Anda di halaman 1dari 42

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penduduk lanjut usia (lansia) merupakan bagian dari anggota keluarga
dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan
peningkatan usia harapan hidup. Data sensus penduduk jumlah populasi
lanjut usia 60 tahun keatas di dunia terus bertambah, pada tahun 1950
sebanyak 13 juta (4 % dari total populasi), tahun 2000 sebanyak 16 juta
(7, 2% dari total populasi) dan terus bertambah berkisar 8 juta setiap
tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 menjadi 41, 5 juta (13, 6% dari
total populasi) dan pada tahun 2050 sebanyak 79, 6 juta (23, 7% dari total
populasi) (U.S Census Bureau, 2002).
Data demografi berdasarkan sensus penduduk tahun 2004, Indonesia
memasuki era penduduk berstruktur tua dimana proporsi lanjut usia
mencapai 16,52 juta jiwa atau (8,24%) dari total jumlah penduduk. tahun
2008 jumlah lanjut usia sudah berkisar 19,50 juta jiwa atau (8,55%) dan
meningkat menjadi 24 juta jiwa atau (9,77%) dari total penduduk pada
tahun 2010 (Badan Pusat Statistik, 2008).
Keberadaan lansia yang semakin meningkat akan menimbulkan
berbagai macam masalah yang muncul seperti masalah fisik, psikologis, dan
sosial akibat proses degeneratif yang muncul dengan seiring bertambahnya
usia, sehingga akan menjadi tantangan bagi lansia dan lingkunganya. Semua

orang akan mengalami masa tua atau lanjut usia yang secara alami tidak
dapat

dihindarkan.

The

National

Od

Peoples

Welfare

Council

mengemukakan bahwa penyakit atau gangguan umum pada lanjut usia ada
12 macam yakni depresi mental, gangguan pendengaran, bronkitis kronis,
gangguan pada tungkai/sikap berjalan, gangguan pada sendi panggul,
anemia, demensia, gangguan penglihatan, kecemasan, dekompensasi kordis,
diabetes mellitus, osteomalasia dan hipoteriodisme serta gangguan defekasi
(Nugroho, 2008).
Perubahan pada lansia ini salah satunya adalah terjadi perubahan
psikologi seperti terjadinya depresi. Depresi ini merupakan gangguan
mental yang sering diderita para lanjut usia. Depresi menjadi salah satu
problem gangguan mental yang sering ditemukan pada lanjut usia.
Prevalensinya diperkirakan 10%-15% dari populasi lanjut usia dan diduga
sekitar 60% dari pasien di unit Geriatri menderita depresi, sehingga gejala
depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua
(Soejono, 2000). Angka kejadian depresi pada lansia usia diatas 65tahun
diperkirakan sekitar 10-30% (Zerhusen dalam Pawlinska-Chmara, 2005).
Faktor penyebab terjadinya depresi pada lansia antara lain faktor
biologi, psikologi, stres kronis, penggunaan obat. Adapun faktor biologi
antara lain adalah genetik, perubahan struktural otak, risiko vaskular, dan
kelemahan fisik. Faktor psikologi penyebab depresi pada lansia antara lain

adalah tipe kepribadian dan dukungan sosial. Faktor psikososial tersebut


adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman atau
sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi diri, keterbatasan
finansial, dan penurunan fungsi kognitif (Kaplan, 2010).
Faktor prikososial ini berkaitan dengan tingkah laku lansia dalam
hubungannya sebagai anggota masyarakat yaitu kaitannya dengan situasi
sosial yang ada (Ahmadi, 2009).
Seiring bertambahnya usia, penuaan tidak dapat dihindarkan dan
terjadi perubahan keadaan fisik, selain itu para lansia mulai kehilangan
pekerjaan, kehilangan tujuan hidup, kehilangan teman, risiko terkena
penyakit, terisolasi dari lingkungan, dan kesepian. Hal tersebut dapat
memicu terjadinya gangguan mental.
Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang banyak dijumpai
pada lansia akibat proses penuaan. Berdasarkan data di Canada, 5-10%
lansia yang hidup dalam komunitas mengalami depresi, sedangkan yang
hidup dalam lingkungan institusi 30-40% mengalami depresi dan cemas.
Depresi menurut WHO (World Health Organization) merupakan suatu
gangguanmental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan
kesenangan atau minat,perasaan bersalah atau harga diri rendah,gangguan
makan atau tidur, kurang energi,dan konsentrasi yang rendah. Masalah ini
dapat akut atau kronik dan menyebabkan gangguan kemampuan individu

untuk

beraktivitas

sehari-hari.

Pada

kasus

parah,

depresi

dapat

menyebabkan bunuh diri. Sekitar 80% lansia depresi yang menjalani


pengobatan dapat sembuh sempurna dan menikmati kehidupan mereka,
akan tetapi 90% mereka yang depresi mengabaikan dan menolak
pengobatan gangguan mental tersebut.
Faktor psikososial yang tidak segera ditangani dengan baik
dikhawatirkan dapat menjadi penyebab kejadian depresi. Artinya dukungan
sosial yang diberikan kepada lansia dapat menghambat terhadap berlarutnya
masalah psikososial yang pada akhir mencegah kejadian depresi.
Sehubungan dengan kondisi dan permasalahan yang ada, penulisan
tertarik untuk melakukan penelitian yang terkait dengan hubungan
intensitas kunjungan keluarga dengan kejadian depresi pada lansia yang
akan dilakukan di Panti Sosial Tresna Werda Puspa Karma kota Mataram.

