Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KADAR BOD DAN COD PADA PENGOLAHAN LIMBAH

CAIR DI PABRIK KELAPA SAWIT PT. LESTARI TANI TELADAN


(LTT) DI PROVINSI SULAWESI TENGAH
Verawaty1), Dian Saraswati2), Ramly Abudi3)
1

Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo, Verawaty


1
vera.narhina18@gmail.com
2
Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo, Dian Saraswati
2
dian_saraswati29@yahoo.co.id
3
Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo, Ramly Abudi
3
ramlyabudi@gmail.com

ABSTRAK
Karakteristik air limbah perlu dikenal karena hal ini akan menentukan cara
pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Pengolahan limbah
cair yang kurang baik tidak dapat menurunkan parameter-parameter pencemar terutama
parameter kimia yaitu kadar BOD dan COD yang terdapat pada limbah cair kelapa
sawit. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kadar BOD dan COD
limbah cair sesudah pengolahan di Pabrik Kelapa Sawit PT. LTT di Provinsi Sulawesi
Tengah melebihi nilai ambang batas sesuai Kep - 51/MEN LH/1995. Tujuan penelitian
yaitu untuk menganalisis kadar BOD dan COD sebelum dan sesudah pengolahan limbah
cair. Penelitian ini merupakan desain Deskriptif dengan jenis penelitian Observasional.
Populasi adalah semua limbah cair yang ada di pabrik. Sampel dalam penelitian ini
sebanyak 2 liter pada kolam pendingin dan kolam anaerobik. Teknik pengambilan sampel
menggunakan metode sesaat (grab sampling). Analisisnya menggunakan uji kandungan
BOD5 dan uji kandungan COD pada limbah cair. Hasil penelitian membuktikan bahwa
limbah cair pabrik kelapa sawit di PT. LTT yang belum memenuhi standar baku mutu
kualitas limbah cair bagi kegiatan industri kelapa sawit sesuai Kep-51/MEN LH/1995,
yaitu nilai BOD karena melebihi 100 mg/l. Sedangkan nilai COD sudah memenuhi
standar baku mutu karena kurang dari 350 mg/l. Saran bagi industri diharapkan dapat
mengolah limbah cair dengan baik agar hasil pengolahan limbah cair yang
dimanfaatkan sebagai Land Application tidak berdampak buruk bagi lingkungan atau
pun bagi tanaman kelapa sawit yang ada diperkebunan.
Kata Kunci : Limbah Cair, Kelapa Sawit, Kadar BOD, Kadar COD

ABSTRACT
Verawaty. 811410006. 2014. The Analysis of BOD and COD in Liquid Waste at Oil Palm
Factory PT. Lestari Tani Teladan (LTT) at Central Sulawesi Province. Skripsi.
Department of Public Health. Faculty of Health and Sport Sciences. Universitas Negeri
Gorontalo. The principal supervisor was Dian Saraswati, S.Pd., M.Kes and the cosupervisor was Ramly Abudi, S.Psi., M.Kes.
The characteristic of waste water should be known due to determining the way to
maage the waste water properly in order to be not contaminating the life environtment.
The worse liquid waste mangement cannot decrease the parameters of contamination
particulary chemistry parameters which were BOD and COD levelin liquid waste of oil
palm. The problem statement of research was whether the level of BOD and COD in
liquid waste after the processing at oil palm factory of PT. LTT at Center Sulawesi
Province was exceeding the threshould value according to Kep-51/MEN LH/1995. The
research aimed at analyzing the BOD and COD Level before and after the processing of
liquid waste. The research was observational research by having descriptive design. The
population of research were all liquid wastes in factory. The samples of research were 2
liters of coolant pond and anaerobic pond. The technique of sampling was grab sampling
method. The data analysis was using BOD5 level test and COD level test in liquid waste.
The research result showed that the liquid waste of oil palm factory at PT. LTT was not
fulfilling the quality standard of liquid waste of oil palm industrial activity according to
Kep-52/MEN LH/1995, it due to the value of BOD was exceeding 100 mg/l. However, the
value of COD has been fulfilled the quality standard because it was less tha 350 mg/l.
The suggestion for the industrial is to manage the liquid waste properly so that the result
liquid waste processing which was utilized as land application did not give the bad
impact to the environment as well as to the oil palm in the plantation.
Keywords: Liquid Waste, Oil Palm, BOD Level, COD Level

1. PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai potensi yang
cukup besar untuk pengembangan industri
kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan
industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat.
Pada tahun 1990 di Indonesia dijumpai 84
unit pabrik kelapa sawit yang mengolah 10
juta ton tandan buah segar, dengan
kapasitas yang bervariasi antara 20 - 60 ton
tandan segar per jam (Manurung, 2004).
Perkembangan industri yang sangat
cepat saat ini menyebabkan limbah-limbah
industri pun menjadi bertambah. Sebagai
akibatnya, limbah yang dibuang ke
lingkungan semakin berat. Padahal
kemampuan alam untuk menerima beban
limbah sangat terbatas, sehingga dipastikan
bahwa self purification saat ini telah
terlampaui (Taufiq, 2010).
Jenis limbah industri banyak
macamnya, tergantung dari bahan baku
yang dipakai dalam industri dan sesuai
dengan proses dari masing-masing
industri. Dengan demikian, pemecahan
yang dibutuhkan juga berbeda untuk dapat
mencapai baku mutu yang telah ditetapkan
oleh pemerintah (Miswan, 2004).
Limbah cair yang dihasilkan oleh
industri masih menjadi masalah bagi
lingkungan sekitarnya, karena pada
umumnya, industri terutama industri
rumah tangga mengalirkan langsung air
limbahnya ke selokan atau sungai tanpa
diolah terlebih dahulu. Demikian pula
dengan industri pabrik kelapa sawit yang
pada umumnya merupakan industri yang
banyak tersebar di kota-kota besar dan
kota-kota kecil (Rossiana, 2006).
Mengingat
tingginya
potensi
pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah
cair yang tidak dikelola dengan baik maka
diperlukan pemahaman dan informasi
mengenai pengelolaan limbah cair secara
benar (Sari, 2011). Limbah cair industri
kelapa sawit mengandung bahan organik
yang tinggi sehingga potensial mencemari
air tanah dan badan air (Rusmey, 2009).
Polutan organik yang cukup tinggi
tersebut apabila terbuang ke badan air
penerima
dapat
mengakibatkan

terganggunya kualitas air dan menurunkan


daya dukung lingkungan perairan disekitar
pabrik dan sekelilingnya. Penurunan daya
dukung lingkungan tersebut menyebabkan
kematian organisme air, terjadinya alga
blooming
sehingga
menghambat
pertumbuhan tanaman air lainnya dan
menimbulkan bau yang dapat menjadi
media
yang
sangat
baik
untuk
pertumbuhan dan perkembangan bakteri,
baik bakteri patogen (bakteri yang dapat
menyebabkan penyakit pada inang)
maupun non patogen (bakteri yang tidak
menimbulkan gangguan yang berarti)
(Rossiana, 2006).
Hasil penelitian dari beberapa
peneliti menyatakan bahwa konsentrasi
BOD (Biochemical Oxygen Demand)
didalam air limbah kelapa sawit cukup
tinggi, yakni berkisar antara 5.000-10.000
mg/l, COD (Chemical Oxygen Demand)
berkisar antara 7.000-10.000 mg/l, serta
mempunyai keasaman yang rendah yakni
pH 4-5 (Kaswinarni, 2007).
Jika konsentrasi BOD (Biochemical
Oxygen Demand) dan COD (Chemical
Oxygen Demand) dalam limbah yang
dihasilkan pabrik kelapa sawit langsung
dibuang ke lingkungan, maka hal ini dapat
menjadi pencemar lingkungan yang sangat
potensial, terutama untuk perairan disekitar
pabrik tersebut.
Teknik pengolahan limbah cair
industri kelapa sawit pada umumnya
menggunakan metode pengolahan limbah
kombinasi yaitu dengan sistem proses
anaerobik dan aerobik. Limbah cair yang
dihasilkan oleh pabrik kemudian dialirkan
ke bak penampungan untuk dipisahkan
antara minyak yang terikut dan limbah
cair. Setelah itu maka limbah cair dialirkan
ke bak anaerobik untuk dilakukan proses
anaerobik. Pengolahan limbah secara
anaerobik merupakan proses degradasi
senyawa organik seperti karbohidrat,
protein dan lemak yang terdapat dalam
limbah cair oleh bakteri anaerobik tanpa
kehadiran oksigen menjadi biogas yang
terdiri dari CH4 (50-70%), serta N2, H2,
H2S dalam jumlah kecil. Pada proses

