Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

CATETHER VENA CENTRAL (CVC)

Pembimbing :
dr.Guntur Muhammad T, Sp.An

Disusun oleh :
Sureza Larke Wajendra 030.09.244
Della Asrivia B 030.10.071
Widya Mutiara Sherly 030.11.308

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA


KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU ANASTESI
RSUD SOESELO SLAWI
PERIODE 7 MARET 2016 9 APRIL 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat, rahmat, dan petunjukNya, penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Catether Vena Central (CVC).
Referat ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepanitraan klinik di bagian Ilmu
Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah DR. Soeselo Slawi. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.Goentur Muhammad T, Sp.An
selaku dokter penguji dan pembimbing, serta rekan-rekan kepanitraan klinik, Sureza Larke
Wajendra dan Della Asrivia yang ikut membantu memberi dorongan secara moril sehingga
referat ini dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam bidang
Ilmu Anestesi khususnya dan bidang kedokteran pada umumnya.
Slawi, Maret 2016

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

Referat dengan judul :


Catether Vena Central (CVC)
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Anastesi
RSUD Soeselo Slawi periode 7 Maret 2016 9 April 2016

Disusun oleh :
Sureza Larke Wajendra 030.09.244
Della Asrivia B 030.10.071
Widya Mutiara Sherly 030.11.308

Telah diterima dan disetujui oleh dr.Guntur Muhammad T, Sp.An selaku dokter pembimbing
Anastesi RSUD dr.Soeselo Slawi pada tanggal 4 April 2016

Slawi, Maret 2016


Mengetahui

dr.Guntur Muhammad T, Sp.An

DAFTAR ISI
Kata Pengantari
Lembar Pengesahan

ii

Daftar Isi1
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tekanan Vena Sentral
Kateter vena sentral
Daftar Pustaka

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
Tekanan Vena Sentral
Definisi

Tekanan intravaskular didalam vena cava torakal. Tekanan vena sentral menggambarkan
banyaknya darah yang kembali ke dalam jantung dan kemampuan jantung untuk memompa
darah kedalam sistem arterial. Perkiraan yang baik dari tekanan atrium kanan, yang mana
merupakan faktor yang menentukan dari volume akhir diastolik ventrikel kanan.
Tekanan vena sentral menggambarkan keseimbangan antara volume intravaskular,
venous capacitance, dan fungsi ventrikel kanan. Pengukuran CVP sering digunakan sebagai
panduan untuk menentukan status volume pasien dan kebutuhan cairan dan untuk memeriksa
adanya tamponade.
Pengukuran CVP / RJP (Right Arterial Pressure) dengan menggunakan manometer
Darah dari vena sistemik masuk ke atrium kanan sehingga pengukuran tekanan pada
atrium kanan dapat dilakukan. CVP ditentukan oleh fungsi dari sebelah kanan jantung dan
tekanan darah vena di vena cava. Dalam situasi normal, peningkatan venous return menyebabkan
peningkatan cardiac output tanpa perubahan tekanan vena. Kalau dilakukan dengan benar,
respon CVP pada pemberian cairan membantu mengevaluasi penggantian volume. CVP
merupakan prosedur yang dapat memberikan gambaran tentang volume intravaskuler, tegangan
vena-vena besar serta fungsi jantung kanan.
Namun bila fungsi ventrikular kanan berkurang atau pada sirkulasi pulmunol yang
terobstruksi, tekanan atrium kanan akan meningkat. Kehilangan volume darah ataupun dilatasi
menyeluruh juga menyebabkan berkurangnya venus return dan tekanan atrium kanan turun.

Penggunaan transducer tekanan elektronik lebih dianjurkan untuk mengukur manometri


yang dihubungkan dengan triway.Suatu kantong reser- voar cairan dan tabung vertikal yang diisi
dengan cairan, ketinggian dari permukaan cairan dalam tabung manandakan tekanan dari CVP.
Titik 0 pada transduser tekanan diletakkan setinggi atrium kiri (kira-kira pada linea axillaris
media)

daripada

diletakkan

pada

sternum

yang

akan

terpengaruh

oleh

posisi

pasien(supine/semierect/prone). Pastikan tidak terdapat kateter tidak terblok atau kinking dengan
cara mengguyur cairan dari kantong cairan. Setelah itu hubungkan kembali kantong cairan
dengan threeway yang terhubung dengan manometer tubing. Setelah triway dibuka maka akan
terlihat level permukaan cairan akan bergerak turun sampai level pengukuran CVP yang dibaca
dalam bentuk cmH20. Pulsasi vena dan perubahan mengikuti pola respirasi harus terlihat pada
jalur tetapi bukan sebagai gelombang tekanan ventrikel kanan (misalnya pada saat kateter masuk
terlalu dalam)

