Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Geomorfologi merupakan salahsatu mata kuliah yang wajib diampu
dalam program studi Pendidikan Geografi. Program studi Pendidikan
Geografi UPI merupakan salahsatu jurusan yang berada di bawah naungan
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Fakta tersebut berpengaruh
terhadap suasana pembelajaran Geografi dimana aspek pemetaan dan sosial
lebih dominan. Akan tetapi, aspek kajian geografi tidak hanya membahas
mengenai geografi sosial dan pemetaan saja melainkan aspek fisiknya pun
perlu dikaji lebih mendalam. Di sisi lain geomorfologi merupakan mata
kuliah yang lebih banyak mengkaji geografi fisik. Sedangkan pembahasan di
dalam kelas mengenai mata kuliah dirasa sangat kurang sehingga dibutuhkan
observasi lapangan lebih lanjut agar pemahaman materi menjadi lebih mantap
dan dapat melatih kepekaan mahasiswa khususnya mahasiswa Pendidikan
Geografi untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penyusunan laporan ini adalah
1. Bagaimana topografi bentang alam pada daerah-daerah yang
menjadi tempat plotting sejak berada di Situ Patenggang hingga
Pantai Jayanti?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari laporan ini adalah
1. Mengetahui bentukan-bentukan lahan dan asal-usul terbentuknya
lahan tersebut.
2. Membandingkan data yang berada di lapangan dengan yang ada di
peta geologi
3. Mendapatkan data yang akurat untuk observasi lebih lanjut.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Penulis dapat lebih mengetahui topografi tempat
plotting;
2. Pembaca diharapkan dapat mengetahui bentang
alam yang ada dan tersebar di daerah yang di
observasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Geomorfologi

merupakan

suatu

studi

yang

mempelajari asal (terbentuknya) topografi sebagai akibat


dari

pengikisan

terbentuknya

(erosi)

elemen-elemen

material-material

hasil

utama,
erosi.

serta
Melalui

geomorfologi dipelajari cara-cara terjadi, pemerian, dan


pengklasifikasian relief bumi. Relief bumi adalah bentukbentuk ketidakteraturan secara vertikal (baik dalam ukuran
ataupun letak) pada permukaan bumi, yang terbentuk oleh
pergerakan-pergerakan pada kerak bumi.

B. Konsep-Konsep Dasar Geomorfologi


Dalam mempelajari geomorfologi dibutuhkan ilmu
bantu yang lain berkaitan dengan proses pembentukan
bumi seperti fisika, kimia, geologi, geografi, meteorology,
klimatologi, dan sebaginya. Dalam proses pembentukan
relief permukaan bumi menganut azas berkelanjutan dalam
bentuk

daur

geomorfik

yang

dipengaruhi

oleh

gaya

endogen dan gaya eksogen yang bersifat menghancurkan


yang berasal dari luar permukaan bumi. Konsep-konsep
dasar

yang

perlu

diperhatikan

dalam

mempelajari

geomorfologi adalah sebagai berikut:


1. Hukum-hukum fisika, kimia dan biologi yang berlangsung
saat ini berlangsung juga pada masa lampau, dengan
kata lain gaya-gaya dan proses-proses yang membentuk

permukaan bumi seperti yang kita amati saat ini telah


berlangsung sejak terbentuknya bumi.
2. Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang
paling dominan dalam evolusi bentangalam dan struktur
geologi akan dicerminkan oleh bentuk bentangalamnya.
3. Relief muka bumi yang berbeda antara satu dengan
yang lainnya boleh jadi karena derajat pembentukannya
juga berbeda.
4. Proses-proses geomorfologi akan meninggalkan bekasbekas yang nyata pada bentangalam dan setiap proses
geomorfologi akan membentuk bentuk bentangalam
dengan karakteristik tertentu (meninggalkan jejak yang
spesifik yang dapat dibedakan dengan proses lainnya
secara jelas).
5. Akibat adanya intensitas erosi yang berbeda beda di
permukaan bumi, maka akan dihasilkan suatu urutan
bentuk

bentangalam

dengan

karakteristik

tertentu

disetiap tahap perkembangannya.


6. Evolusi geomorfik yang kompleks lebih umum dijumpai
dibandingkan dengan evolusi geomorfik yang sederhana
(perkembangan bentuk muka bumi pada umumnya
sangat kompleks/rumit, jarang sekali yang prosesnya
sederhana).
7. Bentuk bentuk bentangalam yang ada di permukaan
bumi yang berumur lebih tua dari Tersier jarang sekali
dijumpai dan kebanyakan daripadanya berumur Kuarter.

