Anda di halaman 1dari 2

Indonesia (Masih) Bhineka Tunggal Ika

Oleh: Defika Putri Nastiti


Beberapa minggu lalu masih terekam jelas dalam ingatan ketika selembar kertas bertuliskan
undangan workshop bertema tentang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT)
bertebaran di area kampus Universitas Lampung. Tidak banyak memang namun undangan
terbuka itu akan diadakan di salah satu gedung kampus yang terlihat maupun tidak terlihat,
kampus juga terlibat dalam kegiatan workshop tersebut. Mendadak ratusan mahasiswa
bergerak, menolak keras LGBT di lingkungan kampus mereka dengan mengusung
Universitas Lampung (Unila) yang bebas dari LGBT mereka melakukan aksinya di depan
gedung Rektorat Universitas Lampung. Mereka menuntut agar Rektor tegas menghukum
siapapun yang terlibat dalam LGBT untuk ditindak secara tegas, meski akhirnya hal itu
ditanggapai dengan baik oleh Rektor Unila namun secara terselubung di Unila beberapa
penggiat LGBT masih giat menyebarkan ajaran mereka.
Semenjak di keluarkan kebebasan menikahi sesama jenis di Amerika, kemerdekaan kaum
LGBT pun makin terlihat jelas termasuk di Indonesia. Sebagai bangsa yang mayoritas
penduduknya memeluk agama Islam tentu bukan hal yang mudah untuk kaum LGBT
memerdekakan diri. Namun Indonesia masih Bhineka Tunggal Ika, penduduknya masih
menganut faham tentang perbedaan adalah penyatu, meski masih belum jelas dan banyak
yang menentang adanya LGBT di Indonesia pun rakyat Indonesia masih mentolerir
keberadaan mereka yang menyatu bersama kehidupan sehari-hari mereka. Namun apakah
LGBT termasuk dalam kebhinekaan itu sendiri?
Yang selama ini kita ketahui bahwa konsep Bhineka Tunggal Ika dulunya merupakan
semboyan penyatu keragaman ras, budaya, suku, kelompok maupun agama yang ada di
Indonesia. Namun tidak tertafsirkan bahwa semboyan itu juga berlaku bagi gender. Hal ini
menjadi pemaklum karena sejak dulu manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, berbeda,
dan itu jadi hal yang lumrah hingga tak tertafsirkan di semboyan Bhineka Tunggal Ika. Lalu
lantas kini ketika polemik LGBT meruah akankah Bhineka Tunggal Ika berevolusi, dikaji
kembali dan memasukan unsur gender kedalam tafsirannya?
Mungkin sebagai semboyan yang nantinya dipakai oleh Negara, tentunya pemimpin
Indonesia terdahulu telah memikirkan masak-masak yang terbaik hingga memutuskannya
menjadi semboyan Negara. Termasuk unsur gender yang meski tidak sepolemik unsur suku,
agama, ras dan golongan, gender termasuk keaneka ragaman yang menuai banyak sekali pro
dan kontra hingga walau tidak tersinggung secara detail itu termasuk bagian dari tafsir
Bhineka Tunggal Ika. Keragaman yang juga menyatu dalam diri Indonesia.
Terlepas dilarang atau tidak, berdosa atau tidak, pelaku LGBT di Indonesia juga manusia
yang lahir dan mempunyai hak sebagai warga Negara. Beberapa pelaku LGBT di Indonesia
juga sempat mengatakan bahwa memilih siapa dan apa yang dicinta termasuk dalam hak,
entah salah atau benar. Karena yang saya dan semua rakyat Indonesia ketahui bahwa hak
warga Negara yang benar dan telah diamini oleh undang-undang ialah bahwa seluruh
manusia dan makhluk hidup berhak hidup dan mendapat kehidupan yang layak.

Indonesia masih Bhineka Tunggal Ika, masih memiliki semboyan yang hidup mendarah
daging. Meski di agama manapun LGBT merupakan kesalahan, namun sebagai rakyat
Indonesia hidup bermasyarakat bersama pelaku LGBT bukanlah kesalahan. Semua manusia
berbeda, punya prinsip dan cara hidup masing-masing. Boleh jadi LGBT memang kesalahan,
namun manusia juga sering melakukan kesalahan. Meski menolak dengan keras, namun suatu
yang keras melawan sesuatu yang memang sudah keras akan menghancurkan segalanya.
Mungkin dengan mencoba hidup bermasyarakat dengan baik, mengarahkan dengan cara baik,
hal yang tidak diinginkan dari pelaku LGBT dapat terhindari. Karena Indonesia (masih)
Bhineka Tunggal Ika.