Gambar 1. Pengukuran CVP dengan menggunakan manometer

Indikasi pengukuran CVP :

Kegagalan sirkulasi akut

Antisipasi transfusi darah massif untuk terapi penggantian cairan

Penggantian cairan yang hatihati pada pasien dengan gangguan jantung

Curiga adanya tamponade

Interpretasi pengukuran tekanan vena sentral :

Rendah : < 6 cm H2O

Normal : 6 sampai 12 cm H2O

Tinggi : > 12 cm H2O

Faktorfaktor yang mempengaruhi pengukuran tekanan vena sentral :

Volume darah vena sentral :


Venous return/cardiac output
Volume darah total
Tonus vaskuler regional

Pemenuhan kompartemen sentral :


Tonus vaskuler
Pemenuhan ventrikel kanan

Penyakit myokard

Penyakit perikard

Tamponade

Penyakit katup trikuspid


Stenosis
Regurgitasi

Ritme jantung : Ritme junctional, Fibrilasi atrium, Disosiasi atrioventrikular

Tekanan intrathorakal
Respirasi
Intermittent positivepresure ventilation
Positive endexpiratory pressure
Tension pneumothorax

Level transducer : Posisi pasien

Faktor-faktor yang menurunkan CVP :


1. Hipovolemik
2. Dehidrasi
3. Vasodilatasi
Kateter Vena Sentral
Definisi

Merupakan prosedur memasukkan kateter intravena yang fleksibel ke dalam vena sentral klien
dalam rangka memberikan terapi melalui vena sentral. Ujung dari kateter berada pada superior
vena cava.

Tujuan Pemasangan
Tujuan pemasangan CVP :
1. Terapi pada klien yang mengalami gangguan keseimbangan cairan.
2. Sebagai pedoman penggantian cairan pada kasus hipovolemi.
3. Mengkaji efek pemberian obat diuretik pada kasus-kasus overload cairan.
4. Sebagai pilihan yang baik pada kasus penggantian cairan dalam volume yang banyak.
Tujuan Perawatan klien dengan CVP :
Perawatan akan menangani atau mengurangi komplikasi dari emboli darah.

INDIKASI PERIOPERATIF
1. Memungkinkan mengetahui tekanan vena sentral
2. Evaluasi fungsi jantung
3. Jalur cepat untuk:
Memudahkan aspirasi emboli udara yang mungkin terjadi saat prosedu roperasi
neuro
Infuse obat-obat yang durasinya sangat pendek, obat-obat resusitasi dan
kardiovaskuler lain
Penggantian cairan langsung ke jantung
Pengambilan sampel darah
Pengenalan kateter pulmonalis dan pacemaker antar-vena
Lokasi flebotomi pada udem paru akut
INDIKASI NON OPERATIF
1. Hiperalimentasi
10

2. Hemodialisa sementara
3. Kemoterapi jangka panjang
4. Jalur penggantian plasma yang sering

KONTRAINDIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL


1. Kanulasi vena sentral harus dipertimbangkan pemasangannya pada penderita dengan
gangguan pada faal pembekuan darah. Dapat terjadi hema- tom yang berbahaya pada
pemasangan melalui vena subclavia dan jugularis, terutama bila mengenai pembuluh
arteri.
2. Bila daerah pemasangan ada infeksi atau tanda-tanda radang harus dicari tempat lain
yang lebih baik.
3. Kelainan anatomi dan taruma thoraks bagian atas misalnya fraktur clavicula,
meningkatkan resiko via clavicula.
4. Penyakit paru yang kritis (COPD, asma) yang akan meningkatkan resiko terjadinya
pneumotoraks pada pendekatan subclavia.
5. Penderita yang sementara di heparinisasi.
6. Trombosis da koagulopati
7. Penderita menolak atau tidak koperatif
8. Operator yang tidak berpengalaman yang tidak diawasi supervisor

