Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS TENTANG

PERILAKU PENGGUNAAN MSG SECARA BERLEBIHAN DALAM


MENGOLAH MAKANAN OLEH PEDAGANG MAKANAN DI
SEKITAR UNIVERSITAS YARSI, JAKARTA PUSAT

oleh
Kelompok A3:
Caesaredo Derza

1102011062

Choirul Akbar

1102010056

Fadhillah Syafitri S

1102011091

Faisal Abdul Razak

1102011093

Fakhri Wicaksono

1102011095

Faradiba Febriani

1102011096

M. Yudha

1102011149

M. Agsar Andriawan

1102011150

Mainurtika

1102011151

Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi


Tahun 2014-2015
DAFTAR ISI
1. Lembar Persetujuan Pembimbing

2. BAB I : Pendahuluan
2.1.
Latar Belakang
2.2.
Gambaran Komunitas Pedagang Makanan
2.3.
Area Masalah
3. BAB II : Tinjauan Pustaka
3.1.
Diagnosis dan Intervensi Komunitas
3.2.
Teori Perilaku
3.3.
Literatur Mengenai MSG
3.4.
Kerangka Teori dan Kerangka Konsep
4. Daftar Pustaka
Lembar Persetujuan Pembimbing

4
5
9
10
10
16
19
20

LAPORAN DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS TENTANG


PERILAKU PENGGUNAAN MSG SECARA BERLEBIHAN DALAM
MENGOLAH MAKANAN OLEH PEDAGANG MAKANAN
DI SEKITAR UNIVERSITAS YARSI, JAKARTA PUSAT
Oleh:
Caesaredo Derza

1102011062

Choirul Akbar

1102010056

Fadhillah Syafitri S

1102011091

Faisal Abdul Razak

1102011093

Fakhri Wicaksono

1102011095

Faradiba Febriani

1102011096

M. Yudha

1102011149

M. Agsar Andriawan 1102011150


Mainurtika

1102011151

Menyetujui,
Dosen Pembimbing
2

Dr. Citra Dewi, M.Kes


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan
dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan
masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi
harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah sehat-sakit atau
kesehatan tersebut. Menurut Hendrik L.Bloom ada 4 faktor yang mempengaruhi
kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, yaitu keturunan,
lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Status kesehatan akan tercapai secara
optimal, bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang
optimal pula. (Notoatmodjo, 2003)
Dari hasil dilakukannya observasi dan wawancara dengan komunitas penjual
makanan di sekitar Universitas Yarsi didapatkan 25 orang penjual makanan dengan
berbagai jenis makanan, tetapi yang diobservasi lebih lanjut hanya 8 penjual makanan.
Menurut hasil wawancara, penjual rata-rata bertempat tinggal bukan di daerah sekitar
Cempaka Putih dan bekerja dari mulai pagi hari sampai sore hari, hal tersebut bergantung
dari berapa banyak dagangan yang mereka jual. Secara keseluruhan, terdapat beberapa
masalah yang sangat dominan dari pedagang makanan ini, yaitu cara pengolahan
makanan yang kurang sehat dengan perilaku penggunaan MSG secara berlebihan dari
yang dianjurkan. Mereka beralasan, penggunaan MSG merupakan salah satu cara untuk
menarik pelanggan dengan memperkuat cita rasanya agar pelanggan kembali lagi untuk
membeli dagangannya, dan mereka pun mendapatkan keuntungan secara ekonomi.
Selain itu, cara penyajian makanan pun dianggap kurang bersih dan sehat yaitu
dengan perilaku mencuci peralatan makan serta memcuci tangan dengan air yang tidak di
ganti dari bekas pencucian sebelumnya, serta mencuci tangan dengan cara yang tidak
benar yaitu dengan hanya mencelupkan tangan ke air tanpa menggunakan sabun. Hal ini
dikarenakan air bersih di daerah tempat mereka berjualan sulit didapatkan oleh para
penjual tersebut dan mereka tidak punya waktu untuk mencari air bersih yang banyak
karena terlalu sibuk dalam melayani pelanggan. Penggunaan kain lap yang digunakan
secara bersama juga menjadi kendala dalam menjaga kebersihan alat makan, karena
alasan yang sama yaitu karena terlalu sibuk melayani pelanggan sehingga tidak sempat
untuk menjaga kebersihan. Lalu dengan cara peletakkan makanan pada tempat yang
terbuka, sehingga memungkinkan terkena debu atau kotoran lain dari lingkungan sekitar.
Dari beberapa masalah yang peneliti utarakan, diharapkan agar masyarakat
mementingkan kesehatan sesama, khususnya bagi penjual makanan yang sedang di bahas
3

