Anda di halaman 1dari 14

PEDOMAN PELAYANAN OBAT

DI PUSKESMAS
KECAMATAN PASAR REBO
JAKARTA, SEPTEMBER 2015

PEDOMAN PELAYANAN FARMASI

DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Ruang Lingkup
- Landasan Hukum
BAB II PENGORGANISASIAN
BAB III STANDAR KETENAGAAN
BAB IV STANDAR FASILITAS
BAB V TATA LAKSANA PELAYANAN FARMASI
Peresepan Obat
Pelayanan Obat
Pengadaan Obat
Penyimpanan Obat
Distribusi obat
Monitoring dan Penilaian Terhadap Penggunaan Obat
Pencegahan dan Penanganan Obat Kadaluarsa
Pelayanan dan Penyimpanan pbat Psikotropika dan Narkotika
Rekonsiliasi obat
Monitoring efek samping obat
Penyediaan dan Penggunaan Obat emergensi
BAB IV LOGISTIK PELAYANAN OBAT
BAB VII KENDALI MUTU PELAYANAN FARMASI DAN KESELAMATAN PASIEN
BAB VIII KESELAMATAN KERJA KARYAWAN FARMASI
BAB IX

PENUTUP

PEDOMAN
PELAYANAN KEFARMASIAN DI BLUD PUSKESMAS
KECAMATAN PASAR REBO
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pembangunan kesehatan adalah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap warga
Negara Indonesia. Salah satu upaya pembangunan kesehatan adalah melaksanakan pelayanan
kesehatan melalui Puskesmas. Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja. Secara nasional standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di
satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar
Puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah yaitu desa/ kelurahan.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya
kecamatan sehat. Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu lingkungan sehat, perilaku
sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan derajat kesehatan penduduk. Misi
pembangunan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi
pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat.
Untuk mencapai visi tersebut, Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat. Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat, Puskesmas perlu ditunjang dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu.
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah berubah paradigmanya dari orientasi obat kepada
pasien yang mengacu pada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care). Sebagai konsekuensi
perubahan orientasi tersebut, apoteker/asisten apoteker sebagai tenaga farmasi dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat berinteraksi langsung dengan
pasien.
Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya (SDM, sarana prasarana, sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan serta administrasi) dan pelayanan farmasi klinik (penerimaan
resep, peracikan obat, penyerahan obat, informasi obat dan pencatatan/penyimpanan resep) dengan
memanfaatkan tenaga, dana, prasarana, sarana dan metode tatalaksana yang sesuai dalam upaya
mencapai tujuan yang ditetapkan.

B. Tujuan
Tujuan umum: terlaksananya pelayanan kefarmasian yang bermutu di
Puskesmas
Tujuan khusus: sebagai acuan bagi apoteker dan asisten apoteker untuk
melaksanakan pelayanan kefarmasian di Puskesmas

C. Sasaran
Sasaran dari pedoman ini adalah tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya yang
terkait dengan pelayanan kesehatan di BLUD Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo. Sasaran dari
kegiatan pelayanan kefarmasian adalah pasien di BLUD Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo.

D. Ruang Lingkup
Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat
manajerial berupa pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan Farmasi
Klinik.. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia dan sarana dan prasarana

E. Batasan Operasional
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik.
Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang
diperlukan untuk menyelenggarakan kesehatan. Pengelolaan sediaan farmasi
dan perbekalan kesehatan
Administrasi adalah rangkaian aktivitas pencatatan, pelaporan,
pengarsipan dalam rangka penatalaksanaan pelayanan kefarmasian yang tertib
baik untuk sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan maupun pengelolaan
resep supaya lebih mudah dimonitor dan dievaluasi

F. LANDASAN HUKUM
1.Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2.Peraturan Pemerintah no 51 tahum 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
3. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 30 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
Di Puskesmas.
4. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
5. Peraturan Menpan nomor 70 M. PAN/4/2008 tentang jabatan Fungsional Apoteker dan
Angka Kredit serta Petunjuk Pelaksanaannya.
6. Undang-undang nomor 35 tentang Narkotika.
7. Undang-undang Puskesmas no 75 tahun 2014 Tentang pusat Kesehatan Masyarakat.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di
Puskesmas minimal harus dilaksanakan oleh 1 orang tenaga Apoteker per 30
pasien dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan apoteker
(Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan) yang
memenuhi persyaratan (PP Nomor 51 tahum 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian):
- Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) bagi Apoteker
- Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) bagi Tenaga
Teknis Kefarmasian
- Terdaftar di Asosiasi profesi
- Mempunyai izin kerja, SIPA bagi Apoteker dan SIK bagi Tenaga Teknis
Kefarmasian
- Mempunyai SK penempatan
Jabatan

