Anda di halaman 1dari 12

TEORI KORUPSI

1. DEFENISI KORUPSI
Korupsi (bahasa Latin: corruptio atau corruptus, corruptio berasal dari kata corrumpere =
busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok), dari bahasa latin inilah turun ke
banyak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Perancis yaitu corruption dan
Belanda corruptie, korruptie. Dari bahasa belanda inilah kata itu turun ke bahasa Indonesia
yaitu korupsi. Korupsi mengandung arti: kejahatan, kebusukan, tidak bermoral dan kebejatan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi diartikan sebagai kata busuk, rusak, buruk,
suka memakai barang (uang) yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok (melalui
kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). Dengan kata lain korupsi adalah penyelewengan
atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk kepentingan pribadi atau orang lain.
Dalam kamus ilmiah poluper dinyatakan arti korup adalah curang; busuk; dan mudah disuap
sedangkan korupsi diartikan kecurangan; penyelewengan/ penyalahgunaan jabatan untuk
kepentingan pribadi; dan pemalsuan. Pengertian korupsi sebenarnya telah dimuat secara tegas
untuk pertama kalinya pada pasal 1, Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1960 tentang
Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi, yang berbunyi:
Yang disebut tindak pidana korupsi ialah:
a. Tindakan seseorang yang dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan keuangan atau perekonomian Negara atau Daerah atau merugikan
keuangan suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan Negara atau Daerah atau badan
hukum lain yang mempergunakan modal kelonggaran-kelonggaran dari Negara atau
masyarakat;
b. Perbuatan seseorang, yang dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau badan yang dilakukan dengan menyalahgunakan jabatan dan kedudukan;
c. Kejahatan-kejahatan tercantum dalam pasal 17 sampai pasal 21 peraturan ini dan dalam pasal
209, 210, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425 dan 435 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana.
Sedangkan versi Undang-Undang yang pertama kali mencantumkan pengertian korupsi pada
pasal 1, Undang-Undang No. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
sebagian besar pengertian korupsi dalam UU tersebut dirujuk dari Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KHUP), yang berbunyi:
Dihukum karena tindak pidana korupsi ialah:
a. Barangsiapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau
orang lain, atau suatu Badan, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan
negara dan atau perekonomian negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa
perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
b. Barangsiapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan
atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara;

c. Barangsiapa melakukan kejahatan tercantum dalam Pasal-pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416,
417, 418, 419, 420, 423, dan 435 K.U.H.P.;
d. Barangsiapa memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri seperti dimaksud dalam Pasal
2 dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau sesuatu wewenang yang melekat pada
jabatannya atau kedudukannya atau oleh sipemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada
jabatan atau kedudukan itu;
e. Barangsiapa tanpa alasan yang wajar, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya setelah
menerima pemberian atau janji yang diberikan kepadanya, seperti yang tersebut dalam Pasalpasal 418, 419 dan 420 K.U.H.P. tidak melaporkan pemberian atau janji tersebut kepada yang
berwajib.
f. Barangsiapa melakukan percobaan atau permufakatan untuk melakukan tindak pidana-tindak
pidana tersebut dalam ayat (1) a, b, c, d, e pasal ini.
Perubahan terakhir Undang-Undang tentang tindak pidana korupsi yatiu UU No. 31 tahun
1999 jo UU No.20 tahun 2001 Pasal 2 menyebutkan bahwa korupsi adalah :
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri
atau orang lain yang suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah)

2. BENTUK DAN JENIS KORUPSI


Dalam Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 tahun 2001 terdapat
30 rumusan bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara
terpisah dan terperinci mengenai perbuatan-perbuatan yang dikenakan pidana korupsi.
Namun pada dasarnya 30 bentuk/jenis korupsi itu dapat dikelompokan menjadi:
a. Kerugian keuangan negara
b. Suap menyuap
c. Pengelapan dalam jabatan
d. Pemerasan
e. Perbuatan curang
f. Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan
g. Gratifikasi
Dalam buku Toward A General Theory Of Official Corruption karangan Gerald E Caiden
bentuk umum korupsi yang dikenal antara lain:
a. Berkhianat, subversi, transaksi luar negeri ilegal, penyeludupan
b. Mengelapkan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemerintah, menipu dan
mencuri
c. Menggunakan uang yang tidak tepat, memalsukan dokumen dan menggelapkan uang,
mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi, menggelapkan pajak, menyalahgunakan dana

d. Menyalahgunakan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan, memberi ampun dan


