Anda di halaman 1dari 6

Borang Portofolio Internship RSU Berkah Pandeglang Periode November 2015- 2016

Nama Peserta
Nama Wahana
Topik
Tanggal (kasus)
Nama Pasien
Tanggal Presentasi
Tempat Presentasi
Obyektif presentasi
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus
Lansia
Deskripsi

dr. Aqsha Amanda


RSU Berkah Pandeglang
Demam tifoid
21 Januari 2016
An. F

No. RM :
Nama Pendamping : dr. Yeni

RSU Berkah Pandeglang


Keterampilan
Penyegaran
Manajemen
Masalah
Bayi
Anak
Bumil
An. laki-laki, 14 tahun, demam naik turun disertai

Tinjauan Pustaka
Istimewa
Remaja
berkeringat sejak 1

Tujuan :
Bahan bahasan :
Cara membahas :

minggu sebelum masuk RS.


Penatalaksanaan dan pencegahan demam tifoid
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
Email

Data Pasien :
Nama Klinik :

Nama : An. F
Usia : 14 tahun
No Registrasi :
RSU Berkah Pandeglang
Telepon :
Terdaftar Sejak :

Audit
Pos

Data Utama untuk bahan diskusi :


1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan demam sejak 1 minggu sebelum masuk RS. Demam naik
turun terutama dirasakan sore menjelang malam. Demam disertai berkeringat dan tidak
menggigil. Selain itu, pasien mengeluh belum BAB 5 hari, sakit kepala, mual dan tidak
nafsu makan. Pasien menyangkal adanya batuk, riwayat kontak dengan penderita tb paru
dan gangguan pada buang air kecil. Os juga menyangkal berpergian ke daerah endemis
malaria seperti Sumur, Lampung ,dll.
2. Riwayat Pengobatan :
4 hari sebelum masuk RS pasien berobat ke puskesmas dan diberikan obat paracetamol
dan vitamin
3. Riwayat Kesehatan :
Pasien mengaku tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada
5. Riwayat Pekerjaan :

Pasien belum bekerja. Pasien sekarang duduk dikelas 2 SMP.


6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (Rumah, Lingkungan, Pekerjaan)
Pasien tinggal bersama orangtua dan kakak. Pasien merupakan anak ke-2 dari 2
bersaudara. Sumber air di rumah pasien berasal dari air sumur dan terkadang ibu pasien
menampung air hujan untuk digunaan sehari-hari. Kamar mandi pasien berjumlah satu
dan berlokasi di dalam rumah. Tempat pembuangan sampah di rumah pasien berada di
halaman rumah pasien. Pasien mengaku sering jajan makanan diluar yang kebersihannya
tidak diketahui.
7. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus)
Ibu pasien lupa.
8. Lain-lain (Pemeriksaan fisik dan Penunjang)
Tanda Vital ( UGD RSU Berkah 21-01-16)
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 58x/ menit
RR : 24x/ menit
Suhu : 37.9 C
GCS : E4M6V5 (15)
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/ THT : coated tongue +
Leher : JVP tidak distensi, dalam batas normal
Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/ Jantung : BJ I-II regular, murmur -/-, gallop -/ Abdomen : Datar lembut. Bising usus (+). Nyeri epigastrium (+) Hepar dan lien

tidak teraba
Ekstremitas : CRT > 2 detik, Edema -/Hasil Laboratorium (21-1-16)
Hb : 11.3 g/dl
Ht : 34%
Leukosit : 7500/ uL
Trombosit : 235.000/uL
GDS : 125 mg/dL

S Typhi-O : Positif 1/320

S Typhi-H : Positif 1/320

S Paratyphi A-H : Positif 1/320

S. Paratyphi B-H : Positif 1/320


Daftar Pustaka:
1. Soedarmo,Sumarmo.,dkk.Demam tifoid. Dalam : Buku ajar infeksi & pediatric
tropis.Ed.2. Jakarta : Badan Penerbit IDAI: 2008.H.338-45.

2. WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.Pedoman Bagi Rumah

Sakit Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. Jakarta : WHO Indonesia : 2008. H.157-67.


3. Kool, Jacob, et all. Guidelines for diagnosis, management, and prevention of typhoid
fever. 2010. Available at www.health.gov.fj/wp-content/upload/2014/05/. 2015, January
4th.
Hasil Pembelajaran
1. Diagnosis demam tifoid
2. Tatalaksana demam tifoid

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio:


1. Subyektif:
Pasien datang dengan keluhan demam sejak 1 minggu sebelum masuk RS. Demam
naik turun terutama dirasakan sore menjelang malam. Demam disertai berkeringat dan
tidak menggigil. Selain itu, pasien mengeluh belum BAB 5 hari, sakit kepala, mual dan
tidak nafsu makan. Pasien menyangkal adanya batuk, riwayat kontak dengan penderita tb
paru dan gangguan pada buang air kecil. Os juga menyangkal berpergian ke daerah
endemis malaria seperti Sumur,Lampung,dll.
2. Obyektif:
Tanda Vital ( UGD RSU Berkah 20-01-16)
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 58x/ menit
RR : 24x/ menit
Suhu : 37.9 C
THT : coated tongue +
Abdomen : Nyeri epigastrium (+)
Hasil Laboratorium (20-1-16)
Hb : 11.3 g/dl
Ht : 34%