Fungsi

Kualifikasi

Kordinator Farmasi

-Mengkoordinir
pekerjaan kefarmasian
- Pengelolaan sediaan
farmasi
- Pelayanan farmasi
klinis

Apoteker

Tenaga Teknis
Kefarmasian

Melaksanakan tugas
kefarmasian

Sarjana Farmasi,
Ahli Madya Farmasi, dan
Tenaga Menengah
Farmasi /Asisten
Apoteker

Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan tugas tenaga kefarmasian diatur oleh Koordinator Farmasi,
mengetahui Kepala Sub Bag TU atau diatur sesuai dengan kesepakatan .
Jadwal Kegiatan.
Pelayanan kefarmasian di kecamatan dan kelurahan di mulai dari jam
7.30 16.00 hari senin - kamis
7.30 16.30 ,. hari jumat

Untuk UGD dibagi menjadi 3 shift dengan pembagian tenaga kefarmasian mengikuti bobot
kerja.
1. Shift 1, pukul 07.00 16.00
2. Shift 2, pukul 15.30 23.00
3. Shift 3, pukul 22.30 07.00

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang:
16 cm

D
G

13 cm

B
F
G

C
5 cm
10 cm

A
G
11 cm

Keterangan gambar:
A. Loket untuk meletakkan pengeras suara untuk memanggil nomer
antrian dan nama pasien
B. Ruang gudang obat
C. Meja administrasi pengisian data Sistem Informasi Kesehatan
D. Lemari tempat menyimpan sediaan obat yang belum dibuka
E. Lemari obat sirup
F. Lemari administrasi
G. Loker pegawai
H. Lemari es

B. Standar Fasilitas
Prasarana dan sarana yang harus dimiliki Puskesmas untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut :
1. Bangunan
a. lokasi harus menyatu dengan system pelayanan puskesmas

b.
c.
d.
e.

Papan nama kamar obat yang dapat terlihat jelas oleh pasien
Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
Tersedia tempat untuk melakukan peracikan obat yang memadai
Tempat penyerahan obat yang memadai , yang memungkinkan untuk
melakukan
Pelayanan informasi obat.

2. Peralatan
a. Peralatan penunjang pelayanan kefarmasian, antara lain mortirstamper, gelas ukur, Lemari obat, rak obat dan pallet.kertas puyer,
etiket, sendok obat, kotak obat .
b. Peralatan tulis menulis kantor, kompueter dan printer.
c. Tersedia sumber informasi dan literatur obat yang memadai untuk
pelayanan informasi obat, antara lain Farmakope Indonesia edisi
terakhir, Informasi Spesialite Obat Indonesia (IONI) dan lain-lain.
d. Tempat penyimpanan obat khusus seperti lemari es untuk supositoria,
serum dan vaksin, dan lemari obat yang terkunci khusus untuk obat
psikotropika dan narkotika.
e. Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat , komputer dll.

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN
A. Peresepan Obat
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan
kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien
sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pelayanan resep adalah proses
kegiatan yang meliputi aspek teknis dan non teknis yang harus dikerjakan
mulai dari penerimaan resep, peracikan obat sampai dengan penyerahan
obat kepada pasien.
Resep harus memenuhi peraturan perundang-undangan serta kaidah
yang berlaku, yaitu :
- Identitas Dokter (nama, no.surat izin praktek,alamat praktek dr penulis
resep,no tlp,tgl penulisan resep,tanda tanan /paraf dr penulis resep).
- Superscriptio ditulis dengan symbol R/
- Inscription ( nama obat, kekuatan, jumlah obat yang diperlukan )
- Subscriptio ( bentuk sediaan obat dan jumlahnya, cara penulisan nya
dengan singkatan bahasa latin)
- Signature ( aturan tentang penggunaan obat bagi pasien yang meliputi
frekuensi, jumlah obat dan saat minum obat)
- Identitas Pasien ( nama dan umur pasien).
B. Pelayanan Obat
Pelayanan obat adalah proses kegiatan yang meliputi aspek teknis dan
non teknis
1. Tahap Konfirmasi dan Validasi
Kegiatan pada tahap ini meliputi:
- Menganbil resep sesuai dengan urutan
- Skrining administratif berpa kajian terhadap kelengkapan resep
- Skrining farmasetik berupa kajian terhadap bentuk dan kekuatan sediaan;
stabilitas; dan kompatibilitas (ketercampuran Obat) yang diresepkan
- Skrining pertimbangan klinis, meliputi kajian terhadap ketepatan indikasi
dan dosis Obat; aturan, cara dan lama penggunaan Obat; duplikasi
dan/atau polifarmasi; reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek
samping Obat, manifestasi klinis lain); kontra indikasi; dan interaksi.
2. Tahap Konsultasi dan asuhan kefarmasian
Tujuan tahap ini adalah agar pasien mendapatkan informasi obat yang
tepat
C. Pengadaan Obat
Pengadaan dimulai dari perencanaan. Perencanaan adalah suatu proses
kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan
jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas. Proses seleksi
obat dilakukan dengan mempertimbangkan pola penyakit,pola konsumsi obat
periode sebelumnya, data mutasi obat .

