Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa karena atasberkat, rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga kami masih
diberikan kesehatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Makalah yang kami buat ini bejudul Antimikroba dan Resistensi
Antimikroba yang

kami susun

sebagai

bahan

diskusi

pada

mata

kuliah Mikrobiologi Farmasi pada jurusan FARMASI FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA Makassar tahun akademik 2015/2016
meskipun dalam penyusunan makalah ini terdapat beberapa hambatan dan
kesulitan yang di hadapi namun berkat bimbingan dan arahan dari dosen hal
tersebut dapat di atasi, sehingga kami tak lupa mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar besarnya kepada pihak yang telah membantu kami.
Penyusun

menyadari bahwa

dalam pembuatan makalah ini

masih

banyak terdapat kekurangan oleh karenanya saran dan kritik sangat kami
harapkan demi kesempurnaan bersama.
Semoga dengan tersusunya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca terutama bagi penyusun.

Makassar, 28 Mei 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Antimikroba atau antiinfeksi, termasuk antiparasit, adalah
obat yang digunakan untuk terapi kondisi patologi yang disebabkan
oleh karena terjadi infeksi mikroba atau invasi parasit.
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya
mikroba yang merugikan manusia. Antibiotik adalah zat yang
dihasilkan

oleh

suatu

mikroba,

terutama fungi,

yang

dapat

diberikan

untuk

antibiotika

dapat

menghambat mikroba jenis lain.


Banyak
mengobati

masuk

orang
angin

mengira
atau

antibiotika

flu.

Memang

diberikan bersama-sama dengan obat flu, tetapi tujuannya hanayalah


untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri sekunder seperti sakit
tenggorokan, bukan untuk mengobati masuk angin atau flu, yang
disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
Salah satu dari masalah-masalah utama yang berkaitan
dengan pemakaian zat-zat kemoterapeutik (antimikroba) secara luas
ialah terbentuknya resistensi pada mikroorganisme terhadap obatobatan ini. Dengan berkembangnya populasi mikroba yang resisten,
maka antibiotik yang pernah efektif untuk mengobati penyakitpenyakit tertentu kehilangan nilai kemoterapeutiknya. Terbentuknya
resistensi, yang

merupakan

fenomena

biologis

yang

mendasar,

menunjukkan bahwa di dalam pemakaian zat-zat kemoterapeutik


diperlukan kehati-hatian yang tinggi. Zat-zat tersebut tidak boleh
digunakan sembarangan atau tanpa pembedaan. Sejalan dengan hal
tersebut, jelas bahwa ada kebutuhan yang terus-menerus untuk
mengembangkan obat-obat baru dan berbeda untuk menggantikan
obat-obat yang telah menjadi efektif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Antimikroba?
2. Bagaimana penggolongan Antimikroba?
3. Apa yang dimaksud dengan resistensi antimikroba?
4. Bagaimana mekanisme kerja antimikroba?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Antimikroba, Antiinfeksi, dan Antibiotik

Antimikroba atau antiinfeksi, termasuk antiparasit, adalah


obat yang digunakan untuk terapi kondisi patologi yang disebabkan
oleh

karena

terjadi

infeksi

mikroba

atau

invasi

parasit. (ISO

Indonesia, 2013)
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya
mikroba yang merugikan manusia. Antibiotik adalah zat yang
dihasilkan

oleh

suatu

mikroba,

terutama fungi,

yang

dapat

menghambat mikroba jenis lain.


Kata antibiotik diberikan pada produk metabolik yang
dihasilkan suatu organisme tertentu, yang dalam jumlah amat kecil
bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Dengan
kata lain, antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilka oleh suatu
mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme. (Pelczar, 2007).
Pencarian antibiotik dimulai pada akhir tahun 1800-an
ketika teori tentang asal-usul penyakit yang menyebutkan bahwa
bakteri dan mikroorganisme lain sebagai penyebab penyakit diterima
oleh masyarakat luas. Pada tahun 1877, Louis Pasteur menemukan
kenyataan bahwa bakteris antraks yang dapat menyebabkan penyakit
antraks dan berakibat pada kegagalan pernapasan, dapat dikurangi
patogenitasnya pada hewan uji setelah hewan ui tersebut diinjeksi
dengan bakteri yang diisolasi dari tanah. Pada awal tahun 1920,
ilmuwan Inggris, Alexander Flemming menemukan enzim lisosim
pada air mata manusia. Enzim tersebut dapat melilis sel bakteri.
Enzim

pada

air

mata

manusia

ini

merupakan

contoh

agen

antimikroba yang pertama kali di temukan sel bakteri. Penemuan


Flemming yang kedua terjadi secara tidak sengaja pada tahun 1928,
saat

ia

menemukan

bahwa

koloni

Staphylococcus

yang

ia

tumbuhkan dengan metode streak pada media Agar di cawan petri


mengalami lisis di sekitar pertumbuhan koloni kapang kontaminan.
Ia

menemukan

bahwa

koloni

Pennicillium sp. (Pratiwi, 2008).

