Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

SEORANG LAKI-LAKI 31 TAHUN DENGAN ABSES PERIMANDIBULAR


SINISTRA

Diajukan untuk melengkapi tugas kepaniteraan


Ilmu Pendidikan Gigi dan Mulut Kedokteran Universitas Diponegoro
Disusun Oleh:
Hendy Pratamaputra
22010114210158
Syaiful Rizal
22010114210159
Adriansyah M.
22010114210160
Khaliza Cita K.
22010114210147
Pembimbing:
Drg. M. Reza Pahlevi Sp.BM

DEPARTEMEN ILMU PENDIDIKAN GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..............................................................................................

DAFTAR ISI...........................................................................................................

ii

BAB 1. PENDAHULUAN.....................................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................

2.1Definisi ......................................................................................................

2.2Anatomi leher .............................................................................................

2.3Etiologi.......................................................................................................

2.4Patofisiologi ...............................................................................................

2.5Penyebaran Abses.......................................................................................

2.6Diagnosis....................................................................................................

11

2.7Tata Laksana...............................................................................................

12

BAB III. LAPORAN KASUS................................................................................

14

3.1Identitas Penderita.......................................................................................

14

3.2Anamnesis...................................................................................................

14

3.3Pemeriksaan Fisik.......................................................................................

15

3.4Diagnosa Kerja ..........................................................................................

20

3.5Initial Plan...................................................................................................

20

BAB IV. PEMBAHASAN .....................................................................................

22

BAB V. KESIMPULAN ........................................................................................

24

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................

24

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah
mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi
(biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya
serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan
oleh jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang
lain. Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi
nanah. (Siregar, 2004).
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi
yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan
nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik. (Morison, 2003).
Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu virulensi bakteri,
ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu
menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan
sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak,
sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus.
Abses dental adalah infeksi yang terdapat pada daerah mulut, wajah, rahang,
dan tenggorokan dimana asal dari infeksi ini adalah infeksi gigi. Keadaan ini
disebabkan oleh kesehatan dan perawatan gigi yang buruk, kelainan autoimun seperti
sindroma Sjorgen, atau pada pasien yang imunocompromised seperti diabetes
mellitus, post radiasi atau kemoterapi, dan trauma minor di kavitas oral.
Abses dental dapat sangat menyakitkan terutama saat jaringan mengalami
peradangan atau akibat penekanan dari abses. Peradangan adalah reaksi segera dari

tubuh terhadap daerah yang mengalami cedera atau kematian sel. Peradangan ini
biasa di tandai dengan dolor ( sakit ), rubor ( merah ), kalor ( panas ), tumor
( bengkak ), dan fungsio laesa ( perubahan fungsi ). Pada abses, bakteri yang berasal
dari karies gigi dapat meluas ke gusi, pipi, tenggorokan, rahang, dan tulang wajah.
Abses perimandibular adalah abses odontogenik yang berlokasi pada margo
mandibula sampai submandibular space dan terdapat di bawah insersi
m.Buccinatorius yang merupakan kelanjutan serous periostitis. Pada keadaan klinis
abses perimandibular ditemukan tidak terabanya tepian body of Mandible, karena
pada region tersebut telah terisi oleh pus, sehingga terasa pembesaran di region tepi
mandibula.
Abses

perimandibular

dapat

menyebar

sampai

di

bawah

otot-otot

pengunyahan. Apabila hal itu terjadi, maka akan timbul bengkak-bengkak yang keras,
di mana nanah akan sukar menembus otot untuk keluar, sehingga untuk
mengeluarkan nanah tersebut harus dibantu dengan operasi pembukaan abses. Dan
apabila abses tersebut tidak dirawat dengan benar dapat menyebabkan sepsis,
osteomyelitis abses subkutan, dan plegmon.
1.2 Tujuan
Mengetahui gejala dan tanda dari abses perimandibular serta mengetahui cara
pencegahan dan penatalaksanaan dari abses perimandibular
1.3 Manfaat
a) Memberikan informasi dan wawasan kepada masyarakat mengenai abses
perimandibular meliputi gejala dan tanda serta pencegahan dan penanganannya.
b) Memberikan informasi kepada tenaga kesehatan mengenai abses perimandibular
meliputi gejala dan tanda serta pencegahan dan penanganannya.
c) Menjadi referensi di Perpustakaan Bagian Ilmu Pendidikan Gigi Dan Mulut
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Abses merupakan suatu penyakit infeksi yang ditandai oleh adanya rongga

yang terisi nanah (pus) dalam jaringan patologis.


