Anda di halaman 1dari 21

Makalah

BANTUAN HUKUM BAGI TERPIDANA YANG


TIDAK MAMPU
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada
Mata Kuliah Litigasi dan Bantuan Hukum

DISUSUN OLEH :
NAMA

SUHENDRO

NPM

13810099

PRODI :

ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

2016

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan
baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini, penulis akan
membahas mengenai BANTUAN HUKUM BAGI TERPIDANA YANG TIDAK
MAMPU
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengertian tentang hukum
waris. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, penulis
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya tugas yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Metro, Mei 2016

Penulis

iii

DATAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................

KATA PENGANTAR ..................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................

A. Latar Belakang ................................................................................

B. Tujuan Penulisan ............................................................................

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................

A. Pengertian Bantuan Hukum . .

B. Tugas Dan Fungsi Advokat Di Indonesia


(Tinjuan Kode Etik Advokat) .........................................................

C. Dasar Konstitusional Bantuan Hukum Bagi Masyarakat


Tidak Mampu

...............................................................................

BAB III KESIMPULAN .............................................................................


DAFTAR PUSTAKA

iv

9
16

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses hukum menjadi ajang beradu teknik dan keterampilan. Siapa
yang lebih pandai menggunakan hukum akan keluar sebagai pemenang dalam
berperkara. Bahkan, advokat dapat membangun konstruksi hukum yang
dituangkan dalam kontrak sedemikian canggihnya sehingga kliennya meraih
kemenangan tanpa melalui pengadilan. Dalam hal ini tidak terlepas dari yang
namanya Bantuan Hukum, karenan Bantuan Hukum ditunjukan kepada
Advokat sebagai profesi yang menangani masalah tersebut. Pada zaman
modern seperti sekarang ini tidak jarang kejahatan yang kerap kali terjadi
belakangan ini motivnya karena keadaan ekonomi, sosial maupun moral.
Selain itu juga kejahatan membuat masyarakat menjadi resah dan takut serta
dapat pula merusak tatanan hidup masyarakat.
Bantuan hukum bukanlah semata-mata pro bono publico work, tetapi
merupakan suatu kewajiban advokat (duty or obligation). Orang miskin
berhak memperoleh pembelaan dari advokat atau pembela umum yang bekerja
untuk organisasi bantuan hukum. Sebagai pengakuan hak individu (individual
right), prinsip persamaan di hadapan hukum (equality befor the law) dijamin
dalam sistem hukum Indonesia. Persamaan ini tidak mengenal pengecualian.
Setiap orang harus dapat dituntut di muka hukum, diinterogasi,
diselidiki, disidik, didakwa, dituntut, ditahan, dihukum, dipenjara, dan segala
perlakuan hukum yang dibenarkan secara hukum. Semua itu demi tercapainya
keadilan (justice). Kalau orang mampu dapat menyewa dan menunjuk
advokat, maka orang miskin pun harus dijamin dalam sistem hukum untuk
menunjuk seorang advokat atau pembela umum secara cuma-cuma.
Pembelaan advokat diperlukan untuk memastikan hak dan kebebasan individu
dihormati dan diakui para penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim,
khususnya bagi orang miskin. Pembelaan bagi orang miskin adalah kewajiban
bagi advokat, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Pada makalah ini, penulis akan mengemukakan mengenai bantuan


hukum bagi masyarakat tidak mampu yang melakukan tindak pidana.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk
1. Mengetahui pengertian bantuan hukum
2. Mengetahui tugas dan fungsi advokat di indonesia (tinjuan kode etik
advokat)
3. Mengetahui dasar konstitusional bantuan hukum bagi masyarakat tidak
mampu

