Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang
Kematian maternal merupakan salah satu masalah kesehatan global, dan
umumnya terjadi terutama di negara-negara berkembang.
global

yang

Kesepakatan

disebut dengan Millenium Development Goal

khususnya tujuan ke

5 bertujuan untuk

Maternal Mortality Ratio (MMR)


tahun 1990 (WHO, 2012).

(MDGs)

menurunkan tiga per empat

pada tahun 2015, dengan dasar pada

Beberapa negara

telah berhasil mencapai

target MMR, dan beberapa negara lainya, termasuk Indonesia, walaupun


terjadi penurunan, target MDG 5 2015 tidak tercapai. Dibandingkan
dengan beberapa negara di kawasan Asean, MMR di Indonesia lebih
tinggi dari Thailand, Myanmar, Malaysia, Philipina walaupun masih
lebih rendah daripada Camboja dan Laos (Unicef, 2012).
Diperkirakan pada tahun 2015 MMR Indonesia berada pada level 161 per
100,000 kelahiran hidup. Namun hasil SDKI (Survey Demografi dan
Kesehatan Indonesia ) terakhir

tahun 2012, MMR Indonesia mengalami

peningkatan dan diperkirakan pada level 359 per

100,000 kelahiran

hidup (MEASURE, 2013). Terjadinya peningkatan yang cukup tinggi ini


diluar dari perkiraan karena dalam enam tahun terakhir cukup banyak
intervensi yang diimplementasikan oleh pemerintah Indonesia Misalnya
pelaksanaan Jampersal (jaminan persalinan) yang di mulai pada tahun 2012,
pemberian

dana

Bantuan

Opersional

Kesehatan

(BOK),

perbaikan

pelayanan kegawatdaruratan obstetrik. Semua intervensi tersebut diharapkan


dapat meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan ibu yang pada

akhirnya dapat menurunkan MMR. Menurut Loudon (2010), berdasarkan


hasil analisis diberbagai negara, akses ke pelayanan kesehatan lebih
memegang peranan penting dalam penurunan MMR dibandingkan dengan
perubahan sosial ekonomi suatu daerah dan peningkatan akses inilah yang
menjadi fokus pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Laporan
dari

WHO tentang sebab kematian maternal mendapatkan bahwa sebab

utama kematian ibu masih

meliputi perdarahan, eklampsia dan infeksi

termasuk unsafe abortion (Say et al, 2014) .


Tiga penyebab utama tersebut berkontribusi sekitar 60% dari total kematian
ibu. Pola yang sama juga terjadi di Indonesia.

Walaupun telah diketahui

sebab utama kematian ibu, namun masih jarang dilakukan analisis terhadap
sebab kematian tersebut untuk kurun waktu tertentu. Informasi ini penting
karena jika ada perubahan berarti perlu ada perubahan dalam intervensi
penurunan MMR. Walaupun Say etal (2014) melaporkan bahwa sebab
langsung

kematian maternal secara global masih disebabkan oleh

perdarahan, hipertensi dan infeksi, Khan et al (2006), melaporkan bahwa


terdapat perbedaan pola sebab kematian diberbagai region. Misalnya Asia
dan Afrika memiliki pola yang sama yaitu perdarahan dan eklampsi
merupakan penyebab utama, tetapi di daerah Amerika Latin, hipetensi
merupakan penyebab utama kematian maternal sedangkan di negara maju,
kematian maternal lebih banyak disebabkan oleh abortus.
Angka kejadian abortus, terutama abortus spontan berkisar 10-15%.
Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyaknya
wanita mengalami yang kehamilan dengan usia sangat dini, terlambatnya
menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak mengetahui

kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun,


dengan demikian setiap tahun terdapat 500.000 - 750.000 janin yang
mengalami abortus spontan.
Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus
adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan
keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir
terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian
abortus.
Tingkat aborsi tahunan di Asia berkurang antara tahun 1995 dan 2003 dari 33
menjadi 29 aborsi per 1.000 wanita berusia 15 44 tahun. Di Asia Timur,
tingkat aborsi diperkirakan pada tahun 2003 adalah 28 per 1.000 wanita usia
subur. Di Selatan Asia Tengah, tingkat aborsinya adalah 27 per 1.000 wanita
usia subur. Asia Tenggara merupakan daerah dengan tingkat aborsi tertinggi
pada tahun 2003 yaitu 39 per 1.000 wanita usia subur. Tingkat aborsi paling
rendah di Asia Barat yaitu 24 per 1.000 wanita usia subur Pada tahun 2000,
diperkirakan bahwa sekitar 2 juta aborsi terjadi di Indonesia. Perkiraan ini
adalah angka tahunan aborsi sebesar 37 aborsi per 1.000 perempuan usia
reproduksi (15 49 tahun). Apabila dibandingkan dengan negaranegara lain
di Asia, dalam skala regional sekitar 29 aborsi per 1.000 perempuan usia
reproduksi, ternyata perkiraan ini cukup tinggi. Kebanyakan aborsi di
Indonesia dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih dan banyak juga (yang
jumlahnya tidak diketahui) yang mengupayakan penguguran kandungan
Upaya pencegahan terjadinya unsafe abortion adalah sangat penting bila
Indonesia ingin mencapai tujuan ke lima dari Millennium Development Goal
untuk memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan menurunkan angka kematian
ibu.

1.2.

Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini agar kita sebagai mahasiswa
keperawatan mengetahui tentang Abortus dan cara penanganan pada klien
dengan masalah sistem reproduksi abortus.

1.3.

Manfaat
Makalah ini bermanfaat sebagai panduan atau pedoman bagi mahasiswa
keperawatan untuk melakukan penulisan Asuhan Keperawatan secara baik dan
benar tanpa mengalami kesulitan terutama pada klien dengan masalah system
reproduksi Abortus.

BAB 2
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Pengertian Abortus


Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang
terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat
badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang
dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka
abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai
berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Prawirohardjo S, 2009).
2.2 Etiologi

Menurut Prawirohardjo S (2009) penyebab abortus antara lain adalah :


1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat juga disebut factor ovovetral.
Faktor ovovetal yang menyebabkan abortus adalah kelainan pertumbuhan
janin dan kelainan pada plasenta. Kelainan hasil konsepsi dapat
menyebabkan

kematian janin atau cacat.kelainan

berat

biasanya

menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda.faktor-faktor yang


menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut.
a.
Kelainan kromosom. Kelainan yang sering digunakan pada abortus
spontan ialah risomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan
b.

kromosom seks.
Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan diendometrium
disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga penberian zat-

c.

zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.


Pengaruh dari luar.Radiasi, virus, obat-obat dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya
dalam uterus.Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.

2. Kelainan pada plasenta


Endarteritis dapat terjadi dalam viliporeales dan menyebabkan oksigenasi
plasenta terganggu ,sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin.keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya
karena hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu
Penyakit mendadak,seperti pmeumonea,typis abdominalis, pielonefritis,
malaria dan lain-lain yang menyebabkan abortus.Toksin, bakteri, virus,
atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga
menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus. Anemia
berat, keracuanan, laparotomi, peritonitis umum dan penyakit menahun
seperti bruselosis, mononucleosis infeksiosa, toksosplamosis juga dapat
menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.
4. Kelainan traktus genitalis
Retriversio uteri, miomata uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus.tetapi, harus di ingat bahwa hanya retroversion uteri
gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan
penting. Sebab lain abortus dalam trimester II ialah serviksin kompeten
yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi

serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang


tidak dijahit.
Secara umum abortus disebabkan oleh :
1. Infeksi akut : virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis. Infeksi bakteri,
misalnya streptokokus. Parasit, misalnya malaria. Infeksi kronis : Sifilis,
biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. Tuberkulosis paru,
aktif, pneumonia.
2. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah,air raksa, dan lain-lain.
3. Penyakit kronis, misalnya : hipertensi, nephritis, diabetes, anemia berat
penyakit jantung : toxemia gravidarum.
4. Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dan lain-lain.
5. Trauma fisik. Penyebab yang bersifat lokal: Fibroid, inkompetensia
serviks. Radang pelvis kronis, endometrtis. Retroversi kronis. Hubungan
seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan
hiperemia dan abortus.
6. Kelainan alat kandungan.
7. Gangguan kelenjar tiroid.
8. Penyebab dari segi Janin / Plasenta Kematian janin akibat kelainan
bawaan.
9. Kelainan kromosom. Linkungan yang kurang sempurna.
10. Penyakit plasenta, misalnya inflamasi dan degenerasi.
2.3 Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap
benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis
belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan
seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih
dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak
perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih
dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong
kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes
ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus,
maserasi atau fetus papiraseus.

2.4 Pathway
Factor kromosom
(genetik)

Factor endometrium

Endometrium belum
siap menerima hasil
konsepsi

Pendeknya jarak
kehamilan

Radiasi, rokok,
alcohol, obat-obatan

Kehamilan usia dini


(<20th)

Kehamilan usia tua


(>30th)

Belum matur

Rahim belum
pulih dengan baik

System transfer
plasenta belum efisien

Kelainan pertumbuhan
hasil konsepsi

Penyakit kronik

Factor ibu: anemia berat, infeksi


toxoplasmosis, diabetes

Gg. pembentukan pembuluh


darah pada plasenta

Kelainan plasenta

Perdarahan dalam desidua basalis (plasenta) dan nekrosis jaringan sekitar

Hasil konsepsi sebagian atau seluruhnya terlepas

Uterus berkontraksi

Nyeri akut

Fungssi organ
menurun

Isi rahim keluar

Abortus

Abortus iminens

Hasil konsepsi masih


di dalam uterus tanpa
dilatasi serviks

Abortus insipien

Hasil konsepsi masih


di dalam uterus disertai
dilatasi serviks

Ansietas

Abortus inkomplet

Pengeluaran sebagian
hasil konsepsi

Perdarahan per vaginam

Kekurangan volume cairan

Abortus komplet

Semua hasil konsepsi


dikeluarkan

2.5 Manifestasi Klinis


1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang
akibat kontraksi uterus.
2.6 Jenis-Jenis Abortus
1. Abortus Provokatus : Disengaja, digugurkan.
a. Abortus Provokatus artifisial atau abortus therapeutic : Pengguran
kehamilan biasanya menggunakan alat-alat dengan

alasan, bahwa

kehamilan membahayakan bagi ibunya sebelum usia kandungan 28


minggu.
b. Abortus provocatus criminalis : Pengguran kehamilan tanpa adanya
alasan medis yang sah dan dilarang oleh hukum.
2. Abortus Spontan : Terjadi dengan sendirinya, keguguran. Biasanya
abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kualitas sel telur dan sel
sperma.
Jenis abortus berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi 8, yaitu:
a. Abortus Iminens. Ditandai dengan perdarahan pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu, ibu mungkin mengalami mulas atau tidak sama
sekali. Pada abortus jenis ini, hasil konsepsi atau janin masih berada di
dalam, dan tidak disertai pembukaan (dilatasi serviks)
b. Abortus Insipiens. Terjadi perdarahan pada usia kehamilan kurang dari
20 minggu dan disertai mulas yang sering dan kuat. Pada abortus jenis
ini terjadi pembukaan atau dilatasi serviks tetapi hasil konsepsi masih di
dalam rahim.
c. Abortus Inkomplet. Terjadi pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
usia kehamilan kurang dari 20 minggu, sementara sebagian masih
berada di dalam rahim. Terjadi dilatasi serviks atau pembukaan,
jaringan janin dapat diraba dalam rongga uterus atau sudah menonjol
dari os uteri eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa
hasil konsepsi dikeluarkan, sehingga harus dikuret.
d. Abortus komplet. Pada abortus jenis ini, semua hasil konsepsi

