Anda di halaman 1dari 8

Dari Mana Memahami BUMD?

Dalam perubahan regulasi, nomenklatur Badan Usaha Milik Daerah atau


disingkat BUMD keluarnya baru beberapa dekade terakhir, khususnya
setelah terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3 Tahun 1998 tentang
Bentuk Hukum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sebelum adanya BUMD,
lebih sering menggunakan nomenklatur Perusahaan Daerah, hal ini
sebagaimana terdapat pada UU 5/1962 tentang Perusahaan Daerah.
Pasal 2 dan 3 Permendagri No.3/1998 tentang Bentuk Hukum Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD), bentuk hukum BUMD dapat berupa:
1. Perusahaan Daerah (PD), sesuai dengan UU No.5/1962, dan
2. Perseroan Terbatas (PT), yang tunduk kepada UU No.1/1995 tentang
Perseroan Terbatas dan aturan pelaksanaannya. Dan UU No. 1/1995
tanggal 16 Agustus 2007 telah di ganti dengan UU No. 40/2007
tentang Perseroan Terbatas.
Landasan hukum utama bagi Perusahaan Daerah (PD) yang berlaku sampai
saat ini masih tetap UU No.5/1962. Menurut UU ini, perusahaan yang
didirikan berdasarkan UU ini tidak tunduk kepada Kitab Undang-undang
Hukum Perdata, dan sebaliknya perusahaan campuran (yang didirikan oleh
beberapa pihak) juga tidak diatur dalam UU No.5/1962.
Menurut UU No.5/1962, Perusahaan Daerah adalah suatu badan hukum.
Kedudukannya sebagai badan hukum diperoleh dengan berlakunya UU ini.
Peraturan Daerah (PERDA) yang mengatur pendirian Perusahaan Daerah
yang ada sebelum diterbitkannya UU No.5/1962 perlu diatur kembali
pendiriannya dengan menerbitkan PERDA baru yang disesuaikan dengan
ketentuan UU tersebut. Sesuai UU tersebut dan dengan memperhatikan
Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959, Kepala Daerah yang melakukan hak,
kewenangan dan kekuasaan sebagai pemegang saham/ saham prioritet atas
nama Pemerintah Daerah, mempertanggungjawabkan segala sesuatu
berkenaan dengan Perusahaan Daerah kepada Dewan Perwakilan Daerah
(sekarang DPRD).
Pasal 4 dan 5 Permendagri No.3/1998 Gubernur, Bupati/Walikota dapat
merubah bentuk hukum PD menjadi PT, yang dilakukan dengan meminta ijin
prinsip dari Menteri Dalam Negeri, dan selanjutnya menetapkan Peraturan
Daerah tentang perubahan tersebut, serta membuat Akta Notaris tentang
pendiriannya sebagai PT. Pasal 8 Permendagri tersebut juga mengatur bahwa
saham PT dapat dimiliki oleh Pemerintah Daerah, Perusahaan Daerah,

swasta, dan masyarakat; dengan catatan bahwa bagian terbesar dari saham
PT tersebut dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan Perusahaan Daerah.
Sekalipun telah membuka jalan bagi transformasi dari PD ke PT, namum ciri
dari UU No.5/1962 ternyata tetap menurun ke dalam Permendagri tersebut,
sebagaimana terlihat pada Pasal 7, yang menyatakan bahwa perubahan
bentuk hukum PD menjadi PT tidak merubah fungsi badan usaha milik
daerah sebagai pelaksana pelayanan umum dan sekaligus tetap menjadi
sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Dimana diatur kepengurusan BUMD?
Kepengurusan BUMD selain Perusahaan Air Minum, Bank Pembangunan
Daerah dan Bank Perkreditan Rakyat diatur dalam Permendagri 50/1999
tentang Kepengurusan Badan Usaha Milik Daerah.
Sedangkan, Kepengurusan Perusahaan Air Minum diatur dalam Permendagri
No. 2/2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Air Minum, dan
kepengurusan Bank Pembangunan Daerah diatur dalam PERMENDAGRI
58/1999 tentang Direksi dan Dewan Pengawas BPD serta Bank Perkreditan
Rakyat diatur dalam PERMENDAGRI 22/2006 tentang Pengelolaan BPR Milik
Pemerintah Daerah khususnya Bab V Pasal 9-10.
Dalam prakteknya pengaturan BUMD secara garis besar dapat digolongkan
menjadi:
1. BUMD selain Perusahaan Air Minum, Bank Pembangunan Daerah dan
Bank Perkreditan Rakyat.
2. Perusahaan Air Minum :

PP 16/2005 Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

PERMENDAGRI 7/1998 Kepengurusan Perusahaan Daerah Air Minum


diganti dengan KEPMENDAGRI 34/2000 Pedoman Kepegawaian
Perusahaan Daerah Air Minum dan diganti dengan PERMENDAGRI
2/2007 Organ Dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum.

