Anda di halaman 1dari 6

PENENTUAN NILAI PEMBIASAN CAHAYA PADA

PLANPARALEL DAN PRISMA.


(1)
(1)

Muhammad Syahrul Dwi Handika,

(1)

Zun Wahyu Yulianti,

(1)

Varilia Wardani

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya. Jl. Kampus UNESA Ketintang
Surabaya
Email: wardani.varilia26@gmail.com
Telp.; +6231 8293484 Fax: +6231 8293484

ABSTRAK : Percobaan pembiasan pada planparalel dan prisma bertujuan untuk dapat
membuktikan hukum pembiasan Snellius, menentukan besarnya indeks bias bahan
(kaca) dan pergeseran sinar, menentukan besarnya sudut deviasi (penyimpangan) sudut
deviasi minimum dan indeks bias pada prisma, serta mengetahui hubungan antara tebal
kaca dengan pergeseran sinar. Variabel yang digunakan pada percobaan ini adalah
variabel manipulasinya adalah sinar datang, variabel kontrolnya adalah kaca setengah
lingkaran, kaca planparalel, dan prisma dan variabel responnya adalah pergeseran sinar
pada kaca planparalel , indeks bias kaca setengah lingkaran dan sudut deviasi minimum
pada prisma. Metode yang dilakukan pada percobaan ini adalah untuk menentukan
pergeseran sinar pada kaca planparalel menggunakan kaca planparalel, menentukan
indeks bias pada kaca setengah lingkaran menggunakan kaca setengah lingkaran dan
menentukan indeks sudut deviasi minimum pada prisma menggunakan kaca prisma.
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan nilai dari indeks bias pada kaca setengah
lingkaran sebesar (1,53 0,095) dengan taraf ketelitian 93,8%, pergeseran sinar dari
kaca planparalel terdapat dua cara, yaitu perhitungan dan pengamatan. Jika perhitungan
didapatkan hasil sebesar (1,82 0,40) cm denga taraf ketelitian 75,5% sedangkan hasil
dari pengamatan didapatkan nilai sebesar (2,06 0,018) cm dan sudut deviasi pada
prisma terdapat dua cara, yaitu perhitungan dan pengamatan. Diperoleh hasil dari
perhitungan (41 2,8)
pengamatan (41,6

dengan taraf ketelitian 93,2%. Sedangkan dari hasil

2,48)

dengan taraf ketelitian 94,04%. Dari hasil percobaan

tersebut didapatkan nilai yang hampir sama besarnya dengan teori yang ada tetapi
terjadi sedikit perbedaan hasil yang dikarenakan kesalahan pengamat didalam
melakukan percobaan.
KATA KUNCI : Pembiasan Cahaya, Hukum Snellius dan Indeks Bias

PENDAHULUAN
Berkas cahaya yang melewati
bidang batas antara dua medium
yang
berbeda
akan
mengalami
perubahan arah apabila sudut datang
tidak sama dengan nol. Perubahan
cahaya inilah yang disebut dengan
pembiasan
(refraksi).
Contoh
peristiwa pembiasan yang paling
sederhana yaitu sebuah pensil yang
dimasukkan ke dalam gelas yang
berisi air. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan indeks bias antara air dan
udara. Apabila sudut datang (i) dan
sudut bias (r) diketahui, maka indeks
bias dari suatu bahan (kaca) dapat
dicari dengan menggunakan prinsip
hukum Snellius.
Pada
percobaan
ini
yang
bertujuan untuk membuktikan hukum

pembiasan
Snellius,
menentukan
besarnya indeks bias kaca setengah
lingkaran dan pergeseran sinar pada
kaca plan parallel, serta untuk
menentukan

sudut

deviasi

sudut deviasi minimum (

( ),

m ), dan

menentukan indeks bias prisma. Dari


tujuan tersebut dapat ditarik suatu
rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana menentukan hasil dan
besarnya indeks bias bahan kaca
setengah lingkaran ?, Bagaimana
menentukan hasil dan besarnya
pergeseran sinarnya pada kaca
planparalel
?
dan
Bagaimana
menentukan hasil dan besarnya sudut
deviasi pada prisma ?.

Pembiasan
cahaya
adalah
peristiwa
penyimpangan
atau
pembelokan cahaya ketika berkas
cahaya melewati bidang batas dua
medium
yang
berbeda
indeks
biasnya. Indeks bias mutlakk suatu
bahan
adalah
perbandingan
kecepatan cahaya di ruang hampa
dengan kecepatan cahaya di bahan
tersebut.
Indeks
bias
relative
merupakan perbandingan indeks bias
medium kedua terhadap medium
pertama adalah perbandingan indeks
bias antara medium kedua dengan
indeks
bias
medium
pertama.
Pembiasan
cahaya
menyebabkan
kedalaman semu dan pemantulan
sempurna.
Pada sekitar tahun 1621,
ilmuwan Belanda bernama Willebrord
Snell
(1591-1626)
melakukan
eksperimen untuk mencari hubungan
antara sudut datang dengan sudut
bias. Hasil eksperimen ini dikenal
dengan nama Hukum Snell yang
berbunyi:
- Sinar datang, garis normal, dan
sinar bias terletak pada satu
bidang datar.
- Hasil bagi sinus sudut datang
dengan
sinus
sudut
bias
merupakan bilangan tetap dan
disebut indeks bias.
Pada
peristiwa
pembiasan,
cahaya
yang
datang akan diteruskan namun
mengalami
embiasan
atau
pembelokan arah. Besarnya
sudut dibentuk oleh sinar bias
dengan
garis
normal
dinamakan sebagai sudut bias.
Indeks Bias Kaca Setengah
Lingkaran
Berdasarkan hukum Snellius,
didapatkan persamaan berikut :