pengolahan secara aerobik menunjukkan


penurunaan kadar BOD dan kadar COD
adalah sebesar 15 % (Agustina, dkk,
2010).
Air hasil olahan telah dapat dibuang
ke perairan, tetapi tidak dapat digunakan
sebagai air proses dikarenakan air hasil
olahan tersebut masih mempunyai warna
kecoklatan. Penggunaan membran untuk
mengolah lumpur sawit dalam hal ini
dilakukan untuk mendapatkan air limbah
yang bersih sehingga dapat digunakan
kembali (water recycling) (Dedy, dkk,
2010).
Berdasarkan data awal yang ada di
Pabrik Kelapa Sawit PT. LTT bahwa
dalam proses produksi yang menghasilkan
kurang lebih 30 ton tandan buah segar
(TBS) per jam dapat menghasilkan limbah
cair sebesar 1.300 liter per hari. Limbah
cair ini dihasilkan dari proses ke proses,
sehingga kuantitas limbah cair yang
dihasilkan sangat tinggi. Limbah cair yang
dihasilkan tersebut tentunya harus diolah
sebelum dibuang ke lingkungan agar tidak
menimbulkan pencemaran, terutama pada
sumber air yang berada didekat industri
pabrik Kelapa Sawit tersebut (PT. LTT,
2013).
Sistem pengolahan limbah yang ada
di Pabrik Kelapa Sawit tersebut
menggunakan kolam-kolam yang tersusun
mulai dari unit kolam pendingin untuk
mendinginkan limbah cair, kemudian
dialirkan ke unit kolam pembiakan bakteri
untuk menaikkan nilai pH, lalu menuju ke
2 unit kolam anaerob untuk menurunkan
kadar BOD, lalu menuju ke unit kolam
pengendapan untuk memisahkan cairan
dari lumpur, setelah itu masuk ke unit
kolam aerasi, disini limbah cair diberi
tambahan oksigen dan biasanya hasil
limbah dari kolam ini sudah memenuhi
baku mutu dan dapat dibuang ke badan air
penerima seperti sungai. Limbah dari
kolam aerasi ini lalu dialirkan lagi ke unit
kolam pelepasan, kolam ini hanya sebagai
bak pengontrol yang mengalirkan limbah
cair secara perlahan-lahan ke badan air
penerima seperti sungai.

Berdasarkan uraian diatas, maka


peneliti
tertarik
untuk
melakukan
penelitian tentang Analisis Kadar BOD
dan COD pada Pengolahan Limbah Cair
di Pabrik Kelapa Sawit PT. Lestari Tani
Teladan (LTT) di Provinsi Sulawesi
Tengah.
Tujuan penelitian yaitu menganalisis
kadar BOD dan COD sebelum dan sesudah
pengolahan limbah cair di Pabrik Kelapa
Sawit PT. LTT di Provinsi Sulawesi
Tengah. Manfaat penelitian ini yaitu bisa
dijadikan sebagai sumber pengetahuan
maupun informasi mengenai kadar BOD
dan COD pada pengolahan limbah cair
Pabrik Kelapa Sawit yang memenuhi
standar dan tidak mencemari lingkungan.
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian
observasional dengan desain deskriptif
yaitu peneliti melakukan observasi
terhadap limbah cair kelapa sawit. Setelah
dilakukan observasi maka dilakukan
analisis laboratorium kemudian hasilnya
akan dideskripsikan. Teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis deskriptif,
yaitu
membandingkan
hasil
uji
laboratorium dari masing-masing sampel
yang telah telah dihitung dengan standar
baku mutu limbah cair bagi kegiatan
industri kelapa sawit berdasarkan Kep 51/MEN LH/1995 yaitu tentang baku mutu
limbah cair untuk industri kelapa sawit.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Uji Laboratorium pada
Limbah Cair Kelapa Sawit tentang kadar
BOD
dan
kadar
COD
dengan
menggunakan Uji Kandungan BOD5 dan
Uji Kandungan COD pada limbah cair.
Tabel 1
Hasil Pengukuran Limbah Cair Kelapa
Sawit Sebelum Pengolahan di PT. LTT
Titik
Parameter (mg/l)
Pengambilan
Sampel
BOD
COD
Inlet
435
222
Outlet
552,5
246
(Sumber: Data Primer 2014)

