Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PRAKTIKUM ORAL MEDICINE

LAPORAN KASUS

GEOGRAPHIC TONGUE

DISERTAI FISSURE

TONGUE
PADA PASIEN PENDERITA DEFISIENSI NUTRISI
Oleh:
Cici Widya Anggraini
121610101048
Pembimbing:
Dr. drg. Sri Hernawati M. Kes
Putaran IV (26 Mei 27 Juni 2016)
Semester Genap Tahun Ajaran 2015/2016

BAGIAN ILMU PENYAKIT MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

Laporan Kasus
ORAL CANDIDIASIS PADA PEROKOK BERAT
Cici Widya Anggraini (121610101048)
Pembimbing: Dr. drg. Sri Hernawati M. Kes
Bagian Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember
Jl Kalimantan 37 Kampus Tegalboto
Juni 2016
Abstrak
Oral candidiasis merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut yang
disebabkan karena infeksi jamur spesies Candida albicans. Candida albicans
sebenarnya merupakan flora normal rongga mulut, tetapi karena didukung dengan
berbagai faktor predisposisi baik lokal maupun sistemik maka menyebabkan flora
normal tersebut menjadi patogen. Salah satu faktor yang dapat menimbulkan
kondisi tersebut yaitu adanya iritasi lokal yang menahun akibat rokok. Gambaran
pada kasus ini adalah pasien laki-laki berusia 22 tahun dengan kondisi lidah
tampak pseudomembran putih kekuningan, dapat dikerok, berbatas tidak jelas,
dan tidak sakit. Diagnosa akhir pada pasien tersebut adalah Oral candidiasis pada
bagian tengah dan dorsum lidah. Penatalaksanaan yang diberikan yaitu dengan
pemberian antijamur untuk menghilangkan infeksi spesies Candida, multivitamin
sebagai terapi suportif untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dan tongue
cleaner untuk membersihkan lidah.

Pendahuluan
Geographic tongue merupakan suatu peradangan jinak pada lidah.
Geographic tongue biasanya melibatkan permukaan dorsal lidah dan ditandai
dengan daerah depapilasi dengan tepi yang jelas dan meninggi berwarna putih
kekuningan atau keabu-abuan namun kadang-kadang dapat memiliki batas tidak
jelas (Greenberg et al., 2008). Keadaan ini biasanya tidak menunjukkan gelaja
(asimptomatis), namun kadang terjadi peningkatan sensitivitas pada jenis
makanan yang panas dan pedas. Etiologi dari geographic tongue belum diketahui
secara pasti.
Fissured tongue merupakan malformasi klinis berupa alur-alur atau
lekukan-lekukan pada permukaan dorsal lidah. Bagian lidah yang berfisur tidak
memperlihatkan adanya papila-papila yang normal. Penyebabnya tidak diketahui
1

