Anda di halaman 1dari 19

PENGERTIAN

1. Definisi Riba
Kata riba dalam bahasa Arab berarti tambahan. Dalam kamus Al-Muhiith disebutkan
Rabba rubuwwan ka uluwwan wa robaan yani zaada wa namaa yang berarti bertambah dan
tumbuh berkembang. Dalam kamus Al-Misbah Al-Munir kata riba diartikan sebagai keutamaan
dan tambahan.1[1] Sedangkan menurut istilah ahli fiqih yaitu penambahan pada salah satu dari
dua ganti yang sejenis tanpa ada ganti dari tambahan ini.
Tidak semua tambahan dianggap riba, karena tambahan terkadang dihasilkan dalam
sebuah perdagangan dan tidak ada riba di dalamnya hanya saja tambahan yang diistilahkan
dengan nama riba dan Al-Quran menerangkan pengharamannya adalah tambahan yang diambil
sebagai ganti dari tempo.
Qatadah berkata: Sesungguhnya riba orang jahiliyyah adalah seseorang menjual satu
jualan sampai tempo tertentu dan ketika jatuh tempo dan orang yang berutang tidak bisa
membayarnya dia menambah utangnya dan melambatkan tempo.2[2]
Adapun menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba ialah penambahan-penambahan yang
diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya),
karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.3[3]

A. Pengertian Riba
Secara bahasa riba artinya tambahan (ziyadah) atau berarti tumbuh
dan membesar (Syahbah,1996:40). Riba (usury) adalah (1) melebihkan
keuntungan (harta) dari salah satu pihak dalam transaksi jual beli atau
pertukaran barang yang sejenis tanpa memberikan imbalan terhadap
kelebihan itu (riba fadl); atau pembayaran hutang yang harus di lunasi oleh
orang yang berhutang lebih besar daripada jumlah pinjamannya sebagai
imbalan terhadap tenggang waktu yng telah lewat(riba nasiah).
Secara terminologi fiqh : Tambahan khusus yang dimiliki salah satu
dari dua pihak yang terlibat transaksi tanpa ada imbalan tertentu. Menurut
Muhammad Abduh: Penambahan yang disyaratkan oleh pemilik harta kepada
peminjam hartanya karena pengunduran janji pembayaran dari waktu yang
telah ditentukan.
Kaum muslimin semua sepakat bahwa asal hukum riba adalah haram,
terutama riba pinjaman atau hutang . Demikian pula para ulama mazhab,
meskipun terjadi perbedaan dalam hal aplikasinya.
Bentuk aplikasi riba dimasa Jahiliyah :
1. Riba pinjaman, yakni direfleksikan dalam suatu kaidah tangguhkanlah
hutangku, aku akan menambahnya.
2. Peminjaman dengan pembayaran tertunda, tetapi dengan syarat harus
diibayar dengan bunganya. Hutang dibayar sekaligus pada saat berakhirnya
masa pembayaran.
3. Pinjaman berjangka dan berbunga dengan syarat dibayar perbulan secara
angsuran.

1
2
3

Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian


berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan
kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam
pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar .
Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta
pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba,
namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah
pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam
secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

A. Pengertian Riba
Riba berarti menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat
pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok,
yang dibebankan kepada peminjam.
Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian
lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan
menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok
atau modal secara bathil.
Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum
terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan
tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara
bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.
Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa
riba pinjaman adalah haram. Ini dipertegas dalam Al-Qur'an Surah AlBaqarah ayat 275 :...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba... .

BENTUK BENTUK RIBA

B. Macam-Macam Riba
Menurut para fiqih, riba dapat dibagi menjadi 4 macam bagian, yaitu
sebagai berikut :
1.

Riba Fadhl, yaitu tukar menukar dua barang yang sama jenisnya
dengan kwalitas berbeda yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan.
contohnya tukar menukar emas dengan emas,perak dengan perak, beras
dengan beras dan sebagainya.

2. Riba Yad, yaitu berpisah dari tempat sebelum ditimbang dan diterima,
maksudnya : orang yang membeli suatu barang, kemudian sebelum ia
menerima barang tersebut dari si penjual, pembeli menjualnya kepada orang
lain. Jual beli seperti itu tidak boleh, sebab jual beli masih dalam ikatan
dengan pihak pertama.
3. Riba Nasiah yaitu riba yang dikenakan kepada orang yang berhutang
disebabkan memperhitungkan waktu yang ditangguhkan. Contoh : Aminah
meminjam

cincin

10

Gram

pada

Ramlan.

Oleh

Ramlan

disyaratkan

membayarnya tahun depan dengan cincin emas sebesar 12 gram, dan apa
bila terlambat 1 tahun, maka tambah 2 gram lagi, menjadi 14 gram dan
seterusnya. Ketentuan melambatkan pembayaran satu tahun.
4. Riba Qardh, yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan
atau

tambahan

bagi

orang

yang

meminjami/mempiutangi.

