Anda di halaman 1dari 59

BAB III

DASAR TEORI
3.1 Karakteristik Reservoir
Reservoir merupakan suatu tempat terakumulasinya fluida hidrokarbon
dan air. Gambar 3.1 di bawah ini menunjukkan karakteristik reservoir

Gambar 3.1 Karakteristik Reservoir 11)


Proses akumulasi minyak bumi di bawah permukaan haruslah
memenuhi beberapa syarat, yang merupakan unsur-unsur keterdapatan
minyak bumi. Unsur-unsur yang menyusun sistem minyak bumi adalah
sebagai berikut :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak
bumi, gas bumi atau keduanya. Biasanya batuan reservoir berupa lapisan
batuan yang porous dan permeable.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan batuan yang bersifat
impermeable, yang terdapat pada bagian atas suatu reservoir, sehingga
berfungsi sebagai penyekat fluida reservoir.
3. Perangkap reservoir (reservoir trap), merupakan suatu unsur pembentuk
reservoir yang mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga lapisan
beserta penutupnya merupakan bentuk konkav ke bawah dan dan
menyebabkan minyak dan gas bumi berada dibagian teratas reservoir.
Karakteristik suatu reservoir sangat dipengaruhi oleh karakteristik
batuan

penyusunnya, fluida reservoir yang menempatinya dan kondisi

reservoir itu sendiri, yang satu sama lain akan saling berkaitan. Ketiga

faktor itulah yang akan kita bahas dalam mempelajari karakteristik


reservoir.
3.1.1 Sifat Fisik Batuan Reservoir
Beberapa contoh dari sifat sifat fisik batuan reservoir adalah:
1. Porositas
Porositas () didefinisikan sebagai perbandingan antara
volume ruang pori-pori terhadap volume batuan total (bulk
volume). Besar-kecilnya porositas suatu batuan akan menentukan
kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis
porositas dapat dinyatakan sebagai :

Vb Vs Vp

Vb
Vb

................................................................ (3.1)

dimana :
Vb
= volume batuan total (bulk volume)
Vs
= volume padatan batuan total (volume grain)
Vp
= volume ruang pori-pori batuan.
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu:
Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori
total terhadap volume batuan total yang dinyatakan dalam persen,
atau secara matematik dapat ditulis sesuai persamaan sebagai
berikut :

volume pori total


100%
bulk volume
.................................... (3-2)

Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume poripori yang saling berhubungan terhadap volume batuan total (bulk
volume) yang dinyatakan dalam persen.
volume pori yang berhubunga n

100%
bulk volume
Gambar

3.2.

pada

halaman

berikut

...........(3-3)
menunjukkan

perbandingan antara porositas efektif, non efektif dan porositas


total dari suatu batuan. Untuk selanjutnya, porositas efektif
digunakan dalam perhitungan karena dianggap sebagai fraksi
volume yang produktif.

C o n n e c te d o r
E ff e c tiv e
P o ro s i ty
To ta l
P o ro s ity
Is o la te d o r
N o n - E ff e c tiv e
P o ro s i ty

Gambar 3.2 Skema Perbandingan Porositas Efektif, NonEfektif dan Porositas Absolut Batuan 11)
Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat
juga diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu
yang bersamaan dengan proses pengendapan berlangsung.
Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk
setelah proses pengendapan.
2. Permeabilitas

Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang


menunjukkan kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan
fluida.

Definisi

kwantitatif

permeabilitas

pertama-tama

dikembangkan oleh Henry Darcy (1856) dalam hubungan empiris


dengan bentuk differensial sebagai berikut :
q
k dP
v= = -
A
dL ...................................................... (3-4)
dimana :
v
=
kecepatan aliran, cm/sec

=
viskositas fluida yang mengalir, cp
dP/dL =
gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
k
=
permeabilitas media berpori.
Tanda negatip pada Persamaan 3-4 menunjukkan bahwa bila
tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya
berlawanan dengan arah pertambahan tekanan tersebut. Asumsiasumsi yang digunakan dalam Persamaan 3-4 adalah:
Alirannya mantap (steady state),
Fluida yang mengalir satu fasa,
Viskositas fluida yang mengalir konstan ,
Kondisi aliran isothermal, dan
Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal.
Fluidanya incompressible.
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan
reservoir, permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
Permeabilitas absolut, adalah yaitu dimana fluida yang
mengalir melalui media berpori tersebut hanya satu fasa, misalnya
hanya minyak atau gas saja.
Permeabilitas efektif, yaitu permeabilitas batuan dimana
fluida yang mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air,
air dan gas, gas dan minyak atau ketiga-tiganya.

10

Permeabilitas

relatif,

merupakan

perbandingan

permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut.


Dasar penentuan besaran permeabilitas adalah

antara
hasil

percobaan yang dilakukan oleh Henry Darcy., seperti yang terlihat


pada Gambar 3.3, berikut ini.

h1 - h2

Q
A
l

h1
h2

Gambar 3.3 Skema Percobaan Penentuan Permeabilitas11)


Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q..L/A.(P1-P2)
adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan
yang tidak tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi
batuan yang digunakan. Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi aliran turbulen, maka diperoleh harga
permeabilitas absolut batuan, sesuai persamaan berikut :
Q..L
k
A . (P1 P2 )
....................................................... (3-5)
Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :
Q (cm 3 / sec) . (centipoise ) . L (cm)
k (darcy )
A (sq.cm) . (P1 P2 ) (atm )
..... (3-6)

11

Dari Persamaan 3-5 dapat dikembangkan untuk berbagai


kondisi aliran yaitu aliran linier dan radial, masing-masing untuk
fluida yang compressible dan incompressible.
Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu
fasa, akan tetapi dua atau bahkan tiga fasa. Oleh karena itu
dikembangkan pula konsep mengenai permeabilitas efektif dan
permeabilitas relatif. Harga permeabilitas efektif dinyatakan
sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas, dan
air. Sedangkan permeabilitas relatif untuk masing-masing fluida
reservoir dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
kg
k
k
k rg
k ro o
k rw w .
k
k
k
,
,
............. (3-7)
(keterangan : o = minyak, g = gas dan w = air)
Sedangkan besarnya harga permeabilitas efektif untuk
minyak dan air dinyatakan dengan persamaan :
Q . o . L
ko o
A . ( P1 P2 )
..................................................... (3-8)
Q . .L
kw w w
A . (P1 P2 )
..................................................... (3-9)
Harga-harga ko dan kw pada Persamaan 3-8 dan
Persamaan 3-9 jika diplot terhadap So dan Sw akan diperoleh
hubungan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.4., yang
menunjukkan bahwa ko pada Sw = 0 dan pada So = 1 akan sama
dengan k absolut, demikian juga untuk harga k absolutnya (titik A
dan B)

12

E f f e c tiv e P e r m e a b ility t o W a te r, k w

0
0
1

E f f e c t iv e P e rm e a b ilit y to O il, k o

O il S a tu ra t io n , S o
W a t e r S a t u ra tio n , S w

0
1
0

Gambar 3.4. Kurva Permeabilitas Efektif untuk


Sistem Minyak dan Air 11)
Ada tiga hal penting untuk kurva permeabilitas efektif sistem
minyak-air pada Gambar 3.4 , yaitu :
ko akan turun dengan cepat jika Sw bertambah dari nol,
demikian juga kw akan turun dengan cepat jika Sw berkurang dari
satu, sehingga dapat dikatakan untuk So yang kecil akan
mengurangi laju aliran minyak karena ko-nya yang kecil,
demikian pula untuk air.
ko akan turun menjadi nol, dimana masih ada saturasi minyak
dalam batuan (titik C) atau disebut Residual Oil Saturation (Sor),
demikian juga untuk air yaitu (Swr).
Harga ko dan kw selalu lebih kecil dari harga k, kecuali pada
titik A dan B, sehingga diperoleh persamaan :
ko kw 1
.............................................................. (3-10)

13

E f f e c t iv e P e r m e a b ility t o O il, k o

E f f e c tiv e P e rm e a b ilit y to W a te r, k w

O il S a tu ra t io n , S o

Gambar 3.5 Kurva krelatif sistem Air-Minyak 11)


Jika harga kro dan krw diplot terhadap saturasi fluida So dan
Sw, maka akan didapat kurva seperti Gambar 3.5.
Harga kro dan krw berkisar antara 0 sampai 1, sehingga
diperoleh persamaan :
k ro k rw 1
.......................................................... (3.11)
Untuk sistem gas dan air, harga Krg dan Krw selalu lebih
kecil dari satu atau :
k rg k rw 1
.......................................................... (3-12)
3. Saturasi
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan
antara volume pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida
tertentu dengan volume pori-pori total pada suatu batuan berpori.
Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat lebih dari satu
macam fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang
tersebar ke seluruh bagian reservoir. Secara matematis, besarnya
saturasi untuk masing-masing fluida dituliskan dalam persamaan
berikut :
Saturasi minyak (So) adalah :

14

So

volume pori pori yang diisi oleh min yak


volume pori pori total
......(3-13)

Saturasi air (Sw) adalah :


volume pori pori yang diisi oleh air
Sw
volume pori pori total
................(3-14)
Saturasi gas (Sg) adalah :
Sg

volume pori pori yang diisi oleh gas


volume pori pori total
...............(3-15)

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku


hubungan :
Sg + So + Sw = 1 .........................................................(3-16)
Sedangkan jika pori-pori batuan hanya terisi minyak dan air,
maka :
So + Sw = 1 ................................................................(3-17)
Faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam
mempelajari saturasi fluida antara lain adalah :
Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain
dalam reservoir, saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam
bagian batuan yang kurang porous. Bagian struktur reservoir yang
lebih rendah relatif akan mempunyai Sw yang tinggi dan Sg yang
relatip rendah, demikian juga untuk bagian atas dari struktur
reservoir berlaku sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh adanya
perbedaan densitas dari masing-masing fluida.
Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatip produksi
minyak. Jika minyak diproduksikan maka tempatnya di reservoir
akan digantikan oleh air dan atau gas bebas, sehingga pada

15

lapangan yang memproduksikan minyak, saturasi fluida berubah


secara kontinyu.
Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam
istilah pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon. Jika volume batuan
adalah V, ruang pori-porinya adalah .V, maka ruang pori-pori
yang diisi oleh hidrokarbon adalah :
So V + Sg V = (1 Sw ) V .......................... (3-18)
4. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan
yang ada antara permukaan dua fluida yang tidak saling campur
(minyak-air atau air-gas) sebagai akibat dari terjadinya pertemuan
permukaan yang memisahkan kedua fluida tersebut. Besarnya
tekanan kapiler dipengaruhi oleh tegangan permukaan, sudut
kontak antara minyakairzat padat dan jari-jari kelengkungan
pori.
30

200

90

27

180

81

24

160

72

21

140

63

18

120

54

15

100

45

12

80

36

60

27

40

18

20

0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

W a t e r S a tu ra t io n , %

Gambar 3.6 Kurva Distribusi Fluida 11).

