Anda di halaman 1dari 60

Laporan kasus

G3P2AO H.33-34 mgg d/ pk I laten +


preterm+KPD 9 jam, kondiloma
akuminata+pengguna narkoba, susp.
IUGR
Janin tunggal hidup presentasi kepala

Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran
hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar
kandungan melelui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau
tanpa bantuan (Manuaba, 2010)

Persalinan adalah proses membuka


dan menipisnya serviks, dan janin
turun ke dalam jalan lahir (Sarwono,
2014).

Jenis
Persalinan

Persalinan normal proses lahirnya


bayi pada letak belakang kepala
dengan tenaga ibu sendiri, tanpa
bantuan alat-alat serta tidak
melukai ibu dan bayi.
Persalinan luar biasa (abnormal)
adalah persalinan pervaginam
dengan bantuan alat-alat atau
melalui dinding perut
(perabdominam)

Asuhan Kebidanan Berbasisi Bukti, 2013: 71

Kekuatan
his makin
sering

Tandatanda
Persalinan
Lendir
bercampur
darah

Dapat
disertai
ketuban
pecah

Persaliana preterm

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung


pada umur kehamilan 20-37 minggu dohitung dari hari
pertama haid terakhir (sarwono,2014)

Menurut himpunan kedokteran fetomaternal POGI ,


persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada
usia kehamilan 22-37 minggu

Epidemiologi
Angka kejadian persalinan preterm pada
umumnya adalah sekitar 6-10 %. Hanya
1,5 % persalinan terjadi pada umur
kehamilan kurang dari 32 minngu dan 0,5
% pada kehamilan kurang dari 27 minngu.

Selebral palsi
Retinopati
Retaldasi mental

RDS
Perdarahan intra/periventikular
Dispalsi bronko-pulmonal
Sepsis
Paten duktus arteriosus

Jangka
panjang
Jangka
pendek

Komplikasi persalinan
preterm

Faktor predisposisi
Janin dan plasenta
Perdarahan trimester awal
Perdarahan antepartum
(plasenta previa, solusio
plasenta)
Ketuban pecah dini (KPD)
Pertubuhan janin
terhambat
Cacat bawaan janin
Kehamilan ganda/gemelli
polihidramnion

Ibu

Penyakit berat pada ibu


Diabetes melitus
Preeklamsia/hipertensi
Infeksi saluran
kemih/genilah/intauterina
Penyaki infeksi dengan
demam
Stres psikologik
Riwayat persalinan preterm
Pemakai obat narkotika
Perokok berat

Diagnosis
Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8 menit sekali
atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
Adanya nyeri pada punggung bawah
Perdarahan bercak
Peresaan menekan daerah serviks
Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan
sedikitnya 2 cm dan penipisan 50-80 %
Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina iskiadika
Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal
terjadina persalian preterm
Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

Tokolisis
Alasan pemberian tokoliis :
Mencegah mortalitas dan morbilitas pada
bayi prematur
Memberi kesenpatan bagi terapi
kortokosteroid untuk menstimulir surfaktan
paru janin
Memberi kesempatan transfer intrauterin
pada fasilitar yang lebih lengkap

Kortikosteroid

Betametason 2 x 12 mg i.m dengan jarak


pemberian 24 jam
Dexametason 4 x 6 mg i.m dengan jarak
pemberian 12 jam

Ketuban Pecah Dini (KPD)


KPD merupakan keadaan
pecahnya selaput
ketuban sebelum waktu
persalinan. Dalam
keadaan normal 8-10%
perempuan hamil atrem
akan mengalami
Ketuban Pecah Dini
(sarwono,2014)

Epidemiologi
Insiden KPD 8% 10 % dari semua
kehamilan. Lebih banyak terjadi pada
kehamilan yang cukup bulan (95 %) dari
pada yang kurang bulan (34%)
(Prawirohardjo, 2014 : 677)

