Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS


HNP (HERNIA NUKLEUS PULPOSUS)
DI RUANG MELATI (STROKE) RSD dr. SOEBANDI JEMBER

OLEH :
YUDI MARDIANTOWIJOYO
1011012029

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2012

A. KONSEP MEDIS
1.

Definisi
Hernia Nukleus pulposus (HNP) atau potrusi Diskus Intervertebralis (PDI)
adalah suatu keadaan dimana terjadi penonjolan pada diskus intervertebralis ke
dalam kanalis vertebralis (protrusi diskus) atau nucleus pulposus yang terlepas
sebagian tersendiri di dalam kanalis vertebralis (ruptur discus).
Diskus intervertebral dibentuk oleh dua komponen yaitu; nukleus pulposus
yang terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan dibentuk
oleh anulus fibrosus yang mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri dari jaringan
pengikat yang kuat.
Nyeri tulang belakang dapat dilihat pada hernia diskus intervertebral pada
daerah lumbosakral, hal ini biasa ditemukan dalam praktek neurologi. Hal ini biasa
berhubungan dengan beberapa luka pada tulang belakang atau oleh tekanan yang
berlebihan, biasanya disebabkan oleh karena mengangkat beban/ mengangkat
tekanan yang berlebihan (berat). Hernia diskus lebih banyak terjadi pada daerah
lumbosakral, juga dapat terjadi pada daerah servikal dan thorakal tapi kasusnya
jarang terjadi. HNP sangat jarang terjadi pada anak-anak dan remaja, tetapi terjadi
dengan umur setelah 20 tahun.
Menjebolnya (hernia) nucleus pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau
di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis vertbralis. Menjebolnya
sebagian dari nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat dari foto
roentgen polos dan dikenal sebagai nodus Schmorl. Robekan sirkumferensial dan
radikal pada nucleus fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya
nodus schomorl merupakan kelainan mendasari low back painsub kronik atau
kronik yang kemudian disusun oleh nyeri sepanjang tungkai yang dikenal sebagai
khokalgia atau siatika

2. Anatomi fisiologi
Medula spinalis merupakan jaringan saraf berbentuk kolum vertical tang
terbenteng dari dasar otak, keluar dari rongga kranium melalui foramen occipital
magnum, masuk kekanalis sampai setinggi segmen lumbal-2. medulla spinalis
terdiri dari 31 pasang saraf spinalis (kiri dan kanan) yang terdiri atas :
1.8 pasang saraf cervical.
2.15 pasang saraf thorakal.
3.5 pasang saraf lumbal

4.5 pasang saraf sacral


5.1 pasang saraf cogsigeal.
Penampang melintang medulla spinalis memperlihatkan bagian bagian yaitu
substansia grisea (badan kelabu) dan substansia alba. Substansia grisea
mengelilingi kanalis centralis sehingga membentuk kolumna dorsalis, kolumna
lateralis dan kolumna ventralis. Kolumna ini menyerupai tanduk yang disebut conv.
Substansia alba mengandung saraf myelin (akson).
Kolumna vertebralis tersusun atas seperangkat sendi antar korpus vertebra
yang berdekatan, sendi antar arkus vertebra, sendi kortovertebralis, dan sendi
sakroiliaka. Ligamentum longitudinal dan discus intervertebralis menghubungkan
korpus vertebra yang berdekatan
Diantara korpus vertebra mulai dari cervikalis kedua sampai vertebra
sakralis terdapat discus intervertebralis. Discus discus ini membentuk sendi
fobrokartilago yang lentur antara dua vertebra. Discus intervertebralis terdiri dari
dua bagian pokok : nucleus pulposus di tengah dan annulus fibrosus
disekelilingnya. Discus dipisahkan dari tulang yang diatas dan dibawanya oleh
lempengan tulang rawan yang tipis.
Nucleus pulposus adalah bagian tengah discus yang bersifat semigetalin,
nucleus ini mengandung berkas-berkas kolagen, sel jaringan penyambung dan selsel tulang rawan. Juga berperan penting dalam pertukaran cairan antar discus dan
pembuluh-pembuluh kapiler.
3. Etiologi
Diskus intervertebralis merupakan jaringan yang terletak antara kedua
tulang vertebra, dilingkari oleh anulus fibrosus yang terdiri atas jaringan konsentrik
dan fibrokartilago dimana di dalamnya terdapat susbtansi setengah cair.Nukleus
pulposus terdiri dari jaringan kolagen yang hiperhidrasi dengan protein polisakarida
yang tidak mempunyai saraf sensoris. Herniasi terjadi oleh karena adanya
degenerasi atau trauma pada anulus fibrosus yang menyebabkan protrusi dari
nukleus pulposus. Herniasi terjadi pada daerah kostalateral yang menyebabkan
ligamentum longitudinal posterior tergeser dan menekan akar saraf yang keluar
sehingga menimbulkan gejala skiatika. Herniasi dapat juga terjadi ke arah posterior
yang hanya menyebabkan gejala nyeri punggung bawah. Kelainan ini jarang
menyebabkan kompresi. Herniasi dapat pula terjadi ke atas ke bawah melalui
lempeng tulang rawan korpus vertebra untuk membentuk nodus Schmorl.