kapang

tersebut

merupakan

Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang


bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas
bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal
sebagai aktivitas bakteriosida. Kadar minimal yang diperlukan untuk
menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya, masingmasing dikenal sebagai kadar hambat minimal (KHM) dan kadar
bunuh minimal (KBM). Antimikroba tertentu aktivitasnya dapat
meningkat

dari

bakteriostatik

menjadi

bakteriosida

bila

kadar

antimikrobanya ditingkatkan melebihi KHM. (Priyanto, 2008).


Walaupun suatu antimikroba berspektrum luas, efektivitas
kliniknya belum tentu seluas

spektrumnya sebab efektivitasnya

maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih oleh untuk


infeksi yang sedang dihadapi terlepas dari efeknya terhadap mikroba
lain. Di samping itu antimikroba berspektrum luas cenderung
menimbulkan superinfeksi oleh kuman atau jamur yang resisten. Di
lain pihak pada septikemia yang penyebabnya belum diketahui
diperlukan antimikroba yang berspektrum luas sementara menunggu
hasil pemeriksaan mikrobiologik. (Priyanto, 2008).
B. Penggolongan Antimikroba
Berdasarkan

mekanisme

kerjanya,

Antimikroba

dikelompokkan menjadi 5 kelompok :


1. Antimikroba Yang Menghambat Metabolisme Sel Mikroba.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid,
trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Dengan
mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik.

2. Antimikroba Yang Menghambat Sintesis Dinding Sel Mikroba.


Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah penisilin,
sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin. Dinding sel
bakteri, terdiri dari polipeptidoglikan.
3. Antimikroba Yang Mengganggu Keutuhan Membran Sel Mikroba.

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin,


golongan polien, serta berbagai antimikroba kemoterapeutik
umpamanya antiseptik surface active agents. Polimiksin sebagai
senyawa amonium-kuartener dapat merusak membran sel setelah
bereaksi dengan fosfat pada fospolipidmembran sel mikroba.
4. Antimikroba Yang Menghambat Sintesis Protein Sel Mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah golongan
aminooglikosid makrolit, linkomisin,tetrasklin dan kloramfenikol.
Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensisntesis berbagai
protein. Sintesis protein berlangsung di ribosom dengan bantuan
mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas 2 sub unit,
yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai
ribosom 3OS dan 5OS. Untuk berfungsi pada sintesis protein,
kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA
menjadi ribosom 7OS. Penghambatan sintesis protein terjadi
dengan berbagai cara.
5. Antimikroba Yang Mengganggu Keutuhan Membran Sel Mikroba
Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah rifamfisin,
dan

golongan

kuinolon.

Yang

lainnya

walaupun

bersifat

antimikroba, karena sifat sitotoksisitasnya, pada umumnya hanya


digunakan sebagai obat antikanker; tetapi beberapa obat dalam
kelompok terakhir ini dapat pula digunakan sebagai antivirus. Yang
akan dikemukakan di sini hanya kerja obat yang berguna sebagai
antimikroba, yaitu rifampisin dan golongan kuinolon.

C. Resistensi Antimikroba
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa yang dimaksud
antibiotik adalah suatu zat pembunuh bakteri yang merupakan suatu obat
yang dapat membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri.
Antibiotik tidak punya efek melawan virus, jamur, atau benalu. Antibiotik

adalah satu kelas antimicrobials, suatu kelompok lebih besar yang juga
meliputi anti-viral, anti-fungal, dan obat anti-parasitik .
Ketidakrasionalan penggunaan antibiotik mendorong terjadinya
resistensi bakteri terhadap antibiotik di dunia. Masalah ini menimbulkan
ancaman pandemi. Hal itu mengemuka dalam seminar Antimicrobial
Resistance-Containment and Prevention di Jakarta, Kamis (7/4), dalam
rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia (Kompas.com).
Resistensi antimikroba (antimicrobial