Penyebab KPD
Meningkatnya tekanan intrauterin
Berkurangnya kekuatan membran
Inkomptensi serviks
Peningkatan tekanan uterin : trauma, gemeli,
makrosomia, polihidramnion
Kelainan letak janin
Kemungkinan kesempitan panggul
Penyakit infeksi
Riwayat KPD sebelumnya
Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
Trauma jatuh / senggama

Diagnosis
Anamnesis ibu mengatakan keluar air-air
diluar air seni
Pemeriksaaan inspekulo cairan keluar
dari OUE
Test lakmus merah berubah menjadi biru
karena cairan ketuban bersifat alkalis
Pemeriksaan USG : untuk menentukan
jumlah ICA

Komplikasi KPD
Komplikasi disebabkan oleh KPD bergantung
pada usia kehamilan. Dapat terjadi sesuai
dengan UK.
Infeksi maternal dan neonatal
Persalinan prematur (UK <37 minggu)
Hipoksia karena kompresi tali pusat
Deformitas janin
Insiden SC
(Prawirohadjo, 2014)

Penanganan dan
Tatalaksana
Konservatif
Rawat di RS
Antibiotika ampicillin 4 x 500 mg (atau eritromisin
jika alergi) dan metronidazole 2 x 500 ~ 7 hari
UK <32-37 mgg, rawat selama masih keluar.
UK 32-37, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri
dexametason observasi tanda infeksi dan DJJ
ketat, terminasi pada UK 37.

UK 32-37 minggu, sudah inpartu,


tidak ada infeksi, beri tokolitik
(salbutamol),
dexametason
dan
induksi setelah 24 jam
UK 32-37 minggu, ada infeksi, beri
antibiotik dan lakukan induksi, nilai
tanda infeksi (leu, suhu).

Aktif
Kehamilan >37 minggu, induksi
oksitosin. Gagal SC
Dapat diberikan misoprostol 25 g 50 g pervaginam tiap 6 jam max 4x
pemberian. Bila ada tanda infeksi,
beri antibiotik dosis tinggi dan
lakukan terminasi kehamilan.

Kondiloma akuminata

Kodiloma akuminata
Kondiloma akuminata adalah kelainan kulit
berbentuk vegetasi bertangkai dengan
permukaan berjonjot dan disebabkan oleh virus
yaitu Human Papilloma Virus (HPV) jenis
tertentu. (Zubier,2003)
Etiologi penyakit ini adalah virus golongan
paposa (human papillomavirus/HPV). HPV
adalah virus DNA yang merupakan virus
epiteliotropik (menginfeksi epitel) dan tergolong
dalam famili Papovaviridae.

Faktor Resiko

Pengguna kontrasepsi oral


Penggunaan obat-obatan imunosupresan
Partner seks yang lebih dari satu
Riwayat koitus dini
Riwayat kontak seksual dengan penderita
kondiloma akuminata

Gejala klinis

Pencegahan
Menghindari kontak fisik dengan pasangan seksual yang
terinfeksi
Anjurkan penggunaan kondom
Menghentikan aktivitas seksual selama pengobatan
Hubungan seksual monogamy dengan individu yang
sehat
Memeriksakan diri secara teratur termasuk pula
memeriksakan pasangan seksualnya
Pap smear secara teratur pada wanita usia lebih dari 18
tahun
Pemeriksaan HIV-AIDS
Vaksinasi HPV

Resiko Penularan HPV


Kepada Neonatal
Paparan pada fetus dapat berakibat terjadinya
papilomatosis larings juvenil , yang biasanya
manifes pada usia 5 tahun.
Insidensi papilomatosis larings juvenil tidak
tinggi dan patogenesisnya masih belum jelas,
tetapi penyakit ini dapat menimbulkan distress
pernafasan akibat terjadinya obstruksi saluran
pernafasan karena edema pada larings serta
memiliki tingkat rekurensi yang tinggi

Ketergantungan obat dan


NAZA

Ketergantungan obat dan


naza
Penyalahgunaan naza saat hamil dapat
mempengaruhi perkembangan janin baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Pengaruh langsung dari obat melalui
plasenta dapat menimbulkan efek pada
sel embrio sedangkan pengaruh tidak
langsung dapat dengan mempengaruhi
perfusi plasenta dan oksigenasi janin.
Prawiharjo, 2014: 945