552,5
435

400
300

222

246

200

BOD
COD

100
0
Inlet

Oulet

Gambar 1
Grafik Nilai BOD dan COD pada
Limbah Cair Kelapa Sawit Sebelum
Pengolahan di PT. LTT Tahun 2014
(Sumber: Data Primer, 2014)
Berdasarkan hasil pengukuran kadar
BOD dan COD pada tabel dan grafik dapat
disimpulkan bahwa kadar BOD yang
tertinggi terdapat di titik kedua yaitu 552,5
mg/l dimana letak pengambilan sampelnya
berada dikolam pendingin dekat outlet dan
kadar COD yang tertinggi terdapat juga di
titik kedua yaitu 246 mg/l dimana letak
pengambilan sampelnya berada dikolam
pendingin dekat outlet. Hal ini disebabkan
karena
pada
titik
kedua
terjadi
penumpukan lumpur kelapa sawit nya
sehingga nilai BOD maupun COD nya
lebih tinggi dari titik pengambilan sampel
pertama.
Tabel 2
Hasil Pengukuran Limbah Cair Kelapa
Sawit Setelah Pengolahan
Standar
Parame
Baku
Keteran
ter
Titik
Mutu
gan
(mg/l)
Penga
(mg/l)
mbilan
B
C
B
C
B
C
Sampel
O
O O
O O
O
D
D
D
D
D
D
T
79 12
M
Inlet
M
2,5 5
S
1 3 S
00 50 T
61 14
M
Outlet
M
0
1
S
S
(Sumber: Data Primer, 2014)

Jumlah (mg/l)

Jumlah (mg/l)

600
500

Keterangan :
MS : Memenuhi Syarat
TMS : Tidak Memenuhi Syarat
900 792,5
800
700 610
600
500
350
400
300
141
200
100125
100
0

Inlet
Outlet
Standar
Baku Mutu

BOD COD

Gambar 2
Grafik Perbandingan Nilai BOD dan
COD Sesudah Pengolahan di 2 Titik
Pengambilan Sampel dengan Standar
Baku Mutu Limbah Cair untuk Pabrik
Kelapa Sawit
(Sumber: Data Primer, 2014)
Berdasarkan hasil pengukuran kadar
BOD dan COD pada tabel dan grafik dapat
disimpulkan bahwa kadar BOD yang
diambil di kedua titik pengambilan sampel
pada kolam Anaerobik telah melebihi
standar baku mutu limbah cair bagi
kegiatan industri kelapa sawit berdasarkan
Kep - 51/MEN LH/1995 yaitu nilai BOD
lebih dari 100 mg/l, sedangkan nilai COD
pada titik pengambilan sampel pertama
dan kedua belum melebihi ambang batas
karna nilai COD kurang dari 350 mg/l
sesuai Kep 51/MEN LH/1995.
Kadar COD pada pengolahan
limbah yang ada dipabrik kelapa sawit PT.
LTT ini belum mencapai nilai ambang
batas disebabkan karena pada pengolahan
limbahnya memiliki 8 kolam yang dapat
menurunkan nilai COD dan parameter
lainnya, namun nilai BOD nya masih tetap
tinggi.
Kadar BOD melebihi nilai ambang
batas disebabkan karena pada pengolahan
limbah cair kelapa sawit yang ada di PT.
LTT tidak melalui lagi kolam Aerobik