dengan jelas, diduga kuat merupakan kelainan yang diturunkan. Kondisi ini
biasanya asimtomatis, kecuali bila sisa-sisa makanan terkumpul di dalam fisur,
dapat menyebabkan iritasi fokal, sensitif terhadap makanan pedas, dan
menimbulkan halitosis yang terkadang diikuti dengan rasa agak perih atau tidak
nyaman seperti agak nyeri. Kekerapan terjadinya fissured tongue adalah sama
untuk laki-laki dan perempuan. Fissured tongue bertambah parah seiring
pertambahan usia, begitu juga jumlah, lebar, dan kedalaman fisur.
Geographic tongue sering muncul bersamaan dengan fissure tongue yang
dinyatakan mempunyai hubungan klinis yang positif. Diperkirakan 50% dari
penderita geographic tongue juga memiliki fissure tongue. Bentuk lidah ini
terlihat merupakan suatu kelainan herediter dan genetik yang saling berhubungan
satu sama lain. Hal ini mungkin terjadi akibat iritasi dari mikroorganisme yang
tersembunyi dalam fissure di lidah. Salah satu faktor predisposisi pencetus
geographic tongue adalah defisiensi nutrisi. Beberapa kondisi seperti defisiensi
zat besi, asam folat dan vitamin B dapat mengakibatkan depapilasi lingua dan
kondisi ulseratif
Laporan Kasus
Laki-laki berusia 27 tahun yang bekerja sebagai pegawai kafe datang ke
Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Jember dengan keluhan lidah
terasa gatal dan perih. Keadaan ini telah dirasakan pasien selama 3 hari sebelum
pasien datang ke RSGM dan belum diobati. Pasien mengaku sering mengalami
keadaan gatal saat makan ikan laut dan terasa perih saat makan makanan panas,
pedas maupun asam. Pasien menyadari adanya bentukan cincin-cincin atau pulaupulau dan adanya bentukan garis-garis pada lidahnya sejak 15 tahun yang lalu
namun tidak pernah diobati karena tidak menimbulkan rasa tidak nyaman pada
lidah. Rasa tidak nyaman pada lidah seperti gatal dan perih dirasakan pasien sejak
1 tahun yang lalu.
Dari pemeriksaan keadaan umum diketahui pasien tidak sedang atau
pernah menderita suatu penyakit. Body Mass Index (BMI) pasien adalah
underweigh dengan keadaan sosial sedang. Pasien tidak sedang mengkonsumsi

obat-obatan tertentu dalam 6 bulan terakhir. Pasien tidak memiliki kebiasaan


buruk merokok, konsumsi obat-obatan maupun minum alkohol. Selain itu, baik
pasien maupun keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit sistemik ataupun
alergi.
Pada pemeriksaan klinis ekstraoral tidak ditemukan adanya kelainan.
Pemeriksaan klinis intraoral tampak adanya depapilasi multiple, bulat, irregular,
diameter 3-4 mm, batas jelas, tepi putih dan terdapat peninggian, tengah merah
dan sakit pada dosrum lidah (Gambar 1). Selain itu, pada dorsum lidah juga
terdapat fissure multiple vertikal dengan kedalaman 4-5 mm, berbatas jelas,
kemerahan dan sakit (Gambar 2). Pada mukosa bukal (pipi) kiri dan kanan pasien
terdapat papula sejajar oklusal, putih, setinggi 1-2 mm, sepanjang gigi P sampai M
(2 cm), tidak dapat dikerok, dan tidak sakit.
Berdasarkan serangkaian pemeriksaan di atas, maka dapat ditegakkan
diagnosa pada pasien yaitu geographic tongue dan fissured tongue pada bagian
tengah dan dorsum lidah serta variasi normal rongga mulut berupa linea alba
bucalis pada mukosa bukal kanan dan kiri.

Gambar 1. Kondisi lidah pasien saat pertama kali datang. Secara klinis terlihat pada
bagian tengah dan dorsum lidah terdapat pseudomembran tebal berwarna
putih kekuningan, dapat dikerok, batas tidak jelas, dan tidak sakit

Tata Laksana Kasus


Penatalaksanaan kasus Geographic tongue dan fissured tongue pasien
pada kunjungan pertama adalah sebagai berikut :
a. Pasien diinstruksikan untuk berkumur
3

b. Lidah lalu dikeringkan dengan tampon steril


c. Lidah dioles dengan aloevera +Hyaluronic acid solution
d. Instruksi tidak makan atau minum selama 20-30 menit.
Selain itu, beberapa instruksi juga diberikan kepada pasien antara lain menjaga
kebersihan rongga mulut, makan teratur dan bergizi, konsumsi obat sesuai
anjuran, istirahat yang cukup dan kontrol 1 minggu kemudian.
Setelah dilakukan perawatan

7 hari, pasien mengaku bahwa kondisi

lidah sudah membaik, yakni lidah sudah tidak terasa gatal, tidak perih saat makan
makanan panas, pedas dan asam, serta tidak timbul keluhan baru. Pemeriksaan
klinis ektraoral juga tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan klinis
intraoral lidah sudah tidak terdapat pseudomembran yang tebal dan sudah tidak
tampak putih kekuningan lagi (Gambar 3). Multivitamin dan sanorine obat kumur
yang diberikan sudah habis. Berdasarkan kondisi tersebut maka terapi dinyatakan
selesai.