grasi tidak pada tempatnya
e. Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan memperdaya, memeras
f. Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu, menahan secara
tidak sah, menjebak
g. Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain seperti benalu
h. Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, menerima komisi
i. Menjegal pemilihan umum, memalsukan surat suara, membagi-bagi wilayah pemilihan
umum agar bisa unggul
j. Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk kepentingan pribadi, membuat
laporan palsu
k. Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang miliki pemerintah dan surat izin pemerintah
l. Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak dan pinjaman uang
m. Menghidari pajak, meraih laba berlebih-lebihan
n. Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan
o. Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang tidak pada tempatnya
p. Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap
q. Perkoncoan, menutupi kejahatan
r. Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi dan pos
s. Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan dan hak istimewa jabatan.
Dilihat dari jenisnya korupsi menurut Benveniste dalam bukunya bureaucracy (1991) membagi
korupsi dalam 4 jenis yaitu :
a. Discretionary corruption,
b. Illegal corruption,
c. Mercenery corruption dan
d. Ideological corruption.
Sedangkan Piers Beirne dan James Messerschmidt dalam criminology (1995) membagi
korupsi dalam 4 jenis yaitu :
a. Political bribery,
b. Political kickbacks,
c. Election froud dan
d. Corrupt campaign practice
3. DAMPAK DAN AKIBAT KORUPSI
Korupsi merupakan faktor penghambat bagi pengembangan demokrasi, menghambat
pelaksanaan tugas lembaga-lembaga publik serta penyalahgunaan sumber daya yang dimiliki
baik alam maupun manusia secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Korupsi
memupuk perilaku merahasiakan segala sesuatu dan penindasan. Kerahasiaan terlihat dari
banyaknya pelaksanaan program pembangunan yang memiliki permasalahannya masingmasing di mulai dari pengajuan anggaran yang diperbesar (mark up), penggunaan anggaran
yang diperkecil (mark down), kegiatan fiktif maupun kondisi yang tidak layak guna.
Penindasan dijelaskan dengan kondisi ketidakmampuan masyarakat untuk menikmati hasil
yang
telah
dilakukan
oleh
sebuah
proses
pembangunan.
Pada tatanan realitas korupsi banyak sekali menimbulkan kerugian dalam bentuk dana
yang cukup besar. Namun lebih dari itu kerugian yang terbesar dari pelaksanaan korupsi yang

terus menerus adalah antara lain terciptanya kemiskinan struktural, penumpukan ilegal asetaset pada segelintir orang, dan lebih parah lagi akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan
dan rasa hormat kepada lembaga-lembaga administrasi dan tata kelola pemerintah sehingga
menimbulkan kelemahan otoritas pemerintah terhadap rakyatnya.
Korupsi sering menghasilkan pilihan-pilihan yang keliru, antara menciptakan
kesejahteraan pribadi dan kelompok dengan kesejateraan masyarakat. Apakah tidak mungkin
dengan terwujudnya kesejahteraan masyarakat akan terwujud kesejahteraan pribadi dan
kelompok ?. Jika kita lihat kondisi kekinian dalam upaya pemberantasan korupsi saat ini
masih bersifat parsial. Pada tatanan penyelenggara pemerintahan upaya tersebut belum
menunjukkan sinergisitas antara lembaga satu dengan lainnya. Bahkan tak kadang lembaga
yang semestinya sebagai problem solving justru menjadi bagian masalah tersebut. Sedangkan
pada tatanan masyarakat sipil juga belum terlahir sebuah perlawanan yang masif dan
terstruktur untuk membangun koalisi dalam memberantas korupsi. Justru yang lebih kentara
adalah sifat skeptis lebih cenderung merebak.
Korupsi telah menjadi persoalan bangsa yang menimbulkan krisis multidimensial. Hal ini
harus menjadi perhatian seluruh komponen bangsa dengan membangun komitmen dan
memainkan peranan masing-masing untuk mecegah korupsi terus berkembang. Menurut
Direktur Bank Dunia mengatakan bahwa tingkat kebocoran keuangan di seluruh dunia yang
diakibatkan perilaku korupsi mencapai $ 1000 Miliar dolar setiap tahunnya. Ternyata
persoalan korupsi telah merasuk dan menyebar ke setiap negara dunia, yang membedakan
adalah
besaran
korupsi
yang
terjadi
dan
cara
penangannya
Indonesia saat ini lagi serius dan berkomitmen untuk selalu berupaya secara terus menerus
agar korupsi dapat diminimalisir. Walaupun disadari apa yang dilakukan masih jauh dari
harapan masyarakat banyak. Keraguan dan keengganan para investor untuk menanamkan
ivestasinya di Indonesia yang disebabkan oleh perilaku korupsi dalam bentuk prosedur dan
pungutan ilegal baik dari segi waktu dan biaya yang harus dibayar menjadi salah satu alasan
yang kerap di ucapkan. Alhasil upaya yang dilakukan untuk menarik para investor datang ke
Indonesia belum memberikan hasil yang memuaskan.
Korupsi yang telah merasuk pada berbagai lini dan sektor kehidupan telah menempatkan
negara pada krisis multi dimensional. Sumber daya alam dan seluruh pendapatan negara
terutama dari rakyat pembayar pajak telah dibajak oleh segelintir orang untuk kepentingan
golongan dan kelompok, dan dampak yang diberikan sangat merugikan masyarakat secara
luas. Ketimpangan sosial, kemiskinan, kebodohan, investasi yang tersendat merupakan
dampak nyata dari perilaku korupsi. Nyata-nyata bahwa korupsi telah merenggut hak-hak dan
harapan rakyat untuk hidup yang lebih baik dan berkeadilan.
Peringkat Indonesia sebagai negara paling wahid negara terkorup di asia, dan termasuk
juga negara dalam kategori terkorup di dunia berdampak buruk pada citra dan martabat
bangsa di mata dunia. Indonesia sebagai sebuah negara yang berlandaskan hukum
kenyataannya belum mampu menegakkan hukum untuk mencegah dan memberantas korupsi.
Kasus-kasus korupsi masih menjadi antrian panjang untuk dituntaskan, bahkan antrian
tersebut cenderung bertambah. Hal ini harus mampu menjadi catatan untuk bergerak, bersatu
dan merapatkan barisan untuk menuntaskannya. Karena sangat disadari arena korupsi berada
pada wilayah kekuasaan, yang semakin tinggi dan besar kekuasaan, kecendrungan dan
potensi korupsi juga besar. Apalagi jika korupsi itu dilakukan secara bergotong royong.
Tentunya tembok yang akan dihancurkan akan semakin sulit. Dan salah satu unsur penting