Abses perimandibular adalah abses yang berlokasi pada margo mandibula
sampai submandibular space yang merupakan kelanjutan serous periostitis. Secara
klinis pada abses ini berbeda dengan abses yang lain, pada abses perimandibular akan
ditemukan tidak terabanya tepi mandibular karena pus telah mengisi region ini. Abses
yang terbentuk merusak jaringan periapical, tulang alveolus, tulang rahang terus
menembus kulit pipi dan membentuk fistel.1,2 Keadaan ini merupakan salah satu
infeksi pada leher bagian dalam (deep neck infection). Pada umumnya sumber infeksi
pada ruang submandibula berasal dari proses infeksi dari gigi, dasar mulut, faring,
kelenjar limfe submandibula. Mungkin juga kelanjutan infeksi dari ruang leher dalam
lain.2
2.2

Anatomi Leher
Pada daerah leher terdapat beberapa ruang potesial yang dibatasi oleh fasia

servikalis. Fasia servikalis terdiri dari lapisan jaringan ikat fibrous yang membungkus
organ, otot, saraf dan pembuluh darah serta membagi leher menjadi beberapa ruang
potensial. Fasia servikalis terbagi menjadi dua bagian yaitu fasia servikalis
superfisialis dan fasia servikalis profunda.7,8
Fasia servikalis superfisialis terletak tepat dibawah kulit leher berjalan dari
perlekatannya di prosesus zigomatikus pada bagian superior dan berjalan ke bawah ke
arah toraks dan aksila yang terdiri dari jaringan lemak subkutan. Ruang antara fasia

servikalis superfisialis dan fasia servikalis profunda berisi kelenjar limfe superfisial,
saraf dan pembuluh darah termasuk vena jugularis eksterna.7,8
Fasia servikalis profunda terdiri dari tiga lapisan yaitu (gambar 1):7,8
1.

Lapisan superfisial
Lapisan ini membungkus leher secara lengkap, dimulai dari dasar tengkorak
sampai daerah toraks dan aksila. Pada bagian anterior menyebar ke daerah
wajah

dan

melekat

pada

klavikula

serta

membungkus

musculus

sternokleidomastoideus, musculus trapezius, musculus masseter, kelenjar


parotis dan submaksila. Lapisan ini disebut juga lapisan eksternal, investing
layer, lapisan pembungkus dan lapisan anterior.
2.

Lapisan media
Lapisan ini dibagi atas dua divisi yaitu divisi muskular dan viscera. Divisi
muskular terletak dibawah lapisan superfisial fasia servikalis profunda dan
membungkus musculus sternohioid, musculus sternotiroid, musculus tirohioid
dan musculus omohioid. Dibagian superior melekat pada os hioid dan kartilago
tiroid serta dibagian inferior melekat pada sternum, klavikula dan skapula.
Divisi viscera membungkus organ-organ anterior leher yaitu kelenjar tiroid,
trakea dan esofagus. Di sebelah posterosuperior berawal dari dasar tengkorak
bagian posterior sampai ke esofagus sedangkan bagian anterosuperior melekat
pada kartilago tiroid dan os hioid. Lapisan ini berjalan ke bawah sampai ke
toraks, menutupi trakea dan esofagus serta bersatu dengan perikardium. Fasia
bukkofaringeal adalah bagian dari divisi viscera yang berada pada bagian
posterior faring dan menutupi musculus konstriktor dan musculus buccinator.

3.

Lapisan profunda
Lapisan ini dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi alar dan prevertebra. Divisi
alar terletak diantara lapisan media fasia servikalis profunda dan divisi
prevertebra, yang berjalan dari dasar tengkorak sampai vertebra torakal II dan
bersatu dengan divisi viscera lapisan media fasia servikalis profunda. Divisi
alar melengkapi bagian posterolateral ruang retrofaring dan merupakan dinding

anterior dari danger space. Divisi prevertebra berada pada bagian anterior
korpus vertebra dan ke lateral meluas ke prosesus tranversus serta menutupi
otot-otot didaerah tersebut. Berjalan dari dasar tengkorak sampai ke os
koksigeus serta merupakan dinding posterior dari danger space dan dinding
anterior dari korpus vertebra. Ketiga lapisan fasia servikalis profunda ini
membentuk selubung karotis (carotid sheath) yang berjalan dari dasar
tengkorak melalui ruang faringomaksilaris sampai ke toraks.