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kateterisasi ke vena
sentral.
1. Sebaiknya pemasangan kateterisasi vena sentral dilakukan diruang tindakan yang steril
(bila ada) dan tidak dilakukan dilakukan di tengah bang- sal ruang perawatan untuk
menghindari kontaminasi dan saling mengganggu dengan pasien lain.
2. Buat informed konsen dan persetujuan keluarga.
3. Bila penderita masih sadar, sebelum pemasangan sebaiknya penderita diberitahukan
terlebih dahulu maksud dan tujuan serta prosedur kate- terisasi vena sentral tersebut.

11

4. Kateterisasi vena sentral harus dilakukan se-asepsis mungkin mirip dengan prosedur
pembedahan.
5. Waspadalah akan masuknya udara, walaupun pasien dalam keadaan head-down.
6. Selalu memikirkan dimana ujung jarum berada.
7. Darah harus dapat diaspirasi dengan mudah dari kateter intravena sebelum cairan infus
atau obat dimasukkan. Bila tidak dapat diaspirasi de- ngan mudah berarti terjadi
kesalahan penempatan sampai dibuktikan sebaliknya.
8. Jangan menarik kembali kateter yang telah/masih ada di dalam jarum logam (misal
venocath) karena bahaya terpotongnya kateter oleh ujung jarum. Bila sampai terpotong
maka pengambilannya hanya bisa dilakukan dengan cara pembedahan.
9. Kanulasi vena sentral dapat memakai kateter panjang untuk pemakaian jangka lama atau
dengan kateter vena yang pendek misalnya abbocath ukuran besar untuk sementara pada
keadaan darurat. Bila vena sudah terisi cairan dapat dilanjutkan dengan kanulasi vena
perifer.
10. Dipasaran telah tersedia kateter intra vena dengan berbagai ukuran, diameter dan panjang
yang bervariasi baik dengan single lumen atau multi lumen. Pilihlah yang sesuai dengan
kebutuhan. Sesuaikan dengan lokasi pemasangan, lama pemasangan, indikasi
pemasangan dan kemampuan ekonomi pasien.

TEMPAT KATETERISASI VENA SENTRAL


Kanulasi vena sentral dapat dipasang melalui beberapa tempat, masing-masing letak
mempunyai keuntungan-keuntungan dan kerugian-keru- gian tersendiri.
Kanulasi vena sentral dapat dilakukan melalui :
Vena subclavia (pendekatan infraclavicular dan supraclavicular) .
Vena jugularis, pada vena jugularis interna (VJI) dan eksterna (VJE).
Vena femoralis
Vena antecubital, pada vena basilica atau cephalica.
Vena umbilikalis, pada bayi baru lahir.
12

Akan tetapi tempat yang paling sering dilakukan insersi yaitu : vena subclavia (pendekatan
infraclavicular), vena jugularis interna, vena antecubital dan vena femoralis.

Prosedur
Persiapan alat :
1. Kateter CVP sesuai ukuran
2. Needle intriducer
3.Syringe
4.Mandrin (guidewire)
5. Duk steril

Teknik pemasangan yang sering digunakan adalah teknik Seldinger


Caranya adalah dengan menggunakan mandarin yang dimasukkan melalui jarum, jarum
kemudian dilepaskan, dan kateter CVP dimasukkan melalui mandarin tersebut. Jika kateter sudah
mencapai atrium kanan, mandarin ditarik, dan terakhir kateter disambungkan pada IV set yang
telah disiapkan dan lakukan penjahitan daerah insersi.

13

Langkah Pemasangan :

Penderita tidur terlentang (trendelenberg)

Bahu kiri diberibantal

Pakai sarung tangan

Desinfeksi daearah CVP

Pasang doek lobang

Tentukan tempat tusukan

Beri anestesi lokal

Ukur berapa jauh kateter dimasukkan

Ujung kateter sambungkan dengan spuit 20 cc yang diisi NaCl 0,9% 2-5 cc
14

Jarum ditusukkan kira kira 1 jari kedepan medial, kearah telinga sisi yang berlawanan

Darah dihisap dengan spuit tadi

Kateter terus dimasukkan kedalam jarum, terus didorong sampai dengan vena cava
superior atau atrium kanan

Mandrin dicabut kemudian disambung infus -> manometer dengan three way stopcock

Kateter fiksasi pada kulit

Beri betadhin 10%

Tutup kasa steril dan diplester

Cara Menilai CVP dan Pemasangan Manometer


Cara Menentukan Titik Nol

CVP Manometer

Penderita tidur terlentang mendatar

Dengan menggunakan slang air tang berisi air setengahnya -> membentuk lingkaran
dengan batas air yang terpisah
15

Titik nol penderita dihubungkan dengan batas air pada sisi slang yang satu. Sisi yang lain
ditempatkan pada manometer.

