Anda di halaman 1dari 7

SIFAT DAN KARAKTERISTIK OPTIKA LASER DIODA

SEBAGAI PIRANTI OPTO-ELEKTRONIKA


Wijaya Widjanarka N
Fakultas Teknik Informatika, STMIK Bina Patria Magelang,
E-mail: wijaya_widjanarka@yahoo.co.id

Abstraksi
Teori tentang laser pertama kali dikemukakan oleh Albert Einstein pada
tahun 1917 dan diciptakan pertama kali oleh Theodore. H. Maiman pada tahun 1960.
Penemuan Laser didasari oleh teori-teori fisika kuantum, tetapi penelitian tentang
sifat dan karakteristik optika laser, khususnya laser dioda jarang dilakukan,
sehingga acuan untuk mengembangkan dan menerapkan sangat sukar diperoleh.
Metode penelitian yang digunakan eksperimental (percobaan), yaitu
dilakukan dengan mengubah variabel dan mengukur besaran tegangan, arus, kuat
cahaya (flux) dan temperatur dari komponen laser dioda. Analisa datanya dengan
teknik pencuplikan (sampling).
Laser memiliki sifat koherant, yaitu seperti perambatan cahaya yang sejajar,
masif, warna tunggal (monochromatic), yang berbeda dengan cahaya pijar berwarna
putih (polychromatic) yang biasa dikenal sehari-hari yang berasal dari matahari, api,
lampu dan sebagainya.
Selain itu, berdasarkan hasil percobaan, laser dioda memiliki tahapan karakteristik
perubahan Volt-Amper yang disebut fase laser. Ada 3 fase yang berhasil dibuktikan,
yaitu fase emisi spontan (spontaneous emission), fase peralihan (transition), fase
emisi terangsang (stimulated emmission) dan satu sifat yang ditemukan, yaitu
karakteristik daya, kuat cahaya (flux) terhadap temperatur (Endel Uiga, 1995).
Data dan variabel yang dihasilkan dapat menjadi acuan, studi bagi penelitian tentang
laser dan penerapannya.

Kata kunci (keywords) : Laser dioda memiliki sifat koherant, 3 fase laser,
karakteristik Volt-Amper, temperatur, flux cahaya.

1.

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Cahaya LASER yang dihasilkan memiliki sifat yang padat dan sejajar
(coherent) dan spektrum warna yang tunggal (monocromatic).
Penelitian dalam bidang optoelektronika ini, bertujuan untuk membuktikan teori
LASER. Dengan melakukan berbagai percobaan dan pengujian pada berbagai
kondisi, laser dioda dapat diketahui sifat dan karakteristiknya.
Metode penelitian menggunakan metode eksperimental. Sifat karakteristik
yang diteliti karakteristik arus dan tegangan, daya yang dikonsumsi terhadap suhu,
dan intensitas cahaya yang dihasilkan.
Laser dioda yang akan diteliti memiliki spektrum inframerah, yaitu panjang
gelombang; 630 hingga 680 nm dengan daya keluaran 0.5 mili Watt, dengan lensa
kolimator terpasang (built-up). Steradian. (Sterance) berkas sinar laser.
Hasilnya akan dijadikan dasar untuk merancang peralatan optoelektronik,
yang digunaakan pada berbagai aplikasi.
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam pembuatan skripsi
adalah metode eksperimental (percobaan). Dilakukan dengan metode mengukur
tegangan, arus, kuat cahaya (flux) dan temperatur. Analisa datanya denganmetode
samping.
Langkah-langkah dalam melakukan penelitian berupa: menemukan masalah dan
survei, merumuskan masalah, membuat rancangan sistem (program), analisa dan uji
hasil dan evaluasi.
LASER memiliki sifat koherant, yaitu seperti perambatan cahaya yang
sejajar, masif, warna tunggal (monocromatic), yang berbeda dengan cahaya
pendar polikromatik yang biasa dikenal sehari-hari yang berasal dari matahari, api,
lampu dan sebagainya (Endel Uiga, 1995).
Selain itu, berdasarkan hasil percobaan, LASER memiliki tahapan karakteristik
Volt-Amper yang disebut fase. Ada 3 fase yang berhasil dibuktikan, yaitu fase emisi
spontan (spontaneous emission), fase peralihan, fase emisi terangsang (stimulated
emmission) dan satu sifat yang ditemukan, yaitu karakteristik daya, kuat cahaya
(flux) terhadap temperatur.

Data dan variabel yang dihasilkan dapat menjadi acuan, studi bagi penelitian tentang
LASER dan penerapannya.