Gambar 2. Potongan obliq leher9


Ruang potensial leher dalam dibagi menjadi ruang yang melibatkan daerah
sepanjang leher, ruang suprahioid dan ruang infrahioid (gambar 3 dan gambar 4).6
1.

Ruang yang melibatkan sepanjang leher terdiri dari:


a. ruang retrofaring
b. ruang bahaya (danger space)
c. ruang prevertebra.

2.

Ruang suprahioid terdiri dari:


a.
b.
c.
d.
e.

ruang submandibula
ruang parafaring
ruang parotis
ruang mastikor
ruang peritonsil

f.
3.

ruang temporalis.

Ruang infrahioid
a.

ruang pretrakeal.

Gambar 3. Potongan sagital leher10

Gambar 4. Potongan axial kepala11


2.3

Etiologi
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau

kelenjar limfa submandibula.1,3 Mungkin juga sebagian kelanjutan infeksi ruang leher
dalam lain. Kuman penyebab biasanya campuran kuman aerob dan aerob. 1
Sebagian besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman,
baik kuman aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering
ditemukan

adalah

Stafilokokus,

Streptococcus

sp,

Haemofilus

influenza,

Streptococcus Pneumonia, Moraxtella catarrhalis, Klebsiell sp, Neisseria sp. Kuman


anaerob yang sering ditemukan pada abses leher dalam adalah kelompok batang gram
negatif, seperti Bacteroides, Prevotella, maupun Fusobacterium.4,5

2.4

Patofisiologi
Abses merupakan rongga patologis yang berisi pus yang disebabkan oleh

infeksi bakteri campuran. Bakteri yang berperan dalam proses pembentukan abses ini
memiliki enzim aktif yang disebut koagulase dan hyaluronidase. Koagulase berfungsi
untuk mendeposisi fibrin sehingga terbentuk sebuah pseudomembran yang terbuat
dari jaringan ikat, yang sering kita kenal sebagai membran abses. Oleh karena itu,
jika dilihat melalui ronsenologis, batas abses tidak jelas dan tidak beraturan, karena
jaringan ikat adalah jaringan lunak yang tidak mampu ditangkap dengan baik dengan
ronsen foto. Hyaluronidase adalah enzim yang bersifat merusak jembatan antar sel
yang terbuat dari jaringan ikat (hyalin/hyaluronat), Padahal, fungsi jembatan antar sel
penting adanya, sebagai transpor nutrisi antar sel, sebagai jalur komunikasi antar sel,
juga sebagai unsur penyusun dan penguat jaringan. Jika jembatan ini rusak dalam
jumlah besar, maka dapat diperkirakan, kelangsungan hidup jaringan yang tersusun
atas sel-sel dapat terancam rusak/mati/nekrosis.
Infeksi pada ruang ini biasanya berasal dari gigi molar kedua dan ketiga dari
mandibula. Infeksi yang dapat menyebabkan abses ini terjadi dalam daerah
periapikal, yaitu di dalam tulang. Untuk mencapai luar tubuh, maka abses ini harus
menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak, lalu barulah bertemu
dengan dunia luar. Inilah yang disebut pola penyebaran abses.
Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu virulensi bakteri,
ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu
menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan
sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak,
sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus.
2.5

Penyebaran Abses1,2
Seperti yang sudah dibahas di atas, bahwa pola penyebaran abses dipengaruhi

oleh 3 kondisi, yaitu virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot.
Apabila terjadi sebuah kondisi abses periapikal yang mengalami infeksi, pus yang