4. Patofisiologi
Daerah lumbal adalah daerah yang paling sering mengalami hernisasi diskus
invertebralis, kandungan air diskus berkursang bersamaan dengan bertambahnya
usia. Selain itu serabut menjadi kotor dan mengalami hialisasi yang membantu
perubahan yang mengakibatkan herniasi diskus invertebralis melalui anulus dengan
menekan akar akar syaraf spinal. Pada umumnya harniassi paling besar
kemungkinan terjadi di bagian koluma yang lebih mobil ke yang kurang mobil
(Perbatasan Lumbo Sakralis dan Servikotoralis) (Sylvia,1991, hal.249). Sebagian
besar dari Hernia diskus invertebralis terjadi pada lumbal antara VL 4 sampai L 5,
atau L5 sampai S1. arah herniasi yang paling sering adalah posterolateral. Karena
radiks saraf pada daerah lumbal miring kebawah sewaktu berjalan keluar melalui
foramena neuralis, maka herniasi discus antara L 5 dan S 1.
Perubahan degeneratif pada nukleus pulpolus disebabkan oleh pengurangan
kadar protein yang berdampak pada peningkatan kadar cairan sehingga tekanan
intra distal meningkat, menyebabkan ruptur pada anulus dengan stres yang relatif
kecil.
Sedang M. Istiadi (1986) mengatakan adanya trauma baik secara langsung
atau tidak langsung pada diskus inter vertebralis akan menyebabkan komprensi
hebat dan transaksi nukleus pulposus (HNP). Nukleus yang tertekan hebat akan
mencari jalan keluar, dan melalui robekan anulus tebrosus mendorong ligamentum
longitudinal terjadilah herniasi.
5. Manifestasi klinis
Biasanya keluhan dan gejala herniasi discus intervertebralis tergantung
kepada materi discus yang menonjol keluar atau mengalami herniasi. Herniasi
vertebra lumbalis biasanya menyebabkan nyeri punggung bawah dengan atau tanpa
disertai skiatika atau mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah yang bersifat
kronis dengan skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bawah ke
bokong sampai ke tungkai bawah. Gejala klinis yang dapat ditemukan nyeri
punggung bawah yang hebat, mendadak, menetap beberapa jam sampai beberapa
minggu secara perlahan-lahan. Seketika berupa rasa nyeri hebat pada satu atau dua
tungkai sesuai dengan distribusiakar saraf dan menjadi hebat bila batuk, bersin atau
membungkuk.
Parestesia yang hebat dapat disertai dengan skiatika sesuai dengan distribusi
saraf dan mungkin terjadi sesudah gejala nyeri saraf menurun. Deformitas berupa

