Anda di halaman 1dari 14

SEKIILAS TENTANG

PEMBERIAN NAMA JAWA


KEPADA ANAK
Oleh Ciptawidyaka

1.

Nama atau Tetenger

Nama orang, jeneng, aran, atau tetenger merupakan sebutan terhadap pribadi seseorang. Pada
umumnya
nama diberikan kepada seorang anak oleh orangtuanya. Namun demikian,
kadang-kadang, pada keadaan tertentu, nama itu diberikan oleh bukan
orangtuanya, misalnya diberikan oleh ulama, pemuka masyarakat, atau anggota
keluarga lain yang dipertuakan atau dihormati di lingkungannya.
Di lingkungan sebagian masyarakat Jawa, biasanya
pemberian nama itu dilakukan bersamaan dengan upacara sepasaran, yaitu
selamatan pada hari ke lima setelah kelahiran. Sebagian masyarakat Jawa
yang menganut agama Islam ada yang memberikan nama itu sejak lahir, dan diumumkan kepada
tetangga,
dan sanak saudara setelah tujuh hari bersamaan dengan upacara hakikah (kekahan). Seiring kemajuan
teknologi di bidang peralatan medis, dengan
menggunakan ultrasonografi (USG), jenis kelamin bayi sudah dapat dilihat
pada saat bayi masih berada di dalam kandungan.Dengan demikian, banyak
orang tua yang sudah mempersiapkan nama anaknya sebelum anak itu lahir.
Sebagian masyarakat Jawa, di samping nama yang disandang sejak kecil (nama
kecil/nama alit), dikenal pula
nama tua (nama sepuh), yang
biasanya diberikan oleh orangtuanya setelah yang bersangkutan menikah
Para abdi dalem keraton, di
samping nama kecil dan nama tua, juga menyandang nama yang diberikan oleh
raja (peparing dalem) berkaitan
dengan pangkat/jabatan/kedudukan/ tugas yang diembannya.
Ada sementara orang yang berpendapat
bahwa nama itu sekedar sebutan. Orang yang berpendapat seperti ini sering
menyatakan apalah artinya sebuah nama. Tetapi, ada pula yang berpendapat
bahwa nama itu mempengaruhi kehidupan masa depan seseorang.
Terlepas dari kedua pendapat tersebut,
yang perlu diingat, dan dijadikan bahan pertimbangan di dalam pemberian
nama adalah bahwa nama itu melekat
pada seseorang, sehingga jangan sampai kelak di kemudian hari orang yang
menyandang nama itu malu menggunakan nama yang telah disandangnya.
Nama itu cerminan kesan, harapan, atau doa dari seseorang
kepada orang yang diberi nama.
2. Makna Sebuah Nama
Berdasarkan maknanya, nama dapat
dikelompokkan sebagai berikut.
2.1. Sebagai Tanda Peringatan

Nama ini sekadar menjadi tanda peringatan


hari lahir, atau kejadian lain. Nama dari golongan ini tidak memiliki makna
harapan atau doa ( netral ).
Contoh:

Surajimah merupakan singkatan dari Sura, siji, jemuah, artinya anak itu lahir
pada hari Jumat (Jemuah), tanggal satu bulan Sura (Muharam).
Saparbe
artinya anak itu lahir pada bulan Sapar
tahun Be.
Sarbakdiyam,
merupakan singkatan dari Besar,
Bakda siyam, artinya anak itu lahir setelah siyam bulan
besar yaitu setelah siyam (berpuasa) sunah bulan besar atau
setelah tanggal 9 Besar. Jadi, anak itu lahir pada tanggal 10 bulan Besar.
Ramelan,
artinya anak itu lahir pada bulan Ramelan
atau bulan Ramadan (bulan Puasa).
Merdekawati,
artinya anak itu lahir bertepatan dengan proklamasi kemerdekaan, atau bertepatan
dengan tanggal 17 Agustus.
Prahara,
artinya anak itu lahir pada saat terjadi prahara/kerusuhan/ pemberontakan.
Prihatin, artinya lahir
pada saat kedua orang tuanya sedang prihatin.
Eko Riyadi, terdiri dari eko (eka satu), riyadi (hari raya Idul Fitri), artinya anak itu merupakan
anak pertama yang lahir pada tanggal 1 Syawal (Idul Fitri).
Dwi Ramdani, terdiri atas dwi (dua), ramdani (bulan Ramadan),
artinya anak itu merupakan anak kedua yang lahir pada bulan
Puasa.