16

Pengaruh tekanan kapiler dalam sistem reservoir antara lain


adalah :
Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir Gambar
3.6. pada halaman berikut menunjukkan kurva distribusi fluida
yang merupakan hubungan antara saturasi fluida dengan tekanan
kapiler pada beberapa permeabilitas batuan)
Merupakan mekanisme pendorong minyak dan gas untuk
bergerak atau mengalir melalui pori-pori secara vertikal.
Pa
h
Pa

Pw

Po b

B
B
a ir

A
w a te r

a . A ir - W a te r

h
Po a

Pw b
A

Pw a

B
B
O il
w a te r

b . O i l - W a te r

Gambar 3.7. Tekanan dalam Pipa Kapiler 11)


Berdasarkan pada Gambar 3.7., sebuah pipa kapiler dalam
suatu bejana terlihat bahwa air naik ke atas di dalam pipa akibat
gaya adhesi antara air dan dinding pipa yang arah resultannya ke
atas.
Gaya-gaya yang bekerja pada sistem tersebut adalah :
Besar gaya tarik keatas adalah 2 rAT, dimana r adalah jarijari pipa kapiler.
Sedangkan besarnya gaya dorong ke bawah adalah
r2hg(w-o).
Pada kesetimbangan yang tercapai kemudian, gaya ke atas
akan sama dengan gaya ke bawah yang menahannya yaitu gaya
berat cairan. Secara matematis dapat dinyatakan dalam persamaan
sebagai berikut :

17

2 r A T r 2 h g ( w o )

............................ (3-19)
atau :
h

2 AT
r ( w o ) g
................................................. (3-20)

dimana :
h
= ketinggian cairan di dalam pipa kapiler, cm
r
= jari-jari pipa kapiler, cm.
w
= massa jenis air, gr/cc
o
= massa jenis minyak, gr/cc
g
= percepatan gravitasi, cm/dt2
Dengan memperlihatkan permukaan fasa minyak dan air
dalam pipa kapiler maka akan terdapat perbedaan tekanan yang
dikenal dengan tekanan kapiler (Pc). Besarnya Pc sama dengan
selisih antara tekanan fasa air dengan tekanan fasa minyak,
sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
Pc = Po Pw = (o - w) g h ............................. (3-21)
Tekanan kapiler dinyatakan berdasarkan sudut kontak dalam
hubungan sebagai berikut :
2 cos
Pc
r
......................................................... (3-22)
dimana :
Pc
= tekanan kapiler
= tegangan permukaan minyak-air

= sudut kontak permukaan minyak-air


r
= jari-jari pipa kapiler
Menurut Plateau, tekanan kapiler merupakan fungsi tegangan
antar muka dan jari-jari lengkungan bidang antar muka, dan dapat
dinyatakan dengan persamaan :
1
1

P c

R
R
1
2
.................................................. (3-23)
dimana :

18

R1 dan R2

jari-jari kelengkungan konvek dan

konkaf, inch

= tegangan permukaan, lb/inch


Penentuan harga R1 dan R2, dilakukan dengan perhitungan
jari-jari kelengkungan rata-rata (Rm), yang didapatkan dari
perbandingan Persamaan 3-22 dengan Persamaan 3-23. Dari
perbandingan tersebut didapatkan persamaan perhitungan jari-jari
kelengkungan rata-rata sebagai berikut :
1
2 cos g h
1
1

Rm
rt

R1 R 2

.................. (3-24)

Gambar 3.8. di bawah ini menunjukkan distribusi dan


pengukuran R1 dan R2. Kedua jari-jari kelengkungan tersebut
diukur pada bidang yang saling tegak lurus.
R1
R2

Gambar 3.8 Distribusi dan Pengukuran Radius Kontak


Antara Fluida Pembasah dengan Padatan 11)
5. Wetabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan
untuk dibasahi oleh fasa fluida, jika diberikan dua fluida yang tak
saling campur (immisible). Pada bidang antar muka cairan dengan
benda padat terjadi gaya tarik-menarik antara cairan dengan benda

19

padat (gaya adhesi), yang merupakan faktor dari tegangan


permukaan antara fluida dan batuan.
Dalam sistem reservoir digambarkan sebagai air dan minyak
(atau gas) yang ada diantara matrik batuan.

wo

so

cos

so sw
wo

sw

O il

W a te r

S o lid

Gambar 3.9 Kesetimbangan Gaya-gaya pada Batas AirMinyak-Padatan 11)


Gambar 3.9. di atas memperlihatkan sistem air minyak
yang kontak dengan benda padat, dengan sudut kontak sebesar o.
Sudut kontak diukur antara fluida yang lebih ringan terhadap
fluida yang lebih berat, yang berharga 0o - 180o, yaitu antara air
dengan padatan, sehingga tegangan adhesi (AT) dapat dinyatakan
dengan persamaan :
AT = so - sw = wo. cos wo, ............................ (3.25)
dimana :
so
= tegangan permukaan benda padat-minyak,
dyne/cm
sw
= tegangan permukaan benda padat-air, dyne/cm
wo
= tegangan permukaan air-minyak, dyne/cm
wo
= sudut kontak air-minyak.
Suatu cairan dapat dikatakan membasahi zat padat jika
tegangan adhesinya positip ( < 75o), yang berarti batuan bersifat
water wet. Apabila sudut kontak antara cairan dengan benda padat
antara 75 - 105, maka batuan tersebut bersifat intermediet.

20

Apabila air tidak membasahi zat padat maka tegangan adhesinya


negatip ( > 105o), berarti batuan bersifat oil wet. Gambar 3.10
dan Gambar 3.11 di bawah ini menunjukkan besarnya sudut
kontak dari air yang berada bersama-sama dengan hidrokarbon
pada media yang berbeda, yaitu pada permukaan silika dan kalsit.
= 30o

Is o - O c ta n e

= 83o

= 158o

Is o - O c t a n e +
Is o - Q u in o lin e
5 , 7 % Is o - Q u in o lin e

= 35o

N a p h th e n ic
A c id

Gambar 3.10. Sudut Kontak Antar Permukaan Air dengan


Hidrokarbon pada Permukaan Silika 11)
= 30o

Is o - O c ta n e

= 48o

= 54o

Is o - O c ta n e +
Is o - Q u in o lin e
5 , 7 % Is o - Q u in o lin e

= 106o

N a p h th e n ic
A c id

Gambar 3.11. Sudut Kontak Antar Permukaan Air dengan


Hidrokarbon pada Permukaan Kalsit 11)
Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air
cenderung untuk melekat pada permukaan batuan sedangkan
minyak akan terletak diantara fasa air. Jadi minyak tidak
mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih
mudah mengalir.
Pada waktu reservoir mulai diproduksikan, dimana harga
saturasi minyak cukup tinggi dan air hanya merupakan cincincincin yang melekat pada batuan formasi, butiran-butiran air tidak

21

dapat bergerak atau bersifat immobile, dan saturasi air yang


demikian disebut residual water saturation. Pada saat yang
demikian minyak merupakan fasa yang kontinyu dan bersifat
mobile.
Setelah produksi mulai berjalan, minyak akan terus
berkurang digantikan oleh air. Saturasi minyak akan semakin
berkurang dan saturasi air akan terus bertambah, sampai pada saat
tertentu saturasi air akan menjadi fasa kontinyu, dan minyak
merupakan cincin-cincin. Pada saat ini, air bersifat mobile dan
akan bergerak bersama-sama minyak.
Gambaran tentang water wet dan oil wet ditunjukkan pada
Gambar 3.12, pada halaman berikut yaitu pembasahan fluida
dalam pori-pori batuan. Fluida yang membasahi akan cenderung
menempati pori-pori batuan yang lebih kecil, sedangkan fluida
tidak membasahi cenderung menempati pori-pori batuan yang
lebih besar.

a . O il W e t

b . W a te r W e t

P o re s p a c e o c c u p ie d b y H O
R o c k m a tri x
P o re s p a c e o c c u p ie d b y O il

Gambar 3.12. Pembasahan Fluida dalam Poripori Batuan 11)

22

Menurut Srobod (1952), harga wetabilitas dan sudut kontak


nyata ditentukan berdasarkan karakteristik pembasahan, yang
merupakan fungsi dari threshold pressure (Pt), sesuai dengan
persamaan berikut :

Wettabilitiy Number =

cos wo PTwo oa
cos oa PToa wo

cos wo

PTwo oa

............. (3-26)

PToa wo

Contact Angle =
................... (3-27)
dimana :
Cos wo
= sudut kontak air dengan minyak dalam
inti batuan
Cos oa
= sudut kontak minyak dengan udara dalam
inti batuan (=1)
PTwo
= tekanan threshold inti batuan terhadap
minyak ( pada waktu batuan berisi air )
PToa
= tekanan threshold inti batuan terhadap
udara ( pada waktu batuan berisi minyak)
wo
= tegangan antar muka antara air dengan
minyak
oa
= tegangan antar muka antara minyak
dengan udara
Tekanan threshold, yang merupakan fungsi dari permeabilitas
ditentukan berdasarkan Gambar 3.13.