8. Penafsiran secara tepat terhadap bentangalam saat ini


tidak

mungkin

dilakukan

tanpa

mempertimbangkan

perubahan iklim dan geologi yang terjadi selama zaman


Kuarter (Pengenalan bentangalam saat sekarang harus
memperhatikan proses yang berlangsung sejak zaman
Pleistosen)
9. Adanya perbedaan iklim di muka bumi perlu menjadi
pengetahuan

kita

untuk

memahami

proses-proses

geomorfologi yang berbeda beda yang terjadi dimuka


bumi

(dalam

mempelajari

bentangalam

secara

global/skala dunia, pengetahuan tentang iklim global


sangat diperlukan)
10.

Walaupun

fokus

pelajaran

geomorfologi

pada

bentangalam masa kini, namun untuk mempelajari


diperlukan pengetahuan sejarah perkembangannya.

C. Bentang Alam Struktural


Bentang alam struktural dalah bentang alam yang
pembentukkannya dikontrol oleh struktur geologi daerah
yang bersangkutan.Struktur geologi yang paling banyak
berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah
struktur geologi sekunder, yaitu struktur yang terbentuk
setelah batuan itu ada. Biasanya terbentuk oleh adanya
proses endogen yaitu proses tektonik yang mengakibatkan
adanya

pengangkatan,

patahan,

dan

lipatan,

yang

tercermin dalam bentuk topografi dan relief yang khas.


Bentuk relief ini akan berubah akibat proses eksternal yang
berlangsung
Macam-macam

kemudian.
proses

eksternal

yang

terjadi

adalah
5

pelapukan (dekomposisi dan disintegrasi), erosi (air, angin


atau

glasial)

serta

gerakan

massa

(longsoran,rayapan,slump).

Kenampakan yang dapat digunakan dalam penafsiran


bentang

alam

structural.Pola

pengaliran.Variasinya

biasanya dikontrol oleh variasi struktur geologi dan litologi


pada daerah tersebut.Kelurusan-kelurusan (lineament) dari
punggungan (ridge), puncak bukit, lembah, lereng dan lainlain.Bentuk bentuk bukit, lembah dll.Perubahan aliran
sungai, misalnya secara tiba-tiba, kemungkinan dikontrol
oleh struktur kekar, sesar atau lipatan.

D. Macam-macam Bentang Alam


1. Bentang Alam Struktural
a. Mendatar (Lapisan Horizontal)
Dataran rendah, adalah dataran yang memiliki elevasi
antara 0 500 kaki dari muka air laut. Dataran tinggi
(plateau), adalah dataran yang menempati elevasi
lebih dari 500 kaki di atas muka air laut, berlereng
sangat landai atau datar berkedudukan lebih tinggi
daripada bentanglahan di sekitarnya
b. Struktur Miring
Cuesta, kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak
simetri dengan sudut lereng yang searah perlapisan
batuan kurang dari 30o (Tjia, 1987).

Hogback: sudut antara kedua sisinya relatif sama,


dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan
lebih

dari

30o

(Tjia,

1987).

Hogback

memiliki

kelerengan scarp slope dan dip slope yang hampir


sama sehingga terlihat simetri
c. Lipatan
Bentang alam lipatan terjadi karena adanya lapisan
kulit bumi yang mengalami gaya kompresi (gaya
tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian
punggungan disebut dengan antiklin, sedangkan
bagian lembah disebut dengan sinklin. Struktur
antiklin

dan

merupakan

sinklin

kelanjutan

menunjam.
atau

Struktur

perkembangan

ini
dari

pegunungan lipatan satu arah (cuesta dan hogback)


dan dua arah (sinklin dan antiklin). Bila tiga fore
slope

saling

berhadapan

maka

disebut

sebagai

lembah antiklin menunjam. Sedangkan bila tiga back


slope

saling

berhadapan

maka

disebut

sebagai

lembah sinklin menunjam.

