Anda di halaman 1dari 14

KAJIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL JALAN UNTUK JALAN UMUM NON-TOL

(MINIMUM SERVICE STANDARD ANALYSIS FOR NON TOLL ROADS)

ABSTRAK

Hikmat Iskandar

Pusat Litbang Jalan dan Jembatan

Jl. A.H. Nasution No.264 Bandung, 40294.

Diterima : 31 Januari 2011; Disetujui : 06 April 2011

Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan adalah ukuran teknis jalan yang harus diwujudkan oleh

penyelenggara jalan agar jalan dapat beroperasi sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan.

Ukuran teknis tersebut diamanatkan Peraturan Pemerintah (PP) no.34 Tahun 2006 tentang jalan

yang meliputi 2 hal: 1) SPM jaringan jalan dengan indikator kinerja aksesibilitas, mobilitas, dan

keselamatan, dan 2) SPM ruas jalan dengan indikator kinerja kondisi jalan dan kecepatan. Penetapan

SPM jalan lebih lanjut diatur melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU). SPM jalan

wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai amanat PP No.38 Tahun

2007 tentang Pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan

Kabupaten/Kota. Pemerintah pusat berkewajiban mengatur penetapan SPM jalan yang wajib

dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah. Makalah ini bermaksud membahas SPM Jalan yang

meliputi dasar hukum, indikator kinerja, dan penetapan SPM jalan serta pertimbangannya. Indikator

kinerja pelayanan yang dipakai dalam SPM jalan merubah indikator pelayanan jalan selama ini yang

menggunakan model kemantapan jalan. SPM jalan untuk kabupaten/kota yang telah ditetapkan

mempertimbangkan kondisi pelayanan jalan yang telah berjalan. Percapaian target SPM 2014

merupakan upaya realisasi good governance dalam penyelenggaraan jalan.

Kata kunci : kebijakan jalan, peraturan Jalan, pelayanan jalan, jaringan jalan, ruas jalan.

ABSTRACT

Minimum Service Standard (SPM) for roads is defined as a set of technical conditions that has to be

achieved by road authority in order to be able to operate conforming with specified service standard. The technical conditions for road networks stated in Government Regulation No. 34, 2006 consist of two kinds, i.e. firstly, accessibility, mobility and safety; secondly, road links with performance indicator of road condition and speed. Further standard service is regulated by Ministerial Decree of

Public Works. The regulation is obliged to be implemented both by central and local government as regulated in Government Regulation No. 38, 2007 for role sharing between central and local government (province and regency). Central government task is to formulate a guideline for SPM which has to be implemented by central and local government. The paper discusses basic law, performance indicator, definition of SPM and its considerations, Performance indicator used in SPM for roads changed the existing SPM which using road stability model. SPM for Regency/Municipality is considered present road service condition. Target achievement of SPM in 2014 is an effort of realization of good governance in road management sector.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Keywords: road policy, road regulation, road services, road network, road link

PENDAHULUAN

SPM Jalan didefinisikan sebagai ukuran

teknis fisik jalan yang sesuai dengan kriteria

teknis yang ditetapkan, yang harus dicapai oleh

setiap jaringan jalan dan ruas-ruas jalan yang

ada di dalamnya, dalam kurun waktu yang

ditentukan, melalui penyediaan prasa-rana

jalan. Istilah SPM jalan mulai disebut dalam

Undang Undang (UU) No.38 Tahun 2004

(Republik Indonesia, 2004) yang dalam UU

sebelumnya yaitu UU No.13 Tahun 1980

(Republik Indonesia, 1980) maupun dalam PP

25 Tahun 1985 (Republik Indonesia, 1985),

kecuali dalam Kepmen Kimpraswil No.534

Tahun 2001 (Departemen Permukiman dan

Prasarana Wilayah, 2001) yang lebih mengatur

bidang permukiman. Hal ini merupakan upaya

reformasi di bidang jalan yang mewujudkan

prinsip Good Governance (Republik Indonesia,

2006) Pasal 68-69; lihat misalnya

Tjokroamidjojo, (2003, 2001), mengenai tata

pemerintahan yang baik dan transparan dalam

penyelenggaraan urusan pemerintahan khu-

susnya di bidang jalan, yaitu dengan

menetapkan ukuran-ukuran teknis jalan sesuai

SPM jalan yang ditetapkan, yang harus

dipenuhi oleh jaringan jalan serta setiap ruas-

ruas jalan yang ada dalamnya. Pencapaiannya

menjadi kewajiban penyelenggara jalan, yang

kemudian harus diinformasikan secara terbuka

kepada publik dengan mengumumkannya

melalui media masa.

UU No.38 Tahun 2004 mengamanatkan

bahwa pembangunan jalan umum, yang

meliputi: 1) pembangunan jalan secara umum, 2) pembangunan jalan nasional, 3)

pembangunan jalan provinsi, 4) pembangunan jalan kabupaten dan jalan desa, serta 5)

pembangunan jalan kota, memiliki target yang diprioritaskan adalah (kutipan dari Pasal 30 ayat (1) huruf b):

“… Pembangunan jalan secara umum …:

a.

b. penyelenggara jalan wajib mempriori- taskan pemeliharaan, perawatan dan pemeriksaan jalan secara berkala untuk mempertahankan tingkat pela-

;

yanan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan”

Keberlakuan kebijakan tersebut meliputi

seluruh jalan umum yang harus dilaksanakan

sesuai dengan status jalan, kecuali untuk jalan

Tol. Jalan nasional dilaksanakan oleh

pemerintah pusat, jalan provinsi dilaksanakan

oleh Pemerintah Provinsi, jalan kabupaten/kota

dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/ Kota,

sesuai dengan amanat PP No.38 Tahun 2007

tentang pembagian urusan pemerintahan antara

Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan

Pemerintah Kabupaten/Kota (Republik

Indonesia, 2007). Pengaturan tentang penetapan

SPM jalan yang menjadi sebagian urusan

pemerintah dalam bidang Pekerjaan Umum

yang wajib, diamanatkan sesuai kutipan Pasal 8

ayat (1), bahwa:

“…(1) Penyelenggaraan urusan wajib

berpedoman pada standar pelayanan

minimal yang ditetapkan Pemerintah

dan dilaksanakan secara bertahap;

………… ”

Kebijakan tersebut selaras dengan amanat

sesuai kutipan Pasal 112 ayat (1) PP No.34

Tahun 2006 tentang jalan bahwa:

“…(1) Pelayanan jalan umum ditentukan

dengan kriteria yang dituangkan dalam

standar pelayanan minimal yang

terdiri dari standar pelayanan minimal

jaringan jalan dan standar pelayanan

minimal ruas jalan;

Secara normatif jelas bahwa setiap jalan

umum, baik jalan baru maupun jalan lama yang

sudah dioperasikan, harus memenuhi ukuran teknis SPM jalan sebagai wujud pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Ketentuan- ketentuan yang mengatur tentang detail teknis SPM jalan berpedoman kepada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri PU sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 113 PP No.34 Tahun 2006, yang kutipannya sebagai berikut:

Standar pelayanan minimal jaringan

jalan dan standar pelayanan minimal

(1)

ruas jalan

a. Peraturan Menteri untuk jalan nasional;

ditetapkan berdasarkan:

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

b. Peraturan Gubernur untuk jalan provinsi; dan

c. Peraturan Gubernur atas usul

bupati/walikota, untuk jalan

kabupaten/kota dan desa.