Penilaian klinik
Heroid
Mempunyai kemampuan menstimulasi
sejumlah reseptor spesifik pada SSP.
Risiko maternal : infeksi HIV dan hepatitis B atau C akibat
penggunaan suntikan, penurunan denyut jantung dan frekuensi
pernafasan, penurunan laju percernaan,amenore
Resiko perinatal : abortus, kematian janin, pertumbuhan janin
terhambat, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, lingkar
kepala kecil dan panjang lahir yg kurang

Kokain
Kokain adalah obat vasoaktif dan dapat menyebabkan
masalah pada bayi secara sekunder karena kerusakan
plasenta atau melalui efek langsung pada pembuluh darah
janin
Risiko maternal : angina, infark miokard akut, aritmia jantung, stroke
hemoragik, nekroso usus, bahkan kematian mendadak
Risiko perinatal : BBLR, perdarhan intaventikular, keterlambatan
perkembangan, kelainan kongengital, seperti prune-belly obstuksi uretra,
infark usus, atesia ani

Mariyuana
Merupakan halusinogen, sedatif dapat
pula sebagai anti ematik.
Risiko maternal : mempunyai efek karsiogenik yang kuat,
menimbulkan inflamasi paru yang luas, menghambat produksi
makrofag paru
Risiko perinatal : hipertelorisme, pertumbuhan janin terhambat, partus
prematurus, partus presipitatus, komplikasi mekonium dalam ait
ketuban

Laporan kasus

s/

Pasien datang ke UGD RSIA Budi


Kemuliaan pada tanggal 12-5-2016
jam 23.50 kiriman PKM senen.
Keluhan utama : keluar air-air
sejak jam 15.30
Quick check :

sakit kepala hebat = tidak ada


nyeri ulu hati = tidak ada
pandangan kabur = tidak ada
keluar air-air = ada
Perdarahan = tidak ada
gerakan janin berkurang = tidak ada

Identitas
Nama : Ny. F
Umur : 22 th
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Pend. : SMA
Suku/bangsa: Betawi
Alamat : Baliung II RT
005/001 Senen
Jakarta Pusat
No. Tlp : -

Nama : Tn. R
Umur : 26 th
Pekerjaan : Karyawan
Swasta
Agama : Islam
Pend. : SMA
Suku/bangsa: Betawi
Alamat : Baliung II RT
005/001 Senen Jakarta
Pusat
No. Tlp : -

S/

Riwayan kehamilan sekarang : Ps mengatakan ini


kehamilan ketiga dengan suami kedua. ANC rutin di Bd.
T dan belum pernah melakukan USG, ps mengatakan 2
mgg yg lalu menggunakan sabu-sabu, dan selama
kehamilan masih aktif menggunakan sabu-sabu.
HPHT :3-8-15
TP :10-5-16
Riw. Kehamilan yg lalu:
1. LK,thn 2012, BB 3000 gr, sehat, Bd/RB, aterm, lahir Spontan
2. Lk, th 2014, BB 2500 gr, sehat, Bd/ RS. Tarakan, aterm, lahir
spontan
3. Ini

Riw. Penyakit dahulu: pemakaian Narkoba


Riw. Penyakit keluarga: (-)
Riw. Alergi obat : (-)
Riw. Gemelly: (-)

Ku:baik
kes:cm
TTV :

o/

TD:120/70
N:85x/mnt
RR:20x/mnt
Sh:36

Palp.abd: lemas
TFU: 27 cm
Leopold I : Teraba lunak, kurang keras dan tidak
melenting
Leopold II : Teraba lebar seperti papan pada bagian
kanan dan teraba bagian-bagian kecil di sebelah kiri
Leopold III : Teraba bagian bulat keras dan tidak
melenting
Leopold IV : Perabaan 3/5 bagian
DJF:143x/mnt
His:1x1025

