Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH HUKUM PERATURAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

KONFLIK KEWENANGAN DALAM PENEGAKAN HUKUM PERIKANAN DI


INDONESIA

Disusun oleh:
SHABRINA OKTAVIANI
105080601111004

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
2013

1. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang
dipersatukan dengan laut. Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari perairan
laut, yakni sebesar 70%, sisanya adalah daratan. Sebagai negara kepulauan,
menurut United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982
Indonesia memiliki kedaulatan atas perairan yang ditutup oleh atau terletak
disebelah dalam dari garis pangkal lurus kepulauanyang disebut sebagai perairan
kepulauan (LawforJustice, 2013).
Sebagaimana ciri negara berkembang dengan populasi penduduk yang
besar ditambah dengan struktur geografis yang dikelilingi oleh laut, maka laut
menjadi tumpuan sebgaian besar penduduk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan
hidup terutama masyarakat pesisir, selain itu bagi negara berkembang seperti
Indonesia, laut memiliki posisi yang strategis dan potensi yang luar biasa baik dalam
bidang ekonomi, pertahanan, maupun keamanan. Namun, wilayah Indonesia sering
kali mengalami berbagai permasalahan yang timbul baik dari dalam maupun luar
negeri seperti illegal fishing, illegal migration, sampai pengelolaan wilayah yang tidak
terpadu (LawforJustice, 2013).
Pasal 73

Undang-undang No. 31 Tahun 2004

tentang

Perikanan

menyebutkan bahwa ada tiga instansi yang berwenang dalam penegakan hukum
perikanan, yaitu instansi Departemen Kelautan dan Perikanan, Kepolisian RI, dan
TNI AL. Semua instansi tersebut berwenang untuk menangani perkara yang sama,
artinya sama sama dapat melakukan penyidikan, pemberkasan BAP serta
menyerahkannya kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa keterpaduan dalam sistem
pelaksanaannya. Sehingga sering kali ditemukan konflik kewenangan penegakan
hukum perikanan pada kenyataannya di lapangan. Konflik tersebut bisa bersifat
negatif atau positif, dan seharusnya segera dicarikan jalan keluarnya secara hukum
(Han, 2010).
Undang-undang No. 31 Tahun 2004 Pasal 27 ayat 1 berisi:
Penyidikan tindak pidana di bidang perikanan dilakukan olh Penyidik
Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Perwira TNI AL, dan Pejabat Polisi Negara
Republik Indonesia.

Dalam keadaan yang demikian menimbulkan tumpang tindih kewenangan


dalam bidang penyidikan terhadap tindak pidana tertentu yang terjadi di wilayah
perairan laut, kemudian mengakibatkan ketidakefektifan upaya pemberantasan
tindak pidana di wilayah perairan laut apabila penanganan hukum terjadi tanpa
adanya keterpaduan antar instansi atau berjalan secara sektoral tanpa koordinasi.
Contoh, kasus tindak pidana illegal fishing yang dilakukan oleh kapal berbendera
Malaysia yang dinahkodai oleh Mr. Chat, seorang berkewarganegaraan Thailand di
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di perairan Selat Malaka. Penyidikan sebelumnya
dilakukan oleh Kepolisian Perairan (Polair) Polda Sumatra Utara, namun setelah
diketahui bahwa berdasarkan Pasal 73 ayat (2) Undang-undang No. 43 Tahun 2009,
TNI AL dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan yang lebih berhak atas kasus
tersebut, maka selanjutnya kasus diserahkan kepada pihak TNI AL untuk proses
lanjut.
1.2 IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa saja wewenang dari ketiga instansi tersebut dalam bidang
perikanan?
2. Apa saja dampak konflik kewenangan terhadap bidang perikanan?
3. Bagaimana cara mengatasi konflik kewenangan tersebut?