(2) Standar pelayanan minimal yang

ditetapkan dalam Peraturan Gubernur

untuk jalan provinsi dan jalan

kabupaten/kota dan desa

disusun sesuai dengan pedoman yang

ditetapkan oleh

Makalah ini, bermaksud menyajikan hasil

kajian tentang SPM jalan, khususnya tentang

indikator kinerja pelayanan jalan yang menjadi

substansi draft Permen SPM Jalan untuk jalan

Nasional dan Jalan Provinsi, serta membahas

indikator SPM jalan kabupaten/kota yang telah

ditetapkan dalam Permen PU No.14 Tahun

2010 (Kementerian Pekerjaan Umum, 2010c)

untuk Jalan Kabupaten/Kota.

KAJIAN PERATURAN TENTANG JALAN

Indikator kinerja sebagai ukuran pelayanan.

Sejak awal dekade 1990-an, sejalan

dengan diperkenalkannya Re-inventing

Government (Osbone, David and Ted Gaebler,

1992; Osborne, David, and Peter Plastrik,

1997), indikator kinerja sudah sering digunakan

oleh banyak organisasi, institusi pemerintah,

maupun swasta di seluruh dunia untuk

mengukur keberhasilan siklus kegiatan simpul-

simpul manajemen seperti Planning,

Organizing, Actuating, dan Controlling sebagai ukuran keberhasilan yang dapat dikelompokan ke dalam pola Input, Output, Outcome, Benefit and Impact. Indikator kinerja berupa angka atau data sebagai hasil dari suatu kegiatan organisasi atau institusi, bukan angka statistik yang lebih bersifat untuk kepentingan internal dalam rangka mengetahui keseluruhan hasil atau kegiatan simpul-simpul manajemen atau untuk publikasi kepada umum. Indikator kinerja lebih berkaitan dengan unsur yang dilayani atau dalam hal pelayanan kepada publik menyangkut dan atau berkonotasi adanya tuntutan, khususnya jika mutu pelayanan yang diberikan

tidak tercapai atau tidak memenuhi angka yang telah dijanjikan.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan,

dianut pola Manajemen Stratejik (Manstra)

yang terdiri dari Rencana Stratejik (Renstra)

dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah (Lakip) melalui Instruksi Presiden

No.7 Tahun 1999 (Republik Indonesia, 1999b)

dan amanat UU No.28 Tahun 1999 (Republik

Indonesia, 1999c) tentang penyelenggaraan

pemerintahan yang bersih. Dalam Lakip,

keberhasilan kegiatan dalam pencapaian target

diukur dan dibandingkan dengan yang

direncanakan dalam kurun waktu yang

ditetapkan. Kebijakan dalam tingkatan Instruksi

Presiden ini berlanjut dalam UU No.38 Tahun

2004 dan PP No.34 Tahun 2006 tentang jalan

dengan istilah yang sejalan dengan hal

sebelumnya yaitu SPM Jalan yang merupakan

target yang harus dicapai dalam waktu yang

ditetapkan.

Untuk merumuskan bentuk pelayanan

jalan, pemerintah sebagai penyelenggara jalan,

harus merumuskan dengan jelas kepada siapa

pelayanan itu diberikan, sehingga dapat

didefinisikan bentuk pelayanan dan ukurannya.

Pelayanan jalan dapat ditujukan kepada dua

unsur yang berbeda, yaitu: 1) penyelenggara

jalan itu sendiri (Pemerintah Pusat, Pemerintah

Daerah, atau Swasta); atau 2) publik atau

pengguna jalan. Pelayanan jalan kepada

penyelenggara jalan dapat berupa prosedur dan

fasilitas yang harus dimiliki oleh penyelenggara

jalan di semua tingkat manajemen pembinaan

jalan, dapat berupa program, pendanaan,

petunjuk atau prosedur teknis yang semuanya termasuk dalam Norma, Standard, Prosedur, dan Manual, serta fasilitas operasional. Pelayanan jalan kepada publik atau pengguna jalan dapat berupa pelayanan dalam bentuk dan ukuran di bidang jalan yang dapat diterima serta dirasakan langsung oleh pengguna jalan, seperti terhubungkannya semua simpul-simpul kegiatan masyarakat seperti kantor, sekolah, pasar, pertokoan, rumah sakit, dan lain-lain, oleh jalan sehingga masyarakat dapat mendatangi simpul-simpul tersebut dengan mudah dan selamat, serta cepat. Jalan tidak banjir pada waktu musim hujan sehingga dapat

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

dilalui sepanjang tahun. Jalan tidak berlubang sehingga perjalanan dapat dilakukan dengan

kecepatan yang diharapkan dan nyaman, dan

lain-lain. Tetapi pihak penyelenggara jalan

dalam memenuhi tuntutan publik tersebut juga

harus mengikuti norma dan kaidah investasi di

bidang jalan yang meliputi efisiensi, efektivitas,

ekonomis, dan manfaat yang berkesinambungan.

Sesuai dengan Pasal 2 UU No.38 Tahun

2004 tentang jalan bahwa dalam penyeleng-

garaan jalan harus memenuhi tujuh azas, yaitu

1) asas manfaat, jalan harus dapat memberikan

nilai tambah baik untuk setiap pemangku

kepentingan maupun untuk kesejahteraan

rakyat; 2) asas keamanan, agar jalan memenuhi

persyaratan teknik, kondisi, dan

administrasinya; 3) asas keserasian dengan

lingkungan, agar jalan selaras dengan sektor

lain, seimbang antar wilayah, tidak merusak

lingkungan; 4) asas keadilan, agar penggunaan

jalan diperlakukan sama untuk semua pihak,

tidak mengarahkan keuntungan kepada pihak

tertentu; 5) asas transparansi, agar proses

pembangunan jalan terbuka untuk diketahui

masyarakat, akuntabel dan dapat dipertanggung

jawabkan; 6) asas keberdayagunaan, agar

pemanfaatan sumber daya dan ruang jalan

dilakukan secara optimal, dan pencapaian hasil

sesuai dengan sasaran; 7) asas kebersamaan dan

kemitraan, agar penyelenggaraan jalan harus

melibatkan para pemangku kepentingan, atas

dasar hubungan kerja yang harmonis, setara,

timbal balik, dan sinergis. Berdasarkan azas-

azas tersebut dan peruntukan pelayanan yang

ditujukan kepada masyarakat, SPM jalan

dirumuskan. Secara teknis meliputi tiga aspek dasar, yaitu 1) pelayanan dari aspek jaringan jalan, 2) pelayanan dari aspek keselamatan, dan

3) pelayanan dari aspek kondisi jalan. Ketiga aspek dasar tersebut ditetapkan dalam PP No.34

Tahun 2006 tentang jalan.