hilangnya lordosis lumbal atau skoliosis oleh karena spasme otot lumbal yang
hebat. Mobilitas gerakan tulang berkurang. Pada stadium akut gerakan pada bagian
lumbal sangat terbatas, kemudian muncul nyeri pada saat ekstensi tulang belakang.
Nyeri tekan pada daerah herniasi dan pada daerah paravertebral atau bokong. Uji
menurut Lasque-leg Raising (SLR). Tes ini akan menunjukkan derajat terbatasnya
dan besarnya tekanan pada akar saraf. Tes tegangan saraf femoral. Pada herniasi
diskus vertebra L-3/4, fleksi pada sendi lutut secara pasif dalam posisi telungkup
akan menyebabkan nyeri pada paha bagian depan. Gejala neurologis pada tungkai,
berupa kelemahan otot, perubahan refleks dan perubahan sensoris yang mengenai
akar saraf.
6. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan pada penderita dengan kecurigaan adanya herniasi diskus berupa:
Pemeriksaan klinik pada punggung, tungkai dan abdomen. Pemeriksaan rektal dan
vaginal untuk menyingkirkan kelainan pada pelvis.
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan adalah :
a. Foto polos
Foto polos posisi AP dan lateral dari vertebra lumbal dan panggul (sendi
sakroiliaka). Foto polos bertujuan untuk melihat adanya penyempitan diskus,
penyakit

degeneratif,

kelainan

bawaan

dan

vertebra

yang

tdak

stabil.

(spondililistesis) Pemakaian kontras Foto rontgen dengan memalai zat kontras


terutama pada pemeriksaan miolegrafi radikuografi, diskografi serta kadang-kadang
diperlukan venografi spinal.
b. MRI
Merupakan pemeriksaan non-invasif, dapat memberikan gambaran secara seksional
pada lapisan melintang dan longitudenal.
c. Scanning
Scanning tulang dilakukan dengan mengggunakan bahan radioisotop (SR dan
F)>Pemeriksaan ini terutama untk menyingkirkan kemungkinan penyakit paget.
7. Pengobatan
Tindakan pengobatan yang dapat diberikan tergantung dari keadaan, yaitu :
a. Pengobatan konservativ pada lesi diskus akut
Istirahat sempurna ditempat tidur, 1-2 minggu dengan pemberian analgesik yang
cukup. Kadang-kadang diperlukan obat-obatan untukl mencegah spasme,

pemanasan lokal atau anastesia lokal paravertebra. Penderita tidur pada alas yang
keras. Pada saat ini idak diperbolehkan latihan sama sejali, bila pendeita dirawat
dapat dianjurka untuk mrnggunakan traksi. Pada fase akut dapat diberikan jaket
plaster dari politen selama 2-3 minggu. Injeksi epidural dengan 0,5 % prokain
dalam 50 cc NaCl fisiologis. Dapat dimulai latihan lumbal secara hati-hati apabila
fase akut berakhir setelah 2-3 minggu.
b. Pengobatan konservatif pada fase subakut dan kronik,
Fisioterapi Latihan fleksi dan ekstensi tlang belakang yang mungkin didahului
dengan disterni gelombang pendek. Mobilisasi penderita dapat dilakukan dengan
manipulasi yanghati-hati tanpa anstesia, Instruksi untuk mempergunakan posisi
yang benar dan disiplin terhadap gerakan punggung yaitu membungkuk dan
mengangkat barang. Pemakaian alat bantu lumbosakral Berupa korset dan
penyangga. Traksi lumbal yang bersifat intermiten.
c. Tindakan operatif
Tindakan dilakukan pada keadaan-keadaan seperti kelainan pada kauda ekuina
disertai dengan kelemahan hebat, bersifat bilateral, gangguan dan kelemahan pada
sfingter usus dan kandung kemih. Adanya analgesia pelana pada bokong dan
daerahj perineal. Kelemahan otot yang progresif oleh karena tekanan pada saraf
atau adanya tanda-tanda atrofi pada otot yag dipersarafi. Adanya skiatika yang
menetap dengan gejala neurologis, tidak menghilang dengan terapi konservatif dan
waktu patokan biaanya 6 minggu. Adanya lesi yang hebat disertai kelainan bawaan
atau spondilitis yang hebat. Cara operasi dapat dilakukan secara terbuka tapi akhirakhir ini operasi pada herniasi diskus dilakukan secara tertutup dengan
mempergunakan alat dan teropong.
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
HNP terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis kelamin pria dan
pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat baran berat atau mendorong benda berat)
b. Keluhan Utama
Nyeri pada punggung bawah
P, trauma (mengangkat atau mendorong benda berat)

