Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bumi adalah satu-satunya tempat untuk hidup bagi manusia dan makhluk hidup
lainnya.Di tempat ini semua tersedia untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup di
dalamnya.Sumber yang tersedia di bumi tersebut merupakan sumber daya alam yang sejauh
ini dimanfaatkan manusia.
Seiring perkembangan jaman, semakin berkembang pula teknologi yang dimiliki
manusia.Kehidupan manusia pun berubah dari masa agrikultur ke era revolusi industri seperti
sekarang ini.Dengan orientasi tersebut dunia agrikultur mengalami kemunduran secara
perlahan.Nilai-nilai kehidupan manusia turut mengalami perubahan terutama mengenai
masalah lingkungan.
Para ahli lingkungan telah menemukan adanya indikasi pemanasan secara global
atau yang biasa disebut dengan Global Warming.Hal ini salah satunya akibat berubahnya pola
hidup manusia yang berorientasi ke dunia industri.Dampak yang ditimbulkan berperan besar
dalam masalah lingkungan serta permukaan bumi.Pada saat ini iklim di permukaan bumi
mengalami penghangatan yang disebabkan oleh pemanasan global. Aktivitas manusia yang
menggunakan bahan bakar fosil, secara tidak langsung akan menaikkan suhu permukaan
bumi. Efek yang ditimbulkan memang tidak bisa langsung dirasakan oleh manusia, namun
akan berpengaruh dalam masa yang akan datang (Baskoro, wordpress.com).Karena alasan
tersebut penulis mencoba untuk menjelaskan melalui kajian ilmu pengetahuan dan teknologi,
dampak-dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global.
Pemanasan global merupakan salah satu isu permasalahan lingkungan hidup yang
berdampak global.Oleh karena itu perlu adanya aksi global untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Kenyataan yang terjadi isu permasalahan pemanasan global masih dipertanyakan
apakah merupakan proses degradasi lingkungan atau fenomena alami bumi. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut perlu adanya konsensus global untuk mengatasi permasalahan
pemanasan global pada khususnya dan permasalahan lingkungan global pada umumnya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud pemanasan global, efek rumah kaca dan perubahan iklim
2. Apa penyebab terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca dan perubahan iklim
3. Apa dampak yang ditimbulkan pemanasan global, efek rumah kaca dan perubahan
iklim
4. Bagaimana cara menanggulangi pemanasan global, efek rumah kaca dan
perubahan iklim
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana prsoses terjadinya pemanasan global, efek rumah
kaca dan perubahan iklim
2. Untuk mengetahui dampak terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca dan
perubahan iklim
3. Untuk mengetahui bagaimana cara penanggulangan pemanasan global, efek
rumah kaca dan perubahan iklim

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pemanasan Global
1.1 Pengertian Pemanasan Global
Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat
peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti
dengan Perubahan Iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia
sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami
musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.
1.2 Penyebab Pemanasan Global
Pemansan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan
gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia,
kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah karbon
dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan
penggundulan hutan serta pembakaran hutan.
Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan
disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan
ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus
dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah
gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari matahari.
Sementara lautan dan vegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi
atap sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif
dari gas rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan
global. Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler.
Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal
dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan
sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu,
jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air,
khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil,
baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan

keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi
karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis,
sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
1.3 Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global yaitu meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan
Bumi yang disebabkan oleh aktifitas manusia terutama aktifitas pembakaran bahan bakar
fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam), yang melepas karbondioksida (CO2) dan gasgas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Atmosfer semakin penuh
dengan gas-gas rumah kaca ini dan ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak
pantulan panas Matahari dari Bumi. Dampak pemanasan gelobal akan mempengaruhi :

Cuaca

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari
belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di
Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih
sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya
mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah
subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair.
Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan
malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Tinggi muka laut