Ukuran pelayanan jalan yang selama ini

digunakan

Ukuran pelayanan yang dewasa ini sering

dipakai adalah panjang jalan yang terbangun

yang disertai penjelasan kondisinya. Salah satu

contoh adalah kondisi jalan nasional per pulau,

(data IRMS tahun 2008), seperti ditunjukkan

dalam Tabel 1. Ukuran pelayanan

menggunakan istilah mantap dan tidak mantap

untuk setiap panjang dan kondisi jalan. Konsep

kemantapan jalan tersebut didasarkan atas

kondisi jalan yang dinyatakan dengan kerataan

permukaan jalan baik yang dievaluasi secara

visual maupun menggunakan alat pengukur

kerataan permukaan perkerasan jalan.

Alat yang sering dipakai adalah

roughometer dari National Australian

Assosiation of State Roads Authority

(NAASRA); Bump Integrater Transport

Research Laboratory United Kingdom, dan

lain-lain. Kerataan permukaan jalan dianggap

sebagai resultante kondisi perkerasan jalan

secara menyeluruh. Jika cukup rata, maka jalan

dianggap baik mulai dari lapis bawah sampai

dengan lapis atas perkerasan jalan dan demikian

sebaliknya. Satuan yang digunakan adalah

International Roughness Index (IRI) yang

menyatakan akumulasi naik-turunnya muka

jalan sepanjang 1 kilometer jalan, dinyatakan

dalam m/Km. Model kemantapan jalan yang

sering digunakan untuk penilaian pelayanan

kondisi jalan ini, diilustrasikan dalam Gambar

1.

Tabel 1. Kondisi jalan Nasional pada tahun 2008.

PULAU

Kondisi Mantap

Kondisi Tidak Mantap

pada tahun 2008. PULAU Kondisi Mantap Kondisi Tidak Mantap   Panjang, Km % Panjang, Km %
 

Panjang, Km

%

Panjang, Km

%

Sumatera Jawa Kalimantan Bali, Maluku, Nusa Tenggara (NT) Sulawesi Papua Total Indonesia

9 522,45

89,9%

1 066,46

10,1%

4 883,40

95,4%

235,75

4,6%

4 243,23

74,4%

1 462,75

25,6%

3 055,86

80,0%

764,29

20,0%

5 949,73

83,9%

1 141,77

16,1%

1 166,44

50,6%

1 136,72

49,4%

28 821,11

83,2%

5 807,74

16,8%

Sumber : data IRMS tahun 2008

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Pelayanan yang diberikan oleh suatu ruas jalan dikatagorikan mantap atau tidak mantap

sesuai dengan suatu set kondisi perkerasan jalan

(ditunjukkan oleh besarnya IRI), lebar

perkerasan jalan (atau lebar jalur lalu lintas)

berikut bahu jalannya yang melayani volume

lalu lintas tertentu. Sebagai contoh, suatu ruas

jalan dikatagorikan mantap jika memiliki lebar

jalur lalu lintas yang diperkeras dengan

perkerasan beraspal dengan kondisi kerataan

lebih kecil dari 4 m/Km (IRI) selebar 4,5 meter

dengan bahu 1,0 meter, melayani volume lalu

lintas dengan LHRT ≤ 1000 smp/hari.

Kemantapan tersebut dapat berubah menjadi

kemantapan sedang jika LHRT-nya meningkat

menjadi 1500 smp/hari tanpa ada peningkatan

lebar jalur lalu lintas.

SPM Jalan sesuai PP No.34 Tahun 2006

SPM Jalan adalah ukuran teknis fisik

jalan yang sesuai dengan kriteria yang

ditetapkan oleh penyelenggara jalan yang harus

dipenuhi oleh setiap jaringan jalan dan ruas-

ruas jalan dalam jaringan jalan tersebut, dalam

kurun waktu yang ditentukan, melalui

penyediaan prasarana jalan. Kriteri SPM Jalan

meliputi kriteria SPM untuk jaringan jalan, dan

kriteria SPM untuk ruas jalan. Kriteria SPM

Jaringan Jalan ditetapkan oleh tiga indikator,

yaitu: 1) Aksesibilitas; 2) Mobilitas; dan 3)

Keselamatan. Kriteria SPM ruas jalan

ditetapkan oleh dua indikator: 1) kondisi jalan,

dan 2) Kecepatan. Berikut ini, masing-masing

kriteria akan dikaji menurut definisi, nilai, dan

pencapaiannya.

SPM Jaringan Jalan

Aksesibilitas. Aksesibilitas adalah suatu ukuran kemudahan bagi pengguna jalan untuk mencapai suatu pusat kegiatan (PK) atau simpul-simpul kegiatan di dalam wilayah yang dilayani jalan. Dievaluasi dari keterhubungan antar PK oleh jalan dalam wilayah yang dilayani jalan dan diperhitungkan nilainya terhadap luas wilayah yang dilayani. Gambar 2 menjelaskan keterhubungan antar PK.

Dalam Gambar 2, PK dihubungkan oleh jalan sehingga masyarakat yang berada dalam

wilayah tersebut dapat mencapai setiap PK

melalui jalan, kecuali PK8 yang belum

terhubungkan. Adanya PK yang belum

terhubungkan menunjukkan SPM aksesibilitas

yang belum sepenuhnya terpenuhi. Untuk

memenuhi SPM aksesibilitas, perlu

direncanakan menghubungkan PK1 dengan

PK8, misal akan dibangun jalan sepanjang 3 km

yang menghubungkannya dan akan selesai

dalam 3 tahun kemudian, maka SPM aksesibilitas

akan terpenuhi seluruhnya dalam 3 tahun ke

depan. Nilai aksesibilitas merupakan rasio

antara jumlah total panjang jalan yang meng-

hubungkan semua PK terhadap luas wilayah

yang dilayani oleh jaringan jalan sesuai

statusnya, dinyatakan dengan satuan Km/Km 2 .

Sebagai contoh, luas wilayah pada Gambar 1

adalah 120 km 2 dan panjang jalan yang

menghubungkan setiap PK tertulis dalam Tabel

2.

jalan yang menghubungkan setiap PK tertulis dalam Tabel 2. Gambar 1. Model pelayanan terhadap aspek kondisi

Gambar 1. Model pelayanan terhadap aspek kondisi

jalan, berdasarkan mid-life LHRT. (smp

= satuan mobil penumpang)

(sumber: bahan diskusi SPM oleh Ir. Soedarmadji K., M.Eng.Sc., Jakarta, 19 Juli 2009)

Maka, nilai SPM aksesibilitas wilayah tersebut pada saat ini adalah 45 km dibagi 120 km 2 adalah 0,37 km/km 2 . Pencapaian nilai aksesibilitas dinyatakan oleh persentase pencapaian nilai aksesibilitas pada akhir tahun pencapaian SPM terhadap angka aksesibilitas yang ditentukan.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Gambar 2. PK (bersimbol segi-4) dalam wilayah contoh yang dihubungkan oleh jalan Tabel 2. Panjang

Gambar 2. PK (bersimbol segi-4) dalam wilayah

contoh yang dihubungkan oleh jalan

Tabel 2. Panjang jalan penghubung pusat-pusat

kegiatan dalam wilayah contoh.