2.2. Sebagai Turunan dari Nama Orang Tuanya


Nama ini merupakan turunan atau
modifikasi dari nama orangtuanya;
kadang-kadang mempunyai makna harapan atau doa, tetapi kadang-kadang hanya
sekadar singkatan. Menurut istilah orang Jawa sering disebut nunggak semi.
Contoh:

Dalimin, merupakan
singkatan dari Daliyem
(nama ibunya) dan Paimin
(nama bapaknya ).
Tukijo, merupakan
singkatan dari Tukinem
(nama ibunya) dan Sukarjo
(nama bapaknya).
Ratnasih, merupakan
singkatan dari Suratna
(nama bapaknya) dan Sumarsih

(nama ibunya). Nama ini merupakan singkatan, tetapi memiliki makna ratna
(perempuan, intan, permata, sari, utama) dan sih
(kasih, cinta, kekasih, harum), sehingga dapat ditafsirkan sebagai
perempuan yang harum namanya, tersmasyhur, atau sebagai manusia
kekasih yang utama.
Mulyadi, merupakan
modifikasi dari Mulyana
(nama bapaknya).
Martana (kehidupan),
merupakan modifikasi dari Martadi
(hidup yang baik/nama bapaknya).

2.3. Sebagai Ungkapan Harapan atau Doa


Nama ini merupakan ungkapan harapan (kekudangan), doa, atau cita-cita
orangtua kepada anaknya.

Rahayu, artinya
selamat, baik. Nama ini
merupakan doa atau harapan orang tuanya agar anak tersebut selamat dan
baik.
Slamet,
artinya selamat.
Joko Waskito,
artinya anak laki-laki yang pandai, cermat, dan waspada. Nama ini
merupakan harapan dan doa orangtua agar anaknya kelak menjadi orang
yang pandai, cermat, dan waspada.
Mulyarto, terdiri atas
kata mulya (mulia) dan arta (uang/harta/kekayaan).
Nama ini merupakan doa atau harapan orangtuanya agar kelak di kemudian
hari anak itu hidup mulia, menjadi orang yang terhormat/terpandang,
dan kaya raya.
Harimurti, artinya sinar matahari atau gelar dari Prabu
Bathara Kresna. Nama tersebut diberikan oleh orangtuanya agar anaknya
di kemudian hari dapat menerangi kehidupan seperti Prabu Bathara
Kresna yang bijaksana serta mampu menjadi pelindung serta pembela kebenaran / perilaku
utama.
Suharja, terdiri atas su (bagus, sangat, lebih) dan harja (bagus, indah, mulia,
jernih). Nama ini mengandung harapan agar anak tersebut di kemudian
hari menjadi orang yang sangat bagus atau cemerlang di segala bidang.
Raditya, artinya
matahari. Nama ini mengandung harapan agar kelak di kemudian hari anak
tersebut menjadi orang mulia,
orang besar yang berguna sehingga mampu menjadi penerangan bagi sesama
manusia.
Pradipta Arya Wismaya, terdiri atas pradipta (cahaya), arya
(baik/besar), wismaya (waspada). Nama tersebut
diberikan kepada seorang anak, dengan harapan agar anak tersebut kelak
di kemudian hari anak tersebut seperti cahaya yang baik serta waspada.
Daniswara (kaya dan

mulia). Nama ini diberikan kepada seorang anak, dengan harapan atau
doa agar kelak di kemudian hari anak itu menjadi orang kaya raya dan
mulia.
Harjanti (unggul). Nama
ini diberikan kepada seorang anak, dengan harapan.agar anak tersebut
di kemudian hari menjadi orang yang unggul di segala bidang.

