Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam beberapa percobaan di Laboratorium Teknik Elektro
tentunya ada bagian dimana praktikan harus menggunakan alat
yang memiliki sumber tegangan yaitu catu daya yang telah
disediakan oleh penanggung jawab. Untuk itu pemakaian catu
daya tentunya sangat diperlukan dalam jumlah yang bisa
dibilang cukup banyak, karena dalam satu shift pertemuan
terdapat kurang lebih 3 kelompok sampai 4 kelompok yang
terdiri dari beberapa praktikan. Masing-masing kelompok
haruslah memiliki satu catu daya sebagai sumber tegangan yang
akan digunakan.
Selain itu pada semester 4 ini yang mana tercantum dalam
KRS yaitu mahasiswa yang bersangkutan harus menjalankan 3
jenis praktikum yang diselenggarakan oleh Laboratorium Teknik
Elektro Universtias Gunadarma. Diantaranya adalah praktikum
dasar elektronika, praktikum telekomunikasi, dan praktikum
instalasi listrik. Tentunya catu daya ini terdapat pada praktikum
dasar elektronika, sebelum membuat catu daya ini kami para
praktikan
telah
dijelaskan
dalam
pertemuan-pertemuan
sebelumnya tentang merakit rangkaian yang telah disajikan
gambar rangkaian tertutupnya. Maka untuk menuntaskan
praktikum ini, para staf dan koordinator laboratorium teknik
elektro Gunadarma khususnya praktikum elektronika dasar
memberikan tugas untuk membuat sendiri catu daya yang telah
diberikan modul serta penjelasannya, yang dikerjakan secara
berkelompok.
Dalam memenuhi peraturan yang mengharuskan membuat
sendiri catu daya ini tentunya berdampak pada nilai praktikum
yang diberikan oleh staf laboratorium untuk para praktikan,
untuk itu pengerjaan diberikan waktu kurang lebih satu setengah
bulan bagi kami yang baru mencoba membuat alat sendiri,
walaupun sudah ada dari teman-teman yang lain yang sudah
mahir dalam perakitan alat.

1.2 MASALAH DAN PEMBATASAN MASALAH


Modul yang diberikan untuk catu daya ini tentunya
berdasarkan apa yang telah dipelajari dan diberikan dalam
pertemuan praktikum yang sudah diadakan. Di dalam rangkaian
catu daya ini tentunya terdapat bagaimana cara merakit ke
dalam bentuk nyata berdasarkan rangkaian yang berbentuk
gambar. Merakit rangakaian ini tentunya ada kesulitan yang
dialami dalam mengerjakannya, seperti akan digunakan, jika
terbalik maka akan megakibatkan mulai dari tidak berfungsinya
alat hingga adanya komponen yang meledak pada rangkaian,
untuk itu sangat diperlukan ketelitian.
Pada merakit alat ini praktikan juga diajarkan bagaimana
mengolah PCB yang tadinya polos sehingga pada akhirnya bisa
digunakan untuk catu daya, juga cara melubangi dan menyolder
komponen yang ada pada PCB walaupun semuanya bisa dibilang
didapat secara otodidak.
Dalam pertemuan di praktikum sebelumnya terdapat bab
yang menjelaskan bagaimana sebuah transistor, resistor serta
komponen-komponen lainnya bekerja dalam rangkaian, dan itu
juga lah yang terdapat dalam pembuatan alat catu daya ini.

1.3 TUJUAN PENULISAN


Terdapat beberapa tujuan mengapa diadakannya atau
dibuatnya alat ini yaitu untuk memenuhi penggunaan catu daya
dalam laboratorium teknik elektro, walaupun laboratorium sudah
memiliki cukup banyak catu daya, tidak ada salahnya disiapkan
alat yang siap untuk menjadi backup dalam penggunaanya jika
suatu saat terdapat kecelakaan kecil yang mengakibatkan
komponen dalam catu daya menjadi rusak dan alat tidak
berfungsi lagi maka hal ini lah yang akan membuat catu daya
lain bisa dapat digunakan.
Tujuan yang lain adalah untuk memenuhi aturan
laboratorium yang mengharuskan membuat secara mandiri catu
daya yang nantinya akan berpengaruh terhadap nilai praktikum
yang bersangkutan, sehingga dengan alat ini praktikan dapat
memiliki nilai yang cukup baik pada nilai yang diberikan nanti.
2

Hal lain yaitu kedepannya ilmu ini sangat berguna


khususnya untuk praktikan yang nantinya akan memilih
konsentrasi jurusan elektronika pada semester selanjutnya. Ilmu
dalam fungsi-fungsi komponen yang digunakan, juga teknik
pengeboran PCB dan penyolderannya yang merupakan pondasi
dari PCB sangat diperlukan nantinya. Juga ada ilmu untuk
menentukan jalur yang akan digunakan PCB pada rangkaian
yang dimaksud, bagian ini pun adalah bagian yang tidak kalah
pentingnya. Hingga ilmu untuk mengatasi bagian-bagian mana
yang salah dalam perakitannya.
Semua itu sangatlah membantu dalam pekerjaan kedepan
yang terkusus pada perakitan PCB yang merupakan otak dari
sebuah alat elektronika yang akan digunakan oleh masyarakat
luas nantinya.

1.4 METODE PENELITIAN


Pengumpulan data untuk perakitan alat ini sepenuhnya
berasal dari modul yang diberikan oleh laboratorium teknik
elektro. Beberapa mungkin dicari di internet yang mana
menentukan atau memastikan hal-hal kecil yang jika salah
berdampak besar nantinya pada hasil perakitan alat. Data yang
telah didapat tadi tentunya tidak sepenuhnya kami mengerti,
untuk itu kami juga bertanya pada penanggung jawab teknik
elektro yang bertugas, sehingga dapat menjelaskan bagian mana
yang mungkin menjadi masalah dalam hal memahaminya.
Untuk alat-alat yang digunakan sepenuhnya merupakan
tanggung jawab dari praktikan yang bersangkutan, terdapat alatalat yang memang sudah ada sebelumnya maupun alat yang
harus dibeli terlebih dahulu. Alat yang digunakan diantaranya
adalah alat bor listrik, solder, timah, kabel sebagai jumper, PCB,
serta komponen elektronika yang digunakan berdasarkan modul
yang tersedia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 LANDASAN TEORI

Catu daya merupakan suatu Rangkaian yang paling


penting bagi sistem elektronika. Ada dua sumber catu daya yaitu
sumber AC dan sumber DC. Sumber AC yaitu sumber tegangan
bolak balik, sedangkan sumber tegangan DC merupakan
sumber tegangan searah.
Bila dilihat dengan osiloskop seperti berikut :

(a) Tegangan AC

(b)Tegangan DC

Sumber Tegangan Bila diamati sumber AC tegangan


berayun sewaktu-waktu pada kutub positif dan sewaktu-waktu
pada kutub negatif, sedangkan sumber AC selalu pada satu
kutub saja, positif saja atau negatif saja. Dari sumber AC dapat
disearahkan menjadi sumber DC dengan menggunakan
rangkaian penyearah yang di bentuk dari dioda. Ada tiga macam
rangkaian penyearah dasar yaitu penyearah setengah
gelombang, gelombang penuh dan sistem jembatan.