untuk melakukan perlawanan terhadap korupsi harus dengan kekuasaan dan kekuatan yang
besar pula. Good and political will dari seluruh tingkatan kekuasaan harus dibangun, jika
persoalan ini memang ingin dituntaskan.
Harapan masyarakat yang kerap kandas terhadap pemerintah di dalam pencegahan dan
pemberantasan korupsi telah melahirkan rasa apatis dan pesimis bagi penyelesaian persoalan
ini. Namun demikian hal ini dapat saja menjadi sebuah kekuatan untuk membangkitkan
kemarahan rakyat atas ketidakmampuan pemerintah dalam menjalankan amanah yang telah
diemban. Perilaku konsumtif dan permisif yang cenderung meningkat, modal sosial yang ada
di masyarakat untuk melakukan tekanan dan kontrol terhadap jalannya pemerintahan yang
korup melemah. Bahkan kecenderungannya masyarakat pun melakukan perilaku-perilaku
yang korup. Baik oleh dorongan sistem dan mekanisme pemerintah yang korup maupun atas
kesadaran sendiri dengan pemikiran bahwa bahwa orang lain saja korup, kenapa saya tidak?.
Toh orang-orang yang korup yang merugikan rakyat dan negara tidak juga dihukum dan
ditindak. Ternyata ketidakpastian penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi telah
membentuk watak dan perilaku masyarakat menjadi korup. Jika hal ini dibiarkan tentunya
negara ini semakin terperosok ke dalam jurang kehancuran.
Tak ada kata lain bahwa korupsi harus dilawan dan diberantas, karena nyata-nyata korupsi
telah merampas hak-hak orang miskin, membuat masyarakat bodoh dan memperburuk citra
bangsa. Sinergisitas kekuatan dan kekuasaan yang ada pada tatanan masyarakat harus
dilakukan. Karena korupsi adalah merupakan kejahatan luar biasa dan jika dilakukan secara
bergotong royong serta telah mengakar dan sistemik maka satu-satunya upaya awal yang
dapat dilakukan adalah membangun dan menggerakkan kekuatan semua pihak. Mari
berkeyakinan masih ada segelintir birokrat, pejabat legislatif, yudikatif, tokoh masyarakat,
akademisi, mahasiswa sampai dengan pedagang kaki lima yang ingin bergerak, bersatu di
dalam memberantas korupsi.
Disela-sela keramaian menuju pilpres putaran II, pengungkapan kasus korupsi terus
dilaksanakan di daerah-daerah. Berbagai media berlomba-lomba menayangkan pemberitaan
terbaru terkait temuan korupsi oleh kejaksaan. Bak cendawan di musim hujan. Jumlah kasuskasus korupsi yang di ungkap sungguh melewati nalar dan akal sehat bangsa kita. Dari segi
jumlah nilainya. Jumlah anggota dewan yang terlibat. Jumlah kota maupun kabupaten tempat
korupsi. Termasuk juga jumlah modusnya yang bermacam-macam. Sudah sedemikian
hinakah bangsa kita. Sehingga, sampai-sampai, anggota dewan yang seharusnya menjadi
panutan dan teladan masyarakat, justru tak dapat diguru dan ditiru akhlaknya.
Tidak semua pihak merasa gembira dengan maraknya upaya kejaksaan mengintai setiap
gerak-gerik anggota dewan. Pengungkapan korupsi ini tentu saja menimbulkan berbagai
perasaan dibenak masyarakat. Di satu sisi menciptakan rasa was-was. Bukan tidak mungkin
masyarakat juga menyadari. Bahwa mereka sesungguhnya punya andil dalam melestarikan
korupsi. Seperti pepatah, jika tidak ada yang menyuap tentu saja tidak akan ada yang
menerima suap. Rasa was-was ini sangat berbahaya karena dapat memadamkan semangat
memerangi korupsi.
Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejasaan Agung, Kemas
Yahya Rahman, kasus dugaan korupsi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota terjadi
hampir di semua provinsi. Melibatkan lebih dari 300 anggota legislatif dengan kerugian
negara ratusan miliar. Belum termasuk yang ditangani kepolisian. Dan Kemas menduga,