terkandungnya harus dikeluarkan. Namun apabila pus tidak dikeluarkan akan tertahan
di regio tertentu sehingga dapat menyebar ke regio lain. Proses pergerakan dari pus
tersebut dipengaruhi oleh faktor ketahanan jaringan dan perlekatan otot. Beberapa
proses penyebaran abses, meliputi:
a. Abses Submukosa (Submucous Abscess)
Abses submucosa merupakan terdapat pus dibawah lapisan mukosa. Terdapat
empat lokasi abses submucosa yaitu abses yang terletak di palatal, disebut sebagai
Abses Palatal (Palatal Abscess). Yang terletak tepat dibawah lidah dan diatas
(superior) dari perlekatan otot Mylohyoid disebut abses Sublingual (Sublingual
Abscess). Yang terletak di sebelah bucal gigi disebut dengan Abses vestibular,
kadangkala sering terjadi salah diagnosa karena letak dan secara klinis terlihat seperti
Abses Bukal (Buccal Space Abscess), akan tetapi akan mudah dibedakan ketika kita
melihat arah pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah superior dari
perlekatan otot masseter (rahang atas) dan inferior dari perlekatan otot maseter
(rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan
pusnya adalah inferior dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari
perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Vestibular.
b. Abses Bukal (Buccal Space Abscess)
Abses Bukal (Buccal Space Abscess) dan Abses Vestibular kadang terlihat
membingungkan keadaan klinisnya, akan tetapi akan mudah dibedakan ketika melihat
arah pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah superior dari perlekatan
otot masseter (rahang atas) dan inferior dari perlekatan otot maseter (rahang bawah),
maka kondisi ini disebut Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan pusnya adalah
inferior dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari perlekatan otot
maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Vestibular.

10

c. Abses Submandibular (Submandibular Abscess)


Abses ini tercipta saat jalur pergerakan pus melalui inferior (dibawah)
perlekatan otot Mylohyoid dan masih diatas (superior) otot Platysma.
d. Abses Perimandibular
Abses perimandibular merupakan abses yang unik dan khas karena pada
klinisnya ditemukan tidak terabanya tepi body of Mandible karena pada regio tersebut
telah terisi oleh pus, sehingga terasa pembesaran di regio tepi mandibula.

Gambar 1. Potongan frontal oral cavity

11

e. Abses Subkutan (Subcutaneous Abscess)


Abses ini terletak tepat dibawah lapisan kulit (subkutan). Ditandai dengan
terlihat jelasnya pembesaran secara ekstra oral, kulit terlihat mengkilap di regio yang
mengalami pembesaran, dan merupakan tahap terluar dari seluruh perjalanan abses.
Biasanya jika dibiarkan, akan terdrainase spontan, namun disarankan untuk
melakukan insisi untuk drainase sebagai perawatan definitifnya.
f. Sinusitis Maksilaris
Keadaan ini merupakan sebuah kelanjutan infeksi yang lumayan ekstrim,
karena letak akar palatal gigi molar biasanya berdekatan dengan dasar sinus
maksilaris, maka jika terjadi infeksi pada periapikal akar palatal gigi molar, jika tidak
tertangani dari awal, maka penjalaran infeksi dimungkinkan akan berlanjut ke rongga
sinus maksilaris dan menyebabkan kondisi sinusitis.
2.6

Diagnosis
Anamnesis dan gejala klinis
Pasien biasanya akan mengeluhkan demam, air liur yang banyak, trismus

akibat keterlibatan musculus pterygoid, disfagia dan sesak nafas akibat sumbatan
jalan nafas oleh lidah yang terangkat ke atas dan terdorong ke belakang. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembengkakan di daerah perimandibula,
fluktuatif, dan nyeri tekan. Pada insisi didapatkan material yang bernanah atau
purulent (merupakan tanda khas). Lidah terangkat ke atas dan terdorong ke
belakang.2,7,8
Pemeriksaan penunjang
1.

2.

Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan leukositosis. Aspirasi material yang
bernanah (purulent) dapat dikirim untuk dibiakkan guna uji resistensi antibiotik
Radiologis
a. Rontgen jaringan lunak kepala AP

12

b. Rontgen panoramik
Dilakukan apabila penyebab abses submandibuka berasal dari gigi.
c. Rontgen thoraks
Perlu dilakukan untuk evaluasi mediastinum, empisema subkutis,
pendorongan saluran nafas, dan pneumonia akibat aspirasi abses.
2.7

Tata Laksana
Terapi yang diberikan pada abses perimandibula adalah :

1.

Antibiotik (parenteral)
Untuk mendapatkan jenis antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab, uji
kepekaan perlu dilakukan. Namun, pemberian antibiotik secara parenteral
sebaiknya diberikan secepatnya tanpa menunggu hasil kultur pus. Antibiotik
kombinasi (mencakup terhadap kuman aerob dan anaerob, gram positip dan
gram negatif) adalah pilihan terbaik mengingat kuman penyebabnya adalah
campuran dari berbagai kuman. Secara empiris kombinasi ceftriaxone dengan
metronidazole masih cukup baik. Setelah hasil uji sensistivitas kultur pus telah
didapat pemberian antibiotik dapat disesuaikan. 2,4-6,12
Berdasarkan uji kepekaaan, kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi
terhadap

terhadap

ceforazone

sulbactam,

moxyfloxacine,

ceforazone,

ceftriaxone, yaitu lebih dari 70%. Metronidazole dan klindamisin angka


sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk kuman anaerob gram negatif.
Antibiotik biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari. 2,4-6,12
2.