vi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bantuan Hukum


Istilah bantuan hukum itu sendiri dipergunakan sebagai terjemahan dari
dua istilah yang berbeda yaitu Legal Aid dan legal Assistance. Istilah
Legal Aid biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pengertian bantuan
hukum dalam arti sempit berupa pemberian jasa jasa di bidang hukum kepada
seorang yang terlibat dalam suatu perkara secara Cuma Cuma/gratis
khususnya bagi mereka yang kurang mampu. Sedangkan pengertian Legal
Assistance dipergunakan untuk menunjukkan pengertian bantuan hukum oleh
para Advokat yang mempergunakan honorarium.1
Bantuan hukum adalah hak dari orang miskin yang dapat diperoleh tanpa
bayar (pro bono publico) sebagai penjabaran persamaan hak di hadapan
hukum. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 34 UUD 1945 di mana di
dalamnya ditegaskan bahwa fakir miskin adalah menjadi tanggung jawab
negara. Terlebih lagi prinsip persamaan di hadapan hukum (equality before the
law) dan hak untuk di bela Advokat (access to legal counsel) adalah hak asasi
manusia yang perlu dijamin dalam rangka tercapainya pengentasan
masyarakat Indonesia dari kemiskinan, khususnya dalam bidang hukum.
Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anakanak terlantar dipelihara oleh negara. Secara ekstensif pasal ini juga berarti
negara bertanggung jawab memberikan jaminan hak ekonomi, sosial, politik,
dan budaya serta hukum bagi fakir miskin, termasuk di dalamnya hak atas
bantuan hukum. Terlebih lagi pasal 28D menyatakan bahwa setiap orang
berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. International Covenant on Civil
and Political Rights yang telah diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2005 pada pasal 14 juga melindungi hak setiap orang untuk
mendapatkan perlakuan hukum yang sama tanpa adanya diskriminasi. Dengan
1

Abdurrahman, Aspek aspek bantuan hukum di indonesia, (Yogyakarta: Cendana Press,


1983)., h. h. 34

vii

demikian hak mendapatkan bantuan hukum merupakan hak konstitusional


bagi masyarakat di negara ini, tanpa terkecuali juga terhadap masyarakat
miskin.2
Pemberian bantuan (pembelaan) hukum bagi masyarakat tidak mampu.
Hanya dapat dilakukan oleh Advokat yang sudah terdaftar pada Pengadilan
Tinggi setempat. Pemberian bantuan hukum tersebut dapat dilakukan
melalui :Bantuan (pembelaan) hukum yang dilakukan oleh Advokat secara
perorangan; Bantuan (pembelaan) hukum yang dilakukan oleh Advokat secara
kelembagaan melalui Lembaga Bantuan Hukum setempat.
B. Tugas Dan Fungsi Advokat Di Indonesia (Tinjuan Kode Etik Advokat)
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos atau ta etha yang berarti
tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan atau adat istiadat. Oleh filsuf
Yunani, Aristoteles, etika digunakan untuk menunjukkan filsafat moral yang
menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan
kebajikan dan suara hati.3
Kata yang agak dekat dengan pengertian etika adalah moral. Kata moral
berasal dari bahasa Latin yaitu mos atau mores yang berarti adat istiadat,
kebiasaan, kelakuan, tabiat, watak, akhlak dan cara hidup. Secara etimologi,
kata etika (bahasa Yunani) sama dengan arti kata moral (bahasa Latin), yaitu
adat istiadat mengenai baik-buruk suatu perbuatan. Namun demikian moral
tidak sama dengan etika. Kata moral lebih mengacu pada baik-buruknya
manusia sebagai manusia, menuntun manusia bagaimana seharusnya ia hidup
atau apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Sedangkan etika adalah ilmu, yakni pemikiran rasional, kritis dan
sistematis tentang ajaran-ajaran moral. Etika menuntun seseorang untuk
memahami mengapa atau atas dasar apa ia harus mengikuti ajaran moral
tertentu. Dalam artian ini, etika dapat disebut filsafat moral. Yang dimaksud
etika profesi adalah norma-norma, syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang
2

Todung Mulya Lubis, Gerakan Bantuan Hukum Di Indonesia :Sebuah Studi Awal
dalam Abdul Hakim Garuda Nusantara Dan Mulayan W. Kusumah, Beberapa Pemikiran
Mengenai Bantuan Hukum: Kearah Bantuan Hukum Struktural, Alumni, Bandung, hlm 5
3
Fuady, Munir, Aliran Hukum Kritis (Paradigma Ketidakberdayaan Hukum), Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2003)., h. 67

viii

harus dipenuhi oleh sekelompok orang yang disebut kalangan profesional.