dikeluarkan sehingga rahim kosong. Biasanya terjadi pada awal


kehamilan saat plasenta belum terbentuk. Perdarahan mungkin sedikit
dan os uteri menutup dan rahim mengecil. Pada wanita yang mengalami
abortus ini, umumnya tidak dilakukan tindakan apa-apa, kecuali jika
datang ke rumah sakit masih mengalami perdarahan dan masih ada sisa
jaringan yang tertinggal, harus dikeluarkan dengan cara dikuret.
e. Abortus Servikalis. Pengeluaran hasil konsepsi terhalang oleh os uteri
eksternum yang tidak membuka, sehingga mengumpul di dalam kanalis
servikalis (rongga serviks) dan uterus membesar, berbentuk bundar, dan
dindingnya menipis.
f. Missed Abortion. Keguguran tertunda. Ialah keadaan dimana janin telah
mati sebelum minggu ke-22, tetapi bertahan di dalam rahim selama 2
bulan atau lebih setelah janin mati.
g. Abortus Habitualis. Keguguran berulang-ulang. Ialah abortus yang
telah berulang dan berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3x
berturut-turut.
h. Abortus Mengancam. Gejalanya adalah perdarahan ringan yang terjadi
beberapa hari hingga beberapa minggu di awal kehamilan, namun mulut
rahim masih menutup. Jika perdarahan berhenti biasanya kehamilan
akan dapat terus berlanjut, walaupun ada risiko terjadi kelahiran
prematur, atau berat lahir bayi rendah. Namun perdarahan seperti ini
tidak menyebabkan kecacatan pada janin.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah
mati
2. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup
3. Pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion Data
laboratorium tes urine, hemoglobin dan hematokrit, menghitung trombosit
4. kultur darah dan urine
5. Pemeriksaan Ginekologi:
a. Inspeksi vulva
1)
2)
3)
4)

Perdarahan pervaginam sedikit atau banyak


Adakah disertai bekuan darah
Adakah jaringan yang keluar utuh atau sebagian
Adakah tercium bau busuk dari vulva

b. Pemeriksaan dalam speculum


1) Apakah perdarahan berasal dari cavum uteri
2) Apakah ostium uteri masih tertutup / sudah terbuka
3) Apakah tampak jaringan keluar ostium
4) Adakah cairan/jaringan yang berbau busuk dari ostium.
c. Pemeriksaan dalam/ Colok vagina
1) Apakah portio masih terbuka atau sudah tertutup
2) Apakah teraba jaringan dalam cavum uteri
3) Apakah besar uterus sesuai, lebih besar atau lebih kecil dari usia
4)
5)
6)
7)

kehamilan
Adakah nyeri pada saat porsio digoyang
Adakah rasa nyeri pada perabaan adneksa
Adakah terasa tumor atau tidak
Apakah cavum douglasi menonjol, nyeri atau tidak

2.8 Penatalaksanaan
1. Abortus iminens.
a. Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang
b.

mekanik berkurang.
Periksa denyut nadi dan suhu badan 2 kali sehari bila pasien tidak

panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.


c. Tes kehamilan dapat dilakukan, bila hasil negatif mungkin jaringan
d.

sudah mati.
Tentang pemberian hormon progesteron pada abortus imminens
belum

pada

persesuaian

faham.

Sebagian

besar

ahli

tidak

menyetujuinya, dan mereka yang menyetujui bahwa harus ditentukan


dahulu adanya kekurangan hormone progesteron. Apabila difikirkan
bahwa sebagian besar abortus didahului oleh kematian hasil konsepsi
dan kematian ini dapat disebabkan oleh banyak factor, maka
pemberian hormon progesteron memang tidak banyak manfaatnya.
e. Pemeriksaan ultrasonografi penting di lakukan untuk menentukan
f.

apakah masih janin hidup.