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga
volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan
mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak
volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 25 cm (4 10
inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88
cm (4 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen
daerah Belanda , 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing,
4

pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir
akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana
yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin
mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak
makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian
Selatan Kanada , sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya
curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering
di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang
menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack
(kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair
sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami
serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global,
hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan
mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu
hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesiesspesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan
pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat
berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena
penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah
tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya,
akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu
dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka
5

dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi
60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar
seperti malaria, demam dengue (demam berdarah), demam kuning, dan encephalitis . Para
ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara
yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
1.4 Cara-cara Menanggulangi Pemanasan Global
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah
kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas
tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration
(menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah
dengan reboisasi yang dapat mengantisipasi global warming. Pohon, terutama yang muda dan
cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui
fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan
hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh
kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan
yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk
mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi
semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan
menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar
minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di
bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah
dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida
yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer
sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar
fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad
ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan
oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa
6

digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan trend penggunaan bahan bakar fosil ini
sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke
udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak
apalagi bila dibandingkan dengan batubara.
Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih
mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial
karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya. Untuk kendaraan bermotor, perlu
digunakan alat penyaring khusus gas buangan pada bagian knalpot (tempat keluar gas
buangan) yang dapatmenetralisirdan mengurangi dampak negatif gas buangan tersebut. Bisa
juga dengan mengganti bahan bakar dengan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan,
seperti tenaga surya (matahari) atau biodisel. Perlu dikeluarkan regulasi tentang usia
kendraan bermotor yang boleh beroperasi agar tidak menimbulkan pencemaran.
Untuk skala industri, perlu dibuat sistem pembuangan dan daur ulang gas buangan
yang baik. Saluran buangan perlu diperhatikan, kearah mana akan dibuang dan haruslah
memperhatikan lingkungan sekitar. Reboisasi lahan yang gundul merupakan salah satu
langkah untuk menahan laju karbondioksida yang berlebih diudara. Termasuk penanaman
pohon-pohon disepanjang jalan raya yang dapat menetralisir pencemaran udara disepanjang
jalan raya.Tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Selain itu diperlukan juga adanya pengelolaan sampah.Pengelolaan sampah adalah
pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material
sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan
manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan,
lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber
daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan
metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara
berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga
antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya
dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya
ditangani oleh perusahaan pengolah sampah
7

Selain itu perlu diadakan kerja sama internasional untuk mensukseskan pengurangan
gas-gas rumah kaca. Apabila pada suatu negara diterapkan peraturan kebijakan lingkungan
yang ketat, maka ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah
dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai
contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil
mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi
produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang serius, konsisten, dan
kontinyu agar masalah kerusakan lingkungan ini dapat diatasi atau diminimalisir.

2. Efek Rumah Kaca


2.1 Pengertian Efek Rumah Kaca
Secara alamiah cahaya matahari (radiasi gelombang pendek) yang menyentuh
permukaan bumi akan berubah menjadi panas dan menghangatkan bumi. Sebagian dari panas
ini akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa luar sebagai radiasi infra
merah gelombang panjang. Sebagian panas sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap
oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi (disebut gas rumah kaca seperti : uap air,
karbon-dioksida/CO2 dan metana ) sehingga panas sinar tersebut terperangkap di atmosfer
bumi. Peristiwa ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca (ERK) karena peristiwanya sama
dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat
menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.
Peristiwa alam ini menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia,
karena jika tidak ada Efek Rumah Kaca maka suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius
lebih dingin.
Semua kehidupan di Bumi tergantung pada efek rumah kaca ini, karena tanpanya,
planet ini akan sangat dingin sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan
tetapi, bila gas-gas ini semakin berlebih di atmosfer dan berlanjut, akibatnya pemanasan bumi
akan berkelebihan dan akan semakin berlanjut !
Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun1824,
merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama pada planetatau
8

satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.Efek rumah kaca hanya
terjadi pada planet-planet yang mempunyai lapisanatmosfer seperti Bumi, Mars, Venus, dan
satelit alami Saturnus (Titan).
2.2 Penyebab terjadinya Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca disebabkan karena naikknya konsentrasi gas Karbondioksida(CO2)
dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini terjadi akibatkenaikan
pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan bakar organiclainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorsinya.Bahan-bahan di
permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorsi hasil pembakaran tadi ialah tumbuhtumbuhan, huta, dan laut. Jadi bisa dimengerti bila hutansemakin gundul, maka panas di bumi
akan semakin naik.Energi yang diabsorsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra
merah olehawan dan permukaan bumi. Hanya saja sebagian sinar inframerah tersebut
tertahan olehawan, gas CO2, dan gas lainnya sehingga terpantul kembali ke permukaan
bumi.Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain di atmosfir makasemakin
banyak pula gelombang panas yang dipantulkan bumi dan diserap atmosfir.Dengan perkataan
lain semakin banyak jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfir,maka semakin banyak
pula panas matahari uang terperangkap di permukaan bumi.Akibatnya suhu permukaan bumi
akan naik. Sudah disebutkan di atas bahwa efek rumah kaca terjadi karena emisi gas
rumahkaca.
Meningkatnya gas rumah kaca tersebut dikontribusi oleh hal-hal berikut:

Energi Pemanfaatan berbagai macam bahan bakar fosil atau BBM memberikontribusi
besar terhadap naiknya konsentrasi gas rumah kaca, terutamaCO2.

