Anda di halaman 1dari 24

1 Fasilitas Perumahan

Perumahan sebagai salah satu komponen pembentuk kota dengan batas


wilayah/kawasan tertentu membentuk struktur tata ruang kota. Struktur
ruang permukiman perkotaan terdiri dari beberapa kawasan dengan jumlah
penduduk dan luasan tertentu membentuk satuan lingkungan permukiman
kota yang mempunyai satu pusat pelayanan kota.
Undang undang NO. 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman,
memuat beberapa pengertian mengenai perumahan dan permukiman (pasal
1), yaitu :
1) Rumah adalah tempat tinggal atau hunian yang digunakan manusia untuk
berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya, tempat awal
pengembangan penghidupan keluarga, dalam lingkungan yang sehat, aman
dan

teratur.

2) Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan


tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk mengembangkan kehidupan
dan
penghidupan
keluarga,
tempat
menyelenggarakan
kegiatan
bermasyarakat dalam lingkup terbatas. Penaataan ruang dan kelengkapan
prasarana dan sarana lingkup harus dilakukan dengan maksud agar
lingkungan tersebut akan merupakan lingkungan yang sehat, aman, serasi
dan teratur serta dapat berfungsi sebagaimana diharapkan.
3) Permukiman adalah

kawasan

yang

didominasi

oleh

lingkungan

yang

dilengkapi dengan prasarana, sarana lingkungan, dan tempat kerja yang


memberikan pelayanan dan kesempatan kerja terbatas untuk mendukung
kehidupan dan penghidupan sehingga fungsinya dapat berupa permukiman
perkotaan maupun permukiman perdesaan.
4) Satuan Lingkungan Permukiman merupakan kawasan perumahan dengan luas
wilayah dan jumlah penduduk tertent, yang dilengkapi dengan system
prasarana dan sarana lingkungan dengan penataan ruang yang terencana dan

teratur sehingga memungkingkan pelayanannya dan pengelolaan yang


optimal.
Dengan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam
perencanaan tata ruang kota, permukiman diartikan sebagai kesatuan
komponen kota yang saling mendukung membentuk suatu permukiman
perkotaan dan kawasan perkotaan dengan segala jenis sarana dan prasarana
pendukung ekosistem kota. Untuk itu dalam pengembangan system
permukiman perkotaan haruslah diciptakan beberapa kawasan perumahan
sebagai salah satuan lingkungan permukiman dengan sebaran yang merata
agar tingkat pertumbuhan antar wilayah dapat seimbang dan tetap
memperhatikan kondisi social ekonomi penduduk sebagai penghuninya

2 Fasilitas Pendidikan
Pendidikan formal mempunyai beberapa tingkatan/jenjang yaitu taman
kanak kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP), Sekolah Menengah Umum (SMU). Rencana kebutuhan fasilitas
pendidikan maupun fasilitas sosial ekonomi lainnya didasarkan pada standar
perencanaan kebutuhan sarana kota (PU. Cipta Karya), dengan standar
luasan yang berpedoman pada tingkat kepadatan pada tingkat kepadatan
penduduk. Dan lebih mendasar lagi adalah bagaimana memadukan antara
supply and demand dengan standar yang digunakan.
Taman Kanak kanak (TK), penduduk mendukung fasilitas ini minimal 1.000
orang dengan luas lahan 2.400 M 2. lokasinya sebaiknya berada di tengah

tengah kelompok keluarga, jumlah murid dengan standar 3 ruang kelas


terdiri dari 30 40 murid di setiap satu ruang kelas.
Sekolah Dasar (SD), kebutuhan satu unit SD, minimal penduduk pendukungnya
1.600 jiwa dengan luas lahan 7.200 M 2. Lokasi jenis fasilitas ini sebaiknya
berada di tengah kelompok keluarga (permukiman)
pencapaian dari daerahyang dilayani maksimum 100 meter.

dengan

radius

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), jumlah penduduk pendukungnya


minimal 4.800 jiwa untuk sebuah SLTP, sedangkan luas lahannya adalah
5.400 M2. penempatan lokasi fasilitas ini sebaiknya dikelompokkan dengan
taman dan lapangan olahraga. Standar jumlah murid adalah 40 murid/kelas.
Sekolah Menengah Umum (SMU). Penduduk pendukungnya minimal 4.800
orang untuk sebuah SMU. Luas lahan SMU ini adalah 5.400 M 2. Standar 30
murid/ruang kelas dengan 14 kelas (pagi/sore) untuk sebuah SMU.

3 Fasilitas Kesehatan
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu elemen penting yang
dapat menentukan kualitas sumberdaya manusia. Fungsi utama sarana ini
memberikan pelayanan medis kepada penduduk. Oleh karena itu penyediaan
fasilitas kesehatan di kawasan perencanaan ini perlu mendapat prioritas.
Dikaitkan dengan standar perencanaan lingkungan permukiman kota, maka
kualitas kesehatan yang harus disediakan untuk melayani penduduk tersebut
adalah puskesmas, balai pengobatan, tempat praktek dokter dan apotik
serta fasilitas lain seperti tempat parkir dan taman.
Puskesmas pembantu, minimal penduduk pendukungnya adalah 30.000 jiwa
dengan luas lahan adalah 2.400 M2. Penempatan lokasinya sebaiknya berada
di tengah lingkungan keluarga (permukiman) dengan radius pencapaian
maksimum 1500 M2.