1.3 TUJUAN MAKALAH


1. Untuk mengetahui wewenang dari ketiga instansi tersebut dalam bidang
perikanan.
2. Untuk mengetahui dampak konflik kewenangan terhadap bidang
perikanan.
3. Untuk mengetahui cara mengatasi konflik kewenangan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Manfaat penelitian dalam penulisan makalah yang dilakukan oleh penulis
dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Manfaat Secara Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan smbangan pemikiran dalam
bidang akademis, khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan di
bidang ilmu hukum perikanan.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara
menyeluruh pelaksanaan penegakan hukum di wilayah perairan laut
Indonesia.

2. Manfaat Secara Praktis Penelitian


Makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi lembagalembaga penegak hukum yang terkait, khususnya lembaga Kepolisian, TNI
Angkatan Laut, dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil dalam upaya
pemberantasan tindak pidana di wilayah perairan laut Indonesia.

2. PEMBAHASAN

2.1 Wilayah Perairan Indonesia


Wilayah perairan laut Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari wilayah negara kesatuan republik Indonesia secara keseluruhan. Menurut
Undang-undang No. 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara, menyebutkan wilayah
negara republik Indonesia meliputi wilayah darat, wilayah perairan, dasar laut, dan
tanah di bawahnya serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber
kekayaan yang terkandung di dalamnya. Wilayah perairan Indonesia meliputi
perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial. Selain itu Indonesia juga
memiliki wilayah yuridiksi di wilayah perairan laut di luar laut teritorial yang meliputi
Zona Ekonomi Eksklusif, Landas Kontinen, dan Zona Tambahan dimana Indonesia
memiliki hak berdaulat dan kewenangan tertentu lainnya berdasarkan peraturan
perundang-undangan dan hukum internasional.
Berdasarkan konvensi internasional PBB tentang hukum laut (United Nations
Convention on the lawof the Sea) tahun 1982, wilayah perairan laut suatu negara
harus tunduk dan berdasarkan konvensi ini, di mana konvensi PBB tetang hukum
laut tahun 1982 ini telah -diratifikasi oleh Indonesia dengan undang-undang No. 17
Tahun 1985. Selanjutnya pada tahun 1996 Indoensai telah mengundangkan
Undang-undang No. 6 tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia, di mana pasal 3 ayat
(1) Undang-undang Perairan Indoensaia menegaskan bahwa wilayah perairan
meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman.

2.2 Instansi yang Berwenang Melakukan Penyidikan Terhadap Tindak Pidana


Tertentu di Wilayah Perairan Laut Indonesia
Bahwa dalam upaya pengamanan dan penegakan hukum di wilayah perairan laut
Indonesia terdapat tiga instansi yang berwenang melakukan penyidikan yang
masing-masing didukung oleh undang-undang tersendiri, ketiga instansi tersebut
yakni Kepolisian Negara Republik Indonesia, TNI Angkatan Laut, dan Penyidik
Pegawai Negeri Sipil.

2.2.1

Wewenang Kepolisian RI dalam Melakukan Penyidikan Terhadap


Tindak Pidana Tertentu di Wilayah Perairan Laut Indonesia
Fungsi kepolisian merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara

di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan


hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Hal
ini sebagaimana di tegaskan dalam pasal 13 Undang-undang No. Tahun
2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, bahwa tugas pokok
Kepolisian RI adalah:
1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat
2. Menegakkan hukum
3. Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada
masyarakat.
Dalam pasal 14 huruf g Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, berbunyi Kepolisian Negara Republik
Indonesia bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua
tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundangundangan lainnya.
Pasal 72 Undang-undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan
menyatakan bahwa Penyidikan dalam perkara tindak pidana di bidang
perikanan, dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku, kecuali
ditentukan lain dalam Undang-undang ini. Adapun yang dimaksud dengan
hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana yang terdapat di dalam
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), sedangkan menurut
KUHP yang berwenang melakukan penyidikan salah satunya adalah Pejabat
Kepolisian Republik Indonesia. Sedangkan pasal 73 ayat (1) undang-undang
perikanan juga menyatakan bahwa Penyidikan tindak pidana di bidang
perikanan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Perwira
TNI Angkatan Laut, dan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Selain itu
pasal 282 ayat (1) undang-undang No. 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran
juga memberikan kewenangan kepada pejabat polisi Negara Republik
Indonesia untuk melakukan penyidikan terhadap tindak pidana di bidang
pelayaran.

