Anda di halaman 1dari 25

247

AMAINCAODNADJNOAUNANACLNANODCDDDDDDDDDDDDDDDDD
DDDDDDDDDDDDD
D
DDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDADADACOINAONCOA

Msanaikjsnakjsndkasdadasdadsdsdasdasaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

248

249

250

E
EEEEEEEEEEEEEEEE

251

252

253

254

255

256

257

258

259

EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

260

261

262

263

264

265

266

267

268

269

270

Ada 17.000 ton jagung pipilan asal Brasil. Kamis (14/1/2016), 2.500 ton sudah
dibongkar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. Sebelumnya,
Kamis (24/12/2015), 7.432 ton diturunkan di Pelabuhan Panjang, Lampung.
Sebelumnya lagi, 7.068 ton diturunkan di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.
Adalah Kapal Motor Limas yang menggelontorkan 17.000 ton jagung pipilan asal
Brasil tersebut. Kementerian Pertanian dan tim Badan Reserse Kriminal Polri
menilai, jagung pipilan asal Brasil tersebut adalah jagung impor ilegal. Alasannya,
karena jagung impor tersebut tidak dilengkapi rekomendasi dari Kementerian
Pertanian. Acuannya, Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 57 Tahun
2015 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan ke dan
dari Wilayah Indonesia. Sebaliknya, Balai Karantina Pertanian Pelabuhan
Panjang, misalnya, mengacu kepada Keputusan Dirjen Peternakan dan Kesehatan
Hewan Nomor 00805/kpts/HK.160/F/09/2015. Dalam aturan tersebut, masuknya
jagung impor, tidak perlu ada rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Oh,
Mentan dan Mendag Sekadar mengingatkan, Menteri Pertanian kita saat ini adalah
Andi Amran Sulaiman dan Menteri Perdagangan adalah Thomas Lembong.
Sebagai informasi, 17.000 ton jagung pipilan asal Brasil tersebut, sudah keluar
dan sudah menyebar melalui ketiga pelabuhan yang dimaksud: Belawan, Panjang,
dan Tanjung Emas. Alangkah tidak berartinya sebuah Peraturan Menteri Pertanian
(Permentan). Tidak adakah pihak yang berwenang, yang terkait dengan bidang
pertanian, yang hendak menegakkan aturan tersebut? Dalam konteks birokrasi,
kelahiran sebuah peraturan menteri, tentulah ada maksud dan tujuannya.
Setidaknya, untuk mengelola keberadaan produk pertanian, sebagai bagian dari
tata-niaga komoditas pertanian. Sabtu (16/1/2016), rapat koordinasi terbatas
(rakortas) di Jakarta, yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin
Nasution, memutuskan, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor
jagung sebanyak 600.000 ton pada kuartal I-2016. Rakortas itu dihadiri Menteri
Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Menteri
Perindustrian Saleh Husin. Pada Minggu (17/1/2016), Direktur Utama Perum
Bulog, Djarot Kusumayakti, di Jakarta, mengatakan, Bulog telah menempuh
berbagai proses perizinan dan rekomendasi ke Kementerian Perdagangan
(Kemendag) dan Kementerian Pertanian (Kementan). Namun, Bulog belum
menerima surat penugasan impor jagung dari Kemendag. Meski demikian, Bulog
akan tetap mengimpor jagung, mengacu kepada keputusan rapat koordinasi
terbatas tersebut. Sampai di sini kita tahu, ada sejumlah kepentingan yang masih
tarik-ulur, dalam konteks impor jagung. Dari berbagai pemberitaan tentang
rakortas tersebut, sama sekali tidak ada yang menyinggung tentang 17.000 ton
jagung pipilan asal Brasil, yang sudah keluar dan sudah menyebar melalui ketiga
pelabuhan yang dimaksud: Belawan, Panjang, dan Tanjung Emas. Artinya, belum
ada klarifikasi, apakah 17.000 ton jagung pipilan asal Brasil tersebut merupakan
impor ilegal? Apa yang terjadi pada Peraturan Menteri Pertanian dan surat
penugasan impor jagung dari Kemendag, menunjukkan kepada kita bahwa kedua
hal tersebut bukanlah urusan administrasi semata. Ada hal yang substansial di
sana, yaitu belum terciptanya koordinasi yang harmonis antara jajaran Kemendag,

271

jajaran Kementan, dan jajaran Perum Bulog. Jagung memang bukan makanan
pokok rakyat, sebagaimana halnya beras. Tapi, jagung adalah bahan baku pokok
untuk pakan ternak, yang implikasinya tidak kalah luas dibanding beras. Realitas
tersebut nampaknya tidak dipahami sepenuhnya oleh ketiga institusi pemerintahan
di
atas.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/issonkhairul/kontroversi-17-000-tonjagung-impor-dari-brasil-di-belawan-lampung-dansemarang_569da311c8afbd7e0f063b77