2. Bentang Alam Asal Proses Marine


Bentuk lahan asal proses marine dihasilkan oleh
aktivitas/ gerakan air laut, baik pada tebing, pantai
berpasir, pantai berkarang, maupun pantai berlumpur.
Gerakan tersebut meliputi :
Pasang surut, naik turunnya permukaan laut setiap 6
jam 12,5 menit sehingga interval naik turun memerlukan
waktu 12 jam 25 menit. Pasang surut ini dapat mengerosi

pantai apalagi kalu bersama sama dengan gelombang /


ombak.
Arus adalah

aliran air laut yang disebabkan oleh

angin, perbedaan suhu air laut dan lain-lain. Ombak sesuai


dengan arah angin dapat mengerosi pantai (abrasi).
Selain

dipengaruhi

perkembangan

bentang

oleh
lahan

kedalaman
daerah

pantai

laut,
juga

dipengaruhi oleh:
a. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
b. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah
pantai atau daerah di daerah sekitar pantai
tersebut.
c. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah
pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga
dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin,
air, es, gelombang, dan arus laut.
d. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi
yang mempengaruhi keadaan bentang alam di
permukaan
tenaga

bumi

daerah

vulkanisme,

pantai,

diastrofisme,

misalnya
pelipatan,

patahan, dan sebagainya.


e. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan
pasang surut, serta kegiatan organisme yang
ada di laut.
Bentukan bentang lahan marine adalah
a. Pantai (Shore)

Shore

adalah

daerah

peralihan

antara

permukaan air tertinggi dan terendah. Shoreline


(garis

pantai),

jalur

pemisah

yang

relatif

berbentuk baris dan merupakan batas antara


daerah yang dicapai air laut dan yang tidak bisa
dicapai.
b. Garis Pantai (Shoreline)
Shoreline

adalah

garis

yang

membatasi

permukaan daratan dan permukaan air. Garis


batas ini selalu berubah-ubah sesuai dengan
permukaan air laut. Garis pantai tertinggi terjadi
pada

saat

terjadi

pasang

naik

setinggi-

tingginya, sedangkan garis pantai terendah


terjadi pada saat terjadi pasang surut serendahrendahnya.
c. Pantai Depan (Foreshore)
Foreshore adalah daerah sempit yang terdapat
pada pantai yang terletak di antara garis
pasang naik tertinggi dengan garis pasang surut
terendah.
d. Pantai Belakang (Backshore)
Backshore adalah bagian dari pantai yang
terletak di antara pantai depan (foreshore)
dengan

garis

batas

laut

tetap

(coastline).

Daerah ini hanya akan tergenang air apabila


terjadi gelombang pasang yang besar. Dengan
demikian daerah ini akankering apabila tidak
terjadi gelombang pasang yang intensitasnya

besar.

Bentang

terdapat

pada

alam

seperti

daerah

pantai

ini

biasanya

yang

terjal,

misalnya di pantai selatan Pulau Jawa.


e. Pesisir (Coast) dan Garis Pesisir (Coastline)
Coast adalah daerah pantai yang tidak menentu
dan cenderung meluas ke daratan.Sedangkan
coastline adalah garis batas laut yang tetap dari
pesisir.

Daerah

pesisir

ini

mempunyai

kemiringan lereng yang landai dengan luas


yang tidak begitu besar pada daerah tepi pantai
yang sebagian besar merupakan daerah pantai
terjal.
f. Endapan Pantai (Beaches)
Beaches merupakan endapan hasil kegiatan laut
yang

terdapat

di

pantai.

Menurut

tempat

terjadinya, beaches ini dapat dibedakan menjadi


beberapa macam, yaitu:
1) Endapan bawah pantai depan (lower forest
beach), merupakan jenis endapan yang
terdapat di bagian bawah pantai depan.
Endapan ini juga merupakan hasil dari
kegiatan gelombang dan arus litoral.
2) Endapan atas pantai depan (upper foresher
beach), merupakan jenis endapan pantai
yang terdapat pada bagian atas pantai
depan. Endapan pantai ini terbentuk karena
hasil kegiatan gelombang.

10

3) Endapan

pantai

belakang

(backshore

beach), merupakan jenis endapan pantai


yang terdapat pada pantai belakang yang
sempit.

Endapan

pantai

ini

merupakan

gabungan dari hasil kegiatan gelombang


yang

besar,

aliran

air

dari

gelombang

pasang naik setinggi-tingginya, angin, serta


aliran

sungai

yang

membawa

material

batuan ke pantai belakang tersebut.