dalam masalah ini. Tidak hanya kesehatan dari diri sendiri, tetapi kesehatan orang lain
juga harus di perhatikan agar Indonesia dapat terjauhi dari angka kesakitan dan angka
kematian yang tinggi.
1.2.
Gambaran Komunitas Pedagang Makanan di Sekitar Universitas YARSI
1.2.1. Agus Hermawan, 32 tahun.
Bertempat tinggal di wilayah bekasi dan mengontrak di wilayah Jakarta. Pekerjaan
sebagai penjual gorengan. Agus sudah bekerja sebagai penjual gorengan dari tahun
2001 hingga sekarang.
Agus menjual gorengan dengan melihat dari cara penjualan teman nya. Cara Agus
menjual gorengan pun sedikit kurang baik, bisa dilihat dari tempat jualan yang kurang
bersih karena agus berjualan dipinggir jalan raya yang banyak terdapat polusi dan
debu serta makanan yang tidak ditutup dengan alasan tempat tersebut dekat dengan
kampus dan mahasiswa nya banyak yang membeli dagangannya, lalu cara mencuci
tangan yang tidak menggunakan sabun dan hanya dicelupkan saja kedalam air saat
akan mengolah makanan, penggunaan minyak goreng yang sekali pakai tanpa di ganti
dalam menggoreng seluruh gorengannya dalam satu hari, serta penggunaan MSG
yang terlalu banyak (12 sachet dalam satu hari) yang beralasan agar makanan yang
dijualnya terasa lebih enak, dan pembungkus gorengan hanya menggunakan kertas
yang bertinta dengan alasan pembungkus tersebut didapatkannya lebih mudah dan
murah disbanding menggunakan tempat lain.
1.2.2. Andre Susanto , 22 tahun.
Bertempat tinggal di cempaka putih. Pendidikan terakhir SMA (Sekolah Menengah
Atas). Pekerjaan sebagai penjual di RM. Palembang. Andre sudah bekerja sejak dua
tahun yang lalu. Dengan membuka kedai nya dari pukul enam pagi sampai sekiranya
pukul Sembilan malam.
Andre memasak makanannya menggunakan cukup baik, yaitu mengelap tangan
dengan lap khusus untuk tangan sebelum menyajikan makanan, lalu menyimpan
bahan makanan yang masih dapat digunakan atau diolah dengan baik, memasang
penutup makanan dengan alasan agar makanan yang dijual tidak dihinggapi lalat.
Tetapi didapatkan sedikit masalah pada cara penjualan andre, yaitu menggunakan
piring yang kurang dicuci bersih karena menggunakan air yang juga dipakai untuk
mencuci tangan, dan MSG cukup banyak.
1.2.3. Junaedi, 33 tahun.
Bertempat tinggal di daerah Tanah abang. Pendidikan terakhir SMP (Sekolah
Menengah Pertama). Berjualan sate ayam sudah dua puluh tahun sampai sekarang.
Penjualan mulai pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore.
Cara memasak bahan makanannya cukup baik dan matang. Tapi, cara penggunaan
MSG termasuk banyak dalam campuran bumbu kacanganya, dengan alasan agar
terasa lebih enak. Serta penggunaan air bersih kurang baik, karena air tersebut dipakai
untuk mencuci piring dan dicampur untuk mencuci tangan.
1.2.4. Mia, 29 tahun
4