1.2.

Perumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah hubungan antara
intensitas kunjungan keluarga dengan kejadian depresi pada lansia usia 60
sampai dengan 90 tahun di Panti Sosial Tresna Werda Puspa Karma kota
Mataram?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Tujuan umum dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan
intensitas kunjungan keluarga dengan kejadian depresi pada
lansiausia 60 sampai dengan 90 tahun di Panti Sosial Tresna Werda
Puspa Karma kota Mataram.
1.3.2. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengidentifikasi intensitas kunjungan keluarga pada lansia di
Panti Sosial Tresna Werda Puspa Karmakota Mataram.
b. Mengidentifikasi kejadian depresi pada lansia di Panti Sosial
Tresna Werda Puspa Karma kota Mataram.
c. Menganalisis hubungan faktor intensitas kunjungan keluarga
dengan kejadian depresi pada lansia usia 60 sampai dengan 90
tahun di Panti Sosial Tresna Werda Puspa Karma kota Mataram.
1.4

Manfaat Penelitian
1.4.1. Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi
pengembangan

ilmu,

khususnya

keilmuan

Gerontik

tentang

hubungan intensitas kunjungan keluarga dengan kejadian depresi


pada lansia sehingga dapat memberikan kemajuan bidang kesehatan
jiwa.

1.4.2.Bidang Ilmu
Dengan di adakannya Skripsi ini yang mengangkat judul
( Hubugan Faktor Intensitas Kunjungan Keluarga Dengan Tingkat
Depresi Pada Orang Lanjut usia Di Panti Sosial Tresna Werda Puspa
Karma kota Mataram) ini dapat menjadi tambahan wawasan bagi
mahasiswa Fakultas Kedokteran Islam AL-Azhar mengenai kejadian
depresi pada lanjut usia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Lanjut usia
2.1.1.Pengertian Lanjut usia
Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik,
yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup.
Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia
mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika
kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi
ini, dan memasuki fase selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati.
Bagi manusia yang normal, siapapun orangnya, tentu telah siap
menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo&Martono,
2004).
2.1.2Batasan Lanjut Usia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Batasan lanjut
usia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59
tahun
b. Lanjut usia (elderly) usia antara 60 sampai 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) usia antara 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) usia di atas 90 tahun

Jadi lanjut usia dapat kita artikan sebagai kelompok penduduk


yang berusia 60 tahun keatas dan proses menghilangnya secara
perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya.
2.1.3.Proses menua
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak
dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita. Dan merupakan proses yang terus-menerus secara alamiah
dimulai sejak lahir dan setiap individu tidak sama cepatnya. Menua
bukan status penyakit tetapi merupakan proses berkurangnyadaya
tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari
luar tubuh.

2.2. Depresi
2.2.1Definisi

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia


yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala
penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan,
psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya,
serta bunuh diri (Kaplan, 2010).

2.2.2Etiologi
Adapun beberapa teori menyatakan bahwa faktor penyebab
depresi pada lansia dibagi menjadi beberapa faktor yaitubiologi,
genetik, psikososial, dan lain-lain.
2.2.2.1. Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat
kelainan pada amin biogenik, seperti 5 HIAA (5-Hidroksi
indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5
methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin, dan
cairan

serebrospinal

pada

pasien

gangguan

mood.

Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah


serotonin

dan

epineprin.

Penurunan

serotonin

dapat

mencetuskan depresi (Kaplan, 2010).


Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah
menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang

menurunkan konsentrasi dopamin seperti respirin dan


penyakit dengan konsentrasi dopamin menurun seperti
Parkinson. Kedua penyakit tersebut disertai gejala depresi.
Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti
tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala
depresi (Kaplan, 2010).
2.2.2.2.

Kelainan biogenik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat
kelainan pada

biogenik, seperti: HIAA (Hidroksi indol

asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (methoxy


hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan caian
serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neurotransmiter
yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan
epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi,
dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki
serotonin yang rendah. Terapi despiran mendukung teori
bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi
(Kaplan,2010).
Obat yang menurunkan konsentrasi dopamin adalah
dengan disertai gejala depresi.Demikian sebaliknya, obat
yang

meningkatkan

konsentrasi

dopamin

dapat

10

menurunkan gejala depresi. Dua teori tentang dopamin dan


depresi adalah bahwa jalur dopamin mesolimbik, mungkin
mengalami disfungsi pada depresi dan reseptor dopamin
tipe I.
Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin,seperti
tyrosin, amphetamine, dan bupropion, dapat menurunkan
gejaladepresi (Kaplan, 2010).
2.2.2.3.

Disregulasi neuroendokrin
Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis
neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung
neurotransmitter biogenik. Pasien yang mengalami depresi
ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi
ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung
biogenik.
Sebaliknya, stress kronik yang mengaktivasi aksis
Hypothalamic Pituitary Adrenal(HPA) dapat menimbulkan
perubahan pada biogenicsentral. Aksis neuroendokrin yang
paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis
hormon pertumbuhan.