3. Pemberian Nama Kepada Anak


Seperti halnya bangsa-bangsa timur
lainnya (Arab, Cina, dsb), sebagian besar masyarakat Jawa memberikan nama
kepada anaknya dengan berbagai macam perhitungan serta makna-makna yang
baik. Di samping merupakan pencerminan harapan atau doa, nama yang
diberikan kepada seseorang juga sangat bergantung pada tingkat kemampuan
pikir atau latar belakang kehidupan
orang yang memberikan nama itu.
Pada
saat ini, banyak orang yang merasa malu dengan nama yang diberikan
oleh orangtuanya. Di kota-kota
besar, banyak orang berganti nama,
misalnya Paikem menjadi Ike; Suminem menjadi Umini; Tukijo menjadi Ukky
Jauhary; Dalijo menjadi Dally Joseph, dsb, walaupun nama-nama Ukky, Dally,
Ike itu sendiri tidak jelas maknanya.
Kadang-kadang, tanpa berpikir jauh, ada orang yang berpendapat
bahwa orang yang mengganti namanya sendiri itu dianggap sebagai anak yang
durhaka karena mengubah nama pemberian orangtuanya.
Padahal, jika diperhatikan, kadang-kadang
ada orangtua yang memang memberikan nama kepada anaknya terkesan
asal-asalan, sehingga di kemudian hari anak itu merasa tidak enak atau malu
menyandang namanya itu, misalnya: Ratman Lentho (lentho adalah makanan dari kacang dan kelapa
yang dicetak dengan kepalan tangan, kemudian digoreng), Jimin Gudel (gudel adalah anak
kerbau), Dalimin (dari bahasa
Arab dholimin artinya orang yang
kejam, berlaku aniaya); Musrikin
(dari bahasa Arab musyrikin yang
artinya orang yang menyekutukan Allah ; Jaka Duratmaka (Pemuda Pencuri ).
Kemungkinan besar kekeliruan itu terjadi
karena keterbatasan pengetahuan orang tua yang memang tidak disadari.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa
salah satu kewajiban orang tua adalah memberikan nama yang baik kepada
anaknya.
Karena nama itu merupakan cerminan kesan,
harapan atau doa, dan dipakai seseorang sepanjang hidupnya bahkan akan
dikenang orang setelah yang bersangkutan meninggal, maka sebaiknya nama itu
memiliki makna yang baik, atau sekurang-kurangnya tidak membuat yang menyandangnya
malu di kemudian hari.
Nama dapat terdiri atas satu kata atau

lebih. Kata-kata tersebut dapat berupa kata dasar atau kata bentukan, yang
dapat berupa :

tanda
peringatan waktu, bilangan, atau kejadian, atau
turunan atau modifikasi dari nama orang tuanya, atau
kesan,
harapan atau doa yang baik, atau
dapat pula merupakan gabungan.

Contoh :

Tri Wahyu Utomo, terdiri atas kata Tri


(tiga), Wahyu (anugerah
Tuhan), Utama (baik,
unggul). Nama tersebut merupakan
peringatan bilangan (anak ke tiga ), disertai harapan atau doa
bahwa anak tersebut merupakan anugerah Tuhan yang mudah-mudahan di
kemudian hari dapat menjadi orang yang baik dan unggul di berbagai
bidang.
Dwi Wahyu Sardana, terdiri atas kata Dwi
(dua), Wahyu (anugerah
Tuhan), Sardana (kaya). Nama
tersebut merupakan gabungan antara peringatan bilangan (anak ke dua)
dengan harapan atau doa agar anak yang merupakan anugerah Tuhan
tersebut di kemudian hari menjadi orang yang kaya.
Anindita, artinya tanpa
cacat, unggul. Nama yang hanya
terdiri atas satu kata ini mengandung harapan atau doa agar anak
tersebut sempurna dan unggul di berbagai bidang.