dimana kolam ini berfungsi untuk


memperkaya cairan dengan oksigen dan
membunuh bakteri anaerobik dengan cara
menyebarkan cairan limbah ke udara
dengan menggunakan aerator dan dapat
menurunkan kadar BOD pada limbah cair
tersebut.
Pabrik kelapa sawit PT. LTT dengan
sengaja meniadakan kolam aerobik karena
sudah ada larangan membuang limbah ke
badan air atau sungai terdekat dan akhirnya
mereka memanfaatkan seluruh limbah cair
menjadi pupuk dengan sistem Land
Application yaitu pemanfaatan limbah cair
dari industri kelapa sawit untuk digunakan
sebagai bahan penyubur atau pemupukan
tanaman kelapa sawit dalam areal
perkebunan kelapa sawit itu sendiri dengan
cara mengalirkan limbah cair tersebut dari
kolam pelepasan ke parit-parit disekitar
area perkebunan.
Keuntungan pemanfaatan limbah
cair PKS secara umum adalah seperti
berikut:
1. Memperbaiki struktur fisik tanah
2. Meningkatkan aerasi, peresapan, retensi
dan kelembaban
3. Meningkatkan perkembang-biakan dan
perkembangan akar
4. Meningkatkan kandungan organik
tanah, pH tanah dan kapasitas tukar
kation tanah
5. Meningkatkan populasi mikroflora dan
mikrofauna tanah maupun aktivitasnya
(Huan, 1987).
Batasan Peneliti Dalam Melakukan
Penelitian
Adapun batasan peneliti dalam
melakukan penelitian ini dan dalam
menyusun
pembahasan
dari
hasil
penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Uji BOD mempunyai beberapa
kelemahan, diantaranya adalah:
a. Dalam uji BOD ikut terhitung
oksigen yang dikonsumsi oleh
bahan-bahan organik atau bahanbahan tereduksi lainnya, yang
disebut juga Intermediate Oxygen
Demand.

b. Uji BOD membutuhkan waktu yang


cukup lama, yaitu lima hari.
c. Uji BOD yang dilakukan selama
lima hari masih belum dapat
menunjukan nilai total BOD,
melainkan 68% dari total BOD.
d. Uji BOD tergantung dari adanya
senyawa penghambat di dalam air
tersebut, misalnya germisida seperti
klorin yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme yang
dibutuhkan untuk merombak bahan
organik, sehingga hasil uji BOD
kurang teliti (Kristianto, 2004:87).
2. Jarak antara penyusunan proposal
dengan turun penelitian agak jauh
sehingga sistem pengolahan limbah cair
di pabrik kelapa sawit PT. LTT sudah
berubah, karena semua limbah cair
dimanfaatkan sebagai land application.
3. Peneliti juga hanya bisa menjelaskan
secara umum saja tentang hasil
penelitian ini karena batasan informasi
yang didapat saat turun penelitian.
Peneliti juga tidak terlalu menguasai
ataupun
memahami
Pedoman
Pengolahan Limbah yang ada di
Indonesia karena untuk memahaminya
perlu pelatihan atau pendamping khusus
yang memahami secara detail semua
tentang Pengolahan Kelapa Sawit.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
parameter kimia yang telah dianalisis pada
limbah cair pabrik kelapa sawit di PT. LTT
yaitu:
1. Kadar BOD sebelum pengolahan ialah
pada titik pertama pengambilan sampel
sebesar 435 mg/l dan pada titik kedua
sebesar 552,5 mg/l, sedangkan kadar
BOD sesudah pengolahan ialah pada
titik pertama sebesar 792,5 mg/l dan
titik kedua 610 mg/l.
2. Kadar COD sebelum pengolahan ialah
pada titik pertama pengambilan sampel
sebesar 222 mg/l dan pada titik kedua
sebesar 246 mg/l, sedangkan kadar
COD sesudah pengolahan ialah pada

titik pertama sebesar 125 mg/l dan titik


kedua sebesar 141 mg/l.
Dari kedua parameter kimia yang
telah diuji yang belum memenuhi standar
baku mutu kualitas limbah cair bagi
kegiatan industri kelapa sawit sesuai Kep51/MEN LH/1995, yaitu nilai BOD karena
melebihi 100 mg/l. Sedangkan nilai COD
sudah memenuhi standar baku mutu karena
kurang dari 350 mg/l.