(a) Penyearah Setengah Gelombang

(c) Penyearah Setengah Gelombang

(d)Penyearah Sistem Jembatan

Rangkaian Penyearah Biasanya output dari rangkaian


diberi suatu filter kapasitor untuk menghilangkan riak sehingga
diperoleh tegangan DC yang stabil. Tegangan DC juga dapat
diperoleh dari batere. Dengan penggunaan batere ditawarkan
sumber tegangan DC yang stabil dan portable namun dapat
habis tergantung kapasitas batere tersebut. Tegangan yang
tersedia dari suatu sumber tegangan yang ada biasanya tidak
sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu diperlukan suatu regulator
tegangan yang berfungsi untuk menjaga agar tegangan bernilai
konstan pada nilai tertentu. Regulator tegangan ini biasanya
berupa IC dengan kode 78xx atau 79xx. Untuk seri 78xx
digunakan untuk regulator tegangan DC positif, sedangkan 79xx
digunakan untuk regulator DC negatif. Nilai xx menandakan
tegangan yang akan diregulasikan. Misalnya kebutuhan sistem
adalah positif 5 volt, maka regulator yang digunakan adalah
7805. IC regulator ini biasanya terdiri dari tiga pin yaitu input,
ground dan output. Dalam menggunakan IC ini tegangan input
harus lebih besar beberapa persen (tergantung pada data sheet)
dari tegangan yang akan diregulasikan.
Pencatu daya tak distabilkan merupakan jenis pencatu
daya yang paling sederhana. Pada pencatu daya jenis ini,
tegangan maupun arus keluaran dari pencatu daya tidak
distabilkan, sehingga berubah-ubah sesuai keadaan tegangan
masukan dan beban pada keluaran. Pencatu daya jenis ini
biasanya digunakan pada peranti elektronika sederhana yang
tidak sensitif akan perubahan tegangan. Pencatu jenis ini juga
6

banyak
digunakan
pada
penguat
daya
tinggi
untuk
mengkompensasi lonjakan tegangan keluaran pada penguat.
Pencatu daya distabilkan pencatu daya jenis ini
menggunakan suatu mekanisme loloh balik untuk menstabilkan
tegangan keluarannya, bebas dari variasi tegangan masukan,
beban keluaran, maupun dengung. Ada dua jenis kalang yang
digunakan untuk menstabilkan tegangan keluaran, antara lain :

Pencatu daya linier, merupakan jenis pencatu daya


yang umum digunakan. Cara kerja dari pencatu daya
ini adalah mengubah tegangan Ac menjadi tegangan
AC lain yang lebih kecil dengan bantuan
Transformator. Tegangan ini kemudian disearahkan
dengan
menggunakan
rangkaian
penyearah
tegangan, dan di bagian akhir ditambahkan
kondensator sebagai penghalus tegangan sehingga
tegangan DC yang dihasilkan oleh pencatu daya jenis
ini tidak terlalu bergelombang. Selain menggun akan
dioda sebagai penyearah, rangkaian lain dari jenis ini
dapat menggunakan regulator tegangan linier
sehingga tegangan yang dihasilkan lebih baik
daripada rangkaian yang menggunakan dioda.
Pencatu daya jenis ini biasanya dapat menghasilkan
tegangan DC yang bervariasi antara 0-60V dengan
arus antara 0-10A.

Pencatu daya sakelar, pencatu daya jenis ini


menggunakan metode yang berbeda dengan
pencatu daya linier. Pada jennis ini, tegangan AC
yang masuk ke dalam rangkaian langsung
disearahkan oleh rangkaian penyearah tanpa
menggunakan
bantuan
transformator.
Cara
menyearahkan tegangan tersebut menggunakan
frekuensi tinggi antara 10KHz hingga 1MHz, dimana
frekuensi ini jauh lebih tinggi dari pada frekuensi AC
yang sekitar 50Hz.

Pada pencatu daya sakelar biasanya diberikan rangkaian


umpan balik agar tegangan dan arus yang kelaur dari rangkaian
ini dapat dikontrol dengan baik.
Di dalam membuat catu daya ini terdapat komponen yang
sangat
penting,
salah
satunya
adalah
Transformator,
transformator yang digunakan utnuk proyek ini adalah
7

Transformator step down 5 Ampere, karena memiliki output-an


yang pas untuk tujuan modul yang sebenarnya.
Fungsi dasar dari sebuah trafo step down tentu saja untuk
menurunkan tegangan listrik untuk menghasilkan tegangan yang
lebih kecil sesuai dengan kebutuhan proyek elektronika.
Meskipun fungsi dasar dari trafo step down hanya satu, namun
kegunaannya sangat banyak. Misalnya saja power supply yang
menggunakan trafo step down, kegunaannya bisa dipakai hampir
semua perangkat elektronika seperti amplifie, radio, charger,
booster antena televisi dan lain-lain.
Trafo step down memiliki jumlah kumparan sekunder yang
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kumparan primernya.
Sesuai dengan kontruksi dasar transformator, trafo step down
terdiri dari lilitan kumparan kawat email dengan diameter
tertentu yang dilapisi oleh kawat email agar tumpukan lilitan
kumparan tidak terhubung langsung satu sama lain yang dapat
mengakibatkan terjadinya hubung singkat, baik itu pada
kumparan primernya maupun pada kumparan sekundernya.
Untuk ukuran trafo step down bervariasi tergantung arus
output yang dapat dikeluarkan oleh trafo tersebut. Semakin
besar arus yang dapat dikeluarkan oleh sebuah trafo step down,
maka dimensi trafo akan semakin besar pula, karena selain
diameter lilitan sekunder yang lebih besar yang berbanding lurus
dengan kemampuan arus yang dikeluarkannya, ukuran inti besi
juga otomatis akan semakin besar untuk dapat menopang gaya
gerak listrik induksi elektromagnet dari kumparan primer ke
kumparan sekunder.
Ketika sebuah trafo step down dialiri oleh tegangan listrik
AC 220V (jaringan PLN) pada bagian primer, maka kumparan
primer yang telaah dikelilingi oleh inti besi akan timbul
elektromagnet , gaya elektromagnet ini akan muncul seiring
dengan perubahan garis gaya magnet yang ditimbulkan oleh
arus AC. Karena garis gaya magnet ini timbul lah gaya gerak
listrik pada kumparan sekunder trafo. Jumlah gaya gerak listrik
yang akan timbul pada kumparan sekunder tergantung jumlah
lilitan dan diameternya.
Pada perancangan rangkaian elektronika, sebuah trafo step
down harus didesain sesuai dengan kebutuhan beban, ketika
arus yang dibutuhkan oleh beban lebih besar dari arus output
yang dikeluarkan oleh trafo step down,maka hal ini akan
berbahaya dari komponen trafo step down itu sendiri, selain

dapat menimbulkan panas yang berlebihana pada kumparan dan


initi besinya, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan trafo.
Oleh karena itulah, kebanyakan sebuah adaptor AC ke DC
yang memiliki kualitas baik biasanya dilengkapi dengan
rangkaian regulator tegangan dan proteksi arus terhadap beban
lebih, selain outputnya bebas dari tegangan ripple, juga
terlindungi dari arus beban yang lebih, karena ketika hal itu
terjadi, secara otomatis rangkaian proteksi akan bekerja dan
sumber catu daya terhadap beban akan terputus.