2.2.2.4.Aksis adrenal

11

Peran kortisol. Seperti sudah kita ketahui, teori lama


mengatakan bahwa terdapat hubungan antara hipersekresi
kortisol dengan depresi. Sekitar 50 % penderita depresi
memiliki peningkatan kadar kortisol. Neuron dalam nukleus
paraventrikuler

(PVN)

hipotalamus

melepaskan

corticotropin releasing hormon (CRH); hormon ini


merangsang

pelepasan

adrenocorticotrophic

hormon

(ACTH) dari hipofisis anterior. ACTH dilepas bersama


dengan endorphin dan lipotropin, dua peptida yang
disintesis dari prekursor protein yang sama dengan
sintesisnya ACTH.
ACTH merangsang pelepasan kortisol korteks adrenal.
Mekanisme balik kortisol bekerja dengan cara paling tidak
melalui 2 mekanisme:
Mekanisme balik cepat : sensitif terhadap peningkatan
kadar kortisol, bekerja melalui reseptor kortisol hipokampus
dan menurunkan pelepasan ACTH.
Mekanisme lambat : sensitif terhadap kadar stabil
kortisol, mekanismenya diduga lewat reseptor hipofisis dan
adrenal(Thase,M.E, 2005).
2.2.2.5. Aksis tiroid

12

Gangguan tiroid ditemukan pada sekitar 5 10 %


pasien depresi. Implikasi klinis dari kaitan ini adalah
pentingnya penentuan status tiroid pada pasien depresi.
Sekitar

sepertiga

pasien

gangguan

depresi

berat

memperlihatkan pelepasan lambat (tumpul) tirotropin (TSH)


terhadap

infus

protirelin

(suatu

thyrotropin

releasing

hormone). Tapi abnormalitas ini terdapat juga pada gangguan


psikiatrik lain, sehingga kemanfaatan diagnostiknya terbatas.
2.2.2.6.Hormon pertumbuhan
Beberapa studi menunjukkan perbedaan statistik antara
pasien depresi dengan lainnya dalam hal pelepasan hormon
pertumbuhan. Somatostatin menghambat GABA, ACTH dan
TSH.

Kadar

somatostatin

lebih

rendah

pada

cairan

serebrospinal orang depresi dibandingkan dengan orang


skizofrenia atau orang normal, dan kadarnya meningkat pada
orang dengan mania. Pelepasan prolaktin dari hipofisis
dirangsang oleh serotonin dan dihambat oleh dopamin. Pada
depresi tidak ditemukan abnormalitas bermakna sekresi
prolaktin (Thase,M.E, 2005).
Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA
yang sangat fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi

13

yang terjadi, diduga akibat adanya defek pada sistem umpan


balik kortisol disistem limpik atau adanya kelainan pada
sistem monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur
CRH (Kaplan, 2010).
Orang yang lanjut usia terjadi penurunan produksi
hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem
dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti
MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama
dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase.
2.2.2.7.

Faktor Psikososial
Menurut

Freud

dalam

teori

psikodinamikanya,

penyebab depresi adalah kehilangan objek yang dicintai


(Kaplan, 2010). Ada sejumlah faktor psikososial yang
diprediksi sebagai penyebab gangguan mental pada lanjut
usia yang pada umumnya berhubungan dengan kehilangan.
Faktor psikososial tersebut adalah hilangnya peranan sosial,
hilangnya otonomi, kematian teman atau sanak saudara,
penurunan kesehatan peningkatan isolasi diri, keterbatasan
finansial,

dan

penurunan

fungsikognitif

(Kaplan,

2010).Sedangkan menurut Kane, faktor psikososial meliputi


penurunan percaya diri, kemampuan untuk mengadakan

14

hubungan intim, penurunan jaringan sosial, kesepian,


perpisahan, kemiskinan dan penyakit fisik (Kaplan, 2010).
Faktor

psikososial

yang

mempengaruhi

depresi

meliputi: peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan,


kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori
kognitif dan dukungan sosial (Kaplan,2010). Peristiwa
kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang
menyebabkan stres, lebih sering mendahului episodepertama,
gangguan mood dari episode selanjutnya.
Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan
memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain
menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki
peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan
yang paling berhubungan dengan onset suatu episodedepresi
adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).
Stressor

psikososial

yang

bersifat

akut,

seperti

kehilangan orang yang dicintai,atau stressor kronis misalnya


kekurangan finansial yang berlangsung lama, kesulitan
hubungan

interpersonal,

ancaman

keamanan

dapat

menimbulkan depresi.

15

Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2011)


menemukan bahwa hubungan partisipasi sosial kurang,
partisipasi sosial cukup, dan gangguan fungsional sedang
dengan kejadian depresi pada lanjut usia dipanti werda
mendapatkan nilai 0,05. Sehingga dinyatakan semua faktor
risiko yang diteliti ada hubungan dengan kejadian depresi
pada lansia. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa status
perkawinan orang tua, jumlah sanak saudara, status sosial
keluarga,

perpisahan

orang

tua,

perceraian,

fungsi

perkawinan atau struktur keluarga banyak berperan dalam


terjadinya

gangguan

depresi.Faktor

psikososial

yang

mempengaruhi depresi pada lansia, telah ditunjukkan dalam


sebuah penelitian oleh Saputri dan Indrawati (2012).
Ini membuktikan bahwa dukungan sosial memiliki
korelasi negatif yang tinggi danbermakna terhadap timbulnya
gejala-gejala depresi pada lanjut usia. Depresi terjadi lebih
banyak pada umur yang lebih tua dan dukungan keluarga
yang rendah. Faktor-faktor psikososial usia lanjut merupakan
permasalahan yang sangat rawan membebani kehidupannya
yang pada gilirannya dapat mempengaruhi gangguan fisik,
sosial, dan mentalnya.