Panjang

No.

Ruas

(Km)

Catatan

1 PK1 PK2

7,00

IRI 4,00 m/km

2 PK2 PK3

9,00

IRI 6,00 m/km

3 PK2 PK7

11,00

IRI 4,00 m/km

4 PK7 PK4

5,00

IRI 8,00 m/km

5 PK7 PK5

4,00

IRI 4,00 m/km

6 PK7 PK6

8,00

IRI 4,00 m/km

IRI RENCANA 4,00

7 PK1 PK8

3,00

m/km

Panjang jalan terbangun

45,00

Terbangun

Panjang jalan yang akan

3,00

Akan dicapai 3

dibangun

tahun

Sesuai contoh diatas, PK1 dan PK8 akan

dihubungkan jalan sepanjang 3 km dalam 3

tahun kedepan sehingga total panjang jalan menjadi 48 km. Nilai SPM aksesibilitas saat ini adalah 0,37 km/km 2 dan 3 tahun berikutnya akan mencapai 0,40 km/km 2 , terdapat kenaikan 0,03 %. Jika pemerintah sebagai penyelenggara jalan menetapkan nilai SPM aksesibilitas sebesar 0,42 km/km 2 , maka pencapaian nilai aksesibilitas sebelum jalan baru dibangun adalah 0,37/0,42x100%=88,06% dan setelah pembangunan jalan baru (3 tahun kemudian) adalah 0,42/0,45x100%=93,33%. 0,42 Km/Km 2 adalah nilai SMP aksesibilitas yang ditetapkan, dan 93,33% adalah nilai pencapaian SPM.

Mobilitas Mobilitas adalah ukuran kualitas

pelayanan jalan yang diukur oleh kemudahan

per individu masyarakat melakukan perjalanan

melalui jalan untuk mencapai tujuannya. Jalan

yang digunakan oleh sejumlah orang, akan

dirasakan berbeda atau berkurang kemudahannya

jika digunakan oleh jumlah orang yang lebih

banyak. Ukuran mobilitas adalah panjang jalan

dibagi oleh jumlah orang yang dilayaninya.

Dalam konteks jaringan jalan, mobilitas

jaringan jalan dievaluasi dari keterhubungan

antar PK dalam wilayah yang dilayani oleh

jaringan jalan sesuai statusnya dan banyaknya

penduduk yang harus dilayani oleh jaringan

jalan tersebut. Nilai mobilitas adalah rasio

antara jumlah total panjang jalan yang

menghubungkan semua pusat kegiatan terhadap

jumlah total penduduk yang ada dalam wilayah

yang harus dilayani jaringan jalan sesuai

dengan statusnya, dinyatakan dengan satuan

Km/(10 000 jiwa).

Dalam contoh di atas, jika jumlah

penduduk dalam wilayah yang dilayani oleh

jaringan jalan tersebut adalah 15 000 jiwa,

maka nilai mobilitas jaringan jaringan jalan

sebelum pembangunan jalan baru adalah

45km/15000 jiwa = 30,00km/(10000jiwa). Tiga

tahun kemudian, jika pertumbuhan penduduk

2% per tahun, maka populasinya menjadi 15

918 jiwa, maka nilai mobilitas 3 tahun

berikutnya adalah 30,15km/(10000 jiwa),

terdapat kenaikan 0,15 Km/10000 jiwa.

Pencapaian nilai mobilitas dinyatakan

oleh persentase pencapaian nilai mobilitas pada

akhir tahun pencapaian SPM terhadap angka mobilitas yang ditentukan. Dalam contoh di atas, nilai mobilitas pada kondisi awal adalah 30km/(10000jiwa). Nilai mobilitas 3 tahun kemudian adalah 30,15km/(10000 jiwa). Jika pemerintah sebagai penyelenggara jalan menentukan SPM mobilitas sebesar 32 km/(10000 jiwa), maka pencapaian nilai SMP mobilitas pada tahun awal adalah 30/32 x 100% = 93,75%, dan tiga tahun kemudian, jika jalan telah selesai dibangun dan dioperasikan, maka nilai pencapaian SPM mobilitas adalah 30,15/32 x 100% = 94,22%.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Keselamatan Keselamatan dalam konteks pelayanan

adalah keselamatan pengguna jalan melakukan

perjalanan melalui jalan dengan segala unsur

pembentuknya, yaitu pengguna jalan, kendaraan

(sarana), dan jalan dengan kelengkapannya

(bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan),

serta lingkungan jalan. Keselamatan dalam

konteks pelayanan jalan meliputi segala bentuk

fisik jalan yang berpadu memberikan pelayanan

kepada pengguna jalan sehingga pengguna jalan

dapat melakukan perjalanan dengan selamat.

Memperhatikan kaidah-kaidah yang digunakan

dalam proses perencanaan teknis jalan yang

hasilnya didokumentasikan dalam dokumen

rencana teknis jalan, azas yang dianut adalah

keselamatan, efisiensi (optimasi dari

perwujudan jalan dengan kecepatan rencana

yang tinggi dengan biaya yang rendah), dan

kenyamanan. Azas keselamatan selalu

diutamakan, sebagai contoh, lebar lajur lalu

lintas 3,50 m ditetapkan agar kendaraan-

kendaraan yang berjalan dapat beriringan

dengan teratur dalam kecepatan tertentu dengan

selamat (safe), jalan yang lebih lebar (lebih

mahal) cenderung mempengaruhi ketidak

keteraturan keberiringan kendaraan dalam satu

alur jalan, sementara jalan sempit (lebih murah)

cenderung menyebabkan kendaraan melambat

atau keluar lajur yang bisa membahayakan

kendaraan tersebut. Keberadaan bahu sebagai

fasilitas berhenti sementara, mengamankan

kendaraan yang berhenti tersebut dari

kendaraan yang berjalan dibelangkangnya.

Dengan demikian parameter-parameter

perencanaan, azas dasarnya adalah memberikan keselamatan bagi pengguna jalan dan ini dipakai sebagai parameter kinerja keselamatan jalan. Suatu ruas jalan akan disebut memenuhi SPM keselamatan jika jalan tersebut dibangun sesuai dengan rencana teknisnya sehingga layak untuk dioperasikan kepada umum. Keselamatan untuk jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam PP No.34 Tahun 2006 merupakan pemenuhan kondisi fisik ruas jalan yang menghubungkan pusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan terhadap dua hal: 1) Parameter perencanaan teknis jalan sebagaimana termuat di dalam

dokumen rencana teknis dari ruas-ruas jalan yang bersangkutan; dan 2) Persyaratan teknis

dan administrasi Laik Fungsi Jalan (LFJ), yang

penetapannya diatur oleh Permen PU No.11

Tahun 2010 (Kementerian Pekerjaan Umum,

2010a) tentang Tatacara dan Persyaratan LFJ

untuk jalan umum.

