Anda di halaman 1dari 4

FORMULA

R/ Bisakodil
Oleum cacao
Setil alkohol

10 mg
90%
10%

mf sup No.XII @ 4 g
FORMULA
R/ Povidone 10%
PEG 400 50%
PEG 6000 50%
mf ovula No.XII @ 4 g

Nama Dan Kekuatan Sediaan

Bisakodil Supositoria 10 mg / Supositoria 4 gram


Povidone Iodine Ovula 10 % / Ovula 4 gram

Prinsip Percobaan
Pembuatan supositoria dan ovula dengan metode tuang. Sedian supositoria dan ovula

harus menggunakan basis yang sesuai dengan sifat zat aktifnya, tahan pemanasan, dan stabil
dalam penyimpanan. Penimbangan basis supositoria dan ovula harus menggunakan
penentuan bilangan pengganti terlebih dahulu untuk zat aktif dalam bobot.

Preformulasi Wadah Kemasan


Wadah kemasan primer yang digunakan baik untuk suppositoria dan ovula adalah

alumunium foil. Bahan alumunium foil yang dapat melindungi sediaan (suppositoria dan
ovula) dari paparan cahaya yang dapat melelehkan bentuk sediaan. Selain itu, alumunium foil
juga dapat menjaga kelembaban sediaan karena tidak dapat ditembus oleh molekul air. Setiap
ovula dikemas terpisah untuk mencegah perekatan, tidak mudah hancur dan meleleh. Setelah
itu setiap ovula yang sudah tertutup oleh alumunium foil dikemas dalam wadah, disimpan
dalam tempat yang sejuk dan tidak terkena paparan sinar matahari.
Analisis Pertimbangan Formula
1. Suppositoria
Zat aktif yang digunakan pada pembuatan suppositoria ini adalah bisakodil. Bisakodil
memiliki khasiat sebagai laksatif stimulan. Bisakodil dibuat menjadi sediaan suppositoria
agar didapatkan onset kerja yang lebih cepat. Pada penggunaan secara oral yang diberikan

dalam bentuk tablet salut enteric, onset kerja bisakodil didapatkan setelah 6 jam 12 jam,
sedangkan pada pemberian secara rektal onset kerja bisakodil hanya 15 menit sampai 1 jam.
Pada formula ini, kekuatan sediaannya sebesar 10mg/4 gram, hal ini sudah sesuai dengan
teori yang tercantum didalam Martindale (2009) bahwa dosis bisakodil untuk pasien yang
usianya diatas 10 tahun sebanyak 10 mg.
Bisakodil merupakan zat yang praktis tidak larut dalam air dan larut dalam lemak
sehingga dapat diketahui bahwa bisakodil ini bersifat nonpolar. Oleh karena itu, basis suppo
yang dipilih pada formula ini adalah basis lemak. Basis lemak (nonpolar) tidak dapat
diabsorbsi oleh tubuh, hal ini sesuai dengan tujuan pengobatannya yang diinginkan bekerja
secara lokal di usus besar. Basis lemak yang dipilih adalah oleum cacao karena oleum cacao
memiliki titik leleh 30o-36oC sehingga ketika digunakan secara rektal, basis ini akan langsung
meleleh dan membebaskan zat aktif. Kelebihan lain yang dimiliki oleh oleum cacao adalah
cepat membeku, mampu meleleh sempurna, kompatibel dengan bisakodil, tidak berbahaya
dan tidak reaktif. Oleum cacao juga tidak menimbulkan iritasi pada daerah penggunaan, sifat
ini sesuai untuk mengurangi sifat iritan dari bisakodil.
Kedalam formula ini juga ditambahkan setil alcohol 10% sebagai basis. Setil alcohol
berperan sebagai plastisizer, yaitu suatu bahan yang mampu meningkatkan ketahanan bahan
lainnya, dalam hal ini ketahanan suppo terhadap panas dengan cara meningkatkan viskositas.
Persentase setil alcohol yang digunakan dalam basis lebih kecil dibandingkan oleum cacao.
Hal ini dilakukan agar suppositoria tetap mampu meleleh sempurna pada suhu tubuh, dan
suppo tetap lunak. Jika setil alcohol ditambahkan terlalu banyak, maka suppo yang terbentuk
akan sukar meleleh pada suhu tubuh dan memiliki massa yang sangat padat (keras).
2. Ovula
Dalam formula ini zat aktif yang digunakan adalah Povidon Iodin, yang berfungsi
sebagai antiseptik. Tujuan penggunaan povidon dalam bentuk sediaan ovula yaitu untuk
mendapatkan efek lokal, yaitu untuk mengobati infeksi vagina dengan cara membunuh
bakteri vegetatif, mikobakterium, jamur dan virus yang mengandung lipid. Dengan cara
merusak membran lipid bakteri.
Basis yang digunakan dalm formula ini adalah Polietilen Glikol (PEG). Kelebihan
PEG jika dibandingkan dengan basis lain yaitu sifatnya yang hidrofil, noniritasi, pelepasan
zat aktif yang tidak bergantung pada titik leleh, stabil secara fisik pada suhu penyimpanna,
sifat inert, tidak mudah terhidrolisis, tidak membantu pertumbuhan jamur, dapat
dikombinasikan berdasarkan bobot molekul sehingga didapatkan suatu basis ovula yang
dikehendaki.Kombinasi PEG yang digunakan adalah PEG 400 dan PEG 6000 yang akan

