Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Theory Planned Behavior

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Dandy Prasetya Adi. N


Tasyia Zharifah. A
Febrina Ratnasari. M
Finsa Permatasari
Alif Tri Santo
Manzilatur Rahmah
Putri Cempaka. P
Dezthatera Ario Bentar
Anis Fathurreza. A

111411131052
111411131056
111411131058
111411131059
111411131092
111411131156
111411131159
111411133019
111411133040

Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga
Surabaya
2015/2016
A. Sejarah Theory Planned Behavior
Pada awalnya banyak sekali penelitian tentang perilaku yang
dihubungkan dengan variabel sikap. Namun hasil penelitian itu menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan yang cukup kuat antara sikap dengan perilaku
aktual seseorang. Kemudian, hasil penelitian ini dikaji kembali pada beberapa
penelitian selanjutnya, dan didapatkan kesimpulan bahwa terdapat faktor
yang yang berperan sebagai penghubung antara sikap dan perilaku yaitu niat.
Niat merupakan pernyataan individu mengenai keinginannya untuk
melakukan perilaku tertentu. (Aiken, 2002)
Hubungan antara niat dan perilaku ini kemudian dikaji oleh Fishbein
dan Ajzen (1975) dalam teori yang dinamakan Theory of Reasoned Action.
Teori ini didasarkan pada asumsi, bahwa manusia bertingkah laku cukup
rasional dan menggunakan informasi yang ada. Selain itu, juga terdapat
asumsi lain yaitu perilaku sosial berada dalam kontrol individu secara
disadari dan yang menjadi determinan langsung dari tingkah laku adalah niat
individu untuk melakukan atau tidak melakukannya tingkah laku tersebut.
Menurut theory reasoned action, niat merupakan fungsi dari dua
determinan, yaitu determinan sikap terhadap suatu tingkah laku (attitude
toward the behavior) dan determinan norma subyektif (subjective norm).
Attitude toward the behavior merupakan penilaian seseorang bahwa
melakukan sesuatu adalah positif atau negatif, setuju atau tidak setuju
terhadap tingkah laku tersebut. Dan subjective norm adalah persepsi
seseorang terhadap tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan
suatu tingkah laku tertentu. (Fishbein&Ajzen, 1975)
Banyak penelitian di bidang sosial yang membuktikan bahwa theory
reasoned action merupakan teori yang cukup memadai dalam memprediksi
tingkah laku. Hasil meta analisis menyimpulkan bahwa theory reasoned
action hanya berlaku bagi tingkah laku yang dibawah kontrol individu, tetapi
tidak sesuai untuk menjelaskan tingkah laku yang tidak sepenuhnya dibawah
kontrol individu, karena terdapat faktor yang menghambat atau memfasilitasi
realisasi niat ke dalam tingkah laku. Sehingga, Ajzen menambahkan satu
faktor anteseden bagi niat yang berkaitan dengan kontrol individu ini, yaitu
perceived behavior control. Penambahan satu faktor ini, mengubah theory
reasoned action menjadi theory planned behavior. (Fishbein&Ajzen, 1975)
konstruk yang ditambahkan pada theory planned behavior berguna untuk

mengontrol perilaku individual yang dibatasi oleh sekurang-kurangnya dan


keterbatasan-keterbatasan dari kekurangan sumber daya yang digunakan
untuk melakukan perilaku. (Chau&Hu, 2002 dalam Jogiyanto, 2007)

B. Definisi Theory Planned Behavior


Theory planned behavior menjelaskan bahwa perilaku yang dilakukan
individu timbul karena adanya minat untuk berperilaku. Theory planned
behavior didasarkan pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional
yang memiliki dampak/akibat dari tindakan dari mereka sendiri sebelum
melakukan suatu tindakan/perilaku tertentu. (Ajzen, 1991)
Konsep mendasar dari TPB adalah Intensi. Intensi dijelaskan sebagai
faktor utama dalam TPB yang mencakup faktor motivasional yang
memengaruhi perilaku. Intensi menjadi indikator tentang sekuat atau sekeras
apa orang-orang mau untuk mencoba, tentang sebanyak apa usaha yang
mereka rencanakan untuk dikerahkan, dalam rangka untuk melakukan
perilaku tertentu. Terdapat aturan utama dalam TPB, yaitu semakin kuat
intensinya untuk terlibat dalam sebuah perilaku, maka semakin besar
kemungkinan perilaku tersebut dilakukan (Ajzen, 1991).
Terbentuknya intensi merupakan gabungan dari attitude toward the
behavior (hasil dari Behavioral belief), subjective norm (hasil dari Normative
belief), dan perception of behavioral control (hasil dari Control belief). Oleh
karena itu, untuk memprediksi intensi seseorang, mengetahui ketiga belief /
keyakinan tersebut menjadi sama pentingnya seperti untuk mengetahui sikap
seseorang (Ajzen, 1991).