Inspekulo : tampak air mengalir warna


putih keruh, terbuka kurang lebih 2 cm
PD a/i menilai keadaan:

O/

Portio : tebal 2 cm
pembukaan : 2 cm,
Ketuban : (-) wah keruhtina pu
Presentasi : kepala
penurunan kepala : H.I
Posisi : UUK Kiri
Molase : tidak ada

Pemeriksaan Penunjang:
USG:

O/

janin tunggal hidup presentasi kepala,


DJF(+), gerak (+)
BPD 84,5~ 34 mgg, AC 27~31 mgg, HC
311~34 mgg, FL 63,6~33 mgg placenta
corpus belakang grade II, ICA 6,7

Lab : LEA(-) PH:7 HbsAg(-)HIV(-)

Analisa
G3P2AO H.33-34 mgg d/ pk I laten +
preterm+KPD 9 jam, kondiloma
akuminata+pengguna narkoba, susp. IUGR
Janin tunggal hidup presentasi kepala
Maspot: IIP, Dry Labour, gawat janin,
asfiksia

Planning
Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga
Ibu dan keluarga mengetahui keadaan ibu

Mengobservasi ku dan TTV


Ku baik, TD:120/70, N:85x/mnt , RR:20x/mnt , Sh:36

Mengobservasi HIS dan DJF


DJF:143x/mnt, His:1x1025

Merencanakan rawat
Pasien dirawat di ruangan

Pematangan paru dexa 2x6 mg u/ 2 hr


IVFD duvadilan
Ceftriaxone 2 gr s/d bayi lahir
Menyarankan pasien u/ bedrest
Pasien bedrest

Pasien diantar ke KB
14/5/16
jam 02.5

S/

o Sakit kepala hebat : Tidak ada


o Nyeri ulu hati : Tidak ada
o Pandangan kabur : Tidak ada
o Pergerakan janin berkurang : Tidak ada
o Pengeluaran air-air
: Ada
o Perdarahan pervaginam : Tidak ada
Pasien mengeluh mulas
Keadaan umum : Baik
Kesadaran
: Composmentis
TD : 120/80 mmHg Nadi : 79x/menit
RR : 20x/menit Suhu: 36,5C

Palpasi abdomen lemas, His : 2x dalam 10 menit selama


25-30 detik
PD atas indikasi menilai kemajuan persalinan
Portio : lunak
Pembukaan : 7 cm
Sel. Ketuban : (-) warna putih keruh
Presentasi : Kepala
Penurunan : H-II
Posisi : UUK kiri depan
Molase : tidak ada
Pasien terpasang infus RL + duvadilan 2 amp

A/

G3 P2 A0 H. 33-34 mg d PK 1 aktif + preterm


+ KPD 35 jam (ICA 6,7) + kondiloma
Janin tunggal hidup presentasi kepala

P/

Observasi KU dan TTV


KU dan TTV pasien dalam batas normal

Observasi His dan DJJ ketat


His dan DJJ diobservasi ketat

Lanjutkan Tokolitik duvadilan sesuai protokol


Ibu mendapat tokolitik sesuai protokol

R/ cek DPL besok pagi


jika leukosit naik rencana SC cyto

Memberikan hidrasi pada ibu


Ibu mendapat hidrasi 150 ml

Anjurkan ibu tidak menahan BAB dan BAK agar tidak


mengganggu kontraksi uterus
ibu mengerti untuk tidak menahan BAB dan BAK dan ibu
sudah BAK 100 cc

Ajarkan ibu untuk bernafas secara efektif saat


kontraksi
Ibu mengerti cara bernafas yang efektif saat kontraksi

Menghadirkan pendamping persalinan


Suami sudah hadir sebagai pendamping persalinan

Menganjurkan pasien untuk mobilisasi dengan


miring ke arah kiri
Pasien mendapat posisi yang nyaman

Mengajarkan pasien cara meneran yang baik dan


benar
Pasien dianjurkan untuk tidak meneran terlebih dahulu.
Jika sudah pembukaan lengkap boleh meneran sekuat
tenaga