anggota dewan yang terlibat kasus korupsi masih bisa bertambah jumlahnya. Selama enam
bulan terakhir total korupsi yang dilakukan anggota DPRD tercatat lebih dari Rp 394 miliar,
yakni di 59 DPRD. Nilai ini sebatas data yang dihimpun dari berbagai media massa nasional.
Sampai dengan saat ini kebanyakan masyarakat masih terpaku melihat fenomena
pengungkapan kasus korupsi. Perkara ini memang sulit untuk dijelaskan. Belum ditemukan
pemaparan para ahli dibidang sosial mengenai sakit yang melanda bangsa ini. Oleh
karenanya, kita sebut saja gejala sakit masyarakat ini sebagai hyper corruptus. Yaitu suatu
keadaan dimana korupsi sebagai bentuk penyimpangan moral telah melewati batas-batas
nalar kemanusiaan kita sebagai bangsa beradab. Bangsa dengan lima sila yang agung. Yang
selalu menyelaraskan kehendak berke-Tuhan-an sekaligus berkemanusiaan. Menjadikan
hubungan antar individu dalam masyarakat dalam konteks interaksi yang diwarnai nilai-nilai
persatuan dan keadilan.
Dampak korupsi telah menghancurkan sendi-sendi dalam kehidupan berbangsa. Malang
Corruption Watch (MCW), 2003, menjabarkan hal sebagai berikut. Ditinjau dari aspek politik
dapat dilihat manakala proses politik itu didasarkan bukan membawa kepentingan masyarakat
secara umum, tetapi lebih didasarkan atas kemauan dan kepentingan untuk maksud-maksud
tertentu dengan membawa agenda pribadi yang dibungkus kepentingan masyarakat.
Contohnya, pada bentuk-bentuk kolutif pemilihan walikota/bupati. Penyusuna/pembuatan
perda. LPT/LPJ Bupati/walikota. Pemenangan tender proyek dan pada perijinan yang
diskriminatif.Alih-alih terjadilah apa yang disebut lemahnya pelayanan terhadap kepentingan
publik. Selain itu menimbulkan diskriminasi hukum dan kebijakan. Kemudian mengarah
pada
legalisasi
produk
kebijakan
yang
korup.
Ditinjau dari aspek ekonomi, korupsi selalu dilakukan dengan cara-cara tidak sah dalam
mendapatkan sesuatu melalui pola dan modus yang memanfaatkan kedudukan. Dampaknya,
terjadi pemusatan ekonomi pada elit kekuasaan. Yang dimaksud kekuasaan disini adalah
kekuasaan dalam arti pengambil kebijakan (DPRD dan Bupati/Walikota) dan kekuasaan
modal (pengusaha) untuk melakukan aktifitas ekonomi. Disini MCW memberi catatan
sebagai berikut, "Apabila aliran dana ekonomi berputar pada ketiga kelompok tersebut maka
kelompok lain yaitu masyarakat yang tidak cukup punya modal dan kemampuan untuk
menembus birokrasi pemerintahan akan tetap mengais rejeki dari sisa-sisa kelompok
pemodal.