3. Bentang alam vulkanik


4. Bentang alam denudasial
5. Bentang alam fluvial
6. Bentang alam karst
7. Bentang alam glasial
8. Bentang alam angina

11

BAB III
METODOLOGI

A. Lokasi dan Waktu


Dalam melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan
Tahap 1 ini di daerah desa Naringgul, Kecamatan Cianjur dan
Pantai Jayanti, Cidaun, Cianjur Selatan.
Kami

berkumpul

kampus

Universitas

Pendidikan

Indonesia pada hari Minggu, 1 Mei 2016 pukul 05.00 WIB dan
berangkat pada pukul 06.00 melewati Ciwidey. Di Ciwidey
tepatnya di dekat Situ Patenggang kami istirahat sejenak
sambil mengidentifikasi apa apa saja aspek fisik yang ada di
tempat tersebut. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan
menuju Desa Naringgul dan sampai sekitar pukul 12.00 WIB.
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini dilakukan selama 4 hari 3
malam terhitung dari Minggu, 1 Mei 2016 sampai Rabu, 4 Mei
2106.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan saat melakukan
penelitian ada tiga jenis yaitu:
1. Metode Obeservasi
Metode ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke
lapangan dan mengidentifikasi apa saja objek kajian
yang terdapat di lokasi pengamatan.
2. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah salah satu metode untuk
mendapatkan suatu informasi dengan cara bertanya
secara

langsung

Wawancara

ini

kepada
dilakukan

narasumber/responden.
guna

mendapatkan

informasi mengenai aspek sosial di kawasan Desa

12

Naringgul dan Pantai Jayanti. Maka dari itu, yang


menjadi narasumber kami saat melakukan penelitian
ini adalah warga sekitar di Desa Naringgul dan Pantai
Jayanti. Tak anya mengajukan pertanyaan, kami juga
mencatat

setiap

jawaban

narasumber.
3. Studi Kepustakaan
Langkah ini dilakukan
ditetapkan.

Dalam

dan

setelah

studi

penjelasan

topik

kepustakaan

dari

penelitian
ini

kami

mencari berbagai teori/informasi yang berhubungan


dengan topik penelitian untuk selanjutnya dikaji.
Teori ini bisa didapatkan dari media cetak seperti
buku, majalah, surat kabar, jurnal dan media massa
seperti dari internet.
C. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan guna dalam kegiatan
Kuliah Kerja Lapangan ini antara lain:
1. GPS (Global Positioning System)
GPS ini digunakan untuk menentukan posisi dimana
kami berada dengan menunjukkan titik koordinat X
dan Y.

Gambar 3.1. GPS


2. Kompas bidik
Alat ini digunakan untuk menentukan arah posisi
dimana kami berada.

13

Gambar 3.2. Kompas Bidik


3. Termometer
Termometer merupakan sebuah alat yang digunakan
untuk mengukur suhu di sekitar tempat penelitian.
Termometer ini harus disimpan di tempat terbuka,
tidak menempel pada dinding/ pagar/tanah, tidak
terkena

sinar

terkena

matahari

hujan

menempatkan

dan

secara
tidak

thermometer

langsung,
tersentuh.

ini

dengan

tidak
Kami
cara

digantung.

Gambar 3.4. Termometer


4. Peta RBI
Peta Rupa Bumi Indonesia dipakai sebagai acuan
untuk mengetahui kenampakan alam yang terdapat
di sekitar lokasi penelitian. Selain iitu, peta RBI juga
digunakan

untuk

menandai

tempat/plot

kami

melakukan penelitian.
14

Gambar 3.4. Peta RBI


5. Peta topografi
Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai
dengan

skala

besar

dan

detail,

biasanya

menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern.


Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau
lebih

peta

yang

tergabung

untuk

membentuk

keseluruhan peta. Sebuah garis kontur merupakan


kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan
namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi
pada peta topografi.
6. Plastik transparan
Plastik bening atau plastic transparan digunakan
untuk melapisi peta agar tidak rusak atau sobek.
7. Plastik sampel
Plastik sampel digunakan untuk membawa sampel
dari apa yang telah kami identifikasi. Misalnya
pecahan batuan, pasir besi, dan sebagainya.

15

Gambar 3.5. Plastik Sampel


8. Spidol OHP
Spidol OHP

merupakan

spidol

permanen

yang

digunakan untuk memberi keterangan sampel pada


plastik sampel agar tidak tertukar dengan sampel
lainnya.

Gambar 3.6. Spidol OHP


9. PH stick
PH stick adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tingkat keasamaan dari suatu objek kajian.

Gambar 3.7. PH stick


10.

Alat tulis

16

Alat tulis dgunakan untuk menulis/mencatat hasil


identifikasi dari objek penelitian atau mencatat
penjelasan

dari

narasumber

saat

mereka

memberikan jawaban dari pertanyaan kami.

Gambar 3.8. Alat tulis


11.
Papan dada
Alat ini digunakan sebagai alas untuk memudakan
saat mencatat.

Gambar 3.9. Papan dada


12.
Kamera
Kamera digunakan untuk mengambil foto objek
kajian maupun merekan keadaan alam di lokasi
pengamatan. Kamera ini sebagai alat dokumentasi
pengamatan.