Fluks pada transformator


Rumus untuk fluks magnet yang ditimbulkan lilitan primer
adalah dan rumus untuk ggl. induksi yang terjadi di lilitan
sekunder adalah .Karena kedua kumparan dihubungkan dengan
fluks yang sama, maka
Dengan menyusun ulang persamaan akan didapat Dari rumusrumus di atas, didapat pula, dengan kata lain, hubungan antara
tegangan primer dengan tegangan sekunder ditentukan oleh
perbandingan jumlah lilitan primer dengan lilitan sekunder.

Komponen yang penting berikutnya adalah dioda, dioda


yang digunakan pada proyek ini adalah dioda bridge. Dioda
Bridge ditemukan oleh J. A Fleming pada tahun 1904, Ia adalah
seorang ilmuan yang berasal dari inggris (1849-1945). Mungkin
bagi kalian yang senang dengan hobby elektro atau lulusan
sekolah elektro,mungkin sudah tidak asing lagi dengan benda
yang satu ini yang namanya dioda. Bahkan untuk memahami
cara
kerjanya
mungkin
sangat
mudah
sekali
bagi
kalian. Dioda secara bebas dapar diartikan sebagai salah
satu komponen elektonika yang sangat sering dijumpai dan
digunakan seperti pada kapasitor dan juga resistor. Secara
sederhana sebuah dioda bisa kita simulasikan sebagai sebuah
katup,dimana katup tersebut akan terbuka manakala air yang
mengalir dibelakang katup menuju kedepan, sedangkan katup
akan menutup karena adanya dorongan aliran air dari arah
depan katup. Agar bisa lebih mengetahui perinsip kerja dioda,
mari kita bahas bersama.

Dioda bridge atau dikenal dengan sebutan jembatan dioda


adalah rangkaian yang digunakan untuk penyearah arus
( rectifier) dari AC ke DC. Untuk membuat dioda bridge dengan
benar maka perlu diketahui tipe dioda yang akan digunakan,
Elemen dioda berasal dari dua kata elektroda dan katoda. Diode
memiliki simbol khusus, yaitu anak panah yang memiliki garis
melintang pada ujungnya. Alasan dibuatnya symbol tersebut
adalah karena sesuai dengan prinsip kerja dari dioda. Anoda
( kaki positif = P) terdapat pada bagian pangkal dari anak panah
10

tersebut dan katoda ( kaki negative = N ).terdapat pada bagian


ujung dari anak panah.
Dioda bridge atau yang deikenal dengan dioda silicon yang
dirangkaikan menjadi suatu bridge dan dikemas menjadi satu
kesatuan komponen. Dioda bridge digunakan sebagia penyearah
pada power suplly. jembatan dioda adalah gabungan empat atau
lebih dioda yang membentuk sebuah jembatan konfigurasi yang
menyediakan polaritas output dan polaritas input ketika
digunakan dalam aplikasi yang paling umum konversi dari arus
bolak balik. Fungsi atau bagian utama dari jembatan dioda
adalah bahwa polaritas outputnya berbeda dengan polaritas
input. Sebutan lain dari rangkaian jembatan dioda banyak
disebut juga sebagai sircuit Gratez yang diambil dari nama leo
graetz seorang ilmuwan fisika.
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai
penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching),
stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya.
Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, di mana
berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET),
memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit
sumber listriknya.

Gambar Transistor

Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis


(B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu
terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus
11

dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu
pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor.
Transistor merupakan komponen yang sangat penting
dalam

dunia

elektronik

modern.

Dalam

rangkaian

analog,

transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian


analog

melingkupi

(stabilisator)

dan

pengeras
penguat

rangkaian digital,

suara,

sinyal

sumber

radio.

listrik

Dalam

transistor

stabil

rangkaiandigunakan

sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga


dapat

dirangkai

sedemikian

rupa

sehingga

berfungsi

sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian


lainnya.
Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada
dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau
transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masingmasing bekerja secara berbeda.
Transistor
konduksi

bipolar

utamanya

dinamakan

menggunakan

demikian
dua

karena

polaritas

kanal

pembawa

muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik.


Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan
pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini
dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk
mengatur aliran arus utama tersebut.
FET

(juga

dinamakan

transistor

unipolar)

hanya

menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole,


tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir
dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di
kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar di mana
daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan
dari daerah perbatasan ini dapat diubah dengan perubahan
tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal
konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk
penjelasan yang lebih lanjut.
12

Kapasitor adalah perangkat komponen elektronika yang


berfungsi untuk menyimpan muatan listrik dan terdiri dari dua
konduktor yang dipisahkan oleh bahan penyekat (dielektrik) pada
tiap konduktor atau yang disebut keping. Kapasitor biasanya
disebut dengan sebutan kondensator yang merupakan komponen
listrik dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan
muatan listrik.
Prinsip kerja kapasitor pada umunya hampir sama
dengan resistor yang juga termasuk ke dalam komponen pasif.
Komponen pasif adalah jenis komponen yang bekerja tanpa
memerlukan arus panjar. Kapasitor sendiri terdiri dari dua
lempeng logam (konduktor) yang dipisahkan oleh bahan
penyekat (isolator). Penyekat atau isolator banyak disebut
sebagai bahan zat dielektrik.
Zat dielektrik yang digunakan untuk menyekat kedua
komponen tersebut berguna untuk membedakan jenis-jenis
kapasitor. Di dunia ini terdapat beberapa kapasitor yang
menggunakan bahan dielektrik, antara lain kertas, mika, plastik
cairan dan masih banyak lagi bahan dielektrik lainnya. Dalam
rangkaian elektronika, kapasitor sangat diperlukan terutama
untuk mencegah loncatan bunga api listrik pada rangkaian yang
mengandung kumparan. Selain itu, kapasitor juga dapat
menyimpan muatan atau energi listrik dalam rangkaian, dapat
memilih panjang gelombang pada radio penerima dan sebagai
filter dalam catu daya (Power Supply).