T h re s h o ld P re s s u re , m m H g

1000
500
300

100
50
30

10

0 .1

0 .3 0 .5 1 .0

10

30 50 100

300

P e rm e a b ility , m D ( a t a tm o s p h e r ic p r e s s u r e )

1000

23

Gambar 3.13. Tekanan Threshold sebagai Fungsi dari


Permeabilitas dan Wetabilitas 11)
6. Kompresibilitas
Pada formasi batuan kedalaman tertentu terdapat dua gaya
yang bekerja padanya, yaitu gaya akibat beban batuan diatasnya
(overburden) dan gaya yang timbul akibat adanya fluida yang
terkandung dalam pori-pori batuan tersebut. Pada keadaan statik,
kedua gaya berada dalam keadaan setimbang. Bila tekanan
reservoir

berkurang

akibat

pengosongan

fluida,

maka

kesetimbangan gaya ini terganggu, akibatnya terjadi penyesuaian


dalam bentuk volume pori-pori, perubahan batuan dan
Menurut Geerstma (1957), mengemukakan tiga konsep
mengenai kompressibilitas batuan, yaitu :
Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan
volume material padatan (grains) terhadap satuan perubahan
tekanan.
Kompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan volume
bulk batuan terhadap satuan perubahan tekanan.
Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu fraksi perubahan
volume pori-pori batuan terhadap satuan perubahan tekanan.
Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan
mengalami dua macam tekanan, antara lain :
Tekanan hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori
batuan
Tekanan-luar (external stress) yang disebabkan oleh berat
batuan yang ada diatasnya (overburden pressure).
Pengosongan fluida dari ruang pori-pori batuan reservoir
akan mengakibatkan perubahan tekanan-dalam dari batuan,

24

sehingga resultan tekanan pada batuan akan mengalami perubahan


pula. Adanya perubahan tekanan ini akan mengakibatkan
perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori dan volume total
(bulk) batuan reservoir.
Untuk padatan (grains) akan mengalami perubahan yang
serupa apabila mendapat tekanan hidrostatik fluida yang
dikandungnya.
Perubahan bentuk volume bulk batuan dapat dinyatakan
sebagai kompressibilitas Cr atau :
1 dVr
Cr
.
Vr dP
....................................................... (3-28)
Sedangkan perubahan bentuk volume pori-pori batuan dapat
dinyatakan sebagai kompressibilitas Cp atau :
1 dVp
Cp
.
Vp dP *
...................................................... (3-29)
dimana :
Vr
=
volume padatan batuan (grains)
Vp
=
volume pori-pori batuan
P=
tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan
P*
=
tekanan luar (tekanan overburden).
Hall (1953) memeriksa kompresibilitas pori, Cp, pada
tekanan overburden yang konstan, yang kemudian disebut
kompresibilitas batuan efektif dan dihubungkan dengan porositas,
Dimana kompresibilitas turun dengan naiknya porositas.
Terjadinya kompresibilitas batuan total maupun efektif
karena dua faktor yang terpisah. Kompressibilitas total terbentuk
dari pengembangan butir - butir batuan sebagai akibat
menurunnya tekanan fluida yang mengelilinginya. Sedangkan
kompressibilitas effektif terjadi karena kompaksi batuan dimana

25

fluida reservoir menjadi kurang efektif menahan beban di atasnya


(overburden). Kedua faktor ini cenderung akan memperkecil
porositas.
3.2.1 Sifat Fisik Fluida Reservoir
Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan air
formasi. Hidrokarbon sendiri terdiri dari fasa cair (minyak bumi)
maupun fasa gas, yang tergantung pada kondisi (tekanan dan
temperatur) reservoir yang ditempati. Perubahan kondisi reservoir
akan mengakibatkan perubahan fasa serta sifat fisik fluida
reservoir.
A. Sifat Fisik Gas

Sifat fisik gas yang akan dibahas antara lain adalah densitas,
saturasi, faktor volume formasi serta kompresibilitas gas.

1. Densitas Gas

Densitas

atau

berat

jenis

gas

didefinisikan

sebagai

perbandingan antara rapatan gas tersebut dengan rapatan suatu gas


standar. Kedua rapatan diukur pada tekanan dan temperatur yang
sama. Biasanya yang digunakan sebagai gas standar adalah udara
kering. Secara matematis berat jenis gas dirumuskan sebagai
berikut :

BJ gas

o
u

............................................................. (3-30)
Definisi matematis dari rapatan gas (g) adalah MP / RT,
dimana M adalah berat molekul gas, P adalah tekanan, R adalah
konstanta dan T adalah temperatur, sehingga bila gas dan udara
dianggap sebagai gas ideal, maka BJ gas dapat dituliskan dengan
persamaan sebagai berikut :

26

Mg . P R . T
Mu . P R . T

BJ gas =
Mg
28,97

=
................................................................. (3-31)
Apabila gas merupakan gas campuran, maka berat jenis dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan berikut ini :
BM tampak
gas
BJ gas
28,97
...................................... (3-32)

2. Viscositas Gas

Viscositas merupakan ukuran tahanan gas terhadap aliran.


Viscositas gas hidrokarbon umumnya lebih rendah daripada
viscositas gas non hidrokarbon.
Bila komposisi campuran gas alam diketahui, maka
viscositasnya dapat diketahui dengan menggunakan persamaan :
gi Yi M i 0,5

g
Yi M i 0,5
............................................ (3.33)
dimana :
g
=
viscositas gas campuran pada tekanan
atmosfer
gi
=
viscositas gas murni
Yi
=
fraksi mpl gas murni
Mi
=
berat molekul gas murni
3. Faktor Volume Formasi Gas

Faktor volume formasi gas (Bg) didefinisikan sebagai


besarnya perbandingan volume gas pada kondisi tekanan dan
temperatur reservoir dengan volume gas pada kondisi standar (60
F, 14,7 psia). Pada faktor volume formasi ini berlaku hukum
Boyle - Gay Lussac.
Bila satu standar cubic feet ditempatkan dalam reservoir
dengan tekanan Pr dan temperatur Tr, maka rumus - rumus gas

27

dapat digunakan untuk mendapatkan hubungan antara kedua


keadaan dari gas tersebut, yaitu :
P1 V1
P V
r r
Z r Tr
Z r Tr
..................................................... (3-34)
Untuk harga P1 dan T1 dalam keadaan standar, maka
diperoleh :

Vr 0.0283

Z r Tr
Pr

cuft

...................................... (3-35)
Untuk keadaan standar, maka Vr (cuft) harus dibagi dengan 1
scf untuk mendapatkan volume standar. Jadi faktor volume
formasi gas (Bg) adalah :
Z T
B g 0.0283 r r
Pr

cuft / scf

.............................. (3-36)
Dalam satuan bbl / scf, besarnya Bg adalah :
Z T
B g 0.00504 r r bbl / scf
Pr
.............................. (3-37)
4. Kompresibilitas Gas

Kompresibilitas gas didefinisikan sebagai perubahan volume


gas yang disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang
mempengaruhinya. Kompresibilitas gas didapat dengan persamaan
C pr
Cg
Ppc
............................................................. (3-38)
dimana :
Cg
=
kompresibilitas gas, psi-1
Cpr
=
pseudo reduced kompresibilitas
Cpc
=
pseudo critical pressure, psi
B. Sifat Fisik Minyak

Fluida minyak bumi dijumpai dalam bentuk cair, sehingga


sesuai dengan sifat cairan pada umumnya, pada fasa cair jarak
antara molekul-molekulnya relatif lebih kecil daripada gas. Sifat-

28

sifat minyak bumi yang akan dibahas adalah densitas, viskositas,


faktor volume formasi dan kompressibilitas.

1. Densitas Minyak

Densitas didefinisikan sebagai perbandingan berat masa suatu


substansi dengan volume dari unit tersebut, sehingga densitas
minyak (o) merupakan perbandingan antara berat minyak (lb)
terhadap volume minyak (cuft). Perbandingan tersebut hanya
berlaku untuk pengukuran densitas di permukaan (laboratorium),
dimana kondisinya sudah berbeda dengan kondisi reservoir
sehingga akurasi pengukuran yang dihasilkan tidak tepat. Metode
lain dalam pengukuran densitas adalah dengan memperkirakan
densitas berdasarkan pada komposisi minyaknya. Persamaan yang
digunakan adalah :
oSC

Xi

Xi

Mi

M i oSCi

..................................... (3-39)
dimana :
oSC = densitas minyak (14,7 psia; 60 oF)
oSCi = densitas komponen minyak ke-i (14,7 psia; 60 oF)
Xi
= fraksi mol komponen minyak ke-i
Mi
= berat mol komponen minyak ke-i
Densitas minyak biasanya dinyatakan dalam specific gravity
minyak (o), yang didefinisikan sebagai perbandingan densitas
minyak terhadap densitas air, yang secara matematis, dituliskan :

o o
w
................................................................... (3-40)
dimana :
o
= specific gravity minyak
o
= densitas minyak, lb/cuft
w
= densitas air, lb/cuft

29

Industri perminyakan seringkali menyatakan specific gravity


minyak dalam satuan oAPI, yang dinyatakan dengan persamaan
sebagai berikut :
141,5
131,5
o
oAPI =

............................................. (3-41)