Dari segi aspek sosial-budaya lebih mengerikan lagi. Sebagai dampak adanya korupsi,
maka akan membawa pemahaman baru bagi masyarakat tentang makna pemerintahan,
aktifitas bermasayarakt atau proses bersosialisasi dengan sesama. Terkait dengan hal
demikian, adalah bagaimana korupsi mampu merubah pandangan hidup masyarakat yang
penuh semangat kekeuargaan menjadi masyarakat yang berberfaham kebendaan.Diamana
masyarakat kita yang suka menolong berubah sedemikian rupa menjadi masyarakat yang
pamrih setiap membantu yang lain.
Mempertanyakan kembali moralitas kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilainilai moral, mutlak dilakukan. Kita tidak perlu merasa rendah diri. Apalagi merasa malu
untuk memperbaiki keadaan yang sudah sedemikian rusaknya. Sebaiknya, kita merasa
kehilangan kehormatan. Ketika bangsa lain mengarahkan telunjuk dengan sinis kepada kita

sebagai bangsa yang tidak mampu memperbaiki diri. Mereka akan bertanya dimana nilai-nilai
dan pranata masyarakat kita sebagai bangsa yang diwarnai adat ketimuran.
Sekurang-kurangnya ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk
memperbaiki kondisi saat ini. Pertama, solusi eksternal, yang meliputi pembaruan sistem
pendidikan di sekolah, mulai tingkat dasar sampai dengan tingkat lanjutan atas. Model
penerapan penataran P-4 yang biasanya menjadi acuan untuk membentuk moral pelajar harus
dikoreksi. Mulai dari metodenya hingga materi yang disampaikan. Pembentukan moral sejak
awal ditegaskan untuk menjadikan anak sebagai manusia merdeka, bertanggungjawab dan
berakhlak. Bukan untuk mencetak anak sesuai kehendak kekuasaan. Kemudian yang tidak
bisa dijauhkan adalah pendidikan lingkungan keluarga. Peran agama dan keyakinan lebih
mengena ketika disampaikan dalam wujud pengertian-pengertian orang tua kepada anak.
Tetapi hal inipun menjadi kendala ketika orang tua kurang memperhatikan anak atau tidak
dapat memberi keteladanan yang sebagaimana mestinya.
4.KEWENANGAN PENANGANAN KASUS KORUPSI
Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas hukum, lebih jauh di dalam
penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 (sebelum amandemen) ditegaskan bahwa Negara
Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka
(machstaat). Namun kenyataan di lapangan saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap praktisi hukum (Hakim, jaksa, dan advocat) sedang
mengalami dekadensi yang hebat, hal ini tercermin dari pola penyelesaian masalah yang
dilakukan masyarakat yang cendrung main hakim sendiri, tambahan lagi belum lama ini
seorang jaksa yang menangani kasus BLBI tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi dalam kasus penyuapan.
Pola penyelesaian masalah dengan kekerasan menjadi pilihan utama di tengah
ketidakpercayaan terhadap aparatur penegak hukum. Pola penyelesaian tersebut sangatlah
dipengaruhi oleh pandangan bahwa penyelesaian melalui mekanisme peradilan penuh dengan
permainan, ketidakadilan dan ketidakpastian yang bertameng kepastian hukum. Oleh
karenanya raut wajah penegakan hukum (law enforcement) yang kian suram ini harus segera
dicerahkan dengan melakukan pengawasan yang efektif baik intenal maupun eksternal. Para
penegak hukum itu antara lain:
a.Kejaksaan Dan Kepolisian
Salah satu element penegakan hukum adalah lembaga Kejaksaan dan kepolisian yang
bergerak dalam bidang penyelidikan dan penyidikan sebuah tindak pidana yang telah terjadi.
Selanjutnya hasil penyelidikan dan penyidikan dijadikan alat untuk dan segera diajukan
dimuka pengadilan untuk memutuskan sebuah perkara tindak pidana. Berikut uraian singkat
tentang kedua lembaga tersebut
1. Kejaksaan
Kejaksaan Repubik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Jaksa Agung yang dipilih oleh
Presiden. Pada pasal 8 ayat (1) UU No. 5 tahun 1991, dinyatakan bahwa jaksa adalah pejabat