Selain itu, kepolisian juga berwenang melakukan penyidikan terhadap


tindak pidana di wilayah perairan laut Indonesia yang berkaitan dengan
pencemaran lingkungan dan konservasi sumberdaya alam hayati dan
ekosistemnya. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 94 Undang-undang
No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan Hidup, bahwa
kepolisisan berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana
lingkungan hidup.

2.2.2

Wewenang TNI Angkatan Laut dalam Melakukan Penyidikan


Terhadap Tindak Pidana Tertentu di Wilayah Perairan Laut
Indonesia
Dalam skala universal TNI Angkatan Laut memiliki tiga peran yaitu

peran militer, peran polisionil, dan peran diplomasi. Peran polisionil


dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum di laut, melindungi
dumberdaya dan kekayaan laut nasional, serta memelihara keamanan dan
ketertiban

di

laut.

Secara

yuridis

formal,

ketiga

peran

ini

telah

diimplementasikan dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang


mengatur tentang tugas TNI Angkatan Laut.
Pasal 9
menegaskan

Undang-undang

bahwa

salah

satu

No.

34

tugas

Tahun
TNI

2004

Angkatan

tentang

TNI

Laut adalah

menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yuridiksi


nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum Internasional
yang telah diratifikasi. Yang dimaksud tugas menegakkan hukum dan
menjaga keamanan adalah segala bentuk kegiatan yang berhubungan
dengan penegakan hukum di laut sesuai dengan kewenangan TNI Angkatan
Laut (constabulary function) yang berlaku secara universal dan sesuai
dengan ketentuan undang-undang yang berlaku untuk mengatasi ancaman,
tindakan kekerasan, ancaman navigasi, serta pelanggaran hukum di wilayah
laut yuridiksi nasional. Namun penegakan hukum yang dilaksanakan oleh
TNI Angkatan laut adalah terbatas dalam lingkup pengejaran, penangkapan,
penyelidikan, dan penyidikan perkara yang selanjutnya diserahkan kepada
kejaksaan untuk dilakukan penuntutan. Sesuai dengan pasal 284 ayat (2)
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), menyatakan KUHAP

berlaku untuk semua tindak pidana, dengan pengecualian untuk sementara


mengenai ketentuan khusus acara pidanayang juga dinyatakann dalam
undang-undang tertentu. Dengan demikian pasal 6 ayat (1) KUHAP
menyatakan bahwa penyidik adalah pejabat kepolisian dan pejabat pegawai
negeri sipil tertentu. Dengan demikian maka dalam penyelesaian perkara
tertentu dalam penerapan dan penegakan hukumnya memuat acara
tersendiri sebagai ketentuan khusus.
Selain berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana di
bidang perikanan dan pelayaran, TNI Angkatan Laut juga berwenang
melakukan penyidikan terhadap tindak pidana di wilayah perairan laut yang
berkaitan dengan pencemaran lingkungan dan konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya, sebagaimana dinyatakan pada pasal 39 ayat (2)
undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya, bahwa kewenangan penydik kepolisian dan
pejabat pegawai negeri sipil dalam melakukan penyidikan terhadap tindak
pidana di bidang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya,
tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana yang diatur dalam
Undang-undang Perikanan. Sedangkan menurut Undang-undang No. 5
Tahun 1983 pasal 14 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia memberikan
kewenangan penuh kepada Perwira TNI Angkatan Laut untuk melakukan
penyidikan penyidikan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Kewenangan TNI Angkatan Laut ini juga diperkuat dengan peraturan
perundang-undangan lainnya yang mengatur masalah perairan Indonesia
seperti Undang-undang No. 6 tahun 1996 tentang perairan Indonesia hingga
konvensi-konvensi Internasional seperti UNCLOS 1982.