2. Metode Penelitian
2.1 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode eksperimental. Teknik
pengambilan datanya adalah teknik sampling atau pencuplikan. Variabel yang
diteliti adalah, tegangan, arus, suhu dan kuat cahaya fluks.
2.2 Bahan Dan Alat
Dioda LED Clear (Jernih) dan Blured (keruh), Dioda LASER 5 mW, Digital
Multimeter, Fluxmeter, Thermometer, Statip, penggaris, pengaris sudut, kertas
milimeter, Resiator variabel 1 K Ohm, Resistor karbon 10 Ohm, Catu daya (Variable
Power Supply), PCB veroboard, Too1set (Too1kit).
3. Hasil Dan Pembahasan
Berikut ini hasil percobaan berupa pengukuran besarnya arus yang mengalir
pada terhadap kuat cahaya yang suhunya berbeda, yaitu suhu t = 31 C dan suhu t =
6 C.
Tabel. 1

Hasil Pengukuran Arus terhadap Kuat


Cahaya Pada Kondisi Suhu yang Berbeda
(Suhu t = 31 C dan suhu t = 6 C).

Arus
(mili Amper)
2
2,45
2,7
3,7
6,41
8,57
11,5
12,08
14, 72
18,64
21,33
24,49
28,34

Kuat Cahaya (lux)


Pada t = 31 C
1
1
2
2
3
3
5
10.5
13
266
660
774
789

Kuat Cahaya (lux)


Pada t = 6 C
0
0.1
0.1
0.2
1
2
8.7
103
159
278
980
1047
1246

Dengan daya yang sama dan prosedur percobaan yang sama, maka dapat
dibandingkan sebagai berikut:
Dibandingkan dengan Led merah jernih, cahaya LASER bersinar 160 kali lebih
terang (Led kuat cahayanya sebesar 4,3 lux, sedangkan LASER 786 lux).
Dibandingkan dengan Led merah keruh (blured), cahaya LASER bersinar 655 kali
lebih terang (Led kuat cahayanya sebesar 1,2 lux, sedangkan LASER 786 lux).
Dibandingkan dengan lampu senter yang memiliki daya 1,32 watt ( 3 V x 0,44 A =
1,32 W), cahaya LASER bersinar 15,72 kali lebih terang (lampu senter kuat cahaya
50 lux, sedangkan LASER 786 lux).
Hasil percobaan membuktikan, bahwa lampu senter yang memiliki daya 1,32
W, dengan jarak ukur 1 cm dari Fluxmeter, setara dengan lampu neon 20 W
(Chiyoda 20 W/220 V), dengan jarak 2 meter dari Fluxmeter.
Pada suhu yang didinginkan (t = 6 C), ternyata intensitas sinar LASER
bertambah kuat atau besar. Dalam percobaan mengalami pertambahan sebesar 1,58
kali dari suhu ruang, sedangkan arusnya sedikit menyusut.
Bertambah kuat cahayanya sebesar 63% ((1786/1246) x 100% = 63%) pada daya
yang sama.
Berikut ini pembahasan hasil pengukuran percobaan yang dilakukan pada
suhu suhu t = 31 C:
Fase 1, terjadi proses emisi spontan (spontaneous emission). Arus sebesar 2 mA
hingga 11,72 mA, cahaya yang dipancarkan sebesar1 lux hingga 5 lux. Pada fase ini
sifat LASER mirip dengan LED.
Fase 2, arus ambang (threshold current). Arus sebesar 12,08 mA hingga 14,72 mA,
cahaya yang dipancarkan sebesar 10,5 lux hingga 13 lux. Pada fase ini sifat LASER
mengalami proses peralihan, perubahan terjadi secara tiba-tiba dari intensitas cahaya
yang rendah menjadi terang sekali.
Fase 3, emisi terangsang (stimulated emission). Arus sebesar 18,64 mA hingga
28,34 mA, cahaya yang dipancarkan sebesar 266 lux hingga 786 lux. Pada fase ini
sifat LASER mengalami proses koherant, artinya berkas cahaya terlihat masif,
paralel, dan monochromatik. Berkas cahayanya terlihat, meskipun tanpa kabut.

Berikut ini pembahasan hasil pengukuran percobaan yang dilakukan pada


suhu suhu t = 6 C :
Fase 1, terjadi proses emisi spontan (spontaneous emission). Arus sebesar 2 mA
hingga 8,57 mA, cahaya yang dipancarkan sebesar 0 lux hingga 2 lux.
Fase 2, arus ambang (threshold current). Arus sebesar 11,5 mA, cahaya yang
dipancarkan sebesar 8,7 lux hingga 10,5 lux.
Fase 3, emisi terangsang (stimulated emission). Arus sebesar 12,08 mA hingga
28,34 mA, cahaya yang dipancarkan sebesar 103 lux hingga 1246 lux. (Milonni, JH.
Eberly, 1991, "LASER" John Willey & Son.
Berkas LASER dalam merambat di udara tetap mengikuti prinsip cahaya atau
hukum Snellius, yaitu cahaya dapat dipantulkan, dibias dan dibelokan (Endel Uiga,
1995).