KehutananSalah satu fungsi hutan adalah sebagai pernyerap emisi gas rumah
kaca.Karena hutan dapat mengubah CO2 menjadi O2. Sehingga pengrusakanhutan
akan memberi kontribusi terhadap naiknya emisi gas rumah kaca.

Peternakan dan PertanianDi sektor ini emisi gas rumah kaca dihasilkan dari
pemanfaatan pupuk, pembusukan sisa-sisa pertanian dan pembusukan kotorankotoran ternak,serta pembakaran sabana. Pada sektor pertanian, gas metan (CH4)
yang paling banyak dihasilkan.
9

SampahSampah sebagai salah satu kontributor terbesar bagi terbentuknya gasmetan


(CH4), karena aktifitas manusia sehari-hari.

2.3 Dampak dari Efek Rumah Kaca


Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahaniklim
yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan danekosistem
lainnya sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbondioksidadi atmosfir.
Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerahkutub yang dapat
menyebabkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akanmengakibatkan
meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadikenaikan permukaan
laun yang mengakibatkan negara yang berupa kepulauan akanmendapat pengaruh yang
sangat besar.
2.4 Cara Menanggulangi Efek Rumah Kaca
Beberapa cara yang bisa dilakukan secara sinergis oleh para penduduk bumi:
1. Menciptakan dan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan
Tahukah Anda bahwa gas karbon dioksida cukup besar disumbangkan dari asap kendaraan
bermotor yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, Anda perlu memilih bahan bakar
alternatif seperti biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar yang dibuat dari berbagai lemak
tanaman atau pun hewan yang ramah lingkungan. Ada banyak tanaman yang bisa dijadikan
sebagai sumber lemak untuk pembuatan bahan bakar, diantaranya adalah biji jarak, zaitun,
bunga matahari dan sebagainya. Sementara dari jenis lemak hewani, lemak ayam merupakan
bahan murah yang mudah didapat dan bisa dibuat sebagai bahan bakar ramah lingkungan.
Saat ini telah banyak ditemukan berbagai penelitian tentang biodiesel. Penggunaan biodiesel
secara jelas akan membantu mengurangi efek rumah kaca.

2. Penghijauan di muka bumi


Tanaman hijau merupakan salah satu solusi utama untuk mengurangi timbunan gas
karbon dioksida di udara. Dimana pada proses fotosintesis tanaman, gas tersebut dibutuhkan
10

sebagai komponen utama. Oleh karena itu, dengan melakukan penghijauan melalui
penanaman pohon hijau, atau pemeliharaan hutan-hutan lindung di muka bumi, secara
langsung akan membantu menyerap timbunan gas rumah kaca di udara, sehingga kondisi
udara pun dapat disaring dan akhirnya akan bersih kembali. Gerakan menanam pohon
merupakan langkah mudah untuk mencegah efek rumah kaca.

3. Perubahan Iklim
3.1 Pengertian Perubahan Iklim
Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC)
Perubahan Iklim adalah perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung yang mengubah komposisi atmosfer secara global dan
mengakibatkan perubahan variasi iklim yang dapat diamati dan dibandingkan selama kurun
waktu tertentu. Panel Antar pemerintahan PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang berhasil
meyakinkan negara-negara di dunia lewat fakta-fakta ilmiah hubungan antara aktivitas
manusia dengan pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim (man-made climate
change), setelah beberapa lama hanya dianggap sebagai hipotesa belaka. Keberhasilan dalam
peningkatan kesadaran ini, yang sekaligus memberikan dasar bagi upaya solusinya,
mengantarkan IPCC menerima Hadiah Nobel Perdamaian bersama Al Gore pada 2007.
Telah diperkirakan oleh para ilmuwan, daerah bagian utara dari belahan Bumi Utara
akan memanas lebih dari daerah-daerah lainnya di Bumi. Hal ini berakibat akan mencairnya
gunung-gunung es dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di
perairan tersebut.Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak
akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju
akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di
beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk
meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap
dari lautan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar
1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan.Badai akan menjadi lebih sering. Selain
itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih
kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang
berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan
11

menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang
sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
3.2 Penyebab Terjadinya Perubahan Iklim
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aktivitas manusia merupakan
penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Selain itu pertambahan populasi penduduk dan
pesatnya pertumbuhan teknologi dan industri ternyata juga memberikan kontribusi besar pada
pertambahan GRK. Akibat jenis aktivitas yang berbeda beda, maka GRK yang
dikontribusikan olehsetiap negara ke atmosfer pun porsinya berbeda beda.Di Indonesia
sendiri GRK yang berasal dari aktivitas manusia dapat dibedakan atas beberapa hal, yaitu (1)
kerusakan hutan termasuk perubahan tata guna lahan, (2) pemanfaatan energi fosil, (3)
pertanian dan peternakan, serta (4) sampah. Pemanfaatan energi secara berlebihan, terutama
energi fosil, merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim secara global. Hutan
yang semakin rusak, baik karena kejadian alam maupun penebangan liar, juga menambah
jumlah GRK yang dilepaskan ke atmosfer secara signifikan serta fungsi hutan sebagai
penyerap emisi GRK. Selain itu pertanian dan peternakan serta sampah berperan sebagai
penyumbang GRK berupa gas metana (CH4) yang ternyata memiliki potensi pemanasan
global 21 kali lebih besar daripada gas karbondioksida (CO2)
a) Kehutanan
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan luas hutan terbesar, yaitu
120,3 juta hektar (FWI/GFW, 2001). Sekitar 17% dari luasan tersebut adalah hutan
konservasi dan 23% hutan lindung, sementara sisanya adalah hutan produksi (FWI/ GFW,
2001). Dari sisi keanekaragaman hayati, Indonesia termasuk negara paling kaya akan
keanekaragaman hayati. Menurut situs web Indonesian National Parks, Indonesia memiliki
sekitar 10% spesies tanaman dari seluruh tanaman di dunia, 12% spesies mamalia (terbanyak
di seluruh dunia), 16% reptil dan amfibi, 17% spesies burung dan lebih dari 25% spesies ikan
di seluruh dunia. Hampir seluruh spesies tersebut endemik atau tak terdapat di negara lain.
Padahal jika hutan beserta keanekaragaman hayatinya dipelihara dengan baik, maka
esungguhnya akan memberikan keuntungan bagi Indonesia, baik secara sosial maupun
konomi. Apalagi sektor-sektor seperti kehutanan, pertanian dan perikanan, esehatan, ilmu
pengetahuan, industri dan pariwisata, sesungguhnya sangat ergantung pada keberadaan
keanekaragaman hayati. Selama ini yang terjadi justru sebaliknya. Sejak tahun 1970-an,
kerusakan hutan mulai menjadi isu penting, dimana penebangan hutan secara komersial mulai
12

dibuka secara besar-besaran. Menurut data Forest Watch Indonesia, laju kerusakan hutan
pada tahun 1985-1997 telah mencapai sebesar 2,2 juta per tahun (FWI, 2001). Kerusakan
hutan terutama disebabkan oleh penebangan liar, kebakaran hutan (yang disengaja dan tidak
disengaja), perkebunan skala besar serta kerusakan- kerusakan yang ditimbulkan HPH (Hak
Pengusahaan Hutan) dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Salah satu fungsi hutan sendiri
adalah sebagai penyerap emisi GRK (biasa juga disebut emisi karbon). Hutan dapat
menyerap dan mengubah karbondioksida (CO2), salah satu jenis GRK, menjadi oksigen (O2)
yang merupakan kebutuhan utama bagi mahluk hidup. Ini berarti dengan luasan hutan
Indonesia yang cukup luas, sekitar 144 juta ha (tahun 2002), sudah tentu emisi karbon yang
dapat diserap jumlahnya tak sedikit, sehingga laju terjadinya pemanasan global dan
perubahan iklim dapat dihambat. Adapun jumlah CO2 yang telah diserap oleh hutan
Indonesia pada tahun 1990 adalah sebesar 1500 MtCO2 (In11 donesia: The First National
Communication under UNFCCC, 1990). Sedangkan pada tahun 1994, hutan Indonesia hanya
menyerap sekitar 404 MtCO2 (NET dan Pelangi, 2000). Jadi, hanya dalam waktu 4 tahun,
hutan Indonesia sudah "berhasil" melepaskan emisi GRK ke atmosfer sebesar 1.096 MtCO2
Pada tahun 1990, emisi CO2 yang dilepaskan oleh sektor kehutanan dan perubahan tata guna
lahan adalah sebesar 64% dari total emisi GRK di Indonesia. Sementara pada tahun 1994,
angka tersebut meningkat menjadi 74% (Pelangi, 2000). Tahun 1997-1998 terjadi kebakaran
hutan yang cukup besar di Indonesia, dimana 80% dari kejadian tersebut terjadi di lahan
gambut. Sementara lahan gambut sendiri merupakan penyerap emisi karbon, terbesar di
dunia. Akibat peristiwa kebakaran tersebut, sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon dilepaskan ke
atmosfer. Angka ini setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari
bahan bakar fosil per tahun. Kerugian finansial yang harus ditanggung oleh Indonesia akibat
peristiwa ini adalah sebesar US$ 3 milyar dari hilangnya kayu, pertanian, produksi hutan
non-kayu, konservasi tanah, dan lain-lain (Susan E. Page, et al, 2002). Jika tidak segera
diatasi, maka kerusakan hutan di Indonesia akan mengakibatkan akumulasi GRK di atmosfer
meningkat dengan cepat, sehingga menambah cepat laju proses perubahan iklim.