Lalu siapakah yang disebut profesional itu? Orang yang menyandang suatu
profesi tertentu disebut seorang profesional. Selanjutnya peraturan mengenai
profesi pada umumnya mengatur hak-hak yang fundamental dan mempunyai
peraturan-peraturan

mengenai

tingkah

laku

atau

perbuatan

dalam

melaksanakan profesinya yang dalam banyak hal disalurkan melalui kode etik.
4

Sedangkan yang dimaksud dengan profesi adalah suatu moral


community (masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai bersama.
Mereka membentuk suatu profesi yang disatukan karena latar belakang
pendidikan yang sama dan bersama-sama memiliki keahlian yang tertutup
bagi orang lain. Dengan demikian, profesi menjadikan suatu kelompok
mempunyai kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tanggung jawab
khusus. Advocat adalah pengacara yang diangkat oleh Menteri Kehakiman
setelah mendapat nasihat dari Mahkamah Agung. Batas wilayah hukum tugas
dari seorang advocat adalah seluruh propinsi di Indonesia.5
Pengacara yaitu seseorang yang membantu penggugat maupun tergugat
dan diangkat oleh Pengadilan Tinggi tertentu dan batas wilayah tugasnya
hanya diperbolehkan dalam wilayah hukum Pengadilan Tinggi tersebut. Di
samping itu ia boleh mengajukan perkara-perkara dan mewakili orang-orang
yang mempunyai perkara baik sebagai penggugat maupun sebagai tergugat
tidak saja di hadapan Pengadilan Tinggi tersebut, tetapi juga di hadapan semua
Pengadilan Negeri yang berada dalam wilayah hukum Pengadilan Tinggi
tersebut.
KHN sendiri dalam policy papernya memberikan perhatian tersendiri
pada salah satu profesi penegak hukum yaitu advokat. Perhatian tersebut
diwujudkan sebagai rekomendasi terhadap upaya membangun profesi hukum
yang berkualitas dan berintegrasi. Arah rekomendasi tersebut sendiri dibagi ke
dalam standar disiplin profesi dan standar pengajuan profesi hukum.

4
54

Baca Hendra Winata, Frans Advokat Indonesia, citra, idealisme dan kepribadian (Jakarta:
Sinar Harapan,1995)., h. 14

ix

Sebagaimana diatur dalam Undang-undang 18 tahun 2003, dikatakan


bahwa advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di
dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan
ketentuan Undang-Undang ini. Sedangkan hak dan kewajiban advokat diatur
dalam bab IV Undang-Undang tersebut. Ada batasan dalam melaksanakan hak
dan kewajiban tersebut yang dikenal sebagai kode etik profesi advokat, dan
hal ini diakui oleh Undang-Undang advokat sebagai aturan yang mengikat.
Hak dan kewajiban tersebut antara lain advokat bebas mengeluarkan pendapat
atau pernyataan dalam membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya di
dalam sidang pengadilan dengan tetap berpegang pada kode etik profesi dan
peraturan perundang-undangan. Selain itu pula advokat bebas dalam
menjalankan tugas profesinya untuk membela perkara yang menjadi tanggung
jawabnya dengan tetap berpegang pada kode etik profesi dan peraturan
perundang-undangan.
Kode etik profesi hukum adalah seperangkat kaidah, baik tertulis
maupun tidak tertulis, yang berlaku bagi anggota organisasi profesi yang
bersangkutan. Kode etik profesi hukum disusun untuk melindungi klien,
masyarakat, dan para anggotanya sendiri dari penyalahgunaan keahlian
profesi. Dengan berpedoman pada kode etik profesi inilah para profesional
hukum melaksanakan tugas profesinya untuk menciptakan penghormatan
terhadap martabat manusia yang bertujuan menciptakan keadilan di
masyarakat. Pelaksanaan tugas profesi hukum tidak terlepas dari adanya saling
keterkaitan dan saling ketergantungan di antara mereka. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa setiap profesi hukum merupakan mitra bagi profesi
hukum lainnya.
Standar Profesi Advokat (Standar Profesi Hukum) harus menjadi
persyaratan dalam program pendidikan dan pelatihan untuk para calon
pengemban profesi hukum. Rencana aksi yang diambil adalah memasukkan
Standar Profesi Advokat (Standar Profesi Hukum) sebagai mata ujian
persyaratan yang harus diikuti oleh calon pengemban profesi hukum. Standar