Leukosit : 7500/ uL
Trombosit : 235.000/uL
GDS : 125 mg/dL

S Typhi-O : Positif 1/320

S Typhi-H : Positif 1/320

S Paratyphi A-H : Positif 1/320

S. Paratyphi B-H : Positif 1/320

3. Assessment : Demam Tifoid


Demam tifoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. Typhi, s. Paratyphi A,
dan S. Paratyphi B dan C. Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat
motil, tidak membentuk spora, dan tidak berkapsul. Organisme salmonella tumbuh secara
aerob dan mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. Kebanyakan spesies resistent terhadap
agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54,4 C (130 F) selama 1 jam
atau 60 C (140 F) selama 15 menit. Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan
suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu.
Lingkungan yang tidak bersih, yang terkontaminasi dengan Salmonella typhi merupakan
penyebab paling sering timbulnya penyakit tifoid. Kebiasaan tidak sehat seperti jajan
sembarangan, tidak mencuci tangan menjadi penyebab terbanyak penyakit ini. Penyakit
tifoid cukup menular lewat air seni atau tinja penderita. Penularan juga dapat dilakukan
binatang seperti lalat dan kecoa yang mengangkut bakteri ini dari tempat-tempat kotor.
Manifestasi Klinis
-

Demam >7 hari, step ladder, remiten, tinggi menjelang sore ke malam hari
Gangguan gastrointestinal
Coated tongue
mialgia
Bradikardi relative
Rose spot (jarang)
Penurunan kesadaran

Diagnosis
Pemeriksaan bakterologi:

1. Kultur darah
80-90% (+) minggu ke 2
50% (+) minggu ke 3
Untuk daerah endemik dimana sering terjadi penggunaan antibiotik yang tinggi,
sensitivitas kultur darah rendah (hanya 10-20% kuman saja yang terdeteksi)
2. Kultur feses dan urin (+) minggu ke 3-4 carrier??
3. Kultur empedu diagnosis devinitif (+) minggu ke 1 sulit, lama
4. Widal (+) minggu ke 1
antibodi somatic (O) terdeteksi hari ke 6-8 , bertahan 4-6 bln

antibodi flagella (H) terdeteksi hari ke 10-12 , bertahan lebih lama

Antibodi simpai (Vi) timbul lebih lambat dan biasanya menghilang setelah
penderita sembuh dari sakit

antigen demam paratyphoid flagella(A,B,C).

Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).

Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan
titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).

Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada
pasien dengan gejala klinis khas.
Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin 1/40 dengan memakai uji

widal slide aglutination menunjukkan nilai positif 96%. Artinya apabila hasil tes
positif, 96% kasus benar sakit demam tifoid, akan tetapi apabila negatif tidak
menyingkirkan.
Banyak center mengatur pendapat apabila titer O aglutinin sekali periksa 1/200
atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat
ditegakkan.
5. Tubex
Mendeteksi serum antibody immunoglobulin M (Ig M) terhadap antigen O9 (LPS) yang
sangat spesifik terhadap bakteri salmonella typhi.
6. ELISA spesifik >>> , sensitif >>> daripada tubex.
Tes untuk mendeteksi adanya antibody Ig G, Ig A, dan Ig M anti-LPS salmonella typhi.
Antigen yang digunakan berupa subselular struktur yaitu LPS, outer membrane (OM),
flagella (d-H) yang lebih sangat spesifik terhadap s.typhi, yang paling bagus memberikan

hasil adalah LPS dan OM antigen.


Tatalaksana
Tatalaksana yang sesuai adalah pemberian antibiotik dan terapi simtomatik. Menurut
Guidelines for the diagnosis, management, and prevention of typhoid fever, antibiotic pilihan
utama adalah golongan kuinolon yaitu siprofloksasin. Namun karena

banyaknya resistensi

terhadap siprofloksasin, maka digunakan obat lini kedua yaitu ceftriakson (sefalosporin generasi
ketiga).
4. Planning :
Terapi:
Infus RL 20 tpm
- Tirah baring total dan mobilisasi bertahap
- Diet lunak
- Ceftriaxon inj. 2x1gr
- Paracetamol infuse 3x500 mg- Ondansetron 3x4 mg

Edukasi

Menghindari jajan sembarangan

Mencuci tangan sebelum makan

Mencuci tangan setelah buang air besar

Memberitahukan keluarga untuk tidak menggunakan air hujan sebagai salah satu
sumber air

Memberitahu keluarga bahwa penyakit ini membutuhkan istirahat total

Menjaga pola makan pasien dengan diet lunak ( bubur saring) yang diberikan
dalam porsi sedikit tapi sering, mengandung kalori dan protein yang tinggi, serta
menghindari mengonsumi makanan maupun minuman yang mengandung gas,
pedas dan asam.