Contoh : Ahmad meminjam uang sebesar Rp. 25.000 kepada Adi. Adi
mengharuskan dan mensyaratkan agar Ahmad mengembalikan hutangnya
kepada Adi sebesar Rp. 30.000 maka tambahan Rp. 5.000 adalah riba Qardh.

Umumnya para ulama membagi riba menjadi dua, yakni riba fadl dan
riba nasiah.
a. Riba Fadl

Riba fadl adalah jual beli yang mengandung unsur riba pada barang sejenis
dengan adanya tambahan pada salah satu benda tersebut. Islam telah
mengharamkan jenis riba ini dalam transaksi karena khawatir pada akhirnya
orang akan jatuh pada riba yang hakiki yaitu riba an-Nasiah yang sudah
menyebar dalam tradisi masyarakat Arab. Dalam konteks inilah Rasululloh
SAW. bersabda :

,,
,
,






, ,
,

Janganlah kalian menjual satu dirham dengan dua dirham sesungguhnya


saya takut terhadap kalian dengan rima, dan rima artinya riba.
Karena perbuatan ini bisa mendorong seseorang untuk melakukan riba
yang hakiki, maka menjadikan hikmah Allah dengan mengharamkannya
sebab ia bisa menjerumuskan mereka kedalam perbuatan haram.
b. Riba Nasiah
Riba nasiah adalah pembayaran hutang yang harus dilunasi oleh
orang yang berhutang lebih besar dari jumlah pinjamannya sebagai imbalan
terhadap tenggang waktu yang telah lewat waktu.
Riba nasiah dalam sistem ekonomi modern biasanya dihubungkan
dengan bunga bank. Banyak ahli hukum dan ekonomi Islam yang
memasukkan bunga bank kedalam kategori riba nasiah, karena tembahan
beban yang harus ditanggung oleh orang yang berhutang lebih dari hutang
pokoknya, baik tambahan itu sedikit ataupun banyak. Dengan demikian
bunga bank dianggap terlarang (riba). ahmad Hassan (1887-1958), seorang
ulama tokoh pembaru di Persatuan Islam (Persis) berpandangan bahwa riba
nasiah hukumnya haram sepanjang tambahan atau kelebihan ini bersifat
berlipat ganda dan eksploitatif (zhulm, aniaya) atau memberatkan.
Menurutnya riba seperti inilah sesunguhnya diharamkan yang banyak
dipraktikkan pada zaman jahiliyah.
Bersdasarkan pandangan tersebut, menurut Hassan, bunga bank
tidaklah haram. Bunga bank tidaklah mempunyai sifat seperti riba yang
berlaku di zaman jahiliyah yang berlipat ganda dan ekspliotatif.
Abu Zahrah dan Rafiq Yunus al-Misri membuat pembagian riba yang
agak berbeda dengan umumnya ulama. Menurut keduanya riba dibedakan
atas riba yang terjadi pada hutang piutang yakni riba nasiah dan riba yang
terjadi pada jual beli, yakni riba nasa dan riba fadl. Al-Misri menekankan
pentingya pembedaan antara riba nasiah dan riba nasa agar terhindar dari
kekeliruan dalam mengidentifikasi berbagai bentuk riba. Al-Misri juga
menyatakan bahwa tidak dilakukannya pembedaan yang jelas antara riba
nasiah dan riba nasa menyebabkan kekeliruan sebagian ulama dalam
menerangkan riba. Ibn al-Qoyyim, misalnya, mendiskripsikan riba fadl untuk
menunjukkan riba kepada jual beli kemudian dengan serta merta
memandangnya sebagai sadd al-dzariyah (penutup jalan) bagi riba dalam
hutang piutang.
Riba nasa terjadi ketika jual beli barter ini dilakukan tidak secara tunai,
sedangkan riba fadl terjadi manakala jual beli barter terhadap satu jenis
komoditas dilakukan dengan tidak sama dan sebanding. Sementara dengan
riba nasiah, ada tiga perbedaannya :
1. Riba nasiah terjadi pada hutang piutang, sedang riba nasa dalam jual beli.
2. Riba nasiah adalah penundaan waktu pembayaran (kurang dengan
tambahan), sedangkan riba nasa merupakan penundaan waktu pembayaran
dengan tanpa tambahan.