mendapatkan basis dengan titik leleh, kecepatan disolusi dan waktu larut yang sesuai
persyaratan. PEG 400 apabila digunakan dengan PEG yang memiliki BM lebih tinggi seperti
PEG 6000 akan menurunkan titik lebur dari PEG 6000, sehingga kombinasi PEG 400 dan
PEG 6000 dapat digunakan sebagai basis dengan merubah konsentrasi dari kedua PEG
(Raymond, 2009).
I.

Formula
1. Supositoria Bisacodyl
Kandungan Bisacodyl / supositoria

= 10 mg

Bobot / supositoria

= 4 mg

Jumlah sediaan yang dibuat

= 12 supositoria

FORMULA
R/ Bisakodil
Oleum cacao
Setil alkohol

10 mg
90%
10%

mf sup No.XII @ 4 g
2. Ovula Povidone
Kandungan Povidone / Ovula

= 10 mg

Bobot / ovula

= 4 mg

Jumlah sediaan yang dibuat

= 12 ovula

FORMULA
R/ Povidone 10%
PEG 400 50%
PEG 6000 50%
mf ovula No.XII @ 4 g
II.

Perhitungan dan Penimbangan

Supositoria Bisacodyl
1. Bisakodil = 10 mg
2. Basis total = 4 g - (0,7 x 0,01)
= 4 g - 0,007
= 3, 993

3. Oleum cacao = 90/100 x 3,993


= 3,59
4. Setil alkohol = 10/100 x 3,993
= 0, 3993
Penimbangan Bahan
Bahan
Bisakodil
Oleum cacao
Setil alcohol

1 supositoria (g)
0,01
3,59
0,39

12 supositoria (g
0,12
42,12
4,79

1 ovula (g)
0,48
2,16
2,16

12 ovula (g)
5,76
25,92
25,92

Ovula Povidone
1. Povidone = 10/100 x 4 g = 0,4 g
0,4 g + (0,4 g x 20 %) = 0,48 g
2. Basis total = 90/100 x 4 g = 3,6 g
- PEG 400 = 50/100 x 3,6 g = 1,8 g
1,8 g + (1,8 g x 20%) = 2,16 g
- PEG 6000 = 50/100 x 3,6 g = 1,8 g
1,8 g + (1,8 g x 20%) = 2,16 g
Penimbangan Bahan
Bahan
Povidone
PEG 400
PEG 6000