Persyaratan pemenuhan LFJ meliputi

aspek teknis dan aspek administratif. Aspek

teknis meliputi 6 syarat: 1) teknis geometrik

jalan; 2) teknis struktur perkerasan jalan; 3)

teknis struktur bangunan pelengkap jalan; 4)

teknis pemanfaatan bagian-bagian jalan yang

diatur oleh Permen PU No.20 Tahun 2010

(Kementerian Pekerjaan Umum, 2010b); 5)

teknis penyelenggaraan manajemen dan

rekayasa lalu-lintas meliputi pemenuhan

terhadap kebutuhan alat-alat manajemen dan

rekayasa lalu-lintas yang berwujud petunjuk,

perintah, dan larangan dalam berlalu-lintas; dan

6) teknis perlengkapan jalan meliputi

pemenuhan terhadap spesifikasi teknis

konstruksi alat-alat manajemen dan rekayasa

lalu-lintas yang diatur oleh KM 60 dan 61

(Kementerian Perhubungan, 1993a, 1993b).

Keenam syarat teknis tersebut, seluruhnya

mengacu kepada ketentuan persyaratan teknis

jalan (PTJ) yang berlaku. Ketentuan PTJ yang

sesuai dengan PP No.34 Tahun 2006 masih

belum diberlakukan, sehingga ketentuan yang

berlaku selama ini masih bisa diacu. PTJ ini

merupakan ukuran-ukuran baku tentang teknis

jalan yang menjadi ketentuan dasar bagi

pembangunan jalan.

Aspek administratif melingkupi 6 syarat

kelengkapan dokumen teknis: 1) penetapan petunjuk, perintah, dan larangan dalam pengaturan lalu-lintas bagi semua perlengkapan jalan (sesuai dengan Kementerian Perhubungan, 1993a, 1993b), 2) penetapan status jalan, 3) penetapan kelas jalan, 4) penetapan kepemilikan tanah jalan, 5) dokumen leger jalan, dan 6) dokumen AMDAL (sesuai Republik Indonesia, 1999a). Secara ringkas, jaringan jalan yang memenuhi SPM keselamatan adalah jaringan jalan yang ruas-ruasnya dibangun sesuai dengan rencanannya dan laik dioperasikan kepada umum serta memiliki dokumen teknis lengkap

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

yang menjamin kejelasan hukum bagi pengoperasian jalan tersebut.

Pencapaian keselamatan jaringan jalan

dinyatakan oleh persentase ruas-ruas jalan yang

memenuhi kriteria keselamatan sebagaimana

diuraikan di atas, terhadap jumlah total ruas

jalan yang melayani wilayah tersebut pada

tahun yang ditargetkan. Seyogiannya SPM

keselamatan jalan selalu 100%, artinya bahwa

setiap ruas jalan dalam jaringan jalan selalu

sesuai dengan rencana teknisnya dan layak

dioperasikan kepada umum, tetapi selama

waktu pelayanannya, beberapa bagian fisik

jalan ada yang mengalami “penurunan”

kehandalan karena penggunaan jalan sehingga

pemenuhan terhadap SPM keselamatan yang

ditetapkan dapat menurun. Hal ini menjadi

dasar dilakukannya pemeliharaan sebagaimana

diungkapkan dalam Pasal 30 ayat (1) huruf b.

UU No.38 Tahun 2004 tentang Jalan (Republik

Indonesia, 2009) yang dicuplik di bagian

pendahuluan makalah ini.

Sebagai contoh, jika ruas yang

menghubungkan PK7 dan PK5 adalah jalan

yang mengalami kerusakan sehingga lebar jalur

lalu lintas efektif hanya 4 m dan tidak sesuai

lagi dengan kondisi yang direncanakan atau

kurang laik untuk dilalui kendaraan, maka ruas

jalan tersebut tidak memenuhi SPM

keselamatan. Nilai pencapaian SPM

keselamatan jaringan jalan adalah 42/45 x

100%, yaitu 93,33%. Jika tiga tahun kemudian

seluruh jalan sudah diperbaiki dan memenuhi

syarat teknis sesuai rencananya serta syarat

LFJ, maka nilai pencapaian SPM kesela-matan adalah 100%. Untuk memudahkan pelaksanaan penilaian SPM keselamatan, penyelenggara jalan berkewajiban menyiapkan dokumen rencana teknis jalan. Jika tidak tersedia, dapat digunakan PTJ yang berlaku.

SPM Ruas Jalan SPM Ruas Jalan yang memiliki dua indikator kinerja, yaitu 1) Kondisi jalan; dan 2) Kecepatan.

Kondisi Jalan Kondisi jalan merupakan resultante dari

seluruh konstruksi jalan mulai dari subgrade,

pondasi jalan, lapis perkerasan jalan, sampai ke

lapis permukaan jalan. Jalan yang lapis

bawahnya tidak mantap, cenderung tidak rata.

Jalan yang rata diindikasikan memiliki

konstruksi yang baik. SPM Kondisi jalan diukur

dari kondisi kerataan permukaan perkerasan

jalan yang harus dicapai sesuai dengan

Persyaratan Teknis yang ditentukan. Kondisi

kerataan permukaan jalan dinyatakan dengan

nilai IRI yang dapat diukur menggunakan alat

ukur Roughometer NAASRA. Disamping itu,

kondisi jalan dapat dievaluasi secara visual

dengan hasil nilai Road Condition Index (RCI).

Tabel 3 dicuplik dari draft PTJ, dapat

dipertimbangkan sebagai ukuran kondisi jalan

berdasarkan IRI atau RCI.

Suatu ruas jalan dinyatakan memenuhi

SPM kondisi jalan jika nilai IRI lebih kecil dari

yang disyaratkan dalam Tabel 3 di atas atau

memiliki nilai RCI yang paling rendah Sedang.

Pencapaian nilai SPM kondisi jalan untuk suatu

ruas jalan hanya ada 2 pilihan: 1) memenuhi

SPM kondisi jalan dan disebut pencapaian SPM

kondisi jalan 100%; dan 2) tidak memenuhi

SPM kondisi jalan atau disebut pencapaian

SPM kondisi jalan 0%.

Tabel 3. PTJ untuk kerataan permukaan perkerasan,

dinyatakan oleh IRI atau RCI

Spesifikasi

No.

penyediaan prasarana

jalan

IRI paling

RCI

besar, m/km

 

Baik s.d.

1

Jalan Raya

6,00

Sedang

 

Baik s.d.

2

Jalan Sedang

8,00

Sedang

 

Baik s.d.

3

Jalan kecil

10,00

Sedang

Kecepatan

Yang dimaksud kecepatan sebagai indikator SPM dalam PP No.34 Tahun 2006 adalah kondisi fisik dan geometrik jalan yang terbangun sedemikian sehing-ga jalan dapat dilalui kendaraan dengan selamat dengan

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

kecepatan yang sama dengan kecepatan rencana ruas jalan tersebut. Kecepatan rencana ruas

jalan tersebut sesuai dengan kecepatan rencana

ruas jalan yang ada dalam dokumen teknis jalan

yang bersangkutan. Kecepatan rencana ruas

jalan, jika tidak ditetapkan dalam dokumen

rencana teknis atau tidak ada informasi yang

tersedia tentang kecepatan rencana suatu ruas

jalan, maka penetapan kecepatan rencana bagi

ruas jalan yang ada dapat mengacu kepada

kecepatan rencana ruas jalan sesuai PTJ yang

dan

100%.

pencapaian

SPM

kecepatannya

Resume contoh SPM

adalah

Dari contoh perhitungan SPM dimuka,

jika kondisi jalan seluruhnya baik kecuali ruas

PK7-PK4 yang kurang baik, dan semua ruas

dapat dilalui dengan kecepatan kendaraan

sesuai rencanannya, maka nilai keseluruhan

SPM sebelum pembangunan jalan baru dan

sesudah pembangunan jalan baru, dapat dilihat

berlaku.

pada Tabel 4.