3. Macam-Macam Riba
Riba bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:

a) Riba Fadhl
Riba Fadhl adalah berlebih salah satu dari dua pertukaran yang diperjualbelikan. Bila yang
diperjualbelikan sejenis, berlebih timbangannya pada barang-barang yang ditimbang, berlebih
takarannya pada barang-barang yang ditakar dan berlebihan ukurannya pada barang-barang yang
dukur.4[7]
Empat imam madzhab telah sepakat bahwa riba jenis ini haram, karena khawatir pada
akhirnya orang akan jatuh kepada riba yang hakiki yaitu riba annasiah yang sudah menyebar
dalam tradisi masyarakat Arab. Termasuk dalam riba ini yaitu riba qardh yaitu seseorang
memberi pinjaman uang kepada orang lain dan dia memberi syarat supaya si penghutang
memberinya manfaat seperti menikahi anaknya, dan lain-lain5[8]
b) Riba Al-Yadd (Tangan)
Riba Al-Yadd adalah jual beli dengan mengakhirkan penyerahan kedua barang ganti atau
salah satunya tanpa menyebutkan waktunya.
c) Riba An-Nasiah
Riba An-Nasiah merupakan jual beli yang mengakhirkan tempo pembayaran. Riba jenis ini
merupakan riba yang terkenal pada zaman jahiliah. Salah seorang dari mereka memberikan
hartanya untuk orang lain sampai waktu tertentu dengan syarat dia mengambil tambahan tertentu
dalam setiap bulannya sedangkan modalnya tetap dan jika sudah jatuh tempo ia akan mengambil
modalnya dan jika belum sanggup membayar, maka waktu dan bunganya akan ditambah.
Keharaman riba an-nasiah telah di tetapkan berdasarkan nash yang pasti dengan kitab Allah,
summah Rasul-Nya serta ijma kaum muslimin.
Firman Allah Swt.,:

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu, dan urusannya kepada Allah. Orang yang kembali, maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka, mereka kekal di dalamnya . Allah memusnahkan riba dan menyuburkan
sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat
dosa. (QS. Al-Baqarah: 275-276)
Adapun dalil pengharaman riba dalam sunnah yaitu:

Rasulullah melaknat yang memakan riba, wakilnya, penulisnya dan dua orang saksinya. 6[9]
4. Hal-Hal yang Menimbulkan Riba

4
5
6

Jika seseorang menjual benda yang mungkin mendatangkan riba menurut jenisnya, maka
disyaratkan sama nilainya, sama ukurannya menurut syara, dan sama-sama tunai di majelis
akad.
Berikut ini yang termasuk riba pertukaran diantaranya:
a. Seseorang menukar langsung uang kertas Rp 10.000,00 dengan uang recehan Rp 9.950,00. Uang
Rp 50,00 tidak ada imbangannya atau tidak termasuk, maka uang tersebut adalah riba.
b. Seseorang meminjamkan uang sebanyak Rp 100.000,00 dengan syarat dikembalikan ditambah
10% dari pokok pinjaman maka 10% dari pokok pinjaman adalah riba sebab tidak ada
c.

imbangannya.
Seseorang menukarkan seliter beras ketan dengan dua liter beras dolog, maka pertukaran
tersebut adalah riba sebab beras hanya ditukar dengan beras sejenis dan tidak boleh dilebihkan
salahsatunya. Jalan keluarnya adalah beras ketan dijual terlebih dahulu dan uangnya digunakan
untuk membeli beras dolog.
Tidak dibolehkan menjual emas dengan emas, perak dengan perak, baik masih terurai, maupun
sudah ditempa atau belum ditempa atau sudah menjadi perhiasan, terkecuali seimbang benar,

serupa benar dan tunai (kontan).7[10]


d. Seseorang yang akan membangun rumah membeli batu bata, uangnya diserahkan tanggal 5
Desember, sedangkan batu batanya diambil nanti ketika pembangunan rumah dimulai, maka
perbuatan tersebut adalah perbuatan riba sebab terlambat salahsatunya dan berpisah sebelum
serah terima barang.
e. Seseorang yang menukarkan 5 gram mas 22 karat dengan 5 gram mas 12 karat termasuk riba
walaupun sama ukurannya, tetapi berbeda nilai (harganya) atau menukarkan 5 gram mas 22 karat
dengan 10 gram mas 12 karat yang harganya sama, juga termasuk riba sebab walaupun harganya
sama ukurannya tidak sama.8[11]

7
8

DALIL TENTANG RIBA

C. Hadits-hadis Mengenai Riba



,
,







,



, ,




,

, , ,
,
,


,
,


,
,
.,
,
,
,

Dari Umar bin Al-Khatthab Radiallahu Anhu, dia berkata, Rasululloh


Sallallahu alaihi wasallam bersabda, Jual beli emas dengan emas adalah
riba kecuali secara kontan, perak dengan perak adalah riba kecuali dengan
kontan, biji gandum dengan gandum adalah riba kecuali secara kontan,
tepung gandum dengan tepung gandum adalah riba kecuali secara
kontan.(HR Bukhori-Muslim).
Dari hadis diatas dapat disimpulkan bahwa jual beli emas dengan
perak atau sebaliknya serta kerusakannya jika tidak dilakukan pembayaran
secara kontan diantara penjual dan pembeli sebelum berpisah dari tempat
akad. Inilah yang disebut musharofah. Pengharaman jual beli gandum
dengan biji gandum atau tepung gandum dengan tepung gandum serta
kerusakannya, jika tidak dilakukan secara kontan sebelum penjual dan
pembeli berpisah dari tempat akad. Tempat akad yang dimaksud disini
adalah tempat berjual beli dan bertransaksi, baik keduanya sama-sama
duduk atau sambil berjalan atau sambil berkendara. Sedangkan yang
dimaksud berpisah ialah apapun yang menurut kebiasaan dianggap sebagai
perpisahan diantara manusia.









