentuan tentang sistem e-katalog untuk pengadaan

obat dan alat kesehatan dalam program tender yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan,
pemerintah daerah dan pihak konsumen lainnya. Sistem e-katalog sendiri nantinya akan
dioperasikan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP). Total
nilai tender dalam E-katalog tersebut terbagi dalam 384 jenis barang/molekul/bahan aktif yang
akan ditenderkan untuk seluruh daerah. Selain efisien dari pembentukan harganya, e-katalog juga
bisa menjadi solusi terhadap masalah distribusi dan ketersediaan obat di daerah karena dengan
sistem e-katalog ini, maka konsumen bisa melihat kemampuan distribusi produsen sehingga
dapat dipastikan apakah distribusi obat bisa sampai tujuan tepat waktu seperti yang dijanjikan.
Dengan adanya sistem e-katalog, setiap perusahaan akan berlomba untuk menawarkan produknya
dengan harga terbaik dan kualitas yang memenuhi syarat serta kemampuan distribusinya yang
handal, oleh karena itu kolektifitas kerja yang baik dari industri farmasi sebagai produsen dan
distributor mutlak diperlukan. Berdasarkan hal tersebut peran apoteker sebagai penanggung
jawab dalam distribusi obat sangat penting unhtuk dapat mencapai pelayanan distribusi yang baik
kepada konsumen yakni para fasilitas pelayanan kesehatan. Peran apoteker yang dapat dilakukan
untuk mencapai empat pilar keberhasilan distribusi adalah sebagai berikut:
3 1.

Availabilities (Tersedia)
Apoteker menjamin ketersedian obat yang terdapat dalam e-katalog tersedia dalam jumlah

yang memadai dengan mutu terbaik untuk memenuhi permintaan pemesanan obat sehingga pilar
distribusi availabilities (tersedia) dapat tercapai. Adapun peran apoteker yang dapat dilakukan
untuk mencapai pilar tersebut adalah
a. Apoteker berperan dalam proses kualifikasi pemasok.

Pemasok merupakan industri farmasi yang mempunyai izin sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan merupakan pemenang lelang dalam menyediakan obat yang tertera
dalam fornas.
b. Apoteker melakukan seleksi dan perumusan kebutuhan
Apoteker menyusun kebutuhan obat yang terdaftar dalam e-katalog dengan tepat dan
sesuai kebutuhan, untuk mencegah terjadinya kekosongan atau kekurangan obat. Penetapan
kebutuhan tersebut dapat ditentukan berdasarkan data statistik pemesanan kebutuhan konsumen
dan penggunaan obat dari Fasilitas Kesehatan serta data mordibiditas masyarakat yang mengacu
pada Daftar Obat Essensial Nasional dan Formularium Nasional.
Apoteker dalam PBF harus menetapkan suatu metode untuk menentukan prioritas
pengadaan jenis dan kuantitas obat untuk menjamin ketersedian obat selama distribusi
berlangsung. Metode yang dapat dipilih adalah metode ABC, VEN, dan PUT.
Klasifikasi obat menggunakan analisis ABC bertujuan untuk mengelompokkan obat
gawat darurat berdasarkan biaya pemakaian obat per satuan waktu. Hasil klasifikasi tersebut
adalah obat dengan kategori A, B, dan C. Obat gawat darurat kategori A merupakan obat dengan
investasi paling besar dalam inventori sehingga menjadi prioritas dibanding kategori B dan C.
NO

