Anda di halaman 1dari 15

Trauma Laring

Wahyu Purbo Pangesti


10.2008.030
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat, Indonesia.
Email : purbopangesti@yahoo.com

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah.


Suara merupakan produk akhir akustik dari suatu sistem yang lancar, seimbang,
dinamis dan saling terkait, melibatkan respirasi, fonasi, dan resonansi. Tekanan udara
subglotis dari paru, yang diperkuat oleh otot-otot perut dan dada, dihadapkan pada plika
vokalis. Suara dihasilkan oleh pembukaan dan penutupan yang cepat dari pita suara, yang
dibuat bergetar oleh gabungan kerja antara tegangan otot dan perubahan tekanan udara
yang cepat. Tinggi nada terutama ditentukan oleh frekuensi getaran pita suara. 1 Bunyi
yang dihasilkan glotis diperbesar dan dilengkapi dengan kualitas yang khas (resonansi)
saat melalui jalur supraglotis, khususnya faring. Gangguan pada sistem ini dapat
menimbulkan gangguan suara.2
1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui etiologi,
epidemiologi, penatalaksanaan, prognosis, dan pencegahan dari penyakit-penyakit sistem
tenggorokan yang umumnya sering terjadi pada manusia dalam hal ini yaitu kasus
Trauma laring.

II. PEMBAHASAN
2.1. Anamnesis

Setiap pasien dengan suara parau yang menetap lebih dari 2 minggu tanpa adanya
infeksi saluran napas atas memerlukan pemeriksaan. Sangat penting untuk mengetahui
durasi dan karakter perubahan suara.
Riwayat merokok dan minum alkohol, dimana dapat mengiritasi mukosa mulut dan
laring dan beresiko kanker kepala leher
Riwayat pekerjaan, pola/ tipe pemakaian suara seperti menyanyi berteriak
Riwayat penyalahgunaan suara (voice abuse)
Keluhan yang berhubungan meliputi nyeri, disfagia, batuk, susah bernapas
Keluhan refluks gastroesofageal seperti merasakan asam di mulut pada pagi hari
Penyakit sinonasal (rhinitis alergi atau sinusitis kronik)
Riwayat trauma atau pembedahan

2.2. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
Pemeriksaan laringoskopi
Untuk mengidentifikasi setiap lesi dari pita suara seperti kanker, singers node, polip
tuberkulosis atau sifilis. Selain itu dapat menilai adanya paralisis pita suara, yang
berhubungan dengan kanker paru, aneurisma aorta dan lain-lain.2,3,4
2.3. Pemeriksaan Penunjang
Laringoskopi fibreoptik.
Stroboskopi (videolaryngostroboscopy)
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan gambaran dari pergerakan laring
Pemeriksaan untuk mengukur produksi suara seperti amplitudo, range, pitch dan
efisiensi aerodinamik
Pemeriksaan darah
Meliputi hitung jenis dan LED, fungsi tiroid, nilai C1 esterase inhibitor untuk
pembengkakan pita suara dan diduga angioedema, serta pemeriksaan reseptor asetilkolin
untuk suara parau yang diduga disebabkan miastenia gravis.
Ct scan dan MRI jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologis
USG tiroid untuk mendeteksi kanker tiroid yang menyebabkan paralisis pita suara1,2.