resistance)

adalah hasil dari mikroba mengubah cara-cara yang mengurangi atau


menghilangkan efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lain untuk
menyembuhkan atau mencegah infeksi.
Resistensi antimikroba (kemudian disebut dengan Anti Microbial
Resistence/AMR) adalah resistensi yang terjadi oleh mikroorganisme
terhadap obat-obat antimikroba untuk yang sebelumnya sensitif.
Organisme yang resisten (termasuk diantaranya adalah bakteri, virus dan
beberapa parasit) mampu melawan serangan obat-obatan antimikroba,
seperti antibiotik, anti-virus, dan anti-malaria, sehingga pengobatan
standar menjadi tidak efektif lagi. Sehingga infeksi yang muncul akan
bertahan dan dapat menyebar kepada orang atau populasi lain. AMR
merupakan konsekuensi logis dari penggunaan antimikroba. Termasuk
didalamnya adalah penggunaan reguler maupun penyalahgunaan. Obatobatan antimikroba akan menjadi resisten ketika mikroorganisme
bermutasi atau mengakuisisi suatu gen.
Resistensi sel mikroba merupakan suatu sifat tidak terganggunya
kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Secara umum resistensi dapat
diartikan suatu keadaan dimana organisme secara normal mempunyai
kemampuan

untuk

menentang

agen

di

sekitarnya yangdapat

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya secara alamiah. Pada


keadaan tertentu, apabila interaksi antara obat dengan mikroba kurang baik
atau tidak terjadi sama sekali, maka dinyatakan bahwa antibiotika tersebut
telah resisten terhadap mikroba tertentu.

Problem resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik mulamula ditemukan pada tahun 1980-an dengan ditemukannya kasus
multipel resisten pada strain bakteri Streptococcus pneumoniae,
Mycobacterium
Enterococcus

tuberculosis,
faecalis.

Staphylococcus

Semakin

tinggi

aureus,

penggunaan

dan

antibiotik,

semakin tinggi pula tekanan selektif proses evolusi dan proliferasi


strain

mikroorganisme

yang

bersifat

resisten.

Mikroorganisme

patogen yang resisten terhadap antibiotik sangat sulit dieliminasi


selama proses infeksi, dan infeksi oleh beberapa strain bakteri dapat
berakibat letal (kematian). (Pratiwi, 2008).
Secara garis besar kuman dapat menjadi resisen terhadap
suatu Antimikroba melalui 3 mekanisme :
1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel
mikroba. Pada kuman Gram-negatif, molekul antimikroba yang
kecil dan polar dapat menembus dinding luar dan masuk ke
dalam sel melalui lubang-lubang kecil yang disebut porin. Bila
porin menghilang atau mengalami mutasi maka masuknya
antimikroba ini akan terhambat. Mekanisme lain ialah kuman
mengurangi

mekanisme

transpor

aktif

yang

memasukkan

antimikroba ke dalam sel. Mekanisme lain lagi ialah mikroba


mengaktifkan

pompa

efluks

untuk

antimikroba yang ada dalam sel.


2. Inaktivasi obat. Mekanisme ini

membuang

sering

keluar

mengakibatkan

terjadinya resistensi terhadap golongan aminoglikosida dan beta


laktam karena mikroba mampu membuat enzim yang merusak
kedua golongan antimikroba tersebut.
3. Mikroba mengubah tempat ikatan antimikroba. Mekanisme ini
terlihat pada S.aureus yang resisten trhadap metisilin. Kuman
ini menguban Penicillin Blinding Protein sehingga afinitasnya
menurun terhadap metisilin dan antibiotik beta laktam yang
lain.