KELOMPOK

DANA

YG

ITEM OBAT

OBAT

DIBUTUHKAN

70-80 %

20

10-15 %

20-40

5-10 %

60

Kemudian hasil klasifikasi analisis ABC tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan analisa
metode VEN. Analisa metode VEN adalah analisis yang bertujuan mengklasifikasikan obat
berdasarkan kekritisan waktu pemberian obat kepada pasien, dilakukan dengan menentukan obat
yang termasuk dalam kategori V yaitu obat vital yang merupakan obat- obatan penting untuk
kelangsungan hidup, dibutuhkan sangat cepat dan tidak dapat digantikan oleh obat lainnya.
Kategori E adalah obat essential yang merupakan obat- obat penting untuk mengobati penyakit
namun tidak vital, dapat digunakan untuk mengobati sumber penyebab penyakit namun tidak
untuk mencegah kematian secara langsung. Selanjutnya adalah kategori N yang merupakan obat
non essential yang merupakan obat- obatan kurang penting dan disediakan hanya sebagai
penunjang kelengkapan saja, memiliki efek kerja ringan untuk mengatasi keluhan ringan.

Berdasarkan hasil dari analisa ABC dan VEN maka dapat ditentukan analisa metode PUT
dengan menggunakan tabel sebagai berikut:
A
AV
AE
AN

V
E
N

B
BV
BE
BN

C
CV
CE
CN

Kategori PUT
P
U
T

Kategori PUT meliputi:


Prioritas

: Obat yang harus diadakan tanpa memperdulikan sumber anggaran. Pada


analisis ABC- VEN termasuk dalam kelompok AV, BV dan CV (kategori vital
A, vital B, vital C).

Utama

: Pengadaan obat dialokasikan dari sumber dana tertentu. Pada analisis ABC
VEN termasuk dalam kelompok AE, BE, CE (kategori essensial A, essensial B,
essensial C).

Tambahan

: Dialokasikan pengadaannya setelah obat prioritas dan utama terpenuhi. Pada


analisis ABC-VEN dalam kelompok AN, BN dan CN (kategori non essensial A,
non essensial B, non essensial C).

c. Apoteker harus mengetahui peraturan pemerintah yang melandasi pekerjaan kefarmasian


dalam distribusi obat
Apoteker harus mengetahui peraturan pemerintah yang melandasi pekerjaan kefarmasian
dalam distribusi obat sehingga dalam penerapannya, apoteker tidak terbentur masalah hukum
karena melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam hal pendistribusian obat
dan atau bahan obat. Adapun peraturan perundang- undangan yang harus diketahui apoteker
terkait proses distribusi adalah UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan

Kefarmasian,

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi, dan ketentuan Cara Distribusi


Obat yang Baik yang tercantum pada Peraturan Kepala BPOM RI No. HK.03.1.34.11.12.7542
tahun 2012.
d. Apoteker menjamin pengecekan barang saat penerimaan barang yang dikirimkan oleh
produsen

Ketika proses penerimaan sediaan farmasi dari industri farmasi, apoteker memastikan
bahwa kiriman obat dan/atau bahan obat yang diterima benar, berasal dari pemasok yang
disetujui, tidak rusak atau tidak mengalami perubahan sifat farmasetik (seperti bentuk serbuk,
granul, kristal atau viskositas dari bahan baku berbentuk cair) selama masa transportasi dan
dalam jumlah yang telah disepakati.
e. Apoteker merancang tempat penyimpanan yang susuai untuk menjaga mutu sediaan obat
yang akan didistribusikan kepada konsumen
Apoteker memastikan mutu sediaan farmasi baik dari stabilitas fisika, kimia maupun
biologi obat dalam hal penyimpanan dan pengangkutan baik sediaan steril dan non steril. Untuk
mendapatkan kemudahan dalam penyimpanan, penyusunan, pencarian dan pengawasan obatobat, maka diperlukan pengaturan tata ruang gudang dengan baik. Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam merancang gudang adalah sebagai berikut :

Kemudahan bergerak
Untuk kemudahan bergerak, maka gudang perlu ditata sebagai berikut :
-

Gudang menggunakan sistem satu lantai jangan menggunakan sekat-sekat karena akan
membatasi pengaturan ruangan.