Bertempat tinggal di daerah Sumur Batu, Jakarta Pusat. Pendidikan terakhir SMA
(Sekolah Menengah Atas). Berjualan berbagai macam menu makanan sudah sejak 10
tahun sampai sekarang. Memulai berjualan pada pukul delapan pagi sampai pukul
lima sore.
Cara memasak bahan makanan cukup baik dan matang. Cara mencuci piring bekas
pakai, mencuci peralatan masak dan mencuci tangan cukup baik karena menggunakan
keran langsung. Tetapi mungkin masalah terdapat pada tempat berjualan yang kurang
bersih karena bahan makanan yang dijual tidak dilengkapi penutup, sehingga mudah
dihinggapi lalat dan terkena debu. Juga dalam penggunaan MSG yang sangat banyak
sekitar 10 sachet dalam sehari bertujuan agar makanan tersebut terasa lebih enak.
1.2.5. Tety, 45 tahun
Bertempat tinggal dicempaka putih timur, Jakarta Pusat. Pendidikan terakhir SD
(Sekolah Dasar). Sudah berjualan soto ayam sejak tahun 2009 sampai sekarang. Ibu
tety mulai berjualan pukul sepuluh pagi sampai pukul enam sore.
Cara penjualan ibu tety cukup baik, karena makanan dimasak dengan matang. Tetapi
ditemukan masalah yaitu tempat bejualan yang berada di pinggir jalan dengan tempat
yang seadanya karena akan sulit baginya untuk berjualan jika ia berpindah ke lain
tempat, dan cara mencuci alat makan tanpa menggunakan air yang bersih karena
digabung dengan air untuk mencuci tangan, cara mencuci tangan bu tety pun tidak
bersih karena tidak menggunakan sabun. Ibu tety mengerti jika dia tidak mencuci
tangan dan alat makan dengan air bersih akan menimbulkan masalah kesehatan, tetapi
cukup sulit untuk ibu tety dalam mencuci tangan dan alat makan menggunakan sabun,
karena aka memakan waktu yang lama, sementara warung soto bu tety ramai
dikunjungi pelanggan.
1.2.6. Mas Pono, 35 tahun.
Bertempat tinggal didaerah Jakarta. Dengan pendidikan terakhir SMP (Sekolah
Menengah Pertama). Memiliki pekerjaan sebagai penjual mie instan sejak lima tahun
lebih. Berjualan mulai pukul delapan pagi sampai pukul lima sore.
Cara penyajian yang dilakukan oleh mas pono kurang sehat, diantaranya karena sering
menyajikan makanan dengan sendok plastic yang diambil atau dipungut dari tanah
atau yang sudah jatuh lalu tanpa dicuci kembali karena menurutnya sendok tersebut
masih cukup bersih sehingga dapat menghemat waktu dalam melayani pelanggan jika
sendok tersebut langsung dipaki, serta menggunakan satu kain lap yang digunakan
untuk pengering tangan dan dipakai bersamaan dengan kain lap pengering piring,
alasan mengapa pono melakukan hal tersebut karena akan sulit baginya untuk
membedakan mana kain lap untuk piring dan mana yang untuk tangan saat banyak
pelanggan yang membeli dagangannya. Yang terakhir cara penyajian makanan
menggunakan kertas kreset, alasan menggunakan kertas tersebut karena ia dapat
membeli kertas tersebut dengan harga yang lebih murah dibandingkan menggunakan
sterofoam.
1.2.7. Tiara, 33 tahun

Bertempat tinggal di daerah Rawasari, Jakarta Pusat, dengan pendidikan terakhir SMP
(Sekolah Menengah Pertama). Memiliki pekerjaan sebagai penjual bubur ayam sejak
8 tahun sampai sekarang. Berjualan mulai pukul tujuh pagi sampai dengan pukul 4
sore.
Cara pengolahan makanan sudah cukup baik dan bersih. Tetapi ada beberapa maslah
dalam penjualannya, yaitu dari tempat berjualan yang bertempat disebelah selokan
yang sangat kotor, dengan alasan ia sudah lama berjualan disini dan akan sulit
baginya untuk menemukan pelanggan baru jika ia berpindah tempa. Serta saat
berjualan tiara sulit untuk mendapatkan air bersih, sehingga dalam mencuci tangan
dan mencuci peralatan makan hanya memakai air yang sama untuk berulang kali.
Selain itu, penggunaan MSG yang terlalu berlebihan juga dilakukan oleh Tiara. Selain
itu tiara menggunakan streofoam sebagai tempat membungkus bubur ayam utuk
pelanggannya karena ia mengikuti permintaan pelanggan yang sering meminta untuk
membungkus makanannya menggunakan sterofoam.
1.2.8. Dulah, 36 tahun
Bertempat tinggal di Tanjung Priuk, dengan pendidikan terakhir STM. Memiliki
pekerjaan sebagai penjual tongseng sejak12 tahun. Berjualan mulai pukul 8 pagi
sampai pukul 3 siang.
Cara pengolahan yang dilakukan Dulah kurang sehat dan bersih yaitu bahan makanan
tidak dicuci kembali sebelum dimasak. Selain itu, tempat berjualan juga kurang bersih
dan sehat karena bersebelahan dengan selokan yang sangat kotor. Dulah juga kurang
mendapatkan air bersih karena minimnya saluran air bersih yang didaptnya, sehingga
mempengaruhi perilaku nya dalam mencuci tangan dan mencuci pelatan makan yang
hanya menggunakan air bekas cucian sebelumnya. Dulah juga menggunakan
peralatan masak yang tidak pernah diganti dari awal berjualan. Pemakainan MSG juga
diakui Dulah sangat berlebihan untuk memberikan rasa enak pada masakannya. Dari
pengakuannya, cara Dulah berjualan (mengolah dan menyajikan makanan) meniru
temannya yang dulu pernah dia bantu sebelum berjualan sendiri.
1.3.