2. Viskositas Minyak

Viskositas

minyak (o) didefinisikan sebagai ukuran

ketahanan minyak terhadap aliran, atau dengan kata lain viskositas


minyak adalah suatu ukuran tentang besarnya keengganan minyak
untuk mengalir, dengan satuan centi poise (cp) atau gr/100 detik/1
cm.
Viskositas minyak dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan
jumlah gas yang terlarut dalam minyak tersebut. Kenaikan
temperatur akan menurunkan viskositas minyak, dan dengan
bertambahnya gas yang terlarut dalam minyak maka viskositas
minyak juga akan turun. Hubungan antara viskositas minyak
dengan tekanan ditunjukkan pada Gambar 3.14. di bawah ini
7
6

V is c o s ity , c p

B .P

4
3

B .P

2
1

B .P

C
D

1000

B .P
2000

P r e s s u re , p s ig

3000

30

Gambar 3.14. Hubungan Viskositas terhadap Tekanan 12)


Gambar 3.14 menunjukkan bahwa tekanan mula-mula
berada di atas tekanan gelembung (Pb), dengan penurunan tekanan
sampai (Pb), mengakibatkan viskositas minyak berkurang, hal ini
akibat adanya pengembangan volume minyak. Kemudian bila
tekanan turun dari Pb sampai pada harga tekanan tertentu, maka
akan menaikkan viskositas minyak, karena pada kondisi tersebut
terjadi pembebasan gas dari larutan minyak.
Secara matematis, besarnya viskositas dapat dinyatakan
dengan persamaan :
F y

x
A v
dimana :

=
F
=
A
=
y / v
=

............................................................ (3-42)

viskositas, gr/(cm.sec)
shear stress
luas bidang paralel terhadap aliran, cm2
gradient kecepatan, cm/(sec.cm).

3. Faktor Volume Formasi Minyak

Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai


volume minyak dalam barrel pada kondisi standar yang ditempati
oleh satu stock tank barrel minyak termasuk gas yang terlarut.
Atau dengan kata lain sebagai perbandingan antara volume
minyak termasuk gas yang terlarut pada kondisi reservoir dengan
volume minyak pada kondisi standard (14,7 psi, 60 F). Satuan
yang digunakan adalah bbl/stb.
Perhitungan Bo secara empiris (Standing) dinyatakan dengan
persamaan :
Bo = 0.972 + (0.000147 . F 1.175) .......................... (3-43)

31

g
1.25 T
F R s .

............................................ (3-44)

dimana :
Rs
=
kelarutan gas dalam minyak, scf/stb
o
=
specific gravity minyak, lb/cuft
g
=
specific gravity gas, lb/cuft
T=
temperatur, oF.
Perubahan Bo terhadap tekanan untuk minyak mentah jenuh
ditunjukkan oleh Gambar 3.15. Tekanan reservoir awal adalah Pi
dan harga awal faktor volume formasi adalah Boi. Dengan
turunnya tekanan reservoir dibawah tekanan buble point, maka gas

F o r m a ti o n - V o lu m e F a c t o r, B o

akan keluar dan Bo akan turun.


Bo b

Pb
0

R e s e r v o ir p re s s u re , p s ia

Gambar 3.15. Ciri Alur Faktor Volume Formasi


Terhadap Tekanan untuk Minyak 12)
Terdapat dua hal penting dari Gambar 3.15. diatas, yaitu :
Jika kondisi tekanan reservoir berada diatas Pb, maka Bo
akan naik dengan berkurangnya tekanan sampai mencapai Pb,
sehingga volume sistem cairan bertambah sebagai akibat
terjadinya pengembangan minyak.
Setelah Pb dicapai, maka harga Bo akan turun dengan
berkurangnya tekanan, disebabkan karena semakin banyak gas
yang dibebaskan.
Proses pembebasan gas ada dua, yaitu :

32

a. Differential Liberation.
Merupakan proses pembebasan gas secara kontinyu. Dalam
proses ini, penurunan tekanan disertai dengan mengalirnya
sebagian fluida meninggalkan sistem. Minyak hanya berada dalam
kesetimbangan dengan gas yang dibebaskan pada tekanan tertentu
dan tidak dengan gas yang meninggalkan sistem. Jadi selama
proses ini berlangsung, maka komposisi total sistem akan berubah.
b. Flash Liberation
Merupakan proses pembabasan gas dimana tekanan dikurangi
dalam jumlah tertentu dan setelah kesetimbangan dicapai gas baru
dibebaskan.
Harga Bo dari kedua proses tersebut berbeda sesuai dengan
keadaan reservoir selama proses produksi berlangsung. Pada
Gambar 3.16. terlihat bahwa harga Bo pada proses flash liberation
lebih kecil daripada proses differential liberation.

800
600
400
200
N T IA

400

800

1200

1600

2000

2400

2800

1 ,6
1 ,4
1 ,2
1 ,0

S p e c if ic G r a v ity o f
L ib e r a t e d G a s (a ir = 1 , 0 )

1 ,8
O R IG IN A L R E S E R V O IR P R E S S U R E

G a s in S o lu tio n , oc u . f t/ B B L
( S T. o il = 6 0 F )

1000

0 ,8
3200 3600

R e s e rv o ir P r e s s u r e , p s ia

Gamb
ar 3.16.Perbedaan antara Flash Liberation Dengan
Differential Liberation 11)

4. Kelarutan Gas dalam Minyak

33

Kelarutan gas (Rs) adalah banyaknya SCF gas yang terlarut


dalam satu STB minyak pada kondisi standar 14,7 psi dan 60 F,
ketika minyak dan gas masih berada dalam tekanan dan
temperatur reservoir.
Kelarutan gas dalam minyak (Rs) dipengaruhi oleh tekanan,
temperatur dan komposisi minyak dan gas. Pada temperatur
minyak yang tetap, kelarutan gas tertentu akan bertambah pada
setiap penambahan tekanan. Pada tekanan yang tetap kelarutan gas
akan berkurang terhadap kenaikan temperatur.
5. Kompressibilitas Minyak

Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan


volume minyak akibat adanya perubahan tekanan, secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
1 V
Co

V P
.................................................. (3-45)
Persamaan 3-31 dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih
mudah dipahami, sesuai dengan aplikasi di lapangan, yaitu :
B B oi
C o ob
B oi Pi Pb
.................................................. (3-46)
dimana :
Bob
= faktor volume formasi pada tekanan bubble point
Boi
= faktor volume formasi pada tekanan reservoir
Pi
= tekanan reservoir
Pb
= tekanan bubble point.
C. Sifat Fisik Air Formasi

Sifat fisik minyak yang akan dibahas adalah densitas,


viskositas, kelarutan gas dalam air formasi, kompressibilitas air
formasi dan faktor volume air formasi.
1. Densitas Air Formasi

34

Densitas air formasi dinyatakan dalam massa per volume,


specific volume yang dinyatakan dalam volume per satuan
massa dan specific gravity, yaitu densitas air formasi pada
suatu kondisi tertentu yaitu pada tekanan 14,7 psi dan
temperatur 60 F.
Beberapa satuan

yang

umum

digunakan

untuk

menyatakan sifat-sifat air murni pada kondisi standard adalah


sebagai berikut : 0,999010 gr/cc ; 8,334 lb/gal; 62,34 lb/cuft;
350 lb/bbl (US); 0,01604 cuft/lb. Dari besaran-besaran satuan
tersebut dapat dibuat suatu hubungan sebagai berikut :
1
0,01604
w
0,01604 w
62,34 v w
vw
62,34
w =
=
=
=
.....
.......................................................................................... (3-47)
dimana :
w

=
w =
vw =
Untuk

specific gravity air formasi


density, lb/cuft
specific volume, cuft/lb
melakukan pengamatan terhadap densitas air

formasi dapat dihubungkan dengan densitas air murni pada


kondisi sebagai berikut :
vw

wb B w
v wb
w

................................................ (3-48)

dimana :
vwb = specific volume air pada kondisi dasar, lb/cuft
wb = density dari air pada kondisi dasar, lb/cuft
Bw = faktor volume formasi air
Dengan demikian jika densitas air formasi pada kondisi
dasar (standard) dan faktor volume formasi ada harganya (dari
pengukuran langsung), maka densitas air formasi dapat

35

ditentukan. Faktor yang sangat mempengaruhi densitas air


formasi adalah kadar garam dan temperatur reservoir. Hal ini
ditunjukkan pada Gambar 3.17 di bawah ini

D e n s ity , lb / c u . f t

66

65

50
70
80

64

o
o
o

F, 0 p s ia
F, 0 p s ia
F, 0 p s ia

9 0 F, 0 p s ia
o
1 0 0 F, 0 p s ia

63
62
5

10

15

20

25

30

35

40

S a lin it y , p p m x 1 0 - 3

Gambar 3.17.
Pengaruh Konsentrasi Garam dan Temperatur pada Densitas Air
Formasi 12)
2. Viskositas Air Formasi

Besarnya viskositas air formasi (w) tergantung pada


tekanan,temperatur dan salinitas yang dikandung air formasi
tersebut. Gambar 3.18. menunjukkan viskositas air formasi
sebagai fungsi temperatur. Viskositas air murni pada tekanan
atmosfir dan pada tekanan 7100 psia serta viskositas air pada
kadar garam 6% pada tekanan atmosfir.