Gambar Kapasitor Polar

13

Fungsi kapasitor dalam rangkaian elektronik sebagai


penyimpan arus atau tegangan listrik. Untuk arus DC, kapasitor
dapat berfungsi sebagai isulator (penahan arus listrik),
sedangkan untuk arus AC, kapasitor berfungsi sebagai konduktor
(melewatkan arus listrik). Dalam penerapannya, kapasitor
banyak di manfaatkan sebagai filter atau penyaring, perata
tegangan yang digunakan untuk mengubah AC ke DC,
pembangkit gelombang AC (Isolator) dan masih banyak lagi
penerapan lainnya.
Jenis-Jenis Kapasitor terbagi menjadi bermacam-macam.
Karena dibedakan berdasarkan polaritasnya, bahan pembuatan
dan ketetapan nilai kapasitor. Selain memiliki jenis yang banyak,
bentuk dari kapasitor juga bervariasi. Contohnya kapasitor kertas
yang besar kapasitasnya 0.1 F, kapasitor elektrolit yang besar
kapasitasnya 105 pF dan kapasitor variable yang besar
kapasitasnya bisa kita rubah hingga maksimum 500 pF.
Resistor merupakan komponen

elektronik yang

memiliki

dua pin dan didesain untuk mengatur tegangan listrik dan arus
listrik,

dengan

resistansi

tertentu

(tahanan)

dapat

memproduksi tegangan listrik di antara kedua pin, nilai tegangan


terhadap resistansi berbanding lurus dengan arus yang mengalir,
berdasarkan hukum Ohm:
Resistor

digunakan

sebagai

bagian

dari

rangkaian

elektronik dan sirkuit elektronik, dan merupakan salah satu


komponen yang paling sering digunakan. Resistor dapat dibuat
dari bermacam-macam komponen dan film, bahkan kawat
resistansi (kawat yang dibuat dari paduan resistivitas tinggi
seperti nikel-kromium).

14

Gambar Resistor

Karakteristik

utama

adalah resistansinya dan daya

dari

listrik yang

resistor

dapat

dihantarkan.

Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, derau listrik (noise),


dan induktansi.
Resistor

dapat

diintegrasikan

kedalam

sirkuit

hibrida

dan papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu. Ukuran dan letak
kaki bergantung pada desain sirkuit, kebutuhan daya resistor
harus cukup dan disesuaikan dengan kebutuhan arus rangkaian
agar tidak terbakar.
Resistor komposisi karbon terdiri dari sebuah unsur resistif
berbentuk tabung dengan kawat atau tutup logam pada kedua
ujungnya. Badan resistor dilindungi dengan cat atau plastik.
Resistor komposisi karbon lawas mempunyai badan yang tidak
terisolasi, kawat penghubung dililitkan disekitar ujung unsur
resistif dan kemudian disolder. Resistor yang sudah jadi dicat
dengan kode warna sesuai dengan nilai resistansinya.
Unsur resistif dibuat dari campuran serbuk karbon dan bahan
isolator (biasanya keramik). Resin digunakan untuk melekatkan
campuran. Resistansinya ditentukan oleh perbandingan dari
serbuk karbon dengan bahan isolator. Resistor komposisi karbon
sering digunakan sebelum tahun 1970-an, tetapi sekarang tidak
terlalu populer karena resistor jenis lain mempunyai karakteristik
yang

lebih

baik,

seperti

toleransi,
15

kemandirian

terhadap

tegangan (resistor komposisi karbon berubah resistansinya jika


dikenai

tegangan

lebih),

dan

kemandirian

terhadap

tekanan/regangan. Selain itu, jika resistor menjadi lembab, panas


solder dapat mengakibatkan perubahan resistansi dan resistor
jadi rusak.
Walaupun begitu, resistor ini sangat reliabel jika tidak pernah
diberikan tegangan lebih ataupun panas lebih.
Resistor ini masih diproduksi, tetapi relatif cukup mahal.
Resistansinya berkisar antara beberapa miliohm hingga 22
MOhm.
Resistor aksial biasanya menggunakan pola pita warna untuk
menunjukkan resistansi. Resistor pasang-permukaan ditandas
secara numerik jika cukup besar untuk dapat ditandai, biasanya
resistor ukuran kecil yang sekarang digunakan terlalu kecil untuk
dapat ditandai. Kemasan biasanya cokelat muda, cokelat, biru,
atau hijau, walaupun begitu warna lain juga mungkin, seperti
merah tua atau abu-abu.
Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi, dan
dicelupkan

ke

cat

untuk

menutupi

seluruh

badan

untuk

pengkodean warna. Warna kedua diberikan pada salah satu


ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna di tengah memberikan
digit ketiga. Aturannya adalah "badan, ujung, titik" memberikan
urutan dua digit resistansi dan pengali desimal. Toleransi
dasarnya adalah 20%. Resistor dengan toleransi yang lebih
rapat menggunakan warna perak (10%) atau emas (5%) pada
ujung lainnya.
Identifikasi empat pita adalah skema kode warna yang paling
sering digunakan. Ini terdiri dari empat pita warna yang dicetak
mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama

merupakan

informasi dua digit harga resistansi, pita ketiga merupakan faktor


pengali

(jumlah

resistansi)

dan

nol

yang

ditambahkan

pita

keempat
16

setelah

merupakan

dua

toleransi

digit
harga

resistansi.

Kadang-kadang

terdapat

pita

kelima

yang

menunjukkan koefisien suhu, tetapi ini harus dibedakan dengan


sistem lima warna sejati yang menggunakan tiga digit resistansi.
Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 10 4 =
560 k 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah pita pertama
berwarna hijau yang mempunyai harga 5, dan pita kedua
berwarna biru yang mempunyai harga 6, sehingga keduanya
dihitung sebagai 56. Pita ketiga brwarna kuning yang mempunyai
harga 104 yang menambahkan empat nol di belakang 56,
sedangkan pita keempat berwarna merah yang merupakan kode
untuk

toleransi

2%

memberikan

nilai

560.000

pada

keakuratan 2%.
Potensiometer adalah

resistor

tiga

terminal

dengan

sambungan geser yang membentuk pembagi tegangan dapat


disetel.[1] Jika hanya dua terminal yang digunakan (salah satu
terminal tetap dan terminal geser), potensiometer berperan
sebagai resistor variabel atau Rheostat. Potensiometer biasanya
digunakan

untuk

pengendali

mengendalikan

suara

pada

peranti

penguat.

elektronik

Potensiometer

seperti
yang

dioperasikan oleh suatu mekanisme dapat digunakan sebagai


transduser, misalnya sebagai sensor joystick.