Area Masalah

Dari berbagai permasalahan, peneliti mengutarakan beberapa kemungkinan yang menjadi


permasalahan kesehatan yang terdapat pada para pedagang makanan di sekitar Universitas
Yarsi, diantaranya adalah:
1. Perilaku penggunaan kertas bekas yang bertinta sebagai alat pembungkus makanan
dengan alasan tidak punya cukup biaya untuk membeli pembungkus seperti plastik
atau sterofoam
2. Perilaku cuci tangan secara tidak bersih dan benar yaitu dengan hanya dicelupkan saja
dan menggunakan air bekas cucian sebelumnya serta tidak menggunakan sabun
3. Perilaku penggunaan MSG yang melewati standar penggunaan yang dianjurkan agar
makanannya terasa lebih enak dan mengundang pelanggan yang lebih banyak Perilaku tidak
menjaga kebersihan makanan dengan tidak menutup makanan yang akan dijual

4. Perilaku menyajikan makanan menggunakan alat makan seperti piring, sendok dan
gelas yang dicuci dengan menggunakan air yang dipakai untuk mencuci piring
sebelumnya
5. Perilaku menggunakan kain lap yang dicampur untuk mengeringkan tangan dan juga
untuk membersihkan alat makan
6. Perilaku dalam membersihkan tempat berjualan yang berada dipinggir jalan raya
sehingga memungkinkan makanan untuk terkena debu.
7. Perilaku penggunaan peralatan makan yang bekas yang diambil dari penggunaan
sebelumnya atau dari bekas orang lain
8. Perilaku penggunaan bahan makanan yang tidak dicuci dengan sehat dan benar yaitu
tidak dengan air bersih.
9. Perilaku tidak menjaga kesehatan dan membiarkan penyakitnya tertular oleh orang
lain melalui makanan yang dijualnya.
10. Perilaku berjualan di daerah yang banyak polusi dan terkontaminasi debu sehingga
maknaan tidak sehat lagi untuk di konsumsi.
11. Perilaku dalam membuang atau mengumpulkan sampah dari bekas bahan makanan
yang mereka jual yang kurang baik dengan membuang sampah ke selokan atau tidak
pada tempatnya.
1.4.

Penentuan Area Masalah


Dari sekian masalah yang ada pada komunitas pedagang makanan tersebut, maka
diputuskan untuk mengangkat permasalahan Perilaku Penggunaan MSG dalam Bahan
Makanan Oleh Para Pedagang Makanan Di Sekitar Universitas YARSI.
Pemilihan area masalah ini didasarkan atas berbagai pertimbangan yaitu:
a. Berdasarkan data penelitian, penggunaan MSG akan menambah cita rasa dalam
bahan makanan yang diolah.
b. Berdasarkan pengamatan secara langsung yang dilakukan oleh peneliti pada
komunitas pedagang tersebut, didapatkan alasan dalam penggunaan MSG yang
berlebihan merupakan salah satu cara untuk menarik pelanggan dengan
memperkuat cita rasanya agar pelanggan kembali lagi untuk membeli
dagangannya, dan mereka pun mendapatkan keuntungan secara ekonomi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS


Diagnosis komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan adanya suatu masalah
dengan cara pengumpulan data di masyarakat (lapangan). Dengan demikian diagnosis
komunitas merupakan kegiatan survey. Dengan melakukan diagnosis komunitas ini
maka masalah kesehatan di komunitas akan dapat diidentifikasi dan dibuat intervensi
pemecahannya. Dengan adanya diagnosis komunitas diharapkan dapat menerapkan
prinsip kedokteran pencegahan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat..