Kata-kata pembentuk nama Jawa


biasanya diambil dari bahasa Jawa kuno atau Jawa baru.
Di bawah ini adalah beberapa kata
dalam bahasa Jawa yang sering digunakan di dalam pembentukan nama.
3.1. Penunjuk Bilangan
Kata Jawa

Arti
Indonesia

Kata Jawa

Arti
Indonesia

Eka

Satu

Sad

Enam

Dwi

Dua

Sapta

Tujuh

Tri

Tiga

Hasta

Delapan

Catur

Empat

Nawa

Sembilan

Panca

Lima

Dasa

Sepuluh

3.2. Kata-Kata Lain


Kata
Jawa

Arti Indonesia

Kata
Jawa

Arti Indonesia

Abyasa

Pandai

Raditya

Matahari

Adi

Lebih,
Bagus,

Raharja

Selamat

Baik,
Ayu
Aditya

Matahari

Rahayu

Selamat,
baik

Agung

Agung,
besar

Ramya

Asri,
Cantik

Aji

Raja

Raras

Asri,
Indah, Cantik

Ambar

Wangi

Ratna

Perempuan,
intan, permata, sari

Anindita

Sempurna,
unggul

Ratih

Nama
bidadari.

Asri

Indah

Rawi

Matahari

Bagus

Bagus,
indah

Reja

Ramai,
baik, Bagus

Bagya

Bahagia,
senang

Reksa

Menjaga

Bambang

Pemuda

Resmi

Asri,

indah, hiasan
Barata

Perjalanan
hidup

Respati

Gagah,
pantas, Kamis

Baskara

Matahari

Rukmi

Emas

Baswara

Terang,
gemerlap

Sadali

Bintang

Cahya

Cahaya

Sadana

Harta,
sandang

Cakra

Roda,
Cipta

Sadara

Sopan
santun

Cipta

Kalbu,
Cipta

Sadarpa

Asri

Citra

Warna

Sambada

Lebih,
Pantas, handal

Daniswara

Kaya,
mulia

Samita

Bintang

Danu

Cahaya

Sampurna

Sempurna

Danuja

Ksatriya
utama

Sarwa

Lengkap,
sarwa

Danumaya

Gemerlap

Sasanti

Pujian

Danurdara

Kaya
ilmu

Sasmaka

Permata

Dewi

Dewa
perempuan

Sasmaya

Bagus,
indah, suci

Dipa

Raja,
cahaya, terang

Sasangka

Rembulan

Dirja

Sangat
selamat.

Sasri

Asri

Hardana

Harta,
uang

Satmaka

Hidup

Harimurti

Sinar
matahari

Satriya

Keturunan
Raja

Harjanti

Unggul

Satya

Setia,
benar.

Harjasa

Indah,
asri

Sidyana

Adil

Harjaya

Selamat

Sitaresmi

Rembulan

Harsana

Gembira

Sri

Pantas,
asri, cantik

Harsaya

Gembira

Su

Sangat,
unggul, baik

Hartaka

Harta,
uang

Subadya

Sentosa,
kokoh, handal

Hartana

Harta,
uang

Subagya

Keberuntunganterkenal

Hartati

Manis,
sangat

Suci

Suci

Her

Air

Suciatma

Jiwa
suci

Heru

Mahkota,mustik Sudana
a

Kaya

Himawan

Gunung

Sudarga

Tulus

Iswara

Fatwa

Sudarma

Sangat

luhur, Raja

bagus.

Jaka

Pria
perjaka

Sudarman

Kebaikan

Jati

Jujur,
benar

Sudarpa

Sangat
asri

Jaya

Unggul,
kuat

Sudarsa

Teladan,
kemauan tulus

Karja

Membuat

Sudarsana

Teladan

Karma

Cipa,
tata basa

Sudira

Pemberani

Karna,
Karni

Telinga

Sudibya

Unggul/sakti

Karsa

Mau,
kemauan

Suganda

Bau
harum

Karsana

Gembira

Sujana

Orang
pandai

Karta

Selamat,
Sujita
tenteram, trampil

Keturunan
orang sakti

Karti

Pekerjaan

Sukarja

Sangat
Bergembira

Kartika

Bintang

Sulaksana

Sangat
selamat

Kasiran

Kegembiraan

Sulanjari

Cerdas

Kasusra

Terkenal

Surastri

Bidadari

Kesawa

Gelar
Surya
Bathara Wisnu.