Suatu ruas jalan dikatagorikan memenuhi

SPM kecepatan, jika ruas jalan terbangun dapat

METODOLOGI

PENETAPAN

SPM

dilalui kendaraan dengan kecepatan sesuai

JALAN

dengan kecepatan rencana ruas jalan tersebut.

Pencapaian SPM kecepatan untuk suatu ruas

jalan hanya ada 2 pilihan: 1) memenuhi SPM

kecepatan yang berarti pencapaian SPM

kecepatan 100%; atau 2) tidak memenuhi SPM

kecepatan yang berarti pencapaian SPM

kecepatan 0%.

Dalam contoh diatas, jika seluruh ruas

jalan yang menghubungkan semua PK

dibangun dengan geometrik yang meliputi

alinemen horizontal, alinemen vertikal, dan

potongan melintangnya sesuai dengan

kecepatan rencana, maka secara teori ruas-ruas

jalan tersebut dapat dilalui oleh kendaraan

dengan kecepatan rencananya. Untuk mengukur

hal ini, lakukan uji kecepatan bebas pada setiap

ruas. Kecepatan bebas dalam hal ini adalah

kecepatan yang dipilih pengemudi untuk

menjalankan kendaraannya pada kondisi lalu

lintas yang lengang dan cuaca yang baik. Jika

pengemudi dapat menjalankan kendaraan ujinya dengan rasa aman pada kecepatan yang sesuai dengan kecepatan rencana, maka ruas jalan tersebut dikatagorikan memenuhi SPM jalan

Tabel 4. Resume contoh nilai SPM.

Metodologi untuk menetapkan SPM jalan

kabupaten, diawali dengan pengumpulan data

mengenai luas wilayah beserta PK-PK yang ada

dalam wilayah, kondisi jaringan jalan dan ruas-

ruas jalan yang ada dalam setiap wilayah serta

fungsinya yang menghubungkan PK-PK, dan

jumlah penduduk serta pertumbuhannya.

Disamping itu, data kondisi ruas-ruas jalan

dalam wilayah serta kondisi kondisi geometrik

jalannya juga diidentifikasi. Data tersebut

dipakai sebagai dasar untuk menetapkan

indikator kinerja pelayanan jalan eksisting yang

meliputi aksesibilitas, mobilitas, keselamatan,

kondisi jalan dan kecepatan. Indikator tersebut

meliputi seluruh jalan-jalan yang termasuk

dalam jalan daerah yang akan ditetapkan SPM

jalannya. Berdasarkan distribusi nilai-nilai SPM

jalan eksisting, dilakukan analisis untuk

menetapkan nilai SPM daerah yang berupa

SPM jalan eksisting dan SPM jalan yang akan dicapai pada tahun 2014. Pertimbangan untuk penetapannya didasarkan atas kondisi rata-rata dan kemungkinan pencapaiannya.

No.

Indikator SPM jalan

 

Jaringan jalan

1

Aksesibilitas

88,06%

93,33%

2

Mobilitas

93,75%

94,22%

3

Keselamatan

93.33%

100%

 

Ruas Jalan

4

Kondisi jalan

91,11%

100%

5

Keselamatan

100%

100%

Nilai SPM sebelum pembangunan jalan

Nilai SPM sesudah pembangunan jalan

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Data untuk mendukung penetapan SPM jalan eksisiting, secara ideal perlu diukur

langsung dilapangan agar penetapannya

menjadi akurat, tetapi dapat juga digunakan

data sekunder yang terkini dan tersedia untuk

menetapkan SPM jalan eksisting. Dalam

penetapan nilai SPM jalan kabupaten/kota

diambil data sekunder yang siap, yaitu data

dari Integrated Road Manajemen System

(IRMS) yang ada di Direktorat Jenderal Bina

jalan, terlepas dari apapun kondisinya (karena dinilai oleh indikator kinerja jalan yang lain).

Nilai SPM Mobilitas 100% menunjukkan

ruas-ruas jalan yang telah menghubungkan

pusat-pusat kegiatan yang melayani jumlah

penduduk tertentu telah mencapai rasio yang

ditetapkan pemerintah sebagai dasar SPM

mobilitas. Nilai SPM mobilitas tersebut

ditunjukkan dalam Tabel 6 (dikutip dari

Lampiran II Permen PU No.14 Tahun 2010).

Marga.

Sebagai contoh, suatu wilayah seluas 1000km 2

dengan populasi 6 juta jiwa (termasuk padat),

sesuai Tabel 6 memiliki SPM mobilitas sebesar

HASIL

DAN

ANALISIS

SPM

UNTUK

2 km/10000jiwa (katagori V). Jaringan jalan

JALAN DAERAH

Permen PU No.14 Tahun 2010 tentang

SPM bidang Pekerjaan Umum dan Penataan

ruang (Republik Indonesia 2, 2010)

menetapkan nilai SPM jalan kabupaten/kota

sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 5.

Format SPM yang diseragamkan meliputi 3 hal

yaitu 1) Jenis pelayanan dasar, 2) SPM yang

dinyatakan oleh indikator dan persentase

pencapaian, 3) batas waktu pencapaian, dan 4)

pelaksana SPM tersebut.

Nilai SPM aksesibilitas 100%

menunjukkan bahwa semua PK di tingkat

Kabupaten/Kota telah terhubungkan dan ini

akan dicapai oleh seluruh pemerintah

kabupaten/kota pada tahun 2014. PK di wilayah

kabupaten/kota terdiri dari Ibu kota

kabupaten/kota itu sendiri, ibukota (atau pusat)

kecamatan, PK di lingkungan kabupaten/kota,

PK Desa, PK lingkungan Desa, PK

Permukiman, dan PK di lingkungan Permukiman. Kondisi dewasa ini, PK-PK tersebut pada umumnya telah terhubungkan oleh jalan kecuali diperkirakan di wilayah yang terpencil atau di pedalaman atau di wilayah yang belum terbangun seperti di wilayah Papua yang memiliki luas wilayah terbesar tetapi panjang jalan tersedikit. Dengan asumsi keterhubungan tersebut, kecuali saat ini (2010) ada beberapa PK yang belum terhubungkan, nilai SPM aksesibilitas pada tahun 2014 adalah 100% yang menunjukkan bahwa semua PK di daerah kabupaten/kota telah terhubungkan oleh

dalam wilayah tersebut dikatagorikan

memenuhi SPM mobilitas jika memiliki total

panjang jalan minimal 2 (km/10000 jiwa) x (6

juta jiwa) km, yaitu 1200 km. Jika populasi

dalam wilayah tersebut hanya 900 jiwa (sangat

tidak padat), maka nilai SPM mobilitasnya

adalah 18,50 km/10000 jiwa (katagori I). Untuk

kondisi ini, jaringan jalan dikatagorikan

memenuhi SPM mobilitas jika memiliki total

panjang jalan minimal 16,65 km, jauh lebih

pendek dari yang berpopulasi 6 juta. Dua

contoh di atas, terlihat bahwa SPM mobilitas

adalah ukuran pelayanan jalan bagi wilayah,

semangkin padat penduduknya semakin

panjang kebutuhan jalannya.