1. Elemen resistif
2. Badan
3. Penyapu (wiper)
4. Sumbu
5. Sambungan tetap pertama
6. Sambungan penyapu
7. Cincin
8. Baut
9. Sambungan tetap kedua

17

Potensiometer jarang digunakan untuk mengendalikan daya


tinggi (lebih dari 1 Watt) secara langsung. Potensiometer
digunakan

untuk

menyetel

taraf

isyarat

analog

(misalnya

pengendali suara pada peranti audio), dan sebagai pengendali


masukan untuk sirkuit elektronik. Sebagai contoh, sebuah
peredup

lampu

menggunakan

potensiometer

untuk

menendalikan pensakelaran sebuah TRIAC, jadi secara tidak


langsung mengendalikan kecerahan lampu.
Potensiometer yang digunakan sebagai pengendali volume
kadang-kadang dilengkapi dengan sakelar yang terintegrasi,
sehingga potensiometer membuka sakelar saat penyapu berada
pada posisi terendah.

2.2 KOMPONEN UTAMA DAN PENDUKUNG CATU


DAYA

1. Trafo Penurun Tegangan

Trafo atau transformator merupakan komponen utama


dalam membuat rangkaian catu daya yang berfungsi untuk
mengubah tegangan listrik. Trafo dapat menaikkan dan
menurunkan
tegangan.
Berdasarkan
tegangan
yang
dikeluarkan dari belitan scundair dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Step up (penaik tegangan) apabila tegangan belitan
scundair yang kita butuhkan lebih tinggi dari tegangan
primair ( jala listrik).
b) Step down (penurun tegangan) apabila tegangan
belitan scundair yang kita butuhkan lebih rendah dari
tegangan primair (jala listrik).

18

Berdasarkan pemasangan gulungannya dikenal 2 (dua)


macam trafo yaitu:
a) Trafo tanpa center tap (CT)
b). Trafo dengan center tap (CT)

Fungsi dasar dari sebuah trafo step down tentu saja untuk
menurunkan tegangan listrik untuk menghasilkan tegangan
yang lebih kecil sesuai dengan kebutuhan proyek elektronika.
Meskipun fungsi dasar dari trafo step down hanya satu,
namun kegunaannya sangat banyak. Misalnya saja power
supply yang menggunakan trafo step down, kegunaannya
bisa dipakai hampir semua perangkat elektronika seperti
amplifie, radio, charger, booster antena televisi dan lain-lain.
Trafo step down memiliki jumlah kumparan sekunder yang
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kumparan
primernya. Sesuai dengan kontruksi dasar transformator,
trafo step down terdiri dari lilitan kumparan kawat email
dengan diameter tertentu yang dilapisi oleh kawat email agar
tumpukan lilitan kumparan tidak terhubung langsung satu
sama lain yang dapat mengakibatkan terjadinya hubung
singkat, baik itu pada kumparan primernya maupun pada
kumparan sekundernya.
Untuk ukuran trafo step down bervariasi tergantung arus
output yang dapat dikeluarkan oleh trafo tersebut. Semakin
besar arus yang dapat dikeluarkan oleh sebuah trafo step
down, maka dimensi trafo akan semakin besar pula, karena
selain diameter lilitan sekunder yang lebih besar yang
berbanding
lurus
dengan
kemampuan
arus
yang
dikeluarkannya, ukuran inti besi juga otomatis akan semakin
besar untuk dapat menopang gaya gerak listrik induksi
elektromagnet dari kumparan primer ke kumparan sekunder.
Ketika sebuah trafo step down dialiri oleh tegangan listrik
AC 220V (jaringan PLN) pada bagian primer, maka kumparan
primer yang telaah dikelilingi oleh inti besi akan timbul
elektromagnet , gaya elektromagnet ini akan muncul seiring
dengan perubahan garis gaya magnet yang ditimbulkan oleh
arus AC. Karena garis gaya magnet ini timbul lah gaya gerak
listrik pada kumparan sekunder trafo. Jumlah gaya gerak
listrik yang akan timbul pada kumparan sekunder tergantung
jumlah lilitan dan diameternya.
19

Pada perancangan rangkaian elektronika, sebuah trafo


step down harus didesain sesuai dengan kebutuhan beban,
ketika arus yang dibutuhkan oleh beban lebih besar dari arus
output yang dikeluarkan oleh trafo step down,maka hal ini
akan berbahaya dari komponen trafo step down itu sendiri,
selain dapat menimbulkan panas yang berlebihana pada
kumparan dan initi besinya, hal tersebut dapat menyebabkan
kerusakan trafo.
Oleh karena itulah, kebanyakan sebuah adaptor AC ke DC
yang memiliki kualitas baik biasanya dilengkapi dengan
rangkaian regulator tegangan dan proteksi arus terhadap
beban lebih, selain outputnya bebas dari tegangan ripple,
juga terlindungi dari arus beban yang lebih, karena ketika hal
itu terjadi, secara otomatis rangkaian proteksi akan bekerja
dan sumber catu daya terhadap beban akan terputus.

2. Dioda Rectifier (Penyearah)

Peranan rectifier dalam rangkaian catu daya adalah untuk


mengubah tegangan listrik AC yang berasal dari trafo step down atau trafo adaptor menjadi tegangan listrik arus searah
DC.

a) Penyearah Setengah Gelombang


Dalam komponen elektronika penyearah setengah
gelombang disebut juga Half Wave Rectifier.
b) Penyearah Gelombang Penuh
Dalam komponen elektronika penyearah gelombang
penuh disebut juga Full Wave Rectifier.

Dioda bridge atau dikenal dengan sebutan jembatan dioda


adalah rangkaian yang digunakan untuk penyearah arus
( rectifier) dari AC ke DC. Untuk membuat dioda
bridge dengan benar maka perlu diketahui tipe dioda yang
20

akan digunakan, Elemen dioda berasal dari dua kata


elektroda dan katoda. Diode memiliki simbol khusus, yaitu
anak panah yang memiliki garis melintang pada ujungnya.
Alasan dibuatnya symbol tersebut adalah karena sesuai
dengan prinsip kerja dari dioda. Anoda ( kaki positif = P)
terdapat pada bagian pangkal dari anak panah tersebut dan
katoda (kaki negative = N).terdapat pada bagian ujung dari
anak panah.
Dioda bridge atau yang deikenal dengan dioda silicon
yang dirangkaikan menjadi suatu bridge dan dikemas menjadi
satu kesatuan komponen. Dioda bridge digunakan sebagia
penyearah pada power suplly. jembatan dioda adalah
gabungan empat atau lebih dioda yang membentuk sebuah
jembatan konfigurasi yang menyediakan polaritas output dan
polaritas input ketika digunakan dalam aplikasi yang paling
umum konversi dari arus bolak balik. Fungsi atau bagian
utama dari jembatan dioda adalah bahwa polaritas outputnya
berbeda dengan polaritas input. Sebutan lain dari rangkaian
jembatan dioda banyak disebut juga sebagai sircuit Gratez
yang diambil dari nama leo graetz seorang ilmuwan fisika.