KEPMENDAGRI 8/2000 Pedoman Akuntansi Perusahaan Daerah Air


Minum

PERMENDAGRI 2/1998 tentang Pedoman Penetapan Tarif Air Minum


pada Perusahaan Daerah Air Minum, dan diganti dengan
PERMENDAGRI 23/2006 Pedoman Teknis Dan Tata Cara Pengaturan
Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum

PMK Per-53/PB/2006 PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN PIUTANG


NEGARA PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 690/477/SJ tanggal 18 Pebruari


2009 perihal Percepatan terhadap Program Penambahan 10 Juta
Sambungan Rumah Air Minum, Tahun 2009 s.d 2013.

3. Bank Pembangunan Daerah :

PERMENDAGRI 58/1999 tentang Direksi dan Dewan Pengawas BPD

4. Bank Perkreditan Rakyat

PERMENDAGRI 22/2006 tentang Pengelolaan BPR Milik Pemerintah


Daerah.

Referensi :
1. Rencana Strategis Pembinaan Pengurusan dan Pengelolaan BUMD
2008 2012, GRS II SP 224, HICKLING.
2. UU 5/1962 tentang Perusahaan Daerah
3. PP 16/2005 Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
4. PERMENDAGRI 22/2006 tentang Pengelolaan BPR Milik Pemerintah
Daerah
5. PERMENDAGRI 2/1998 tentang Pedoman Penetapan Tarif Air Minum
pada Perusahaan Daerah Air Minum, dan diganti dengan
PERMENDAGRI 23/2006 Pedoman Teknis Dan Tata Cara Pengaturan
Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum
6. PERMENDAGRI 7/1998 Kepengurusan Perusahaan Daerah Air Minum
diganti dengan KEPMENDAGRI 34/2000 Pedoman Kepegawaian
Perusahaan Daerah Air Minum dan diganti dengan PERMENDAGRI
2/2007 Organ Dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum.
7. PERMENDAGRI 58/1999 tentang Direksi dan Dewan Pengawas BPD
8. KEPMENDAGRI 8/2000 Pedoman Akuntansi Perusahaan Daerah Air
Minum
9. PMK Per-53/PB/2006 PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN PIUTANG
NEGARA PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM

10.
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 690/477/SJ tanggal 18
Pebruari 2009 perihal Percepatan terhadap Program Penambahan 10
Juta Sambungan Rumah Air Minum, Tahun 2009 s.d 2013.

Studi Kasus
Perubahan Status BPR dari Perusahaan Daerah Menjadi PT
Perusahaan tempat saya bekerja sebuah bank BPR milik Pemerintah Daerah
dengan status PD, saat ini akan merubah status menjadi PT. Pertanyaan
saya;
(1) Bagaimana status perjanjian kredit yang telah dibuat, termasuk
pengikatan jaminan (Hak Tanggungan, Fidusia, Hipotik Gadai)? Apakah
menjadi gugur atau tetap berlaku? Perlu pembaharuan atau tidak ?
(2) Apa kelebihan bentuk PD dengan bentuk PT. Demikian, mohon
penjelasannya.
Jawaban :
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3 Tahun 1998 tentang Bentuk
Hukum Badan Usaha Milik Daerah

(BUMD)

membagi jenis BUMD

menjadi 2 (dua) bentuk yaitu Perusahaan Daerah (PD) dan Perseroan


Terbatas (PT). Perubahan status suatu PD menjadi PT tidak serta merta (by
operation of law) melalui suatu perubahan perizinan belaka tanpa suatu
corporate action.
Dalam praktik, perubahan status tersebut dapat dilakukan melalui:
(i)

pengalihan aktiva melalui penyetoran inbreng dalam pendirian PT

(BUMD), dimana harta kekayaan (aktiva) PD tersebut disetorkan ke dalam PT


yang didirikan, kemudian PD tersebut dilikuidasi (dan dicabut status badan
hukum PD-nya) sehingga kepemilikan saham atas PT BUMD tersebut dimiliki
secara langsung oleh Pemerintah Daerah sebagai pemegang saham;
(ii) pengalihan aktiva dan pasiva PD kepada suatu PT yang sudah berdiri,
dan kemudian sama halnya dengan poin (i) di atas, PD tersebut
dilikuidasi;