Jika digunakan sekat, perhatikan posisi dinding dan pintu untuk mempermudah
gerakan

Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran obat, ruang gudang dapat ditata
berdasarkan sistem arus garis lurus, arus U, arus L

Sirkulasi udara yang baik


Salah satu faktor penting dalam merancang gudang adalah adanya sirkulasi udara yang
cukup didalam ruangan gudang. Sirkulasi yang baik akan memaksimalkan umur hidup
dari obat sekaligus bermanfaat dalam memperpanjang dan memperbaiki kondisi kerja.
Idealnya dalam gudang terdapat AC, namun biayanya akan menjadi mahal untuk ruang

gudang yang luas. Alternatif lain adalah menggunakan kipas angin. Apabila kipas angin
belum cukup maka perlu ventilasi melalui atap.

Rak dan Pallet


Penempatan rak yang tepat dan penggunaan pallet akan dapat meningkatkan sirkulasi
udara dan gerakan stok obat. Penggunaan pallet memberikan keuntungan seperti
sirkulasi udara dari bawah dan perlindungan terhadap banjir, peningkatan efisiensi
penanganan stok, dapat menampung obat lebih banyak, pallet lebih murah dari pada rak

Kondisi penyimpanan khusus.


Fasilitas penyimpanan harus memiliki :
- chiller atau cold room (suhu +2 s/d +8C), untuk menyimpan vaksin dan serum
dengan suhu penyimpanan 2 s/d 8C, biasanya digunakan untuk penyimpaan vaksin
-

campak, BCG, DPT, TT, DT, Hepatitis B, DPT-HB.


freezer atau freezer room (suhu -15 s/d -25C) untuk menyimpan vaksin OPV.
Penyimpanan vaksin dalam chiller dan freezer tidak terlalu padat sehingga sirkulasi

udara dapat dijaga, jarak antara kotak vaksin sekitar 1-2 cm.
Harus berjarak minimal 15 cm antara chiller / freezer dengan dinding bangunan.
Pelarut BCG dan pelarut campak serta penetes polio dapat disimpan pada suhu kamar
dan tidak diperbolehkan terpapar sinar matahari langsung.

Penyimpanan sediaan padat (tablet), sediaan semi padat (krim, gel dan salep), sediaan
cair (sirup, suspensi dan emulsi), sediaan injeksi, dan alat kontrasepsi disimpan
ditempat yang kering dan disimpan sesuai dengan persyaratan obat yang tertera di
masing-masing kemasan obat.

Suhu minimal dimonitor 3 (tiga) kali sehari setiap pagi, siang dan sore serta harus

didokumentasikan
Narkotika dan bahan berbahaya harus disimpan dalam lemari khusus dan selalu

terkunci.
Bahan-bahan mudah terbakar seperti alkohol dan eter harus disimpan dalam ruangan
khusus, sebaiknya disimpan di bangunan khusus terpisah dari gudang induk.

Pencegahan kebakaran

Perlu dihindari adanya penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti dus,
kartun dan lain-lain. Alat pemadam kebakaran harus dipasang pada tempat yang mudah
dijangkau.

f. Merancang kondisi pengiriman yang menjamin mutu dan kualitas sediaan yang dikirim ketika
sampai ke tangan konsumen.
Sistem transportasi yang digunakan harus memiliki sistem kontrol suhu yang tervalidasi
(misalnya kemasan termal, kontainer yang suhunya dikontrol, dan kendaraan berpendingin) untuk
memastikan kondisi transportasi yang benar dipertahankan antara fasilitas distribusi dan
pelanggan.
g. Apoteker merancang penyusunan stok obat dan rotasi pengeluaran stok obat untuk menjamin
obat yang dikirim kepada pemesan belum memasuki expired date
Obat disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis, apabila tidak memungkinkan obat
yang sejenis dapat dikelompokkan menjadi satu. Untuk memudahkan pengendalian stok maka
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
-

Menggunakan prinsip FIFO dalam penyusunan obat yaitu obat yang pertama diterima
harus pertama juga digunakan sebab umumnya obat yang datang pertama biasanya
juga diproduksi lebih awal dan akan kadaluwarsa lebih awal pula namun hal tersebut
juga dapat terjadi pengecualian dimana obat yang datang lebih dulu memiliki expire
date yang lebih panjang dibandingkan obat yang datang setelahnya. Sehingga perlu
pemantauan dalam menentukan prinsi FEFO dan FIFO pada saat penerimaan barang
dari produsen.