BKIA/Rumah Bersalin, penduduk pendukung minimal 10.000 jiwa dengan luas


lahan 3.200 M2. Lokasi fasilitas ini berada di tengah tengah lingkungan
keluarga dengan radius pencapaian maksimal 2.000 meter.
Apotik, fasilitas kesehatan yang fungsinya untuk melayani penduduk dalam
memenuhi kebutuhan obat obatan adalah apotik. Penduduk pendukung
minimal 10.000 jiwa dengan luas lahan 700 M 2. hal yang perlu diperhatikan
dalam perencanaan fasilitas kesehatan ini adalah pengalokasian fasilitas
dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan pemukiman sehingga radius
pencapaian merupakan jarak yang tepat bagi kelompok aktivitas kegiatan
penduduk.
Praktek Dokter, untuk menciptakan optimalisasi pelayanan kesehatan yang
baik kepada masyarakat di kawasan perencanaan, diperlukan tenaga
tenaga medis yang cukup memadai terutama dokter yang dapat memnerikan
pelayanan yang lebih dekat pada masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan
tempat praktek dokter yang menyatu dengan perumahan penduduk. Lokasi
fasilitas ini disatukan dengan rumah tempat tinggal dan setiap unutnya
melayani penduduk 5.000 jiwa.
Balai Pengobatan, minimal penduduk pendukungnya adalah 3.000 jiwa dengan
luas lahan600 M2. lokasi penempatan sebaiknya berada di tengah tengah
lingkungan keluarga dengan radius pencapaian maksimum 1.500 meter.

4 Fasilitas Peribadatan
Penghitung kebutuhan fasilitas peribadatan di kawasan perencanaan
disesuaikan dengan jumlah penduduk pemeluk agama yang ada. Berdasarkan
data jumlah penduduk menurut agama di kawasan perencanaan
menunjukkan bahwa sekitar 98,6 % memeluk agama Islam dan selebihnya
beragama Kristen dan Hindu (1,4 %). Hal ini berarti penyediaan fasilitas

peribadatan bagi pemeluk agama islam lebih diproriotaskan, yang berupa


Masjid dan Mushallah.
Masjid, penduduk minimal pendukung fasilitas ini adalah 30.000 jiwa, dengan
luas 3.500 M2. lokasi penempatan fasilitas berada dalam satu pusat
lingkungan kelurahan dan dekat dengan konentrasi penduduk.
Mushallah/Langgar, penduduk minimal 2500 jiwa, dengan luas lahan 600 M 2.
lokasi penempatan fasilitas tergantung kondisi konsentrasi dan distribusi
pemeluk agama bersangkutan.
5 Fasilatas Perekonomian
Perkembangan suatu kota ditentukan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi
kota yang bersangkutan dan sebaliknya tingkat perkembangan ekonomi itu
sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah
ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi untuk melayani kebutuhan
penduduk sebagai pelaku kegiatan ekonomi. Fasilitas perekonomian yang
dimaksud disini adalah fasilitas pelayanan kegiatan perbelanjaan sehari
hari yang mempunyai sifat pelayanan dari berbagai tingkat sesuai dengan
skala pelayanan yang direncanakan.
Keberadaan pasar merupakan salah satu tigkat pelayanan regional sangat
besar manfaatnya bagi kegiatan perekonomian yang diharapkan dapat
berperan sebagai titik pusat kegiatan jasa distribusi barang barang
produksi yang dapat menarik dan mendorong laju pertumbuhan desa- desa
pada wilayah pelayanannya.
Dengan kondisi demikian dalam kaitannya dengan kawasan perencanaan
pada masa datang, dapat dialokasikan jenis jenis fasilitas perekonomian
berdasarkan
kriteria
standar
menurut
pengelompokan
penduduk/distribusi penduduk setiap Bagian Wilayah Kota (BWK).

jumlah

Pertokoan, penduduk pendukung minimal 2.500 jiwa dengan luas lahan 2.400
M2. kriteria lokasi terletak pada jalan utama lingkungan dan mengelompok
dengan pusat lingkungan.

Warung/Kios, Warung/kios penduduk pendukungnya adalah 2.50 jiwa. Kriteria


lokasi di pusat lingkungan yang mudah dicapai dengan radius maksimal 500
meter.
6 Fasilitas Pemerintah dan Pelayanan Umum
Analisis kebutuhan fasilitas pelayanan umum guna pelayanan kepada
msyarakat secara makro, seperti kantor administrasi, kantor pos, telepon
umum, balai pertemuan, MCK dan parkir umum. Sesuai dengan fungsi kota
dan kebutuhan perkembangan penduduk kota, maka fasilitas yang
dibutuhkan :
Parkir umum + MCK seluas 200 M2, setiap unit melayani 2.500 jiwa.
Balai pertemuan dengan luas lahan 600 M 2, setiap unit melayani penduduk
sekitar 2.500 jiwa.
Kantor Camat dengan luas lahan 2.000 M2.
Kantor Lurah dengan luas lahan 1.000 M2.
Kantor pos pembantu dengan luas lahan 200 M2.
Pos Polisi dengan luas lahan 400 M2.
Kantor Koramil dengan luas lahan 400 M2.
7 Fasilitas Olah Raga dan Ruang Terbuka
Fasilitas olah rag dan ruang terbuka adalah semua bangunan dan taman yang
digunakan untuk kegiatan olah raga dan rekreasi, fasilitas ini merupakan
fasilitas yang cukup penting mengingat fungsinya dalam mengurangi
kepadatan kawasan permukiman. Fasilitas ini terdiri dari lapangan olah
raga, tempat bermain dan jalur hijau.
Lokasi fasilitas ini umumnya terletak di tengah tengah lingkungan
permukiman terutama untuk taman. Menurut standar perencanaan
lingkungan permukiman kota, kebutuhan fasilitas olah raga dan ruang
terbuka kawasan perencanaan adalah :