17

Gambar 3.10. Kamera


13.
Laptop
Laptop ialah alat elektronik yang digunakan untuk
mengumpulkan dan merekap data yang selanjutnya
disusun menjadi sebuah laporan.

Gambar 3.11. Laptop


14.
Flashdisk
Flashdisk
merupakan

perangkat

keras

luar

(hardware) yang digunakan untuk menyimpan data.


Flashdisk ini bentuknya kecil sehingga bisa dibawa
kemana-mana dan memudakan kami membuka data
dimana saja.

Gambar 3.12. Flashdisk

D. Teknik Pengolahan Data


Dalam menyusun sebuah laporan, data-data yang
sudah didapat pun dikumpulkan dan diolah agar tersusunlah
laporan yang rapi dan sistematis. Dalam mengolah data
menjadi

sebuah

laporan,

kami

menggunakan beberapa

metode, diantaranya:

18

1. Metode Analisis
Seluruh data mengenai aspek fisik dan sosial yang
telah diperoleh saat melakukan penelitian dengan
cara observasi langsung ke lapangan selanjutnya
diolah

dan

dianalisis.

Dalam

hal

ini

kami

mengelompokkan data, membahas, mengaitkan satu


aspek dengan yang lainnya agar didapatkan suatu
hasil yang membuktikan adanya kenampakan alam
beserta latar belakangnya yang terjadi di kawasan
Desa Naringgul dan Pantai Jayanti.
2. Metode Deskripsi
Setelah memperoleh data dan menganalisis hasilnya
kami pun mendeskripsikannya secara actual, cermat,
dan sistematik dalam sebuah laporan yang berisi
data-data yang telah dianalisis dalam bentuk narasi.
3. Menarik Kesimpulan
Saat seluruh isi laporan telah tersusun dengan rapi
dan sistematis, maka diakhir ditariklah kesimpulan
dari

semua

dihasilkan

data

dan

sehingga

yang

telah

pembaca

didapat

dengan

dan

mudah

mengerti apa hasil dari penelitian dalam kegiatan


Kuliah Kerja Lapangan taap 1 yang dilakukan oleh
mahasiswa pendidikan geografi angkatan 2015.

19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemberangkatan

dimulai

setelah

kami

berkumpul

di

kampus Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung pada hari


Minggu, 1 Mei 2016 pukul 05.00 WIB dan berangkat pada pukul
06.15 menuju desa Naringgul, kecematan Naringgul, kabupaten
Cianjur. Kenampakan alam yang mulai terlihat jelas saat kami
telah keluar dari wilayah Kopo menuju kota wisata Ciwidey.
Bentang alam yang terlihat adalah bentang alam perbukitan.
Setelah memasuki daerah kabupaten Bandung perjalanan
ditempuh dengan melewati jalan yang sudah mulus dan diaspal,
lebar jalan sekitar 3 meter, banyaknya tikungan tajam membuat
pengemudi harus hati-hati, arah jalan hanya satu jalur, serta
keadaan jalanan yang naik dan turun dengan curam membuat
pengemudi harus lebih hati-hati.

A. Situ Patenggang

4.1 Citra Satelit Plot 1 daerah jalan dekat Situ


Patenggang
20

Situ Patenggang adalah wilayah kajian pertama kami


sebelum mencapai tujuan kami yaitu desa Naringgul. Berada di
titik koordinat 07936 LS dan 1072151.7 BT dengan elevasi
mdpal. Dengan elevasi tersebut membuat daerah Situ
Patenggang masuk kedalam klasifikasi iklim Tierra Templada
dengan suhu tahunan sekitar 24o C 18o C dengan vegetasi yang
tumbuh adalah padi, kapas, jagung, teh, dan kopi. Suhu udara di
lokasi ini pada pukul 09.31 WIB adalah 19C. Setelah kami amati
bahwa bentukan lahan di daerah tersebut adalah perkebunan
campuran yang terdapat berbagai macam vegetasi tumbuhan
yang diantaranya adalah kopi, kebun teh, kol, cengkeh, wortel,
dan brokoli. Morfometri lahan yang lerengnya 14-20% dengan
beda tinggi 75-200 meter, menurut data kuantitatif ini daerah
tersebut disebut dengan daerah bergelombang-berbukit. Batuan
yang terlihat sekitar ini adalah piroklastik andesit yang memiliki
ciri-ciri berwarna putih keabu-abuan, bertekstur

kasar dan

termasuk kedalam jenis vulkanik muda, Warna tanah di lokasi ini


coklat bertekstur pasir.