C. Komponen Theory Planned Behavior


Dalam Theory Planned Behavior, sebuah perilaku individu terjadi
karena adanya intensi, sedangkan intensi terbentuk dari 3 komponen.
Komponen-komponen tersebut meliputi attitude toward the behavior (hasil
dari Behavioral belief), subjective norm (hasil dari Normative belief), dan
perception of behavioral control (hasil dari Control belief).
1. Behavioral Belief

Adalah keyakinan individu bahwa perilaku akan menghasilkan


hasil yang diharapkan. Meskipun seseorang dapat memiliki banyak
keyakinan tentang perilaku apapun, namun hanya relatif kecil saja yang
bisa digunakan pada saat tertentu. Hal ini diasumsikan bahwa keyakinan
digunakan dalam kombinasi dengan nilai-nilai yang bersifat subjektif dari
hasil yang diharapkan kemudian akan menentukan sikap yang berlaku
terhadap suatu perilaku (Ajzen, 2015a). Behavioral Belief menghasilkan
komponen yang disebut attitude toward the behavior.
Attitude toward the behavior (sikap) merupakan suatu kepercayaan
yang bersifat subjektif untuk menentukan positif atau negatifnya suatu
perilaku. Maksudnya, individu akan melakukan suatu perilaku tertentu
apabila dia menilai perilaku tersebut secara positif. Begitu pula sebaliknya,
saat suatu perilaku tersebut dinilai negatif maka individu tersebut tidak
akan menampilkan perilaku itu. (Ajzen, 2015b)
Sikap juga ditentukan oleh kepercayaan individu mengenai
konsekuensi dari perwujudan suatu perilaku (behavioral beliefs),

ditimbang dengan hasil evaluasi terhadap konsekuensinya (outcome


evaluation). Sikap tersebut dianggap memiliki pengaruh langsung terhadap
intensi berperilaku. Kemudian dihubungkan dengan subjective norm dan
perceived behavioral control. (Ajzen,1991)

Penjelasan rumus di atas adalah attitude toward the behavior (A)


didapatkan dari hasil kali keseluruhan antara belief dengan outcome (bi)
dan evaluasi dengan outcome (ei). Dapat disimpulkan bahwa seseorang
yang percaya pada sebuah perilaku akan mampu menghasilkan outcome
yang positif. Akibatnya individu tersebut akan memiliki sikap yang positif.
Begitu pula sebaliknya, jika individu tersebut percaya apabila dia
melakukan sebuah tindakan akan menghasilkan outcome yang negatif.
Maka individu tersebut akan memunculkan sikap yang negatif terhadap
tindakan atau perilaku tersebut. (Ajzen, 1991)
2. Normative Belief
Adalah sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti
pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya. Jika individu
merasa itu adalah hak pribadinya untuk menentukan apa yang dia lakukan,
bukan ditentukan oleh orang lain di sekitarnya, maka dia akan
mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang akan dilakukannya.
(Ajzen, 2007). Normative belief berkaitan dengan factor lingkungan
khususnya orang-orang yang significant others dapat mempengaruhi
individu dalam berperilaku. Selain itu, Normative belief menghasilkan
komponen yang disebut subjective norm.
Menurut Baron&Byrne (2002, dalam Ajzen, 2005), Norma
Subjektif adalah persepsi individu tentang apakah orang lain akan
mendukung atau tidak mendukung perilaku yang dilakukannya. Selain itu
subjective norm merupakan persepsi individu terhadap tekanan sosial yang
ada untuk menunjukkan terlibat atau ketidakterlibatan orang lain dalam
suatu perilaku. Artinya, norma yang didapatkan Individu terhadap sejauh

mana lingkungan sosial berpengaruh dalam perilaku individu tersebut.


