Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ada sekitar 10.861.350 remaja berusia 10-24 tahun, atau sekitar 30,2%
dari total penduduk di Indonesia. Besarnya proporsi penduduk berusia muda,
secara teoritis mempunyai dua makna. Pertama, besarnya penduduk usia muda
merupakan modal pembangunan yaitu sebagai faktor produksi tenaga manusia
(human resource), apabila mereka dapat dimanfaatkan secara tepat dan baik.
Memanfaatkan mereka secara tepat dan baik diperlukan beberapa persyaratan.
Di antaranya adalah kemampuan keahlian, kemampuan keterampilan dan
kesempatan untuk berkarya. Kedua, apabila persyaratan tersebut tidak dapat
dimiliki oleh pendudek usia muda, yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu
penduduk usia muda justru menjadi beban pembangunan (Marmi, 2014).
Remaja memiliki dua nilai yaitu nilai harapan (idealisme) dan
kemampuan. Apabila kedua nilai tersebut tidak terjadi keselarasan maka akan
muncul bentuk-bentuk frustasi. Macam-macam frustasi ini pada gilirannya
akan merangsang generasi muda untuk melakukan tindakan-tindakan abnormal
(menyimpang) (Marmi, 2014).
Dari sudut pandang kesehatan, tindakan menyimpang yang akan
mengkhawatirkan adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas
(unprotected sexuality), penyebaran penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah
atau kehamilan yang tidak dikehendaki (adolecent unwanted pregnancy) di
kalangan

remaja.

Masalah-masalah

yang

disebut

terakhir

ini

dapat

menimbulkan masalah-masalah sertaan lainnya yaitu aborsi dan pernikahan


usia muda. Semua masalah ini oleh WHO disebut sebagai masalah kesehatan
reproduksi remaja, yang telah mendapatkan perhatian khusus dari berbagai
oraganisasi internasional (Marmi, 2014).
Masa remaja merupakan masa peralihan (transisi) dari anak-anak ke
masa dewasa. Pada masa transisi, remaja sering menghadapi permasalahan
yang sangat kompleks dan sulit ditanggulangi sendiri. Tiga risiko yang sering

dihadapi oleh remaja (TRIAD KRR) yaitu risiko-risiko yang berkaitan dengan
seksualitas (kehamilan tidak diinginkan, aborsi dan terinfeksi Penyakit
Menular Seksual), penyalahgunaan NAPZA, dan HIV/AIDS (USAID's Office
of Population and Reproductive Health, 2015).
Masa transisi kehidupan remaja dibagi menjadi lima tahapan (youth five
life transitions), yaitu melanjutkan sekolah (continue learning), mencari
pekerjaan (start working), memulai kehidupan berkeluarga (form families),
menjadi anggota masyarakat (exercice citizenship), dan mempraktekkan hidup
sehat (practice healthy life). Remaja yang berhasil mempraktekkan hidup
sehat, diyakini akan menjadi penentu keberhasilan pada empat bidang
kehidupan lainnya. Dengan kata lain apabila remaja gagal berperilaku sehat,
maka kemungkinan besar remaja tersebut juga akan gagal pada empat bidang
kehidupan lainnya (USAID's Office of Population and Reproductive Health,
2015).
Pada masa remaja tubuh dan hormon seksual berkembang pesat yang
ditandai dengan menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki
yang biasanya masa ini disebut dengan masa pubertas. Proses ini alamiah dan
terjadi pada seluruh remaja di dunia. Tetapi proses perubahan yang cepat
ditambah minimnya informasi mengenai apa yang terjadi pada tubuh remaja
tersebut kadang membuat banyak remaja bingung dan tidak siap ditambah pula
banyak mitos yang beredar, norma sosial dan tekanan teman sebaya yang kuat
serta pornografi yang beredar luas bias menempatkan remaja menjadi rentan
dan beresiko terhadap kesehatan reproduksi dan seksual, oleh sebab itu
mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi penting dan menjadi
bagian hak remaja (USAID's Office of Population and Reproductive Health,
2015).
Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja
mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis
risiko kesehatan reproduksi yang harus dihapai remaja antara lain adalah
kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), kekerasan seksual, serta
masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.

Risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu
tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan
dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media
massa maupun gaya hidup (Marmi, 2014).
Sekitar 50 juta orang (20%) populasi Indonesia adalah remaja (usia 10
- 19 tahun). Dari jumlah tersebut tentunya akan banyak permasalahan yang
dihadapi. Beberapa masalah remaja antara lain kehamilan yang tidak
diinginkan (33,79%) remaja siap untuk melakukan aborsi (PKBI, 2005). Pada
penelitian lain didapatkan, dari 2,4 juta aborsi 21% (700 800 ribu) dilakukan
oleh remaja (BBKBN-LDFEUI, 2000). Sedangkan PMS pada remaja 4,18%,
HIV/AIDS 50%, terjadi pada umur 15 29 tahun (Jabar, 2001) (USAID's
Office of Population and Reproductive Health, 2015).
Kasus demi kasus pada anak dan remaja terungkap tidak hanya
kekerasan fisik, emosional tetapi juga kekerasan seksual. Kasus kekerasan pada
anak dan remaja yang seringkali disebut sebagai fenomena gunung es, namun
saat ini tampaknya fenomena tersebut sudah tidak berlaku lagi. Berbagai
liputan media baik cetak maupun elektronik melaporkan, pelaku kekerasan
tersebut melibatkan remaja dan sebagian kecil lagi adalah anak. Mereka tidak
segan melakukan tindak kekerasan tersebut bahkan ada pula yang bertindak di
luar nalar manusia, sehingga berujung dengan kehilangan nyawa sang korban.
Seperti pemberitaan kasus kekerasan seksual disertai pembunuhan yang terjadi
pada seorang remaja putri di Bengkulu dan Lampung Timur baru-baru ini. Di
Jawa Tengah sendiri telah terjadi beberapa kasus kekerasan seksual yang juga
dilakukan oleh sekelompok remaja hingga menyorot perhatian media. Sebut
saja kekerasan seksual yang terjadi di Pekalongan yang dilakukan oleh belasan
remaja terhadap dua gadis di bawah umur, lalu kasus pelecehan seksual yang
dilakukan oleh dua remaja terhadap anak SD, dan yang tak kalah disorot media
adalah kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh sejumlah remaja berusia
15-17 tahun terhadap seorang remaja (anak) putri berusia 13 tahun di Klaten,
serta beberapa kasus lainnya di Indonesia, merupakan contoh konkret
permasalahan perilaku seksual remaja. Hal itu membuat orang menyadari

bahwa perlakuan salah tersebut bertambah nyata, dan selalu mengintai anak
maupun remaja yang seharusnya kita sayangi dan lindungi. Kasus terakhir
yang terjadi di Provinsi Banten melibatkan seorang remaja sebagai pelaku
kekerasan seksual terhadap seorang perempuan dewasa yang berujung dengan
kematian. Remaja yang seharusnya berada di bangku sekolah, mengejar citacita dan meniti masa depannya, justru bersikap dan berperilaku yang berisiko
membuat mereka harus berurusan dengan hukum, yang seringkali membuat
mereka kehilangan kebebasannya (Wiguna, 2016).
Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan
seksual, sering kali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman dan
kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali halhal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya
pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses
reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti
kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk
HIV (USAID's Office of Population and Reproductive Health, 2015).
Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai
keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka
juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan
formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuuan
pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan
dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000).
Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segera
diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan
dan persalinan dini. Angka pernikahan dini (menikah sebelum usia 16 tahun)
hampir dijumpai di seluruh propinsi di Indonesia. Sekitar 10% remaja
melahirkan anak pertamnya pada usia 15-19 tahun. Kehamilan remaja akan
meningkatkan resiko kematian dua atau empat kali lebih tinggi dibandingkan
perempuan yang hamil pada usia lebih dari 20 tahun. Demikian pula resiko
kematian bayi, 30% lebih tinggi pada usia remaja dibandingkan pada bayi yang