16

Stanley dan Beare (2007) menyebutkan bahwa


terjadinya depresi pada lansia dapat disebabkan oleh
beberapa faktor seperti gangguan fisik, isolasi sosial dan
kesepian, sikap dari lanjut usia, penyangkalan,

dan

pengabaian terhadap proses penuaan normal.


2.2.2.8. Faktor kepribadian.
Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada
individu, seperti kepribadian dependen, diduga mempunyai
resiko

tinggi

untuk

terjadinya

depresi.

Sedangkan

kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang


memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai
resiko yang rendah (Kaplan, 2010). Kepribadian dasar
seseorang amat ditentukan pada masa kanak-kanak. Salah
satunya adalah lingkungan sosial.
Peristiwa tidak menyenangkan pada masa kecil dapat
mempengaruhi perilaku dan kepribadian seseorang ketika ia
dewasa (Santoso dan Ismail, 2009).

2.2.2.9.

Faktor psikodinamika

17

Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan


bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan
depresi (Kaplan, 2010).
Upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud
sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu
hubungan antara kehilangan objek dan melankolia.
2.2.2.10.

Faktor kognitif
Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu,
menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang
pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme
dan keputusasaan. Pandangan yang negatif

tersebut

menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010).


2.2.3 Gambaran Klinis
Depresi pada lansia adalah proses patoligis, bukan merupakan
prosesnormal dalam kehidupan. Umumnya orang-orang akan
menanggulanginya dengan mencari dan memenuhi rasa kebahagiaan.
Bagaimanapun, lansia cenderung menyangkal bahwa dirinya
mengalami depresi. Tingkat depresi yang muncul merupakan
gambaran

dari

banyaknya

gejala

trias

depresi

serta

gejala

tambahannya (Hawari, 2006; Dep Kes RI).

Perubahan fisik yang terjadi:

18

a) Penurunan nafsu makan.


b) Gangguan tidur.
c) Kelelahan dan kurang energy.
d) Agitasi.
e) Nyeri, sakit kepala, otot keran dan nyeri, tanpa penyebab fisik.
Perubahan Pola Berfikir:
a) Merasa bingung, lambat dalam berfikir, dan penurunan
b)
c)
d)
e)
f)

konsentrasi.
Sulit menerima informasi.
Sulit membuat keputusan dan selalu menghindar.
Kurang percaya diri.
Merasa bersalah dan tidak mau dikritik.
Pada kasus berat sering dijumpai adanya halusinasi ataupun

delusi.
g) Adanya pikiran untuk bunuh diri.
h) perubahan Perasaan, Penurunan ketertarikan dengan lawan jenis

dan melakukan hubungan suami istri.


i) Merasa bersalah, tak berdaya.
j) Tidak adanya perasaan.
k) Merasa sedih.
l) Sering menangis tanpa alasan yang jelas.
m) Iritabilitas, marah, dan terkadang agresif.
Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari:
a) Menjauhkan diri dari lingkungan sosial, pekerjaan.
b) Menghindari membuat keputusan.
c) Menunda pekerjaan rumah.
d) Penurunan aktivitas fisik dan latihan.
e) Penurunan perhatian terhadap diri sendiri.
f) Peningkatan konsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang

2.2.4. Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis


Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada
PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III)

19

dan DSM IV yang merujuk pada ICD 10 (International


ClassificationDiagnostic 10)
.Gangguan depresi dibedakan dalam depresi berat, sedang, dan
ringan sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya
terhadap fungsi kehidupan seseorang.
A. Gejala pertama:
a. Perasaan depresif.
b. Hilangnya minat dan semangat.
c. Mudah lelah dan tenaga hilang
B. Gejala Lain:
a. Konsentrasi dan perhatian menurun.
b. Harga diri dan kepercayaan diri menurun.
c. Perasaan bersalah dan tidak berguna.
d. Pesimis terhadap masa depan
e. Gagasan membahayakan diri atau bunuh diri
f. Gangguan tidur
g. Gangguan nafsu makan
h. Menurunnya libido

Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Depresi Pada Lansia


Berdasarkan

undang-undang

kesehatan

No.23

Tahun

1992

disebutkan bahwa kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari


badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi (Notoatmodjo, 2003).
Berikut ada beberapa faktor sosial yang mempengaruhi
kejadian depresi pada lansia.
2.2.4.1. Pendidikan dan Pengetahuan

20

Umumnya

Tingkat

pendidikan

pada

lanjut

usia

ini

mempunyai hubungan dengan tingkat pengetahuan, serta tingkat


penghasilan seseorang. Orang yang mempunyai pendidikan dan
pengetahuan cenderung akan meningkat penghasilannya sehingga
jika mereka sakit akan memilih sarana kesehatan yang lebih baik.
Oleh karenanya semua ini akan berdampak terhadap adanya usia
harapan hidup yang semakin meningkat. Pendidikan sangat
berpengaruh terhadap terjadinya tingkat depresi di karenakan
tingkat pendidikan lansia baik dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga
perguruan tinggi akan mempengaruhi kemampuan lansia dalam
memahami

setiap

kemampuannnya

dalam

permasalahan

dan

mengambil

keputusan.

mempengaruhi
Kondisi

ini

terkadang menjadi penyebab terjadinya depresi di pengaruhi adanya


pengetahuan dan ekonomi dari lansia tersebut (Notoatmodjo, 2007).
2.2.4.2. Dukungan Keluarga
Depresi pada lanjut usia dapat terjadi simptom yang kompleks
yang disebabkan oleh gangguan fisik maupun kognitif dan stresor
dari luar Dukungan sosial sangat dibutuhkan para lanjut usia dalam
menyesuaikan diri menghadapi stresor psikososial terutama stressor
yang berhubungan dengan kehilangan.