Matahari

Kuncara

Terkenal

Susila

Kunthara

Nama windu ke Susmana


dua, perbuatan

Awas

Kusuma

Bunga

Sutapa

Pendeta

Laksana

Lewat

Suteja

Cahaya

Laksita

Perjalanan

Sutikna

Tajam

Laksmi

Asri,
cantik, mustika

Suyati

Pandita

Lestari

Langgeng,
Tanaya
lestari, istiqomah

Anak

Marsudi

Berusaha

Bunga
bersusun

Marta

Air,
Tari
hidup,
tata,
jernih, ajar

Bintang

Martaka

Sempurna

Titi

Jujur,
Benar, lebih

Martana

Kehidupan

Tiyasa

Lebih

Martani

Menghidupi,
mendidik

Tranggana

Bintang

Martyani

Berbuat
baik

Tresna

Asih,
Cinta

Marwata

Memuat

Tunjung

Bunga
Teratai

Mursita

Mencipta,
berkata

Turasih

Welas
asih

Tarasari

Sangat
baik

Murti

Unggul,
sangat

Tyas

Kalbu

Mustika

Mustika

Wahana

Kendaraan,
keterangan

Naradi

Orang
yang unggul.

Waluya

Sembuh,
pulih

Nindya

Lebih

Warih

Air

Nindita

Unggul,
lebih

Wardaya

Hati,
Kalbu

Nugraha

Anugerah

Warti

Tutur

Padma

Bunga

Warsita

Pelajaran

Padmana

Hati
yang
berkembang

Wasista

Bijaksana

Praba

Cahaya,
terang

Wasita

Fatwa

Prabaswara

Cahaya,
terang

Waskita

Waspada

Prabawa

Pengaruh,
kesaktian

Waspada

Terlihat,
waspada

Pradipta

Terang,
cahaya

Wastuti

Penyembahan

Prakosa

Sentosa

Wasundari

Air
jernih

Prama

Lebih,
unggul, suci

Widagda

Cerdas

Pramana

Waspada

Widada

Selamat

Pramatya

Bersinar,
melebihi

Wignya

Pandai

Pramudita

Pandai,
orang luhur

Wicaksana

Bijaksana

Pramusita

Kelapangan
hati.

Widya

Bakti,
benar

Pranata

Penata,
penyembah

Wijaya

Unggul,
menang

Pranawa

Hati
yang Terang

Widyastuti

Darma
Bakti

Pradana

Ganjaran,
kekayaan

Wijayanti

Sangat
unggul, kuat

Pradapa

Bersemi

Wikrama

Lebih,
sakti

Purnama

Terang

Windriya

Mulia

Purwa

Permulaan

Wirya

Mulia,
luhur

Purwaka

Permulaan

Widayat

Pertolongan
Allah

Puspa

Bunga

Yudayana

Panglima
Perang

Puspita

Bunga

Yuwana

Selamat

4. Pertimbangan Spiritual
Pada masyarakat Jawa sering dijumpai
istilah kabotan jeneng (keberatan nama). Menurut pendapat sebagian
masyarakat, terutama kalangan pemerhati masalah spiritual, orang yang kabotan jeneng itu biasanya
akan
mendapatkan ujian, cobaan, atau godaan di dalam hidupnya. Bahkan ada yang
mengatakan terkena sangkal/sengkala
(rintangan hidup) akibat kekuatan spiritual nama yang disandangnya