(Ajzen, 2015c)

SN ni mi
Penjelasan rumus diatas adalah Subjective Norm (SN) didapatkan

dari hasil kali keseluruhan antara normative belief tentang tingkah laku
(ni) dengan motivation to comply / motivasi untuk mengikutinya (mi).
Dengan kata lain, Individu percaya bahwa orang-orang yang significant
other cukup berpengaruh terhadapnya dalam mendukung dia berperilaku,
maka ini menjadi tekanan sosial bagi individu yang melakukannya.
Sebaliknya, jika individu tidak percaya bahwa orang lain yang
berpengaruh kepadanya tidak mendukung tingkah laku tersebut, maka ini
ia memiliki subjective norm untuk tidak melakukannya. (Ajzen, 1991)
3. Control Belief
Menurut Ajzen (1991), perceived behavioral control merupakan
persepsi individu terhadap mudah atau tidaknya seseorang memunculkan
suatu perilaku. Teori Perceived Behavioral Control ini memiliki kemiripan
dengan konsep Self-Efficacy milik Albert Bandura, yang terhubung dengan
penilaian terhadap kemampuan seseorang untuk memunculkan suatu
perilaku yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.
Sebagian besar pengetahuan yang kita miliki terhadap perceived
behavioral control ini berasal dari studi ilmiah milik Bandura dan
koleganya. Dari studi ilmiah yang mereka lakukan, diperoleh hasil bahwa
perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri mereka untuk
memunculkan perilaku tersebut. (Ajzen, 1991)
Selain itu, perceived behavioral control ditentukan oleh kombinasi
antara control belief dengan perceived power control. Control belief
merupakan keprcayaan individu mengenai faktor yang mendukung atau
menghambat individu untuk melakukan sebuah perilaku. Sedangkan,
perceived power control
setiap faktor

merupakan kekuatan perasaan individu akan

pendukung atau penghambat tersebut. (Ajzen, 1991).

Sehingga hubungan antara control belief dengan perceived pwer control


dapat dilihat pada rumus berikut :

PBC ci pi

Rumus tersebut menjelaskan bahwa perceived behavioral control


merupakan hasil penjumlah dari hasil kali antara control belief tentang
hadir tidaknya factor (ci) dengan perceived power control (pi). Sehingga
semakin besar persepsi individu mengenai kesempatan yang dimiliki dan
semakin kecil hambatannya, maka semakin besar persepsi control perilaku
yang dimiliki individu tersebut.
Ketiga komponen tersebut membentuk intention. Menurut Ajzen
(2005), intensi adalah ant\eseden dari sebuah perilaku yang nampak, dan
dapat meramalkan secara akurat berbagai kecenderungan perilaku. Semakin
besar intensi individu terhadap suatu perilaku, maka semakin besar juga
kemungkinan individu untuk memunculkan perilaku tersebut.
Artinya jika individu memiliki intensi untuk melakukan suatu
perilaku maka individu cenderung akan melakukan perilaku tersebut.
Sebaliknya, jika individu tidak memiliki intensi untuk melakukan suatu
perilaku maka individu cenderung tidak akan melakukan perilaku tersebut.
(Fishbein&Ajzen, 1975). Namun intensi individu untuk berperilaku memiliki
keterbatasan waktu dalam perwujudannya ke arah perilaku nyata, maka
dalam melakukan suatu perilaku perlu diperhatikan empat elemen utama dari
intensi, yaitu target dari perilaku yang dituju (target), tindakan (action),
situasi saat perilaku ditampilkan (contex), dan waktu saat perilaku
ditampilkan (time). (Fishbein&Ajzen, 1975)
Sesuai dengan kondisi pengendalian yang nyata di lapangan (actual
behavioral control), maka niat tersebut akan diwujudkan jika kesempatan itu
muncul. Namun sebaliknya, perilaku yang dimunculkan bias jadi
bertentangan dengan niat individu tersebut. Hal ini terjadi karena kondisi di
lapangan tidak memungkinkan memunculkan perilaku yang telah diniatkan
tersebut, sehingga dengan cepat akan mempengaruhi perceived behavioral
control individu tersebut. Perceived behavioral control yang telah berubah

akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan sehingga tidak sama lagi


dengan perilaku yang diniatkan sebelumnya. (Fishbein&Ajzen, 1975).