36

W a t e r s a li n it y : 6 0 0 0 0 p p m

1 ,8

a t 1 4 , 7 p s ia p r e s s u re
a t 1 4 , 2 p s ia p r e s s u re

A b s o lu t V is c o s ity , c p

1 ,6

a t 7 1 0 0 p s ia p re s s u re
a t v a p o u r p re s s u re

1 ,4
1 ,2
1 ,0
0 ,8
0 ,6
0 ,4
0 ,2
0

50

100

150

200

250

300

350

Te m p e r a tu r, F

Gambar 3.18. Viskositas Air pada Tekanan dan


Temperatur Reservoir 11)
Pada Gambar 3.18. diatas, terlihat bahwa pengaruh
salinitas di atas 6000 ppm dan tekanan di atas 7000 psi
mempunyai pengaruh yang kecil pada viskositas air formasi,
yaitu hanya mencapai 0,5 cp meskipun temperatur dinaikkan.
Pada temperatur dan tekanan yang tetap, dengan naiknya
salinitas maka akan menaikkan viskositas air.
3. Kelarutan Gas dalam Air Formasi

Standing dan Dodson telah menentukan kelarutan gas


dalam air formasi sebagai fungsi dari tekanan dan temperatur.
Mereka menggunakan gas dengan berat jenis 0,655 dan
mengukur kelarutan gas ini dalam air murni serta dua contoh
air asin. Komposisi gas dan air asin diperlihatkan pada Gambar

37

3.19., sedangkan Gambar 3.20. menunjukkan kelarutan gas


dalam air murni sesuai dengan temperatur.
C a
10
Fe
100

S c a l e : m e q / lit e r

Na
100

C l
100

M g
100

SO
10

Na
100

C l
100

C a
10

HC O
10
SO 4
10
C O 3
10

M g
100
Fe
100
Na
100
C a
10
M g
100
Fe
100

C l
100
HC O
10
SO 4
10
C O 3
10

HC O
10

C O
10

Gambar 3.19. Grafik Komposisi Gas Alam dan Air


Garam yang Digunakan pada Eksperimen Pengukuran
Kelarutan Gas 11)
Dari hasil penelitian, seperti terlihat pada Gambar 3.26,
disimpulkan beberapa pernyataan yang bersifat umum tentang
kelarutan gas dalam air dan air asin adalah sebagai berikut :
Kelarutan gas dalam air formasi lebih kecil jika
dibandingkan dengan kelarutan gas dalam minyak pada
kondisi tekanan dan temperatur yang sama.
Pada temperatur yang tetap, kelarutan gas dalam air
formasi akan naik dengan naiknya tekanan.
Kelarutan gas alam dalam air asin akan berkurang dengan
bertambahnya kadar garam.
Kelarutan gas alam dalam air formasi akan berkurang
dengan naiknya berat jenis gas.

38

S o lu b ility o f N a t u ra l G a s in W a t e r, c u . f t/ b b l

24
20

16

12

1 0 0 0 p s ia

5 0 0 p s ia

60

100

140

180

Te m p e ra t u re , o F

220

260

Gambar 3.20. Grafik Kelarutan Gas dalam Air 11)


4. Faktor Volume Formasi Air Formasi

Faktor volume air formasi (Bw) menunjukkan perubahan


volume air formasi dari kondisi reservoir ke kondisi
permukaan. Faktor volume formasi air formasi ini dipengaruhi
oleh

tekanan

pembebasan

dan
gas

temperatur, yang
dan

air

dengan

berkaitan
turunnya

dengan
tekanan,

pengembangan air dengan turunnya tekanan dan penyusutan


air dengan turunnya temperatur.
Harga faktor volume formasi air-formasi dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Bw = (1 + Vwp)(1 + Vwt) .............................. (3-49)
dimana :
Bw = faktor volume air formasi, bbl/bbl
Vwt
=
penurunan volume sebagai akibat
penurunan suhu, oF
Vwp
=
tekanan, psi

penurunan volume selama penurunan

W a te r F o r m a tio n V o lu m e F a c t o r, b b l/ b b l

39

1 ,0 7
1 ,0 6
1 ,0 5

250 F

1 ,0 4
1 ,0 3

2 0 0 oF

1 ,0 2
1 ,0 1

1 5 0 oF

1 ,0 0

1 0 0 oF

0 ,9 9
0 ,9 8

p u r e w a te r
p u r e w a te r a n d n a tu ra l g a s
0

1000

2000

3000

4000

5000

P r e s s u re , p s ia

Gambar 3.21. Faktor Volume Air Formasi sebagai fungsi


dari Tekanan dan Temperatur 11)
5. Kompressibilitas Air Formasi

Kompresibilitas

air

formasi

didefinisikan

sebagai

perubahan volume yang disebabkan oleh adanya perubahan


tekanan yang mempengaruhinya. Besarnya kompressibilitas air
murni (Cpw) tergantung pada tekanan, temperatur dan kadar
gas terlarut dalam air murni, sebagaimana terlihat pada
Gambar 3.22.

40

W a t e r C o m p r e s s ib ilit y ,
C w x 1 0 6 , b b l/ b b l. p s i

3 ,6

3 ,2

4000
5000
6000

2 ,8

2 ,4

60

100

C wp
140

180

Te m p e r a tu r e , F

1 V

V P T

220

260

Gambar 3.22. Harga Kompressibilitas Air Murni


Berdasarkan Temperatur dan Tekanan 12)
Secara matematik, besarnya kompressibilitas air murni
dapat ditulis sebagai berikut :
1 V
C wp

V P T
(3-50)
dimana :
Cwp = kompressibilitas air murni, psi 1
V
= volume air murni, bbl
V; P
= perubahan volume (bbl) dan tekanan (psi)
air murni
Sedangkan pada air formasi yang mengandung gas, hasil
perhitungan harga kompressibilitas air formasi, harus dikoreksi
dengan adanya pengaruh gas yang terlarut dalam air murni.
Koreksi terhadap harga kompressibilitas air dapat dilakukan
dengan menggunakan Gambar 3.23.

41

S o lu t io n C o m p re s s ib li ty
W a te r C o m p re s s ib i lity

1 ,3

1 ,2

1 ,1

1 ,0

10

15

20

25

G a s -W a t e r R a tio , c u . f t/ b b l

Gambar 3.23. Koreksi Harga Kompressibilitas Air


Formasi Terhadap kandungan Gas Terlarut 12)
Secara

matematik,

koreksi

terhadap

harga

kompressibilitas air (Cw) dapat dihitung dengan persamaan


sebagai berikut :
C w C wp (1 0,0088 R sw )
.................................. (3-51)
dimana :
Cwp = kompressibilitas air murni, psi-1
Rsw = kelarutan gas dalam air, cu ft/bbl
3.2 Produktivitas Formasi

Produktifitas formasi adalah kemampuan suatu formasi untuk

memproduksikan fluida yang dikandungnya pada kondisi tekanan


tertentu. Pada umumnya sumur-sumur yanng baru diketemukan
mempunyai tenaga pendorong alamiah yang mampu mengalirkan
fluida hidrokarbon dari reservoar kepermukaan dengan tenaganya
sendir, dengan berjalannya waktu produksi kemampuan dari
formasi untuk mengalirkan fluida terssebut akan mengalami
penurunan, yang besarnya sangat tergantung pada penurunan
tekanan reservoar.

42

3.2.1.

Produktivitas Index (PI)

Index adalah Kualitas kinerja aliran fluida dari formasi produktif


masuk ke lubang sumur. Produktifitas formasi adalah kemampuan suatu
formasi untuk memproduksikan fluida yang dikandungnya pada kondisi
tekanan tertentu. Parameter yang menyatakan produktifitas formasi adalah
Productivity Index (PI) dan Inflow Performance Relationship (IPR). PI
dapat berharga konstan atau tidak, tergantung pada kondisi aliran yang
terjadi.
Harga PI didapatkan dari persamaan:
PI =

Q
PsPwf ...................................................................................(3.52)

Keterangan:

PI

: productivity index, bpd/psi.


: tes laju produksi, bpd.

Ps

: tekanan statik reservoir, psi.

Pwf

: tekanan alir dasar sumur, psi.

3.2.2.

Inflow Performance Relationship (IPR)

Kurva IPR adalah sebuah kurva yang menggambarkan kemampuan suatu


sumur untuk berproduksi, yang dinyatakan dalam bentuk hubungan antara laju
produksi (q) terhadap tekanan alir dasar sumur (Pwf).
Dalam persiapan pembuatan kurva IPR terlebih dahulu harus diketahui
Productiivity Index (PI) sumur tersebut, yang merupakan gambaran secara
kwalitatif mengenai kemampuan suatu sumur untuk berproduksi.

43

1. Kurva IPR Aliran Satu Fasa


Kurva IPR untuk aliran satu fasa akan merupakan suatu garis lurus
dengan harga PI yang konstan untuk setiap harga Pwf. Hal ini terjadi apabila
tekanan reservoir (Pr) lebih besar dari tekanan gelembung (Pb).
Berdasarkan definisi PI pada diatas untuk suatu saat tertentu dimana
Ps konstan dan PI juga konstan, maka variabelnya adalah laju produksi (q)
dan tekanan alir dasar sumur (Pwf). Sehingga persamaan tersebut dapat
diubah menjadi:
Pwf =Ps

Q
PI ...................................................................................(3.53)

Q=PI ( PsPwf ) ...............................................................................(3.54)

Pr

Pwf
(Psi)

Q (bbl/day)

Qmax

Gambar 3.24 Kurva IPR Satu Fasa14)


Untuk membuat kurva IPR diperlukan data-data sebagai
berikut:

laju alir produksi

44

tekanan dasar sumur (Pwf)

tekanan statis atau tekanan rservoar (Pr)


Ketiga data tersebut diperoleh dari hasil test produksi dari sumur yang

bersangkutan.
Aliran fluida dalam media berpori telah dikemukakan oleh Darcy
(1856) dalam persamaan:
q k dP
v= =
A dL ..................................................................................(3.55)
Persamaan tersebut mencakup beberapa anggapan, diantaranya adalah:

Aliran mantap

Fluida yang mengalir satu fasa

Tidak terjadi reaksi antara batuan dengan fluidanya

Fluida bersifat incompressible.

Viskositas fluida yang mengalir konstan.

Kondisi aliran isotermal.