Titik nol manometer dapat ditentukan

Titik nol manometer adalah titik yang sama tingginya dengan titik aliran vena cava
superior, atrium kanan dan vena cava inferior bertemu menjadi satu.

Liat gambar di bawah ini

16

Posisi pasien saat pengukuran CVP


Penilaian CVP

Kateter, infus, manometer dihubungkan dengan stopcock -> amati infus lancar atau tidak

Penderita terlentang

Cairan infuse kita naikkan kedalam manometer sampai dengan angka tertinggi -> jaga
jangan sampai cairan keluar

Cairan infuse kita tutup, dengan memutar stopcock hubungkan manometer akan masuk
ketubuh penderita

17

Permukaan cairan di manometer akan turun dan terjadi undulasi sesuai irama nafas, turun
(inspirasi), naik (ekspirasi)

Undulasi berhenti -> disitu batas terakhir -> nilai CVP

Nilai pada angka 7 -> nilai CVP 7 cmH2O

Infus dijalankan lagi setelah diketahui nilai CVP

Nilai CVP

Nilai rendah : < 4 cmH2O

Nilai normal : 4 10 cmH2O

Nilai sedang : 10 15 cmH2O

Nilai tinggi : > 15 cmH2O

Penilaian CVP dan Arti Klinisnya


CVP sangat berarti pada penderita yang mengalami shock dan penilaiannya adalah sebagai
berikut:
1. CVP rendah (< 4 cm H2O)

Beri darah atau cairan dengan tetesan cepat.

Bila CVP normal, tanda shock hilang -> shock hipovolemik

Bila CVP normal, tanda tanda shock bertambah -> shock septic

2. CVP normal (4 14 cm H2O)

Bila darah atau cairan dengan hati hati dan dipantau pengaruhnya dalam sirkulasi.
18

Bila CVP normal, tanda tanda shock negatif -> shock hipovolemik

Bila CVP bertambah naik, tanda shock positif -> septik shock, cardiogenik shock

3. CVP tinggi (> 15 cm H2O)

Menunjukkan adanya gangguan kerja jantung (insufisiensi kardiak)

Terapi : obat kardiotonika (dopamin).

Perawatan CVC

Fiksasi kateter dengan baik


Aliran CVP harus lancar
Ganti kain kasa tiap hari (dibersihkan pakai betadine dan hansaplas)
Perhatikan tanda-tanda infeksi
Perhatikan kesterilan

Komplikasi

Pneumothoraks

Emboli udara

Kelebihan cairan

Sepsis

Infeksi local atau sistemik (mis. endokarditis)

Emboli pulmoner

Disritmia

Erosi vena cava superior yang mengakibatkan hemothoraks dan tamponade jantung

Sumbatan pada kateter akibat stopcock yang tidak tepat menyebabkan pemberian cairan
infus melambat.

Perdarahan karena selang terlepas dari kateter vena central


19

DAFTAR PUSTAKA
1.

Komisi Trauma ATLS Pusat. Pemantauan Tekanan Vena Sentral. Pada: Buku
ATLS Edisi American College Of Surgeons Committee On Trauma,2007. Hal:
111-2
2. Singer M. M.D.,Webb A.R. M.D., Central Venous Catheter-Use. In: Critical Care
2nd Edition, Oxford Handbook, Departement Of Intensive Care University College
London Hospitals,2005, pp. 114-7
3. Hocking G. M.D. Central Venous Access and Monitoriing. In : Article of Practical
Procedures, Frimley Park Hospital, Portsmouth Road,2000.
4. Mancini E. Mary. 2002. Prosedur Keperawatan Darurat. Jakarta : EGC

20