D. Aplikasi Theory Planned Behavior


Yang paling popular digunakan adalah membuat model bentuk
kecurangan dalam hal akademik (harding et all, 2000), keikutsertaan
dalam latihan fisik (Armitage : 2005), rekreasi sebagai tempat yang
dipilih (Ajzen and Driver: 1990), partisipasi donor darah (M. Giles et all:
2004). (Wahyu T. Setyobudi, 2008)
Digunakan untuk menguji niat / intensi dari perilaku berbagi
pengetahuan (knowledge sharing) dalam organisasi (Wahyu T.
Setyobudi, 2008)
TPB digunakan oleh Kolvereid (1996) untuk mencoba memprediksi
intensi memilih status pekerjaan. Dalam hal ini cakupan status pekerjaan
adalah karyawan yang mendapat upah, ataupun mereka yang membuka
usaha sendiri.
Wiethoff (2004) membuat sebuah rancangan model pelatihan yang
mengacu pada TPB. Hal yang ia ingin lakukan adalah mencoba
mempengaruhi motivasi belajar dalam program pelatihan keberagaman
(Diversity Training Program)
Dr. Morris A. Okun dari Department of Psychology, Arizona State
University, dan Erin S. Sloane dari Los Angeles Unified School District,
melakukan penelitian yang mengacu pada TPB untuk memperkirakan
angka partisipasi murid murid disana sebagai voluntir terhadap program
yang dijalankan kampus. (Okun & Sloane, 2002)
Jeffrey J. Martin dari, Health and Sport Studies di Wayne State University
bersama Pamela Hodges Kulinna dari the di Arizona State University
melakukan penelitian yang didasarkan pada Self-Efficacy Theory dan
TPB untuk beberapa faktor penentu intensi guru olahraga untuk
melakukan kegiatan fisik ketika mengajar di jam mengajar mereka
dimaksudkan untuk para guru agar menggunakan paling tidak setengah
dari keseluruhan waktu mereka untuk melakukan kegiatan fisik mulai
skala sedang sampai berat. Martin dan Kulinna (2004)
Stephen Richard Marrone (2005) dari Columbia University Teachers
College melakukan penelitian yang berkiblat pada TPB dari Ajzen dan

Fishbein, berhubungan dengan intensi perawat IGD di rumah sakit untuk


melayani pasien Muslim Arab dengan benar secara kultural
Penelitian dalam basis psikologi klinis telah dipraktekkan oleh Godin
dkk. (1992) dengan menggunakan TPB yang bertujuan untuk mencari
tahu

kebenaran

anggapan-anggapan

dasar

dalam

TPB

untuk

memperkirakan intensi berolah raga dan juga kegiatan olahraga itu sendiri
pada orang dewasa dalam kelompok umum dan kelompok wanita hamil.

E. Kelebihan dan Kelemahan Theory Planned Behavior


Kelebihan :
1. Adanya Perceived Behavioral Control yang digunakan sebagai
persepsi seseorang terhadap kemudahan ataupun kesulitan membentuk
suatu perilaku tertentu. (Siregar, 2011)
2. TPB lebih detail menjelaskan variable social dibandingkan dengan
TRA (Siregar, 2011).
3. Theory of planned behavior (TPB) mempertimbangkan bahwa
subjective norms memiliki pengaruh yang penting dan lebih
berpengaruh kepada niat individu dibandingkan dengan variabel yang
lain (Ajzen, 1988)
4. Menjelaskan hubungan diantara niat perilaku dan perilaku (tindakan)
dengan bantuan dari pengendalian perilaku yang dipersepsi (perceived
behavioral control) (Ajzen, 2002)
Kelemahan :
1. TPB beranggapan bahwa kepercayaan pemakai bergantung pada
situasi masing-masing. Karena itu model TPB tidak berasumsi bahwa
kepercayaan itu yang berlaku pada satu konteks juga akan berlaku
pada konteks yang lain. (Siregar, 2011)
2. TPB memerlukan suatu studi untuk mengidentifikasi hasil relevan,
kelompok acuan, dan variabel kendali di dalam tiap-tiap konteks yang
digunakan. (Siregar, 2011)
3. Materi TPB memerlukan suatu alternatif perilaku eksplisit jika ingin
memperoleh hasil yang sama. (Siregar, 2011)