(iii) merger (penggabungan) dan konsolidasi di mana PT akan menjadi


surviving entity atau perusahaan yang dibentuk hasil konsolidasi atau
bentuk-bentuk merger atau akuisisi lainnya yang pada dasarnya sama
dengan merubah status suatu PD menjadi PT.
Mengenai status perjanjian kredit dan jaminan yang ada, tergantung dari
jenis corporate action yang dipilih. Jika dilakukan pengalihan aktiva dan
pasiva seperti butir (i) dan (ii) di atas, maka perjanjian-perjanjian tersebut di
atas tidak perlu dilakukan penandatanganan ulang atas perjanjian kredit,
sepanjang prosedur Pasal 613 KUHPerdata dipenuhi (penyerahan piutang
dengan pemberitahuan yang disetujui oleh si berhutang). Namun, jika
dilakukan melalui cara Novasi sesuai Pasal 1413 KUHPerdata maka
perjanjian

kredit

harus

ditandatangani

ulang

termasuk

perjanjian

jaminannya. Apabila jenis corporate action yang dipilih adalah melalui


merger dan konsolidasi pada butir (iii) di atas, maka pengalihan aset kredit
terjadi secara serta merta berdasarkan hukum (by operation of law).
Perusahaan Daerah diatur dalam UU No. 5 Tahun 1962 tentang
Perusahaan Daerah, di mana Aset PD berasal dari kekayaan daerah yang
dipisahkan dari APBD. Dalam praktiknya, apabila kepemilikan PD dimiliki
100% oleh Pemerintah Daerah, maka kepemilikan tersebut tidak diwakili
dalam bentuk saham. Namun, apabila individu atau pihak swasta turut ambil
serta dalam PD tersebut, maka kepemilikannya dapat berbentuk saham. Jika
bentuk hukum PT, maka jelas kepemilikannya diwakili dalam saham-saham.
Pengelolaan PD ada di tangan pengurus PD yang bertanggung jawab kepada
Kepala Daerah, tanggung jawab Kepala Daerah adalah sebagai pemilik dan
juga

pengelola.

Sedangkan,

PT

BUMD

(Pemerintah

Daerah

sebagai

pemegang saham mayoritas atau minimum 51 persen), mengacu pada UU


No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, di mana diatur motif
profit-oriented serta tanggung jawab yang jelas terhadap pemegang saham,

komisaris dan direksi PT. Pengurusan perusahaan suatu PT tidak menjadi


tanggung jawab Kepala Daerah seperti halnya pada PD.

Perusda ato Perseroan Terbatas (PT)?


Posted on July 18, 2013

Masih sering terdengar pertanyaan saat akan mendirikan BUMD, apakah


sebaiknya badan hukum berbentuk Perusda atau berbentuk Perseroan
Terbatas?
Banyak referensi tentang Perusda dan pengelolaannya, dan Perseroan
Terbatas dan pengelolaannya, tapi tidak banyak yang menjelaskan, kapan
saatnya memilih Perusda ato PT.
Seringkali ada penjelasan, jika niat awal pendirian BUMD lebih ke
pemanfaatan umum maka BUMD tersebut sebaiknya berbadan hukum
Perusahaan Daerah, sebagaimana diatur dalam UU 5/1962, sedangkan jika
niat awal pendirian BUMD tersebut untuk profit oriented sebaiknya berbadan
hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur UU 40/2007 ttg Perseroan
Terbatas.
Memang alasan tersebut tidak salah, dan berikut beberapa alasan mengapa
kita harus memilih PT dalam pembentukan BUMD.
1. Dengan kekuatan hukum UU PT, dan diakuinya UU tersebut dalam
bisnis internasional, maka UU PT lebih memberikan kepastian hukum
bagi Perusahaan Terbatas tersebut dibandingkan dengan yang
berbadan hukum Perusda. Sebab UU 5/1962 tidak banyak mengatur
terkait Direksi, Dewan Pengawas, kerjasama, dan pembubaran badan
hukum serta lainnya, terutama jika terjadi sengketa hukum; maka
2. UU PT lebih memberikan jaminan dan kepastian hukum dari sisi
internal manejemen/pegawai.
3. Dengan berbadan hukum PT, BUMD tersebut lebih memiliki kepastian
dan kepercayaan dari sisi mitra kerjasama. Sehingga hal ini akan
memudahkan manejemen dalam melakukan kerjasama dengan pihak
lain.