Formasi homogen dan arah aliran horizontal.


Persamaan diatas kemudian dikembangkan untuk kondisi aliran radial,

dimana dalam satuan lapangan persamaan tersebut berbentuk:


Qo=0.007082

k o h ( PePwf )
o B o ln

( rw )

............................................................(3.15)

Keterangan:

: laju aliran fluida, bbl/day

Qo

: laju aliran fluida di permukaan, STB/day

45

: ketebalan lapisan, ft

: permeabilitas batuan, md

: viskositas minyak, cp

Bo

: faktor voleme formasi minyak, bbl/STB.

Pwf
Pe
re
rw

: tekanan alirsan dasar sumur, psi


: tekanan formasi pada jarak re, psi
= Jari jari penguras sumur, ft
= jari jari sumur, ft

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menggunakan pesamaan


terseburt adalah:

Fluida berfasa tunggal

Aliran mantao (steadu state)

Formasi homogen

Fluida incompresible.
Dengan demikian apabila variable viriable dari persamaan (3.28)

diketahui, maka laju produksi (potensi) sumur dapat diketahui.


2. Kurva IPR Aliran Dua Fasa
Jika Pr dibawah Pb, maka gas membebaskan diri dari minyak, maka
bentuk kurva IPR akan merupakan suatu garis lengkung, dan harga PI tidak
lagi merupakan harga yang konstan, karena kemiringan garis IPR akan
berubah secara kontiniu untuk setiap harga Pwf.
Untuk membuat kurva IPR dua fasa, Vogel menurunkan suatu
persamaan dasar dengan anggapan skin sama dengan nol Persamaan Vogel
tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut :

46

Q
Pwf
Pwf
=10.2
0.8
Q max
Ps
Ps

( ) ( )

........................................................(3.56)

atau:

Pwf =0.125 Ps 1+ 8180

( QQ )] .................................................(3.57)
max

Pr

Pwf
(Psi)

Q max
Q (bbl/d)

Gambar 3.25 Kurva IPR dua Fasa14)


Selain itu dalam pengembangannya dilakukan anggapan:

Reservoir bertenaga dorongan gas pelarut

Harga skin disekitaran lubang bor sama dengan nol

Tekanan reservoar dibawah tekanan saturasi (pb)

3. Kurva IPR Tiga Fasa Metode


Asumsi yang digunakan metode ini adalah:

Faktor skin sama dengan nol

Minyak, air dan gas berada pada satu lapisan dan mengalir bersama
sama secara radial.

47

Untuk menyatakan kadar air dalam laju produksi total digunakan


parameter water cut (WC), yaitu perbandingan laju produksi air dengan laju
produksi total. Dimana harga water cut dinyatakan dalam persen. Dalam
perkembangan kinerja aliran tiga fasa dari formasi produktif ke lubang sumur
telah digunakan 7 kelompok data hipotensi reservoar, yang mana untuk
masing-masing kelompok dilakukan perhitungan kurva IPR untuk lima harga
water cut berbeda, yaitu 20%, 40%, 60%, 80%, dan 90%.
Dalam metode Pudjo Sukarno membuat persamaan sebagai berikut:
Q
Pwf
Pwf
= Ao + A 1
+ A2
Q max
Ps
Ps

( ) ( )

........................................................(3.58)

Dimana:
An ( n = 0, 1 dan 2) adalah konstanta persamaan, yang harganya berbeda
untuk water cut yang berbeda.
An = C0 + C1 (water cut) + C2 (water cut)2................................................(3.59)
Cn (n = 0, 1 dan 2) untuk masing masing harga An ditunjukan dalam
tabel 3.2, sebagai berikut :
Tabel 3.1 Konstanta Cn unntuk masing-masing An11)
An
A0
A1
A2

C0
0,980321
-0,414360
-0,564870

C1
-0,115661.10-1
0,392799.10-2
0,762080.10-2

C2
0,179050.10-4
0,237075.10-5
-0.202079.10-4

Sedangkan hubungan antara tekanan alir dasar sumur terhadap water cut
dapat dinyatakan sebagai Pwf/ Pr, terhadap WC (WC @ Pwf = Pr) telah
ditentukan dengan analisis regresi yang menghasilkan persamaan berikut :

48

Pr
P 2 Pwf /
................................................................(3.60)
WC
=P 1 x exp
WC @ Pwf =Pr
Dimana P1 dan P2 tergantung dari harga water cut. Dari hasil analisa regresi
menghasilkan persamaan berikut:
P1=1.606207ln ( WC ) .......................................................................(3.61)
P2=0.517792+0.110604 ln ( WC ) ...................................................(3.62)
Dimana water cut dinyatakan dalam persen (%) dan merupakan data uji
produksi.
Prosedur pembuatannya kinerja aliran tiga fasa dari metode Pudjo Sukarno
adalah sebagai berikut.
Langkah 1.
Mempersiapkan data data penunjang meliputi :

Tekanan reservoar / Tekanan statis sumur.

Tekanan aliran dasar sumur

Laju produksi minyak dan air

Harga water cut (WC) berdasarkan data uji produksi (%)

Langkah 2.
Penentuan WC @ Pwf Ps
Menghitung terlebih dahulu harga P1 dan P2 yang diperoleh dari persamaan (3.56)
dan (3.35). Kemudian hitung harga WC @ Pwf Ps dengan persamaan (3.55)

49

Langkah 3.
Penentuan konstanta A0, A1 dan A2
Berdasarkan harga WC@ Pwf

Ps kemudian menghitung harga konstanta

tersebut menggunakan persamaan (3.54) dimana konstanta C0, C1 dan C2 diperoleh


dalam Tabel 3.2 Konstanta Cn unntuk masing-masing An.
Langkah 4.
Penentuan Qt maksimum
Menghitung Qt maksimum dari persamaan (3.53) dan konstanta A0, A1 dan A2 dari
langkah 3,
Langkah 5.
Penentuan laju produksi minyak (Qo)
Berdasarkan Qt maksimum langkah 4, kemudian menghitung harga laju produksi
minyak Qo untuk berbagai harga Pwf.
Langkah 6.
Penentuan laju produksi air (Qw)
Menghitung besarnya laju produksi air dari harga water cut (WC) pada tekanan
alir dasar sumur (Pwf) dengan persamaan :
Qw =

WC
( 100WC
) Q

.................................................................................(3.63)

Langkah 7.
Membuat tabel harga-harga Qw, Qo dan Qt untuk berbagai harga Pwf pada Ps
aktual.
Langkah 8.

50

Membuat grafik hubungan antara Pwf terhadap Qt, dimana Pwf mewakili sumbu
y dan Qt mewakili sumbu x.

1.

Metode Produksi
Metode produksi secara umum di klasifikasikan menjadi 3 yaitu :
1. Primary Recovery
Primary recovery adalah proses untuk memproduksi fluida
(hydrocarbon) dengan memanfaatkan energi alami yang terkandung
dalam reservoir itu sendiri. Primary recovery yaitu terdiri dari sembur
alam (natural flow) dan pengangkatan buatan (artificial lift). Natural
Flow yaitu produksi sumur minyak dan gas bumi secara alami tanpa
bantuan peralatan-peralatan buatan. Sumur produksi ini memiliki fluida
yang dapat mengalir dengan sendirinya ke permukaan melalui tubing
karena memiliki tekanan reservoir yang lebih tinggi daripada tekanan
hidrostatik kolom fluida yang berada dalam lubang sumur tersebut.
Sedangkan artificial lift adalah metode pengangkatan buatan fluida
dengan menggunakan peralatan pengangkatan buatan. Pertimbangan
untuk memasang alat bantu tersebut karena kecilnya tekanan sumur
yang ada. Selain itu peralatan ini juga untuk mengejar target produksi,

51

sehingga sumur-sumur yang masih mengalir secara alami juga dipasang


peralatan artificial baru.
2. Secondary Recovery
Secondary recovery ini bertujuan untuk menggantikan tekanan
yang hilang setelah primary recovery, dan secara prakteknya sekarang
yang banyak digunakan adalah menggunakan waterflooding, yaitu
dengan cara menginjeksikan air ke dalam reservoir untuk menjaga
tekananan reservoir dan mendorong minyak ke permukaan. Secondary
recovery terdiri dari injeksi air (waterflooding) dan pressure
maintenance. Waterflooding adalah dengan menginjeksikan air ke
dalam formasi yang berfungsi untuk mendesak minyak menuju sumur
produksi (produser) sehingga akan meningkatkan produksi minyak
ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir.
Pressure maintenance berfungsi untuk mempertahankan tekanan
reservoir agar

laju

produksi

tetap

ekonomis

dengan

jalan

menginjeksikan fluida dalam reservoir pada saat tenaga pendorong


reservoir mampu untuk memproduksikan minyak ke permukaan. Injeksi
fluida ini untuk mengendalikan tekanan reservoir agar tidak mengalami
penurunan yang drastis selama produksi berlangsung.
3. Tertiery Recovery
Tertiery Recovery merupakan proses pengurasan cadangan yang
memiliki efesiensi pengangkatan yang lebih baik. Dengan metode EOR
ini, hanya sekitar 30 60% kandungan minyak bumi yang dapat
diambil dari sumbernya. Teriery recovery terdiri dari Enhanced Oil
Recovery (EOR).

52

EOR ini adalah optimisasi pada suatu sumur minyak agar minyakminyak yang kental, berat, poor permeability dan irregular faultlines bisa
diangkat ke permukaan. Ada beberapa metode EOR, yaitu: thermal
recovery, gas miscible dan chemical flooding. Pada thermal recovery,
metode yang digunakan dengan cara memanaskan minyak mentah dalam
formasi untuk mengurangi viskositas dan menguapkan sebagian dari minyak
sehingga menurunkan rasio mobilitas. Gas miscible biasanya digunakan
sebagai metode tersier karena pemulihan nya melibatkan peng-injeksi-an
gas alam, nitrogen atau karbon dioksida ke dalam reservoir. Gas-gas ini
dapat mendorong minyak melalui reservoir atau akan ikut larut di dalam
minyak sehingga menurunkan viskositas dan meningkatkan aliran minyak
tersebut. Chemical flooding EOR ini adalah membebaskan minyak yang
terperangkap di dalam reservoir.
2.