Taman untuk pelayanan 250 jiwa, sarana ini berfungsi sebagai ruang hijau
kota, luas setiap unit 500 m2.
Taman Tempat Bermain untuk pelayanan 2.500 jiwa yang berfungsi sebagai
ruang terbuka dan tempat bermain. Sarana ini dibutuhkan dengan lahan
seluas 2.500 M2.
Lapangan Olahraga dengan luas lahan 18.000 m2.
3.2 Konsep Pengembangan Infrastruktur Kota
Infrastruktur merupakan komponen utama dalam pengembangan suatu
perkotaan. Pengembangan komponen ini tergantung pada tingkat pelayanan
pendukungnya, seperti jimlah penduduk, tingkat dan skala pelayanan,
sumberdaya ala/fisik yang tersedia, sistem jaringan dan distribusi. Sistem
infrastruktur yang akan direncanaklan pengembangannya adalah : (1) sistem
air bersih,(2) sistem drainase dan pembuangan air limbah,(3) sistem energi
lestrik, (4) sistem komunikasi dan(5) sistem persampahan. Kriteria
pengembangan tiap komponen infrastruktur tersebut antara lain :
A. Sistem Air Bersih
Air bersih memegang peranan penting sebagai kebutuhan pokok dan utama
penghidupan dan kehidupan penduduk di kawasan perencanaan. Beberapa
sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh penduduk kawasan perencanaan
bersumber dari air permukaan (sungai) dan dari mata air pegunungan yang
dikelolah oleh PDAM dan masyarakat. Sasaran rencana kebutuhan air bersih
dikategorikan berdasarkan jumlah kebutuhan penduduk pendukung dan
kebutuhan aktivitas perkotaan. Standarisasi
berdasarkan
petunjuk
pedoman
tersebut

kebutuhan air bersih


di
atas
termasuk

sasaranpenggunaanya, antar lain :


a. Air bersih perumahan
Kebutuhan air bersih untuk perumahan digolongkan untuk kebutuhan perjiwa
penghuni (jumlah penduduk). Diasumsikan bahwa tiap satu rumah akan
dialami oleh 1 KK dengan 5 jiwa. Tiap 1 jiwa membutuhkan lebih kurang 60
liter/hari.

b. Air bersih fasilitas pendidikan


Kebutuhan air bersih untuk kebutuhan fasilitas pendidikan diketahui setelah
dianalisis besaran jumlah dan jenis fasilitas pendidikan yang akan tersedia
hingga akhir tahun perencanaan. Standar kebutuhan air bersih untuk fasilitas
pendidikan berdasarkan jenjang tingkat pendidikan formal adalah :
Kebutuhan

air

bersih

untuk

jenjang

pendidikan

STK

adalah

10

liter/orang/hari.
Kebutuhan air bersih untuk jenjang pendidikan SD adalah 10 liter/orang/hari.
Kebutuhan

air

bersih

untuk

jenjang

pendidikan

SLTP

adalah

10

bersih

untuk

jenjang

pendidikan

SMU

adalah

10

liter/orang/hari.
Kebutuhan

air

liter/orang/hari.
c. Air bersih fasilitas kesehatan
Demikian halnya dengan fasilitas lainnya, jumlah kebutuhan air bersih untuk
fasilitas kesehatan di kawasan perencanaan sangat targantung dari jumlah
fasilitas pelayanan kesehatan yang direncanakan. Adapun jenis fasilitas
kesehatan yang akan direncanakan pada kawasan perencanaan adalah :
Kebutuhan air bersih untuk toko obat/apotik adalah 30 liter/unit/hari.
Kebutuhan air bersih untuk tempat praktek dokter adalah 300 liter/unit/hari.
Kebutuhan air bersih untuk balai pengobatan/puskesmas pembantu adalah
10.000 liter/unit/hari.
d. Air bersih fasilitas olah raga dan ruang terbuka
Kebutuhan air bersih untuk mendukung kegiatan olah raga dan ruang terbuka
di kawasan perencanaan terbagi atas taman tempat bermain dan lapangan
olah raga. Masing masing membutuhkan air bersih sebanyak 1000
liter/Ha/hari.
e. Air bersih fasilitas perekonomian

Perhitungan kebutuhan air bersih untuk fasilitas perekonomian di kawasan


perencanaan disesuaikan dengan standar lingkungan permukiman kota.
Kebutuhan air bersih untuk sarana perekonomian adalah : (a) pasar 10.000
liter/unit/hari, (b) warung 250 liter/unit/hari, (c) pertokoan membutuhkan
air bersih sebanyak 1.000 liter/unit/hari.
f. Air bersih fasilitas pelayanan umum
Kebutuhan air bersih untuk fasilitas pelayanan umum digunakan asumsi
asumsi berdasarkan standar atau pedoman perencanaan lingkungan. Kantor
lingkungan, kantor pos pembantu, dan parkir umum ditambah MCK, dengan
kebutuhan air bersih 1.000 liter/unit/hari.
g. Air bersih fasilitas peribadatan
Berdasarkan analisa kependudukan di kawasan perencanaan sebagian besar
penduduk beragama Islam, sehingga komposisi penduduk pada tahun
mendatang tidak jauh berbeda pada keadaan sekarang. Hasil analisis
menunjukkan bahwa perkiraan kebutuhan fasilitas peribadatan di kawasan
perencanaan yaitu Masjid lingkungan dan mushallah. Kebutuhan sarana air
bersih untuk Masjid adalah 3.500 liter/unit/hari,
membutuhkan air bersih sebanyak 2.000 liter/unit/hari.

dan

Mushallah

B. Sistem Energi Listrik


Kebutuhan sistem energi listrik dimaksudkan adalah kebutuhan sistem yang
meliputi jaringan dan distribusinya. Pelayanan listrik di kawasan
perencanaan dibutuhkan peningkatan daya listrik serta jaringan yang relatif
mencukupi termasuk penerangan jalan.
Keseluruhan kebutuhan energi listrik di kawasan perencanaan berdasarkan
standar perencanaan lingkungan perkotaan kebutuhan listrik adalah :
1) Kebutuhan energi listrik perumahan dan permukiman diasumsikan minimum
450 VA/Watt dan maksimum 990 VA/Watt setiap unitnya.