b) Energi
Dapat dikatakan kehidupan manusia saat ini tak bisa lepas dari energi listrik dan
bahan bakar fosil. Ketergantungan itu ternyata membawa dampak yang buruk bagi kehidupan
umat manusia. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas alam
13

dalam berbagai kegiatan, misalnya pada pembangkitan listrik, transportasi dan industri, akan
memicu bertambahnya jumlah emisi GRK di atmosfer. Walaupun sama-sama menghasilkan
emisi GRK, namun emisi yang dihasilkan dari penggunaan ketiga jenis bahan bakar fosil
tersebut berbeda-beda. Selain penggunaan pembangkit tenaga listrik bertenaga batubara yang
tidak ramah lingkungan, Indonesia juga termasuk sebagai negara pengkonsumsi energi
terbesar di Asia, setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Total konsumsi energi di
Indonesia melonjak tinggi sekitar 4 kali selama dua dekade terakhir ini, dari sekitar 174 juta
Setara Barel Minyak (BOE= Barrel of Oil Equivalent) pada tahun 1980 menjadi sekitar 666
juta BOE di tahun 2000 (DJLPE, 2002). Tingginya konsumsi energi, disebabkan oleh adanya
pemahaman keliru yang menyatakan bahwa Indonesia sangat kaya akan minyak, gas dan
batubara, dimana cadangannya tidak akan pernah habis. Kita seringkali lupa bahwa untuk
mendapatkan bahan bakar fosil kita harus menunggu ribuan hingga jutaan tahun. Sementara
cadangan bahan bakar fosil yang ada saat ini di Indonesia (dan juga di dunia) sudah mulai
menipis. Dengan cadangan terbukti sekitar 5 milyar barel dan tingkat produksi sekitar 500
juta barel, maka minyak bumi Indonesia akan habis kurang dari 10 tahun mendatang, yaitu
pada tahun 2013. Untuk gas alam dengan kapasitas produksi sekitar 3 TSCF, maka cadangan
terbuktinya yang hanya 90 TSCF akan habis dalam 3 dekade (30 tahun) mendatang.
Sementara, batubara dengan cadangan terbukti sebesar 50 ton hanya mampu bertahan selama
50 tahun, jika produksi tetap dipertahanan seperti sekarang yaitu sebesar 100 juta ton/tahun.
Namun, seperti yang telah diuraikan di atas, pemanfaatan batubara akan berpengaruh buruk
terhadap lingkungan, karena sebagai menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibanding
minyak maupun gas bumi.Dari sisi pemanfaatan energi, sektor industri di Indonesia
merupakan sektor yang mengemisikan karbon paling besar disbanding sektor lainnya (lihat
grafik 1). Sementara sektor transportasi menempati posisi ke-2 pengemisi karbon tertinggi.
Sama dengan pemanfaatan energi listrik, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia
mengalami peningkatan tiap tahunnya. Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral (2003), sekitar 70% total konsumsi energi final di Indonesia pada 2002 berupa BBM.
Menempati urutan kedua adalah listrik, yaitu sekitar 10%.