Secara garis besar dapat disebutkan di bawah ini mengenai fungsi dan
peranan advokat antara lain sebagai berikut:6
1

Sebagai pengawal konstitusi dan hak asasi manusia;

Memperjuangkan hak asasi manusia;

Melaksanakan Kode Etik Advokat;

Memegang teguh sumpah advokat dalam rangka menegakkan hukum,


keadilan dan kebenaran;

Menjunjung tinggi serta mengutamakan idealisme (nilai keadilan,


kebenaran dan moralitas);

Melindungi dan memelihara kemandirian, kebebasan, derajat dan martabat


advokat;

Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan advokat terhadap masyarakat


dengan cara belajar terus-menerus (continuous legal education) untuk
memperluas wawasan dan ilmu hukum;

Menangani perkara-perkara sesuai dengan kode etik advokat, baik secara


nasional,

yakni

Kode

Etik Advokat

Indonesia,

maupun

secara

internasional, yakni mengacu kepada IBA Standards for the Independence


of the Legal Profession, Declaration of the World Conference on the
Independence of Justice, IBA General Principles of Ethics for Lawyers,
Basic Principles on the Role of Lawyers;
9

Mencegah penyalahgunaan keahlian dan pengetahuan yang merugikan


masyarakat dengan cara mengawasi pelaksanaan etika profesi advokat
melalui Dewan Kehormatan Asosiasi Advokat;

10 Memelihara kepribadian advokat karena profesi advokat merupakan


profesi yang terhormat (officium nobile). Setiap advokat harus selalu
menjaga dan menjunjung tinggi citra profesinya agar tidak merugikan
kebebasan, kemandirian, derajat dan martabat seorang advokat;
11 Menjaga hubungan baik dengan klien maupun dengan teman sejawat;
12 Memelihara persatuan dan kesatuan advokat agar sesuai dengan maksud
dan tujuan organisasi advokat;

65

Dimensi Moral Profesi Advokat dan Pekerja Bantuan Hukum. www.komisihukum.go.id di


akses tanggal 29 Januari 2009

xi

13 Memberikan pelayanan hukum (legal services), nasehat hukum (legal


advice), konsultasi hukum (legal consultation), pendapat hukum (legal
opinion), informasi hukum (legal information) dan menyusun kontrakkontrak (legal drafting);
14 Membela kepentingan klien (litigasi) dan mewakili klien di muka
pengadilan (legal representation);
15 Memberikan bantuan hukum dengan cuma-cuma kepada masyarakat yang
lemah dan tidak mampu (melaksanakan pro bono publico). Pembelaan
bagi orang tidak mampu, baik di dalam maupun di luar pengadilan
merupakan bagian dari fungsi dan peranan advokat di dalam
memperjuangkan hak asasi manusia.
Pada prinsipnya setiap orang dapat memberikan bantuan hukum
bilamana ia mempunyai keahlian dalam bidang hukum, akan tetapi untuk
tertibnya pelaksanaan bantuan hukum diberikan beberapa batasan dan
persyaratan dalam berbagai peraturan.
Sudah merupakan tanggung jawab organisasi profesi advokat untuk
menyediakan para pembela umum dari para anggotanya yang siap
memberikan waktu untuk membela orang miskin secara gratis (pro deo/pro
bono publico). Hal ini didasari pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003
tentang Advokat pada pasal 22 yang menyatakan bahwa :
(a) Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada
pencari keadilan yang tidak mampu.
(b) Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian bantuan hukum
secara Cuma-cuma sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Demikian pula pemerintah mempunyai tanggung jawab menyediakan
pembela umum untuk menciptakan keseimbangan dimana negara mempunyai
kewajiban menyediakan penuntut umum/jaksa (public prosecutor). Karena
jaksa dipersiapkan untuk menuntut tersangka/terdakwa sedangkan pembela
umum disiapkan untuk membela tersangka/terdakwa.