2) Fasilitas pemerintahan dan pelayanan umum dengan tipe kecil adalah 1.500
VA/Watt, tipe sedang adalah 2.500 VA/Watt dan tipe besar dengan 3.500
VA/Watt.
3) Fasilitas umum kebutuhan energi listriknya adalah 20 %.
4) Penerangan jalan kebutuhan listriknya adalah 10 % dari total kebutuhan
keseluruhan.
Sistem distribusi jaringan kabel listrik dengan menggunakan tiang yang
terbuat dari pipa beton yang penempatannya pada daerah manfaat jalan
dengan jarak satu dengan yang lainnya adalah lebih kurang 50 meter dan
sebagai upaya untuk menghindari gangguan jaringan listrik, maka di
beberapa tempat akan ditempatkan gardu listrik yang sekaligus berfungsi
sebagai pengontrol gangguan listrik yang akan terjadi.
C. Sistem Komunikasi
Salah satu sarana untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang saat ini
tersedia di kawasan perencanaan adalah berupa saluran telepon dengan
sistem DRS (digital radio system)dengan skala pelayanan yang terbatas.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan jaringan telepon di kawasan
perumahan/perkantoran diupayakan dapat terpenuhi dan tentunya dengan
skala prioritas kebutuhan dengan perluasan sistem jaringan yang ada.
Standar rasio tingkat layanan kebutuhan telepon baik pribadi maupun umum
adalah masing masing 1 : 14 dan 1 : 250.
D. Sistem Persampahan
Penggolongan jenis sampah dan intensitas penanganannya antar kawasan
dalam satu daerah sangat berbeda termasuk jumlah sampah yang dihasilkan.
Untuk mengestimasikan jumlah sampah yang akan dihasilkan di masa datang
dianggap bahwa jumlahnya tergantung jumlah penduduk kawasan tersebut.
Mengingat untuk mengkuantitaskanjumlah sampah yang dihasilkan sangat
sulit maka digunakan standar umum yakni 2 liter/orang/hari.
Kuantitas sampah yang dihasilkanakan dikumpulkan ataupun dikelolah
dengan menggunakan sarana dan prasarana, berupa penyediaan;

Gerobak 1 M2 untuk 200 KK.


Tempat pembuangan sementara (TPS) untuk 150 KK
Container sampah dengan volume 6 8 M22.000 KK.
E. Melihat Kawasan Perencanaan
Sebagai wilayah dataran tinggi, maka dalam program pengadaan dan
pembangunan drainasenya dapat dilakukan dengan mengikuti jaringan jalan
yang direncanakan. Adapun sistem pengalirannya akan lebih mudah karena
kondisi kemiringan yang memungkingkan. Disampig itu, keberadaan aliran
sungai di kawasan tersebut dapat difungsikan sebagai jalan pengumpul.
F. Sistem Transportasi
Pengembangan sistem transportasi di kawasan perencanaan merupakan
bagian integral terhadap pengembangan sistem transportsi kota secara
keseluruhan. Keintegralan sistem ini akan menghasilkan pola dan
aksesibiliras pergerakan antar dan inter kawasan semakin baik. Jarak, biay,
waktu tempuh dalam suatu pergerakan yang efisien dan efektif adalah suatu
tingkat kenyamanan dan keamanan yang diterjemahkan dalam tingkat
pelayanan pergerakan (level of service).
Keberadaan sistem transportasi dalam segala aktivitas antar/inter regional
merupakan bagian yang mutlak. Level of service (los) pergerakan yang
dilakukan orang atau angkutan yang akan ditantukan dan ternilai dari jumlah
atau volume pergerakan yang etrjadi dalam suatu ruas jalan tertentu
terhadap kapasitas daya tampung dari jalan tersebut. Semakin besar arus
pergerakan yany terjadi dalam suatu ruas jalan tertentu dan melebihi dari
kapasitas daya tampung jalan tersebut akan mengakibatkan kemacetan,
minimal terjadi tundaan pergerakan. Apabila kondisi ini terjadi akan
mengakibatkan terjadinya karugian baik materil maupun waktu tempuh
semakin mahal dan lama/jauh bagi pengguna jalan tersebut. Oleh karena
itu, dalam perencanaan sistem transportasi kota akan dipertimbangkan
beberapa subsistem dari sistem transportasi yang saling terkait membentuk
siklus perencanaan sistem transportasi. Sub sub sistem tersebut terbagi

atas : (1) sub sistem kegiatan, (2) sub sistem jaringan,(3) sub sistem
pergerakan, (4) sub sistem kelembagaan, (5) sub sistem lingkungan (lokal,
kota, regional, nasional, internasional)
Kebutuhan umum perencanaan transportasi adalah untuk mengestimasikan
jumlah dan lokasi kebutuhan akan transportasi (jumlah perjalanan, baik
untuk angkutan umum maupun pribadi), termasuk pola tindakan yang akan
diambil (rekayasa atau manajemen transportasi) untuk masa datang (umur
rencana) untuk kepentingan kebijaksanaan investasi perencanaan
transportasi. Kajian ini disebut sistem supply vs demand.
Hubungan dasar antara tataguna lahan, transportasi dan lalulintas disatukan
dalam beberapa urutan konsep, yang biasanya dilakukan secara berturut
turut sebagai berikut :
Aksesibilitas, suatu ukuran atau kesempatan untuk melakukan suatu
perjalanan. Konsep ini lebih bersifat abstrak dan dapat digunakan
mengalokasikan problem yang terdapat dalam sistem transportasi dan
mengevaluasi solusi solusi alternative. Dapat juga dikatakan aksesibilitas
adalah suatu ukuran kenyamanan bagaimana lokasi guna lahan berinteraksi
satu dengan yang lain dan bagaimana mudah dan susahnya lokasi tersebut
dicapai melalui sistem transportasi. (Black, 1981). Model yanh digunakan
adalah moel hansen, black dan conroy, 1972.
Bankitan lalulintas (trip generation);suatu ukuran bagaimana tri terjadi
dalam suatu guna lahan (zona). Model analisis yang digunakan adalah IHCM
1990, 1995 dan 1998 serta standar/kritria baku transportasi.
Distribusi pergerakan (trip distribution); bagaimana perjalan tersebut
terdistribusi ke berbagai zona tarikan dan bangkitan di dalam zona zona.
Pengaruh kuat dalam konsep ini, lokasi dan intensitas land usedan spasial
separtation. Model analisis yang digunakan dengan pendkatan rute dan
pilihan pergerakan berdasarkan zona asal dan tujuan (Tij = graviti model)