Gambar 2. Kondisi lidah pasien setelah 7 hari perawatan. Secara klinis terlihat bahwa
lidah sudah tidak tampak pseudomembran tebal dan tidak berwarna putih
kekuningan

Pembahasan
Geographic tongue disebut juga benign migratory glossitis yang
merupakan gangguan peradangan jinak yang umum terdapat pada lidah.
Dikatakan migratory glossitis karena lesi cenderung terjadi pada lokasi baru
sehingga menghasilkan pola migrasi (berpindah-pindah). Geographic tongue

ditandai dengan periode sembuh (remisi) dan eksaserbasi berbagai durasi. Selama
penyembuhan, kondisi sembuh tanpa pembentukan jaringan sisa parut.
Geographic tongue biasanya asimtomatik, tapi kadang-kadang sensasi
terbakar pernah dilaporkan sebagai efek setelah makan makanan pedas dan asin
serta setelah minum minuman beralkohol. Lidah dengan lesi Geographic tongue
biasanya kurang disadari oleh penderita, kecuali lesi ini menimbulkan rasa gatal
atau terbakar pada daerah yang terlibat. Tingkat keparahan simtom bervariasi pada
waktu yang berbeda, tergantung pada aktivitas penyakit. Kondisi ini biasanya
dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan selama hidup atau
menghilang di usia pertengahan.
Fissure tongue merupakan celah pada permukaan dorsum dari 2/3 anterior
lidah. Fissure tongue bermanifestasi secara klinis sebagai sejumlah alur atau
celah yan bercabang dari central groove di sepanjang garis tengah permukaan
dorsum lidah. Umumnya, kondisi ini tidak menyebabkan gejala. Makanan dan
bakteri yang terjebak dalam celah dapat memicu terjadinya inflamasi dan bau
mulut.
Diagnosa akhir pada kasus ini adalah Geographic tongue. Diagnosa ini
ditegakkan berdasarkan anamnesa dengan pasien untuk didapatkan informasi
terhadap keluhan kondisi lidahnya dan pemeriksaan klinis. Pada anamnesa
didapatkan adanya keluhan rasa gatal pada lidah serta rasa perih. Rasa perih pada
lidah terjadi saat memakan makanan panas, asam dan atau pedas. Hal ini terjadi
sejak 5 hari yang lalu dan tidak pernah diobati sejak kecil. Pemeriksaan klinis
dilakukan untuk memastikan keluhan yang dirasakan pasien, didapatkan
gambaran berupa bercak kemerahan multifocal, melingkar, dan tidak beraturan
dibatasi oleh garis atau pita keratotik berwarna putih. Bercak kemerahan
sentral/tengah menunjukkan atrofi papilla filiformis. Batas putih terdiri dari
papilla filiformis yang beregenerasi dan campuran keratin dan neutrofil. Selain itu
ditemukan pula fissure multiple
Faktor defisiensi nutrisi juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab dari
geographic tongue. Beberapa kondisi seperti defisiensi zat besi, asam folat dan
vitamin B dapat mengakibatkan depapilasi lingua dan kondisi ulseratif.