Nilai SPM keselamatan 60%

menunjukkan bahwa 60% dari seluruh ruas-ruas

jalan di wilayah kabupaten dan kota telah

dibangun sesuai dengan rencananya dan telah

memenuhi persyaratan LFJ secara teknis dan

administrasi (Iskandar H. dan H. Darmansyah,

2011). Nilai 60% ini dilatarbelakangi oleh kemantapan kondisi jalan rata-rata pada tahun 2009 yang dilaporkan mencapai nilai 51,9% dan diharapkan dalam 5 tahun berikutnya (2014) dapat mencapai 60%. Nilai SPM Kondisi jalan 60% menunjukkan bahwa 60% dari seluruh ruas-ruas jalan yang ada di wilayah kabupaten dan kota memiliki kondisi kerataan yang sesuai dengan syarat SPM kerataan jalan (Tabel 3). Nilai 60% inipun dilatarbelakangi oleh laporan kemantapan kondisi jalan yang mencapai 51,9% seperti diatas.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Tabel 5. SPM Jalan Kabupaten/Kota

Jenis pelayanan dasar

SPM Jalan

Batas waktu

Pelaksana

Indikator

Nilai

pencapaian

 

Aksesibilitas

Tersedianya jalan yang menghubungkan PK-

100 %

2014

Pemerintah

Jaringan jalan

PK dalam wilayah kabupaten/kota.

kabupaten/ kota

Mobilitas

Tersedianya jalan yang memudahkan

100 %

2014

Pemerintah

masyarakat per individu melakukan perjalanan.

kabupaten/ kota

Keselamatan

Tersedianya jalan yang menja-min pengguna

60

%

2014

Pemerintah

 

jalan berkendaraan dengan selamat.

kabupaten/ kota

Ruas Jalan

Kondisi jalan

Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan

60

%

2014

Pemerintah

dapat berjalan dengan selamat dan nyaman.

kabupaten/ kota

 

Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan

Kecepatan

dapat dilakukan sesuai dengan kecepatan

rencana.

60

%

2014

Pemerintah

kabupaten/ kota

Tabel 6. Nilai SPM Mobilitas untuk jalan kabupaten/kota yang ditetapkan.

Kategori

Kerapatan Penduduk (KP), jiwa/km

2

Angka SPM Mobilitas, km/10.000 jiwa

I

< 100

18,50

II

100 ≤ KP < 500

11,00

III

500 ≤ KP < 1000

5,00

IV

1000 ≤ KP < 5000

3,00

V

≥ 5000

2,00

Tabel 7. Format laporan pelayanan jalan berdasarkan pencapaian SPM jalan.

Pulau

Aksesibilitas

Mobilitas

Keselamatan

Kondisi

Kecepatan

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Persentase

Persentase

Prosentase

Persentase

Persentase

pencapaian SPM

kecepatan per pulau

Bali, Maluku, NT

pencapaian SPM

pencapaian SPM

pencapaian SPM

pencapaian SPM

Sulawesi

aksesibilitas per

mobilitas per

keselamatan jalan

kondisi jalan per

Papua

pulau

pulau

per pulau

pulau

Rata-rata seluruh

Indonesia

Pencapaian SPM Jaringan jalan

Pencapaian SPM Ruas Jalan

Nilai SPM kecepatan 60% menunjukkan

bahwa 60% dari seluruh ruas jalan yang ada di

wilayah kabupaten/kota dibangun sesuai

dengan rencana geometrik jalannya sehingga dapat dilalui kendaraan dengan aman pada kecepatan sesuai dengan kecepatan rencanannya. Nilai 60% ini dilatar-belakangi oleh pencapaian kemantapan kondisi jalan seperti diungkapkan untuk SPM keselamatan dan SPM kondisi jalan.

PEMBAHASAN

Ukuran pelayanan jalan yang selama ini digunakan, dinyatakan dalam tingkat

kemantapan suatu jalan dan memakai indikator

kondisi jalan atau khususnya kondisi kerataan

permukaan perkerasan jalan untuk pelayanan

volume lalu lintas tertentu dan lebar jalur lalu lintas serta bahu jalan tertentu. Sedangkan pelayanan yang dirumuskan melalui SPM jalan meliputi ukuran pelayanan yang lebih luas, tidak hanya kondisi perkerasan jalan, tetapi juga aksesibilitas, mobilitas, keselamatan jalan, kondisi jalan, dan geometrik jalan yang direpresentasikan oleh kecepatan. Dengan SPM

ini, maka ukuran kondisi pelayan jalan, misalnya dalam contoh di muka untuk jalan nasional pada tahun 2008, akan diungkapkan lebih detail seperti ditunjukkan dalam Tabel 7.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

Format dan informasi ukuran pelayanannya berubah dari sebelumnya.

Terlihat bahwa kemajuan pembangunan

jalan dinyatakan melalui data pencapaian SPM

jalan yang dievaluasi dan diumumkan setiap

tahun. Jika ini terlaksana, adalah suatu

perubahan dalam penyelenggaraan jalan karena

kinerja pembangunan jalan diungkapkan lebih

terukur dengan menggunakan ukuran indikator

kinerja SPM jalan yang lebih detail dari

sebelumnya. Penerapan SPM jalan

memungkinkan masyarakat mengetahui lebih

detail tentang kondisi jalan yang juga

mencerminkan kinerja pemerintah. Dengan

demikian, amanat UU No.38 Tahun 2004

tentang jalan, khususnya mengenai SPM jalan

dan umumnya mengenai pelaksanaan good

governance (azas akuntabilitas dan

transparansi), terlaksana tahap demi tahap.

Penetapan SPM jalan kabupaten/kota dilatar-

belakangi oleh pencapaian pembangunan jalan,

baik yang telah dirasakan manfaatnya oleh

masyarakat maupun yang dilaporkan dengan

angka-angka berupa pencapaian kemantapan

jalan. Nilai SPM tahun 2014 yang harus dicapai

seperti ditunjukkan dalam Tabel 5, berada

sedikit diatas kondisi rata-rata pencapaian

dewasa ini yang masih harus diupayakan dalam

4 tahun kedepan.