2.2.3

Wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil dalam Melakukan


Penyidikan Terhadap Tindak Pidana Tertentu di Wilayah Perairan
Laut Indonesia
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pada pasal 6 ayat (1)

undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa penyidik


adalah
1. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia
2. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang
khusus oleh undang-undang.
Undang-undang No. 31 tahun 2004 Tentang Perikanan, sebagaimana
telah diperbaharui dengan Undang-undang No. 45 tahun 2009, memberikan
wewenang kepada penyidik pegawai negeri sipil perikanan untuk melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana perikanan baik di wilayah laut teritorial
Indonesia maupun di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Berdasarkan pasal 282 ayat (1) undang-undang No. 17 tahun 2008
tentang Pelayaran, penyidik pegawai negeri sipil berwenang melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana di bidang pelayaran. Selain itu, dalam
tindak pidana di bidang pencemaran lingkungan hidup dan konservasi
sumberdaya alam hayati di wilayah perairan laut, penyidik pegawai negeri
sipil juga diberi wewenang untuk melakukan penyidikan, sebagaimana
ditegaskan dalam pasal 39 ayat (1) Undang-undang No. 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pasal 94
ayat (1) Undang-undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.

2.3 Dampak Konflik Kewenangan Terhadap Bidang Perikanan


Dalam dunia hukum kita mengenal ada tiga sumber kewenangan, yaitu
Kewenangan

Atribusi,

Delegasi dan

Mandat. Dikaitkan

dengan

ini maka

kewenangan penegakan hukum perikanan oleh ketiga instansi penegakan hukum


perikanan tersebut yang bersumberkan pada UU No.31 Tahun 2004 tentang
Perikanan, maka kewenangan tersebut merupakan kewenangan Atribusi.
Secara hukum ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut samasama berwenang untuk membuat aturan hukum yang bersifat regulasi dalam

menjalankan kewenangannya untuk menegakkan hukum perikanan. Pembentukan


aturan hukum regulasi tersebut harus berdasarkan UU No.10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, karena perlu kita sadari bahwa
seluruh tindak pemerintahan di bidang penegakan hukum harus berdasarkan pada
asas legalitas (berdasarkan pada aturan hukum yang jelas).
Perlu diketahui bahwa konflik kewenangan ini tidak hanya bersifat negatif
melainkan konflik kewenangan bersifat positif (sama-sama berwenang). Sebagai
ilustrasi contoh konflik kewenangan secara negatif, berdasarkan informasi dari
masyarakat pada titik koordinat tertentu telah terjadi penangkapan ikan secara illegal
(tanpa izin). Informasi tersebut diinformasikan pada ketiga instansi penegak hukum
perikanan, yaitu instansi DKP, TNI AL dan Kepolisian secara bersamaan, lalu ketiga
instansi tersebut menurunkan

armadanya masing-masing

untuk melakukan

penangkapan, dan bertemulah ketiga armada tersebut di tengah-tengah laut,


walaupun tidak terjadi pertengkaran/perkelahian, dengan adanya tindakan samasama menurunkan armada berarti telah terjadi kerugian materi untuk melakukan
tindakan yang sia-sia tidak menentu. Ilustrasi contoh konflik kewenang-an secara
positif diantaranya ketiga instansi tersebut sama-sama berwenang membuat BAP
dan menyerahkannya ke Jaksa Penuntut Umum.
Apabila instansi-instansi penegak hukum perikanan berjalan sendiri-sendiri
tanpa ada keterpaduan sistem, hal ini dapat membuka pintu Kolusi Korupsi dan
Nepotisme (KKN) serta dapat menimbulkan tindakan penyalahgunaan wewenang
dan tindakan sewenang-wenang oleh ketiga instansi penegak hukum perikanan itu