Q, sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat, mendenyut, seperti kena api,
nyeri tumpul atau kemeng yang terus-menerus. Penyebaran nyeri apakah bersifat
nyeri radikular atau nyeri acuan (referred fain). Nyeri tadi bersifat menetap, atau
hilang timbul, makin lama makin nyeri .
R, letak atau lokasi nyeri menunjukkan nyeri dengan setepat-tepatnya sehingga letak
nyeri dapat diketahui dengan cermat.
S, Pengaruh posisi tubuh atau atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh,
posisi yang bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri.
Pengaruh pada aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti berjalan, turun tangga,
menyapu, gerakan yang mendesak. Obat-oabata yang ssedang diminum seperti
analgetik, berapa lama diminumkan.
T Sifanya akut, sub akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat menetap, hilng
timbul, makin lama makin nyeri.
c. Riwayat Keperawatan
1) Apakah klien pernah menderita Tb tulang, osteomilitis, keganasan (mieloma
multipleks), metabolik (osteoporosis)
2) Riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, bisa menimbulkan nyeri
punggung bawah
d. Status mental
Pada umumny aklien menolak bila langsung menanyakan tentang banyak
pikiran/pikiran sedang (ruwet). Lebih bijakasana bila kita menanyakan kemungkinan
adanya ketidakseimbangan mental secara tidak langsung (faktor-faktor stres)
e. Pemeriksaan
Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum
Pemeriksaan tanda-tanda vital, dilengkapi pemeriksaan jantung, paru-paru, perut.
a) Inspeksi
Inspeksi punggung, pantat dan tungkai dalam berbagai posisi dan gerakan
untuk evalusi neyurogenik
Kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,adanya angulus, pelvis
ya ng miring/asimitris, muskulatur paravertebral atau pantat yang asimetris,
postur tungkai yang abnormal.

Hambatan pada pegerakan punggung , pelvis dan tungkai selama begerak.


Klien

dapat

menegenakan

pakaian

secara

wajar/tidak

Kemungkinan adanya atropi, faskulasi, pembengkakan, perubahan warna


kulit.
b) Palpasi dan perkusi
Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga
tidak membingungkan klien
Paplasi pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling
terasanyeri.
Ketika meraba kolumnavertebralis dicari kemungkinan adanya deviasi ke
lateral atau antero-posterior
Palpasi dna perkusi perut, distensi pewrut, kandung kencing penuh dll.
2) Neurologik
a) Pemeriksaan motorik
Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki, ibu jari dan
jari lainnya dengan menyuruh klien unutk melakukan gerak fleksi dan
ekstensi dengan menahan gerakan.
Atropi otot pada maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanankiri.
Fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot tertentu.
b) Pemeriksan sensorik
Pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa getar (vibrasi)
untuk menentukan dermatom mana yang terganggu sehingga dapat ditentuakn
pula radiks mana yang terganggu.
c) Pemeriksaan refleks
Refleks

lutut /patela/hammer

(klien bebraring.duduk

dengan tungkai

menjuntai), pada HNP lateral di L4-5 refleks negatif.


Refleks tumit.achiles (klien dalam posisi berbaring , luutu posisi fleksi, tumit
diletakkan diatas tungkai yang satunya dan ujung kaki ditahan dalam posisi
dorsofleksi ringan, kemudian tendon achiles dipukul. Pada aHNP lateral 4-5
refleks ini negatif.

c) Pemeriksaan range of movement (ROM)


Pemeriksaan ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat
nyeri, functio laesa, atau untuk mememriksa ada/tidaknya penyebaran nyeri.
Pemeriksaan penunjang
1) Foto rontgen, Foto rontgen dari depan, samping, dan serong) untuk
identifikasi ruang antar vertebra menyempit. Mielografi adalah pemeriksaan
dengan bahan kontras melalu tindakan lumbal pungsi dan pemotrata dengan
sinar tembus. Apabila diketahiu adanya penyumbatan.hambatan kanalis
spinalis yang mungkin disebabkan HNP.
2) Elektroneuromiografi (ENMG)
Untuk menegetahui radiks mana yang terkena / melihat adanya polineuropati.
3) Sken tomografi
Melihat gambaran vertebra dan jaringan disekitarnya termasuk diskusi
intervertebralis.
2. Diagnosa keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus intervetebralis
2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia
3) Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,
nyeri, hilangnya fungsi
4) Perubahan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake
cairan yang tidak adekuat
5) Kurangnya

pemenuhan

perawatan

diri

yang

berhubungan

hemiparese/hemiplegia
6) Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama
3. Intervensi dan Rasional
a). Nyeri berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus intervetebralis
Tujuan