Berikan obat penenang, biasanya Fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan

preprat hematinik misalnya, sulfas ferosus 600-1000 mg.


g. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
h. Membersihkan vulva minimal 2 kali sehari dengan cairan antiseptik.
2. Abortus insipiens.
a. Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan
tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
b. Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai

perdarahan, ditangani dengan penosongan uterus memakai kuret


vacum atau cunam abortus disusul kerokan memakai kuret tajam.
Suntikan ergometrin 0,5 mg IM.
c. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU
dalam dekstrose 5%, 500ml dimulai 8 per menit dan naikan sesuai
kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
d. Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
3. Abortus incomplit
a. Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus NaCl fisiologis
atau Ringer Laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
b. Setelah syok diatasi, dikerok dengan kuret tajam lalu suntikkan
ergometrin 0,2 mg IM.
c. Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
d. Berikan antibiotic.
4. Abortus komplit
a. Bila pasien baik, berikan ergometri 3 x 1 tablet selama 3-5 hari.
b. Pasien anemi, berikan sufas ferosus atau transfusi darah.
c. Berikan antibiotik.
d. Diet tinggi protein, vitamin, dan mineral.
5. Missed abortion
a. Bila keadaan fibrinogen normal segera keluarkan jaringan kinsepsi
dengan cunam ovum lalu kuret tajam.
b. Bila fibrinogen rendah berikan fibrinogen kering atau segar sesaat
sebelum mengeluarkan konsepsi.
c. Kehamilan kurang dari 12 minggu, pembukaan serviks dengan
gagang laminaria selama 12 jam lalu dilatasi serviks dengan dilatator
hegar kemudian ambil hasil konsepsi dengan cunam ovum dan kuret
tajam.
d. Kehamilan lebih dari 12 minggu berikan dietilstilbestrol 3 x 5 mg
infus oksitosin 10 IU dalam Dekstrose 5%sebanyak 500 ml dan 20
tetes permenit kemudian naikkan dosis sampai uterus berkontrasi
e. Bila tinggi fundus uteri ebih dari 2 dari bawah pusat, hasil konsepsi
keluarkan dengan menyuntikkan larutan garam 20% dalam cavum
uteri dinding perut.
6. Abortus serfikalis
Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan
untuk mengeluarkan hasi konsepsi dari kanalis servikalis.

7. Abortus habitualis
penangannya terdiri atas; memperbaiki keadaan umum, pemberian
makanan yang sempurna, anjuran istirahat sangat banyak, larangan koitus
dan olah raga, terapi dengan hormone progesteron, vitamin, hormone
tiroid dan lainnya mungkin mempunyai pengaruh psikologis karena
penderita mendapat kesan bahwa ia diobati.
8. Abortus infeksiosus (Septik)
a. Kepada penderita dengan abortus infeksiosus yang telah mengalami
banyak perdarahan hendaknya diberikan infuse dan tranfusi darah.
b. Pasien segera diberi antibiotika
c. Kuretase dilakukan dalam 6 jam dan penanganan demikian dapat
dipertanggungjawabkan

karena

pengeluaran

sisa-sisa

abortus

mencegah perdarahan dan menghilangkan jaringan yang nekrotis.


Yang bertindak sebagai medium pembiakan bagi jasad renik.
Pemberian antibiotika diteruskan sampai febris tidak ada lagi selama
2 hari atau ditukar bila tidak ada perubahan dalam 2 hari.
d. Pada abortus septic diperlukan pemberian antibiotika dalam dosis
yang lebih tinggi.
2.9 Komplikasi
Ada pun komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu :
1. Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada
kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke
rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh
sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada
awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan tekanan
berlebihan. Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi
penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar.
Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi
atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama
dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu,
turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan
atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan
dengan segera.

2. Luka pada serviks uteri


Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul
sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada
ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan
yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat
jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks.
3. Pelekatan pada kavum uteri
Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium
jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya
perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan
dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan
bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.
4. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa
terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan
transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus
dan vagina.
5. Infeksi
Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya
infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke
seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain
yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur.
Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
6. Lain-lain
Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl
hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga
peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala
konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau
hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada
pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.

BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM
REPRODUKSI PADA KASUS ABORTUS

3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.
(Wilkinson, 2006)
1. Data subyektif
Data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu
situasi dan kejadian.
2. Data objektif
Data yang dapat diobservasi dan diukur.
3.1.1 Pengumpulan data
Merupakan upaya untuk mendapatkan data sebagai informasi tentatang
pasien. Data yang dibutuhkan tersebut mencakup data tentang
biopsikososial dan spiritual atau data yang berhubungan dengan
masalah pasien serta data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
masalah pasien (Herdman, 2012)
1. Identitas pasien meliputi nama pasien, tempat dan tanggal lahir,
suku/bangsa, status perkawinan, agama, pendidikan, tanggal dan
waktu datang ke Rumah sakit (Hidayat, A.A, 2006)
2. Identitas penanggung jawab: nama, umur jenis kelamin, alamat,
pekerjaan, hubungan dengan klien.

3.1.2 Riwayat keperawatan


1. Riwayat keperawatan sekarang
Riwayat

keperawatan

sekarang

adalah

faktor-faktor

yang

melatarbelakangi atau hal-hal mempengaruhi atau mendahului


keluhan.
2. Keluhan utama
Keluhan utama, apa yang menyebabkan pasien berobat.
3. Lama keluhan
Lama keluhan, seberapa lama pasien merasakan keluhan.
4. Riwayat penyakit saat ini
Riwayat penyakit saat ini, merupakan penyakit yang dirasakan
pasien pada saat dikaji (Hidayat, A.A, 2006).
5. Riwayat keperawatan sebelumnya.
Riwayat keperawatan sebelumnya adalah riwayat atau pengalaman
masa lalu tentang kesehatan atau penyakit yang pernah di alami
(Hidayat, A.A, 2006).
6. Riwayat keperawatan keluarga.
Riwayat keperawatan keluarga adalah riwayat kesehatan atau
keperawatan yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga,
apakah ada yang menderita penyakit yang seperti dialami pasien
(Hidayat, A.A, 2006).
7. Riwayat lingkungan
8. Apakah keadaan lingkungan keluarga / klien sudah memenuhi
syarat kesehatan.
3.1.3 Pola Fungsi Kesehatan (Calista Roy)
1. Fungsi fisiologi
Berhubungan dengan struktur tubuh

dan

fungsinya.

Roy

mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus


dipenuhi untuk mempertahankan integritas, yang dibagi menjadi
dua bagian, mode fungsi fisiologis tingkat dasar yang terdiri dari 5

kebutuhan dan fungsi fisiologis dengan proses yang kompleks


terdiri dari 4 bagian yaitu :
a. Oksigenasi
b. Nutrisi
c. Eliminasi
d. Aktivitas dan istirahat
e. Proteksi / perlindungan
f. The sense / perasaan
g. Cairan dan elektrolit
h. Fungsi syaraf / neurologis
i. Fungsi endokrin
2. Mode Konsep Diri
Mode konsep diri berhubungan dengan psikososial dengan
penekanan spesifik pada aspek psikososial dan spiritual manusia.
Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas psikis
antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep
diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu the physical self
dan the personal self.
The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya

a.

berhubungan dengan sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya.


Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat merasa
kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang
b.

kemampuan seksualitas.
The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal
diri, moral- etik dan spiritual diri orang tersebut. Perasaan cemas,
hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal yang berat dalam
area ini.

3. Mode fungsi peran


Mode fungsi peran mengenal pola - pola interaksi sosial seseorang
dalam hubungannya dengan orang lain, yang dicerminkan dalam

peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya pada bagaimana


seseorang

dapat

memerankan

dirinya

dimasyarakat

sesuai

kedudukannya .
4.