2.4 Cara Mengatasi Konflik Kewenangan di Bidang Perikanan


Penyelesaian konflik konflik kewenangan ini perlu dilakukan dengan
pendekatan hukum. Perlu dibentuk suatu forum koordinasi seperti yang telah
ditentukan dalam pasal 73 ayat (3) UU No.31 tahun 2004 tentan Perikanan.
Meskipun pada kenyataannya telah dikeluarkan peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan No. PER. 18/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak
Pidana di Bidang Perikanan, belumlah dapat menyelesaikan konflik kewenangan
dalam penegakan hukum perikanan. Dilihat dari kewenangan kelembagaan jelas
Forum Koordinasi tidak mempunyai wewenang kelembagaan artinya apabila salah

satu dari ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut tidak melakukan
koordinasi maka tidak ada akibat hukumnya.
Kenyataan yang ada di lapangan penegakan hukum perikanan dilakukan
tanpa koordinasi dan berjalan sendiri-sendiri (sektoral) tanpa ada keterpaduan
sistem. Oleh karena itu perlu adanya lembaga pengawasan penegakan hukum
perikanan serta perlu adanya keterpaduan sistem (Integrated System) dalam
pelaksanaannya. Keterpaduan sistem itu misalnya dengan Online Integrated
System. Contohnya apabila salah satu instansi penegak hukum perikanan tersebut
melakukan penangkapan terhadap kapal yang melakukan illegal fishing, instansi lain
juga bisa memonitor tindakan itu. Bahkan instansi Kejaksaan dan Pengadilan
Perikanan juga bisa memantau. Sehingga otomatis juga akan terjadi suatu
pengawasan terhadap ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut. Apabila
dengan cara online integrated system ini belum bisa dilaksanakan, maka perlu kita
pikirkan untuk membentuk suatu lembaga pengawasan independen yang dibentuk
dengan Undang-undang dan laporan pertanggung jawabannya langsung ke DPR.
Untuk menyelesaikan konflik kewenangan dalam penegakan hukum Perikanan
sekiranya perlu adanya revisi terhadap Undang-undang No.31 Tahun 2004 tentang
Perikanan, dan dengan menambahkan pembagian kewenangan secara jelas serta
dilengkapi dengan mekanisme kerja yang pasti dan memasukkan sistem penegakan
hukum perikanan secara terpadu yang dilengkapi dengan lembaga pengawasan
dalam penegakan hukum perikanan, untuk menghindari terjadi konflik kewenangan
seperti yang terjadi sekarang ini.

3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terdapat tiga instansi yang berwenang dalam penegakan hukum perikanan
berdasarkan ketentuan Pasal 73 UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yaitu
instansi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Laut (TNI AL), Kepolisian Negara RI. Ketiga instansi tersebut sama-sama
berwenang dalam menangani perkara yang sama dan berjalan secara sendiri-sendiri
tanpa adanya keterpaduan sistem dalam pelaksanaannya, artinya sama-sama
berwenang melakukan penyidikan serta sama-sama berwenang mela-kukan
pemberkasan BAP dan menyerahkannya kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa
adanya pembagian kewenangan secara jelas serta tanpa adanya mekanisme kerja
yang pasti.
Ketiga instansi tersebut menyatakan instansinya sama-sama berwenang
dalam penegakan hukum perikanan serta tanpa adanya keterpaduan sistem dalam
pelaksanaannya. Hal inilah yang disebut sebagai konflik kewenangan dalam
penegakan hukum perikanan.
Walaupun tidak terjadi pertengkaran/perkelahian, dengan adanya tindakan
sama-sama menurunkan armada berarti telah terjadi kerugian materi untuk
melakukan tindakan yang sia-sia tidak menentu.
Untuk menyelesaikan konflik kewenangan dalam penegakan hukum
Perikanan sekiranya perlu dilakukan revisi terhadap Undang-undang No.31 Tahun
2004 tentang Perikanan, dan dengan menambahkan pembagian kewenangan
secara jelas serta dilengkapi dengan mekanisme kerja yang pasti dan memasukkan
sistem penegakan hukum perikanan secara terpadu yang dilengkapi dengan
lembaga pengawasan dalam penegakan hukum perikanan.

3.2 Saran
Untuk menangani masalah kewenangan tersebut diharapkan ketiga instansi
tersebut dapat membuat batasan atau mengadakan penyidikan yang terpadu agar
tidak terjadi konflik berkepanjangan yang menyebabkan masalah perebutan
kewenangan di bidang Perikanan.