3. Filter (Penyaring)

Penyaring atau filter merupakan bagian yang terdiri dari


kapasitor yang berfungsi sebagai penyaring atau meratakan
tegangan listrik yang berasal dari rectifier. Selain
menggunakan filter juga menggunakan resistor sebagai
tahanan.
Kapasitor adalah perangkat komponen elektronika yang
berfungsi untuk menyimpan muatan listrik dan terdiri dari
dua konduktor yang dipisahkan oleh bahan penyekat
(dielektrik) pada tiap konduktor atau yang disebut
keping. Kapasitor biasanya
disebut
dengan
sebutan
kondensator yang merupakan komponen listrik dibuat
sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan muatan listrik.
21

Prinsip kerja kapasitor pada umunya hampir sama


dengan resistor yang juga termasuk ke dalam komponen
pasif. Komponen pasif adalah jenis komponen yang bekerja
tanpa memerlukan arus panjar. Kapasitor sendiri terdiri dari
dua lempeng logam (konduktor) yang dipisahkan oleh bahan
penyekat (isolator). Penyekat atau isolator banyak disebut
sebagai bahan zat dielektrik.
Resistor

digunakan

sebagai

bagian

dari

rangkaian

elektronik dan sirkuit elektronik, dan merupakan salah satu


komponen yang paling sering digunakan. Resistor dapat
dibuat dari bermacam-macam komponen dan film, bahkan
kawat resistansi (kawat yang dibuat dari paduan resistivitas
tinggi seperti nikel-kromium).

4. Stabilizer dan Regulator

Stabilizer dan regulator adalah bagian yang terdiri dari


komponen dioda zener, transistor, komponen IC atau
kombinasi dari ketiga komponen tersebut. Komponen ini
berfungsi sebagai penstabil dan pengatur tegangan
(regulator) yang berasal dari rangkaian penyaring.
Selain komponen utama dalam pembuatan rangkaian
catu daya juga menggunakan berbagai komponen pendukung
lainnya seperti sakelar, sekering, lampu indicator, voltmeter,
multimeter, PCB ( Printed Circuit Board) dan berbagai
komponen pendukung lainnya.

2.3 PRINSIP KERJA ALAT


22

1. Prinsip Kerja Catu Daya


Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus
searah DC (direct current) yang stabil agar dapat bekerja
dengan baik. Baterai atau accu adalah sumber catu daya DC
yang paling baik. Namun untuk aplikasi yang membutuhkan
catu daya lebih besar, sumber dari baterai tidak cukup.
Sumber catu daya yang besar adalah sumber bolak-balik AC
(alternating current) dari pembangkit tenaga listrik. Untuk itu
diperlukan suatu perangkat catu daya yang dapat mengubah
arus AC menjadi DC. Pada tulisan kali ini disajikan prinsip
rangkaian catu daya (power supply) linier mulai dari
rangkaian penyearah yang paling sederhana sampai pada
catu daya yang ter-regulasi.

2. Penyearah (Rectifier)

Prinsip penyearah (rectifier) yang paling sederhana


ditunjukkan pada gambar-1 berikut ini. Transformator (T1)
diperlukan untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala
listrik pada kumparan primernya menjadi tegangan AC yang
lebih kecil pada kumparan sekundernya.

Pada rangkaian ini, dioda (D1) berperan hanya untuk


merubah dari arus AC menjadi DC dan meneruskan tegangan
positif ke beban R1. Ini yang disebut dengan penyearah
setengah gelombang (half wave). Untuk mendapatkan
penyearah gelombang penuh (full wave) diperlukan
transformator dengan center tap (CT) seperti pada gambar-2.
23

Tegangan positif phasa yang pertama diteruskan oleh D1


sedangkan phasa yang berikutnya dilewatkan melalui D2 ke
beban R1 dengan CT transformator sebagai common ground..
Dengan demikian beban R1 mendapat suplai tegangan
gelombang penuh seperti gambar di atas. Untuk beberapa
aplikasi seperti misalnya untuk men-catu motor dc yang kecil
atau lampu pijar dc, bentuk tegangan seperti ini sudah cukup
memadai. Walaupun terlihat di sini tegangan ripple dari
kedua rangkaian di atas masih sangat besar.

Gambar 3 adalah rangkaian penyearah setengah


gelombang dengan filter kapasitor C yang paralel terhadap
beban R. Ternyata dengan filter ini bentuk gelombang
tegangan
keluarnya
bisa
menjadi
rata.
Gambar-4
menunjukkan bentuk keluaran tegangan DC dari rangkaian
penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor. Garis
b-c kira-kira adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu,
dimana pada keadaan ini arus untuk beban R1 dicatu oleh
tegangan kapasitor. Sebenarnya garis b-c bukanlah garis
lurus tetapi eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan
kapasitor.

24

Kemiringan kurva b-c tergantung dari besar arus (I) yang


mengalir ke beban R. Jika arus I = 0 (tidak ada beban) maka
kurva b-c akan membentuk garis horizontal. Namun jika
beban arus semakin besar, kemiringan kurva b-c akan
semakin tajam. Tegangan yang keluar akan berbentuk gigi
gergaji dengan tegangan ripple yang besarnya adalah :

Vr = VM -VL . (1)
dan tegangan dc ke beban adalah
Vdc = VM + Vr/2 .. (2)

Rangkaian penyearah yang baik adalah rangkaian yang


memiliki
tegangan ripple paling
kecil.
VL adalah
tegangan discharge atau pengosongan kapasitor C, sehingga
dapat ditulis :

VL = V M e

-T/RC

. (3)

Jika persamaan (3) disubsitusi ke rumus (1), maka


diperoleh :

Vr = VM (1 e

25

-T/RC

) (4)

Jika T << RC, dapat ditulis :

-T/RC

1 T/RC .. (5)

Sehingga jika ini disubsitusi ke rumus (4) dapat diperoleh


persamaan yang lebih sederhana :
Vr = VM(T/RC) . (6)

VM/R tidak lain adalah beban I, sehingga dengan ini


terlihat hubungan antara beban arus I dan nilai kapasitor C
terhadap tegangan ripple Vr. Perhitungan ini efektif untuk
mendapatkan nilai tengangan ripple yang diinginkan.

Vr = I T/C (7)
Rumus ini mengatakan, jika arus beban I semakin besar,
maka tegangan ripple akan semakin besar. Sebaliknya jika
kapasitansi C semakin besar, tegangan ripple akan semakin
kecil. Untuk penyederhanaan biasanya dianggap T=Tp, yaitu
periode satu gelombang sinus dari jala-jala listrik yang
frekuensinya 50Hz atau 60Hz. Jika frekuensi jala-jala listrik
50Hz, maka T = Tp = 1/f = 1/50 = 0.02 det. Ini berlaku untuk
penyearah
setengah
gelombang.
Untuk
penyearah
gelombang penuh, tentu saja fekuensi gelombangnya dua kali
lipat, sehingga T = 1/2 Tp = 0.01 det.
Penyearah gelombang penuh dengan filter C dapat
dibuat dengan menambahkan kapasitor pada rangkaian
gambar 2. Bisa juga dengan menggunakan transformator
yang tanpa CT, tetapi dengan merangkai 4 dioda seperti pada
gambar-5 berikut ini.