4.2 situ patenggang


B. Balegede

21

4.3 Gambar citra satelit plot 2 daerah Balegede


Setelah selesai mengamati plot pertama kami melanjutkan
perjalanan ke plot selanjutnya yaitu Balegede yang sudah masuk
wilayah Kecamatan Naringgul. Plot ini berada di titik koordinat
071619.5 LS dan 1072135.4 BT di daerah Balegede. Berada
di ketinggian yang lebih rendah dari plot pertama membuat
keadaan fisis daerah Balegede dengan Situ Patenggang terdapat
perbedaan yang sangat signifikan. Penggunaan lahannya adalah
perkebunan campuran. Jenis vegetasi yang kami temukan adalah
cabe, singkong, padi, kembang kol, padi, tanaman paku-pakuan,
dan kopi. Di plot ini tidak terdapat perkebunan teh karena
suhunya

yang

kurang

cocok

sehingga

mayoritas

mata

pencaharian penduduk sekitar adalah bertani, berkebun, dan


berdagang dengan membuka warung.
Plot

tempat

kita

berdiri

merupakan

antiklinal

dan

meupakan daerah patahan karena ditandai dengan adanya air


terjun. Daerah di plot ini menunjukkan adanya sesar geser.
Adanya indikasi erosi di daerah ini karena letaknya di daerah
dekat patahan maka terdapat tanah gerusan yang membuat
tanah-tanah di daerah ini menjadi lebih subur. Sumber air di
daerah ini berasal dari rembesan-rembesar air karena adanya
kekar

pada

batuan

dan

lapisan

yang

akuifer

sehingga

membentuk mata air.

22

4.4 Balegede

C. Desa Naringgul

4.5 Gambar Citra satelit daerah Desa Naringgul


(Balai Pertemuan)
Setelah kami tiba di desa naringgul kami beristirahat
sejenak. Lalu pada pukul 16.00 kami mengamati desa ini dan
menjadikannya plot 3. Lebih tepatnya berada pada titik koordinat

23

072017.6 LS dan 1071944.1 BT. Penggunaan lahan yang


digunakan adalah perkebunan campuran.
Desa Naringgul merupakan suatu desa yang masuk ke
dalam zona pegunungan selatan. Kombinasi batuan vulkanik tua
dan sedimen marine yang ditandai dengan ditemukaanya batuan
konglomerat di pinggir sungai. Batuan-batuan yang ada di
permukaan berasal dari endapan longsoran dari tebing-tebing,
Adanya sungai yang bentukannya lurus karna adanya beda
tinggi, Daerah naringgul ini tanahnya gembur karena berada di
daerah endapan longsoran, Di desa naringgul terdapat pohon
nira yang tumbuh subur sepanjang gawir, hal itu disebabkan oleh
cermin sesar. Cermin sesar adalah hasil dari goresan-goresan
sesar,ditandai dengan adanya vegetasi yang tumbuh subur
mengikuti gawir karena adanya tanah endapan longsor, Sumber
airnya berasal dari mata airdan terasuk tipe parienial, material
sungai yang ada berupa kerikil dan bongkahan batuan, air ini
masih jernih karena langsung dari mata air

4.6 Desa Naringgul


D. Kampung Cibodas

24

Pada tanggal 2 Mei 2016 kami mengirim perwakilan


kelompok untuk disebar kedalam beberapa kampung yang ada di
desa Naringgul. Di titik penggamatan 072055.72 LS dan
1071942.66 BT yang berada di kampong Cibodas berada pada
ketinggian 574 Mdpl yang memiliki bentukan lahan structural
yang memiliki kecuraman lereng 55-140% dan tinggi 500-1000.
Daerah tersebut merupakan perkebunan campuran, diantaranya
terdapat sayur-sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan. Mata
pencaharian warga sekitar adalah berkebun dan bertani.
E. Kampung Naringgul
Di titik koordinat 072017.6 LS Dan 1071944.1 BT
yang berada di kampung Naringgul merupakan daerah dimana
penggunaan lahan campurannya adalah perkebunan campuran
dan persawahan.