: Nyeri berkurang atau rasa nyaman terpenuhi

Kriteria hasil :
- Klien mengatakan tidak terasa nyeri.
- Lokasi nyeri minimal
- Keparahan nyeri berskala 0
- Indikator nyeri verbal dan noverbal (tidak menyeringai)

dengan

Intervensi
Kaji

Rasional

keluhan

serangan,

nyeri,

faktor

lokasi,

pencetus

lamanya Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan


/

yang harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi

memperberat. Tetapkan skala 0 10

karakteristik nyeri dan faktor yang


berhubungan merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memilih intervensi yang cocok
dan untuk mengevaluasi keefektifan dari
terapi yang diberikan

Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler Untuk menghilangkan stres pada otot-otot
dengan tulang spinal, pinggang dan lutut punggung
dalam keadaan fleksi, posisi telentang
Gunakan logroll (papan) selama melakukan Logroll (Papan) mempermudah melakukan
perubahan posisi

mobilisasi

Batasi aktifitas selama fase akut sesuai Untuk menghindari adanya cidera
dengan kebutuhan
Berikan relaksan otot yang diresepkan, Agen-agen ini secara sistematik
analgesik, dan agen antiinflamasi dan menghasilkan relaksasi umum dan
evaluasi keefektifan
Tindakan

penghilangan

menurunkan inflamasi.
rasa

nyeri Tindakan ini memungkinkan klien untuk

noninvasif dan nonfarmakologis (posisi, mendapatkan rasa kontrol terhadap nyeri.


balutan (24-48 jam), distraksi dan relaksas

b). Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia


Tujuan : Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya
Kriteria hasil :
- Tidak terjadi kontraktur sendi

- Bertabahnya kekuatan otot


- Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
Intervensi

Rasional

Berikan / bantu pasien untuk melakukan

Dapat meningkatkan kemampuan pasien

latihan rentang gerak pasif dan aktif

untuk melakukan rentang gerak pasif dan


aktif

Berikan perawatan kulit dengan baik,

Untuk menghindari adanya tekanan pada area

masase titik yang tertekan setelah rehap

penonjolan tulang

perubahan posisi. Periksa keadaan kulit


dibawah brace dengan periode waktu
tertentu.
Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Penggunaan analgetik yang berlebihan dapat

sesuai progran dan efektivitasnya

menutupi gejala, dan ini menyulitykan defisit


neurologis lebih lanjut

Rujuk pasien untuk konsultasi psikologis

Pasien yang mengalami kehilangan fungsi

bila kelemahan motorik, sensorik, dan

tubuh permanen akan merasa sedih.

fungdi seksual terjadi permanen


Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk

Semakin besar makna kehilangan, semakin

latihan fisik klien

dalam lama reaksi kesedihan ini dialami.


Menurunkan resiko terjadinnya iskemia
jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek
pada daerah yang tertekan

c). Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,


nyeri, hilangnya fungsi
Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
- Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekuatirannya.
- Respon klien tampak tersenyum.

Intervensi

Rasional

Berikan lingkungan yang nyaman

Menurunkan stimulasi yang berlebihan dapat


mengurangi kecemasan

Catat derajat ansietas

Pemahaman bahwa perasaan normal dapat


membantu klien meningkatkan beberapa
perasaan control emosi.

Libatkan keluarga dalam proses

Peran serta keluarga sangat membantu dalam

keperawatan

menentukan koping

Diskusikan mengenai kemungkinan

Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat

kemajuan dari fungsi gerak untuk

berkomunikasi dengan efektif tanpa

mempertahankan harapan klien dalam

menggunakan alat khusus, sehingga dapat

memenuhi kebutuhan sehari-hari

mengurangi rasa cemasnya.

Berikan support sistem (perawat, keluarga

Dukungan dari bebarapa orang yang memiliki

atau teman dekat dan pendekatan spiritual)

pengalaman yang sama akan sangat


membantu klien.