Mode interdependensi
Mode interdependensi adalah bagian akhir dari mode yang
dijabarkan oleh Roy. Fokusnya adalah interaksi untuk saling
memberi dan menerima cinta/ kasih sayang, perhatian dan saling
menghargai.

Interdependensi

yaitu

keseimbangan

antara

ketergantungan dan kemandirian dalam menerima sesuatu untuk


dirinya.

3.2 Diagnosa yang mungkin muncul (Nanda, 2012)


Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons
manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan
menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah.
1. Kekurangan volume cairan
2. Nyeri akut
3. Ansietas
3.3 Intervensi Keperawatan
1.
Kekurangan volume cairan
Kriteria hasil: Tidak ada perdarahan, intake dan output
dalam rentang normal.
No
1

Intervensi
Kaji kondisi status

Rasional
Pengeluaran cairan pervaginal

hemodinamika

sebagai akibat abortus memiliki


karekteristik bervariasi

Ukur pengeluaran harian

Jumlah cairan ditentukan dari


jumlah kebutuhan harian ditambah
dengan jumlah cairan yang hilang

Berikan sejumlah cairan

pervaginal
Tranfusi mungkin diperlukan pada

pengganti harian
Evaluasi status hemodinamika

kondisi perdarahan massif


Penilaian dapat dilakukan secara
harian melalui pemeriksaan fisik

2. Nyeri akut
Kriteria hasil: Klien tidak meringis kesakitan, klien
menyatakan nyerinya berkurang
No
1

Intervensi
Kaji kondisi nyeri yang dialami

Rasional
Pengukuran nilai ambang nyeri

klien

dapat dilakukan dengan skala

Terangkan nyeri yang diderita

maupun dsekripsi.
Meningkatkan koping klien dalam

klien dan penyebabnya

melakukan guidance mengatasi

Kolaborasi pemberian

nyeri
Mengurangi onset terjadinya nyeri

analgetika

dapat dilakukan dengan pemberian


analgetika oral maupun sistemik
dalam spectrum luas/spesifik

3. Ansietas
Kriteria hasil: RR dalam rentan normal, klien tidak gelisah
No
1

Intervensi
Kaji tingkat
pengetahuan/persepsi klien
dan keluarga terhadap
penyakit
Kaji derajat kecemasan yang
dialami klien
Bantu klien mengidentifikasi

Rasional
Ketidaktahuan dapat menjadi dasar
peningkatan rasa cemas

Kecemasan yang tinggi dapat


menyebabkan penurunan penialaian
objektif klien tentang penyakit
Pelibatan klien secara aktif dalam
tindakan keperawatan merupakan

penyebab kecemasan

Asistensi klien menentukan


tujuan perawatan bersama

Terangkan hal-hal seputar


aborsi yang perlu diketahui
oleh klien dan keluarga

support yang mungkin berguna bagi


klien dan meningkatkan kesadaran
diri klien
Peningkatan nilai objektif terhadap
masalah berkontibusi menurunkan
kecemasan
Konseling bagi klien sangat
diperlukan bagi klien untuk
meningkatkan pengetahuan dan
membangun support system
keluarga; untuk mengurangi
kecemasan klien dan keluarga.

3.4 Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik (Herdman, 2012).
3.5 Evaluasi
Hal hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan berfokus
pada criteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan pedoman
pembuatan SOAP, atau SOAPIE pada masalah yang tidak terselesaikan atau
teratasi sebagian.

DAFTAR PUSTAKA
Herdman, TH. (2012). NANDA International Diagnosa Keperawatan. EGC :
Jakarta.
Hidayat, A.A. (2006). Kebutuhan dasar manusia 1. salemba medika: Jakarta

Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu kebidanan. Penerbit yayasan bina pustaka sarwono


prawirohardjo: jakarta.
Ralph c, benson (2009) buku saku obstetri dan ginekologi edisi 9. Egc: jakarta

Sastrawinata, s (2005). Obstetri patologi ilmu kesehatan reproduksi. 2nd ed. Egc :
jakarta
Wilkinson, judith M. (2006). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan
intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC : Jakarta