Anda di halaman 1dari 2

MA'AF

Dari balik pintu kamar


rentang tangan terbuka
dan senyumu
menyambutku sepulang shalat idul fitri
karena sakit kau menunggu diranjang
berangkulan dekap erat saling memaafkan
Tak kukira
itu terakhir kali kita berpelukan
Sepekan setelah itu
kupandang untuk terakhir kali wajah cantikmu
ketika kubuka tali ujung kain kafan di liang lahat
perlahan kusentuhkan lembut nempel ke tanah
menghadap kiblat, seraya kubacakan
Dua kalimat thoyibah, Sahadat
didin kusdian 2016
GANESHA 10
1970, dari Jalan Cihampelas
lonceng akhir pelajaran berdentang
kami gembira berhamburan
menuruni lembah Cikapundung
naik lembah lagi sampai Cikapayang
'moncor', menyelinap pagar 'Derenten'
setelah puas, lalu menyeberang Jalan Tamansari
main bola di kampus Ganesha
menginjak-nginjak rumput, dikejar-kejar Satpam,
tertawa bersama, kegembiraan usia sembilan tahun
pada hari lain, asyik juga nonton plonco, dan juga
nyelip di sela-sela tubuh orang dewasa
nonton go kart
1978, berbaris rapih berbaju putih berdasi kupu-kupu
bernyanyi di panggung aula barat
lagu 'Seuneu Bandung'
lomba 'rampak sekar'
haha, hanya juara harapan, ...
1980, di aula itu juga, dilantik menjadi mahasiswa baru
berjanji serentak, lalu ada pidato berjudul "Bahasa ..." (Bapak Ir. Yuswadi Saliya, M. Arch.)
1986, menyanyikan lagu Indonesia Raya, bersama sama
lagi mengucap janji, lulusan

1997, rindu
belajar lagi dua tahun, lagi
1999, Indonesia Raya, janji
xxxx, 'kagok' , daftar lagi, mahasiswa, lagi
baca, tulis ... baca, tulis
betapa meletihkan pulang-pergi ke kampus, itu lagi
lima tahun, lebih sedikit (padahal hampir tiga tahun loh, hihi)
tiga belas tahun belajar di Ganesha 10
yang terindah kukenang adalah, tetap
main bola di lapangan bola terluas di dunia,
kurasa ketika itu,
karena memang, aku yang kecil, haha
betul juga,
dunia ini hanya mainan
dibawah
Kebesaran Tuhan,
Allahu Akbar.
didin kusdian, 2016