xii

C. Dasar Konstitusional Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu


Berdasarkan Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa Fakir
miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Berdasarkan
ketentuan Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 tersebut negara mengakui hak
ekonomi, sosial, budaya, sipil dan politik dari fakir miskin. Atas dasar
pertimbangan tersebut, fakir miskin memiliki hak untuk diwakili dan dibela
oleh advokat baik di dalam maupun di luar pengadilan (legal aid) sama seperti
orang mampu yang mendapatkan jasa hukum dari advokat (legal service).
Penegasan sebagaimana diambil dari Pasal 34 ayat (1) UUD 1945
memberikan implikasi bahwa bantuan hukum bagi fakir miskin pun
merupakan tugas dan tanggung jawab negara dan merupakan hak
konstitusional.
Disamping itu kegiatan bantuan hukum harus dilakukan secara lebih
terpadu dan transparan bersama kegiatan penyuluhan hukum. Hal ini perlu
disadari karena program bantuan hukum sebenarnya mempunyai tujuan ganda,
yaitu :
1. Tujuan Kemanusiaan. Program bantuan hukum diberikan dalam rangka
meringankan beban hidup golongan masyarakat yang kurang mampu,
sehingga mereka juga dapat menikmati kesempatan memperoleh keadilan
dan perlindungan hukum.
2. Tujuan Peningkatan Kesadaran Hukum. Program bantuan hukum
diharapkan dapat mendidik masyarakat untuk meningkatkan kadar
kesadaran hukum, sehingga setiap anggota masyarakat menyadari dan
menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan warga
masyarakat.7
Di negara berkembang seperti Indonesia, adanya organisasi bantuan
hukum merupakan hal yang penting, yaitu untuk membantu fakir miskin
dalam menghadapi masalah-masalah hukum karena organisasi bantuan hukum
ini dapat mengurangi kemungkinan fakir miskin tidak memperoleh bantuan
hukum untuk membela kepentingan hukumnya baik di dalam maupun di luar
76

Instruksi Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor :M.03-UM.06.02 Tahun 1999


Tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Golongan Masyarakat Yang Kurang
Mampu Melalui Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Tata Usaha Negara

xiii

pengadilan. Organisasi bantuan hukum dapat membantu fakir miskin untuk


dapat memperoleh pengetahuan tentang hukum, hak asasi manusia, hak sipil
dan politik, hak sosial, hak budaya, dan hak ekonomi. International Covenant
on Civil and Political Rights diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2005 dan International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights (ICESCR) diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2005 untuk memperkuat kewajiban pemerintah/negara untuk membantu
hak fakir miskin baik dalam bidang politik, sosial dan ekonomi, serta bantuan
hukum.
Hambatan perundang-undangan yang dialami selama ini adalah tidak
adanya jaminan untuk memperoleh pembelaan baik bagi orang mampu
maupun fakir miskin baik di dalam UUD 1945 maupun di dalam KUHAP.
Semenjak Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 disahkan, pemberian
bantuan hukum pro bono bukan lagi menjadi hal yang menyangkut etika
ataupun kesukarelaan tiap advokat, namun merupakan sesuatu yang
diwajibkan oleh undang-undang. Ketentuan Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2003 dengan tegas menyatakan bahwa, Advokat wajib
memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang
tidak mampu.
Melihat dari rumusannya, setidaknya ada dua unsur yang terkandung
dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tersebut yaitu
secara cuma-cuma dan kepada pencari keadilan yang tidak mampu.
Dalam prakteknya selama ini, tiap advokat memiliki penafsiran masingmasing mengenai bantuan hukum cuma-cuma. Karena ditafsirkan berbedabeda, otomatis bentuk bantuan hukum pro bono yang diberikanpun berbedabeda dari satu advokat dengan advokat lain.
Jaminan untuk menunjuk advokat atau pembela umum harus berlaku
untuk semua perkara dan bukan hanya sebagaimana yang diatur dalam Pasal
56 KUHAP, yang menyatakan untuk tindak pidana yang dituntut hukuman
lima belas tahun atau lebih atau dituntut hukuman mati, sedangkan bagi
tersangka atau terdakwa yang tergolong fakir miskin baru dapat diberikan