Kondisi rata-rata mengandung arti bahwa

kondisi keseluruhan jalan-jalan kabupaten/kota

50% diatas rata-rata (mantap dan mantap

sedang) dan 50% dibawah rata-rata atau kurang

mantap. Pada saat ditetapkan sedikit diatas rata-

rata yaitu 60%, mengandung arti paling tidak

ada 50% dari seluruh jalan kabupaten/kota yang harus diupayakan meningkat mencapai kondisi

paling rendah mantap sedang, dan dari prosentase ini perlu ada yang harus mengusahakan “besar” karena kemantapannya terlalu rendah dan ada yang hanya mengupayakan “sedikit” karena kemantapannya sudah “agak” baik. Kondisi ini perlu disikapi secara bijak sesuai dengan kemampuan daerah dalam mencapai SPM jalan. Secara keseluruhan, pamahaman nilai SPM jalan di atas secara pelayanan adalah bahwa seyogianya dewasa ini setiap PK di wilayah kabupaten/kota telah terhubungkan

oleh jalan dan setiap warga dapat melakukan perjalanan dari PK dimana dia berada ke PK

yang diinginkannya dengan selamat kemanapun

di wilayah negeri ini, sekalipun perjalanan

tersebut belum secepat dan senyaman yang

diharapkan, karena kualitas pelayanan

kenyamanan baru dapat diwujudkan 60%.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan hal-hal

sebagai berikut:

1. UU No.38 Tahun 2004 berikut PP No.34

Tahun 2006 tentang jalan mengamanatkan

prioritas pembangunan jalan untuk mencapai

dan mempertahankan SPM jalan sesuai

dengan nilai SPM yang ditetapkan sehingga

cara menyatakan keberhasilan penyelenggaraan

jalan berubah dari pola pencapaian

menggunakan model kemantapan jalan

menjadi pencapaian SPM jalan.

2. SPM jalan meliputi dua hal yaitu SPM

Jaringan jalan dan SPM ruas jalan. SPM

jaringan jalan diukur berdasarkan tiga

indikator kinerja, yaitu aksesibilitas,

mobilitas, dan keselamatan; dan SPM ruas

jalan diukur berdasarkan dua indikator

kinerja, yaitu kondisi jalan dan kecepatan.

3. SPM jalan kabupaten/kota yang telah

ditetapkan melalui Permen PU No.14 Tahun

2010 dilandasi oleh kondisi pencapaian

penyelenggaraan jalan dewasa ini sehingga

target pada tahun 2014 dapat dicapai dengan

upaya yang selama ini telah dilakukan.

Saran

SPM jalan untuk jalan umum, khususnya SPM jalan kabupaten/kota, agar disosialisasikan lebih intensif kepada semua pemangku kepentingan sehingga difahami oleh para penyelenggara jalan dan agar kebijakan ini dapat dilaksanakan segera melalui program- program pembangunan jalan tahunan. Untuk penyelenggara jalan kabupaten/ kota yang memiliki nilai kemantapan jalannya yang sangat rendah, sehingga sangat

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

membutuhkan usaha yang berat untuk mencapai nilai SPM, agar mendapat perhatian khusus dan

jika mungkin bantuan dalam merumuskan

pencapaian SPM jalannya.

Nilai SPM jalan kabupaten kota,

khususnya untuk indikator keselamatan,

kondisi, dan kecepatan didasarkan atas kondisi

kemantapan rata-rata sehingga perlu disikapi

lebih bijak untuk wilayah kabupaten/kota yang

kondisi kemantapan jalannya sangat rendah dan

kemampuan pembiayaannya terbatas, karena

diperlukan upaya yang besar untuk mencapai

SPM jalannya .

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Permukiman dan Prasarana

Wilayah. 2001. Keputusan Menteri

Kimpraswil no. 534/KPTS/M/2001

tentang Pedoman Pemerintah SPM

bidang penataan ruang, Perumahan dan

Permukiman dan Pekerjaan Umum.

Jakarta Departemen Kimpraswil.

Iskandar, H. dan H. Darmansyah. 2011. Laik

fungsi jalan untuk jalan umum. Kolokium

Pusjatan. 16-17 Juni 2011. Bandung:

Pusjatan.

Kementerian Pekerjaan Umum. 2010a.

Peraturan Menteri PU No.11 Tahun 2010

tentang tata cara dan persyaratan laik

fungsi jalan. Jakarta: Kementerian

Pekerjaan Umum.

Kementerian Pekerjaan Umum. 2010b.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

20 Tahun 2010 tentang pedoman pemanfaatan dan penggunaan bagian- bagian jalan. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Pekerjaan Umum. 2010c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14 Tahun 2010 tentang SPM bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Perhubungan.1993a. Keputusan Menteri Perhubungan No. 60 Tahun 1993 tentang rambu-rambu Lalu lintas. Jakarta: Kementerian Perhubungan.

Kementerian Perhubungan.1993b. Keputusan Menteri Perhubungan No. 61 Tahun 1993

tentang Marka Jalan. Jakarta:

Kementerian Perhubungan

Osborne, David dan Peter Plastrik. 1997.

Banishing bureaucracy: The five

strategies for reinventing government.

Reading: Addison-Wesley.

Osborne, David and Ted Gaebler. 1992.

Reinventing government: How the the

entrepreneurial spirit is transforming the

public sector. Reading: Addison-Wesley.

Republik Indonesia. 2009. UU No.22 Tahun

2009 tentang lalu lintas dan angkutan

jalan. Jakarta: Kementerian Pekerjaan

Umum.

Republik Indonesia. 2007. PP No.38 Tahun

2007 tentang pembagian urusan

pemerintahan antara Pemerintah,

Pemerintah Daerah Provinsi dan

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak

Asasi Manusia.

Republik Indonesia. 2006. Peraturan

Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang

Jalan. Jakarta: Kementerian Hukum dan

Hak Asasi Manusia.

Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang No.

38 Tahun 2004 tentang Jalan. Jakarta:

Kementerian Hukum dan Hak Asasi

Manusia.

Republik Indonesia. 1999a. Peraturan

Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang

analisa mengenai dampak lingkungan

hidup. Jakarta: Kementerian Hukum dan

Hak Asasi Manusia. Republik Indonesia. 1999b. Instruksi Presiden

No. 7 Tahun 1999 tentang laporan akuntabilitas kinerja Institusi Pemerintah. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Republik Indonesia. 1999c. Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Republik Indonesia. 1985. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD

jalan. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Republik Indonesia. 1980. Undang-Undang No.

13 Tahun 1980 tentang jalan. Jakarta:

Kementerian Hukum dan Hak Asasi

Manusia.

Tjokroamidjojo, Bintoro. 2001. Good governance (paradigm baru manajemen

pembangunan). Jakarta: LAN.

Tjokroamidjojo, Bintoro. 2003. Reformasi

nasional penyelenggaraan good

governance dan perwujudan masyarakat

madani. Jakarta: LAN.

HAK CIPTA SESUAI KETENTUAN DAN ATURAN YANG BERLAKU, COPY DOKUMEN INI DIGUNAKAN DI LINGKUNGAN PUSJATAN DAN DIBUAT UNTUK PENAYANGAN DI WEBSITE, DAN TIDAK UNTUK DIKOMERSILKAN. DOKUMEN INI TIDAK DIKENDALIKAN JIKA DIDOWNLOAD