Data mutasi obat yang dihasilkan oleh Puskesmas merupakan salah satu
faktor utama dalam mempertimbangkan perencanaan kebutuhan obat
tahunan.
Peroses perencanaan kebutuhan Obat per tahun dilakukan secara
berjenjang (bottom up). Puskesmas diminta kelurahan diminta menyediakan
data pemakaian obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO).Selanjutnya seksi farmasi
akan melakukan
kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas diwilayahnya,
dengan memperhitungkan waktu kekosongan obat serta menghindari stok
berlebih..
Pengadaan obat dilakukan melalui sistem e-catalog maupun lelang sesuai
ketentuan pemerintah daerah yang berlaku.
D. Penerimaan Obat
Penerimaan obat adalah suatu kegiatan penerimaan obat-obatan hasil pengadaan barang
dan jasa, dan dari gudang kecamatan kepada tujuh fasilitas sesuai dengan permintaan yang telah
diajukan. Setiap penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat- mencakup jumlah ,
bentuk obat,, jika tidak sesuai, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan dan meretur
sedangkan untuk masa kadaluarsa obat yang diterima minimal 2 tahun dari saat penerimaan.
E. Penyimpanan Obat
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan
yang diterima dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada
tempat yang sesuai agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik
maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Beberapa sistem yang umum
dalam pengaturan obat :
a. Alfabetis berdasarkan nama generik
b. Kategori terapetik atau farmakologi
c. Bentuk sediaan
Di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo system penyimpanan berdasarkan system FIFO dan FEFO
F. Distribusi Obat
Penyaluran/distribusi adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat
secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub-sub unit
pelayanan kesehatan sehingga tersedia obat-obatan di unit-unit pelayanan
secara tepat waktu,jenis dan jumlah. Tujuannya adalah untuk memenuhi
kebutuhan obat sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja
puskesmaas Pasar Rebo dengan jenis,mutu, jumlah dan waktu yang tepat.
Puskesmas Kecamatan pasar Rebo mendistribusikan obat ke 7 fasilitas setiap
bulan. Pada umumnya obat diberikan untuk 3 hari kecuali obat antibiotik dan
pasien khusus sesuai dengan peermintaan dokter.
G. Monitoring dan Evaluasi
Sebagai tindak lanjut terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas perlu
dilakukan monitoring dan evaluasi kegiatan secara berkala. Monitoring
merupakan kegiatan pemantauan terhadap pelayanan kefarmasian dan
evaluasi merupakan proses penilaian kinerja pelayanan kefarmasian itu

sendiri. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dengan memantau seluruh


