Anda di halaman 1dari 5

DAFTAR ISI

PENANGGULANGAN KORUPSI DILIHAT DARI


PRESPEKTIF KETATANEGARAAN1

Armen Yasir2

ABSTRAKS

Pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan melaui penegakan hukum semata, namun lebih dibutuhkan suatu langkah
pendekatan anti korupsi yang berdemensi sosial, politik maupun budaya. Penanggulangan korupsi dilihat dari prespektif
ketatanegaraan merupakan upaya pertama yang dapat dilakukan dengan melakukan pembaharuan hukum yang
berhubungan langsung dengan struktur hukum, subtansi hukum dan budaya hukum.

1. PENDAHULUAN
Indonesia berdasarkan UUD-RI Tahun 1945 adalah Negara Hukum yang Demokratis, namun prilaku korupsi yang kian
meluas dan dilakukan secara terorganisir dan sistematis memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat menjadikan
negara ini sebagai salah satu negara terkorup di dunia, sehingga ketentuan yang menyatakan negara hukum yang
demokratis hanya merupakan ketentuan normatif, karena tidak dapat di lihat dalam kenyataan.

Para pelaku perbuatan yang dipandang koruptif pada umumnya tidak terjangkau oleh hukum, bahkan ada yang kerap
berlindung di balik asas legalitas dan biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki high level educated and status dalam
kehidupan masyarakat. Marshall B. Clinard (dalam Flora Dianti, 2006, Jurnal Konstitusi Vol 3 Nomor 3) menyebut perbuatan
koruptif sebagai White Collar Crime in Government and Busisness.

Kejahatan-kejahatan koruptif yang tidak terjangkau oleh hukum, pada umumnya terdiri dari dua tipe, yaitu (a) Perbuatan
yang tidak dikualifisir sebagai kejahatan dalam arti hukum akan tetapi sangat merugikan masyarakat, (b) Perbuatan yang
menurut hukum dikualifisi dan dirumuskan sebagai kejahatan, namun aparat penegak hukum karena politik dan ekonomi
ataupun karena keadaan sekitar perbuaan yang dilakukan menyebabkan laporan atau penuntutan sulit diadakan atau tidak
dilakukan.

Korupsi lebih banyak terjadi pada sektor publik, yang sering dianggap masalah sosial yang serius, yang dilebih ditentukan
oleh faktor lingkungan kelembagaan dibandingkan karena rendahnya kompensasi. Sistem hukum Indonesia secara umum
tidak dipandang positif, badan yudikatif dan kejaksaan juga dianggap sebagai lembaga publik yang paling korup.

Masyarakat umumnya menentang adanya praktek korupsi, mereka memandang korupsi sebagai masalah sosial yang
serius,yang disamakan dengan penyakit yang harus diberantas, namun kenyataan apabila dihadapkan dengan berbagai
situasi korupsi yang kongkrit, mereka memandang korupsi sebagai sesuatu yang normal dan akan dibayar atau
sesungguhnya mereka lega dan membayar atau menerima uang dan hadiah (Laporan Akhir Tahun 2002 Survei Nasional
Mengenai Korupsi di Indonenesia, Kemitraan Bagi Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia; 2002; Xiii) Oleh
karenanya tidak heran kalau korupsi dikatakan sudah menjadi budaya di Indonesia, karena disadari atau tidak praktek
korupsi sering terlihat dengan mata telanjang di sekitar kita (mungkin sekarangpun sedang terjadi praktek korupsi) dan
tampa disadari kita sudah masuk kedalam lingkaran koruptor, disisi lain keengganan sebagian besar warga masyarakat
melaporkan pelaku koruptor (pejabat negara, birokrat, konglomerat, aparat penegak hukum dan lain sebagainya) yang
melakukan korupsi, merupakan suatu fenomena tersendiri.

Budaya korupsi seakan memperoleh lahan yang subur karena sifat masyarakat yang lunak hingga permisif terhadap
berbagai penyimpangan moral, lebih-lebih bila Korupsi dianggap sebagai perkara biasa dan wajar terjadi dalam kehidupan
para penguasa dan pengelola kekuasaan yang ada.