2.4. Diagnosa Kerja


Trauma laring dapat diklasifikasikan menjadi trauma inhalasi, trauma intubasi,
trauma tajam, trauma tumpul dan penyebab lainnya, seperti iatrogenic injuries, electrical
injuries, caustic injuries dan lain-lain. Tujuan utama penanganan adalah menjaga jalan
napas tetap adekuat. Penatalaksanaan trauma laringotrakea dapat secara konservatif
maupun pembedahan. Morbiditas dan mortalitas akibat trauma ini masih cukup tinggi,
namun dengan diagnosis yang cepat dan tatalaksana yang tepat akan memberikan hasil
yang baik.4
2.5. Diagnosa Banding
2.5.1. Sumbatan(Obstruksi) Laring
Obstruksi laring adalah keadaan tersumbatnya laring yang dapat disebabkan oleh
radang, benda asing (korpus alienum), trauma, tumor baik tumor jinak ataupun ganas,
alergi (edema angioneurotik) dan kelumpuhan nervus rekuren bilateral.2,5
Obstruksi jalan napas yang jelas di laringotrakea sangat berbeda dengan penyakit
paru obstruktif menahun. Obstruksi laringotrakea ditandai dengan meningakatnya usaha
ventilasi untuk mempertahankan batas normal ventilasi alveolus sampai terjadi kelelahan.
Pada pasien yang lelah, kematian terjadi dalam beberapa menit atau jam setelah usaha
ventilasi maksimal tidak dapat mempertahankan ventilasi alveolus yang normal.2,3
2.5.2. Kelumpuhan Laring
Radang laring dapat akut atau kronik. Radang akut biasanya disertai gejala lain seperti
demam, malaise, nyeri menelan atau nyeri bicara, batuk, disamping suara parau. Kadangkadang dapat terjadi sumbatan laring dengan gejala stridor serta cekungan di epigastrium,
sela iga dan sekitar klavikula. Radang kronik tidak spesifik, dapat disebabkan oleh
sinusitis kronik atau bronkitis kronik atau karena penggunaan suara sperti berteriak-teriak
atau biasa bicara keras. Radang kronik spesifik misalnya tuberkulosa dan lues. Gejala
selain suara parau, terdapat juga gejala penyakit penyebab lain atau penyakit yang
menyertainya.1,4,6
2.6. Etiologi

Trauma laringotrakea disebabkan oleh trauma tumpul, trauma tajam, tembak,


trauma inhalasi, trauma intubasi, aspirasi benda asing maupun iatrogenik. 3,4
2.7. Epidemiologi
Angka kejadian kasus trauma laringotrakea dilaporkan bervariasi namun
cenderung meningkat. Trauma laringotrakea merupakan kasus yang jarang dan 80%
kasus terjadi pada 2,5 cm diatas carina.
Dalam suatu studi population based oleh Jewett dkk, insiden trauma laringotrakea
adalah 1:137.000.11 Schaefer melaporkan insiden trauma laringotrakea (TLT) adalah 1
dari 30.000 kasus trauma tumpul yang datang ke UGD. Bent dkk melaporkan 1 kasus
TLT dari 5000 kasus trauma tumpul dan tajam yang datang ke UGD. Gussack dkk
melaporkan insidennya < 1% dari semua kasus trauma. Sabina dkk melaporkan 23 kasus
TLT selama 1992-1998, 12 kasus cedera laring, 8 kasus cedera trakea dan 3 kasus
mengenai keduanya. Sembilanbelas dari 23 kasus akibat trauma tajam (82,6%), 4 kasus
akibat trauma tumpul.11 Hal ini sesuai dengan penemuan dari Lee bahwa insiden trauma
laringotrakea berkisar 2-4 kasus/tahun. Shelly dkk, mendapatkan 65 kasus trauma
laringotrakea dari 700 kasus trauma leher dalam kurun waktu 27 tahun (1947-1974).
Sebelas dari 65 kasus tersebut (1,6%) mengalami trauma tumpul dan 54 sisanya (7,6%)
mengalami trauma tembus. TLT lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada wanita.
Symbas melaporkan perbandingannya adalah 5:1, dan lebih sering ditemukan pada usia
produktif (19-40 tahun). Kemungkinan hal tersebut disebabkan karena laki-laki lebih
tinggi mobilitasnya dibandingkan dengan wanita.6
2.8. Patofisiologi
Trauma laring dapat disebabkan oleh trauma tumpul, trauma tajam, tembak, trauma
inhalasi, aspirasi benda asing maupun iatrogenik. Insiden trauma laring akibat trauma
tumpul semakin menurun karena perkembangan yang maju pada sistem pengaman
kendaraan (automobile safety). Sementara itu angka kejahatan/kekerasan semakin
meningkat sehingga persentase kejadian trauma tajam/tembus semakin meningkat. Pada
trauma tumpul dan tembak kerusakan jaringan yang terjadi lebih berat dibanding trauma
tajam.1,2,3
Monson membagi daerah leher menjadi 3 zona pada trauma penetrasi atau trauma
tajam terutama berdasarkan trauma terhadap pembuluh darahnya, yaitu sebagai berikut:

Zona I adalah daerah dari kartilago krikoid sampai klavikula. Zona ini berisi
trakea dan esofagus bagian inferior, pembuluh darah trunkus brakiosefalika, arteri
subklavia, arteri karotis komunis, trunkus tiroservikal dan vena-venanya, duktus
torasikus, kelenjar tiroid dan medula spinalis.
Zona II adalah daerah dari kartilago krikoid sampai angulus mandibula. Zona ini
berisi arteri karotis komunis, arteri karotis eksterna dan interna, vena jugularis
interna, laring, hipofaring, nervus X, XI, XII, dan medula spinalis.
Zona III adalah daerah dari angulus mandibula sampai basis kranii yang berisi
arteri karotis, arteri vertebralis, vena jugularis interna, faring, nervus kranialis dan
medula spinalis.1,3
Mekanisme dari cidera yang timbul adalah refleksi dari jenis penyebabnya. Pada
setiap cidera yang timbul akibat trauma laring seringkali disertai kelainan pada tulang,
secara khusus, dapat terjadi dislokasi krikotiroid dan krikoaritenoid.2
1) Trauma Inhalasi
Inhalasi uap yang sangat panas, gas atau asap yang berbahaya akan cenderung
menciderai laring dan trakea servikal dan jarang merusak saluran nafas bawah. Daerah
yang terkena akan menjadi nekrosis, membentuk jaringan parut yang menyebabkan defek
stenosis pada daerah yang terkena.1,2
2) Trauma Tumpul
Trauma tumpul pada saluran nafas bagian atas dan dada paling sering disebabkan
oleh hantaman langsung, trauma akibat fleksi/ekstensi hebat, atau trauma benturan pada
dada. Hiperekstensi mengakibatkan traksi laring yang kemudian membentur kemudi,
handle bars atau dashboard. Trauma tumpul lebih sering disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor dimana korban terhimpit di antara jok mobil dan setir atau
dikeluarkan dari kendaraan dan terhimpit di antara kepingan kendaraan yang mengalami
kecelakaan.1,2
Hantaman langsung paling sering menyebabkan trauma pada tulang rawan laring,
sedangkan trauma fleksi/ekstensi lebih sering berhubungan dengan robekan trakea atau
laring. Kerusakan trakea akibat trauma benturan terjadi karena trakea tertekan di antara
manubrium dan kolumna vertebralis. Trauma tumpul pada dada dapat menyebabkan

robekan vertikal pada trakea pars membranosa atau bronkus, biasanya 2,5 cm dari
karina.2,3

Gambar 2.1. Mekanisme trauma tumpul1


Penyebab lain adalah trauma tak langsung akibat akselerasi-deselerasi. Pada
trauma akselerasi-deselerasi dengan posisi glotis menutup juga akan mengakibatkan
tekanan intraluminer yang meninggi sehingga dapat menyebabkan robekan pada bagian
membran trakea. Robekan ini terjadi akibat diameter transversal yang bertambah secara
mendadak. Dapat juga terjadi akibat robekan diantara cincin trakea dari os krikoid sampai
karina akibat tarikan paru yang mendadak.1,2,3
3) Trauma Tajam
Trauma laring sering juga disebabkan karena trauma tajam (5-15%) yang paling
banyak akibat perkelahian di tempat rawan kejahatan. Senjata yang dipakai adalah belati,
pisau clurit, pisau lipat, golok maupun senjata berpeluru. Angka kejadian trauma tajam
semakin meningkat dan penyebab utamanya relatif lebih banyak oleh trauma tembus
peluru dibanding trauma tusuk.1,3
Meskipun trauma tembus dapat mengenai bagian manapun dari saluran nafas,
trakea merupakan struktur yang paling sering mengalami trauma akibat luka tusukan.
Laring yang mengalami trauma kira-kira pada sepertiga saluran nafas bagian atas, dan
sisa dua pertiga bagian lagi adalah trakea pars servikalis. Kematian pasien dengan trauma
tembus saluran nafas ini biasanya disebabkan oleh trauma vaskular dan jarang akibat
trauma saluran nafas itu sendiri.1,3
4) Penyebab Lain
Penyebab lain trauma laring adalah tentament suicide pada pasien dengan
gangguan kejiwaan atau pada pasien dengan stress berat. Trauma laring juga dapat