26

Sebagai contoh, anda mendisain rangkaian penyearah


gelombang penuh dari catu jala-jala listrik 220V/50Hz untuk
mensuplai beban sebesar 0.5 A. Berapa nilai kapasitor yang
diperlukan
sehingga
rangkaian
ini
memiliki
tegangan ripple yang tidak lebih dari 0.75 Vpp. Jika rumus (7)
dibolak-balik maka diperoleh.

C = I.T/Vr = (0.5) (0.01)/0.75 = 6600 uF.

Untuk kapasitor yang sebesar ini banyak tersedia tipe


elco yang memiliki polaritas dan tegangan kerja maksimum
tertentu. Tegangan kerja kapasitor yang digunakan harus
lebih besar dari tegangan keluaran catu daya. Anda
barangkalai sekarang paham mengapa rangkaian audio yang
anda buat mendengung, coba periksa kembali rangkaian
penyearah
catu
daya
yang
anda
buat,
apakah
teganganripple ini cukup mengganggu. Jika dipasaran tidak
tersedia kapasitor yang demikian besar, tentu bisa dengan
memparalel dua atau tiga buah kapasitor.

3. Voltage Regulator

Rangkaian penyearah
sudah cukup bagus
jika
tegangan ripple-nya kecil, namun ada masalah stabilitas. Jika
tegangan PLN naik/turun, maka tegangan outputnya juga
akan naik/turun. Seperti rangkaian penyearah di atas, jika
arus semakin besar ternyata tegangan dc keluarnya juga ikut
turun. Untuk beberapa aplikasi perubahan tegangan ini cukup
27

mengganggu, sehingga diperlukan komponen aktif yang


dapat meregulasi tegangan keluaran ini menjadi stabil.
Regulator Voltage berfungsi sebagai filter tegangan agar
sesuai dengan keinginan. Oleh karena itu biasanya dalam
rangkaian power supply maka IC Regulator tegangan ini
selalu dipakai untuk stabilnya outputan tegangan.
Berikut susunan kaki IC regulator tersebut.

Misalnya 7805 adalah regulator untuk mendapat


tegangan +5 volt, 7812 regulator tegangan +12 volt dan
seterusnya. Sedangkan seri 79XX misalnya adalah 7905 dan
7912 yang berturut-turut adalah regulator tegangan -5 dan
-12 volt.
Selain dari regulator tegangan tetap ada juga IC regulator
yang tegangannya dapat diatur. Prinsipnya sama dengan
regulator OP-amp yang dikemas dalam satu IC misalnya
LM317 untuk regulator variable positif dan LM337 untuk
regulator variable negatif. Bedanya resistor R1 dan R2 ada di
luar IC, sehingga tegangan keluaran dapat diatur melalui
resistor eksternal tersebut.
Rangkaian regulator yang paling sederhana ditunjukkan
pada gambar 6. Pada rangkaian ini, zener bekerja pada
daerah breakdown, sehingga menghasilkan tegangan output
yang sama dengan tegangan zener atau Vout = Vz. Namun
rangkaian ini hanya bermanfaat jika arus beban tidak lebih
dari 50mA.
28

Prinsip rangkaian catu daya yang seperti ini disebut shunt


regulator, salah satu ciri khasnya adalah komponen regulator
yang paralel dengan beban. Ciri lain dari shunt regulator
adalah, rentan terhadapshort-circuit. Perhatikan jika Vout
terhubung singkat (short-circuit) maka arusnya tetap I =
Vin/R1. Disamping regulator shunt, ada juga yang disebut
dengan regulator seri. Prinsip utama regulator seri seperti
rangkaian pada gambar 7 berikut ini. Pada rangkaian ini
tegangan keluarannya adalah :

Vout = VZ + VBE .. (8)

VBE adalah tegangan base-emitor dari transistor Q1 yang


besarnya antara 0.2 0.7 volt tergantung dari jenis transistor
yang digunakan. Dengan mengabaikan arus IB yang mengalir
pada base transistor, dapat dihitung besar tahanan R2 yang
diperlukan adalah :

R2 = (Vin Vz)/Iz (9)

Iz adalah arus minimum yang diperlukan oleh dioda zener


untuk mencapai tegangan breakdown zener tersebut. Besar
arus ini dapat diketahui dari datasheet yang besarnya lebih
kurang 20 mA.

29

Jika diperlukan catu arus yang lebih besar, tentu


perhitungan arus base IB pada rangkaian di atas tidak bisa
diabaikan lagi. Dimana seperti yang diketahui, besar arus IC
akan berbanding lurus terhadap arus IB atau dirumskan
dengan IC = bIB. Untuk keperluan itu, transistor Q1 yang
dipakai bisa diganti dengan tansistor darlington yang
biasanya memiliki nilai b yang cukup besar. Dengan
transistor darlington, arus base yang kecil bisa menghasilkan
arus IC yang lebih besar.
Teknik regulasi yang lebih baik lagi adalah dengan
menggunakan Op-Amp untuk men-drive transistor Q, seperti
pada rangkaian gambar 8. Dioda zener disini tidak langsung
memberi umpan ke transistor Q, melainkan sebagai tegangan
referensi bagi Op-Amp IC1. Umpan balik pada pin negatif Opamp adalah cuplikan dari tegangan keluar regulator, yaitu :

Vin(-) = (R2/(R1+R2)) Vout . (10)

Jika tegangan keluar Vout menaik, maka tegangan


Vin(-) juga akan menaik sampai tegangan ini sama dengan
tegangan referensi Vz. Demikian sebaliknya jika tegangan
keluar Vout menurun, misalnya karena suplai arus ke beban
meningkat, Op-amp akan menjaga kestabilan di titik referensi
Vz dengan memberi arus IB ke transistor Q1. Sehingga pada
setiap saat Op-amp menjaga kestabilan :

30

Vin(-) = Vz (11)

Dengan mengabaikan tegangan VBE transistor Q1 dan


mensubsitusi rumus (11) ke dalam rumus (10) maka
diperoleh hubungan matematis :

Vout = ( (R1+R2)/R2) Vz.. (12)

Pada rangkaian ini tegangan output dapat diatur dengan


mengatur besar R1 dan R2. Sekarang mestinya tidak perlu
susah payah lagi mencari op-amp, transistor dan komponen
lainnya untuk merealisasikan rangkaian regulator seperti di
atas. Karena rangkaian semacam ini sudah dikemas menjadi
satu IC regulator tegangan tetap. Saat ini sudah banyak
dikenal komponen seri 78XX sebagai regulator tegangan
tetap positif dan seri 79XX yang merupakan regulator untuk
tegangan tetap negatif. Bahkan komponen ini biasanya sudah
dilengkapi dengan pembatas arus (current limiter) dan juga
pembatas suhu (thermal shutdown). Komponen ini hanya tiga
pin dan dengan menambah beberapa komponen saja sudah
dapat menjadi rangkaian catu daya yang ter-regulasi dengan
baik.