,
,
,
.


, , ,

Dari Abu Said Al-Khudry Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasululloh Shollallohu


alaihi Wasallam bersabda, Jangan kalian menjual emas dengan emas
kecuali yang sama beratnya, janganlah kalian melebihkan sebagian diatas
sebagian yang lain, janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali
yang sama beratnya dan janganlah kalian melebihkan sebagian diatas
sebagian yang lain, dan janganlah kalian yang tidak ada diantara barangbarang itu dengan yang ada.( HR Bukhori-Muslim).
Hadis ini menunjukkan larangan menjual emas dengan emas, perak
dengan perak, baik yang sudah dibentuk (batangan) atau yang berbeda,

selagi tidak mengikuti ukuran yang syari, yaitu beratnya, jika tidak dilakukan
pembayaran secara kontan dari kedua belah pihak ditempat akad. Larangan
terhadap hal itu mengharuskan pengharamannya dan tidak sahnya akad.
Syaikhul-Islam ibnu Taimiyah berkata tentang seorang yang memberikan
pinjaman kepada orang-orang setiap seratus harus dikembalikan seratus
empat puluh, Inilah yang disebut riba seperti yang diharamkan di dalam AlQuran. Dia menyebutkan bahwa orang itu tidak mempunyai hak kecuali
apa yang dia berikan kepada mereka atau yang senilai dengannya. Adapun
tambahannya, dia sama sekali tidak berhak sedikitpun terhadapnya.
Sedangkan riba yang sudah terlanjur terjadi, maka dimaafkan. Adapun
sisanya yang belum terbayarkan, maka menjadi gugur, karena didasarkan
kepada frman-Nya, Dan tinggalkanlah sisa riba(yang belum dipungut). (QS
Al-Baqaroh :287).

,
,



,
,


,


,
,



.





Dari Abu Said Al-Khudry Radiallahu anhu, dia berkata,Bilal datang kepada
Rasulullloh Shallallohu alaihi wasallam sambil menyerahkan kurma Barny.
Lalu Nabi Shallallohu alaihi wasallam bertanya kepadanya, Dari mana
engkau mendapatkan kurma ini? Bilal menjawab, Tadinya kami mempunyai
kurma yang rendah mulutnya, lalu aku menjual sebagian darinya dua sha
(yang bagus), agar Nabi Shallallohu alaihi wasallam memakannya. Pada
saat itu nabi Shallallohu alaihi wasallam bersabda, Awwah awwah. Ini
adalah riba yang sebenarnya, ini adalah riba yang sebenarnya, janganlah
engkau melakukannya, tapi jika engkau ingin membeli, juallah kurma (yang
rendah mulutnya) dengan penjualan lain, kemudian belilah dengannya
(kurma yang bagus mulutnya). (HR Bukhori-Muslim).
Hadis ini menjelaskan pengharaman riba fadl dengan kurma.
Gambarannya, sebagian kurma dijual (ditukar) dengan sebagian yang lain,
yang satu lebih banyak daripada yang lain. Hadis ini dijadikan dalil
pembolehan masalah inah, yaitu menjual barang dengan secara kredit,
kemudian membelinya dari pembeli itu secara kontan dengan harga yang
lebih sedikit dari harga pertama. Dan hadis ini juga dijadikan sebagai dalil
pembolehan tawarruq, yaitu membeli barang yang nilainya seratus real
dengan seratus dua puluh secara kredit, agar barang itu dapat diambil
manfaatnya, bahkan untuk dijual dan harganya dimanfaatkan.

,
,





,







.
,



Dari Abul-Minhal, dia berkata, Aku bertanya kepada Al-Bara bin Azib dan
Zaid bin Arqam tentang sharf. Maka setiap orang diantara keduanya
menjawab, Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam melarang menjual emas
dengan perak secara utang.(HR Bukhori-Muslim).
Hadis ini menjelaskan mengenai larangan menjual emas dengan
perak, perak dengan emas, yang salah diantara keduanya tidak ada

barangnya. Jadi harus dilakukan pembayaran secara kontan. Sahnya jual beli
ini dengan pembayaran secara kontan ditempat akad, karena itu merupakan
sharf. Akad akan rusak jika tidak dilakukan pembayaran secara kontan
ditempat akad ialah karena tidak bertemunya dua barang, yang termasuk
alasan riba.


,







,


,




,



, ,



,




,
,

.