Resistensi obat terjadi dengan bentuk dan mekanisme yang


beragam dan kompleks. Resistensi obat dapat dibagi menjadi tiga bentuk
yaitu:
1. Resistensi Alamiah
Resistensi alamiah yaitu semua mikroba dari galur yang sama atau
jenis yang sama tidak peka terhadap suatu antimikroba. Contohnya
yaitu bakteri Gram negatif terhap benzilpenisilin.
2. Resistensi kromosom dapatan
Bentuk ini terjadi seleksi mutan yang resisten dari kelompok galur
yang dulu peka terhadap antimikroba bersangkutan, dengan kata lain
antimikroba akan menseleksi mikroba yang resisten secara spontan.
Berdasarkan kecepatan terjadinya, bentuk resistensi ini dibagi
menjadi mutasi satu tahap dan mutasi beberapa tahap. Mutasi satu
tahap yaitu resistensi yang terjadi relatif cepat (setelah kontak satu
sampai empat kali dengan antimikroba) dan tidak bergantung pada
kadar antimikroba yang digunakan, sedangkan mutasi beberapa
tahap yaitu resistensi yang berlangsung lambat dan bertahap.
3. Resistensi ektrakromosom yang dipindahkan
Resistensi ektrakromosom yang dipindahkan yaitu pemindahan
faktor resistensi (faktor R) dari sel mikroba yang satu ke mikroba
yang lainnya. Faktor R ini disebut juga plasmid resistensi dan
merupakan molekul DNA berbentuk cincin yang disampjngnya
mempunyai satu atau lebih gen resisten yang mempunyai faktor
tranfer resisten yang berperan untuk membawa informasi genetik ke
sel lain.
Secara garis besar mikroba dapat menjadi resisten tehadap
antimikroba melalui empat mekanime (Gambar 1) yaitu sebagai
berikut:
1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel
mikroba (dengan cara mengurangi permeabilitas membran luar atau
membran sel)

Mikroba Gram negatif dengan molekul antimikroba yang berukuran


kecil dan polar dapat menembus dinding luar dan masuk ke dalam sel
melalui melalui lubang-lubang kecil yang disebut porin, apabila porin
menghilang atau mengalami mutasi maka masuknya antimikroba akan
terhambat. Mekanisme lain yang dapat terjadi yaitu mikroba
mengurangi mekanisme transpor aktif yang memasukkan antimikroba
ke dalam sel seperti pada gentamisin atau dengan mekanisme mikroba
mengaktifkan pompa efluks untuk membuang keluar antimikroba yang
ada dalam sel contohnya pada tetrasiklin.
2. Aktifasi efflux
Aktivasi efflux mengakibatkan pemompaan agen antimikroba kembali
ke ruang periplasmik (seperti pada tetrasiklin pompa efflux pada
Enterobacteriaceae) atau langsung ke lingkungan luar (seperti pada
RNDmultidrug efflux transporters)
3. Inaktifasi obat (modifikasi agen antimikrobial)
Pada mekanisme ini, mikroba mampu membuat enzim yang dapat
merusak antimikroba. Hal ini sering terjadi pada antimikroba golongan
aminoglikosida dan beta laktam.
4. Mikroba mengubah tempat ikatan (binding site) antimikroba
(modifikasi target)
Mekanisme ini terjadi pada S. aureus yang resisten pada metisilin
(MRSA). Mikroba ini dapat mengubah penisilin binding protein
(PBP) sehingga afinitasnya menurun terhadap metisilin dan antibiotik
beta

laktam

lainnya.

Sumber: Gigure et al. 2013


Gambar 1 Empat mekanisme utama resistensi antimikroba
Resistensi dapat menyebar diantara mikroba satu dangan yang
lainnnya. Penyebaran resistensi pada mikroba dapat terjadi dengan cara
diturunkan ke generasi berikutnya (secara vertikal) atau disebarkan dari
satu mikroba ke mikroba yang lainnya (secara horizontal). Berdasarkan
cara pemindahannya resistensi dibagi menjadi empat cara yaitu:
1. Mutasi
Proses mutasi terjadi secara spontan, acak dan tidak tergantung dari ada
atau tidaknya paparan terhadap antimikroba. Mutasi terjadi akibat dari
perubahan pada gen mikroba mengubah binding site antimikroba, protein
transpor, protein yang mengaktifkan obat dan lain-lain. Hasil dari mutasi
dapat menetap, dikoreksi, atau dapat bersifat letal terhadap sel. Apabila sel
tersebut dapat hidup, maka sel tersebut dapat bereplikasi dan
mentransmisikan sifat-sifatnya pada sel anak sehingga muncul strain yang
resisten.
2. Tranduksi
Merupakan keadaan dimana mikroba menjadi resisten karena mendapat
DNA dari bakteriofag yang membawa DNA dari mikroba lain yang
memiliki gen resisten terhadap antimikroba tertentu. Mikroba yang sering
mentransfer resisten dengan cara ini yaitu S. aureus.
3. Transformasi
Tranformasi

yaitu:

terjadinya

transfer

resistensi

karena

mikroba

mengambil DNA bebas yang membawa sifat resiten dari sekitarnya.