4. UU PT lebih mengarah ke GCG dibandingkan dengan UU Perusda.


Dengan alasan tersebut, maka sudah wajar jika akan semakin banyak
perusda akan beralih ke PT. contohnya, dari 26 BPD yang awalnya berbadan
hukum Perusda sekarang sudah 25 BPD berbadan hukum PT.
Semoga bermanfaat
Referensi:
1. UU 5/1962 ttg perusahaan daerah
2. UU 40/2007 ttg Perseroan Terbatas

Reviu Literatur Pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah BPKP


5 Desember 2014 no LP-125/LB/2014

Dalam era otonomi daerah, pemerintah telah memberikan kesempatan yang luas bagi pemerintah
daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah daerah dapat mengatur sendiri
beberapa aspek kehidupan di daerahnya baik aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial,
maupun budaya. Dalam aspek ekonomi, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk
membentuk suatu BUMD. Pada hakikatnya BUMD mempunyai peran yang strategis dalam era
otonomi daerah saat ini. Data yang ada menunjukkan bahwa sebanyak 1.007 BUMD dengan aset
sebesar Rp340,118 triliun, mencatat laba sebesar Rp10,372 triliun atau rata-rata rasio laba
terhadap aset (ROA) sebesar 3,0 persen. Rendahnya tingkat ROA menunjukkan pengelolaan
BUMD belum optimal, baik dari aspek keuangan maupun kinerja. Dengan kondisi ini, dan
ditambah adanya praktek mismanagement yang mengarah pada inefisiensi dan kecurangan, maka
BUMD perlu dan penting untuk melakukan pembenahan sehingga terjadi percepatan pelayanan
publik. Oleh karena itu, perlu dilakukan reviu literatur untuk memberikan konsep dan kondisi
pengelolaan BUMD berdasarkan referensi sebagai dasar pelaksanaan kajian selanjutnya. Dari
reviu literatur mengenai BUMD ini dapat diketahui bahwa:
1. BUMD menurut UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah badan
usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Daerah. Terdapat dua
bentuk BUMD, yaitu: 1) Perusahaan Umum Daerah adalah BUMD yang seluruh
modalnya dimiliki oleh satu Daerah dan tidak terbagi atas saham, dan 2) Perusahaan
Perseroan Daerah adalah BUMD yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya
terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% (lima puluh satu persen)
sahamnya dimiliki oleh satu Daerah. Dari pengamatan terhadap peraturan perundangundangan ditemukan belum adanya Undang-undang tentang Badan Usaha Milik Daerah
pengganti UU Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sebagai payung hukum
BUMD. Kondisi ini sangat berbeda dengan Badan Usaha Milik Negara dimana telah

memiliki payung hukum yaitu Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara.
2. Konsep pengelolaan BUMD non persero (Perusahaan Daerah/Perusahaan Umum Daerah)
dimungkinkan dengan model pengelolaan BUMD dengan sistem swakelola mandiri.
Konsep pengelolaan ini menggunakan sistem pengawasan ataupun pembinaan secara
bertanggungjawab dan intensif. Pengelolaan BUMD dilakukan dengan pengawasan dan
pembinaan secara langsung oleh pemangku kebijakan yang dilakukan oleh kepala daerah
selaku pemegang otoritas tertinggi di pemerintah daerah. Kewenangan pemerintah daerah
selaku pemegang otoritas dapat melakukan intervensi kebijakan dalam konteks yang
positif terkait kinerja dari BUMD melalui dewan pengawas. UU Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa dalam pengelolaan BUMD salah
satunya harus mengandung unsur tata kelola perusahaan yang baik. Namun demikian,
peraturan pemerintah maupun peraturan lain yang mengatur lebih lanjut ketentuan
mengenai tata kelola perusahaan yang baik dalam pengelolaan BUMD tersebut belum
dikeluarkan. Sementara konsep pengelolaan BUMD persero (Perseroan
Terbatas/Perusahan Perseroan Daerah), berdasarkan Permendagri Nomor 3 Tahun 1998
tentang Badan Hukum BUMD, menyatakan bahwa BUMD berbentuk perseroan terbatas
tunduk pada UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan
pelaksanaannya.
3. Kondisi pengelolaan BUMD masih belum optimal antara lain terlihat dari pengelolaan
yang masih terjebak dalam pola kerja birokrasi daripada sebagai perusahaan yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan, pelayanan yang diberikan belum maksimal, serta
adanya praktek mismanagement yang mengarah pada inefisiensi dan kecurangan (fraud)
dalam pengelolaan BUMD.
Reviu literatur ini masih masih jauh dari sempurna, namun demikian dapat menggambarkan
landasan hukum BUMD, bentuk pengelolaan BUMD dan kondisi pengelolaan BUMD yang
belum efisien. Reviu literatur ini dapat digunakan untuk dasar melakukan kajian pengelolaan
BUMD yang efisien.