diakibatkan oleh intubasi karena trauma langsung saat pemasangan atau pun karena balon
yang menekan mukosa terlalu lama sehingga menjadi nekrosis. Trauma sekunder akibat
intubasi umumnya karena inflasi balon yang berlebihan walaupun menggunakan cuff
volume besar bertekanan rendah. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi pada kirakira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat trakeostomi.1,2
Cidera yang disebabkan oleh bahan-bahan kaustik seringkali didapatkan pada
kelompok usia anak-anak dan biasanya akibat kecerobohan mereka dalam menggunakan
benda-benda berbahaya di rumah sebagai alat permainan. Bila didapatkan pada usia
dewasa, biasanya ditemukan pada kasus-kasus percobaan bunuh diri dengan menelan
larutan alkali ataupun hidrokarbon.1,2

2.9. Manifestasi Klinis


Pada trauma laring, gejala dan tanda klinis yang biasanya didapatkan adalah sesak nafas.
Batuk, batuk darah, emfisema subkutis (pada leher, kepala, dada), sianosis, gangguan
suara juga merupakan tanda dan gejala klinis yang mengarah ke perlukaan jalan nafas.
Tanda lain yang dapat ditemukan pada pasien dengan trauma laring adalah adanya
kebocoran udara atau suara mendesis pada tempat trauma. Pada trauma tembus,
kebocoran tersebut dapat dilihat langsung di tempat luka, sedangkan pada trauma tumpul
kadang dapat terlihat kulit leher yang mengembang pada saat batuk.1,3
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan jejas (hematom/abrasi) akibat hantaman
benda tumpul, jejas berupa garis yang menunjukkan bekas jeratan, luka dan penonjolan
tulang, hilangnya tonjolan kartilago tiroid, krepitasi, diskontinuitas, nyeri tekan pada
daerah laring, emfisema subkutis maupun emfisema mediastinum jika cidera lebih ke
distal.2
Pada trauma trakea tidak ada pembagian beratnya cidera yang menentukan
indikasi operasi. Setiap trauma trakea dengan salah satu gejala atau tanda klinis walaupun
ringan memerlukan eksplorasi. Berbeda dengan trauma laring yang dapat dibagi menjadi
5 grup, sebagai berikut :
Grup I

: Trauma endolaringeal ringan tanpa fraktur

Grup II

: Edema sedang, hematoma dengan laserasi mukosa, tidak ada expose


tulang rawan, fraktur nondisplaced.

Grup III : Edema

berat robekan mukosa

dengan expose tulang rawan.

Fraktur displaced pada CT Scan.


Grup IV : Perlukaan berat endolaringeal, bentuk laring yang tidak beraturan.
Grup V

: Terputusnya laring komplit.1,2

2.10. Penatalaksanaan
Kewaspadaan terhadap trauma laring pada trauma leher oleh tenaga medis atau
paramedis harus dipertajam agar tidak ada kasus yang terlewatkan. Bila ada trauma
laring, luka atau jejas pada leher harus diperiksa dan diobservasi dengan seksama. Pada
prinsipnya, penatalaksanaan trauma harus sistematis dimulai dari penilaian dan
pengamanan jalan nafas agar tetap adekuat.5,6
1) Manajemen Jalan Nafas
a. Trakeostomi
Trakeostomi adalah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea
untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan pertukaran udara pernapasan. Trakeostomi
diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas, melindungi trakea
serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus, serta
penanganan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi.5,6
Penatalaksanaan luka terbuka pada laring terutama ditujukan pada perbaikan
saluran nafas dan mencegah aspirasi darah ke paru. Tindakan segera yang harus
dilakukan adalah trakeostomi dengan menggunakan kanul trakea yang memakai balon,
sehingga tidak terjadi aspirasi darah. Pada trauma tumpul, tindakan pengamanan jalan
nafas dengan trakeostomi lebih cenderung dipilih dibanding dengan orotracheal tube
maupun krikotiroidotomi. Tindakan trakeostomi akan menurunkan jumlah udara residu
anatomis paru hingga 50 persennya. Sehingga, pasien hanya memerlukan sedikit tenaga
yang dibutuhkan untuk bernafas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Menurut lamanya
pemasangan, trakeostomi dibagi menjadi:
1. Tracheal stoma post laryngectomy: merupakan trakeostomi permanen.
Kartilage trakea diarahkan ke permukaan kulit dan dilekatkan pada leher.