Dari

Abu Bakrah, dia berkata,Rasululloh Sallallohu Alaihi Wasallam


melarang menjual perak dengan perak, emas dengan emas kecuali dengan
berat yang sama, dan memerintahkan agar kami membeli emas dengan
perak menurut kehendak kami, Dia (rawi) berkata,Seseorang bertanya
kepadanya,Apakah maksudnya secara kontan? Dia menjawab,Begitulah
yang kudengar '." (HR Bukhaori-Muslim).
Dijelaskan oleh hadis ini mengenai pengharaman menjual emas
dengan emas, perak dengan perak yang ada selisih beratnya, karena
berhimpunnya harga dan yang dihargai dalam satu jenis ribawi. Boleh
menjual emas dengan emas, perak dengan perak, namun ada dua syarat:
pertama, sama beratnya, yang satu tidak boleh melebihi yang lain. Kedua,
pembayaran secara kontan ditempat akad. Apa yang dikatakan mengenai
emas dan perak juga berlaku untuk satu jenis ribawi, ketika sebagian dijual
dengan sebagian yang lain, separti biji gandum dengan biji gandum.
Diperbolehkannya menjual emas dengan perak atau perak dengan
emas yang berbeda beratnya, karena yang satu bukan jenis yang lain. Begitu
pula yang dikatakan untuk setiap jenis, yang dijual dengan jenis lainnya yang
bersifat ribawi, yang boleh dilakuakan dengan adanya selisih berat diantara
keduanya. Ketika menjual emas dengan perak atau perak dengan emas,
harus dilakukan pembayaran secara kontan ditempat akad. Jika keduanya
berpisah sebelum pembayaran, maka akad itu menjadi batal, karena
keduanya berhimpun pada alasan ribawi. Begitu pula yang berlaku untuk dua
jenis, yang bertemu pada alasan ribawi, yaitu takaran atau timbangan, yang
harus dilakukan pembayaran secara kontan diantara keduanya ditempat
akad.



,







, ,

.

:
,


Rasululloh SAW.mengutuk pemakan (pengambil) riba, pemberi


makan dengan riba, penulisnya dan saksinya, seraya bersabda, mereka
sekalian sama.

Hadis menjelaskan bahwa nabi Muhammad SAW sangat tidak


menyukai para pemakan riba, yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan
riba kemudian dari hasilnya itu ia dapat untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Pemberi makan dengan riba maksudnya dengan harta hasil riba
untuk memberi makan orang lain atau menyumbang dengan harta hasil riba.
Dan juga orang-orang yang terlibat dalam riba tersebut, yaitu yang menulis
dan yang menjadi saksi terhadap riba. Jadi, semua yang telah disebutkan
tadi adalah sama halnya dengan orang yang berbuat riba dan akan
mendapatkan siksa di akhirat kelak.

Adapun dalil yang terkait dengan perbuatan riba, berdasarkan AlQuran dan Al-Hadits. Di antara ayat tentang riba adalah sebagai berikut:





,






,



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan
berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. QS Ali Imran : 130.

,











,
,
,

,


,
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit
gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang
telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum
datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka mereka kekal di dalamnya. QS:2: 275,











,
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
QS Al-Baqarah : 276.




,
,









Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan
sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS
Al-Baqarah : 278).



Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu

bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. QS Al-Baqarah : 279.








,
,











Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai
keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang
melipat gandakan (pahalanya). QS. Rum : 39.

Dan di antara hadits yang terkait dengan riba adalah :


:

,
,
,








:



, ,


:
,



Dari Jabir r.a Rasulullah SAW telah melaknat (mengutuk) orang yang makan
riba, wakilnya, penulisnya dan dua saksinya. HR. Muslim.

HAL HAL YANG MENIMBULKAN RIBA

Adapun hal-hal yang menimbulkan riba diantaranya adalah :


1. Tidak sama nilainya.

2. Tidak sama ukurannya menurut syara, baik timbangan, takaran maupun


ukuran.
3. Tidak tunai di majelis akad

Berikut ini merupakan contoh riba penukaran :


Seseorang menukar uang kertas Rp 10.000 dengan uang receh Rp.9.950 uang
Rp.50 tidak ada imbangannya atau tidak tamasul, maka uang receh Rp.50
adalah riba.
Seseoarang meminjamkan uang sebanyak Rp. 100.000 dengan syarat
dikembalikan ditambah 10 persen dari pokok pinjaman, maka 10 persen dari
pokok pinjman dalah riba sebab tidak ada imbangannya.
Seseorang menukarkan seliter beras ketan dengan dua liter beras dolog,
maka pertukaran tersebut adalah riba, seabab beras harus ditukar dengan
beras

yang

sejenis

dan

tidak

boleh

dilebihkan

salah

satunya.

Jalan keluarnya ialah beras ketan dijual terlebih dahulu dan uangnya
digunakan untuk membeli beras dolog.