21

Dukungan keluarga merupakan aspek penting yang harus ada


di dalam suatu keluarga, karena Efek dari dukungan keluarga
terhadap kesehatan dan kesejahteraan berfungsi bersamaan, dengan
peningkatan usia harapan hidup tentunya mempunyai dampak lebih
banyak terjadi. penyakit pada lansia terbesar adalah gangguan
depresi (Dewi Kristyaningsih, 2011).
Sehingga dalam hal ini perlu adanya peran serta yang besar
dari keluarga dalam memberikan dukungan dan pemenuhan
kebutuhan lansia, sehingga timbul koping yang baik dari lansia
dalam menghadapi stressor. Dari hasil tabulasi data dukungan
keluarga dari 96 responden di Desa Langsar, 81% dukungan
keluarganya baik dan 7% dukungan keluarganya kurang.
Dukungan sosial yang kurang sering dihubungkan dengan
sindroma depresi. Pattern menyebutkan bahwa subjek yang
dilaporkan tidak mempunyai seseorang untuk menceritakan
masalah atau perasaan pribadinya, tidak mempunyai seseorang
untuk meminta pertolongan dalam kondisi kritis, tidak ada
seseorang untuk diminta nasihat dalam mengambil keputusan
penting, dan tidak ada seseorang dalam hidup mereka yang
membuat mereka merasa dicintai dan diperhatikan ternyata lebih
mudah menderita depresi (Dewi Kristyaningsih, 2011).

22

2.2.4.3. Suku
Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman
budaya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan latar
belakang etnis, suku dan tata kehidupan sosial yang berbeda satu
dengan yang lain. Hal ini telah memberikan suatu formulasi struktur
sosial masyarakat yang turut mempengaruhi tingkat terjadinya
depresi pada lansia. Banyak sekali penemuan para ahli sosiolog dan
ahli gerontologi menyatakan bahwa faktor sosial sangat berperan
terhadap proses terjadinya tingkah laku atau perbuatan seseorang
yang mengakibatkan terjadinya depresi, sehingga Keragaman dan
keunikan budaya yang dimiliki oleh suatu etnitas masyarakat
tertentu merupakan wujud dari gagasan, rasa, tindakan dan karya
sangat menjiwai aktivitas keseharian baik itu dalam tatanan sosial,
teknis maupun ekonomi telah turut membentuk karakter fisik
seseorang, seperti tingkah laku, sikap dan perbuatan (Beny, 2009).
2.3. Psikososial
2.3.1. Definisi Psikososial
Psikososial merupakan perkembangan ilmu pengetahuan yang
baru, dan merupakan cabang dan ilmu pengetahuan psikologi pada
umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan
manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial, seperti

23

situasi kelompok, situasi masa dan sebagainya termasuk di


dalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya.
Interaksi ini baik antar individu dengan individu, individu
dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok yang dapat
berjalan lancar atau dapat pula tidak. Interaksi akan berjalan lancar
bila masing-masing pihak memiliki penafsiran yang sama atas pola
tingkah lakunya, dalam suatu struktur kelompok sosial (Ahmadi,
2009).
Pengertian psikososial ini berdasarkan pendapat dari beberapa
ahli dikemukakan seperti oleh Hubert Bonner (dalam Ahmadi,
2009)

yang

menyebutkan

bahwa

psikososial

adalah

ilmu

pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.


2.3.2. Definisi keluarga
Keluarga berasal

dari

bahasa Sansekerta "kulawarga".

Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota". Keluarga
adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih
memiliki hubungan darah.
Dalam pengertian sosiologis, secara umum keluarga dapat
didefinisikan sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang
disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi,
merupakan susunan rumah tangga sendiri, berinteraksi dan

24

berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan


sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putrinya, saudara
laki-laki dan perempuan serta merupakan pemeliharaan kebudayaan
bersama. Jadi keluarga merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh
hubungan darah dan masing-masimg anggotanya mempunyai
peranan yang berlainan sesuai dengan fungsinya.
Dalam pengertian psikologis, Keluarga adalah lembaga sosial
dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya
berkembang. Di masyarakat mana pun di dunia, keluarga
merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat
terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu (Narwoko dan
Suyanto, 2011)
Terdapat 5 fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat, yaitu :
A. Fungsi Biologis
1. Untuk meneruskan keturunan
2. Memelihara dan membesarkan anak
3. Memberikan makanan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi
4. Merawat dan melindungi kesehatan para anggotanya
5. Memberi kesempatan untuk berekreasi
B. Fungsi Psikologis
1. Identitas keluarga serta rasa aman dan kasih sayang
2. Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya
3. Perlindungan secara psikologis
4. Mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga lain atau
masyarakat
C. Fungsi Sosial Budaya atau Sosiologi
1. Meneruskan nilai-nilai budaya
2. Sosialisasi

25

3. Pembentukan

noema-norma,

tingkah

laku

pada

tiap

perkembangan anak serta kehidupan keluarga.