Rigiditas cartilage mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga tidak


diperlukan trakeostomy tube (canule).
2. Tracheal stoma without laryngectomy: merupakan trakeostomi temporer. Trakea
dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi. Digunakan
trakeostomi tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal (terutama pada
penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama pelaksanaan MRI
scanning).1,5,6
Setelah trakeostomi barulah dilakukan eksplorasi untuk mencari dan mengikat
pembuluh darah yang cidera serta menjahit mukosa dan tulang rawan yang robek.
Indikasi untuk melakukan eksplorasi ialah :
a. Sumbatan jalan nafas yang memerlukan trakeostomi.
b. Emfisema subkutis yang progresif.
c. Laserasi mukosa yang luas.
d. Tulang rawan krikoid yang terbuka.
e. Paralisis bilateral pita suara.5
b. Montgomery T-Tube
Montgomery T-tube merupakan suatu alat yang dipergunakan khususnya dalam
pembedahan di bagian kepala dan leher. T-tube awalnya diperkenalkan pada pertengahan
tahun

1960

dan

digunakan

untuk

menyokong

trakea

setelah

tindakan

laryngotracheoplasty. Alat ini memiliki 2 cabang, cabang utama yang lebih panjang
dimasukkan dalam trakea, sedangkan cabang yang lebih pendek diproyeksi melalui stoma
trakeostomi. Saat ini, T-tube dipergunakan pada pasien dengan cidera trakeal akut,
penyokong trakea pasca rekonstruksi, maupun sebagai pengganti trakea servikal yang
tidak dapat direkonstruksi. Diameter eksternal T-tube berukuran mulai dari 4,5 16 mm,
sedangkan diameter internal dan ketebalannya bervariasi. Alat ini terbuat dari bahan
silicon sehingga dapat mengurangi pembentukan mucus yang berlebihan.7,8,9

Gambar 2.2. (A) Potongan gambar sagital lokasi pemasagan T-tube.


(B) Montgomery T-tube.7
Setelah pemasangan dilaksanakan, edukasi terhadap pasien dan keluarga harus
diperhatikan terutama mengenai perawatan T-tube untuk mencegah terjadinya
komplikasi. Salah satu langkah sederhana dalam perawatan T-tube adalah dengan
melakukan irigasi mempergunakan 2-3 ml larutan normal saline 2-3 kali sehari serta
menjaga bagian eksternal dari T-tube tetap bersih. Nebulizer dengan acetylcysteine 10%
atau albuterol dapat diberikan 3 kali sehari untuk membantu menekan produksi sekret
serta membantu mengencerkan sekret yang sudah terbentuk sehingga lebih mudah
dikeluarkan. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan pemasangan T-tube
dibandingkan dengan trakeostomi dapat dilihat pada table berikut: 7

Tabel 2.1 Perbedaan T-tube dan trakeostomi.3


Penggunaan Montgomery T-tube masih terbilang jarang. Bahkan tidak sedikit
anestesiologis kesulitan dalam hal manajemen general anestesi pada pasien dengan

operasi laring yang mempergunakan T-tube. Metode standar dalam pemasangan T-tube
adalah dengan mempergunakan curved haemostatic forceps dan diletakkan intratrakeal
melalui trakeostomi. Kesalahan dalam meletakkan atau memasang T-tube dapat
mengakibatkan hilangnya kontrol terhadap jalan nafas pasien. Pada kasus tersebut, T-tube
harus dilepaskan dan dipasang ulang dengan seksama di posisi yang tepat.6,7
c. Laryngeal Mask Airway (LMA)
Laryngeal mask airway (LMA) atau dikenal pula dengan sebutan sungkup laring,
merupakan suatu alat untuk membantu jalan napas yang terdiri atas pipa besar berlubang
dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat dikembangkempiskan seperti
balon pada pipa trakhea. Tangkai pipa LMA dapat berupa pipa keras dari polivinil atau
lembek dengan spiral untuk menjaga supaya lubang tetap paten. Terdapat 2 jenis LMA
yang dapat dipergunakan, yaitu:
1.