31

Hanya saja perlu diketahui supaya rangkaian regulator


dengan IC tersebut bisa bekerja, tengangan input harus lebih
besar dari tegangan output regulatornya. Biasanya
perbedaan tegangan Vin terhadap Vout yang direkomendasikan
ada
di
dalam
datasheet
komponen
tersebut.
Pemakaian heatshink(aluminium pendingin) dianjurkan jika
komponen ini dipakai untuk men-catu arus yang besar. Di
dalam datasheet, komponen seperti ini maksimum bisa
dilewati arus mencapai 1 A.

2.4 ALAT DAN BAHAN


Komponen dasar yang diperlukan untuk membuat catu daya ini
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Solder
Timah
Bor
Papan PCB
Travo 5 Ampere
Dioda Bridge
Capasitor Polar 4700uF/50V
Capasitor Polar 10 uF/35V
IC regulator 7812, 7912, 7805, 7905, 317, 337
Resistor 0,1 ohm, 100 ohm, 270 ohm, 560 ohm, 27k ohm
LED warna merah
LED warna kuning
Transistor TIP 2955
Sekring 1 Ampere + soket
Potensiometer 5k
Kabel
32

2.5 LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN CATU DAYA

Setelah komponen tersebut ada, kita akan mulai merangkai


rangkaian Catu Daya tersebut. Kemudian akan diperlukan
gambar susunan rangkaian Catu Daya ini. Berikut adalah contoh
gambar susunan rangkaian Catu Daya.

Setelah memperoleh gambar rangkaian ini rangkailah


komponen sesuai dengan rangkaian diatas. Dalam merangkai
rangkaian ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama dalam memasang dioda (gunakan dioda brige 1
Ampere) dioda ini memiliki 4 buah kaki yang berisi simbul +, -,
dan 2 buah simbol ~.1 kaki yang berisi gambar ~ dihubungkan
dengan travo yang berisi angka 12V, dan kaki yang bergambar ~
yang lainnya dihubungkan dengan travo yang berisi tanda 0.
Kemudian kaki dioda yang bergambar + dihubungkan dengan
kaki + capasitor, dan kaki dioda yang berisi gambar -,
dihubungkan dengan kaki kapasitor.
Kemudian kaki + capasitor dihubungkan dengan kaki input
dari IC 7812 (IC ini berisi 3 kaki, untuk lebih jelasnya lihat data
Sheet yang disediakan di akhir pembahasan ini), dan kaki
kapasitor dihubungkan dengan kaki Ground/- dari IC 7812.
Setelah itu kaki ke tiga dari IC 7812 yang merupakan kaki
keuaran yang harus di hubungkan dengan kaki + kapasitor yang
ke 2, dan Ground dari IC 7812 dihubungkan dengan kaki dari
kapasitor ke 2.
Setelah itu pada kaki + kapasitor ke dipasangkan ke salah
satu kaki resistor 1k ohm dan kaki yang satunga dari resisitor ini
33

dihubungkan pada kaki + dari LED, kemudian kaki dari LED di


hubungkan pada kaki kapasitor ke 2.
Kemudian pada kaki + pada kapasitor ke 2 dipasangkan kabel
yang berisi jepit buaya warna merah, dan pada kaki kapasitor
ke 2 dipasangkan kaber yang berisi jepit buaya warna hitam.
Dan yang terakhir adalah memasang kaber AC yang sudah
berisi sekring pada travo. Cara pemasangannya sangat mudah
yaitu memasangkan salah satu bagian kabel AC ke travo yang
berisi tanda 220V dan bagian lain dari kabel AC dipasangkan
pada travo yang bertandakan 0 di sebelah tanda 220V.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.1

KESIMPULAN

Dari uraian makalah di atas maka dapatlah disimpulkan


bahwa catu daya ini akan sangat berguna untuk kepentingan
34

praktikum maupun kepentingan-kepentingan lain yang


menggunakan penurunan tegangan sebagai konsep penting
dalam penerapannya. Serta pembuatan catu daya ini
tentunya sangatlah penting untuk pengetahuan umum
kedepannya, dari semua ini tentunya teknik-teknik
pengeboran PCB, teknik penyolderan PCB dan perakitan
komponen-komponen akan selalu bermanfaat bagi teknik
elektronika ataupun teknik-teknik lain yang menggunakan
teknik dasar yang sama.
Untuk kesimpulan dari output alat itu sendiri tentunya
telah dapat dilihat dan diatur yang mana cukup mendekati
outputan yang diinginkan dalam modul. Beberapa inputan
tegangan yang cukup besar telah bisa diturunkan sehingga
menjadi tegangan yang dimaksud. Ini semua tentunya tidak
lepas dari rangkaian dan teknik perakitan yang kurang lebih
benar.
Juga komponen-komponen yang digunakan telah dapat
diketahui apa fungsi sebenarnya, yang mana sebelumnya dari
buta akan fungsi komponen hingga mengetahui seluruh
fungsi komponen yang digunakan dan sangat berpengaruh
dalam rangkaian yang telah dibuat. Maka dengan semua
pengetahuan yang telah didapat inilah, catu daya ini telah
dapat terselesaikan dengan cukup baik.

3.1.2

SARAN

Dari sisi praktikum tentunya ada beberapa hal yang perlu


diperbaiki maupun ditingkatkan, mulai dari alat-alat yang
sudah cukup lengkap berdasarkan modul yang digunakan.
Selanjutnya mungkin penambahan jam praktikum yang mana
sebelumnya hanya untuk sekedar perakitan alat ditsambah
mungkin menjadi perakitan alat mandiri, seperti inovasi yang
berdasarkan praktikum yang dipelajari.

3.2 DAFTAR PUSTAKA

35

http://goscience-go.blogspot.com/2011/12/cara-membuat-catudaya.html
http://aang-la.blogspot.com/2010/05/cara-membuat-catudaya.html
http://duniaelektronika.blogspot.com/2007/09/catu-daya.html
http://alfredbudiono.blogspot.com/2010/11/i.html
http://mia-andilolo.blogspot.com/2011/10/catu-daya.html
http://www.undiksha.ac.id/e-learning/staff/dsnmateri/4/2-240.pdf
http://wongwara.blogspot.com/2012/04/makalah-elektro.html

3.3 DAFTAR SIMBOL


V
A
u
F
m
k
C
Q

=
=
=
=
=
=
=
=

Volt
Ampere
Mikro
Farad
Mili
Kilo
Coulomb
Muatan

36