Injeksi Gas CO2


Injeksi gas CO2 atau sering juga disebut sebagai injeksi gas CO2
tercampur yaitu dengan menginjeksikan sejumlah gas CO2 ke dalam
reservoir dengan melalui sumur injeksi sehingga dapat diperoleh minyak
yang tertinggal. CO2 adalah molekul stabil dimana 1 atm carbon mengikat 2
atom oksigen, berat molekulnya 44.01, temperatur kritik 31.0 0 CO2 dan
tekanan kritik 73.3 Bars (1168.65 Psi).
Dibawah ini digambarkan parameter-parameter untuk Injeksi CO2 yang
merupakan screening criteria secara umum untuk penerapan Injeksi CO2 ini.

53

Gambar 3.26 Injeksi CO2 Field 7)


3.3.1 Sifat-sifat CO2
Perubahan sifat kimia fisika yang disebabkan oleh adanya injeksi CO2
adalah sebagai berikut :
a. Pengembangan volume minyak
b. Penurunan viscositas
c. Kenaikan densitas
d. Ekstraksi sebagian komponen minyak
A.

Pengembangan volume minyak


Adanya

CO2

yang

larut

dalam

minyak

akan

menyebabkan

pengembangan volume minyak. Pengembangan volume ini dinyatakan


dengan suatu swelling factor, yaitu : Perbandingan volume minyak yang
telah dijenuhi CO2 dengan volume minyak awal sebelum dijenuhi CO2, bila
besarnya SF ini lebih dari satu, berarti menunjukkan adanya pengembangan.

54

Oleh Simon dan Grause, dikatakan bahwa SF dipengaruhi oleh fraksi


mol CO2 yang terlarut dalam minyak (X CO2) dan ukuran molekul minyak
yang dirumuskan dengan perbandingan berat molekul densitas (M/).
Disamping itu, hasil penelitian Walker dan Dunlop menunjukkan bahwa
swelling factor dipengaruhi pula oleh tekanan dan temperature
B.

Penurunan viscositas
Adanya sejumlah CO2 dalam minyak akan mengakibatkan penurunan

voscositas minyak. Oleh Simon dan Gause dinyatakan bahwa penurunan


viscositas tersebut dipengaruhi oleh tekanan dan viscositas minyak awal
sebelum dijenuhi CO2.
Dalam gambar tersebut bahwa m/o (perbandingan viscositas
campuran CO2 minyak dengan viscositas awal) akan lebih kecil untuk
viscositas minyak awal (o) yang lebih besar pada tekanan saturasi tertentu.
Artinya pengaruh CO2 terhadap penurunan viscositas minyak akan lebih
besar untuk minyak kental (viscous). Untuk satu jenis minyak, kenaikan
tekanan saturasi akan menyebabkan penurunan viskositas minyak.
C.

Kenaikan densitas
Terlarutnya sejumlah CO2 dalam minyak menyebabkan kenaikan

densitas, hal yang menarik ini oleh Holm dan Josendal dimana besarnya
kenaikan densitas dipengaruhi oleh tekanan saturasinya
Meskipun demikian bila fraksi CO2 terlarut telah mencapai suatu harga
tertentu, kenaikan fraksi mol lebih lanjut akan menyebabkan turunnya
densitas,

55

D.

Ekstraksi sebagian komponen minyak


Sifat CO2 yang terpenting adalah kemampuan untuk mengekstraksikan

sebagian komponen minyak. Hasil dari penelitian Nelson dan Menzile


menunjukkan bahwa pada 135 F dan pada tekanan 2000 Psi minyak dengan
gravity 35 API mengalami ekstraksi lebih besar dari 50 %.
Penelitian dari Holm dan Josendal menunjukkan volume minyak
menurun akibat adanya ekstraksi sebagian fraksi hidrokarbon dalam minyak,
Dari

komposisi

hidrokarbon

yang

terekstraksi

selama

proses

pendesakan CO2, menunjukkan fraksi menengah (C7-C30) hampir semuanya


terekstraksi. Sedangkan pada fraksi ringan (C2-C6), juga fraksi berat harga
ekstraksi sangat kecil.

Gambar 2.27 Ekstraksi Minyak Oleh CO27)

3.3.2 Sumber CO2


Sumber CO2 sangat menentukan dalam keberhasilan proyek injeksi
CO2, sebab CO2 yang diperlukan harus tersedia untuk jangka waktu yang

56

panjang. Gas yang tersedia juga harus relatif murni sebab beberapa gas
seperti metana dapat meningkatkan tekanan yang diperlukan untuk
bercampur, sedangkan yang lainnya seperti hidrogen sulfida berbahaya dan
berbau serta menimbulkan permasalahan lingkungan.
Perlu diperhatikan bahwa adanya kesulitan dalam menentukan volume
aktual dan waktu pengantaran gas ke proyek, sebab kebocoran dapat terjadi
pada proyek injeksi skala besar selama periode waktu yang panjang. Faktor
yang tidak diketahui lainnya adalah volume CO2 yang harus dikembalikan
lagi (recycle). Jika gas CO2 menembus sebelum waktunya ke dalam sumur
produksi, maka gas ini harus diproses dan CO2 diinjeksikan kembali.
Sumber CO2 alami adalah yang tebaik, baik yang berasal dari sumur
yang memproduksi gas CO2 yang relatif murni ataupun yang berasal dari
pabrik yang mengolah gas hidrokarbon yang mengandung banyak CO2
sebagai kontaminan.
Sumber yang lain adalah kumpulan gas (stack gas) dari pembakaran
batubara (coal fired). Alternatif lain adalah gas yang dilepaskan dari pabrik
amonia. Beberapa kelebihan sumber tersebut adalah :
1. Pabrik amonia dan lapangan minyak yang dapat didirikan berdekatan
2. Kuantitas CO2 dari tiap sumber dapat diketahui
3. Gas CO2 yang dilepaskan dari pabrik amonia cenderung dapat
dikumpulkan dalam sebuah area industrial yang tersedia
4. Tidak memerlukan pemurnian, karena CO2 yang diperoleh mempunyai
kemurnian 98 % (Pullman kellog,1977).
Keberhasilan suatu proyek CO2 tergantung pada :
1. Karakteristik minyak

57

2. Bagian reservoir yang kontak secara efektif


3. Tekanan yang biasa dicapai
4. Ketersediaan dan biaya penyediaan gas CO2

Gambar 2.28 Sumber CO2 7)


3.3.3 Kelebihan dan Kekurangan Injeksi CO2
Penggunaan CO2 untuk meningkatkan perolehan minyak mulai menarik
banyak perhatian sejak 1950. Ada beberapa alasan (kelebihan utama),
sehingga dilakukan injeksi CO2 yaitu :
1. Injeksi CO2 mengembangkan minyak dan menurunkan viskositas.
2. Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi,
penguapan dan pemindahan kromatologi.
3. Injeksi CO2 bertindak sebagai solution gas drive sekalipun fluida tidak
bercampur sempurna.
4. Permukaan fluida campur (miscible front) jika rusak akan memperbaiki
diri.
5. CO2 akan bercampur dengan minyak yang telah berubah menjadi fraksi
C2-C6.
6. CO2 mudah

larut

di air

menyebabkan air

mengembang dan

menjadikannya bersifat agak asam.


7. Ketercampuran / miscibility dapat dicapai pada tekanan diatas 1500 psi
pada beberapa reservoir.

58

8. CO2 merupakan zat yang tidak berbahaya, gas yang tidak mudah meledak
dan tidak menimbulkan problem lingkungan jika hilang ke atmosfir
dalam jumlah yang relatif kecil.
9. CO2 dapat diperoleh dari gas buangan atau dari reservoir yang
mengandung CO2.
Sedangkan beberapa kekurangan injeksi CO2 adalah seabagai berikut
1. Kelarutan CO2 di air dapat menaikkan volume yang diperlukan selam
bercampur dengan minyak.
2. Viskositas yang rendah dari setiap gas CO 2 bebas pada tekanan reservoir
yang rendah akan menyebabkan penembusan yang lebih awal pada
sumur produksi sehingga mengurangi effisiensi penyapuan.
3. Setelah fluida tercampur terbentuk, viskositas minyak lebih rendah dari
pada minyak reservoir sehingga menyebabkan fingering dan penembusan
yang belum waktunya. Untuk mengurangi fingering maka diperlukan
injeksi slug water.
4. CO2 dengan air akan membentuk asam karbonik yang sangat korosif.
5. Injeksi alternatif slug CO2 dan air memerlukan sistem injeksi ganda dan
hal ini akan menambah biaya dan kerumitan sistem.
6. Diperlukan injeksi dalam jumlah yang besar (5 10 MCF gas untuk
memproduksi satu STB minyak).
7. Sumber CO2 biasanya tidak diperoleh ditempat yang berdekatan dengan
proyek injeksi CO2 sehingga memerlukan pemipaan dalam jarak yang
panjang.
3.3.4 Miscibility dan Pengaruhnya
Miscibility didefinisikan sebagai kemampuan suatu fluida untuk
bercampur dengan fluida lainnya dan membentik suatu fasa yang homogen
sehingga tidak tampak batas fasa fluida tersebut. Tercapainya miscibility CO 2

59

dengan minyak ditandai dengan mengecilnya tegangan permukaan sampai


mendekati nol.
Untuk mencapai miscibility, kondisi temperatur serta komposisi harus
memenuhi syarat tertentu. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
tercapainya miscibility CO2 dan minyak adalah kemurnian CO 2, komposisi
minyak, temperatur serta tekanan.
1. Kemurnian CO2
Hasil percobaan pada berbagai tingkat kemurnian yang digunakan,
menunjukkan bahwa semakin murni CO2 semakin besar miscibilitasnya.
Adanya C1 dan N2 di dalam CO2 akan mempengaruhi terjadinya miscibilitas,
sedangkan adanya H2S didalam CO2 pengaruhnya lebih kecil disbanding C1
dan N2.
2. Komposisi Minyak
Holm dan Josendal menyatakan bahwa dalam sistem biner (diagram dua
fasa), komposisi dari minyak juga akan mempengaruhi tekanan yang
diperlukan untuk pendorongan miscible.
Menurut penelitian dari Holm dan Josendal didapatkan komposisi kimia
CO2 dan hidrokarbon selama pendorongan CO2 terhadap minyak Mead
Strawn pada tekanan 2000 psi dan temperatur 135 F. Pada daerah miscible
hanya terdapat sejumlah kecil pada komponen C2-C4 dalam fasa gabungan zat
cair dan uap. Dari analisa produksi fasa uap selama pendorongan telah
breakthrough CO2, tetapi sebelum miscible, diperlihatkan penguapan
komponen C2-C4 cenderung menempati bagian depan front pendorong.