LMA standar dengan satu pipa napas.

2.

LMA dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan lainnya pipa tambahan
yang ujung distalnya berhubungan dengan esofagus.3

Gambar 2.3 Laryngeal mask airway (LMA)3


LMA dipergunakan selama operasi trauma laring yang sedang berlangsung untuk
menjaga jalan napas pasien tetap adekuat. LMA dikenal karena kemudahan dalam
pemasangannya

serta

kemungkinan

terjadinya

trauma

trakea

sangat

rendah.

Dibandingkan dengan endotrakeal tube (ETT), LMA memiliki beberapa keuntungan,


yaitu dapat mengurangi insiden spasme laring, batuk-batuk, serta suara serak pasca
operasi.3

Pemilihan ukuran LMA sangat penting untuk diperhatikan mengingat perbedaan


dari sisi anatomis pada pasien anak-anak dan dewasa.
Berikut adalah tabel pemilihan ukuran LMA berdasarkan usia dan estimasi berat badan:
Tabel 1. Pemilihan ukuran LMA.
Ukuran Usia
Berat badan (kg)
1.0
Neonatus
<3
1.3
Bayi
3 10
2.0
Anak kecil
10-20
2.3
Anak
20 30
3.0
Dewasa kecil
30 40
4.0
Dewasa normal
40 60
5.0
Dewasa besar
> 60
Penggunaan LMA sebelum pemasangan Montgomery T-tube dapat menjadi solusi
bagi anestesiologis untuk tetap menjaga jalan nafas pasien tetap adekuat selama proses
pemasangan berlangsung. Selain itu, manajemen jalan nafas dengan LMA tidak
mengganggu proses rekonstruksi. Sehingga, meskipun dalam proses pemasangan T-tube
terjadi kesulitan ataupun keterlambatan (delay), keselamatan pasien tidak terancam.1,10
2). Terapi Bedah
Informasi yang diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik, prosedur
endoskopik dan radiologi memberikan bantuan yang sangat penting dalam merencanakan
sebuah eksplorasi daerah leher. Bila jalan nafas mengalami sumbatan, trakeostomi harus
dilakukan dalam keadaan pasien sadar dan menggunakan anastesi lokal dengan efek
sedasi ringan. Biasanya, insisi trakeal dibuat pada posisi di bawah trakeostomi standar.
Insisi di bawah cincin ketiga dan keempat lebih disukai untuk menolong pasien dengan
trauma laring. Karena pada posisi ini, membantu mencegah trauma lebih lanjut yang
mungkin mengenai laring.1,2
Eksplorasi dimulai dengan insisi horizontal pada lipatan kulit setinggi membran
krikotiroid. Sebuah flap subplatisma kemudian diangkat ke arah tulang hyoid di superior
dan ke krikoid di inferior. Perluasan dari insisi akan membantu memperlihatkan cidera
pada saraf, vaskular dan organ isceral. Otot-otot dipisahkan di miline dan retraksi ke
lateral agar tulang dapat di lihat dengan baik. Pada titik ini, dapat di identifikasi dan
dibuang jaringan sisa fraktur pada kartilago laring yang terlihat.2,3

Laring dapat dimasuki tergantung dari lokasi cideranya. Bisa dengan midline
tirotomi, ataukah melalui kartilago tiroid yakni 2-3 mm dari takik tiroid. Bila kartilago
tiroid telah terbuka, mukosa endolaring kemudian dipotong tajam. Pemeriksaan
endolaring kemudian dapat dilakukan secara menyeluruh. Aritenoid dipalpasi untuk
mengevaluasi posisi dan mobilitasnya. Kord vokalis di perbaiki menggunakan benang
absorbable 5-0 atau 6-0. Menyambung kembali kommissura anterior sangat penting
untuk mengembalikan kualitas suara.1,2,3
Perhatian yang seksama harus dicurahkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki
laserasi mukosa. Kartilago yang terbuka harus ditutup untuk meminimalisir fibrosis dan
mencegah jaringan granulasi. Bila tidak dapat ditutup, maka dapat dipergunakan kulit
atau membran mukosa sebagai graft.1
3).

