Anda di halaman 1dari 4

Perkembangan Kontrak Hulu Migas di Beberapa Negara

Bagian 3
Seiringnya waktu, terutama melihat dari kebutuhan dari suatu negara memperlihatkan dinamika
perkembangan industri hulu migas yang kian bervariasi. Banyak negara produsen minyak meninjau
ualn ketentuan dan persyaratan fiskal dari model kontrak migas yang sudah ada.
Alasannya, cukup sederhana, ketentuan dan persyaratan yang digunakan pada saat kontrak dibuat,
didasarkan asumsi harga minyak yang rendah yang sama sekali berbeda dengan perkembangan
harga minyak aktual, selain itu juga untuk mengantisipasi perkembangan industri hulu migas agar
tetap dinamis.
Adapun 8 negara dipilih sebagai perbandingan dan pembelajaran, 4 negara mewakili negara-negara
OPEC, yaitu Aljazair, Irak, Iran dan Venezuela. Serta negara-negara di luar OPEC, yaitu Bolivia,
Brazil, Norwegia dan Rusia.
Hari ini kita akan membahas Norwegia, salah satu negara yang termasuk di luar OPEC;
Norwegia
Norwegia termasuk negara produsen terbesar di luar negara-negara OPEC. Produksi minyak pada
2010 sebesar 1,8 juta barel per hari dengan jumlah cadangan terbukti mencapai 7 miliar barel (data
2010/2011).
Sebagaimana negara-negara OECD yang juga produsen minyak, seperti Inggris, Kanada, Amerika
Serikat, Australia. Norwegia hanya mengenal model konsesi. Dari awal, untuk memperoleh porsi
pemerintah dari industri migas, Norwegia memang hanya mengandalkan sistem perpajakan mereka
yang secara administrasi sudah canggih, penggunaan PSC dianggap tidak diperlukan.
Walaupun menggunakan konsesi dan bagian pemerintah hanya diperoleh dari pajak (tidak ada
signature bonus, sementara royalti tidak dikenakan lagi dan berakhir sejak 2005), namun total
bagian penerimaan pemerintah termasuk besar.
Pajak penghasilan sebesar 28%, ditambah pajak lain, yaitu pajak khusus perminyakan (special
petroleum tax) sebesar 50% dari laba netto. Dengan demikian, marginal tax rate = 78%.

Di tingkat manca negara, bagian penerimaan pemerintah sebesar ini termasuk kategori tinggi,
apalagi dibandingkan dengan blok atau lapangan migas di negara lain yang menggunakan sistem
konsesi.
Bagi investor, walaupun bagian penerimaan pemerintah cukup tinggi, namun sistem konsesi
Norwegia dianggap menarik, karena elemen penerimaan bagian pemerintah diperoleh dari pajak.
Tidak seperti royalti yang dikenakan terhadap pendapatan bruto. Pajak dikenakan terhadap
keuntungan bersih (net income). Sistem ini dikenal dengan back-end loaded.
Timbul pertanyaan, mengapa sistem fiskal yang begitu sederhana dapat berjalan dengan baik?
mantan Penasehat Menteri Industri dan mantan Direktur di Direktorat Perminyakan Norwegia
Farouk Al-Kasim dalam bukunya mengatakan, bahwa kesederhanaan kerangka fiskal untuk industri
migas di Norwegia dapat berjalan dengan baik, tidak terlepas dari realitas bahwa sistem tata kelola
negara yang sudah maju.
Farouk menambahkan, 3 faktor yang juga mendukung adalah tradisi lama Norwegia, seperti
keterbukaan, integritas dan transparansi.
(Dirangkum dari Buku Ekonomi Migas, Tinjauan Aspek Komersial Kontrak Migas, Oleh Benny
Lubiantara)

Bagian 5
Seiringnya waktu, terutama melihat dari kebutuhan dari suatu negara memperlihatkan dinamika
perkembangan industri hulu migas yang kian bervariasi. Banyak negara produsen minyak meninjau
ualn ketentuan dan persyaratan fiskal dari model kontrak migas yang sudah ada.
Alasannya, cukup sederhana, ketentuan dan persyaratan yang digunakan pada saat kontrak dibuat,
didasarkan asumsi harga minyak yang rendah yang sama sekali berbeda dengan perkembangan
harga minyak aktual, selain itu juga untuk mengantisipasi perkembangan industri hulu migas agar
tetap dinamis.
Adapun 8 negara dipilih sebagai perbandingan dan pembelajaran, 4 negara mewakili negara-negara
OPEC, yaitu Aljazair, Irak, Iran dan Venezuela. Serta negara-negara di luar OPEC, yaitu Bolivia,
Brazil, Norwegia dan Rusia.

Hari ini kita akan membahas Irak, salah satu negara yang mewakili OPEC;
Irak
Ada dua jenis pilihan yang tersedia ketika membahas model yang cocok untuk Irak, yaitu Service
Contract (SC) dan PSC. Adanya 2 model tersebut dikarenakan permasalahan di Irak relatif lebih
kompleks dengan adanya wilayah otonomi Kurdistan yang juga mempunyai cadangan minyak.
Mereka (Kurdistan) mempunyai UU Migas sendiri yang belum tentu sejalan dengan kepentingan
pemerintah pusat di Baghdad. Walaupun ditentang oleh Baghdad, Pemerintah Regional
Kurdistan/KRG tetap berjalan sendiri dengan UU Migas mereka yang menggunakan pola PSC.
Namun, pemerintah pusat lebih memilih model SC untuk proyek rehabilitas fasilitas produksi dan
sumur-sumur dari lapangan besar. Model SC yang dipilih pemerintah pusat di Baghdad, lebih
dikenal dengan istilah technical service agreement (TSA).
Di dalam model TSA, IOC diminta untuk melakukan beberapa pekerjaan mulai dari menyiapkan
dana investasi, mengembangkan lapangan minyak sesuai dengan rencana pengembangan yang telah
disetujui dan bertanggung jawab untuk memenuhi target produksi yang telah ditetapkan.
Adapun karateristik TSA sebagai berikut:
- Dua paramater yang menentukan dalam proses tender, yaitu target produksi (plateau production
target/PPT) dan jasa remunerasi (remuneration fee)
- Pembayaran jasa remunerasi tersebut dimulai pada saat produksi mencapai first commercial
production (FCP), dalam banyak kasus FCP besarnya 10% di atas level produksi yang telah
ditetapkan sebagai basis perhitungan (producton baseline)
- IOC mempunyai pilihan pembayaran, apakah dalam bentuk kas atau dalam bentuk natura (minyak
mentah)
- Periode kontrak 20 tahun (dengan opsi perpanjangan tergantung negosiasi)
- Bonus pada saat penandatanganan kontrak
- 25% partisipasi pemerintah
- Pajak penghasilan sebesar 35% dari keuntungan netto
Mekanisme perhitungan:
1. Pembayaran jasa remunerasi (termasuk pengembalian biaya) dimulai pada saat produksi

mencapai level FCP, dengan maksimum jumlahnya tidak lebih dari 50% pendapatan bruto
2. Jasa remunerasi berdasarkan skala berjenjang (sliding scale), akan semakin berkurang apabila
rasio pendapatan (revenue) terhadap biaya (cost) meningkat
3. Apabila PPT tidak tercapai, besarnya jasa remunerasi juga akan diturunkan sebanding dengan
rasio produksi aktual dan PPT
(Dirangkum dari Buku Ekonomi Migas, Tinjauan Aspek Komersial Kontrak Migas, oleh Benny
Lubiantara)