Pemilihan moda transportasi (model choice or model split); menentukan


faktor faktor yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi untuk suatu
tujuan tertentu.
Pemilihan rute (route choice or trip assgnment); menentukan faktor faktor
yang mempengaruhi pemilihan rute antara zona asal dan tujuan.
Hubungan antara waktu, kapasitas dan arus lalulintas, waktu perjalanan
dipengaruhi 0leh kapasitas rute yang ada dan jumlah lalulintas yang
menggunakannya.
Pengembangan jaringan transportasi yang terdiri dari jaringan jalan dan
terminal. Di kawasan perencanaan pengembangan jaringan jalan sesuai
dengan fungsinya meliputi jalan kolektor dan jalan lokal. Sedangkan
pengembangan prasarana transportasi berupa terminal pembantu
direncanakan alokasinya berdekatan dengan pasar induk kota.
Konsep sistem jaringan jalan akan optimal apabila pembagian fungsi dan
klasifikasi jalan telah ditentukan.Kejelasan tersebut akan mempermudah
pengaturan sirkulasi setiap moda angkutan agar elemen transportasi yang
ada dapat saling menunjang mobilitas penduduk dan/atau barang ke arah
lebih baik.
Dengan demikian,konsep pengembangan melalui penentuan klasifikasi jalan
dimasa yang akan datang yakni diklasifikasikan berdasarkan fungsi jalan,dan
bukan berdasarkan pada besaran ruang jalan.
1. Jaringan Jalan Kolektor
Karakter dari jaringan jalan kolektor adalah jalan yang berfungsi sebagai
pengumpul lalu lintas dari jaringan jalan lokal untuk disalurjkan ke jaringan
jalan arteri.Dengan kata lain jaringan jalan ini akan merupakan penghubung
jalan arteri dengan jalan lokal.Selain itu jalan yang memotong jaringan
jalan ini sedapat mungkin dibatasi oleh kendaraan yang melintasinya.Jalan
ini direkomendasikan berkecepatan lebih rendah dari kecepatan kendaraan
pada jalan arteri.
2. Jaringan Jalan Lokal

Jaringan jalan lokal adalah jalan yang berfungsi menampung lalu lintas dari
jalan tertentu yang terlayani oleh jalanlingkungan,dan selanjutnya akan
disalurkan ke jaringan jalan kolektor. Adapun karakter dari jalan lokal
adalah jarak perjalanannya atau identik dengan panjang jalan ini relatif
pendek dan jalan memotongnya (dapat saja berupa gank/lorong) tidak
dibatasi.selain itu direkomendasikan lebih muda dari ketentuan yang
diberlakukan pada jaringan jalan kolektor maupun arteri.
Berdasarkan uraian diatas maka ssaran yang hendak dicapai melalui aplikasi
konsep ini antara lain :
Pendayagunaan sistem jaringan yang ada, dengan perubahan klasifikasi
fungsional dan konstruksi jalan yang disesuaikan dengan karakter wilayah
dan kawasan serta bila memungkinkan disesuaikan puala dengan standar
teknis.
Pendayagunaan dengan penyesuaian dan persebaran fungsi jalan terhadap
kemungkinan volume lalulintas, karakteristik/pola sirkulasi lalulintas, dan
tataguna lahan pada masa akan datang.
Pendayaguaan rencana sektoral dalam pembangunan jalur jalan, namun bila
memungkinkan dapat menganut sistem kemitraan dengan pihak investor
maupun masyarakat.
Sedangkan tujuan dari penerapan sistem jaringan jalan ini pada prinsipmya
adalah untuk menghubungkan setiap pusat pusat kegiatan melalui
pengembangan jaringan jalan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Sedapat
mungkin pengembangan jaringan jalan mampu melayani setiap unit rumah,
hubungan keluar dapat terlingkupi atau terjangkau serta dapat menunjang
kegiatan sektor ekonomi dan sosial secara utuh. Konsep pengembangan ini
didasari atas fungsi jalan, dimensi karakteristik lalulintas, tata peruntukan
lahan disekitarnya dan kondisi tofografi, serta kecenderungan kawasan
perencanaan.
Akan tetapi oleh karena kedalaman rencana tataruang ini yaitu secara umum
(RUTR), maka pengembangan jaringan jalan hingga akhir tahun perencanaan

tidak akan tersaji dalam bentuk site plan (hingga berwujud jalan
lingkungan). Namun hanya dalam bentuk pengarahan pengembangan jalan
yang terbagi atas klasifikasi fungsionalnya.
Untuk lebih jelas mengetahui konsep besaran ruang jalan sesuai dengan
klasivikasinya dapat dilihat dengan tabel 3.1, sedangkan konsepsi dan
strategi jaringan jalan dapat dilihat dengan tabel 3.2. selain itu disajikan
kriteria fungsi dan sistem jaringan jalan yakni pada tabel 3.3.
Tabel 3.1
KONSEP BESARAN RUANG JALAN SESUAI KLASIFIKASINYA
No.