fungsional yang diangkat dan diberhentikan oleh Jaksa Agung. Pengertian jabatan fungsional
adalah jabatan yang bersifat keahlian teknis dalam organisasi kejaksaaan yang fungsinya
memungkikan kelancaran pelaksanaan tugas kejaksaan. Mengingat jaksa mempunyai
kualifikasi sebagai pejabat fungsional, maka bagi seorang yang diangkat sebagai jaksa harus
memenuhi syarat yang lebih dari sebagai pegawai negeri. Jaksa Agung disela penerimaan
anugerah MURI untuk Penyelengggaraan Kantin Jujur beberapa waktu yang lalu,
menyatakan bahwa beliau telah mememerintahkan Kajari untuk takut berbuat korupsi serta
jadi teladan bagi penegakan hukum dan menanamkan budaya malu untuk berbuat salah.
Sebagai pejabat fungsional, maka seorang Jaksa dituntut mampu menunjukkan kualitas yang
lebih baik dari seorang pegawai negeri pada umumnya. Bila mana tampilan kualitas yang
lebih baik tidak mampu ditunjukkan, maka seorang jaksa dapat diberhentikan dengan hormat
atau diberhentikan dengan tidak hormat sebagaimana ditetapkan dalam pasal 12 huruf d jo
pasal 13 huruf b UU No. 5 tahun 1991. Pemberhentian ini dilakukan oleh Jaksa Agung, yaitu
dengan cara:
Jaksa diberhentikan dengan hormat dari jabatan fungsional Jaksa karena ternyata ia tidak
cakap menjalankan tugasnya, misalnya karena ia banyak melakukan kesalahan besar dalam
menjalankan tugasnya. Jaksa diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatan fungsional
jaksa, apa bila ia terus-menerus melalaikan kewajibannya dalam menjalankan tugasnya, yaitu
apabila ia dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku,
tidak menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa suatu alasan yang sah. Jaksa
Agung telah tertanggal 3 Juni 2008 telah melakukan pecopotan 25 Kajari dari 365 Kajari se
Indonesia disebabkan tidak mencapai target program 5-3-1 dalam penanganan kasus korupsi.
5 kasus untuk Kajati, 3 kasus untuk Kajari dan 1 untuk cabang Kajari.
Dalam kerangka pengawasan di lingkup kejaksaan, prihal lembaga yang mengawasi diatur
dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 86 tahun 1999 tentang susunan organisasi dan tata
kerja kejaksaan RI, dalam Keppres tersebut disebutkan tentang Jaksa Agung Muda Bidang
Pengawasan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pasal 23 Keppres 86 tahun 1999, yang
berbunyi sebagai berikut : Jaksa Agung Muda Pegawasan mempunyai tugas dan wewenang
melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas rutin dan pembangunan semua unsur
Kejaksaan agar berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, rencana dan program
kerja Kejaksaan serta kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa Agung.
Tugas dan wewenang Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan dinyatakan dalam pasal 24
Keppres 86 tahun 1999, yang berbunyi sebagai berikut : Dalam melaksanakan tugas serta
wewenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 23, Jaksa Agung Muda Pengawasan
menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis pengawasan dilingkungan Kejaksaan;
b. Perencanaan, pelaksanaan, dari pengendalian pengamatan, penelitian, pengujian,
penilaian, pemberian bimbingan, penertiban atas pelaksanaan tugas rutin dan
pembangunan semua unsur Kejaksaan terutama mengenai administrasi umum,
administrasi di bidang kepegawaian, keuangan, perlengkapan, proyek pembangunan,
intelijen, tindak pidana umum, tindak pidana khusus, perdata, dan tata usaha negara
dilingkungan Kejaksaan serta Pengadministrasiannya;
c. Pelaksanaan pengusutan, pemeriksaan atas laporan, pengaduan, penyimpangan,
penyalagunaan jabatan atau wewenang dan mengusulkan penindakan terhadap pegawai
Kejaksanaan yang terbukti melakukan perbuatan tercela atau terbukti melakukan tindak

