Anda di halaman 1dari 2

2.

Histologi Telinga
Telinga luar
Auricula/pinna terdiri atas suatu lempeng kartilago elastis irregular berbentuk
corong, yang ditutupi secara erat oleh kulit dan menghantarkan gelombang suara
ke dalam telinga. Gelombang tersebut memasuki meatus akustikus externus, suatu
saluran yang terjulur dari permukaan lateral kepala. Saluran dilapisi dengan epitel
skuamosa berlapis yang berlanjut dengan kulit auricular dan di dekat folikel
rambutnya, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat apokrin termodifikasi yang
disebut kelenjar seruminosa ditemukan pada submucosa. Serumen adalah materi
kekuningan berlemak yang dihasilkan dari sekresi kelenjar sebasea dan seruminosa.
Serumen mengandung berbagai protein, asam lemak jenuh dan keratinosit yang
terlepas dan memiliki sifat antimikroba protektif. Dinding meatus akustikus externus
ditunjang oleh kartilago elastis disepertiga luarnya, sedangkan os temporale
menutup bagian dalam. Pada ujung bagian dalam meatus akustikus externus
terdapat suatu lembar epithelial yang disebut membrane timpani atau gendang
telinga. Sisi luarnya dilapisi epidermis dan permukaan dalamnya dilapisi epitel
selapis kuboid yang menyatu dengan lapisan rongga timpani ditelinga tengah. Di
antara kedua lapisan epitel tersebut terdapat lapisan tipis jaringan ikat fibrosa yang
terdiri atas serat-serat kolagen dan elastin dan fibroblast. Getaran membrane
timpani yang dihasilkan gelombang suara menghantarkan energy gelombang suara
ke telinga tengah dan dalam.

Telinga Tengah
Telinga tengah mengandung rongga timpani yang terisi udara, suatu ruang irregular
yang berada didalam os temporale di antara membrane timpani dan permukaan
tulang telinga dalam. Di sebelah anterior, ruang ini berhubungan dengan faring
melalui tuba auditorius (tuba eustachii atau tuba pharyngotympanica) dan
disebelah posterior, berhubungan dengan rongga mastoid yang berisikan udara
pada os temporale. Rongga timpani terutama dilapisi oleh selapis epitel kuboid
yang berada di lamina propria yang sangat melekat pada periosteum. Di dekat tuba
auditorius, epitel selapis ini secara berangsur berubah menjadi epitel bertingkat
silindris bersilia yang melapisi tuba tersebut. Meskipun dinding tuba umumnya
kolaps, tuba akan terbuka selama proses menelan, yang menyeimbangkan tekanan
udara ditelinga tengah dengan tekanan atmosfer. Pada dinding medial bertulang
telinga tengah terdapat dua area berlapis membrane dan tidak bertulang yaitu:
tingkap lonjong(fenestra ovalis), dan tingkap bundar (fenestra rotunda). Membran
timpani berhubungan dengan tingkap lonjong melalui sederetan tiga tulang kecl,
ossicula auditus yang menghantarkan getaran mekanis membrane timpani ke
telinga dalam. Ossicula dinamai dengan malleus, incus dan stapes. Maleus
menempel pada jaringan ikat membrane timpani dan stapes melekat pada jaringan
ikat membrane di tingkap lonjong. Tulang-tulang ini berartikulasi di sendi synovial
yang bersama-sama periosteum sepenuhnya dilapisi epitel selapis gepeng. Dua otot
kecil berinsersi di dalam malleus dan stapes, membatasi pergerakan ossicula dan
membantu melindungi telinga dalam dari bunyi yang terlalu keras.

Telinga Dalam
Telinga dalam berada sepenuhnya didalam os temporale dimana sederetan ruang
yang saling berhubungan, labirin bertulang, menampung serangkaian saluran
kontinu berlapis epitel yang terisi cairan dan bilik yang membentuk labirin
membranosa yang lebih kecil. Labirin membranosa berasal dari vesikel
ekstodermal, otokista yang lekuk ke dalam jaringan ikat di bawahnya selama satu
minggu keempat perkembangan embrio, kehilangan kontak dengan ectoderm
permukaan dan menjadi terbenam pada rudiment bakal os temporale. Selama
proses tersebut, vesicular otica berubah bentuk yang membentuk dua cabang
utama di labirin membranosa:
-Labirin vestibular yang memperantarai sensai keseimbangan dan terdiri dari dua
saccus yang berhubungan(utriculus dan sacculus) dan tiga ductus semicurcularis
yang timbul dari utriculus
-Labirin koklear yang berperan pada pendengaran dan memiliki ductus cochlearis
yang berhubungan dengan sacculus.