4. Hal-Hal yang Menimbulkan Riba


Jika seseorang menjual benda yang mungkin mendatangkan riba menurut jenisnya, maka
disyaratkan sama nilainya, sama ukurannya menurut syara, dan sama-sama tunai di majelis
akad.
Berikut ini yang termasuk riba pertukaran diantaranya:
a. Seseorang menukar langsung uang kertas Rp 10.000,00 dengan uang recehan Rp 9.950,00. Uang
Rp 50,00 tidak ada imbangannya atau tidak termasuk, maka uang tersebut adalah riba.
b. Seseorang meminjamkan uang sebanyak Rp 100.000,00 dengan syarat dikembalikan ditambah
10% dari pokok pinjaman maka 10% dari pokok pinjaman adalah riba sebab tidak ada
imbangannya.
c. Seseorang menukarkan seliter beras ketan dengan dua liter beras dolog, maka pertukaran
tersebut adalah riba sebab beras hanya ditukar dengan beras sejenis dan tidak boleh dilebihkan
salahsatunya. Jalan keluarnya adalah beras ketan dijual terlebih dahulu dan uangnya digunakan
untuk membeli beras dolog.
Tidak dibolehkan menjual emas dengan emas, perak dengan perak, baik masih terurai, maupun
sudah ditempa atau belum ditempa atau sudah menjadi perhiasan, terkecuali seimbang benar,
serupa benar dan tunai (kontan).9[10]
d. Seseorang yang akan membangun rumah membeli batu bata, uangnya diserahkan tanggal 5
Desember, sedangkan batu batanya diambil nanti ketika pembangunan rumah dimulai, maka
perbuatan tersebut adalah perbuatan riba sebab terlambat salahsatunya dan berpisah sebelum
serah terima barang.
9

e.

Seseorang yang menukarkan 5 gram mas 22 karat dengan 5 gram mas 12 karat termasuk riba
walaupun sama ukurannya, tetapi berbeda nilai (harganya) atau menukarkan 5 gram mas 22 karat
dengan 10 gram mas 12 karat yang harganya sama, juga termasuk riba sebab walaupun harganya
sama ukurannya tidak sama.10[11]

PENYEBAB MAKAN RIBA

10

Faktor Penyebab Memakan Riba:


1. Nafsu dunia kepada harta benda
2. Serakah harta
3. Tidak pernah merasa bersyukur dengan apa yang telah Allah SWT berikan
4. Imannya lemah
5. Selalu Ingin menambah harta dengan berbagai cara termasuk riba

PENYEBAB HARAM RIBA

Faktor Penyebab di haramkan Riba:


1. Merugikan orang lain
2. Sama dengan mengambil hak orang lain
3. Mendapat laknat dari Allah SWT.
4. Neraka ancamannya
5. Termasuk perbuatan syetan yang keji
6. Memperoleh harta dengan cara yang tidak adil

2. Sebab-Sebab Haramnya Riba


Sebab-sebab riba diharamkan yaitu:
a) Karena Allah dan rasul-Nya melarang atau mengharamkannya, firman Allah:
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Al-Baqarah: 275)
Rasulullah Saw bersabda:

Satu dirham uang riba yang dimakan seseorang, sedangkan orang tersebut mengetahuinya, dosa
perbuatan tersebut lebih berat daripada dosa enam puluh kali zina. (Riwayat Ahmad)
b) Karena riba menghendaki pengambilan harta orang lain dengan tidak ada imbangannya, seperti
seseorang menukarkan uang kertas Rp 10.000,00 dengan uang recehan senilai Rp 9.950,00,
maka uang senilai Rp 50,00 tidak ada imbangannya, maka uang senilai Rp 50,00 adalah riba.
c) Dengan melakukan riba, orang tersebut menjadi malas berusaha yang sah menurut syara.
d) Riba menyebabkan putusnya perbuatan baik terhadap sesama manusia dengan cara utang putang
atau menghilangkan faedah utang piutang sehingga riba lebih cenderung memeras orang miskin
daripada menolong orang miskin.11[4]

11

DAMPAK NEGATIF RIBA

Riba dapat berdampak buruk terhadap:


Pribadi seseorang
Kehidupan masyarakat
Ekonomi

Akibat-akibat buruk yang di jelaskan para ekonom muslin dan non-muslim, di


antaraya:
Riba merusak sumber daya manusia
Riba merupakan penyebab utama terjadinya Inflasi
Riba menghambat lajunya pertumbuhan ekonomi
Riba menciptakan kesenjangan social
Riba Faktor utama terjadinya krisis Ekonomi Global

Dampak Riba Pada Ekonomi


Riba (bunga) menahan pertumbuhan ekonomi dan membahayakan
kemakmuran

nasional

serta

kesejahteraan

individual

dengan

cara

menyebabkan banyak terjadinya distrosi di dalam perekonomian nasional


seperti inflasi, pengangguran, distribusi kekayaan yang tidak merata, dan
resersi.
Bunga menyebabkan timbulnya kejahatan ekonomi. Ia mendorong
orang melakukan penimbunan (hoarding) uang, sehingga memengaruhi
peredaranya

diantara

sebagian

besar

anggota

masyarakat.

