Anda di halaman 1dari 10

Analisis Keadaan

Sempadan Sungai dan Pantai


DKI Jakarta

Khurniaty Dewi -15813019

Sempadan Sungai
Sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan
yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu,
berwawasan lingkungan hidup dengan mewujudkan
pemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan yang
digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
(UU SDA No. 7 Tahun 2004).
Dalam rangka mewujudkan kemanfaatan sungai serta
mengendalikan kerusakan sungai, perlu ditetapkan garis
sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai.
Garis sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi
acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan dan
perlindungan sungai serta sebagai batas pemukiman di
wilayah sepanjang sungai.

Sempadan Sungai
Dalam PP 38 tahun 2001 tentang Sungai, disebutkan :
Sempadan sungai berfungsi sebagai ruang penyangga
antara ekosistem sungai dan daratan agar fungsi
sungai dan kegiatan manusia tidak saling terganggu.
Kawasan sempadan sungai adalah wilayah sepanjang
kiri dan kanan sungai, termasuk sungai
buatan/kanal/saluran irigasi primer yang memiliki
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian
fungsi sungai.

Kondisi Sempadan Sungai DKI Jakarta


Terjadi pemanfaatan kawasan sempadan sungai. di beberapa
daerah hilir dan muara sungai telah terjadi perubahan bentuk
alamiah sungai/kali digunakan untuk bangunan (jarak sempadan
sungai telah habis dipergunakan untuk bangunan. (misal seperti
sempadan sungai Ciliwung)
Pengendalian penggunaan lahan di kawasan sempadan sungai
masih belum ketat, sehingga banyak Ruang Terbuka Hijau yang
berubah fungsi.
Penyediaan lahan terbuka hijau belum terintegrasi dengan
pendirian bangunan, dan kurangnya pemahaman masyarakat
tentang fungsi ekologi kawasan sempadan sungai.
Jenis dan jumlah vegetasi yang belum memadai untuk menjaga
fungsi ekologi lingkungan sekitar sempadan sungai.

Pembenahan Kawasan Sempadan Sungai DKI Jakarta


Perlu dilakukan penertiban dan pembenahan warga yang
tinggal di darah bantaran sungai.
Bantaran sungai yang ada kemudian dibenahi dengan
cara membangun tanggul yang lebih tinggi dan
menambah kedalaman serta lebar sungai agar dapat
menampung limpahan air hujan lebih banyak.
Daerah di sekitar sungai juga akan direboisasi untuk
menambah daerah resapan.
Selain itu, perlu juga ketegasan pemerintah daerah
dalam menindak pelanggaran terhadap sungai yang
bersifat proaktif dan menyeluruh. Baik yang menyangkut
perorangan maupun perusahaan yang ada di Jakarta.
Perlu adanya penggerakan program pemeliharaan sungai
secara berkala.

Sempadan Pantai
PP No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil menegaskan, yang dimaksud dengan
sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai
yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
pantai, serta berjarak minimal 100 meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat.
Penetapan batas sempadan pantai ditetapkan oleh
pemerintah daerah yang disesuaikan dengan karakteristik
topografi, biofisik, hidro-oseanografi pesisir, kebutuhan
ekonomi dan budaya, serta ketentuan lain.

Kondisi Sempadan Pantai DKI Jakarta


Perlindungan pada wilayah pesisir sering terabaikan. Kegiatan
ekonomi lebih cenderung mendominasi wilayah ini, meski tak
semuanya berupa pabrik.
Banyak pengrusakan juga telah terjadi di wilayah sempadan
pantai yang seharusnya menjadi kawasan lindung justru
menjadi lahan budidaya, lahan permukiman bahkan lahan
komersil dan servis kota.
Kebijakan reklamasi yang tidak berdasarkan kepada analisa
dampak lingkungan. Perizinan pengembangan usaha bagi
kalangan dunia usaha selama ini sebagian besar menjadi
kewenangan pusat. Kadangkala dalam hal ini pemberian izin
tersebut tanpa memperhatikan kepentingan daerah dan
masyarakat setempat.
Kurangnya pemahaman masyarakat akan sempadan pantai.

Pengelolaan Sempadan Pantai


1) Sosialisasi rencana pengelolaan kawasan
sempadan pantai kepada seluruh masyarakat yang
bermukim di sekitar pantai dan kepada seluruh
stakeholders pembangunan terkait;
2) Penanaman tanaman bakau di pantai yang landai
dan berlumpur atau tanaman keras pada pantai yang
terjal/bertebing curam;
3) Mencegah munculnya kegiatan budidaya di
sepanjang pantai yang dapat mengganggu atau
merusak kualitas air, kondisi fisik dan dasar pantai.