Bila abses telah terbentuk, maka evakuasi abses dapat dilakukan. Evakuasi
abses (gambar 4) dapat dilakukan dalam anestesi lokal untuk abses yang
dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam
dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os
hioid, tergantung letak dan luas abses.2 Bila abses belum terbentuk, dilakukan
panatalaksaan secara konservatif dengan antibiotik IV, setelah abses terbentuk
(biasanya dalam 48-72 jam) maka evakuasi abses dapat dilakukan.13

13

3.

4.

Mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas, maka tindakan


trakeostomi perlu dipertimbangkan.13
Pasien dirawat inap 1-2 hari hingga gejala dan tanda infeksi reda.2

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1

IdentitasPasien
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Pekerjaan
Alamat
Agama
Suku
Tgl. Pemeriksaan
No CM

3.2

: Tn. Suwandi
: Laki-Laki
: 31 tahun
: Wiraswasta (Pegawai pabrik mebel)
: Tambak aji, Ngaliyan Semarang
: Islam
: jawa
: 30 Mei 2016
: C587968

Anamnesis
Autoanamnesis pada 30 Mei 2016 pukul 09.30 di Poliklinik Gigi dan Mulut
Keluhan Utama

Bengkak pipi kiri

Riwayat Penyakit Sekarang


10 hari yang lalu pasien mengatakan gigi bawah sebelah kiri sakit dan
berlubang. Pasien mengatakan nyeri yang terus menerus sehingga pasien sulit
makan.
5 hari yang lalu pasien masih merasakan keluhan yang sama dan
pasien mengobati sakit giginya dengan naspro dan bintang tujuh. Namun sakit
tidak dirasakan berkurang dan pipi semakin membesar. Pasien menjadi sulit
untuk membuka mulut. Pasien menjadi sulit makan, minum dan saat ini pasien
mengeluh nyeri tenggorok saat harus menelan. Pasien tidak demam, tidak
sesak napas dan menurut pasien tidak memiliki riwayat sakit gigi sebelumnya.

14

15

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat trauma daerah wajah dan mulut (-)

Riwayat sakit gigi sebelumnya disangkal

Riwayat menggunakan gigi palsu (-), gigi logam (-)

Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat diabetes melitus disangkal

Riwayat hemophilia disangkal

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat operasi sebelumnya disangkal

Riwayat merokok (+) sejak usia 16 tahun sebanyak 10 batang perhari

Riwayat mengkonsumsi alcohol (-)

Riwayat alergi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat diabetes melitus disangkal

Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti ini

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien merupakan wiraswata dan sudah menikah. Biaya pengobatan menggunakan
jamkeskot.
Kesan: sosial ekonomi cukup
3.3

PemeriksaanFisik

Dilakukan pada 30 Mei 2016 pukul 09.30 di Poliklinik Gigi dan Mulut
a. Status Generalis
o Keadaanumum

16

Kesadaran

: compos mentis

Keadaangizi

: cukup

o Tanda-tanda vital
TD

: 140/80 mmHg

Nadi

: 82x/ menit

RR

: 20x/ menit

Suhu

: 36,6oC

o Gambaran Umum lainnya :


Tinggi Badan

: 170 cm

Berat Badan

: 56 kg

Nutrisi

: BMI cukup

Hidrasi

: Baik

Edema

: -

Pucat

: -

Clubbing finger : Jaundice

: -

17

PemeriksaanEkstraoral

o Wajah
Inspeksi

: asimetri (+), kemerahan (+)

Palpasi

: nyeritekan (+), tepi rahang tidak teraba

Mata

: visus 6/6, diplopia (-), injeksi konungtiva (-)

Hidung

: deviasi (-), discharge (-)

Telinga

: discharge (-)

Mulut

: trismus (+) 1 jari

Sensoris

: normoestesia

o Leher
Inspeksi

: pembesaran nnll submandibula sinistra (-), dextra (-)

Palpasi

: nyeri (+)