2.2.

TEORI PERILAKU
2.2.1. Pengertian Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja,
kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati
langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar.
Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan
kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau
Stimulus Organisme Respon.
2.2.2. Klasifikasi Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang
(organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit,
sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini,
perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1

Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).


Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
2 Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering
disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita
penyakit dan atau kecelakaan.
3 Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial
budaya, dan sebagainya.
2.2.3. Domain Perilaku
Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu didalam
tiga domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan
yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan,
yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari
ranah kognitif (kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor
(psicomotor domain).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan
pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur dari :
1. Pengetahuan (knowlegde)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Tanpa pengetahuan seseorang tidak
mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap
masalah yang dihadapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :
a. Faktor Internal
8

Merupakan faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat dan
kondisi fisik.
b. Faktor Eksternal
Merupakan faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, atausarana.
c. Faktor pendekatan belajar
Merupakan faktor yang berhubungan dengan upaya belajar, misalnya strategi
dan metode dalam pembelajaran.
Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya.
2) Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4) Analisis
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam
komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya
dengan yang lain.
5) Sintesa
Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi / objek.
2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen
pokok :
1) Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (obyek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3) Menghargai (valuing)
9

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah
suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko
merupakan sikap yang paling tinggi.
3. Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung
atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan
(support) praktik ini mempunyai beberapa tingkatan :
1) Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
2) Respon terpimpin (guide response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.
3) Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis,
atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mancapai praktik
tingkat tiga.
4) Adopsi (adoption)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik.Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara
terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu
(recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi
tindakan atau kegiatan responden.
Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003),
mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut
terjadi proses berurutan yakni :
1) Kesadaran (awareness)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap
stimulus (objek)
2) Tertarik (interest)
Dimana orang mulai tertarik pada stimulus
3) Evaluasi (evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.Hal
ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4) Mencoba (trial)
Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5) Menerima (Adoption)

10

Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan
sikapnya terhadap stimulus.
2.2.4. Asumsi Determinan Perilaku
Menurut Spranger, membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai
kebudayaan. Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan
pada diri orang tersebut.Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari
berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi,
persepsi, sikap dan sebagainya. Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi
gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman,
keyakinan, sarana/fasilitas, sosial budaya dan sebagainya.
Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat
mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain:
1. Teori Lawrence Green (1980)
Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan.
Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku
(behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan,
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2) Faktor pendorong (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan,
misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.
3) Faktor pendukung (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari
perilaku masyarakat.
2. Teori Snehandu B. Kar (1983)
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku
merupakan fungsi dari :
1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan
kesehatannya (behavior itention).
2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan
(accesebility of information).
4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau
keputusan (personal autonomy).
5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).
3. Teori WHO (1984)
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah:
1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan,
persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek
kesehatan).
11

(a) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
(b) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek.
Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya
pembuktian terlebih dahulu.
(c) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap
sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat.
Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek
lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud
didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti
oleh tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau
tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya
pengalaman seseorang.
2) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka
apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan
sebagainya.
4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam
suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada
umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama
dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat
manusia (Notoatmodjo, 2003).
2.3.

Literatur Mengenai MSG


Berdasarkan dari penelitian Prof. Kikunae Ikeda (1908) yang menemukan
bahwa Glutamat merupakan sumber rasa gurih (dalam bahasa jepang disebut umami)
saat itu berhasil mengisolasi glutamat dari kaldu rumput laut dari jenis Kombu.
Menurut penelitian dari Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang
diisolasi oleh Ikeda. MSG tersusun atas 78% Glutamat, 12% Natrium dan 10% air.
Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan rasa gurih dalam segala
macam masakan. Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non
esensial penyusun protein yang terdapat juga dalam bahan makanan lain seperti
daging, susu, keju, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat. Di dalam
tubuh, glutamat dari MSG dan dari bahan lainnyadapat dimetabolime dengan baik
oleh tubuh dan digunakan sebagai sumber energi usus halus.
Prawiroharjono (2000) telah melakukan penelitian diIndonesia mengenai
penggunaan MSG pada makanan untuk sarapan pagi, siang dan malam sebanyak 1,5
-3,0 gram per hari menunjukkan tidak terdapat gejala MSG Complex syndrom
(Ardyanto, 2004) seperti rasa panas di leher, lengan dan dada, sakit kepala, pusing,
mual,muntah dan berebar debar. Tetapi penggunaan secara berlebihan dapat
menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa
orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, dan panas. MSG juga dapat
memicu hipertensi, asma, kanker diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan.
MSG sebanyak 4 mg/g bb pada tikus menyebabkan terjadinya peningkatan kadar
MDA (malondialdehid) pada hati, ginjal, dan otak (Farombi dan Onyema, 2006).