4.7 Naringgul
F. Kampung Garunggang

25

Dikarenakan letaknya dekat dengan tanah gerusan atau


tanah endapan longsor menyebabkan tanah di kampung ini
menjadi subur. Hal ini dibuktikan dengan melimpahnya pohon
aren dan beragamnya aneka tanaman yang tumbuh di sekitar
daerah ini tanpa diperlukan adanya perawatan dari manusia.
Tanahnya yang sangat subur karena merupakan tanah gerusan
atau tanah endapan longsor. Adanya pohon aren yang tumbuh di
area terntentu hingga membentuk garis mengindikasikan bahwa
daerah tersebut merupakan daerah patahan dimana letak
kampung ini berada di daerah graben sehingga terdapat tanah
endapan longsor.
G. Kampung Pondok Sedong
Kampung ini merupakan daerah yang berada di ketinggian
500

mdpl

yang

merupakan

daerah

berbukit-pegunungan.

Penggunaan lahan yang digunakan oleh warga di daerah ini


adalah perkebunan dan hutan yang memiliki vegetasi tanaman
pohon aren, kokosan , dan paku-pakuan.

26

4.7 Pondok Sedong


H. Dusun Tutugan
Dusun Tutugan memiliki bentuk lahan struktural dan
batuan beku (andesit) yang memiliki karakteristik batuan kasar
dan agak runcing dan memiliki warna abu-abu. Daerah tersebut
merupakan perkebunan campuran yang di dusun ini terdapat
berbagai jenis vegetasi tumbuhan seperti pisang, aren, singkong,
jambu, kol, bamboo, di tambah dengan adanya sawah dan kolam
ikan.

Kualitas air daerah tutugan ini juga masuk kedalam

golongan jernih, suhu daerah ini lebih panas dari pada pondok
sedang yaitu 28 C.
I. Dusun Cibeureum
Dusun Cibeureum memiliki bentukan lahan struktural dan
termasuk ke dalam golongan pegunungan curam, batuan di
dusun cibeureum ini adalah batuan sedimen (gamping merah)
merah coklat, mudah lapuk, batu bongkahan, mudah lapuk
struktur batuannya karena factor penyinaran matahari dan aliran
air. Penggunaan lahan dusun cibeurem adalah kebun campuran.
Dusun ini berada di daerah graben karena terlihat daerah ini
merupakan daerah yang ketinggiannya lebih rendah daripada
daerah di sekitarnya sehinnga membentuk seperti cekungan.
Lebih tepatnya daerah ini merupakan bagian dari graben yang

27

terbentuk karena adanya sesar geser.

4.8 Dusun Cibereum


J. Dusun Datarjambe
Dusun Datarjambe berada di koordinat : 107 19 47 BT
dan 07 20 28.15 LS, dusun datarjambe ini adalah daerah
bergelombang-berbukit

dan

Berada

disekitar

lereng

pada

patahan yang paling tinggi atau horst, sumber airnya dari mata
air dan berkualitas jernih. Dan suhu di dusun datar jambe ini
lebih dingin dibanding dusun tutugan dan cibeureum yaitu 23C.
K. Datar Kubang
Datar Kubang berada di koordinat : 107 19 34 BT dan 07
20

39

LS

dan

memiliki

bentukan

lahan

struktural

dan

merupakan daerah pegunungan curam dengan batuan sedimen


dengan

warna

coklat

kekuningan

dan

mulai

melapuk.

Penggunaan lahan daerah ini adalah pertanian lahan basah.

28

4.9 Dusun Datar Kubang


L. Dusun Cisireum
Dusun Cisireum memiliki bentukan lahan structural
patahan geser dan termasuk ke pegunungan curam penggunaan
lahan daerah tersebut adalah hutan sumber air cisireum adalah
mata air dengan kualitas air yang jernih.

29

4.10 Dusun Cisireum

4.11 Dusun Cisirem


M. Pasirwalik
Plot pertama kami berada di titik koordinat 072810.0 LS
dan 1072109.6 BT. Dengan suhu 26C dengan kecepatan
angin 0, 2 m/s. daerah ini masih termasuk pegunungan curam
dan terdapat sungai yang lokasinya jauh ke bawah dan harus
menuruni tebing yang sangat curam

4.12 Pasir Walik

30

N. Cidaun Pentas
Berada di titik koordinat 07 28 47.7 LS dan 107 21
12.7 BT. Plot ini berada di daerah pemukiman dengan suhu 29C
dengan kecepatan angina sekitar 0,4 m/s.