Menyiapkan partus set, APD dan obat-obatan


Partus set,obat-obatan dan APD sudah siap di gunakan

Jam
05.10

Kala II

Pasien semakin gelisah dan ingin meneran

O
Keadaan umum : baik
Kesadaran : cm
Inspeksi : Tampak pengeluaran darah dan lendir
semakin banyak, perenium menonjol, vulva
semakin terbuka, adanya tekanan pada anus
Palp.abd.lemas
his :4x1040
djf:148x/mnt

PD a/i menilai kemajuan persalinan


Porsio : tidak teraba
Pembukaan : lengkap
ketuban :(-)
presentasi : kepala
penurunan : H.III
posisi : UUK kiri depan
Molase : 0

Terpasang inf RL + 2 amp duvadilan

A/

G3 P2 A0 H. 33-34 mg d PK 1 aktif +
preterm + KPD 37 jam (ICA 6,7) +
kondiloma
Janin tunggal hidup presentasi kepala

Memberitahukan
hasil
pemeriksaan
bahwa saat ini pembukaan sudah lengkap
Ibu mengerti mengetahui hasil pemeriksaan

Mengobservasi KU &TTV
KU dan TTV masih dalam batas normal

P/

Mengobservasi his dan DJJ ketat sesudah


his
Telah dilakukan pemantauan His dan DJJ

Memakai APD dan membantu menolong


persalinan sesuai APN
Dilakukan pertolongan persalinan sesuai APN

Memimpin ibu meneran


Ibu meneran sesuai instruksi

Jam 05.25

Bayi Lahir spontan langsung


menangis,tonus otot baik JK:laki laki
A/S:8/9

Jam
05.30
S/
O/

KALA III

Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan masih


merasa mulas
Keadaan umum : Baik, Kesadaran : Composmentis
Palpasi abdomen : Lemas, tidak ada janin kedua
TFU : sepusat
Kandung kemih : Kosong
Perdarahan total 150 cc

A
P3A0 dengan Partus kala III

Memberitahu ibu bahwa ia akan di suntik


oksitosin sebanyak 10 unit pada 1/3 paha
kanan bagian luar / vastus lateralis secara
IM untuk memudahkan keluarnya plasenta
Ibu mendapat suntikan oksitosin 10 IU

Melakukan penjepitan tali pusan dari arah


janin 3-5 cm, susur sampai 2 cm lalu klem
kedua

P/

Tali pusat telah di klem

Memotong tali pusat dan mengikat tali pusat


Tali pusat telah dipotong dan diikat, tidak ada darah
keluar

Melakukan IMD
Bayi telah dilakukan IMD, masih belum berhasil, bayi
diarahkan ke putting ibu berhasil

Melakukan peregangan tali pusat terkendali


Melahirkan plasenta secara lengkap (J.
05.35)
Plasenta telah lahir lengkap

Melakukan masase fundus uteri selama 15


kali hingga uterus kuat
Kontraksi uterus telah baik

Melakukan penilaian plasenta


Plasenta lahir lengkap dan telah di periksa

Jam
05.40

s/
o/

A/

KALA IV

Ibu merasa lega, senang, perut masih merasa mulas

Keadaan umum : Baik, Kesadaran : Composmentis


TTV : TD : 120/90 mmHg Nadi : 88x/m
RR : 18x/mSuhu : 36,8C
Palpasi abdomen : lemas,
TFU : sepusat, Kontraksi : Baik
Kandung kemih : kosong
Perdarahan intake atau 50 cc

P3A0 Partus kala IV

Menginformasikan hasil pemeriksaan


Ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan

Mengajarkan masase uterus searah


jarum jam jika rahim teraba lunak hingga
kontraksi keras

P/

Ibu mengerti untuk memasase uterus

Memeriksa luka episiotomi. Perineum


utuh hanya lecet
Menganjurkan ibu tidak menahan BAB dan
BAK agar tidak mengganggu kontraksi uterus
Ibu mengerti untuk tidak menahan BAB dan BAK