Transformasi sering menjadi cara tranfer resistensi terhadap penisilin pada
pneumokokus dan Neisseria.
4. Konjugasi
Konjugasi adalah mekanisme transfer resisten yang sangat penting dan
dapat terjadi antara mikroba yang spesiesnya berbeda. Tranfer resitensi
dengan cara ini terjadi langsung antara dua mikroba dengan suatu
jembatan yang disebut pilus seks. Sifat resistensi dibawa oleh plasmid

(DNA yang bukan kromosom). Konjugasi sering terjadi antara bakteri


Gram negatif.

Sumber: Gigure et al. 2013


Gambar 2 Mekanisme penyebaran resistensi pada mikroba secara horizontal
Mekanisme Resistensi Mikroba
1. Resistensi Alamiah
Faktor yang menentukan sifat resistensi atau sensitivitas mikroba terhadap
antimikroba terdapat pada elemen yang bersifat genetik. Didasarkan pada
lokasi elemen untuk resistensi ini, dikenal resistensi kromosom dan
resistensi ekstrakromosomal. Sifat genetik dapat menyebabkan suatu
mikroba sejak awal resistensi terhadap suatu antimikroba. Resistensi ini
disebut resistensi genetika atau resistensi bawaan atau resistensi alamiah
2. Resistensi Didapat
Mikroba yang semula peka terhadap suatu antimikroba dapat berubah sifat
genetiknya menjadi kurang atau tidak peka. Perubahan sifat genetik
terjadi karena kuman memperoleh elemen genetik yang membawa sifat
resisten. Resistensi ini disebut dengan resistensi didapat (acquired
resistant). Elemen resistensi ini dapat diperoleh dari luar dan disebut
resistensi yang dipindahkan (transferred resistant), dapat juga terjadi akibat
mutasi genetik spontan atau akibat rangsangan anti mikroba (induced
resistant).
Kemampuan bakteri resistensi untuk tetap tumbuh dan multifikasi
dengan kehadiran antimikroba menggambarkan adanya perbedaan
genetika bakteri resisten dengan bakteri yang sensitif. Bagaimana

terjadinya perubahan genetika dari bakteri yang sensitif menjadi bakteri


yang resisten terhadap anti biotika belum dapat dijelaskan secara pasti.
Dengan mutasi spontan gen mikroba berubah, sehingga yang sensitif
terhadap suatu antimikroba menjadi resisten. Dengan adanya antimikroba
tersebut terjadi seleksi, strain yang masih sensitif terbasmi, sehingga
berakhir dengan terbentuknya populasi resisten.
Mikroba dapat berubah resisten akibat memperoleh suatu elemen
pembawa faktor resisten. Faktor ini mungkin didapat dengan cara
transformasi, transduksi atau konyugasi. Dengan transformasi, mikroba
menginkorporasi

faktor-faktor

langsung

dari

media

disekitarnya

(lingkungannya). Pada transduksi, faktor resistensi dipindahkan dari suatu


mikroba resisten ke mikroba sensitif dengan perantara bakteriofag. Dalam
hal ini yang dipindahkan adalah suatu komponen DNA dari kromosom
yang mengandung faktor resisten tersebut. Dengan konyugasi terbentuk
hubungan langsung antara isi sel bakteri khususnya komponen yang
membawa faktor resistensi. Faktor resistensi yang dipindahkan terdapat
dalam dua bentuk yaitu plasmid dan episom. Plasmid merupakan suatu
elemen genetik (DNA-plasmid) yang terpisah dari DNA-kromosom, jadi
merupakan suatu DNA non kromosom. Tidak semua plasmid dapat
dipindahkan. Yang dapat dipindahkan adalah plasmid faktor R, disebut
plasmid penular (infectious plasmids). Faktor R ini terdiri dari dua unit
yaitu segmen RTF (resistance transfer factor) dan determinan-r (unitr).Segmen RTF memungkinkan terjadinya perpindahan faktor R. Masingmasing unit-r membawa sifat resistensi terhadap satu unit mikroba.
Dengan demikian berbagai unit-r pada 1 plasmid faktor R membawa sifat
resistensi terhadap berbagai anti mikroba sekaligus.
Faktor yang mempengaruhi farmakodinamik dan farmakokinetik
Selain

dipengaruhi

oleh

aktivitas

antimikroba

efek

farmakodinamik dan sifat farmakokinetiknya, efektivitas antimikroba


dipengaruhi juga oleh berbagai faktor yang terdapat pada pasien.