Susun obat yang berjumlah besar di atas pallet atau diganjal dengan kayu secara rapi
dan teratur.

Gunakan lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan obat-obatan yang berjumlah
sedikit tetapi mahal harganya.

Susun obat yang dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara, cahaya dan kontaminasi
bakteri pada tempat yang sesuai.

Susun obat dalam rak dan berikan nomor kode, pisahkan obat dalam dengan obatobatan untuk pemakaian luar.

Cantumkan nama masing-masing obat pada rak penyimpanan dengan rapi.

Obat-obatan yang mempunyai batas waktu pemakaian maka perlu dilakukan rotasi
stok agar obat tersebut tidak selalu berada dibelakang yang dapat menyebabkan
kadaluwarsa.

h. Apoteker menjamin personel dalam sistem distribusi yang dijalankan adalah orang yang
berkompeten
Apoteker menjamin bahwa terdapat personel yang cukup dan kompeten untuk
melaksanakan semua tugas yang menjadi tanggung jawab fasilitas distribusi. Tanggung jawab
masing-masing personel harus dipahami dengan jelas dan dicatat. Personel juga diikutsertakan
dalam pelatihan- pelatihan mengenai Cara Distribusi Obat yang Baik utamanya jika terkait
dengan sistem E-catalog di era Jaminan Kesehatan Nasdional ini, bertukar informasi mengenai
pengetahuan atau isu- isu kefarmasian di bagian distribusi seperti proses distribusi di era JKN.
i. Apoteker menjamin ketersediaan obat dan bahan obat untuk pelayanan kesehatan
Apoteker menjamin ketersediaan obat dan bahan obat dengan cara melakukan
pemeriksaan terhadap jumlah stok obat yang sesuai dengan daftar e-katalog dan pemeriksaan
terhadap safety stock.
3 2. Affordable (Terjangkau)
a. Apoteker membuat suatu strategi yang dapat mendukung sistem kualitas layanan distribusi
yang prima berbasis kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman dan menjamin mutu produk
yang sampai di daerah alokasi.
Jika memungkinkan apoteker dapat memikirkan untuk membentuk sistem jaringan PBF
utamanya di daerah yang sulit terjangkau dan memiliki sistem komunikasi yang baik sehingga
pemenuhan permintaan pengadaan obat dapat berjalan lancer sesuai waktu yang telah disepakati
bersama konsumen.
b. Apoteker penanggung jawab dalam PBF menyiapkan SDM khusus untuk melayani proses
pemesanan berdasarkan e-catalog.