c) Pertanian dan Peternakan


Sektor pertanian juga memberikan kontribusi terhadap meningkatnya emisi GRK,
khususnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari sawah tergenang. Sektor pertanian
14

menghasilkan emisi gas metana tertinggi dibanding sektor-sektor lainnya. Selain metana,
GRK lain yang dikontribusikan dari sector pertanian adalah dinitro oksida (N2O) yang
dihasilkan dari pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian. Pembakaran padang sabana dan
sisa-sisa pertanian yang membusuk juga merupakan sumber emisi GRK. Sektor peternakan
juga tak kalah dalam mengemisikan GRK, karena ternyata kotoran ternak yang membusuk
akan melepaskan gas metana (CH4) ke atmosfer. Sebagai ilustrasi, setiap 1 kg kotoran ternak
melepaskan sekitar 230 liter gas metana ke atmosfer (S. V. Srinivasan). Padahal, kalau saja
kita mau sedikit berupaya untuk mengolahnya, kotoran ternak bisa mendatangkan
keuntungan. Salah satunya bisa diolah menjadi biogas, bahan bakar yang murah dan ramah
lingkungan.
d) Sampah
Kegiatan manusia selalu menghasilkan sampah. Sampah merupakan masalah besar
yang dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup
mengatakan bahwa pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan
sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000.
Diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang per hari adalah sebesar 2,1
kg. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi GRK berupa gas metana, walaupun dalam
jumlah yang cukup kecil dibandingkan emisi GRK yang dihasilkan dari sektor kehutanan dan
energi. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana.
Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang
dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg atau sekitar 190 ribu ton per tahun. Dengan jumlah
sampah yang sedemikian besar, maka Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer
sekitar 9500 ton per tahun. Jika sampah kota tidak dikelola secara benar, maka laju
pemanasan global dan perubahan iklim akan semakin cepat, mengingat potensi pemanasan
global

CH4

yang

besarnya

21

kali

potensi

pemanasan

global

CO2.

3.3 Dampak Terjadinya Perubahan Iklim


Beberapa

dampak

perubahan

iklim

yang

mungkin

timbul

di

antaranya:

a. peningkatan suhu, suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3 derajat Celsius pada
seluruh musim terutama sejak 1990;
b. peningkatan intensitas curah hujan, di Indonesia curah hujan per tahun diperkirakan
meningkat 2-3% di seluruh Indonesia, dalam periode yang lebih pendek tetapi meningkatkan
resiko banjir secara signifikan;
15

c.ancaman terhadap ketahanan pangan pada bidang pertanian;


d. naiknya permukaan air laut yang akan berakibat pada tergenangnya daerah produktif pantai
seperti pertambakan ikan dan udang, produksi padi dan jagung;
e. air laut bertambah hangat, yang berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati laut dan
terlebih pada terumbu karang yang sudah terancam (coral bleaching);
f. merebaknya penyakit yang berkembang biak lewat air dan vektor seperti malaria dan
demam berdarah.
Penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim akibat aktivitas manusia ini
terutama berasal dari aktivitas industri dan perusakan hutan dan perubahan tata guna lahan.
3.4 Cara Menanggulangi Terjadinya Perubahan Iklim
Dampak dari perubahan iklim itu sendiri diantaranya yaitu : peningkatan permukaan
laut dan berakibat juga pada perubahan pola hujan karena meningkatnya temperatur suhu.
Oleh sebab itu mari kita mulai menanggulanginya dimulai dari diri kita sendiri dari hal yang
kecil mulai sekarang!! Caranya diantaranya,
Berhenti atau kurangilah makan daging
Dalam laporannya yang berjudul Livestocks Long Shadow : Enviromental lssues and
Options (dirilis November 2006), PBB mencatat bahwa 18% dari pemanasan global yang
terjadi saat ini disumbangkan oleh industri peternakan, yang mana lebih besar daripada efek
pemanasan global yang dihasilkan oleh seluruh alat transportasi dunia digabungkan! PBB
juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 yang
dihasilkan, padahal selain sebagai kontributor CO2 yang hebat, industri peternakan juga
merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan sumber-sumber air bersih.
Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya
membutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet berbasis daging. Penelitian yang
dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga
memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan daging dengan pola makan
vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global dari pada mengganti sebuah
mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika
akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya! Seorang vegetarian yang