1. Umur
2. Kehamilan
3. Genetik
4. Keadaan patolik tubuh hospes
D. Mekanisme Kerja Antimikroba
Cara kerja antimikroba mengobati infeksi bakteri bervariasi
sesuai

dengan

jenis

dari

antimikroba

(antibiotik)

itu

sendiri.

Berdasarkan formulasi obat dan cara memerangi bakteri, ada dua


cara kerja dari antimikroa dalam menghambat bakteri :
1. Bakteriostatik
Antimikroba yang
pertumbuhan
langsung.

tergolong

bakteri,
Karena

pertumbuhannya,

sistem

bakteriostatik

alih-alih

menghambat

membunuhnya

bakteri

patogen

kekebalan

tubuh

secara

terhambat
dapat

dengan

mudah memerangi infeksi. Mekanisme kerja antimikroba


bakteriostatik adalah dengan mengganggu sintesis protein
pada bakteri penyebab penyakit.
Contoh antimikroba bakteriostatik

adalah

Spectinomycin

(Obat Gonore), Tetracycline (Obat infeksi), Kloramfenikol


(Untuk infeksi bakteri), dan Makrolida (efektif untuk bakteri
gram positif).
2. Bakteriasida
Antibiotik bakteriasida mengandung senyawa aktif yang
secara

langsung

membunuh

bakteri.

Untuk

membunuh

bakteri, antibiotik jenis ini menargetkan dinding sel luar,


membran sel bagian dalam, serta susunan kimia bakteri.
Contoh antimikroba bakteriasida adalah Penisilin (menyerang
dinding sel luar), Polymyxin (menargetkan membran sel),
dan Kuinolon (mengganggu jalur enzim). Beberapa zat
bakteriosida digunakan sebagai desinfektan, sterilisasi, dan
antiseptik.
3. Antimikroba dengan Sasaran Spesifik
Satu jenis antimikroba tidak adakan mampu membunuh
semua bakteri. Dengan demikian, selain klasifikasi menurut

modus

tindakan,

antimikroba

juga

diklasifikasikan

berdasarkan kekhususan target.


Itu sebabnya, antimikroba juga bisa diklasifikasikan menjadi
antimikroba

spektrum

luas

dan

antimikroba

spektrum

sempit.
a. Antimikroba Spektrum Luas efektif membunuh jenis
bakteri patogen (misalnya tetrasiklin, tigesiklin, dan
kloramfenikol).
b. Antimikroba Spektrum Sempit direkomendasikan untuk
mengobati

jenis

tertentu

dari

bakteri

penyebab

penyakit (misalnya oxazolidinone dan glisilsiklin).

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Antimikroba atau antiinfeksi adalah obat pembasmi mikroba,
khususnya mikroba yang merugikan manusia
2. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba,
terutama fungi, yang dapat menghambat mikroba jenis lain.
3. Antimikroba
bekerja
terhadap
bakteri
dengan
cara
bakteriostatik dan bakteriosida.
4. Bakteriostatik adalah cara antimikroba dalam menghambat
pertumbuhan bakteri dengan mengganggu sintesis protein pada
bakteri patogen.

5. Bakteriosida adalah cara antimikroba dalam membunuh bakteri


dengan menargetkan dinding sel luar, membran sel bagian
dalam serta susunan kimianya.
6. Resistensi antimikroba (antimicrobialresistance)adalah hasil dari m
ikroba mengubah cara-cara yang mengurangi atau menghilangkan
efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lain untuk menyembuhkan
atau mencegah infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Cara Kerja Antibiotik: Bagaimana antibiotik membunuh bakteri.
http://www.amazine.co/17365/cara-kerja-antibiotik-bagaimanaantibiotik-membunuh-bakteri/.
Badan POM RI. 2013. ISO Indonesia Volume 48. Jakarta : PT. ISFI
Penerbitan Jakarta.
Dentosca,2011.http://dentosca.wordpress.com/2011/04/16/ulkus kemoterapeutik/ .
Gigure S, Prescott JF, Dowling PM. 2013. Antimicrobial Therapy in Veterinary
Medicine. Edisi ke-5. USA: Wiley Blackwell.
Harkness, Richard. 2005. Interaksi Obat. Bandung : Penerbit ITB
KhalifanUtomo.2011.http://khalifan2011.student.umm.ac.id/2011/08/12/antibiotik
Pelczar, Michael. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta : UI Press.
Pratiwi, Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Priyanto.

2008.

Farmakoterapi

LESKONFI.

dan

Terminologi

Medis.

Depok :