60

Hal ini terlihat dengan adanya kenaikan % mol C2-C4 dari 5,11 menjadi
10,86 pada daerah ini. Pada saat CO2 diinjeksikan, maka CO2 akan terserap
kedalamnya,

komponen-komponen

ringan

akan

menguap,

maka

terbentuklah kesetimbangan fasa ternyata dari hasil pengamatan dapat ditarik


kesimpulan C5-C30 atau C5+ terekstraksi lebih banyak.
3. Temperatur
Temperature minyak juga akan mempengaruhi tekanan yang diperlukan
untuk pendorongan miscible dapat ditarik kesimpulan bahwa temperatur yang
semakin besar, tekanan pendorongan makin besar.

4. Tekanan
Tekanan yang diperlukan untuk pendorongan miscible akan dipengaruhi
oleh kemurnian CO2, komposisi minyak dan tekanan reservoir. Dapat ditarik
beberapa kesimpulan bahwa pada tekanan pendorongan miscible CO 2
terhadap minyak reservoir dengan adanya komponen hidrokarbon ringan C2,
C3, C4 didalam minyak reservoir tidak mempengaruhi proses miscibility.
Pendorongan miscible sangat dipengaruhi oleh adanya komponen C5-C30 di
dalam reservoir.
Dari kenyataan ini Holm dan Josendal memberikan suatu kesimpulan
bahwa tekanan diinjeksi agar terjadi pendorongan yang miscible ditentukan
oleh adanya komponen C5, dalam minyak reservoir.
3.3.5 Jenis-jenis Pendorongan Gas CO2

61

Pemakaian CO2 sebagai fluida pendesak untuk perolehan minyak telah


diteliti di laboratorium maupun di lapangan. Dari keduanya telah dapat
diperkirakan bahwa CO2 dapat menjadi fluida pendesak yang efisien.
Jenis pendorongan gas karbondioksida terdiri dari solution gas drive dan
dynamin miscible drive.
A. Solution gas drive
Kelarutan CO2 didalam minyak makin besar dengan adanya kenaikan
tekanan, dengan diikuti pula pengembangan volume minyak makin besar.
Holm dan Josendal melakukan pengamatan terhadap jenis drive ini dengan
menggunakan gravity minyak 22 API yang dijenuhi dengan Berea sandstone
sepanjang 4 feet. Penjenuhan dilakukan pada tekanan 900 psi yang berisi 47,2
% PV dan sisanya air asin. Minyak yang diproduksikan 14,2 % OIP sampai
penurunan tekanan 400 psig, dan 14 % OIP pada tekanan mencapai 200 psig
Jadi CO2 adalah gas yang masuk dalam larutan dengan pengembangan
minyak sebagai suatu kenaikan tekanan, minyak dapat keluar dari larutan
dengan penurunan tekanan.
B. Dynamic miscible drive
Sifat

yang

cukup

penting

dari

CO2

adalah

kemampuannya

mengekstraksikan atau menguapkan sebagian fraksi hidrokarbon dari minyak


reservoir. Skema kondisi miscible dan mendekati miscible dari proses
pendorongan gas CO2 pada temperatur 315 F Menurut Holm dan Josendal
pada gambar tersebut sebagai hasil penyelidikannya dijelaskan sebagai
berikut :

62

Dua gambar bagian atas, memperlihatkan tekanan pendorongan CO 2


terhadap minyak pada tekanan 1800 dan 2200 psi. Pada saat diinjeksikan CO 2
selanjutnya akan mengekstrasi CO2, C5-C30 dan membentuk zona transisi CO2hidrokarbon. Luasnya zona transisi CO2 sampai hidrokarbon merupakan
fungsi dari tekanan pendorongan. Zona transisi yang cukup panjang
menandakan

pendorongan

pada

tekanan

yang

rendah.

Konsentrasi

hidrokarbon yang tinggi akan terdapat pada zona transisi dengan tekanan
pendorongan yang tinggi dan total residual saturation yang lebih rendah
akan tertinggal dalam media porous setelah proses pendesakan.
Total residual saturation yang tidak turut terdesak pada saat
pendorongan CO2 terhadap minyak pada tekanan 1800 psi dan 135 F yaitu
komponen C10+ berarti komponen C1 sampai C18 ikut terdesak oleh
pendorongan CO2 tersebut.
Sedangkan pada proses pendorongan CO2 terhadap minyak pada 2200
psi dan 135 F, ternyata komponen hidrokarbon C22+ tidak ikut terdesak, hal
ini membuktikan bahwa tekanan pendorongan yang lebih tinggi maka lebih
banyak lagi komponen hidrokarbon yang turut terproduksi. Hal ini
membuktikan bahwa untuk mendapatkan recovery minyak yang tinggi,
haruslah pada tekanan pendorongan yang tinggi.
Gas CO2 telah tercampur dengan Oil In Place, dimana tekanan
pendorongan CO2 menyebabkan CO2 dan minyak tercampur secara sempurna.
Dalam hal ini tidak terjadi ekstraksi hidrokarbon dan dari analisa zona transisi
diperlihatkan terjadinya campuran CO2 dan Oil In Place dalam satu fasa.

63

3.3.6 Mekanisme Injeksi CO2


Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak
dan membentuk fluida baru yang lebih mudah didesak dari pada minyak
reservoir awal. Proses pelaksanaannya sama seperti pada proses EOR lainnya,
yaitu dengan menginjeksikan sejumlah gas CO2 yang telah direncanakan
melalui sumur-sumur injeksi yang telah ada, kemudian minyak yang keluar
diproduksikan melalui sumur produksi. Ada empat jenis mekanisme
pendesakan injeksi CO2.
Dalam pelaksanaan ini, gas CO2 yang diinjeksikan, dapat dilakukan
dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Injeksi CO2 secara kontinyu selama proyek berlangsung.
2. Injeksi Carbonate Water (Injeksi slug CO2 diikuti air).
3. Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti dengan air (Injeksi slug CO2 dan
air secara bergantian).
4. Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti injeksi air dan CO2 (Injeksi CO2
dan air secara simultan).
Untuk gas yang dibawa dengan menginjeksikan terus menerus gas CO 2
ke dalam reservoir maka diharapkan gas CO 2 ini dapat melarut dalam minyak
dan mengurangi viskositasnya, dapat menaikkan densitas (sampai tahap
tertentu, yang kemudian diikuti dengan penurunan densitas), dapat
mengembangkan volume minyak dan merefraksi sebagian minyak, sehingga
minyak akan lebih banyak terdesak keluar dari media berpori.
Untuk cara yang kedua, yaitu dengan menginjeksikan carbonat water ke
dalam reservoir. Sebenarnya carbonat water adalah percampuran antara air
dengan gas CO2 (reaksi CO2 + H2O) sehingga membentuk air karbonat yang

64

digunakan sebagai injeksi dalam proyek CO2 flooding. Tujuan utama adalah
untuk terjadi percampuran yang lebih baik terhadap minyak sehingga akan
mengurangi viskositas dari minyak serta mengembangkan sebagian volume
minyak sehingga dengan demikian penyapuan akan lebih baik.
Pada cara yang ketiga, yaitu membentuk slug penghalang dari CO 2 yang
kemudian diikuti air sebagai fluida pendorong. Sama seperti cara pertama dan
kedua, pembentukan slug ini untuk lebih dapat mencampur gas CO 2 kedalam
minyak, kemudian karena adanya air yang berfungsi sebagai pendorong maka
diharapkan efisiensi pendesakan akan lebih baik.
Untuk cara yang keempat sebenarnya sama dengan cara yang ketiga
tetapi disini lebih banyak fluida digunakan CO 2 untuk lebih melarutkan
minyak setelah proses penyapuan terhadap pendesakan minyak, maka minyak
yang telah tersapu dan akan diproduksikan melalui sumur produksi.
Dari studi yang dilakukan menunjukkan bahwa injeksi CO2 dan air
secara simultan terbukti merupakan mekanisme pendesakan yang terbaik
diantara keempat metode tersebut (oil recovery sekitar 50 %). Disusul
kemudian injeksi slug CO2 dan air bergantian. Injeksi langsung CO2 dan
injeksi slug CO2 diikuti air sama buruknya dengan kemampuan mengambil
minyak hanya sekitar 25 %. Dalam semua kasus, pemisahan gaya berat antara
CO2 dan air terjadi sebelum setengah dari batuan batuan recovery tersapu
oleh campuran dari dua fluida tersebut