1
Disampaikan pada seminar Die Natalis Ke 42 Universitas Lampung, 6-7 September 2007, Gedung Rektorat
Universitas Lampung Lantai II, Bandar Lampung.
2
Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung.
DAFTAR ISI
Armen Yasir (Penanggulangan Korupsi Dilihat dari Perspektif Ketatanegaraan)

II. METODE PENELITIAN


Penelitian ini tergolong penelitian hukum normatif (legal researrch), logika yang digunakan adalah deduksi, pendekatan
yuridis dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan, dokumen hukum, serta tiori hukum. Data Utama yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder (data kepustakaan) yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, Data dikumpulkan melalui inventarisasi berdasarkan subjedct heading dengan menggunakan sisitem kartu, data
diolah melalui klasifikasi menurut bidang bahasan secara sistematis. Analisis yuridis ditempuh melalui cara berpikir secara
runtun dan runtut dan disintesis sesuai pokok persoalan yang diajukan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Bentuk dan Ruang Korupsi

Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah dirubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 sebagai Pengganti Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971, dikatakan bahwa
perbuatan korupsi mengandung lima unsur; (1) melawan hukum atau pertentangan dengan hukum, (2) Memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau korporasi, (3) dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, (4)
menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, dan (5) menyalahgunakan kewenagan, kesempatan, dan sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan

Berdasarkan pemahaman pengertian korupsi diatas, maka dari kaca mata akademis, Korupsi dalam kehidupan sehari-hari
akan menampilkan tiga bentuk, yaitu (1) korupsi epidemis; ruang lingkupnya berhubungan langsung dengan berbagai
kegiatan pemerintahan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Wujudnya dapat berupa jasa kesejahteraan masyarakat
(pendidikan, perumahan, pertanian, listrik, dan lain sebagainya, perangkat undang-undang (perpajakan, pengendalian harga
dan sebagainya), serta jasa (SIM, KTP, Sertifikat Tanah, surat perizinan dan lain-lain), (2) Korupsi terencana,
ruanglingkupnya berhubungan dengan tujuan-tujuan politis, bentuk ini sengaja direncanakan bagi keperluan operasional
pemerintahan yang memang tidak dibiayai oleh anggaran (akan nampak apabila berhubungan dengan suatu pemilihan, isu
money politik paling utama terjadi, (3) Korupsi pembangunan, ruang lingkupnya berhubungan dengan fungsi pemerintah
sebagai pengatur perekonomian yang memiliki peran penting dalam pemerintah sebagai pengantur perekonomian yang
memiliki peran penting dalam berhubungan dengan para pengusaha, usahawan, importir-eksportis, produksen, penyalur dan
sebagainya.

Korupsi tidak saja melingkupi pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaan, namun setiap orang yang
menyalahgunakan kedudukan atau kemampuannya untuk memperoleh uang dengan cara haram. Jika semua orang
bertindak untuk bisa mempercepat proses dalam jalur administrasi dibirokrasi dengan berbagai cara, tentu praktek suap
menyuap merupakan perbuatan yang umum dilakukan. Nampaknya kita sudah akrab dengan komisi terutama para petugas
penyelenggara pelayan publik atas jasa perepatan birokrasi yang telah diberikan.

Indonesia telah memiliki perlengkapan dan strategi untuk memberantas korupsi, yaitu berbagai undang-undang dan sebuah
lembaga yang memiliki kewenangan yang besar (seperti Komisi Pemberantas Korupsi), namun sepanjang turut campurnya
penyelenggara negara dalam mempengaruhi dan mengatur proses jalannya peradilan ditambah lagi kekuatan politik yang
ada di partai politik atau kalangan politikus yang ada di DPR termasuk di DPRD dan lebih parah lagi kalau pengaruh itu
menggunakan uang dan datangnya dari lembaga tempat mencari keadilan, maka yang timbul adalah budaya suap
(termasuk kategori korupsi).

Dari pandangan di atas, mungkin tidak berlebihan kalau kita tidak semata-mata menyalahkan perangkat hukum, dan
mencari penyebab lain yang paling dominan mengapa korupsi sulit diberantas dengan melihat kepada penegak hukumnya
sendiri, dengan demikian usaha pemerintah dan masyarakat beralih pada fokus untuk memperbaiki para penegak hukum.

3.2 Politik Hukum Penanggulangan Korupsi

Keberhasilan pemberantasan korupsi sangat ditentukan oleh ada tidaknya dukungan politik penguasa. Dukungan politik
dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kebijaksanaan, yang kesemua itu bermuara pada ruang, keadaan, dan situasi
yang mendukung program pemberantasan korupsi untuk bekerja lebih efektif. Disisi lain adanya dukungan politik penguasa
dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memberantas kourpsi. Oleh karenanya menempatkan posisi
politik dalam program pemberantasan korupsi berarti melihat prilaku korupsi sebagai musuh bersama karena pelaku,
dampak negatif dan kerugian yang ditimbulkan sudah membahayakan kehidupan negara.