dilahirkan oleh ibu usia 20 tahun atau lebih (GOI & UNICEF, 2000) (Marmi,
2014).
Kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat tentang
kesehatan reproduksi dan seksualitas. Selain itu mereka juga tidak memiliki
akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan reproduksi, termasuk
kontrasepsi. Informasi biasanya didapat dari teman atau media yang biasanya
sering tidak akurat. Hal ini yang menyebabkan remaja perempuan rentan
terhadap kematian maternal, kematian anak dan bayi, aborsi tidak aman, IMS,
kekerasan atau pelecehan seksual dan lain-lain (Marmi, 2014).
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin
mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi
kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum-minuman beralkohol,
penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau
tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan
mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada
kebiasaan berperilaku seksual beresiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak
memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan
seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan
kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi (Marmi, 2014).
Dalam rangka menumbuh kembangkan perilaku hidup sehat bagi remaja,
maka perlu kepedulian dalam bentuk pelayanan dan penyediaan informasi
yang benar serta kesepahaman bersama akan pentingnya kesehatan reproduksi
remaja sehingga dapat membantu mereka dalam menentukan pilihan masa
depannya. Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), menurut DITREMBKKBN adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi
(fungsi, komponen dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik,
mental, emosional dan spiritual. Terdapat indikasi pada remaja - baik di
perkotaan maupun perdesaan - yang menunjukkan meningkatnya perilaku seks
pra-nikah. Namun, menarik dipertanyakan adalah apakah mereka memahami
resiko-resiko seksual yang menyertainya? Berdasarkan studi di 3 kota Jawa
Barat (2009), perempuan remaja lebih takut pada resiko sosial (antara lain:

takut kehilangan keperawanan/ virginitas, takut hamil di luar nikah karena jadi
bahan gunjingan masyarakat) dibanding resiko seksual, khususnya menyangkut
kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualnya. Padahal kelompok usia remaja
merupakan usia yang paling rentan terinfeksi HIV/AIDs dan Penyakit Menular
Seksual (PMS) lainnya. Bahkan, dalam jangka waktu tertentu, ketika
perempuan remaja menjadi ibu hamil, maka kehamilannya dapat mengancam
kelangsungan hidup janin/bayinya (USAID's Office of Population and
Reproductive Health, 2015).
Kesehatan reproduksi remaja merupakan topik yang perlu diketahui oleh
masyarakat khususnya para remaja agar mereka memiliki informasi yang benar
mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya.
Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah
laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Dalam hal ini,
kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian
sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan
namun juga sehat secara mental serta sosial kultural. Remaja memiliki sifat
menantang sesuatu yang dianggap kaku dan kolot. Mereka menginginkan
kebebasan, sehingga sering menimbulkan konflik di dalam diri mereka. Oleh
karena itu, diperlukan pendekatan dalam memahami alam dan pikiran remaja.
Penyampaian pesan kesehatan dan bimbingan remaja mencakup perkawinan
yang sehat, keluarga yang sehat, sistem reproduksi dan masalahna, sikap dan
perilaku remaja yang positif, dan sebagainya. Pesan harus disampaikan sesuai
bahasa remaja (Mubarak, 2012).
Pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau
individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, masyarakat,
kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan
yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh
terhadap perilakunya. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut
dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran. Pendidikan

kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut mempunyai


masukan (input) dan keluaran (output). Didalam suatu proses pendidikan
kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan yakni perubahan
perilaku, dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi
suatu proses pendidikan disamping masukannya sendiri juga metode materi
atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya, dan alat-alat bantu /
alat peraga pendidikan. Agar tercapai suatu hasil yang optimal maka faktorfaktor tersebut harus bekerja sama secara harmonis. Hal ini berarti bahwa
untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu, harus menggunakan cara tertentu
pula, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran, demikian juga alat bantu
pendidikan disesuaikan. Untuk sasaran kelompok, metodenya harus berbeda
dengan sasaran massa dan sasaran individual. Untuk sasaran massa pun harus
berbeda dengan sasaran individual dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
Metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk
mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi pendidik (metode pendidikan
kesehatan) maupun bagi klien (metode belajar). Semakin baik metode yang
dipakai, semakin efektif pencapaian tujuan. Ceramah diartikan sebagai proses
penyampaian informasi dengan jalan menuturkan sekelompok materi secara
lisan dan pada saat yang sama materi itu diterima oleh sekelompok subjek.
Metode ini paling sering dipakai, terutama untuk menyampaikan materi yang
bersifat teoritis ataupun sebagai pengantar kearah praktik, meskipun dianggap
tradisional, metode ini tetap populer. Sukses tidaknya metode ceramah sangat
ditentukan oleh kemampuan pemateri menguasai suasana kelas, cara berbicara
dan sistematika pembicaraan, jumlah materi yang disajikan, kemampuan
memberi ilustrasi, jumlah subjek yang mendengarkan dan lain-lain (Warista,
2013).
Pada pendidikan kesehatan tidak dapat lepas dari media, karena melalui
media pesan yang disampaikan dapat lebih menarik dan dipahami, sehingga
sasaran dapat mempelajari pesan tersebut sehingga sampai memutuskan untuk
mengadopsinya ke perilaku yang positif. Dalam proses pembelajaran, media
memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (pengajar) menuju

