Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

HERNIA
Topik

: Penyuluhan Tentang Hermia

Sasaran

: Keluarga pasien

Tempat

: Ruangan G1

Hari/Tanggal

: Selasa,16 April 2013

Waktu

: Pukul 13.00 WIB (1 x 30 menit)

1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan keluarga
pasien di ruang G1 mampu mengetahui dan mengerti tentang penyakit Hernia.
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit di harapkan keluarga
pasien mampu memahami tentang :
a.

Menjelaskan kembali tentang pengertian Hernia

b.

Mengulang kembali Penyebab Hernia

c.

Mengulang kembali Tanda Gejala Hernia

d.

Menjelaskan Klasifikasi Hernia

e.

Mengulang kembali Penatalaksanaan Hernia

3.

POKOK-POKOK MATERI

a.

Pengertian Hernia

b.

Penyebab Hernia

c.

Tanda Gejala Gizi Hernia

d.

Klasifikasi Hernia

e.

Penatalaksanaan Hernia

4.

METODE

a.

Ceramah

b.

Diskusi

c.

Tanya jawab

5.

MEDIA

a.

LCD

b.

Laptop

c.

Leafleat

6.

KEGIATAN PEMBELAJARAN

No
1

Waktu dan
Tahap
Tahap
Orientasi
(5 menit)

Kegiatan Pemberi Materi

Kegiatan Sasaran

1. Mengucapkan salam

1. Menjawab salam

2. Memperkenalkan anggota

2. Mendengarkan

kelompok
3. Membagikan leaflet

3. Menerima dan membaca

4. Menyampaikan tujuan

4. Mendengarkan

penyuluhan
5. Mengkaji tingkat
pengetahuan pasien dan
Tahap Kerja

keluarga tentang hernia


1. Menjelaskan tentang:

(30 menit)

a. Pengertian Hernia

5. Mendengarkan dan
bertanya
1. Memperhatikan penjelasan

b. Penyebab Hernia
c. Tanda Gejala Hernia
d. Klasifikasi Hernia
e. Penatalaksanaan Hernia
2. Memberi kesempatan

2. Bertanya dan berdiskusi

bertanya kepada asaran


3. Menjawab pertanyaan

3. Mendengarkan

dari sasaran
4. Memberikan

4. mendengarkan

reinforcement
1. Evaluasi penyuluhan

1. Menjawab pertanyaan

Terminasi

2. Menyimpulkan

2. Memperhatikan

(10 menit)

3. Menutup dengan salam

3. Menjawab Salam

Tahap

7.

Pengorganisasian

a.

Pemateri

: Panji Kusuma P, S.Kep

b.

Moderator

: Eka Ferawati, S.kep

c.

Notulen

: Mita Purwantiasih, S.Kep

d.

Observer

: 1. Maria Lette, S.Kep


2. Maria Yesika, S.Kep

e.

Fasilitator

: 1. Ita Harta Merina, S.Kep


2. Maria Tagur, S.Kep
3. Dominika Wuga, S.Kep
4. Mega Purnama S.Kep

f.

Sie perlengkapan : 1. Herman Pratikta, S.kep


2. Florida Sasi, S.Kep

g.

Sie konsumsi

: 1. Lia Zamil, S.Kep


2. Melynda Putri, S.Kep

8.

Denah Tempat

Keterangan :
: Peserta penyuluhan
: Penyaji
: Fasilitator
: Moderator
: Notulen
: Observer
: Peraga

9.

Kriteria Evaluasi

a.

Struktur :
1) Menyiapkan SAP
2) Menyiapkan media
3) Menyiapkan tempat
4) Kontrak waktu dengan sasaran

b.

Proses

1) Sasaran memperhatikan saat diberi pendidikan Kesehatan


2) Sasaran aktif bertanya
3) Sasaran mampu mengulangi materi yang diberikan oleh presentator
c.

Hasil

Sasaran mampu menjawab pertanyaan


- > 80% = Berhasil
- 50-80% = Cukup
- < 50% = Kurang berhasil

LAMPIRAN MATERI

A. PENGERTIAN
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya
yang normal melalui sebuah defek kongenital atau yang didapat. (Long, 1996 :
246). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati
dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut
(Nettina, 2001 : 253).
B. ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah. Lemahnya
dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah
lahir, contoh hernia bawaan adalah hermia omphalokel yang terjadi karena
sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera berobliterasi (menutup) dan masih
terbuka. Demikian pula hernia diafragmatika. Hernia dapat diawasi pada anggota
keluarga misalnya bila ayah menderita hernia bawaan, sering terjadi pula pada
anaknya.
Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia
umur lanjut lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat
berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut
(Oswari. 2000 : 217).
C. KLASIFIKASI
1.

Menurut/tofografinya : hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia femoralis


dan sebagainya.

2.

Menurut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.

3.

Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis


dan sebagainya).

4.

Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen
winslowi, hernia obturatoria).

5.

Menurut kausanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan


sebagainya.

6.

Menurut keadaannya : hernia responbilis, hernia irreponibilis, hernia


inkarserata, hernia strangulata.

7.

Menurut nama penemunya :


a.

Hernia Petit (di daerah lumbosakral)

b.

Hernia Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas

penyilangan

rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral


c.

Hernia Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang
terjepit

8.

Beberapa hernia lainnya :


a.

Hernia Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang


terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior

b.

Hernia Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum


secara lengkap

c.

Hernia Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli

D. TANDA DAN GEJALA


Umumnya penderita mengeluhkan turun berok, burut atau kelingsir atau
menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan, benjolan itu bisa
mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi,
mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri
pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diameter anulus inguinalis
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi


usus

2.

Hitung

darah

lengkap

dan

serum

elektrolit

dapat

menunjukkan

hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih dan


ketidak seimbangan elektrolit
H. PENATALAKSANAAN
1.

Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah

efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi.


2.

Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan

kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus.
Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir.
Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan
usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan
bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.
3.

Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat


Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan

herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia
dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan bassin plasty untuk memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis.
Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia
langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak

dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan
anastomois end to end.
4.

Hernia yang terstrangulasi atau inkarserata dapat secara mekanis berkurang


Suatu penokong dapat digunakan untuk mempertahankan hernia

berkurang. Penyokong ini adalah bantalan yang diikatkan ditempatnya dengan


sabuk. Bantalan ditempatkan di atas hernia setelah hernia dikurangi dan dibiarkan
ditempatnya untuk mencegah hernia dan kekambuhan. Klien harus secara cermat
memperhatikan kulit di bawah penyokong untuk memanifestasikan kerusakan
(Long, 1996 : 246)
5.

Perbaikan hernia dilakukan dengan menggunakan insisi kecil secara langsung

di atas area yang lemah. Usus ini kemudian dikembalikan ke rongga perintal,
kantung hernia dibuang dan otot ditutup dengan kencang di atas area tersebut.
Hernia diregion inguinal biasanya diperbaikan hernia saat ini dilakukan sebagai
prosedur rawat jalan. (Ester,2002 : 54)