Ia

juga

menyebabkan timbulnya monopoli, kertel serta konsentrasi kekayaan di


tangan sedikit orang. Dengan demikian, distribusi kekayaan di dalam
masyarakat menjadi tidak merata dan celah antara si miskin dengan si kaya
pun melebar. Masyarakat pun dengan tajam terbagi menjadi dua kelompok
kaya dan miskin yang pertentangankepentingan mereka memengaruhi
kedamaian dan harmoni di dalam masyarakat. Lebih lagi karna bunga pula
maka distorsi ekonomi seperti resesi, depresi, inflasi dan pengangguran
terjadi.
Investasi modal terhalang dari perusahaan-perusahaan yang tidak
mampu menghasilkan laba yang sama atau lebih tinggi dari suku bunga
yang sedang berjalan, sekalipun proyek yang ditangani oleh perusahaan itu

amat penting bagi negara dan bangsa. Semua aliran sumber-sumber


finansial di dalam negara berbelok ke arah perusahaan-perusahaan yang
memiliki prospek laba yang sama atau lebih tinggi dari suku bunga yang
sedang berjalan, sekaliun perusahaan tersebut tidak atau sedikit saja
memiliki nilai sosial.
Riba (bunga) yang dipungut pada utang internasional akan menjadi
lebih buruk lagi karena memperparah DSR (debt-service ratio) negaranegara debitur. Riba (bunga) itu tidak hanya menghalangi pembangunan
ekonomi negara-negara miskin, melainkan juga menimbulkan transfer
sumber daya dari negara miskin ke negara kaya. Lebih dari itu, ia juga
memengaruhi

hubungan

antara

negara

miskin

dan

kaya

sehingga

membahayakan keamanan dan perdamaian internasional.

Cara Menghindari Riba dalam Ekonomi Islam


Pandangan tentang riba dalam era kemajuan zaman kini juga
mendorong maraknya perbankan Syariah dimana konsep keuntungan bagi
penabung di dapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada
bank konvensional pada umumnya. Karena, menurut sebagian pendapat
bunga bank termasuk riba. Hal yang sangat mencolok dapat diketahui bahwa
bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal jadi ketika
nasabah sudah menginventasikan uangnya pada bank dengan tingkat suku
bunga tertentu, maka akan dapat diketahui hasilnya dengan pasti. Berbeda
dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil untuk
deposannya.
Hal diatas membuktikan bahwa praktek pembungaan uang dalam
berbagai bentuk transaksi saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi
pada

zaman

Rasulullah

saw

yakni

riba

nasiat.

Sehingga

praktek

pembungaan uang adalah haram.


Sebagai pengganti bunga bank, Bank Islam menggunakan berbagai
cara yang bersih dari unsur riba antara lain:
a. Wadiah atau titipan uang, barang dan surat berharga atau deposito.
b. Mudarabah adalah kerja sama antara pemlik modal dengan pelaksanaan
atas dasar perjanjian profit and loss sharing
c. Syirkah (perseroan) adalah diamana pihak Bank dan pihak pengusaha samasama mempunyai andil (saham) pada usaha patungan (jom ventura)

d. Murabahan adalah jual beli barang dengan tambahan harga ataaan.u cost
plus atas dasar harga pembelian yang pertama secara jujur.
e. Qard hasan (pinjaman yag baik atau benevolent loan), memberikan pinjaman
tanpa bunga kepada para nasabah yang baik sebagai salah satu bentuk
pelayanan dan penghargaan.
f.

Menerapkan prinsip bagi hasil, hanya memberikan nisbah tertentu pada


deposannya, maka yang dibagi adalah keuntungan dari yang di dapat
kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah
pihak. Misalnya, nisbahnya dalah 60% : 40%, maka bagian deposan 60% dari
total keuntungan yang di dapat oleh pihak bank.

g. Selain cara-cara yang telah diterapkan pada Bank Syariah, riba juga dapat
dihindari dengan cara berpuasa. Mengapa demikian? Karena seseorang yang
berpuasa secara benar pasti terpanggil untuk hijrah dari sistem ekonomi
yang penuh dengan riba ke sistem ekonomi syariah yang penuh ridho Allah.
Puasa bertujuan untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah
swt dimana mereka yang bertaqwa bukan hanya mereka yang rajin shalat,
zakat, atau haji, tapi juga mereka yang meninggalkan larangan Allah swt.
Puasa bukan saja membina dan mendidik kita agar semakin taat
beribadah, namun juga agar aklhak kita semakin baik. Seperti dalam
muamalah akhlak dalam muamalah mengajarkan agar kita dalam kegiatan
bisnis menghindari judi, penipuan, dan riba. Sangat aneh bila ada orang
yang berpuasa

dengan taat dan

bersungguh-sungguh

namun

masih

mempraktekan riba. Sebagai orang yang beriman yang telah melaksanakan


puasa, tentunya orang itu akan meyakini dengan sesungguhnya bahwa Islam
adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan (komprehensif)
manusia, termasuk masalah perekonomian. Umat Islam harus masuk ke
dalam Islam ssecara utuh dan menyeluruh dan tidak sepotong-potong. Inilah
yang dititahkan Allah pada surah al-Baaqarah : 208, Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (utuh dan totalitas)
dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu
adalah musuh nyata bagimu.
Ayat ini mewajibkan orang beriman untuk masuk ke dalam Islam
secara totalitas baik dalam ibadah maupun ekonomi, politik, social, budanya,
dan sebgainya. Pada masalah ekonomi, masih banyak kaum muslim yang
melanggar prinsip islam yaitu ajaran ekonomi Islam. Ekonomi Islam
didasarkan pada prinsip sayariah yang digali dari Al-Quran dan sunnah.