itu. Jika seseorang tidak kuat


menyandang sebuah nama, orang itu dikatakan memiliki nama yang tidak cocok
atau terlalu berat (kabotan jeneng).
Oleh karena itu kadang-kadang ada orang yang sering sakit-sakitan atau
hidupnya selalu sengsara, setelah diganti namanya terus menjadi sehat wal
afiat atau terlepas dari kesengsaraan.
Berdasarkan nilai atau bobot makna spiritualnya,
nama Jawa dapat digolongkan menjadi empat tingkatan yaitu, ringan, sedang,
berat, dan sangat berat.
4.1. Nama Ringan
Nama
ini memiliki bobot spiritual ringan.
Contoh:
Prawira, Reja, Diharja, Harja, Paimin, Paijo, Sukardi.
4.2. Nama Sedang
Nama ini memiliki bobot spiritual sedang.
Contoh: Sura, Jaya, Dijaya, Yuda,
Sastra, Wardaya, Suma, Danu, Mangun, sudira, Wira, Puspita, Sasmita,
Wasita, Warsita, Wirya, Taruna, Krama, Yasa, Purwa.
4.3. Nama Berat
Nama ini
memiliki bobot berat.
Nama ini merupakan nama yang memuat
kata-kata: Darma, Sudarma, Cakra,
Brata, Subrata, Dibrata, Surya, Candra.
Nama ini mengandung risiko, karena di
dalamnya terkandung makna spiritual atau tuah yang menuntut penyandangnya
harus mampu menghadapi tantangan hidup serta mampu mengemban amanat yang
terkandung di dalam kata-kata tersebut.
Sebagian masyarakat Jawa mengatakan bahwa yang mampu menyandang nama
ini adalah orang yang siap melakukan olah cipta, rasa, dan karsa, serta mampu
melakukan tapa brata.
4.4. Nama Sangat Berat
Nama ini memiliki bobot yang sangat
berat.
Nama ini merupakan nama yang memuat
kata-kata: Nata, Pranata, Dinata,
Winata, Jaga, Praja, Mangku, Sujana, Sarjana.
Nilai spiritual dari makna nama
tersebut lebih berat dari pada nama yang berbobot berat (butir 4.3).
Menurut sebagian masyarakat Jawa, orang yang mampu menyandang nama ini
adalah orang-orang yang siap

melakukan olah rasa, cipta, dan karsa, serta mampu melakukan tapa brata
dan memiliki jiwa suci serta
kasih sayang kepada sesama.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan, maka sebagian masyarakat Jawa menganjurkan agar di
dalam membuat nama menghindari penggunaan unsur nama berbobot berat dan
atau sangat berat sebagaimana tersebut di dalam butir 4.3, dan butir 4.4.
Pendapat tersebut di atas kadang-kadang
dianggap diskriminatif. Mungkin memang sepintas demikian, akan tetapi jika
kita memperhatikan serta memahami makna kata-kata itu, kemungkinan besar
kita akan dapat memaklumi betapa berat tuntutan moral yang disandang oleh
seseorang yang pada kenyataannya berbeda jauh antara nama dengan realita.
Contoh:

Orang
menyandang nama Darma Pranata. Darma (kewajiban, keutamaan, perbuatan mulia, fatwa,
pranata kesusilaan, hukum, kesucian)
berarti suatu perbuatan yang mengandung nilai luhur, dilandasi
kesucian, etika, keluhuran budi, serta pengabdian yang tulus. Pranata
(tunduk, peribadatan, sembah, penata, pengatur) berarti penata atau
pengatur yang tulus ikhlas di dalam semua tindak tanduknya. Nama itu sangat ideal, tetapi
memerlukan pengorbanan yang tinggi. Apalah artinya jika suatu doa
itu malah akan memberatkan orang yang didoakannya. Lebih-lebih jika ternyata orang itu
setelah dewasa malah sewenang-wenang, kejam, atau malah sering melakukan
tindakan yang nista.
Orang
menyandang nama Bagus Sulistya. Bagus
artinya bagus, sulistya
(sangat bagus), tetapi
kenyataannya orang itu tidak tampan (jelek), hal ini malah akan
membuat si penyandang nama itu
merasa malu. Oleh karena itu, sebaiknya di dalam memberikan
nama juga melihat secara jujur bentuk fisik seseorang.

Di dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW


melarang umatnya menggunakan nama Abu
Qasim (Bapak Pembagi-bagi). Nama ini adalah gelar beliau. Hal ini bukan
berarti beliau tidak mau disamai oleh umat/pengikutnya, melainkan karena
beliau sadar bahwa tidak semua orang mampu menjadi Abu Qosim (orang yang
bersedia membagikan atau memberikan hartanya walaupun tinggal satu, dan
setelah diberikan dirinya tidak memiliki lagi).
Terlepas dari pandangan spiritual ini, semuanya
terpulang kembali kepada Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta Alam, Tuhan Yang
Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Bijaksana. Manusia wajib mempunyai harapan, doa
serta kesungguhan berusaha yang merupakan
perwujudan dari cita-cita, tetapi kepada-Nya-lah terpulang semuanya.