18

Pemeriksaan Intraoral

o Mukosa pipi

edema (-/-), hiperemis (-/-)

o Mukosa palatum

sulit dinilai

o Mukosa dasar mulut/ lidah : sulit dinilai


o Mukosa pharynx

sulit dinilai

o Ginggivaatas

edema (-/-), hiperemis (-/-)

o Ginggivabawah

edema (-/-), hiperemis (-/-)

o Karanggigi

(+)

o Pocket

(-)

o Oklusi

Normal bite

o Palatum

Sedang

o Supernumerary teeth :

Tidakada

19

o Diastema

Tidakada

o Gigi anomali

Tidakada

////Odontogram/

b. Status Lokalis
PemeriksaanEkstraoral
Inspeksi

: asimetris wajah, tampak bengkak pada pipi kiri, tampak


kemerahan, tampak trismus 1 jari

Palpasi

: terdapat bengkak pada pipi kiri, tepi rahang tidak teraba, nyeri
tekan (+)

Pemeriksaan Intraoral
Sisa akar gigi 1.2; 1.5; 1.6; 2.3; 3.5; 4.5; 4.6; dan 4.7
Missing teeth gigi 2.2
Karies gigi 1.4; 2.1; 3.3; 3.4; 3.6; dan 4.3

20

c. Status Dental
Gigi 1.2; 1.5; 1.6; 2.3; 3.5; 4.5; 4.6; dan 4.7
Inspeksi

: tampak sisa akar gigi

Sondasi

: tidak dilakukan pemeriksaan

Perkusi

: (-)

Vitalitas

: tidak dilakukan pemeriksaan

Mobilitas

: cekat

Gigi 1.4; 2.1; 3.3; 3.4; 3.6; dan 4.3


Inspeksi

: terdapat lubang gigi dengan kedalaman mencapai dentin

Sondasi

: tidak dilakukan pemeriksaan

Perkusi

: (-)

Vitalitas

: tidak dilakukan pemeriksaan

Mobilitas

: cekat

3.4

Diagnosis Kerja
Abses perimandibular

3.5

Initial Plan

Dx

: S : O : Laboratorium darah rutin, GDS, Ureum, Kreatinin

Rx

Rujuk dokter spesialis bedah mulut

Insisi drainase

Asam mefenamat 3x 500 mg

Mx

: Keadaan umum, tanda vital, dan obstruksi jalan nafas

Ex

21

Menjelaskan kepada pasien mengenai diagnosis dan kondisi pasien bahwa


keadaan abses tersebut harus segera dirujuk dan segera ditangani karena
merupakan suatu kegawat daruratan.

Menjelaskan kepada pasien mengenai komplikasi yang muncul dari abses bila
tidak segera ditangani.

Menjelaskan kepada pasien mengenai pentingnya oral hygiene dan cara


menyikat gigi yang benar.

BAB IV
PEMBAHASAN

Abses perimandibular adalah abses odontogenik yang berlokasi pada margo


mandibula sampai submandibular space dan terdapat di bawah insersi
m.Buccinatorius yang merupakan kelanjutan serous periostitis.
Seorang laki-laki 31 tahun datang ke poli gigi RSDK mengeluhkan bengkak
pipi kiri. 10 hari yang lalu pasien mengatakan gigi bawah sebelah kiri sakit dan
berlubang.

Pasien mengatakan nyeri yang terus menerus sehingga pasien sulit

makan.
5 hari yang lalu pasien masih merasakan keluhan yang sama dan pasien
mengobati sakit giginya dengan naspro dan bintang tujuh. Namun sakit tidak
dirasakan berkurang dan pipi semakin membesar. Pasien menjadi sulit untuk
membuka mulut. Pasien menjadi sulit makan, minum dan saat ini pasien mengeluh
nyeri tenggorok saat harus menelan. Pasien tidak demam, tidak sesak napas dan
menurut pasien tidak memiliki riwayat sakit gigi sebelumnya. Riwayat merokok sejak
usia 16 tahun sebanyak 10 batang perhari.
Pada pemeriksaan fisik tanggal 30 Mei 2016 pukul 09.30 di Poliklinik Gigi
dan Mulut. Pada wajah ditemukan asimetri (+), kemerahan (+), nyeritekan (+), tepi
rahang tidak teraba, trismus mulut (+) 1 jari. Hal ini sesuai teori, bahwa tepi rahang
tidak teraba karena pada region tersebut telah terisi oleh pus, sehingga terasa
pembesaran di region tepi mandibula. Trismus yang terjadi juga karena keterlibatan
musculus pterygoid. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembengkakan di
daerah perimandibula, fluktuatif, dan nyeri tekan
Pada leher terdapat nyeri (+). Pada pemeriksaan intraoral terdapat karang
gigi. Pada pemeriksaan Odontogram Sisa akar gigi 1.2; 1.5; 1.6; 2.3; 3.5; 4.5; 4.6; dan
4.7. Missing teeth gigi 2.2. Karies gigi, terdapat lubang gigi dengan kedalaman
22