Menginformasikan pada ibu bahwa bayi akan di


periksa 1 jam setelah bayi lahir, pada pemeriksaan
akan dilakukan suntik vit-k dan tetes mata
Ibu dan keluarga mengetahui bahwa bayi akan diperiksa 1 jam
kemudian

Menganjurkan ibu untuk makan dan minum untuk


mengurangi kelelahan setelah bersalin
Ibu mengerti agar bisa makan dan minum

Memberitahu tentang tanda-tanda bahaya ibu dan


bayi seperti sakit kepala hebat, nyeri ulu hati,
pandanan kabur dan keluar darah segar
berlebihan.Tanda-tanda bahaya bayi : bibir serta
kuku kebiruan, nangis merintih, keluar darah pada
tali pusat.
Ibu mengerti mengenai tanda-tanda bahaya pada ibu maupun
bayi

Dokumentasi kala IV dalam partograf


Waktucc

TD
/mmHg

Nadi
x/
menit

Suhu
C

TFU

Kontraksi

Kandung
Kemih

36,5

Sepusat

Baik

kosong

Perdarahan

intake

05.45

110/70

90

06.00

110/70

87

Sepusat

Baik

kosong

intake

06.15

110/80

90

Sepusat

Baik

kosong

intake

06.30

110/70

85

Sepusat

Baik

kosong

intake

07.00

120/80

86

1 jari
bawah
pusat

Baik

kosong

1/5 intake

07.30

120/80

85

1 jari
bawah
pusat

Baik

kosong

1/5 intake

36,6

Pembahasan
Pada tanggal 22-5-2016 Ny. F datang ke UGD RSIA Budi
kemuliaan dengan keluhan keluar air-air Dilakukan
pemeriksaan inspekulo, ostium tampak terbuka dan air-air
keluar dari ostium. Petugas UGD melakukan pemeriksaan
LEA. Pemeriksaan LEA (Leukosit Estrase) sangat penting
dalam penanganan kasus KPD. Hal ini sesuai dengan
teori bahwa penanganan kasus KPD harus disertakan
pemeriksaan LEA.
Kelahiran preterm pada kasus ini disebabkan karena
KPD, Infeksi pada genital, pemakai obat narkotika. Hal ini
sesuai dengan teori menurut prawirohardjo, 2014 : 671.

Pemberian tokolitik diberiakan untuk memberi kesempatan


pada terapi kortikosteroid untuk menstimulir sufraktan paru
janin, pada kasus ini ny, F diberikan duvadilan. Hal ini
sesuai dengan teori yang ada pada Ilmu Kebidanan,
Prawirohardjo 2014.
Pemberian terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk
pematangan surfaktan paru janin, kortikosteroid perlu
diberikan bilamana usia kehamilan kuarang dari 35 mgg.
Pada kasus ini Ny. F diberikan dexametason 2 x 6 mg
selama 2 hari. Hal ini sesuai dengan teori yang ada pada
Ilmu Kebidanan, Prawirohardjo 2014.

Pemberian antibiotik yang sesuai dapat membantu meringankan


kemungkinan terjadinya infeksi intrapartum. Pada kasus ini, Ny.
hamil preterm, KPD, tidak ada tanda infeksi, maka telah
diberikan 1 x2 mg ceftriaxone per IV. Hal ini sesuai dengan teori
yang ada pada Ilmu Kebidanan, Prawirohardjo 2014.
Pemberian terapi pada pasien dengan kondiloma akuminata
perlu dipertimbangkan karena lesi dapat menjadi rapuh ketika
berfoliferasi selama kehamilan atau mengganggu proses
persalinan. Pada kasus ini Ny.F tidak mendapatkan terapi. Hal ini
bertentangan dengan teori bahwa pasien dengan kondiloma
harus mendapatkan terapi kauterisasi untuk mengurangi
terjadinya pedarahan yang berlebihan dpada proses persalianan
menurut teori yang ada pada Ilmu Kebidanan, Prawirohardjo
2014.