Potong
Hewan
Dengan
Menggunakan Sabut Kelapa. Tesis.
Makassar: Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin.
Mulia, Ricki, M. 2005. Kesehatan
Lingkungan. Jakarta: Graha Ilmu.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan
Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta :
Rineka Cipta.

5. DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Sitti, Sri Pudji.R, Tri Widianto,
Trisni.A.
2010.
Penggunaan
Teknologi
Membran
Pada
Pengolahan Air Limbah Industri
Kelapa Sawit. Jurnal (Online)
http://www.bbkk-litbang.go.id.
Diakses 25 September 2013.

Rahardjo, Nugro. 2006. Teknologi


Pengelolaan Limbah Cair yang
Ideal Untuk Pabrik Kelapa Sawit.
Jurnal
(Online)
Vol.
2
http://ejurnal.bppt.go.id. Diakses 6
Oktober 2013.

Bapedal. 1995. Keputusan Menteri Negara


Lingkungan Hidup No. 51/KepMenLH/-10/1995. Jakarta. Lampiran
B.IV.
http://jdih.menlh.go.id.
Diakses 26 Desember 2014.

Rossiana. 2006. Uji Toksisitas Limbah


Cair kelapa sawit
Sumedang
terhadap
Reproduksi
Daphnia
carinata King. Skripsi (Online).
Universitas
Padjadjaran.
http://ejurnal.bppt.go.id. Diakses 6
Oktober 2013.

Dedy, A.Nasution, Elita R.Widjaya, Reni


J.Gultom.
2010.
Teknologi
Membran Filtrasi Untuk Pengolahan
Limbah Pabrik Cair Kelapa Sawit.
Jurnal
(Online)
http://digilib.litbang.deptan.go.id.
Diakses 28 September 2013.

SNI 6989.2:2009. Air dan air limbah


Bagian 2: Cara uji kebutuhan
oksigen kimiawi (Chemical Oxygen
Demand/COD)
dengan
refluks
tertutup secara spektrofotometri.
http://reporsitory.usu.ac.id. Diakses
26 Desember 2014.

Departemen Pertanian. 2006. Pedoman


Pengelolalaan Limbah Industri
Kelapa Sawit disusun oleh Ditjen
PPHP, Departemen Pertanian.
Jakarta. http://reporsitory.usu.ac.id.
Diakses 26 Desember 2014.

SNI 6989.59.2008. Air dan air limbah


Bagian 59: Metoda pengambilan
contoh
air
limbah.
http://reporsitory.usu.ac.id. Diakses
26 Desember 2014.

Manurung, Renita. 2004. Proses Anaerobik


Sebagai Alternatif Untuk Mengolah
Limbah Sawit. Jurnal (Online)
http://library.usu.ac.id. Diakses 26
September 2013.

SNI 6989.72:2009. Air dan air limbah


Bagian 72: Cara uji kebutuhan
oksigen
kimiawi
(Biochemical
Oxygen
Demand/BOD).
http://reporsitory.usu.ac.id. Diakses
26 Desember 2014.

Miswan. 2004. Penurunan Tingkat


Pencemaran Limbah Cair Rumah

Taufiq, M. 2010. Pemanfaatan Abu Sekam


Padi Dengan Metode Filterisasi

Untuk Menurunkan Kandungan


BOD dan COD Pada Limbah Cair
RSUD Undata Palu. Tugas Akhir.
Palu:
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat,
Universitas
Muhammadiyah Palu.

Togatorop, Rusmey. 2009. Korelasi


Antara Biological Oxygen Demand
(BOD) Limbah Cair Pabrik Kelapa
Sawit
Terhadap
pH,
Total
Suspended Solid (TSS), Alkaliniti
Dan Minyak/ Lemak. Tesis (Online)
http://repository.usu.ac.id. Diakses
23 Oktober 2013.