D. Fungsi Sosial
1. Mencari sumber-sumber untuk memenuhi fungsi lainnya
2. Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran

tahap

atau

tabungan
3. Pengaturan ekonomi atau keuangan.
E. Fungsi Pendidikan
1. Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam
hubungan dengan fungsi-fungsi lain.
2. Persiapan untuk kehidupan dewasa.
3. Memenuhi peranan sehingga anggota keluarga yang dewasa.
2.3.3. Pengukuran tingkat depresi
Pengukuran tingkat depresi ini didasarkan pada indikator
hilangnya peran keluarga pada lanjut usia yang tergolong dalam
tingkat ederly dan tingkat old atau yang berumur 60 sampai 74 dan
75 sampai 90. (Kaplan, 2010).

2.4. Kerangka Teori


Faktor eksternal

Psikososial

Faktor internal
Dukungan
Keluarga

Intensitas
kunjungan

Lingkungan sosial

Biologik
Genetik
Neuroendokrin
Penurunan
neurotransmiter 26

Tingkat Depresi
Ringan
Sedang
Berat

Kejadian
Depresi pada
lansia

Bagan 2.6.1. Bagan Kerangka Teori

Keterangan :

Yang di teliti
Yang tidak di teliti

2.5. Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsepkonsep yang ingin di amati ataudiukur melalui penelitian yang akan di
lakukan (Notoadmodjo S, 2005).
Variabel independen
Peran Keluarga Dan
Intensitas
Kunjungannya

variabel dependen
Depresi Pada
Lansia

27

Bagan 2.5 Kerangka Konsep


2.6. Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas
pertanyaan penelitian, pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara
dua variabel atau lebih yang harus di uji secara empiris (Notoadmodjo S,
2005). Berdasarkan landasan teori di atas, maka dalam penelitian ini dapat
di rumuskan hipotesis yang berkaitan dengan hubungan antara intensitas
kunjungan keluarga dengan kejadian depresi pada lansia di Panti Sosial
Tresna Werda Puspa Karmakota Mataram.
H1 : Ada hubungan antara kunjungan keluarga dengan kejadian depresi
pada lansia.
H0 : Tidak ada hubungan antara kunjungan keluarga dengan kejadian
depresi pada lansia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah korelasional yaitu bentuk analisis
terhadap variabel penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan
hubungan, bentuk atau arah hubungan di antara variabel-variabel, dan

28

besarnya pengaruh variabel yang satu dengan yang lain. Pendekatan


yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional,
dimana variabel sebab (bebas) yaitu faktor kunjungan keluarga serta
variabel akibat (terikat) yaitu depresi pada lansia yang diukur dalam
waktu yang bersamaan dan sesaat (Notoatmodjo, 2010).
3.2.Variabel dan Definisi Operasional
Variabel penelitian ini meliputi :
3.2.1. Variabel bebas
Variable bebas atau independen variable adalah suatu
variable yang fungsinya menerangkan atau mempengaruhi
terhadap variable lainnya (Notoadmodjo S, 2012).

3.2.2. Variabel terikat


Variabel terikat atau dependent variable adalah suatu
variabel yang dipengaruhi dan diterangkan oleh variable lain
(Notoadmodjo S,2012).
3.3.

Definisi Operasional
Untuk membagi ruang lingkup variabel-variabel yang diteliti,
maka variabel tersebut di beri batasan atau definisi operasional. Ini

29

juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau


pengamatan terhadap variabel-variabel/pengembangan instrumen
(Notoadmodjo S,2012). Variabel yang dapat dijelaskan sebagai
berikut :

Tabel 3.2 Definisi operasional


Variabel
Kunjungan
Keluarga

DefinisiOperasiona

Cara ukur

Hasil Ukur

l
Seberapa
sering
kunjungan keluarga
yang dirasakan oleh
lansia
sehingga
responden
merasakan
tidak
kesepian
atau

Kuesioner A yang
terdiri dari 2
pertanyaan
dengan jawaban
(Pernah dan tidak
pernah)
Bila pernah,akan

Kategori
- tidak pernah 0
-pernah 1
-jarang 2
-kadang-kadang 3
-sering 4
-selalu 5

Skala
ukur
Ordinal

30

Kejadian
Depresi

kesepian
Bentuk
gangguan
kejiwaan pada alam
perasaan
yang
ditandai
dengan
sedih,
kemurungan,
kelesuan, ketiadaan
gairah
hidup,
perasaan
tidak
berguna, putus asa,
pesimis dan lain
sebagainya

di kategorikan.
Kuesioner B
didasarkan pada
GDS yang bersisi
tentang skala
depresi pada
lanjut usia yang
terdiri dari 15
pertanyaan :
Ya : 1
Tidak : 0

Dikategorikan
Nominal
- Skor 0-4 tidak
depresi
Skor
5-15
depresi
(Sheikh dan
Yesavage, 1986)

3.4.Subyek penelitian
3.4.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek peneliti atau objek
yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh lanjut usia yang tergolong tingkat
ederly dan old, yaitu usia 60 sampai dengan 90 tahun yang
tinggal di Panti Sosial Tresna Werda Puspa Karma kota
Mataram sejumlah 72 orang.
3.4.2.Sampel
Sampel merupakan bagian yang diteliti atau sebagian dari
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam
penelitian, dapat menggunakan seluruh objek atau dapat juga

31

hanya dengan mengambil sebagian dari seluruh populasi


(Notoatmodjo, 2010). Sampel penelitian ini adalah seluruh
lanjut usia yang tinggal di panti werda kota mataram dengan
teknik total sampling yaitu pengambilan sampel dengan
mengambil seluruh anggota populasi (Arikunto, 2006).
Pemilihan sampel penelitian ini terbagi atas dua kriteria yaitu :
3.4.2.1.