Terapi Medikamentosa Lainnya


Pemberian kortikosteroid masih kontroversial namun masih cukup efektif dan

harus diberikan secepatnya dalam beberapa jam setelah trauma. Pemberian kortikosteroid
mempunyai tujuan mencegah atau mengurangi kemungkinan timbulnya edema laring
pada fase akut. Jika edema jalan nafas cukup berat, dapat diberikan dosis 1-20mg/kg BB
bolus intravena. Pemberian kortikosteroid juga bertujuan untuk mengurangi atau
mencegah penambahan edema yang terjadi akibat manipulasi saat operasi.1,2,3
Penggunaan antibiotik tidak begitu penting pada trauma ringan dimana fraktur
kartilago dan robekan mukosa tidak dapat diidentifikasi. Namun, begitu robekan mukosa
dapat divisualisasi, antibiotik sistemik harus digunakan untuk mengurangi resiko infeksi
lokal dan perikondritis yang bisa memperlambat penyembuhan dan menyebabkan
stenosis jalan nafas. Penggunaan obat-obatan anti refluks sepeti antagonis reseptor H-2
dan PPI, dapat membantu mengurangi jaringan granulasi dan stenosis trakea.1,2
2.11. Komplikasi
Komplikasi trauma laring dapat terjadi apabila penatalaksanaanya kurang tepat dan
cepat. Komplikasi yang dapat timbul antara lain:
1. Terbentuknya jaringan parut dan terjadinya stenosis laring
2. Paralisis nervus rekuren
3. Infeksi luka dengan akibat terjadinya perikondritis, jaringan parut, dan
stenosis laring dan trakea.2

2.12. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut 2,5
- Menghindari dan menghentikan merokok ataupun merokok pasif
- Pasien disarankan juga untuk minum yang banyak untuk mengencerkan mucus.
- Menghindari agen/bahan yang menimbulkan dehidrasi seperti alkohol, kopi
- Mengontrol refluks gastroesofagus
- Menggunakan suara dengan tepat, tidak bersuara terlalu kuat.
2.13. Prognosis
Prognosisnya baik apabila penanganannya segera di lakukan.
III. Kesimpulan
Trauma laring

jarang ditemukan namun cenderung meningkat dengan penderita

terbanyak adalah laki-laki dewasa usia produktif. Diagnosis relatif mudah ditegakkan dan
merupakan keadaan akut yang memerlukan tindakan segera. Mortalitas dan insiden
komplikasi lambat masih tinggi dan berhubungan dengan diagnosis dan tatalaksanan
definitif yang terlambat.6

Daftar Pustaka
1. Hermani B, Kartosoediro S. Suara Parau. Dalam: Soepardi EA, Iskandar HN
(editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher
Edisi ke VI. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2003. 190-94
2. Cohen JI. Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam: Adam GL, Boies LR, Higler PA.
BOIES, Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Alih Bahasa: Wijaya C. BOIES
Fundamental of Otolaryngology. Jakarta: Penerbit EGC; 1997. 370-371
3. Wang RC, Miller RH. Hoarseness and Vocal Cord Paralysis. In: Calhoun KH.
Head and Neck Surgery-Otolaryngoloy Volume II 3rd Ed. USA: Lippincott
Williams & Wilkins; 607, 609
4. Iskandar HN. Pemakaian Mikroskop Pada Diagnostik dan Bedah Laring. Cermin
Dunia Kedokteran 1987; 43: 21-22.

5. Anonymous. Fisiologi pengunyahan, penelanan dan bicara [online]. Available


from: http://www.scribd.com
6. Banovetz JD. Gangguan Laring Jinak. Dalam: Adam GL, Boies LR, Higler PA.
BOIES, Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6. Alih Bahasa: Wijaya C. BOIES
Fundamental of Otolaryngology.Jakarta: Penerbit EGC; 1997. 387, 3
7. American

Academy

of

Otolaryngology-Head

and

Neck

Surgery.

http://www.entnet.org/HealthInformation/hoarseness.cfm, diunuduh pada tanggal


24 maret 2013.

Anda mungkin juga menyukai