xiv

bantuan hukum secara cuma-cuma apabila diancam hukuman pidana selama


lima tahun atau lebih. Hal ini adalah dalam rangka menjamin agar setiap orang
dapat memperoleh pembelaan advokat atau pembela umum secara maksimal
dalam rangka memastikan pelaksanaan dari proses peradilan yang adil (due
process of law).
Program pemberian bantuan hukum bagi masyarakat tidak mampu
dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di bawah ini :
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman;
Pasal 13 (1) tentang : Organisasi , administrasi , dan finansial Mahkamah
Agung dan badan peradilan yang berada di bawah kekuasaan Mahkamah
Agung.
Pasal 37 tentang : Setiap orang yang tersangkut perkara berhak
memperloleh bantuan hukum. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana :
Pasal 56 (1) tentang : Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau
didakwa melakukan tindak pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun
atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana
lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penaeihat hukum sendiri, pejabat
yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan
wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka ;
Pasal 56 (2) tentang : Setiap penasehat hukum yang ditunjuk untuk
bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), memberikan bantuannya
dengan cuma-cuma.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (HIR/RBG) Pasal 237
HIR/273 RBG tentang : Barangsiapa yang hendak berperkara baik sebagai
penggugat maupun sebagai tergugat, tetapi tidak mampu menanggung
biayanya, dapat memperoleh izin untuk berperkara dengan cuma-cuma.
Instruksi Menteri Kehakiman RI No. M 01-UM.08.10 Tahun 1996, tentang
Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Yang
Kurang Mampu Melalui Lembaga Bantuan Hukum
Instruksi Ment eri Kehakiman RI No. M 03-UM.06.02 Tahun 1999,
tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Masyarakat

xv

Yang Kurang Mampu Melalui Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha
Negara.
Surat Edaran Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata
Usaha Negara No. D.Um.08.10.10 tanggal 12 Mei 1998 tentang JUKLAK
Pelaksanaan Bantuan Hukum Bagi Golongan Masyarakat Yang Kurang
Mampu.
Apabila mengacu pada ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP yang berbunyi
:
Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan
tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima
belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam
dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum
sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan pada
proses peradilan wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka,.
Maka sebenarnya setiap pejabat yang memeriksa tersangka atau terdakwa
pada semua tingkat pemeriksaan, meliputi polisi pada tingkat penyidikan,
jaksa pada tingkat penuntutan, dan hakim pada tingkat pemeriksaan di
pengadilan, mempunyai kewajiban untuk menyediakan bantuan hukum, atau
memastikan bahwa tersangka atau terdakwa yang diperiksa didampingi oleh
seorang penasehat hukum.
Bahkan menurut ayat (2) dari Pasal yang bersangkutan, yang menyatakan
bahwa : Setiap penasehat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimna
dimaksud dalam ayat (1), memberikan bantuannya dengan cuma-cuma, para
advokat juga tidak luput dari kewajiban serupa, yaitu menyediakan bantuan
hukum secara cuma-cuma bagi tersangka atau terdakwa berdasarkan
permintaan yang diajukan oleh para pejabat di lingkungan peradilan
sebagaimana disebutkan di atas.
Agar bantuan hukum yang diberikan bermanfaat bagi seluruh masyarakat,
maka perlu dalam pelaksanaannya dilakukan secara merata dengan penyaluran
melalui berbagai institusi penegakan hukum yang ada seperti pengadilan,
kejaksaan, organisasi advokat, maupun organisasi-organisasi masyarakat yang
bergerak dibidang bantuan hukum.