Kriteria inklusi
Kriteria inklusi yaitu kriteria dimana subjek penelitian

dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat


sebagai sampel. Adapun yang termasuk kriteria inklusi adalah :
1. Lansia yang masuk kategori usia 60 sampai dengan 90
tahun yang tinggal di panti werda kota Mataram.
2. Bersedia menjadi responden.

3.4.2.2.

Kriteria ekslusinya
Kriteria ekslusinya adalah kriteria dimana subjek
penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak
memenuhi syarat sebagai sampel penelitian, seperti adanya
hambatan etis, menolak menjadi responden atau suatu keadaan
yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian
(Hidayat, 2007). Adapun yang termasuk kriteria eksklusi
adalah sebagai berikut :

32

1. Lansia yang mengalami tuli dan buta.


2. Lansia yang mengalami demensia.
3. Lansia yang sakit keras sehingga tidak dapat di ajak
berkomunikasi.
4. Lansia yang mempunyai riwayat skizofrend sehingga
tidak dapat di ajak berkomunikasi.
3.5. Alat Pengumpulan Data
3.5.1. Instrumen Penelitian
a. Bagian pertama (kuesioner A)

digunakan

untuk

mengumpulkan data demografi dari responden yang


meliputi umur, jenis kelamin, dan pendidikan .
b. Bagian kedua (kuesioner B) berisi pertanyaan-pertanyaan
terkait dengan seberapa sering keluarga mengunjungi
responden. Jawaban yang di peroleh dari responden yang
terdiri dari 2 pertanyaan. Pada pertanyaan pertama
memiliki jawaban yadengan nilai 1 danjawaban tidak
dengan nilai 0. Pada pertanyaan kedua memiliki beberapa
pilihan, jika responden memilih jawaban A maka, akan
diberi skor 1 yang berarti dapat dikategorikan menjadi
pernah,. Jika memilih jawaban B maka, akan diberi
skor 2 yang berarti dapat dikategorikan menjadi Jarang.
Jika memilih jawaban C maka, akan diberikan skor 3
yang berartidapat dikategorikan menjadi, Kadangkadang. Jika memilih jawaban D maka, akan diberikan

33

skor 4 yang berarti dapat dikategorikan menjadi Sering.


Jika memilih jawaban E maka, akan diberikan skor 5
yang berarti dapat dikategorikan menjadi Selalu.
c. Bagian ketiga (kuesioner C) yang berisi skala depresi
pada lanjut usia yang terdiri dari 15 pertanyaan
berdasarkan Geriatrik Depression Scale (GDS) (Sheikh
dan Yesavage, 1986).
3.6. Alur Pengumpulan Data
Langkah-langkah penelitian ini meliputi pengumpulan data
dengan menggunakan kuesioner yang dilaksanakan sebagai berikut :
1. Peneliti meminta surat ijin dari Universitas Islam Al-azhar
Mataram

untuk

melakukan

penelitian,

peneliti

kemudian

mendatangi lokasi penelitian yaitu Panti Sosial Tresna Werda


Puspa Karma kota Mataram untuk melakukan studi pendahuluan
serta menetapkan sampel penelitian melalui pendekatan dengan
responden.
2. Peneliti juga meminta ijin kepada kepala Panti Sosial Tresna
Werda Puspa Karmakota Mataram berkenaan dengan penelitian
ini.
3. Peneliti memberikan informasi kepada calon responden tentang
tujuan penelitian dan keikutsertaan dalam penelitian ini kepada
sampel penelitian, bagi yang setuju berpartisipasi dalam penelitian

34

ini diminta untuk menandatangani lembar persetujuan penelitian


(informed consent).
4. Peneliti membagikan kuesioner pada responden penelitian dan
meminta agar responden menjawab seluruh pertanyaan yang
disediakan

dalam

kuesioner

dimana

peneliti

membacakan

pertanyaan-pertanyaan yang ada pada daftar kuesioner yang terdiri


dari biodata, intensitas kunjungan dan skala depresi.
5. Pengelolaan data atau mengubah hasil kuesioner menjadi data.
Menentukan tujuan penelitian

Menentukan tujuan penelitian

Permintaan surat ijin dari Universitas Islam Al-azhar


Mataram untuk melakukan penelitian

Peneliti kemudian mendatangi lokasi penelitian yaitu Panti


Sosial Tresna Werda Puspa Karma kota Mataram untuk
melakukan survey lokasi
Peneliti juga meminta ijin kepada kepala Panti Sosial Tresna
Werda Puspa Karma kota Mataram berkenaan dengan penelitian
ini.
Menentukan cara dan besar sampel serta
melakukan studi pendahuluan

Peneliti memberikan informasi kepada calon responden tentang tujuan


penelitian dan keikutsertaan dalam penelitian ini
35

Peneliti membagikan kuesioner dan meminta agar responden menjawab seluruh


pertanyaan yang disediakan dalam kuesioner yang berisikan tentang intensitas
kunjungan dan skala depresi.
Pengolahan hasil penelitian menjadi
data
Bagan 3.6 Skema Alur Pengumpulan data