Jenis Jalan

Garis Sempadan

Row

Perumahan

Komersil

1.

Kolektor Primer

25

10,5

17,5

2.

Kolektor Sekunder

20

10,5

15,5

3.

Lokal Primer

15

10

4.

Lokal Sekunder

Tabel 3.2
KONSEP DAN STRATEGI JARINGAN JALAN
No
.

Deskripsi

Klasifikasi Jaringan Jalan


Arteri Sekunder

Kolektor Sekunder

Lokal

1.

Lebar Damija

25-35 meter

16-24 meter

8-15 meter

2.

Kecepatan

50-55 km/jam

30-50 km/jam

Maks.30 m/jam

Kendaraan
3.

Spasi

1.000 - 1.500 m

300 500 m

50 250 m

4.

Fungsi Pelayanan

Daerah&Kecamatan

Kota&Regional

Lokal

5.

6.

7.

Penggunaan

Komersil,campuran

Komersil,lingkungan

Pemukiman

Lahan

dan pusat kota

dan khusus

lingkungan

Angkutan Umum

Bis,minibis

Fasilitas

dan Mikrolet,helicak

dan Moda

dan

angkutan

mikrolet

bajaj

tradisional

-Trotoar

- Trotoar

-Pohon pelindung

-Pohon Pelindung

- Lampu lalu lintas

- Taman parkir

-Sem

sempadan -Curb

parkir -Area pedestrian

bangunan

padatempat tertentu

-Lalu lintas satu

yang memadai

-Jaringanutilitas

arah kecuali pada

-Parkir terbatas pada dibawah jalan


badan jalan

tempat sempit

- Lalu lintas satu atau

-Jaringan

utilitas dua arah

bawah jalan
- Boulevard
- Lalu lintas dua
arah
- Rambu-rambu lalu
lintas

Tabel 3.3
KRITERIA SISTEM,FUNGSI DAN BESARAN RUANG JALAN
Sistem Jaringan
Jalan

Fungsi

Besar Ruang Minimum


Kecepatan

Badan

Kendaraan

(meter)

(km/jam)

Jalan Daerah
Pengawasan
Diluar As Jalan
(meter)

Primer

Sekunder

Arteri

60

20

Kolektor

40

15

Lokal

20

10

Arteri

20

10

Kolektor

20

Lokal

10

3.3 Konsep Penataan Ruang Kota


Tujuan perencanaan dan pengendalian tata ruang pada umumnya dan tata
ruang kota pada khususnya, adalah untuk menciptakan kebutuhan manusia
dengan lingkungan pendukungnya. Oleh karena itu proses penyusunan
program tata ruang tersebut harus lebih mengutamakan keselarasan dan
keserasian lingkungan fisik, sebagai wadah penduduk berinteraksi dinamis
untuk mencapai pemenuhan kehidupan penduduk yang sejahtera dalam
lingkungan tersebut.
Dengan demikian suatu perencanaan lebih bersifat konkrit dan realistis,
dalam artian bahwa program program pembangunan yang terkandung di
dalamnya cukup nyata atau jelas dan memungkinkan untuk dapat
dilaksanakan berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki dengan
mempertimbangkan berbagai faktor perencanaan baik yang bersifat internal
maupun yang bersifat eksternal.
A. Konsep kepadatan penduduk
pengaturan kepadatan penduduk di kawasan perencanaan adalah kepadatan
penduduk yang bervariasi, yakni ditentukan oleh fungsi masing masing blok
peruntukan yang ada. Di samping itupula ditentukan oleh faktor daya dukung
serta daya tampung lahan pada masing masing bagian wilayah kota.
Konsep kepadatan penduduk yang akan diterapkan hingga akhir tahun
perencanaan yakni hanya akan
kotor/bruto atau gross density.

berdasarkan perhitungan kepadatan


Hal ini disebabkan oleh karena

kecenderungan penduduk untuk bermukim di kawasan perencanaan ini


cukup besar, oleh karena itu relatif sulit untuk memutuskan secara pasti
jumlah penduduk yang akan ditampung hingga akhir kota perencanaan.
Dengan demikian upaya yang ditempuh dalam rangka penentuan tingkat
kepadatan penduduk adalah melalui penentuan jumlah penduduk maksimal
yang dapat ditampung, yakni melalui metode pendekatan asumtif.
B. Konsep identitas pemanfaatan ruang
Pada dasarnya konsep ini berpedoman pada prinsip pendekatan lokasi.
Dimana lokasi yang semakin dekat dengan pusat kota atau pusat pusat
kegiatan kota, akan mempunyai intensitas penggunaan ruang atau
pemanfaatan lahan yang relatif tinggi kondisi tersebut dipengaruhi oleh
faktor faktor kemudahan hubungan yang telah menjadi suatu proses
alamiah dalam suatu kota dimana kecenderungan penduduk untuk selalu
dekat dengan fasilitas pelayanan cukup tinggi. Mengingat nilai lahan di pusat
kota atau kawasan potensial cenderung lebih tinggi dibanding harga lahan di
kawasan lainnya, maka konsep intensitas pemanfaatan ruang dibuat dengan
memperhatikan nilai fungsi sosial dari lahan tersebut.
C. Konsep persebaran fasilitas
Konsep ini dilakukan atas dasar skala pelayanan fasilitas kota yang akan
disediakan, dimana tingkat pelayanannya menganut sistem hirarki.
Perwujudan dari konsep ini yakni adanya fasilitas berskala pelayanan
lingkungan seperti taman kanak kanak dan warung, serta untuk skala
pelayanan kota melayani seluruh wilayah kota seperti SLTP dan pertokoan.
Selain itu terdapat pula fasilitas yang berskala pelayanan regional seperti
jasa pemerintahan dan pasar serta terminal. Selain itu konsep persebaran
dan penentuan lokasi kagiatan pelayanan juga dapat menggunakan metode
gravitasi (gaya tarik) dimana daya tarik suatu fasilitas mempengaruhi
pergerakan penduduk untuk cenderung mendekatinya.
D. Konsep Zoning