pidana;
d. Pemantauan dalam rangka tindak lanjut pengawasan dilingkungan Kejaksaan;
e. Pembinaan dan peningkatan kemampuan, keterampilan serta integritas kepribadian aparat
pengawasan dilingkungan Kejaksaan;
f. Pembinaan kerja sama dan pelaksanaan koordinasi dengan aparat pengawasan fungsional
instansi lain mengenai pelksanaan pengawasan pada umumnya;
g. Pengawasan teknis atas pelaksanaan tugas dan wewenang Kejaksaan dibidang Kejaksaan
berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh
Jaksa Agung;
h. Pemberian saran pertimbangan kepada Jaksa Agung dan pelaksanaan tugas-tugas lain
sesuai denga petunjuk Jaksa Agung.
Pelaksanaan fungsi penuntutan yang dijalankan oleh lembaga kejaksaan memengang
peranan yang penting dalam menyelesaikan perkara. Dalam hal ini, Jaksa menjadi pihak yang
menentukan dalam membawa alur perkara yang masuk ke pengadilan dimana pengajuan
dakwaaan, terdakwa dan barang bukti serta alat bukti berada ditangan kejaksaan. Kejaksaan
memiliki peran yang besar dalam mencipta alur perkara ke arah pembuktian yang kuat atau
lemah dan bermuara pada tingkat kesalahan serta pemidanaan seorang terdakwa.
Pembuatan surat dakwaan memang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Jaksa Agung No:
SE-004/J.A/11/1993 tentang Pembuatan Surat Dakwaan, sedangkan untuk pembuatan surat
tuntutan telah digariskan dalam Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE.001/J.A/4/1995
tentang pedoman Tuntutan Pidana. Apabila merujuk pada SE tersebut diatas selayaknya
produk penuntutan yang dihasilkan adalah produk yang sudah melalui proses yang baik.
Namun pada faktanya masih banyak surat dakwaan yang lemah dan bolongnya, yang
mengakibatkan tersangka akhirnya bebas demi hukum.
Guna mewujudkan lembaga kejaksaan yang akuntabel dan berintegritas tinggi melalui
kapasitas kemampuan dalam menghasilkan produk penuntutan agar pelaksanaan fungsi
penuntutan yang mengedepankan nilai-nilai keadilan hukum (legal justice) dan keadilan
masyarakat (sosial justice) dalam pelaksanaannya, selain mekanisme pengantian personel
kejaksaan tinggi negeri, kejaksaan negeri dan kejaksaan negeri pembantu perlu dilakukan
perbaikan sistem pengawasan yang melibatkan masyarakat sehingga masyarakat mengetahui
kinerja garda terdepan penegakan hukum di Indonesia dalam melaksanakan tugasnya.
2.Kepolisian
Status kepolisian sebagai komponen penyelidikan dan penyidikan telah diatur jelas dalam
KUHAP maupun dalam Undang-Undang No. 28 tahun 1997 jo UU No. 22 tahun 2002
tentang Kepolisian. Setelah terpisah dari lingkungan ABRI lembaga kepolisian lebih dapat
mandiri serta lebih terintegral dengan kesatuan sistem dengan aparat penegak hukum lainnya.
Serta dalam penyelidikan dan penyidikan tidak ada lagi ada kata keseganan untuk melakukan
hal yang sama kepada kesatuan lamanya yaitu ABRI. Kekuasaan kepolisian sebagai lembaga
penyelidikan dan penyidikan diharapkan mampu memberikan hal yang terbaik bagi
penegakan hukum di Indonesia.
Dalam sisi lain kepolisian disebutkan sebagai alat negara penegak hukum yang tercantum
dalam pasal 1 ayat 1 UU No. 13/1961 dan pasal 30 (4) UU No. 20/1982 serta pasal 13 sub a
UU No. 28 tahun 1997.

b. Komisi Pemberantasan Korupsi


KPK diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan
berkesinambungan. Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). KPK diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional,
intensif, dan berkesinambungan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan
sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945.
Tugas, Wewenang, dan Kewajiban dalam (Pasal 6)
1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi (TPK);
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK;
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap TPK;
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan TPK; dan
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Koordinasi (Pasal 7)
1. Koordinasi penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan TPK;
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan TPK;
3. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan TPK kepada instansi terkait;
4. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan TPK; dan
5. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan TPK.]
Supervisi (Pasal 8 Ayat 1) KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian, atau
penelaahan terhadap instansi yang menjalankan tugas dan wewenangnya di bidang
pemberantasan TPK, serta instansi yang melaksanakan pelayanan publik.
Penyelidikan, Penyidikan, dan Penuntutan (Pasal 11 dan 12) KPK berwenang melakukan
penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan TPK yang:
1. Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara (PN), dan orang lain yang ada
kaitannya dengan TPK yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau PN;
2. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
3. Menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan ini, KPK berwenang:
1. Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;
2. Memerintahkan kepada instansi terkait untuk melarang seseorang bepergian ke luar
negeri;
3. Meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan
keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa;
4. Memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening
yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang terkait;
5. Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan
sementara tersangka dari jabatannya;
6. Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi

terkait;
7. Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan
perjanjian lainnya atau pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsesi yang
dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal
yang cukup ada hubungannya dengan TPK yang sedang diperiksa;
8. Meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk
melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri;
9. Meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan
penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara TPK yang
sedang ditangani.
Pencegahan (Pasal 13) Wewenang KPK dalam langkah atau upaya pencegahan TPK:
1. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan PN (LHKPN);
2. Menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;
3. Menyelenggarakan program pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan;
4. Merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi pemberantasan TPK;
5. Melakukan kampanye antikorupsi kepada masyarakat umum;
6. Melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan TPK.
Monitor (Pasal 14) Dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas serta mencegah
terjadinya TPK di lembaga Negara dan pemerintahan, KPK diberi amanat oleh
undangundang untuk melaksanakan tugas monitor, dengan kewenangan:
1. Melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga
negara dan pemerintah; Memberikan saran kepada pimpinan lembaga negara dan
pemerintah untuk melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem
pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi;
2. Melaporkan kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Badan Pemeriksa
Keuangan, jika saran KPK mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan.

B. STUDI KASUS
KPK tangani 385 kasus korupsi, terbanyak libatkan anggota legislatif
Jumat, 27 September 2013 | 06:09 WIB
MAMUJU (WIN): Kasus korupsi yang masuk ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
menunjukkan angka yang engkhawatirkan. Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir ini, KPK
berhasil menangani sebanyak 385 kasus tindak pidana korupsi.
"Sejak KPK dibentuk atau tahun 2004-2013 ini telah banyak menangani kasus kejahatan
tindak pidana korupsi. Sedangkan jumlah perkara yang telah ditangani di tahun 2013
sebanyak 48 kasus," kata Direktur Penelitian dan Pengembangan KPK, Roni Dwi Susanto
dalam acara semiloka Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi di kantor gubernur
Sulbar, Kamis (26/9/13).
Roni mengatakan, dari 385 kasus yang ditangani KPK tersebut masing-masing melibatkan
anggota DPR dan DPRD sebanyak 72 kasus, kepala lembaga/kementerian sebanyak sembilan
kasus, duta besar sebanyak empat kasus dan komisioner terdapat tujuh kasus.
Sementara yang melibatkan gubernur, terdapat sembilan kasus dan tahun 2013 ini ada satu
gubernur harus berurusan dengan KPK. Bukan hanya itu, kasus kejahatan korupsi yang
melibatkan walikota/bupati dan waki bupati terdapat 34 kasus dan tahun ini setidaknya
terdapat dua kepala daerah harus menjalani proses hukuman.

"Khusus untuk pejabat eselon I, II dan III juga terlihat dominan dengan jumlah 114 kasus,
hakim delapan kasus, swastaa 87 kasus dan lainnya terdapat 41 kasus. Praktis, jumlah kasus
yang ditangani menembus angka 385 kasus," urainya.
Dia menuturkan, pemberantasan tidak pidana korupsi merupakan agenda nasional yang harus
dicegah sedini mungkin.
Karena itu, kata dia, tindakan pencegahan dan pemberantasan korupsi dilakukan dengan
melakukan upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penuntutan dan pemeriksaan
pada sidang pengadilan.
Dia menjelaskan, kejahatan tindak pidana korupsi bisa terjadi apabila proses perencanaan
atau penganggaran tidak tepat waktu. "Hal seperti ini akan memungkinkan terjadinya
kejahatan korupsi sehingga pemerintah daerah diharapkan bisa memperhatikan hal-hal seperti
itu," jelasnya. (win11/win7)

C. ANALISIS
Sudah jelas korupsi adalah tindakan yang melanggar hukum. Tentunya dari kasus korupsi
yang terjadi ada pihak pihak yang dirugikan. Kerugian tersebut biasanya terjadi dalam
jumlah yang besar tergantung seberapa besar instansi yang dirugikan. Bicara mengenai etika
bisnis dimana terjadi hubungan antara 2 belah pihak atau lebih dimana kedua pihak harus
sama sama mengetahui apa hak dan tanggung jawab masing masing. Win win solution
adalah ungkapan yang bisa dikatakan sebagai persetujuan kedua belah pihak. Dalam konteks
korupsi tentunya ada pihak yang mengambil keuntungan lebih banyak dan ada satu pihak
yang merasa dirugikan. Bisa dikatakan bahwa pihak yang korupsi tidak memahami konsep
etika bisnis yang baik.

D. DAFTAR PUSTAKA
http://pakar-hukum.blogspot.com/2009/09/teori-korupsi.html
http://whatindonews.com/id/post/9965/kpk_tangani_385_kasus_korupsi__terbanyak_libatkan
_anggota_legislatif