penerima (peserta didik), sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu


peserta didik dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan
pembelajaran. Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas
maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya
perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya (Puspasari, 2013).
Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik
untuk menyampaikan pesan, dimana media didefinisikan sebagai teknologi
pembawa informasi/ pesan instruksional. Yusuf Hadi Miarso memandang
media secara luas/ makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan
media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar
pada diri peserta didik. Media atau alat peraga dalam pendidikan kesehatan
dapat diartikan sebagai alat bantu untuk pendidikan kesehatan yang dapat
dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi
dan penyebar-luasan informasi kesehatan. Seseorang belajar melalui panca
inderanya. Setiap indera ternyata berbeda pengaruhnya terhadap hasil belajar
seseorang (Puspasari, 2013).
Booklet merupakan salah satu media dalam pendidikan kesehatan yang
berbentuk buku berukuran kecil (setengah kuarto) dan tipis, tidak lebih dari 30
halaman bolak-balik, yang berisi tulisan dan gambar-gambar. Ada yang
mengatakan bahwa istilah booklet berasal dari buku dan leaflet, artinya media
booklet merupakan perpaduan antara leaflet dengan buku atau sebuah buku
dengan format (ukuran) kecil seperti leaflet. Struktur isinya seperti buku (ada
pendahuluan, isi, penutup) hanya saja cara penyajian isinya jauh lebih singkat
daripada sebuah buku. Dengan adanya booklet, maka orang bisa memperoleh
pengetahuan seperti membaca sebuah buku, dengan waktu membaca sesingkat
membaca leaflet. Booklet umumnya digunakan dengan tujuan untuk
meningkatkan pengetahuan tentang isu-isu kesehatan, karena booklet
memberikan informasi dengan spesifik dan banyak digunakan sebagai
alternatif untuk dipelajari pada setiap saat bila seseorang menghendakinya
(Maulana, 2009).

Presentasi slide power point adalah suatu cara yang digunakan untuk
memperkenalkan atau menjelaskan sesuatu yang dirangkum dan dikemas ke
dalam beberapa slide yang menarik. Tujuannya, orang yang menyimak
(audience) dapat lebih mudah memahami penjelasan kita melalui visualisasi
yang terangkum dalam slide teks, gambar/grafik, suara, video, dan lain
sebagainya (Purnomo, 2011). Slide power point sebagai media pendidikan
kesehatan termasuk dalam golongan kategori media elektronik. Media
elektronik yaitu suatu media bergerak, dinamis, dapat dilihat, didengar, dan
dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika (Mubarak,
2012).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian
untuk mengetahui perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan metode ceramah
dengan media booklet dibandingkan dengan media slide power point terhadap
pengetahuan dan sikap remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah.
B. Rumusan Masalah
Adakah perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan metode ceramah
dengan media booklet dibandingkan dengan media slide power point terhadap
pengetahuan dan sikap remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah pada
siswa kelas X di SMAN Kota Mungkid Kabupaten Magelang?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisa perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan metode
ceramah dengan media booklet dibandingkan dengan media slide power
point terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang hubungan seksual
(HUS) pra nikah pada siswa kelas X di SMAN Kota Mungkid Kabupaten
Magelang.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisa perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan metode ceramah
dengan media booklet dibandingkan dengan media slide power point
terhadap pengetahuan remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah
pada siswa kelas X di SMAN Kota Mungkid Kabupaten Magelang.

10

b. Menganalisa perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan metode ceramah


dengan media booklet dibandingkan dengan media slide power point
terhadap sikap remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah pada
siswa kelas X di SMAN Kota Mungkid Kabupaten Magelang.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan mengenai
media pendidikan kesehatan yang lebih baik terhadap peningkatan
pengetahuan dan sikap remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap
remaja tentang hubungan seksual (HUS) pra nikah.
b. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi
instintusi maupun instansi untuk meningkatkan program pendidikan
kesehatan reproduksi remaja khususnya tentang hubungan seksual (HUS)
pra nikah pada remaja.