Hakekat dari konsep zoning atau pembagian kawasan dalam beberapa


peruntukan zona tertentu adalah merupakan strategi umum pengembangan
kota karena sebelum penzoningan terlebih dulu dilakukan analisis lahan
pada setiap bagian wilayah yang akan dijadikan suatu zona tertentu yakni
analisis tofografi, kedalaman efektif tanah, daya tampung lahan, geologi
dan jenis tanah serta lokasi. Analisis ini bertujuan menguraikan keadaan
potensi dan kendala yang ada serta kemungkinan solusi dan strategi
pengembangan di setiap bagian wilayah tersebut.
Konsep penzoningan juga dilandasi oleh konsep penggunaan lahan yang luas
dimana konsep ini bersifat respon terhadap kekuatan pasar yang sangat
menentukan pola pengembangan yang akan datang. Konsep ini luas terhadap
pengaturan zoning yang ditetapkan, biasanya diwujudkan pada zona dengan
penggunaan lahan yang bercampur.
E. Hubungan fungsional komponen pembentuk kota
Maksud dari hubungan fungsional dalam konteks bahasan ini adalah seberapa
besar hubungan atau kaitan antar setiap komponen pembentuk kota yang
tercipta, sehingga mewujudkan karakter fungsi tertentu yang pada
gilirannya akan mewujudkan hubungan yang berorientasi pada kegiatan
sosial budaya dan sosial ekonomi.
Secara garis besar komponen komponen sosial budaya dibagi dalam :

Kegiatan sosial budaya meliputi pendidikan, kesehatan, peribadatan,


perumahan, pemerintahan, rekreasi/hiburan dan lain lain.

Kegiatan sosial ekonomi meliputi perdagangan, industri dan jasa.

Dalam kaitannya dalam pengaturan terhadap struktur ruang kota, maka


setiap komponen pembentuk struktur perlu diatur distribusinya dengan
mempertimbangkan aspek jangkauan pelayanan setiap komponen yang ada
dalam suatu kawasan, akses antara kawasan masa kini dan masa datang,
daya dukung serta daya tampung lahannya. Melalui pertimbangan tersebut

diharapkan dapat tercapai keselarasan dan keseimbangan serta aksesibilitas


yang tinggi dalam suatu kawasan maupun antar kawasan yang direncanakan.
Sebagai kelanjutan dari uraian diatas maka akan tercapai pula efisiensi dan
efektifitas optimal baik dalam hal pemanfaatan ruang maupun dalam
jangkauan pelayanannya alam wilayah kota namun untuk mencapai hasil
yang optimal maka terlebih dahulu harus diketahui karakter komponen yang
ada saat ini. Pemahaman pada setiap karakter komponen dimaksudkan untuk
dapat melahirkan out put yang merupakan indikator pengembangan kota
masa depan atas dasar itu maka karakteristik komponen kota diuraikan
sebagai berikut :

Perkantoran,

merupakan

pelayanan

kegiatan

jasa

sosial

ekonomi.Lokasinya sebaiknya mempunyai akses yang tinggi terhadap


wilayah pelayanannya, dengan maksud agar dapat mempengaruhi
persebaran dan sirkulasi penduduk.Eksistensi fasilitas perkantoran
ditentukan oleh karakteristik kota, keberadaan dapat tersebar namun
dapat pula berkelompok.

Peribadatan, merupakan fasilitas yang berhubungan erat dengan


tatanan manusia karena berfungsi sebagai sarana ibadah berdasarkan
kepercayaan masing-masing penduduk. Lokasinya sebaiknya berada di
tengah-tengan lingkungan keluarga dan disesuaikan dengan penganut
agama pada lingkungan tersebut.

Pendidikan,merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan


penduduk sehingga lokasinya harus berdekatan dengan lingkungan
keluarga dan sebaiknya berada pada likasi yang relatif tenang

Perumahan, merupakan kebutuhan dasar penduduk serta berfungsi


sebagai fasilitas hunian. Fungsi tersebut dapat pula bergeser sesuai
kainginan pemukimnya baik dalam bentuk kios maupun ruko, yang
perkembangannya merupakan gejala yang bersifat alami sehingga

diperlukan penataan lahan bagi pengembangan fasislitas ini adalah


kesesuaian lahan seperti kemiringan lahan,ekologi, serta berada dalam
lokasi yang relatif tidak bising

Kesehatan, merupakan fasilitas pelayanan medis bagi masyarakat


sehingga kegiatan ini memerlukan lokasi yang tenang bebas dari
pencemaran atau tidak berdekatan dengan kegiatan yang mempunyai
intensitas pengguanaan ruang yang tinggi, dan kalau mungkin berada
di sekitar lingkungan pemukiman.

Tranportasi, berkaitan dengan sarana dan prasaran perhubungan yang


berfungsi menghubungkan kegiatan yang satu dengan yang lain serta
sebagi sarana untuk mempermudah pergerakan.

Rekreasi

hiburan

dan

olah

raga,merupakan

kegiatan

yang

berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan


rohani yang berfungsi sebagai wadah untuk menentramkan kondisi
rohani, meningkatkan daya tahan tubuh, menetralisir kejiwaan dan
memberikan kesegaran berfikir. Kegiatan ini dapat berwujud fasislitas
in door (gedung tertutup) dan out door (ruang terbuka).