16

mengendarai SUV ffummer masih lebih bersahabat dengan lingkungan daripada seorang pemakan dagrng yang mengendarai sepeda!
Batasilah emisi karbon dioksida!
Bila

memungkinkan,

carilah

sumber-sumber

energi

alternatif

yang

tidak

menghasilkan emisi CO2 seperti tenaga matahari, air, angin, nuklir, dan lain-lain. Bila
terpaksa harus menggunakan bahan bakar fosil (yang mana akan menghasilkan emisi CO2),
gunakanlah dengan bijak dan efisien. Hal ini termasuk menghemat listrik dan energi, apalagi
Indonesia termasuk negara yang banyak menggunakan bahan bakar fosil (minyak, batubara)
untuk pembangkit listriknya. Matikanlah peralatan listrik ketika tidak digunakan, gunakan
lampu hemat energi, dan gunakanlah panel surya sebagai energi alternatif.
Tanamlah lebih banyak pohon!
Tanaman hijau menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringannya.
Tetapi setelah mati mereka akan melepaskan kembali CO2 ke udara. Lingkungan dengan
banyak tanaman akan mengikat CO2 dengan baik, dan harus dipertahankan oleh generasi
mendatang. Jika tidak, maka karbon yang sudah tersimpan dalam tanaman akan kembali
terlepas ke atmosfer sebagai CO2. Peneliti dari Louisiana Tech University menemukan
bahwa setiap acre pepohonan hijau dapat menangkap karbon yang cukup untuk mengimbangi
emisi yang dihasilkan dari mengendarai sebuah mobil selama setahun. Sebuah studi yang
dilakukan oleh layanan perhutanan di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa penanaman
95.000 pohon yang dilakukan di dua kota kecil di Chicago memberikan udara yang lebih
bersih dan menghemat biaya yang berhubungan dengan pemanasan dan pendinginan udara
sebesar lebih dari US$38 juta dalam 30 tahun ke depan.
Daur ulang (recycle) dan gunakan ulang
Kalkulasi yang dilakukan di California menunjukkan bahwa apabila proses daur ulang
dapat diterapkan hingga di level negara bagian California, maka energi yang dihemat cukup
untuk memberikan suplai energi bagi 1,4 juta rumah, mengurangi 27.047 ton polusi air,
menyelamatkan 14 juta pohon, dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga setara dengan
3,8 juta mobil!.
Gunakan alat transportasi alternatif untu mengurangi emisi karbon

17

Penelitian yang dilakukan Universitas Chicago menunjukkan bahwa beralih dari


mobil konvensional ke mobil hibrida seperti Toyota Prius dapat menghemat 1ton emisi per
tahun. Mengkonsumsi makanan produk lokal akan mengurangi emisi dalam jumlah yang
cukup signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Iowa State University pada tahun 2003 menemukan bahwa makanan non-lokal rata-rata menempuh 1.494 mil sebelum dikonsumsi,
bandingkan dengan makanan lokal yang hanya menempuh 56 mil. Bayangkan betapa banyak
emisi karbon yang dihemat dengan perbedaan 1.438 mil tersebut.Gunakan sepeda sebanyak
yang Anda bisa sebagai metode transportasi. Selain menghemat banyak energi, bersepeda
juga merupakan olah raga yang menyehatkan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
18

Pemanasan global atau pemanasan Bumi adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer
Bumi yang penyebabnya adalah efek rumah kaca, efek umpan balik, dan kegiatan manusia
seperti penebangan hutan, penggunaan bahan bakar minyak yang berlebihan dan penggunaan
spray yang banyak mengandung gas CFC.
Pemanasan Bumi menimbulkan banyak akibat yang berdampak pada perubahan iklim,
kenaikan permukaan air laut, dan peningkatan suhu Bumi. Bahkan pemanasan Bumi juga
berdampak pada manusia karena menyebabkan timbulnya wabah penyakit akibat suhu yang
panas, temperatus yang tinggi dapat menyebabkan gagal panen sehingga muncul kelaparan.
B. Saran
Penggunaan bahan bakar minyak yang berlebihan sebaiknya dikurangi dengan berganti ke
bahan bakar yang ramah lingkungan sperti menggunakan energi matahari ataupun energi air.
Penggunaan kendaraan bermotor harusnya juga sedikit dikurangi dengan penggunaan
angkutan umum dari pada kendaraan pribadi, atau mungkin juga bisa menggunakan sepedah
-

untuk mengurangi polusi udara.


Penggundulan hutan seharusnya harus mulai dikurangi dan beralih ke kegiatan menanam
pohon (reboisasi). Karena semakin banyak pohon, makan kadar karbondioksida di atmosfer
bisa berkurang.

19