Penatalaksanaan kasus geographic tongue dilakukan dengan cara koreksi


faktor predisposisi. Koreksi terhadap faktor predisposisi dapat dilakukan dengan
instruksi pasien untuk mengatur pola asupan gizi yang cukup dengan komposisi
seimbang dan mengkonsumsi vitamin. Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk
istirahat yang cukup. Untuk mengurangi rasa sakit pada geographic tongue,
diberikan obat kumur Sanorine Hyaluronic acid 1% yang berfungsi sebagai
antiinflamasi dan antiseptik. Obat ini digunakan 3x sehari sebanyak 15 ml. Untuk
memperbaiki nutrisi diberikan vitamin yaitu becomzet tabs dengan kandungan
vitamin A, B complex, C, E dan Zinc yang diminum 1x sehari serta banyak
mengkonsumsi buah dan sayuran.
Nystatin bekerja dengan mengikat sterol terutama ergosterol pada dinding
sel jamur, sehingga menganggu integritas dinding sel dan sel menjadi lisis yang
ditandai dengan keluarnya kalium dan komponen-komponen sel yang lain dan
menyebabkan kematian sel jamur. Aktivitas antijamur ini sebagai pengganti
sistem imun tubuh dalam menghilangkan infeksi jamur candida. Terapi suportif
yang diberikan berupa multivitamin Becomzet yang dikonsumsi 1 tablet dalam
satu hari. Fungsi dari terapi ini untuk mengembalikan kondisi fisik dan
meningkatkan sistem imun pasien sehingga dapat mencegah infeksi jamur
dikemudian hari [9].
Setelah dilakukan perawatan selama 7 hari, sudah tidak tampak adanya
gambaran cincin-cincin atau pulau-pulai pada lidah pasien, fissure-fissure pada
lidah mulai menutup dan pasien sudah tidak merasakan gatal maupun perih pada
lidahnya. Terapi dinyatakan selesai karena keluhan pasien sudah hilang dan
kondisi klinis intraoral dan ekstraoral normal. Pasien tetap diinstruksikan untuk
istirahat cukup, makan-makanan bergizi, menjaga kebersihan rongga mulutnya.

Kesimpulan
Oral candidiasis merupakan contoh kasus infeksi oportunistik pada rongga
mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan dari jamur Candida,
terutama C. albicans. Faktor predisposisi yang berperan dalam perkembangan
infeksi C.albicans tersebut salah satunya adalah faktor lokal, yaitu kebiasaan
6

merokok. Merokok dapat menyebabkan perubahan vaskularisasi dan menurunkan


sekresi saliva yang dapat mempengaruhi suasana rongga mulut menjadi asam
sehingga memudahkan perkembangan Candida.
Perawatan Oral Candidiasis menggunakan antijamur untuk membantu
tubuh dalam mengeliminasi pertumbuhan berlebih candida serta multivitamin
untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Beberapa instruksi yang perlu
diberikan berupa instruksi untuk menjaga kebersihan rongga mulutnya,
membersihkan lidah 2 kali sehari, mengurangi konsumsi rokok, dan makanmakanan bergizi.

Daftar Pustaka
1. Greenberk M S, Glick M, Ship JA.2008. Burkets Oral Medicine 11th Edition.
London: J.B. Lippincott Co.
2. Sjam, Komariah R. Kolonisasi Candida dalam Rongga Mulut. Majalah
Kedokteran FK UKI 2012 Vol XXVIII No 1 Januari-Maret. Departement
Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Rajendran, Sivapathasundharam.2012. Shafers Textbook of Oral Pathology,
7/e. New Dehli: Elsevier.
4. Simatupang, M. 2009. Candida albicans. USU Repository: Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5. Wigati, T.R. 2005. Peningkatan Waktu Penyembuhan Kandidiasis Mulut
pada Perokok ditinjau dari Lama Merokok dan Jumlah Rokok yang
dikonsumsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
6. Soetiarto, F. 1995. Mengenal Lebih Jauh Rokok Kretek. Media Litbangkes
Vol. 5: 4.
7. Regezi, A Joseph. James J Sciuba. 1999. Oral Pathology: Clinical Pathologic
Correlation, 3rd Ed. USA: W.B Saunders Company.
8. Roeslan, BO. 2002. Respon Imun di dalam Rongga Mulut. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI.
9. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan
Terapi Edisi 5. Jakarta: Bagian Farmakologi FK UI.