xvi

Sebagaimana telah diketahui dan juga telah dijelaskan diawal, pelaksanaan


bantuan hukum kepada masyarakat tidak hanya sebatas untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan pendampingan advokat dalam setiap proses
hukum melainkan lebih dari hal tersebut adalah bagaimana menjadikan
masyarakat untuk mengerti hukum dan dapat mengkritisi produk hukum yang
ada. Pengakuan Negara harus diwujudkan bagi pertisipasi masyarakat dalam
pembentukan hukum. Hal yang terakhir ini dilaksanakan diantaranya dengan
memberikan pendidikan hukum (civics education) kepada masyarakat.
Pada tataran normatif, diperlukan adanya pengaturan khusus yang sifatnya
memfasilitasi pelaksanaan bantuan hukum. Melihat kebutuhan dan keberadaan
undang-undang ini dalam rangka menjamin hak masyarakat untuk mendapat
keadilan maka dirasa perlu adanya peraturan/undang-undang tentang bantuan
hukum. Sebaiknya kalaupun ada undang-undang tentang bantuan hukum
hendaknya tidak dilihat dari perspektif pelaksana pemberian bantuan hukum,
melainkan dari kacamata masyarakat yang membutuhkannya, sehingga
diharapkan materi pengaturan yang tercakup di dalamnya akan tepat pada
sasaran yang dituju.8
Dengan kata lain, jaminan terhadap bantuan hukum tidak berkaitan dengan
adanya undang-undang bantuan hukum. Ketika yang dibicarakan adalah
bantuan hukum dalam konteks struktural, maka perlu juga diperhatikan upaya
pengembangan kapasitas masyarakat untuk mampu menyelesaikan sendiri
permasalahan hukum yang dihadapinya lewat ketentuan yang memungkinkan
diterapkannya Alternative Dispute Resolution (ADR). Perlu juga diperhatikan
jaminan terhadap hak masyarakat untuk mengembangkan pengetahuannya dan
sikap kritis terhadap setiap produk hukum negara maupun yurisprudensi yang
dihasilkan pengadilan, dengan adanya ketentuan mengenai kebebasan
mendapatkan informasi, serta berbagai ketentuan lain yang akan memberi
iklim kondusif bagi terselenggaranya bantuan hukum individual maupun
struktural.
Bantuan hukum individual seperti yang dikatakan sebelumnya, lebih
tertuju

pada

kegiatan

pendampingan

87

terhadap

masyarakat

dalam

Frans Hendra Winata, Bantuan Hukum Suatu Hak Asasi Manusia Bukan Belas Kasihan,
(Jakarta: Elex Media Komputindo, 2000)., h. 34

xvii

menyelesaikan masalahnya melalui proses hukum sehingga proses tersebut


berjalan sebagaimana mestinya tanpa ada diskriminasi hukum terhadap
mereka. Hal ini mengakibatkan perlunya kualifikasi tertentu, yaitu sarjana
hukum yang menjadi advokat, bagi pelaksana bantuan hukum individual.
Sementara bantuan hukum struktural kegiatannya lebih mengarah kepada
proses pemberdayaan dan penyadaran masyarakat hukum supaya mereka
dapat memperjuangkan hak-haknya yang dilanggar pada cara tertentu.9
Bantuan hukum struktural selama tidak bersentuhan langsung dengan
proses peradilan dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus memenuhi
kualifikasi sarjana hukum sebagai advokat. Perbedaan lainnya terlihat pada
target sasaran yang dituju, kalau pada bantuan hukum individual targetnya
yaitu masyarakat secara individu sedangkan dalam bantuan hukum struktural
targetnya adalah masyarakat dalam arti kolektif.
Pada bantuan hukum individual, ada 2 (dua) cara yang dapat digunakan
supaya pelaksanaan bantuan hukum dapat berjalan dengan baik dan mencapai
sasarannya yaitu:
Memberdayakan organisasi organisasi masyarakat / swasta yang
memberikan jasa bantuan hukum seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH),
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) ataupun Biro Bantuan
Hukum (BBH) yang diadakan oleh universitas-universitas, dan lain-lain. Di
sini masyarakat dapat secara langsung atau melalui pengadilan meminta
bantuan kepada organisasi masyarakat/swasta tersebut.
Memberdayakan organisasi advokat. Pada model ini masyarakat dapat
secara langsung atau melalui pengadilan meminta bantuan kepada organisasi
advokat dimana nantinya organisasi advokat akan menunjuk anggotanya untuk
membela anggota masyarakat yang tidak mampu.
Cara-cara diatas, pada tingkatan proses perkara di Kepolisian maupun
Kejaksaan, untuk tersangka/terdakwa yang tidak memiliki penasehat hukum,
aparat polisi maupun jaksa yang menangani perkara tersebut wajib
memintakan pendampingan penasehat hukum untuk tersangka/terdakwa
tersebut melalui pengadilan.
9

