Anda di halaman 1dari 8

PERAWATAN DERMATOLOGI PADA LANSIA

Kulit adalah organ yang paling luas pada tubuh, mewakili kira-kira 16% dari
berat badan orang dewasa. Kulit merupakan organ satu-satunya yang dapat
disentuh, dipijat, dan direnggangkan. Kulit bersifat fleksibel terhadap perubahanperubahan yang terjadi sepanjang kehidupan sehari-hari. Secara struktural, kulit
adalah suatu organ kompleks yang terdiri dari epidermis, dermis, dan subkutis. Hal
yang dikaitkan dengan penuaan adalah khususnya perubahan yang terlihat pada kulit
seperti atropi, keriput, dan kulit yang kendur.
A. Perubahan yang Terjadi
Secara struktural, kulit terdiri dari tiga lapisan: epidermis, dermis, dan jaringan
subkutan. Sedangkan menurut perubahan kulit dapat terjadi pada stratum korneum,
epidermis, dermis, jaringan subkutan, dan bagian tambahan dari kulit meliputi
rambut, kuku, korpus pacini, korpus meissner, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.
Sulit untuk membedakan antara perubahan yang ketat disebabkan penuaan dan yang
terjadi karena faktor risiko. Genetika, gaya hidup, dan faktor lingkungan
mengerahkan dampak yang signifikan pada kulit selama kehidupan dan memiliki efek
kumulatif pada orang dewasa yang lebih tua.
1. Stratum Korneum
Lapisan terluar dari epidermis dan terdiri dari timbunan korneosit.
Dengan

adanya peningkatan usia, jumlah keseluruhan sel dan lapisan sel

secara esensial tetap tidak berubah, tetapi kohesi sel menjadi lambat,
menghasilkan

waktu penyembuhan

yang lebih lama. Pelembab

pada

stratum korneum berkurang, tetapi status barier air tampaknya tetap


terpelihara, yang berakibat pada penampilan kulit yang kasar dan kering.
2. Epidermis
Pada lapisan ini terjadi perlambatan dalam proses perbaikan sel, jumlah sel
basal yang lebih sedikit, dan penurunan jumlah dan kedalaman rete ridge yang
mengurangi kontak epidermis dengan dermis. Terjadi penurunan jumlah
melanosit seiring penuaan dan sel yang tersisa mungkin tidak dapat berfungsi
secara normal. Penurunan kompresi imun merupakan hasil dari keseluruhan
penurunan jumlah sel langerhans sehingga respons lansia terhadap

pemeriksaan kulit berkurang. Kerusakan struktur nukleus keratinosit dapat


juga dilihat yang mencerminkan suatu perubahan pertumbuhan sel yang
abnormal sehingga lansia cenderung mengalami keratosis seboroik dan lesi
kulit papilomatosa (akrokordon) serta neoplasia.
3. Dermis
Terjadi penurunan volume dermis menjadi tipis dan jumlah sel biasanya
menurun. Hal tersebut menyebabkan timbulnya penyakit pada kulit,
penutupan dan penyembuhan luka yang lambat, penurunan termoregulasi,
penurunan respons inflamasi, dan absorbsi kulit terhadap

zat-zat

topikal.

Penurunan elastisitas dan kolagen yang secara bertahap dihancurkan


oleh enzim-enzim menghasilkan adanya kantung atau pengeriputan.
Organisasi kolagen menjadi tidak teratur dan turgor kulit hilang. Juga terjadi
penurunan vaskularitas, fibroblas, makrofag, dan sel batang sehingga
kulit

tampak

Sehingga

pucat

lansia

dan

beresiko

kurang
tinggi

mampu melakukan
mengalami

termoregulasi.

hipertermia

atau

hipotermia.
4. Jaringan Subkutan
Terjadi penipisan sehingga terjadi kelemahan kulit dan penampilan
kulit yang kendur/menggantung diatas tulang rangka. Lapisan lemak
turut mengalami penurunan terutama pada daerah wajah, tangan, kaki, dan
betis sehingga pembuluh darah menjadi lebih terlihat jelas.
5. Bagian tambahan dari kulit
Pada bagian ini meliputi rambut, kuku, korpus pacini, korpus meissner,
kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Rambut pada umumnya terus
bertambah beruban diiringi dengan penipisan rambut dikarenakan penurunan
jumlah folikel rambut. Pertumbuhan kuku menjadi berkurang, lunak, rapuh,
kurang berkilau, dan cepat mengalami kerusakan. Korpus pacini dan meissner
menurun sekitar dua pertiga dari usia 30 sampai usia 90 tahun, menyebabkan
penurunan sensasi sentuhan (Meissner) dan sensasi tekanan (pacini). Kelenjar
keringat yang sedikit ditambah dengan penerunan kemampuan fungsional
menyebabkan lansia memiliki penurunan respons dalam berkeringat. Bau
badan pada lansia berkurang karena jumlah kelenjar apokrin pada aksila dan