Gambar 1. Laser Dioda yang digunakan penelitian ini.

Berdasarkan percobaan, konstanta penyebaran cahaya (divergensi) sebesar 0,00005


radian atau 0,05 mrad), atau juga dikatakan besarnya sudut penyebaran 0,0286 .
Pada konstanta ini, berkas LASER yang semula ukurannya 3 mm akan menyebar
menjadi 5 mm setelah menempuh jarak 10 meter.

10 meter
= 3 mm

Gambar 2.

Q = 5 mm

Berdasarkan percobaan, konstanta penyebaran cahaya


(divergensi) sebesar 0,00005 radian atau 0,05 mrad),
atau juga dikatakan besarnya sudut penyebaran
0,0286 . Pada konstanta ini, berkas LASER yang
semula ukurannya 3 mm akan menyebar menjadi 5
mm setelah menempuh jarak 10 meter.

4. Kesimpulan
Dengan daya yang sama dan prosedur percobaan yang sama, maka dapat
dibandingkan sebagai berikut:
4.1 Dibandingkan dengan Led merah jernih, cahaya LASER bersinar 160 kali lebih
terang, dan dengan Led merah keruh (blured), cahaya LASER bersinar 655 kali
lebih terang.
4.2 Dibandingkan dengan lampu senter yang memiliki daya 1,32 watt, cahaya
LASER bersinar 15,72 kali lebih terang.
4.3 Pada suhu yang didinginkan ternyata intensitas sinar LASER bertambah kuat
atau besar. Dalam percobaan mengalami pertambahan sebesar 1,58 kali dari
suhu ruang, sedangkan arusnya sedikit menyusut.
4.4 Bertambah kuat cahayanya sebesar 63% ((1786/1246) x 100% = 63%) pada
daya yang sama.
4.5 Pada Fase 1, emisi spontan (spontaneous emission), arus sebesar 2 mA hingga
11,72 mA, cahaya yang dipancarkan sebesar1 lux hingga 5 lux. Fase 2, arus

ambang (threshold current), arus sebesar 12,08 mA hingga 14,72 mA, cahaya
yang dipancarkan sebesar 10,5 lux hingga 13 lux. Fase 3, emisi terangsang
(stimulated emission) proses koherant, arus sebesar 18,64 mA hingga 28,34
mA, cahaya yang dipancarkan sebesar 266 lux hingga 786 lux. Fase 3, emisi
terangsang (stimulated emission). Arus sebesar 12,08 mA hingga 28,34 mA,
cahaya yang dipancarkan sebesar 103 lux hingga 1246 lux.
4.6 Berkas LASER dalam merambat di udara tetap mengikuti prinsip cahaya atau
hukum Snellius, yaitu cahaya dapat dipantulkan, dibias dan dibelokan.
Berdasarkan percobaan, konstanta penyebaran cahaya (divergensi) sebesar
0,00005 radian atau 0,05 mrad), atau juga dikatakan besarnya sudut penyebaran
0,0286 . Pada konstanta ini, berkas LASER yang semula ukurannya 3 mm akan
menyebar menjadi 5 mm setelah menempuh jarak 10 meter.

Daftar Pustaka
Albert Paul Malvino, 1986, "Prinsip-prinsip Elektronika" , Mc Graw Hill, NY.
Endel Uiga, 1995, "Optolectronjcs", Prentice Hall International, Inc.
Hewleet Packard, 1981, "Optolectronics / Fiber-optics Applications Manual," 2nd
Edition, Hewlett Packard Company.
J. Wilson, J.F.B. Hawkes, 1989 "Optolectronics: An Introduction", Prentice Hall.
Lawrence H. Van Vlack, 1992, "llmu dan teknologi bahan", Mc. Graw Hill, NY.
PW. Milonni, JH. Eberly, 1991, "LASER" John Willey & Son.
Sutrisno, 1980, "FISIKA UNIVERSITAS : OPTIK", Penerbit ITB, Bandung.
Wijaya Widjanarka. N, 2000, "Sifat-sifat Optika Laser Dioda Sebagai Piranti Opto Elektronika dan Aplikasinya", Laporan Hasil Penelitian Dosen (tidak
dipublikasikan), Universitas Muria Kudus.
www.diodelaser.com,
http://diodelaserconcepts.com/resource-library/literature/
diode-laser-module-design-guide.html (download: 25 september 2013).