Ibid

xviii

Sementara pelaksanaan bantuan hukum (Advokasi) struktural dapat


dilakukan melaui 3 (tiga) cara, yaitu :
1. Jalur non-litigasi, dimana lembaga-lembaga bantuan hukum yang ada dan
setiap komponen masyarakat yang berkepentingan membantu memberikan
pendidikan hukum kepada masyarakat guna menyadarkan mereka akan
hak-haknya. Misalnya dengan menempelkan poster-poster di tempattempat umum, di institusi-institusi penegakan hukum yang berisi hak dan
kewajiban mereka, membuat buklet-buklet yang berisikan informasi
mengenai hak masyarakat dan kemudian disebarkan secara umum kepada
masyarakat, atau dapat pula secara langsung mengadakan kontak dengan
masyarakat

melalui

diskusi-diskusi

yang

bertujuan

memberikan

penyuluhan hukum kepada mereka. Yang intinya adalah meyadarkan


masyarakat akan pentingnya hukum yang selama ini masih menjadi milik
pemilik modal dan penguasa.
2. Jalur litigasi, di sini para aktifis bantuan hukum yang secara formal
menyandang hak berpraktek sebagai advokat menggunakan jalur hukum
untuk mengkritisi peraturan perundang-undangan positif yang ada.
Misalnya dalam penanganan kasus-kasus politik, forum pengadilan
dijadikan

sebagai

corong

dengan

persetujuan

kliennya

untuk

menyampaikan pesan ketidak adilan bahwa suatu produk hukum tertentu


tidak benar.
3. Policy reform, yaitu mengartikulasikan berbagai cacat yang terdapat dalam
hukum positif dan kebijakan yang ada, untuk dikritisi serta kemudian
memberikan alternatif-alternatif yang mungkin

xix

BAB III
KESIMPULAN
Bantuan hukum adalah hak dari orang miskin yang dapat diperoleh tanpa
bayar (pro bono publico) sebagai penjabaran persamaan hak di hadapan hukum.
Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 34 UUD 1945 di mana di dalamnya
ditegaskan bahwa fakir miskin adalah menjadi tanggung jawab negara
Tugas dan fungsi advokat didasari pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun
2003 tentang Advokat pada pasal 22 yang menyatakan bahwa : (b) Advokat wajib
memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang
tidak mampu.
Landasan konstitusional pemberian bantuan hukum kepada terpidana tidak
mampu terdapat pada Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003
dengan tegas menyatakan bahwa, Advokat wajib memberikan bantuan hukum
secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.

xx

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Aspek aspek bantuan hukum di indonesia, (Yogyakarta: Cendana
Press, 1983)
Todung Mulya Lubis, Gerakan Bantuan Hukum Di Indonesia :Sebuah Studi
Awal dalam Abdul Hakim Garuda Nusantara Dan Mulayan W.
Kusumah, Beberapa Pemikiran Mengenai Bantuan Hukum: Kearah
Bantuan Hukum Struktural, Alumni, Bandung
Fuady, Munir, Aliran Hukum Kritis (Paradigma Ketidakberdayaan Hukum),
Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003).,
Baca Hendra Winata, Frans Advokat Indonesia, citra, idealisme dan kepribadian
(Jakarta: Sinar Harapan,1995).,
Dimensi Moral Profesi Advokat dan Pekerja Bantuan Hukum.
www.komisihukum.go.id di akses tanggal 29 Januari 2009
Instruksi Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor :M.03-UM.06.02 Tahun
1999 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi
Golongan Masyarakat Yang Kurang Mampu Melalui Pengadilan Negeri
Dan Pengadilan Tata Usaha Negara
Frans Hendra Winata, Bantuan Hukum Suatu Hak Asasi Manusia Bukan Belas
Kasihan, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2000).,

xxi