23

mencapai dentin pada gigi 1.4; 2.1; 3.3; 3.4; 3.6; dan 4.3. Hal ini sesuai teori, karena
infeksi pada perimandibula biasanya berasal dari gigi molar kedua dan ketiga , dasar
mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfa submandibula.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien ini didiagnosis sebagai
Abses perimandibular. Untuk tatalaksana dilakukan cek darah rutin, GDS, Ureum,
Kreatinin. Hal ini sesuai teori, untuk mengetahui apakah didapatkan leukositosis
Terapi dilakukan Insisi drainase dan pemberian asam mefenamat 3x 500 mg. Hal ini
sesuai teori, karena abses telah terbentuk, maka evakuasi abses dapat dilakukan.
Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anestesi lokal untuk abses yang dangkal dan
terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi
dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os hioid, tergantung letak
dan luas abses. Monitoring keadaan umum, tanda vital, dan obstruksi jalan nafas. Hal
ini sesuai teori karena mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas, maka
tindakan trakeostomi perlu dipertimbangkan Menjelaskan kepada pasien mengenai
komplikasi yang muncul dari abses bila tidak segera ditangani dan dalam hal ini
pasien harus segera ditangani oleh spesialis bedah mulut. Menjelaskan kepada pasien
mengenai pentingnya oral hygiene dan cara menyikat gigi yang benar.

BAB V
KESIMPULAN

Telah diperiksa laki-laki pria 31 tahun dengan diagnosis utama Abses


perimandibular. Terapi yang diberikan berupa insisi drainase dan perawatan luka
setelah insisi

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Rizzo PB, Mosto MCD. Submandibular space infection: a potentially lethal


infection. International Journal of Infectious Disease 2009;13:327-33
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. 145-48
3. Ariji Y, Gotoh M, Kimura Y, Naitoh K, Kurita K, Natsume N, et all. Odontogenic
infection pathway to the submandibular space: imaging assessment. Int. J. Oral
Maxillofac. Surg. 2002; 31: 1659
4. Huang T, chen T, Rong P, Tseng F, Yeah T, Shyang C. Deep neck infection:
analysis of 18 cases. Head and neck. Ockt 2004.860-4
5. Yang S.W, Lee M.H, See L.C, Huang S.H, Chen T.M, Chen T.A. Deep neck
abscess: an analysis of microbial etiology and effectiveness of antibiotics.
Infection and Drug Resistance. 2008;1:1-8.
6. Pulungan

MR.

Pola

Kuman

abses

leher

dalam.

Diunduh

dari

http://www.scribd.com/doc/48074146/POLA-KUMAN-ABSES-LEHERDALAM-Revisi.
7. Calhoun KH, Head and neck surgery-otolaryngology Volume two. 3 nd Edition.
USA: Lippincott Williams and Wilkins. 2001. 705,712-3
8. Ballenger JJ. Penyakit telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Jilid 1. Edisi
ke-13. Jakarta: Bina Rupa Aksara,1994.295-304
9. Deep

Neck

Space

Infections

(updated

08/06).

Diunduh

dari

http://www.entnyc.com/coclia_deep.pdf.
10. Pictures of submandibular neck. Otolaryngology Houston. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/837048-overview.

25

11. Micheau A, Hoa D. ENT anatomy: MRI of the face and neck - interactive atlas of
human anatomy using cross-sectional imaging (updated 24/08/2008 10:51 pm).
Diunduh dari http://www.imaios.com/en/e-Anatomy/Head-and-Neck/Face-andneck-MRI.
12. Rambe AYM. Abses Retrofaring. Fakultas kedokteran Bagian Ilmu Penyakit
Telinga Hidung Tenggorokan Universitas Sumatra Utara. Diunduh dari USU
digital library 2003.
13. Gmez CM, Iglesia V, Palleiro O, Lpez CB. Phlegmon in the submandibular
region secondary to odontogenic infection. Emergencias 2007;19:52-53

26