Anda di halaman 1dari 2

MAKNA PERADILAN DI INDONESIA

Pada suatu waktu ada masyarakat yang merasa dirugikan dengan suatu
kebijakan pemerintah. Demi mendapat keadilan, kemudian masyarakat
berbondong-bondong demo yang akhirnya mengkrucut untuk menggugat
kebijaka tersebut ke pengadilan. Dilain waktu ada seorang pencuri yang
tertangkap oleh polisi, setelah melalui pemeriksaan dan telah dianggap lengkap
berkasnya, selanjutnya pihak polisi melimpahkan berkas pemeriksaan tersebut
ke pengadilan. Nah... sekarang apakah kedua perkara tersebut ditangani oleh
pengadilan yang sama? Mari kita paparkan sedikit..
Pertanyaan pertama, apa sih lembaga peradilan itu?
Dalam sebuah negara untuk mewujudkan suatu ketertiban di dalam masyarakat
serta untuk menghindari terjadinya suatu diskriminasi atau ketidakadilan
tentunya dibutuhkan suatu hukum atau peraturan perundang-undangan yang
dilengkapi dengan instrumen hukum atau kelengkapan yang dalam hal ini polisi,
jaksa, hakim serta pengadilan. Kesemuanya ini dibutuhkan untuk meredam
suatu perselisihan atau konflik yang ada di tengah masyarakat suatu negara.
Tentunya harus kita pahami bahwa di Indonesia yang mempunyai kekuasaan
dalam menyusun suatu perundang-undangan melalui lembaga eksekutif dan
legeslatif.
Indonesia yang notabene sebagai negara hukum, membentuk suatu lembaga
yang independen yang bebas dari kepentingan kekuasaan. Lembaga ini
mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan sengketa pidana maupun perdata
yang diajukan. Lembaga ini merupakan instrumen negara yang ditugaskan untuk
mempertahankan tegaknya hukum yang berlaku dalam negara Indonesia,
lembaga ini yang disebut lembaga peradilan atau yang disebut pengadilan.
Lembaga peradilan ini dibentuk untuk mencari kebenaran serta keadilan dalam
suatu perkara. Kata peradilan asal katanya dari kata adil yang mana mempunyai
artian berpihak kepada yang benar. Konklusinya peradilan adalah segala sesuatu
yang berkaitan dengan usaha untuk berpihak kepada yang benar dan berpegang
pada kebenaran. Adapun pengadilan merupakan suatu lembaga yang
menjalankan tugas dan fungsi dari peradilan.
Ada beberapa ahli yang mendefinisikan peradilan seperti Van Praag
mendefinisikan bahwa peradilan adalah penentuan berlakunya suatu peraturan
hukum pada suatu peristiwa yang konkret bertalian dengan adanya suatu
perselisihan. Pendapat G. Jellinek mengatakan bahwa peradilan memasukan
suatu peristiwa yang konkret dalam suatu norma yang abstrak dan dengan
demikian perkaranya diputuskan.
Hukum positif di Indonesia menerapkan asas Praduga tak bersalah kepada setiap
orang yang disangka melakukan pelanggaran hukum, dengan artian bahwa tidak
memvonis seseorang sebelum dibuktikan secara hukum di pengadilan. Oleh
karena itu diperlukan adanya suatu penyidikan dan penyelidikan oleh aparat

kepolisian atau aparat lainnya yang berwenang terhadap orang yang


bersangkutan yang diduga melakukan pelanggaran hukum, hingga akhirnya
berkas kasusnya dulimpahkan ke kejaksaan. Tersangka tersebut kemudian
dibawa kemeja kejaksaan dan selanjutnya pengadilanlah melalui keputusan
hakim yang memutuskan apakah terdakwa tersebut dinyatakan bersalah atau
tidaknya.
Lembaga pengadilan memberikan hukuman kepada setiap orang yang
melanggar aturan hukum, hukuman ini biasanya juga telah menetapkan sanksi
minimal yang harus dikenakan kepada pelanggar hukum tersebut. Namun disisi
lain kadang kala muncul perselisihan diantara perorangan atau lembaga yang
ada di masyarakat. Perselisihan tersebut