3.7.Etika Penelitian
Penelitian ini tidak boleh bertentangan dengan etika penelitian.
Penelitian harus memenuhi etika dalam artian hak responden harus
dilindungi. Etika penelitian yang dimaksud yang meliputi :
3.7.1. Informed concent (Lembar Persetujuan Responden)
Responden diberikan lembar persetujuan (informed concent)
dimana

sebelumnya

peneliti

menjelaskan

tentang

maksud

keikutsertaannya dalam penelitian ini tersebut. Responden yang


bersedia berpartisipasi diminta menandatangani lembar persetujuan
tersebut.
3.7.2. Anonimity (Kerahasiaan Identitas)
Peneliti menjaga kerahasiaan identitas responden sehingga
hanya peneliti saja yang mengetahui hasil jawaban dari masing-

36

masing responden.Selanjutnya peneliti hanya memberikan kode


berupa nomor urut pada lembar koesioner yang urutannya hanya
diketahui oleh peneliti saja.
3.7.2. Confidentiality (Kerahasiaan Informasi)
Peneliti menjaga kerahasiaan semua informasi yang di dapat
dari responden, dan itu di jamin oleh peneliti.

3.8 Tempat penelitian


Penelitian ini telah dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha
Puspa Karma Kota Mataram.
3.9 Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan
juli tahun 2015.
3.10.ManajemenData
Tahap pertama dari rencana analisis data adalah pengolahan data
yang melalui tahap sebagai berikut :
3.10.1 Editing
Editing

adalah

pengecekan

jumlah

kuesioner,

kelengkapan data, diantaranya kelengkapan identitas,


lembar kuesioner dan kelengkapan isian kuesioner, dalam

37

proses editing didapatkan semua data telah lengkap dan


tidak perlu ada pengeditan lebih lanjut.
3.10.2.

Coding
Pemberian kode berupa angka untuk mempermudah
pengelompokkan data dan menghindari kerancuan dalam
mengklasifikasi data.
3.10.3. Processing
Setelah di edit dan di koding, diproses melalui
program komputer.
3.10.4. Cleaning
Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan
pengecekan kembali data yang sudah diproses apakah ada

kesalahan atau tidak.


3.11. Analisis Data
Pengolahan data analisis data dilakukan dengan bantuan
program komputer.
3.11.1. Analisis Univariat
Analisis deskriptif (univariat) digunakan untuk
mendeskripsikan variabel-variabel yang akan diteliti.
Penelitian ini akan mendeskripsikan variabel penyakit
faktor intensitas kunjungan keluarga dan tingkat depresi
pada lansia.
Data yang berbentuk numerik disajikan dalam
bentuk tendency central (mean, median) serta sebaran data

38

(minimum, maksimum dan SD) dan untuk data berbentuk


kategorik disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.
3.11.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan salah satu uji statistik. Analisis hubungan
antara kejadian depresi dengan faktor intensitas kunjungan
keluarga yang sebelumnya dilakukan uji kenormalan data
menggunakan Kolmogorov Smirnov, dan uji validitasnya
menggunakan uji kendals tau.
Uji

Kolmogorov

Smirnov

adalah

pengujian

normalitas yang banyak dipakai, terutama setelah adanya


banyak program statistik yang beredar. Kelebihan dari uji
ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan
persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat yang
lain, yang sering terjadi pada uji normalitas dengan
menggunakan grafik.
Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov
Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data
(yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal

39

baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah


ditransformasikan

ke

dalam

bentuk

Z-Score

dan

diasumsikan normal. Jadi sebenarnya uji Kolmogorov


Smirnov

adalah

uji

beda

antara

data

yang

diuji

normalitasnya dengan data normal baku. Seperti pada uji


beda biasa, jika signifikansi di bawah 0,05 berarti terdapat
perbedaan yang signifikan, dan jika signifikansi di atas 0,05
maka tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Penerapan
pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika
signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji
mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal
baku, berarti data tersebut tidak normal.

40

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Deni. (2013). Panduan Lengkap Menyusun Proposal, Skripsi,


Tesis, Disertasi Untuk Semua Program Studi.Araksa.Yogyakarta.

Kane. (2001). Essentials of Clinical Geriatrics 4th Edition, USA : McGrowHillCompanies, 231-245.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., (2010). Sinopsis Psikiatri :
IlmuPengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Dua. Editor : Dr. I.
MadeWiguna S. Jakarta : Bina Rupa Aksara.

Notoadmodjo, S, (2012). Metologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta.


Jakarta.

Nugroho, W. (2008).Kepeawatan gerontik & Geriatrik.Jakarta : Penerbit


BukuKedokteran EGC.

41

Nurjanah, I. (2004). Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa.


Yogyakarta:Mocomedia.
Lippincott William & Wilkins; (2007).Sadock BJ, Sadock VA.Kaplan &
Sadocks synopsis of psychiatry. 10th ed.

Sastroasmoro, Sudigdo. (1995). Dasar dasar Metodologi Penelitian


Klinis. Binarupa Aksara, Jakarta>

Wulandari, A.F.S. (2011). Kejadian Dan Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia:
Studiperbandingan

di

panti

wreda

dan

komunitas.

Skripsi.

Semarang:UNDIP.

42