PROSIDING
DAFTAR ISI

Sistem politik yang dijalankan sangat mempengaruhi akankah penanggulangan korupsi dilakukan sebab korupsi bukan
sekedar gejala hukum melainkan merupakan bagian dari sistem politik, karena itu tidak mungkin melepaskan usaha
pemberantasan korupsi dari penataan sistem politik yang berkaitan dengan politik hukum.

C.F.G. Sunaryati Hartono (1991; 10) menyatakan bahwa politik hukum sebagai sebuah alat atau sarana atau langkah yang
dapat digunakan oleh Pemerintah untuk menciptakan sistem hukum nasional yang dikehendaki dan dengan sistem hukum
nasional itu akan diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Pendapat ini menunjukkan bahwa bahwa politik hukum merupakan
pedoman bagi pemerintah untuk menciptakan hukum dan kerangka kerja politik hukum lebih menitik beratkan pada
penciptaan hukum dimasa mendatang (Ius Constituendum).

Politik hukum sebagai kebijaksanaan hukum (legal Policy) yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh
pemerintah yang meliputi: Pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaharuan terhadap materi-
materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan; kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk
penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum mencakup pula pengertian tentang bagaimana politik
mempengaruhi hukum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada dibelakang pembuatan dan penegakan hukum
itu. Moh. Mahfud MD ( 1998; 9). Dari pengertian ini, maka politik hukum mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan
hukum yang dapat menunjukan sifat dan arah mana hukum akan dibangun dan ditegakkan.

Agar resistensi masyarakat itu tidak terjadi dan syarat keberlakuan hukum terpenuhi (memenuhi syarat filosofis, yuridis dan
sosiologis), para penyelenggara negara yang berwenang menentukan politik hukum harus peka untuk menarik dan
merumuskan niai-nilai dan aspirasi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam penyelenggara negara berkumpul
berbagai kelompok kepentingan yang terkadang lebih mementingkan aspirasi kelompok dari pada aspirasi masyarakat
secara umum. Apabila kita melihat proses politik di Indonesia, yang ditandai dengan pertautan dan pertentangan
kepentingan politik pada Lembaga Perwakilan Rakyat maupun Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah menjadi dinamika yang
tidak terelakkan ketika produk hukum mulai disusun, diusulkan, ditetapkan maupun diterapkan. Disini dapat dilihat bahwa
politik sangat mengintervensi pembentukan serta penerapan hukum karena pada kenyatannya dalam pelaksanaan
ketatanegaraan di Indonesia seluruh produk hukum dibuat oleh lembaga politik.

Di era pasca reformasi, politik pembangunan hukum nasional merujuk pada beberapa arahan dari Peraturan Presiden
Nomor 7 Tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2004-2009 dengan tajuk “ Pembenahan
dan Sistem Politik Hukum”.

Dalam Peraturan Presiden Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2004, permasalah politik pembangunan hukum nasional
ditinjau dari 3 (tiga) hal: subtansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Dalam Konteks subtansi hukum, terdapat
beberapa permasalahan yang mengemuka antara lain; terjadinya tumpang tindih dan inkonsistensi peraturan perundang-
undangan dan implementasi undang-undang terhambat peraturan pelaksanaannya. Dalam kontek struktur hukum
disebutkan beberapa kendala antara lain; kurangnya independensi dan akuntabelitas kelembagaan hukum, kualitas sumber
daya manusia di bidang hukum – mulai dari peneliti hukum, perancang peraturan perundang-undangan sampai tingkat
pelaksana dan penegak hukum masih memerlukan peningkatan. Permasalah dibidang sistem peradilan yang terbuka dan
transparan, oleh karennya perlu pembinaan satu atap oleh Mahkamah Agung (MA) sebagai upaya untuk mewujudkan
kemandirian kekuasaan kehakiman dan menciptakan putusan pengadilan tidak memihak. Dalam konteks budaya hukum,
disoroti berbagai permasalahan antara lain; timbulnya degradasi budaya hukum dilingkungan masyarakat. Gejala ini ditandai
dengan meningkatnya apatisme seiring dengan menurunnya tingkat apresiasi masyarakat baik kepada subtansi hukum
maupun kepada struktur hukum yang ada. Selanjutnuya disinggung pula permasalahan menurunnya kesadaran akan hak
dan kewajiban hukum dalam masyarakat.