kemaluan berkurang. Kelenjar sebasea menjadi lebih besar seiring dengan


peningkatan ukuran pori-pori akibat penuaan, namun terjadi penurunan 4050% produksi sebum, sehingga kulit menjadi kering.
B. Masalah umum kulit pada lanjut usia
a. Pada lansia,terjadi perubahan sistem kulit & jaringan ikat.
- Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
- Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya
-

jaringan adiposa
Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak

begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.


Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran

darah dan menurunnya sel sel yang memproduksi pigmen.


Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan

luka luka kurang baik.


Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna

rambut kelabu.
Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.
Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang

banyak rendahnya akitfitas otot.


Kerusakan kulit yang berhubungan dengan penuaan dini karena sinar
matahari

b. Penuaan dini
Penuaan dini karena sinar matahari / dermatoheiosis adalah suatu kondisi pada
kulit akibat dari sinar UV yang merusak. Penuaan dini adalah hasil
peradangan kronis yang disebut elastosis. Perubahan tahap akhir penurunan
respon perlindungan kulit terhadap sinar matahari karena distribusi melanin
berkurang dan menjadi tidak beraturan. Oleh karena itu, lansia beresiko tinggi
untuk mengalami kerusakan kulit akibat terpajan sinar matahari yang
berlebihan.
c. Kerusakan kulit yang berhubungan dengan tekanan

Lansia beresiko tinggi mengalami dekubitus karena adanya perubahan nutrisi,


perubahan sensasi, untuk perlindungan terhadap tekanan, adanya penyakit
kronis, defisit perewatan diri, dukungan di rumah tidak adekuat,
inkontinensia, defisit mobilitas, dan perubahan tngkat kesadaran.
d. Penurunan kekuatan imun
Perubahan kompetensi imun mencerminkan perubahan dalam imunitas sel,
seperti penurunaan fungsi dan jumlah sel T dan B. Kecenderungan lansia
untuk menderita kanker kulit juga merupakan akibat suatu gangguan fungsi
imun. Peningkatan kerentanan terhadap virus perkutan dan infeksi jamur
adalah konsekuensi lain dari penurunan fungsi imun lansia
C. Perawatan Kulit Pada Lansia
Kulit merupakan protektor terhadap stimuli dari luar yang berbahaya dan invasi
kuman. Oleh karena perawatan kulit sangat penting sekali, apalagi pada lansia, fungsi
fungsi kulit maupun struktur kulit mengalami perubahan. Hal terpenting dalam
perawatan kulit pada lansia.
1. Kebersihan
Kulit diseluruh bagian tubuh harus terjaga keberesihannya, termasuk bebas dari
keringat, karena dapat mengakibatkan infeksi jamur. Perawatan rambut pada
lanjut usia terutama wanita kadang-kadang mengalami kesulitan dalam mencuci
rambut sehingga perlu mendapat bantuan perawat atau anak cucunya. Sama
halnya dengan kulit, rambut pada lansia juga kehialngan lemaknya sehingga
sehabis keramas perlu diberi conditioner. Setelah selesai mencuci rambut harus
segera dikeringkan agar lansia tidak kedinginan. Perawatan kuku jari tangan dan
kaki pada lansia juga penting yaitu dengan menggunting kuku namun jangan
terlalu pendek dan jangan sampai terluka karena luka pada orang tua lebih sulit
sembuh. Sebaiknya kebersihan kuku juga diperhatikan agar tidak terdapat jamur
pada kuku,hal ini dapat dilakukan dengan merendam sebentar tangan dan kaki
pada air hangat sesaat sebelum melakukan pemotongan kuku.
2. Mengurangi kekeringan dan gatal
Dengan adanya penuaan, maka sekresi minyak dari kulit berkurang, dan akan
menyebabkan kulit kering dan gatal. Garukan ataupun menggunakan air panas,