12

Banyak efek yang ditimbulkan oleh MSG, diantaranya Chinese restaurant


Syndrome, meliputi : rasa terbakar di dada, bagian belakang leher, dan lengan bawah,
kebas-kebas pada bagian belakang leher yang menjalar ke lengan dan punggung:
perasaan geli, hangat dan kelemahan diwajah, punggung atas, leher dan lengan, sakit
kepala, mual, jantung berdebar-debar, sulit bernapas, mengantuk (FDA, 1995).
Normalnya MSG yang berlebihan tidak dapat melewati pembatas darah otak,
tetapi terdapat beberapa bagian didalam otak yang tidak dilindungi pembatas darah
otak seperti hipotalamus, batang otak, kelenjar hipofise dan testosterone (Gold,1995).
Sehingga pemberian MSG secara suntikan subkutan pada mencit baru lahir dapat
menimbulkan terjadinya nekrosis neuron akut pada otak termasuk hipotalamus yang
ketika dewasa akan mengalami hambatan perkembangan tulang rangka, obesitas dan
sterilitas pada betina (Olney,1969).
Menurut penelitian dari Politeknik Negeri Semarang. Jurusan Teknik Elektro.
Monosodium glutamat (MSG) disebut bumbu masak atau motto. Industri MSG
berkembang pesat setelah di Jepang ditemukan, bakteri Corynebacterium glutamicum,
Erevibacterium flavum, dan Bacteriumlaktojermentum. Dampak negatif penggunaan
MSG masih merupakan kontroversi, yaitu dapat memengaruhi fungsi syarat otak.
MSG mengelabui otak dengan pemikiran bahwa otak telah merasakan sesuatu yang
lezat, inilah yang disebut dengan eksitoksin. Meskipun aman dikonsumsi dalam batas
tertentu, namun perlu dipertimbangkan penambahan MSG dalam masakan rumah
tangga agar tidak berlebihan. Indonesia merupakan negara produser MSG terbesar
setelah China. Dampak dari limbah cair hasil pengolahan MSG tenyata cukup
berbahaya bagi hewan air sehingga perlu pengolahan agar tidak mencemari
lingkungan.
Faktor lain yang mempengaruhi
Perilaku sebagai faktor penentu manusia merupakan resultansi dari berbagai faktor
baik internal maupun eksternal. Faktor internal dalam hal ini adalah keyakinan, niat,
percaya diri. Sedangkan faktor ekternal atau faktor lingkungan yaitu lingkungan fisik dan
lingkungan sosial.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan MSG dalam bahan
makanan:
a. Pengaruh Lingkungan
Semakin banyak penjual makanan yang menggunakan MSG dalam mengolah
bahan makanannya, maka akan semakin banyak pula contoh yang dapat di tiru
oleh penjual makanan lain dalam mengolah bahan makanan mereka sendiri.
b. Faktor Kepribadian
Perilaku penggunaan MSG dalam bahan makanan dipengaruhi oleh faktor
ketidaktahuan penjual makanan yang menambahkan MSG kedalam bahan
makanan yang diolah nya, juga dipengaruhi oleh faktor dalam mencari
keuntungan yang lebih dari biasanya, karena para penjual makanan yang
menggunakan MSG dalam mengolah bahan makanannya beranggapan bahwa
dengan menambahkan MSG kedalam bahan makanan yang diolah akan
memberikan rasa lebih enak dan dapat menambah pendapatan mereka.
c. Pengaruh Iklan
13