Menurut Peraturan Presiden di atas, sasaran yang akan dilakukan dalam tahun 2004-2009 adalah terciptanya sistem hukum
nasional yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif (termasuk tidak diskriminatif terhadap perempuan atau bias jender);
terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundang-undangan pada tingkat pusat dan daerah, serta tidak bertentangan
dengan peraturan yang lebih tinggi; dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih profesional
dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakat secara keseluruhan kepada hukum.

Berkaitan dengan hal-hal sebagaimana diuraikan dimuka “Politik Pembangunan Hukum Nasional” antara tahun 2004-2009
diarahkan pada kebijakan untuk memperbaiki subtansi (materi) hukum, struktur (kelembagaan) hukum, dan kultur (budaya)
hukum, melalui upaya :

1. Menata kembali subsistem hukum melalui peninjauan dan penataan kembali peraturan perundang-undangan untuk
memperhatikan tertib perundang-undangan dengan memperhatikan asas umum dan hirarki perundang-undangan dan
menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui
pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaharuan materi hukum nasional.

Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2007


DAFTAR ISI
Armen Yasir (Penanggulangan Korupsi Dilihat dari Perspektif Ketatanegaraan)

2. Melakukan pembenahan struktur hukum melalui penguataan kelembagaan dengan meningkatkan profesionalisme
hakim dan straf peradilan serta kualitas sistem peradilan yang terbuka dan transparan; menyederhanakan sistem
peradilan, meningkatkan transparansi agar peradilan dapat diakses oleh masyarakat dan memastikan hukum
diterapkan dengan adil dan memihak kepada kebenaran; memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk
memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya
pembaharuan hukum nasional.

3. Meningatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi berbagai peraturan perundang-undangan
serta prilaku keteladanan dari Kepala Negara dan jajarannya dalam mematuhi dan mentaati hukum serta penegakan
supreasi hukum.

Untuk melakukan pembaharuan terhadap subtansi (materi) hukum nasional, diperlukan penelitian yang mendalam, agar
tujuan meniadakan tumpang tindih dan inkonsistensi peraturan sebagaimana dikemukakan di atas dapat dihindari. Adanya
Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, sejak Pasca Proklamasi Kemerdekaan masih terjadi keanekaragaman hukum. Masih
banyak peraturan dari masa kolonial yang masih berlaku.

Satya Arinanto (dalam Jurnal Konstitusi Volumen 3 Nomor 3 Tahun 2006; 91-92). Menyatakan bahwa Permasalahan utama
politik pembangunan hukum nasional yang utama antara lain adalah (1) Memperbaharui atau mengganti peraturan hukum
dari masa kolonial yang masih berlaku melalui Aturan Peralihan UUD 1945 dan (2) menciptakan hukum baru yang secara
utuh bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 (termasuk perubahan-perubahan peraturan perundang-undangan), sesuai
dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat pada tingkat Lokal, Nasional, regional, dan internasional dalam era
globalisasi.

3.3 Penanggulangan Korupsi Dari Prespektif Ketatanegaraan

Dilihat dari berbagai persoalan yang dikemukan dalam Peraturan Presiden di atas sangat nampak menggunakan
pendekatan yang dilakukan oleh Lawrence M Friedman dalam membicarakan sistem hukum. Dengan menggunakan
pendekatan yang dilakukan Lawrence M. Friedmann (1998; 5-8) dalam pembahasan ini penulis mengkaitkan materi muatan
politik hukum dan unsur-unsur sistem hukum yang berhubungan dengan struktur hukum, subtansi hukum dan budaya
hukum untuk penanggulangan korupsi.