kegiatan pelayanan kefarmasian dimulai dari pelayanan resep sampai
kepada pelayanan informasi obat kepada pasien sehingga diperoleh
gambaran mutu pelayanan kefarmasian sebagai dasar perbaikan pelayanan
kefarmasian di Puskesmas selanjutnya. Monitoring dan evaluasi dilakukan
setiap bulan.
H. Pencegahan dan Penanganan Obat Kaduluwarsa
Jika petugas pengelola obat menemukan obat yang tidak layak pakai (karena
rusak/kadaluwarsa), maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Petugas segera melaporkan dan mengirimkan kembali obat tersebut
kepada petugas gudang
obat Puskesmas.
2) Petugas gudang obat Puskesmas menerima dan mengumpulkan obat
rusak dalam gudang. Jika memang ditemukan obat tidak laik pakai maka
harus segera dikurangkan dari catatan sisa stok pada masing-masing kartu
stok yang dikelolanya. Petugas kemudian membuat berita acara obat
rusak/kadaluwarsa yang diterimanya dari satuan kerja lainnya, ditambah
dengan obat rusak/kadaluwarsa dalam gudang.
3) Pemusnahan obat kadaluarsa dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku di
Puskesmasyaitu dengan menggunakan pigak ketiga.
4) Untuk obat Psikotropika dan Narkotika pemusnahan obat kadaluarsa
dilakukan dengan disaksikan oleh petugas dari Sudin dan berita acara
pemusnahan dibuat rangkap 3 dan dikirim ke Balai POM dan Suku Dinas
Kesehatan Jakarta Timur.
I. Pelayanan dan Penyimpanan Obat Psikotropika dan Narkotika
Pelayanan obat psikotropika dan narkotika dilakukan sama seperti resep biasa, dengan
tambahan obat yang bersangkutan ditandai garis bawah warna merah dan penyimpanan resep
dipisahkan. Penyimpanan obat psikotropika dan narkotika di simpan dilemari khusus dengan
kunci yang dipegang oleh Penanggung Jawab Farmasi
J. Rekonsiliasi Obat
Rekonsiliasi obat yaitu membandingkan obat yang diresepkan dokter dengan obat yang telah
didapatkan pasien sebelumnya.
K. Monitoring Efek Samping Obat
Bila diketahui bahwa obat yang diberikan pada pasien mempunyai efek samping, beritahu
pasien gejala sampingan apa yang dapat ditimbulkan oleh obat tersebut. Monitoring efek samping
obat dilakukan dengan pengisian form khusus jika terjadi efek samping obat.
L. Penyediaan dan Penggunaan Obat Emergensi
Obat emergensi disediakan di Ruang Tindakan Pelayanan Kesehatan 24 Jam, dengan metode
floor stock.

BAB V
LOGISTIK
Logistik terkait erat dengan kegiatan pengendalian. Pengendalian persediaan adalah suatu
kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan
program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat
di unit pelayanan kesehatan dasar.
Kegiatan Pengendalian adalah :
1. Memperkirakan/menghitung pemakaian rata-rata periode tertentu di Puskesmas dan seluruh
unit pelayanan. Jumlah stok ini disebut stok kerja.
2. Menentukan :
- Stok optimum adalah jumlah stok obat yang diserahkan kepada unit pelayanan agar tidak
mengalami kekurangan/kekosongan
- stok pengaman adalah jumlah stok yang disediakan untuk mencegah terjadinya sesuatu hal
yang tidak terduga, misalnya karena keterlambatan pengiriman dari gudang obat Puskesmas
Kecamatan atau dari distributor.
3. Menentukan waktu tunggu (leadtime), yaitu waktu yang diperlukan dari mulai pemesanan
sampai obat diterima.

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN
Dalam setiap kegiatan pelayanan kefarmasian perlu diperhatikan keselamatan sasaran, yakni
pasien dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi
pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap sasaran harus dilakukan
untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam setiap kegiatan pelayanan kefarmasian perlu diperhatikan keselamatan kerja karyawan
puskesmas dan lintas sektor terkait, dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala
kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko harus
dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Untuk mengukur kinerja pelayanan kefarmasian tersebut harus ada indikator
yang digunakan. Indikator yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat
keberhasilan pelayanan kefarmasian di Puskesmas antara lain:
1. Tingkat kepuasan konsumen: dilakukan dengan survei berupa angket melalui
kotak saran atau wawancara langsung. Untuk Puskesmas Kecamatan Pasar
Rebo survey dilakukan oleh bagian Mutu.
2. Dimensi waktu: lama pelayanan diukur dengan waktu (yang telah ditetapkan)
3. Prosedur tetap (Protap) Pelayanan Kefarmasian: untuk menjamin mutu
pelayanan sesuai standar yang telah ditetap

BAB IX
PENUTUP
Pelayanan kefarmasian di Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari
pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
bagi masyarakat.
.Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas yaitu
sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan
pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat.Dalam upaya membangun semangat Puskesmas untuk
meningkatkan kualitas pelayanan di puskesmas, perlu diadakan suatu penilaian Puskesmas melalui
akreditasi Puskesmas. Untuk tercapainya tujuan ini maka disusunlah Pedoman Pelayanan farmasi
Puskesmas Kecamatan Pasar rebo sebagai acuan bagi tenaga kefarmasian dalam melaksanakan
pelayanan kefarmasian di BLUD Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur.
Keberhasilan kegiatan pelayanan kefarmasian tergantung pada komitmen yang kuat dan
kerjasama dari semua pihak terkait terutama tenaga kefarmasian yang harus bekerja dengan
profesional sehingga tercapainya tujuan yaitu meningkatkan mutu pelayanan farmasi, menjamin
kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian,, melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat
yang tidak rasional. Dan bagi pasien dan masyarakat dapat dirasakan manfaatnya yang pada akhirnya
dapat meningkatkan citra Puskesmas dan kepuasan pasien atau masyarakat.