Para penjual makanan yang menambahkan MSG ke dalam bahan makanan


biasanya dipengaruhi oleh faktor ketidaktahuan akan kandungan atau dampak dari
penggunaan MSG serta dipengaruhi oleh tayangan iklan, yang mana mereka
beranggapan bahwa dengan menambahkan MSG kedalam bahan makanan yang
akan diolah dapat memberikan cita rasa berlebih sehingga bahan makanan tersebut
dapat dijual dengan mudah.
d. Faktor Ekonomi
Penggunaan MSG dalam mengolah bahan makanan dipengaruhi pula oleh faktor
keuangan, yang mana mereka bertujuan untuk mengurangi pengeluaran tetapi
dapat menambah pemasukan. Karena dengan menggunaan MSG dalam mengolah
bahan makanan akan terasa lebih gurih dan menarik minat pelanggan, sehingga
para penjual makanan tidak perlu menggunakan banyak garam. Maka pengeluaran
mereka untuk berjualanpun lebih minimal.
Cara pengolahan bahan makan yang sehat
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar makanan justru akan lebih bernutrisi
setelah dimasak, misalnya saja wortel, bayam, dan tomat. Proses pemasakan akan
membantu pelepasan antioksidan dengan cara menghancurkan dinding sel sehingga zatzat penting dalam sayuran itu lebih mudah diserap tubuh.
Berikut adalah 5 metode memasak yang dianggap paling sehat:
1 Merebus.
Merebus adalah cara yang mudah dan cepat. Anda hanya perlu menambahkan air dan
sedikit garam. Namun suhu yang tinggi dan jumlah air yang banyak bisa mengurangi
jumlah vitamin larut air dan mineral dalam sayuran sampai 70 persen. Merebus lebih
dianjurkan untuk wortel, brokoli, atau zucchini (sayuran mirip mentimun hijau).
2 Mengukus.
Hampir semua jenis bahan makanan, mulai dari sayuran sampai ikan cocok dikukus.
Dengan metode memasak ini rasa asli dan nutrisi makanan tetap terjaga.
3 Merebus dengan sedikit air. Merebus dengan sedikit air (poaching) adalah cara yang
direkomendasikan untuk makanan seperti ikan, telur, atau buah.
4 Membakar. Ini adalah metode pemasakan makanan langsung ke dalam panas atau api
dalam waktu singkat. Pembakaran adalah cara yang dianjurkan untuk memasak
daging yang dipotong, seperti sate.
5 Memanggang. Memanggang adalah cara yang dianjurkan untuk mendapatkan rasa
daging yang tetap segar dan empuk. Tetapi beberapa riset menyebutkan cara memasak
ini bisa meningkatkan risiko kanker pankreas dan kanker payduara. Memanggang di
suhu tinggi akan menghasilkan reaksi kimia antara lemak dan protein dalam daging
sehingga menghasilkan toksin yang akan merusak keseimbangan antioksidan dalam
tubuh. Hal ini diketahui akan memicu diabetes dan penyakit kardiovaskular.
6 Menumis. Metode pemasakan ini hanya memerlukan sedikit minyak. Hampir
sebagian besar bahan pangan cocok dimasak dengan cara ini.
7 Tidak dimasak. Pola makan makanan mentah (raw food) sedang populer belakangan
ini. Penganut pola makan ini mengklaim cara ini yang paling sehat karena kandungan
vitamin, mineral, serat, dan enzim dalam sayuran tidak akan hilang. Meski begitu
14

beberapa riset menyebut mengasup makanan mentah akan membuat kita kehilangan
likopen dalam tomat serta antioksidan dalam wortel atau bayam.
2.4.

KERANGKA TEORI

TEORI PERILAKU:
1. Faktor Pendorong / Predisposing Factors
(Pengetahuan, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai
tradisi, dan sebagainya)
2. Faktor Pemungkin/ Enabling Factors
(Sarana dan prasarana, atau fasilitas untuk terjadinya
perilaku kesehatan)
3. Faktor Penguat/ Reinforcing Factors
(Tokoh masyarakat dan tokoh agama)

2.5.

PERILAKU

KERANGKA KONSEP
SIKAP
PERILAKU
PENGGUANAAN MSG
PADA BAHAN MAKANAN

PENGETAHUAN
PENDIDIKAN

FASILITAS
(sarana dan prasarana)
DAFTAR PUSTAKA
-

http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=37759&idc=44
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-22794-BAB%20II.pdf
http://www.infokedokteran.com/gizi/cara-mengolah-makanan-yang-sehat.html
http://www.hd.co.id/tips-sehat/mengolah-makanan-paling-sehat

15