akan memperberatkan keadaan. Apabila kering kulit mudah pecah pecah dan akan
menimbulkan infeksi. Untuk mengelola kulit adalah memberikan pelembab
berkali kali. Gatal juga akan terpicu dengan penggunaan pakaian dari wool, oleh
karenannya perlu memilih pakaian yang sesuai. Gunakan pakaian katun yang
lembut. Penderita lebih merasa enak dengan piyama tipis.
3. Mandi
Air panas akan menghilangkan minyak pada kulit yang masih ada oleh karena itu
pada lansia hanya boleh menggunakan air hangat, dan menghindari pembersihan
yang berlebihan, karena justru akan menimbulkan rasa gatal, dan berubah menjadi
bath itch, dimana pada kulit di dapatkan bintik-bintik merah. Pada lansia,mandi
harus dibatasi karena kulit lansia biasanya mengering. Di negara barat, banyak
yang menganjurkan mandi cukup 3 kali seminggu. Hal ini karena kelenjar kulit
yang mengeluarkan lemak mulai kurang bekerja. Maka sehabis mandi kulit lansia
sebaiknya diolesi baby oil atau pelembab terutama di lengan, siku, ketiak, paha,
dan lipatan tubuh lainnya. Penggunaan sabun di anjurkan hanya pada tempattempat tertentu saja, bagian tubuh lainnya hanya di bersihkan dengan air hangat
saja.
Pengawasan yang perlu diperhatikan selama perawatan kulit adalah:
- Memeriksa ada tidaknya lecet
- Mengoleskan minyak, pelembab kulit setiap selesai mandi agar kulit tidak
-

terlalu kering atau keriput.


Menggunakan air hangat untuk mandi, yang berguna merangsang peredaran

darah dan mencegah kedinginan.


Menggunakan sabun yang halus dan jangan terlalu sering karena hal ini dapat

mempengaruhi keadaan kulit yang kering dan keriput.


4. Menjaga lingkungan
Suasana lingkungan harus di sesuaikan. Bila memungkinkan jagalah kelembaban
ruang tidur atau ruangan lain di rumah dengan memasang humidifier. Perubahan
temperatur secara tiba-tiba harus dihindarkan.
Untuk menjaga kulit tetap lembab setelah mandi gunakan pelembab. Dalam
memilih kosmetika pada umumnya sama seperti penggunaan kosmetik untuk kulit
kering, yaitu:

a. Pembersih
Pembersih dengan bahan dasar minyak (cleansing cream, cold cream), sabun
lunak misalnya Oilatum dua kali seminggu. Untuk membersihkan wajah,
pada golongan usia ini tidak dianjurkan menggunakan sabun, melainkan
menggunakan krim pembersih dan penyegar yang tidak mengandung
alkohol.
b. Pelembab
Pemakaian pelembab yang mengandung lemak sangat dianjurkan baik pada
pagi hari maupun pada malam hari. Pelembab membuat lapisan lemak tipis
pada permukaan kulit untuk mencegah penguapan air dari kulit sehingga
dapat mempertahankan kelembaban yang masih ada misalnya krim pelembab
yang mengandung minyak nabati, seperti minyak wijen, minyak zaitun atau
krim emolien yang mengandung polyyunsanturated fatty acid dan unsur
lemak lainnya (nourishing cream, night cream, day cream, emolient cream).
Pelembab yang mengandung bahan-bahan hidrofilik, merupakan bahan
topikal yang mempunyai efekifitas melembabkan yang tinggi karena dapat
meningkatkan penyerapan air ke dalam kulit seperti krim yang mengandung
asam laktat 2-5 %, urea 2-10 %, dan alantoin. Preparat topikal yang
mengandung vitamin E bermanfaat karena vitamin E yang larut dalam lemak
dapat penetrasi ke dalam kulit dengan efek berikut :
- Meningkatkan kelembaban kulit
- Sebagai anti oksidan yang menekan pembentukan radikal bebas
-

sehingga menghabat kerusakan sel-sel kulit


Melindungi kulit terhadap kerusakan yang di sebabkan sinar UV

dengan cara menurunkan kadar ornithine decarboxylase di dalam kulit.


Untuk mengatasi keadaan kulit yang kering, kasar dan bersisik, dapat
digunakan krim yang mengandung vitamin A. Bahan ini berfungsi
memperbaiki aliran darah dan menghilangkan lapisan tanduk yang terlalu
tebal sehingga kulit menjadi halus dan lembut.

DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, 2000. Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta : EGC Kedokteran
Setiabudhi, T & Hardiwinoto, 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai
Aspek Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia, Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama

PERAWATAN DERMATOLOGIS
PADA LANSIA

OLEH :
YUNI AZOYA
G1A113023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015/2016