Reinforcement terhadap potensi dan sumber Agar klien menyadari sumber-sumber apa
yang dimiliki berhubungan dengan penyakit, saja yang ada disekitarnya yang dapat
perawatan dan tindakan

mendukung dia untuk berkomunikasi.

d). Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi, nyeri


Tujuan : Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien
- Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan
sesuai kebutuhan

Intervensi

Rasional

Monitor kemampuan dan tingkat

Membantu dalam

kekurangan dalam melakukan

mengantisipasi/merencanakan

perawatan diri

pemenuhan kebutuhan secara


individual

Beri motivasi kepada klien untuk tetap

Meningkatkan harga diri dan

melakukan aktivitas dan beri bantuan

semangat untuk berusaha terus-

dengan sungguh-sungguh

menerus

Hindari melakukan sesuatu untuk klien

Klien mungkin menjadi sangat

yang dapat dilakukan klien sendiri,

ketakutan dan sangat tergantung

tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan

meskipun bantuan yang


diberikan bermanfaat dalam
mencegah frustasi, adalah penting
bagi klien untuk melakukan
sebanyak mungkin untuk dirisendiri untuk mepertahankan harga
diri dan meningkatkan pemulihan

Berikan umpan balik yang positif untuk

Meningkatkan perasaan makna diri

setiap usaha yang dilakukannya atau

dan kemandirian serta mendorong

keberhasilannya

klien untuk berusaha secara


kontinyu

Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

Memberikan bantuan yang mantap


untuk mengembangkan rencana
terapi dan mengidentifikasi
kebutuhan alat penyokong khusus

e). Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake


cairan

yang tidak adekuat

Tujuan : Klien tidak mengalami konstipasi


Kriteria hasil :
- Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat
- Konsistensi feses lunak
- Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )
- Bising usus normal ( 15-30 kali permenit )

Intervensi

Rasional

Berikan penjelasan pada klien dan keluarga

Klien dan keluarga akan mengerti

tentang penyebab konstipasi

tentang penyebab obstipasi

Auskultasi bising usus

Bising usus menandakan sifat


aktivitas peristaltik

Anjurkan pada klien untuk makan

Diit seimbang tinggi kandungan serat

maknanan yang mengandung serat

merangsang peristaltik dan eliminasi


reguler

Berikan intake cairan yang cukup (2 liter

Masukan cairan adekuat membantu

perhari) jika tidak ada kontraindikasi

mempertahankan konsistensi feses


yang sesuai pada usus dan membantu
eliminasi reguler

Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan

Aktivitas fisik reguler membantu

Klien

eliminasi dengan memperbaiki tonus


otot abdomen dan merangsang nafsu
makan dan peristaltik

Kolaborasi dengan tim dokter dalam

Pelunak feses meningkatkan efisiensi

pemberian pelunak feses (laxatif,

pembasahan air usus, yang melunakkan

suppositoria, enema)

massa feses dan membantu eliminasi

f). Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
Tujuan : Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit
Kriteria hasil :
- Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka
- Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
- Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka

Intervensi

Rasional

Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range Meningkatkan aliran darah kesemua
of motion) dan mobilisasi jika mungkin

daerah

Rubah posisi tiap 2 jam


Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak Menghindari tekanan yang berlebih pada
di bawah daerah-daerah yang menonjol

daerah yang menonjol

Lakukan massage pada daerah yang menonjol

Menghindari kerusakan-kerusakan

yang baru mengalami tekanan pada waktu

kapiler-kapiler

berubah posisi
Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan Hangat dan pelunakan adalah tanda
palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan

kerusakan jaringan

pelunakan jaringan tiap merubah posisi


Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin

Mempertahankan keutuhan kulit

hindari trauma, panas terhadap kulit


DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta.
Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi
3, EGC, Jakarta.
Engram, Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, EGC,
Jakarta.
Harsono, 1996, Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi 1, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Harsono, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hudak C.M.,Gallo B.M.,1996, Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI, Volume
II, EGC, Jakarta.
Ignatavicius D.D., Bayne M.V., 1991, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process
Approach, An HBJ International Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Juwono, T., 1996, Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek, EGC, Jakarta.
Mardjono M., Sidharta P., 1981, Neurologi Klinis Dasar, PT Dian Rakyat, Jakarta.
Satyanegara, 1998, Ilmu Bedah Saraf, Edisi Ketiga, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

WOC (Web Of Caution) HNP