Dalam kitab fiqih pun sangat banyak ditemukan ajaran-ajaran muamalah


Islam. Antara lain mudharabah, murabahah, wadiah, dan sebagainya.

5. Dampak Riba pada Ekonomi


Saat ini riba yang dipinjamkan merupakan asas pengembangan harta pada perusahaanperusahaan. Hal itu berarti akan memusatkan harta pada penguasaan para hartawan, padahal
mereka hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh anggota masyarakat, daya beli mereka pada
hasil-hasil produksi juga kecil. Pada waktu yang bersamaan, pendapatan kaum buruh yang
berupa upah atau yang lainnya, juga kecil. Maka daya beli kebanyakan anggota masyarakat kecil
pula.
Hal ini merupakan masalah penting dalam ekonomi, yaitu siklus-siklus ekonomi. Hal ini
berulang kali terjadi. Siklus-siklus ekonomi yang berulang kali terjadi disebut krisis ekonomi.
Para ahli ekonomi berpendapat bahwa penyebab utama krisis ekonomi yaitu bunga yang dibayar
sebagai peminjaman modal atau riba.
Riba dapat menimbulkan over produksi. Riba membuat daya beli sebagian besar masyarakat
lemah sehingga persediaan jasa dan barang semakin tertimbun, akibatnya perusahaan macet
karena produksinya tidak laku, perusahaan mengurangi tenaga kerja untuk menghindari kerugian
yang lebih besar dan mengakibatkn adanya sekian jumlah pengangguran.12[12]

HIKMAH DIHARAMKAN RIBA

6. Hikmah Diharamkannya Riba


Hikmah-hikmah yang terkandung di balik pengharaman riba yaitu sebagai berikut:
a. Riba merupakan pelanggaran terhadap kesucian harta (seorang) muslim yang mengambil
kelebihan atau tambahan tanpa dibarengi adanya pertukaran atau penggantian,
b. Riba berdampak buruk terhadap para fakir miskin karena pada umumnya hanya orang kaya lah
c.

yang meminjamkan uangnya, sedangkan yang meminjam adalah orang miskin,


Riba mengakibatkan terputusnya nilai luhur kebaikan yang ada dalam pinjam meminjam uang

d.

atau utang piutang,


Riba mengakibatkan terbengkalai dan mandulnya pencarian rezeki, perniagaan, keterampilan
dan industri sehingga kemaslahatan dan kelestarian alam tidak akan terwujud karena
kemaslahatan dan kelestarian alam tersebut hanya akan tercapai dengan hal-hal tersebut.13[13]

D. Hikmah Pelarangan Riba


12
13

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diantara hikmah di haramkannya adalah sebagai berikut.


Menghindari tipu daya di antara manusia dan kemudaratan;
Melindungi harta orang muslim agar tidak di makan dengan batil;
Motivasi orang muslim untuk menginvestasikan hartanya pada usaha- usaha
yang bersih dari penipuan, dari apa saja yang menimbulkan kesulitan dan
kemarahan di antara kaum muslim;
Menutup seluruh pintu bagi orang muslim yang membawa pada
permusuhan dan menyusahkan saudaranya, serta membuat benci dan
marah kepada saudaranya;
Menjauhkan orang muslim dari sesuatu yang menyebabkan kebinasaan
karena pemakan riba adalah oang yang zalim dan akibat kezaliman adalah
kesusahan;
Membuka pintu-pintu kebaikan di depan orang muslim agar ia mencari bekal
untuk akhiratnya.

Hikmah di balik larangan riba:


Allah SWT tidak mengharamkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi
manusia, tetapi hanya mengharamkan apa yang sekiranya dapat membawa
kerusakan baik individu maupun masyarakat.
Cara riba merupakan jalan usaha yang tidak sehat, karena keuntungan yang
di peroleh si pemilik dana bukan merupakan hasil pekerjaan atau jerih
payahnya. Keuntungannya diperoleh dengan cara memeras tenaga orang
lain yang pada dasarnya lebih lemah dari padanya.
Riba dapat menyebabkan krisis akhlak dan rohani. Orang yang meribakan
uang atau barang akan kehilangan rasa sosialnya, egois.
Riba dapat menimbulkan kemalasan bekerja, hidup dari mengambil harta
orang lain yang lemah. Cukup duduk di atas meja, orang lain yang memeras
keringatnya.
Riba dapat mengakibatkan kehancuran, banyak orang-orang yang kehilangan
harta benda dan akhirnya menjadi fakir miskin.