Apoteker dapat menunjuk asisten apoteker untuk bertugas dalam menerima pesanan obat
melalui E-catalog. Asisten apoteker tersebut dapat diikutsertakan ke dalam pelatihan- pelatihan
yang membahas mengenai Cara Distribusi Obat yang Baik melalui sistem E-catalog agar
pemahaman dalam menerima pesanan tersebut dapat terjamin sehingga proses penerimaan
pesanan dapat berjalan lancar.
c. Melayani seluruh pemesanan obat yang dibutuhkan oleh K/L/D/I sesuai dengan kapasitas
yang ditawarkan melalui sistem e-purchasing
3 3. Suistainable (Berkelanjutan)
a. PBF yang telah ditunjuk oleh Pabrik Obat pemenang lelang melaksanakan pekerjaan
pengiriman sekaligus menagih pelunasan hasil pekerjaan sesuai dengan item produk yang
dimenangkan, sehingga apoteker perlu melakukan kesepakatan dengan faskes mengenai
waktu pengadaan dan mengenai batas waktu pembayaran setelah obat diterima.
b. Apoteker harus merancang dan menjamin sistem distribusi obat yang tepat serta mengawasi
agar sistem tersebut tetap bejalan secara continue demi terwujudnya pelayanan kesehatan
yang tepat.
c. Berperan dalam kualifikasi pelanggan.
Apoteker harus memastikan bahwa obat dan/atau bahan obat hanya disalurkan kepada
pihak yang berhak atau berwenang untuk menyerahkan obat ke masyarakat. Bukti kualifikasi
pelanggan harus didokumentasikan dengan baik.
d. Manajemen sumber daya manusia di PBF.
Apoteker menjamin bahwa terdapat personel yang cukup dan kompeten untuk
melaksanakan semua tugas yang menjadi tanggung jawab fasilitas distribusi. Tanggung jawab
masing-masing personel harus dipahami dengan jelas dan dicatat. Apoteker secara rutin
melakukan pemantauan dan sharing bersama dengan personel-personel dalam PBF dan
mendiskusikan permasalahan- permasalahan atau hambatan- hambatan yang ditemui selama
proses distribusi sehingga proses distribusi yang berjalan dengan baik dapat terus terbentuk dan
berkelanjutan
e. Menjamin pelayanan purnajual sesuai dengan spesifikasi minimum
Apoteker membuat suatu prosedur yang sesuai jika terjadi masalah- masalah setelah
penjualan barang (purnajual) seperti melakukan penukaran barang expired date. Ketentuan
pengembalian barang harus disosialisasikan dengan konsumen agar tidak terjadi miss komunikasi
dan dapat memberikian pelayanan yang terbaik.
f. Mengganti produk obat yang berdasarkan hasil uji petik Badan POM dan dinyatakan tidak
layak sehingga harus ditarik dari peredaran.
Apoteker menjamin suatu sistem yang jelas dalam proses penarikan produk obat yang
tidak layak sesuai dengan hasil uji Badan POM, segera menginformasikan kepada konsumen dan
menentukan waktu pengambilan sediaan tersebut.

g. Membuat laporan mengenai pelaksanaan pekerjaan secara periodik terhadap penyedia dalam
mendukung laporan penyedia kepada LKPP
Apoteker menjamin pembuatan laporan pekerjaan dalam memberikan pelayanan
pengadaan obat bagi konsumen. Laporan tersebut dapat mencakup jenis dan kuantitas obat yang
diminati konsumen sehingga produsen dapat menentukan prioritas jenis dan kuantitas obat yang
sesuai dengan kondisi permintaan yang disalurkan oleh PBF di daerah yang bersangkutan.
Apoteker juga menjamin laporan yang mencakup hal- hal yang perlu disampaikan untuk
mendukung laporan produsen sebagai penyedia kepada LKPP.
3 4. Price (Harga)
a. Apoteker mengelola administrasi dokumen tender (kontrak pelaksanaan tender dan
penagihan), menyusun sistem pengelolaan dana yang tepat agar memperoleh efisiensi biaya
distribusi obat, serta kemudahan akses informasi.
b. Apoteker menjamin pemilihan dan penggunaan obat dalam e-catalog agar memiliki harga
yang terjangkau dan efektif sesuai dengan yang tertera pada E-catalog yang telah disepakati
oleh pihak produsen dengan pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
Kebijakan Obat Nasional (KONAS) 2005
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1426/Menkes/SK/XI/2002 tentang Pedoman Pengelolaan
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban
Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Peraturan Kepala BPOM RI No. Hk.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis
Cara Distribusi Obat yang Baik
Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Daerah Kepulauan tahun 2007
Undang-Undang Dasar Negara Repiblik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah
Undang-Undang Nomor 36 tentang Kesehatan

Beri Nilai