Daftar pustaka
Aiken, L.R. (2002). Attitude and Related Psychological Constructs. London :
Sage Publication.
Ajzen, I. (1988). Attitudes, personality, and behavior. Milton-Keynes, England:
Open University Press & Chicago, IL: Dorsey Press.
Ajzen, I. (1991). The Theory of Planned Behavior. Amherst : University of
massachuseuts. Organizational Behavior and Human Decision Process 50,
179-211.

Retrieved

September

21,

2015.

Dari

URL

http://www.nottingham.ac.uk/~ntzcl1/literature/tpb/azjen2.pdf
Ajzen, I. (2002). Perceived Behavioral Control, Self-Efficacy, Locus of Control,
and the Theory of Planned Behavior. Journal of Applied Social
Psychology,

32,

665-683,

diperoleh

dari

http://www.readcube.com/articles/10.1111%2Fj.15591816.2002.tb00236.x?
r3_referer=wol&tracking_action=preview_click&show_checkout=1&purc
hase_referrer=onlinelibrary.wiley.com&purchase_site_license=LICENSE_
DENIED , Pada 26 September 2015
Ajzen, I. (2005) Attitude, Personality, and Behavior (Second Edition). NewYork :
McGraw Hill
Ajzen, I. (2007). Understanding Attitudes and Predicting Social Behavior.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall
Ajzen, I. (2015a). Behavioral Beliefs. Retrieved September 24, 2015 from
http://people.umass.edu/aizen/bb.html
Ajzen, I. (2015b). Attitude Toward the Behavior. Retrieved September 24, 2015
from http://people.umass.edu/aizen/att.html
Ajzen, I. (2015c). Subjective Norm. Retrieved September 22, 2015 from
http://people.umass.edu/aizen/sn.html
Fishbein, M & Ajzen, I. (1975). Belif, Attitude, Intention and Behavior : an
Introduction to Theory Research. Massachusetts : Addison-Wesley
Publishing Company

Godin, Gaston; Valois, Pierre dan Lepage, Linda. (2004). The Pattern of Influence
of Perceived Behavioral Control upon Exercising Behavior: An
Application of Ajzen's Theory of Planned Behavior. Journal of Behavioral
Medicine, Vol. 16, N0. 1, 181 102
Jogiyanto, N.M. (2007). Sistem Informasi Keperilakuan. Yogyakarta : CV Andi
Offset
Kolvereid, Lars. (1996). Prediction of Employment Status Choice Intentions.
Entrepreneurship: Theory and Practice, Volume: 21, Issue: 1.
Marrone, Stephen Richard. (2005). Attitudes, Subjective Norms, and Perceived
Behavioral Control: Critical Care Nurses' Intentions to Provide Culturally
Congruent Care to Arab Muslims. Research Report. Columbia University
Teachers College (unpublished)
Martin, Jeffrey J. dan Kulinna, Pamela Hodges. (2004). Self-Efficacy Theory and
Theory of Planned Behavior: Teaching Physically Active Physical
Education Classes. Research Quarterly for Exercise and Sport, Vol. 75 No.
3, 288 297
Okun, Morris A. dan Sloane, Erin S. (2002). Application of Planned Behavior
Theory to Predicting Volunteer Enrollment by College Students in A
Campus-Based Program. Social Behavior and Personality. Tempe: Arizona
State University
Siregar, Khairani R. (2011). Kajian Mengenai Penerimaan Teknologi dan
Informasi Menggunakan Technology Accaptance Model (TAM). Journal
Rekayasa Vol. 4, No. 1.
Wahyu T. Setyobudi, S. M. (2008). Aplikasi Theory Of Planned Behavior (TPB)
Terhadap Perilaku Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing) dalam
Organisasi. National Conference on Management Research. Makassar:
PPM School of Management.
Wiethoff, Carolyn. (2004). Motivation to Learn and Diversity Training:
Application of the Theory of Planned Behavior. Human Resource
Development Quarterly, Vol. 15 No. 3