Secara kelembagaan, dalam sistem yang berlaku di Indonesia, struktur hukum meliputi badan peradilan, badan penuntutan,
lembaga pemasyarakatan, Komisi Pemberantas Korupsi, Pengacara, serta badan diluar peradilan lainnya. Peradilan adalah
pengembang kekuasaan kehakiman.Standar politik peradilan adalah peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Politik
peradilan terbukti tidak memadai dalam kenyataan peradilan tidak sederhana, tidak cepat dan tidak murah bagi pencari
keadilan. Hakim tidak merdeka karena berbagai pengaruh memaksa dari luar (bisa datang dari pemerintah, elit politik,
pengacara, pengusaha dan lain-lain), dilain pihak kekuasaan peradilan yang merdeka dijadikan sumber penyalahgunaan
kewenangan, mafia peradilan terjadi (ini akan melibatkan jaksa, pengacara, dan hakim. Lembaga peradilan menimbulkan
ketidak pastian hukum, mutu hakim menjadi tantangan lebih-lebih diera global perkara yang dihadapi semakin besar
kuantitas kejahatan baru yang lebih spesipik (perhatikan beberapa putusan pengadilan telah menimbulkan berbagai macam
keluhan dan protes). Dari kondisi ini maka, perlu perbaikan managemen penanganan kasus korupsi agar transparan, dan
akuntabel disisi lain sistem rekruitmen, sistem promosi dan pengawasan terhadap tingkah laku hakim menjadi perhatian
utama, .

Fungsi jaksa sebagai penuntut umum pemerintah cendrung berpihak kepada kepentingan pemerintah, hal ini sangat
bertentangan dengan fungsi kejaksaan yang mewakili negara dan rakyat, begitu juga fungsi penuntutan dan penyidikan ikut
mempengaruhi penampilan kejaksaan sebagai penegak hukum, kemungkinan perkara berlarut-larut atau tidak terjadi karena
terjadinya penyalahgunaan dalam mengajukan perkara kepengadilan. Badan Penyidik untuk perkara pidana korupsi
dilakukan kepolisian dan kejaksaan, seyogyanya dilakukan badan penyidik tunggal. Oleh karenan kemandiri dua lembaga
hukum ini yang terlepas dari pengaruh pemerintah harus segera direalisasikan disamping harus dilakukan perbaikan dalam
sistem dan kebijaksanaan rekruitmen, organisasi, sistem pendidikan dan lain-lain.

Dilihat dari subtansi hukum Upaya pembaharuan hukum cukup memadai, lebih-lebih dengan adanya lembaga legislasi
nasional, namun muatan politik dan kepentingan dalam peraturan hukum masih sangat kental dirasakan, oleh karenanya
peran pengujian UU sebeluM disahkan kepada Mahkamah Konstitusi sangat diperlukan.

Budaya hukum berkaitan dengan persesi dan apresiasi masyarakat tentang hukum. Persepsi dan apresiasi ditentukan oleh
tata nilai, keyakinan, atau sistem sosial, politik atau ekonomi yang hidup dalam masyarakat.

PROSIDING
DAFTAR ISI

Upaya membangun kesadaran hukum masyarakat untuk patuh, menjunjung tinggi hukum dan tidak ikut berprilaku korup,
tidak akan ada manfaatnya dengan cara-cara menambah pengetahuan mereka tentang hukum. Untuk membangun suatu
kesadaran hukum demokratis, adalah membangun masyarakat demokratis itu sendiri. Upaya membangn budaya hukum
tidak mungkin dilepaskan dari upaya pembaharuan sosial yang sejalan dengan politik hukum dan sistem politik demokratis
yang hendak diwujudkan.

IV. SIMPULAN
Penegakan hukum yang dilakukan terhadap kejahatan-kejahatan berindikasi koruptif tidak semudah seperti membalikkan
tangan, sebagai suatu perbuatan yang kompleksitas sisi dan cara pembuktiannya, korupsi merupakan fenomena sosial yang
harus dibasmi atau paling tidak dikurangi agar peningkatan kesejahteraan masyarakatdapat diwujudkan. Melalui
pembangunan sistem hukum yang berhubungan dengan struktur hukum, subtansi hukum dan budaya hukum dengan
didorong oleh kemauan dan dukungan politik penguasa keberhasilan pemberantasan korupsi dapat diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA
Arinanto, Satya, Articel Ilmiah, 2006, Politik Pembangunan Hukum Nasional Dalam Era Pasca Reformasi, Jurnal Konstitusi,
Vol. 3 Nomor 3.

Dianti, Flora, Article Ilmiah, 2006, Jika MK Menafsir Tindak Pidana Korupsi, Jurnal Konstitusi, Vol. 3 Nomor 3.

Friedman, Lawrence M, 1975, The Legal System, A Social Science Prespective, Russell Sage Foundation, New
York.

-----------------------------, 2001 Terjemahan, Hukum Amerika Suatu Pengantar, PT. Tatanusa, Jakarta.

Kemitraan Bagi Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia, 2002, Survei Nasional Mengenai Korpsi di Indonesia,
Laporan Akhir Tahun Pebruari 2002.

Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2007