Perkuburan, merupakan komponen penyempurna dalam perencanaan


kota sehingga merupakan fasisilitas pelengkap dalam suatu kota.
Komponen ini senantiasa membutuhkan lahan yang relatif luas dimana
tingkat kebutuhan akan besarnya lahan cukup sulit untuk ditentukan
secara pasti. Pengembangannya sebaiknya diorientasikan berada di
luar kota.

Terminal, prasarana ini merupakan elemen sistem transportasi yang


berfungsi sebagai fasilitas bongkar muat barang dan/atau penumpang.
Keberadaannya menentukan sirkulasi barang dan/atau penumpang
serta turut pula menentukan perkembangan kegiatan ekonomi.
Lokasinya harus memberikan akses yang cukup tinggi dengan jalur

jalan utama dan keberdaannya tidak menimbulkan kemacetan atau


menurunnya akses yang tinggi, yang diakibatkan oleh sirkulasi
kendaraan yang keluar masuk terminal. Selain itu lokasi terminal
dapat menyatu dengan fasilitas perdagangan lain namun dibutuhkan
upaya pengaturan dan penataan lingkungan setempat.
II.4. STANDAR PRASARANA DRAINASE KASIBA
Pasal 97
Jaringan primer dan sekunder drainase harus mempunyai kapasitas tampung
yang cukup untuk menampung air
yang mengalir dari area Kasiba dan kawasan sekitarnya.
Pasal 98
Saluran pembuangan air hujan dapat dibangun secara terbuka dengan
ketentuan sebagai berikut :
a. dasar saluran terbuka lingkaran dengan diameter minimum 20 cm atau
berbentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 cm;
b. bahan saluran terbuat dari tanah liat, beton, pasangan batu bata dan atau
bahan lain;
c. kemiringan saluran minimum 2 %;
d. tidak boleh melebihi peil banjir di daerah tersebut;
e. kedalaman saluran minimum 30 cm;
f. apabila saluran dibuat tertutup, maka pada tiap perubahan arah harus
dilengkapi dengan lubang kontrol dan pada bagian saluran yang lurus lubang
kontrol harus ditempatkan pada jarak maksimum 50 (lima puluh) meter;
g. saluran tertutup dapat terbuat dari PVC, beton, tanah liat dan
bahan-bahan lain;

h. untuk mengatasi terhambatnya saluran air karena endapan pasir/tanah


pada drainase terbuka dan tertutup perlu bak kontrol dengan jarak kurang
lebih 50 M dengan dimensi (0,40x 0,40x 0,40) M3;
i. setiap Kasiba perlu melestarikan dan menyediakan kolam-kolam retensi dan
sumur resapan pada titik-titik terendah;
j. penggunaan pompa drainase merupakan upaya tambahan apabila ditemui
kesulitan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan dapat juga digunakan
untuk membantu agar pengaliran air dalam saluran mengalir lebihcepat.
Pasal 99
Tahapan perencanaan jaringan primer dan sekunder drainase meliputi :
a. pengumpulan data topografi dan pemetaan yang terdiri dari pemetaan
topografi dan pemotretan dari udara atau satelit; membuat peta tematik
dengan ketelitian skala 1: 5000 yang mencakup kontur interval 5 meter
untuk perencanaan jaringan; membuat peta tematik dengan ketelitian skala
1:1.000

untuk

perencanaan

detail;

membuat

level

ikat

topografi

(benchmark) yaitu elevasi dasar kota yang dikaitkan dengan elevasi muka air
laut pasang atau pada sungai besar; menentukan garis kontur dengan
penyesuaian terhadap titik ikat elevasi berdasarkan elevasi sungai yang ada
guna perencanaan drainase perumahan;
b. pengumpulan data hidrologi yang terdiri dari data yang mencakup
kedudukan muka air banjir terhadap elevasi lahan, serta data curah hujan
harian, bulanan dan tahunan;
c. pengumpulan data geologi yang terdiri dari penyelidikan tanah untuk
mengetahui kemungkinan penurunan pondasi saluran dan kekuatan / kondisi
tanah dasar untuk mengetahui daya dukung lapisan tanah tersebut.;
d. pengumpulan data kualitas dan kuantitas genangan, luas, lama, tinggi dan
frekuensi genangan dalam setahun;

e. pengumpulan data tentang kerugian dan kerusakan akibat


genangan.
Pasal 100
(1) Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat kolam retensi,
yaitu bangunan resapan buatan atau bangunan resapan alam yang berfungsi
untuk

menampung

air

hujan

dan

kemudian

meresap

kedalam

sssssssssssstanah atau mengalir ke saluran drainase.


(2) Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat peil banjir
sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana dalam pembangunan fisik agar
terbebas atau terhindar dari banjir dalam periode ulang tertentu.
(3) Pada periode perencanaan sistem drainase perlu memperhatikan daerah
tangkapan air (catchment area) agar tidak terjadi kegagalan pada fungsi
sistem drainase.
(4) Periode ulang desain yang harus direncanakan untuk Kasiba adalah seperti
tercantum pada Tabel Periode. Disain Makro dan Tabel Periode Disain Mikro
yang disajikan pada Lampiran 17 Peraturan Menteri Negara Perumahan
Rakyat ini.
Pasal 101
(1)

Pembangunan

jaringan

primer

dan

sekunder

drainase

harus

memperhatikan aspek hidrolis dan aspek struktur.


(2) Aspek Hidrolis sebagaimana disebutkan pada ayat (1) mencakup kecepatan
maksimum dan minimum alirandalam saluran, bentuk saluran, dan bangunan
pelengkap yang diperlukan.
(3) Aspek Struktur sebagaimana disebutkan pada ayat (1) mencakup jenis dan
mutu saluran, serta kekuatan dan kestabilan bangunan.