4.13 Cidaun Petas


O. Limbangan
Plot selanjutnya adalah plot 3 dengan titik koordinat
072842.8 LS dan 1072117.00 BT. Dilihat dari penggunaan
lahan daerah tersebut adalah wilayah persawahan. Limbangan
merupakan salahsatu kampung yang berada di desa Kertajadi.
Keterangan yang ada di peta RBI sedikit berbeda karena toponim
daerah ini di peta adalah Cidaunpeuntas. Akan tetapi, karena
adanya

pelebaran

wilayah

namanya

berubah

menjadi

Limbangan. Daerah ini letaknya berada di dataran banjis Ci


Daun. Ci Daun di daerah ini merupakan daerah hilir sungai
karena sungainya yang lebar, lembahnya berbentuk U, tidak ada
kelokan sungai karena letaknya dedah dekat laut sehingga
topografinya datar, dan aliran airnya tidak begitu deras. Warna
airnya pun coklat karena membawa material yang berasal dari

31

hilir sungai. HIlir sungai Ci Daun berada di daerah Naringgul


dimana di desa Naringgul ditemukan sungai yang alirannya
sangat deras. Saking derasnya hingga menerobos batuan besar.
Bentuk lembahnya berbentuk V dan bentuknya lurus.

4.14 Limbangan
P. Cidaun Kopong
Berada titik koordinat 072002.6LS dan 1072102.1 BT.
Dilihat

dari

penggunaan

lahan

daerah

tersebut

adalah

penambangan pasi yang diambil dari sungai

32

4.12 cidaun kopong


Q. Babakan Kaum
Berada di titik koordinat 072922.4 LS dan 1072109.9
BT, plot 5 ini sudah mendekati daerah pantai hal tersebut terlihat
di pinggir-pinggir jalan terdapat sebaran pasir pantai.

33

4.14 Babaan Kaum


R. Cidamar
Plot berikutnya berada di titik koordinat 072947.2 dan
1072037.3

BT.

Penggunaan

lahan

daerah

ini

adalah

perkebunan lahan campuran dengan jenis vegetasi

Alang-

alang,putri malu,macam-macam bunga,mangrove dan hewan


yang ditemukan adalah gabus,ikan, sapi,kupu-kupu. Di plot ini
memiliki suhu yang panas yaitu 31 C dengan kecepatan angina
1, 5 m/s
Keistimewaan plot ini adalah terdapat suatu fenomena
dimana air sungai bertemu dengan air laut (estuaria) yang
mengakibatkan adanya hewan-hewan khas di sekitarnya. Namun
meski di sekitarnya terdapat air yang tumbuh subur di daerah
tersebut hanyalah alang-alang, putri malu. Meski tanaman yang
lain dapat tumbuh di daerah tersebut namun tidak sebaik
dengan tempat yang lain. Jenis hewan di estuaria ini juga

34

memiliki

ciri

khas

tersendiri

berbeda

dengan

yang

lain

diantaranya hewan cirikhas daerah ini adalah ikan gabus dan


ikan impun. Eustaria merupakan muara pasang surut dari sungai
yang besar. Eustaria adalah suatu tubuh perairan pantai yang
semi tertutup, yang mempunyai hubungan bebas dengan laut
terbuka dan didalamnya ait laut terencerkan oleh air tawar yang
berasal dari drainase daratan. Eustaria biasanya sebagai pusat
permukiman berbagai kehidupan. Fungsi dari eustaria cukup
banyak antara lain: merupakan daerah mencari ikan, jalur
transportasi, sumber keperluan air untuk berbagai industri dan
tempat rekreasi.

4.15 Cidamar
S. Pantai Jayanti
Pantai Jayanti adalah sebuah objek wisata pantai yang
keindahan alam yang dimiliki masih alami tak terlalu banyak
pencemaran ataupun sampah yang terlihat di pantai tersebut.

35

Karena beberapa hal pantai Jayanti

jarang mendapatkan

kunjungan dari wisatawan,disebabkan akses menuju tempat


tersebut masih terbatas, kemudian lokasi pantai tersebut jauh
dari pusat kota,jarak dari cianjur menyju pntai Jayanti kira-kira
139 KM. Pantai Jayanti berada di kawasan cianjur selatan,yaitu
terletak di desa Cidamar kecamatan Cidaun kabupaten Cianjur
provinsi Jawa barat.
Ombak di pantai Jayanti termasuk tinggi sehingga pantai
ini tak dapat dipakai untuk berenang, hanya ada kegiatan
nelayan dipantai tersebut. Di pantai Jayanti terdapat beberapa
vegetasi diantaranya pandan laut dan pohon kelapa. Hewan yang
ditemukan di pantai Jayanti adalah ikan, kepiting, dan kerang.
Yang membedakan pantai Jayanti dengan yang lain terdapat
pada pasirnya, pasir di pantai Jayanti ini adalah pasir besi dan
pasir vulkanik.

4.14 Pantai Jayanti

36