sin i
=n
sinr

Dimana :
n = indeks bias bahan (kaca)

sin i=sudut datang

sin r=sudut bias


Pergeseran Sinar Pada Kaca Plan
Parallel

Jika seberkas sinar menuju


permukaan kaca plan parallel, maka
sinar akan mengalami pembiasan
sebanyak dua kali. Pada pembiasan
pertama sinar datang dari udara ke
kaca, berarti dari medium renggang
ke medium rapat. Dalam hal ini sinar
akan dibiaskan mendekati garis
normal, sedangkan pada pembiasan
kedua sinar bias berfungsi sebagai
sinar datang pada bidang batas kaca
dengan udara. Dalam hal ini sinar
datang dari medium rapat ke medium
renggang, sehingga sinar dibiaskan
menjauhi garis normal. Arah sinar
datang dengan sinar yang keluar dari
kaca plan parallel merupakan sinar
yang sejajar. Besarnya pergeseran
sinar (t) pada kaca plan parallel
ditentukan
dengan
Persamaan
sebagai berikut :

t=

d sin (ir )
cos r

Keterangan :
d = tebal balok kaca (cm)
i = sudut datang ( )
r = sudut bias ( )
t = pergeseran cahaya (cm)
Sudut Deviasi Prisma
Prisma adalah bahan bening
yang dibatasi oleh dua bidang datang
bersudut. Besarnya sudut antara
kedua bidang datang itu disebut sidit
pembias ( ). Sudut deviasi adalah

suatu sudut yang dibentuk oleh


perpotongan
dari
perpanjangan
cahaya datang dengan perpenjangan
cahaya bias yang meninggalkan
prisma.
Persamaan sudut deviasi prisma:

=( i+ r )
Keterangan :

=sudut pembiasan prisma

=sudut deviasi
i=sudut datang

r=sudut bias
METODE PENELITIAN
Pada percobaan pembiasan
cahaya,
terdapat
dua
macam
percobaan yaitu Menentukan indeks

bias dan pergeseran sinar, dan


Menentukan indeks bias dan sudut
deviasi pada kaca Dari percobaan ini,
kami memiliki variabel percobaan
diantaranya, variable Kontrol adalah
posisi dan ketebalan kaca sedangkan
pada prisma adalah sudut puncak
prisma

( ),

variabel

Manipulasi

adalah sudut datang (i) dan variabel


Respon adalah sudut bias (r).
sebelum percobaan kami menyiapkan
alat dan bahan diantaranya, balok
kaca setengah lingkaran, kaca plan
parallel,
prisma,
busur
derajat,
penggaris, pensil, kertas putih polos,
jarum pentul, dan set Ray-Box. Untuk
percobaan pertama merangkai alat
seperti berikut :
Gambar 07. Indeks bias pada kaca
P

Garis Normal

setengah lingkaran

Membuat
sebuah
garis
silang
ditengah-tengah kertas putih polos.
Membuat garis-garis bersudut 30 ,
45 ,

60

dst

.dengan

garis

sumbu
PQ
pada
kertas
itu.
Meletakkan kaca setengah lingkaran,
dengan sisi datarnya berimpit dengan
garis
menyilang
pada
kertas.
Diupayakan pusat lingkaran tepat di
titik O. Garis PQ tegak lurus terhadap
permukaan kaca dan disebut garis
normal. Sumber cahaya (dari Ray
Box) diarahkan pada sisi balok kaca,
diupayakan cahaya tampak diatas
kertas melewati garis PQ. Berkas
cahaya, sebelum mencapai balok
adalah sinar datang, sedangkan yang
melalui balok adalah sinar bias.
Selanjutnya diukur besarnya sudut
datang (i) dan sudut bias (r). Dari
data
yang
diperoleh
tersebut
kemudian dihitung indeks bias dari
kaca setengah lingkaran tersebut.
Untuk percobaan kedua, alat
dirangkai sebagai berikut :

Gambar 08. Pembiasan pada


planparallel

Meletakkan balok kaca


diatas kertas putih polos.
Menancapkan dua buah jarum
pentul di titik A dan B pada
satu
sisi.
Selanjutnya
menancapkan dua buah jarum
pentul di sisi yang lain (C dan
D) sedemikian sehingga bila
dilihat
dari
sisi
tersebut,
keempat jarum tadi (A,B,C dan
D) tampak segaris. Menggaris
tepi-tepi kaca tesebut, setelah
itu kaca diangkat & posisi
jarum-jarum tadi dihubungkan
sehingga diperoleh garis AF
dan GD. Bila digunakan RayBox, garis dibuat sebelum kaca
diangkat. Selanjutnya diukur
besarnya sudut datang (i),
sudut bias (r), d dan t.
Mengulangi
langkah-langkah
diatas untuk sudut datang
yang berbeda-beda. Dari data
yang
diperoleh
tersebut
selanjutnya
ditentukan
pergeseran sinar (t) dengan
menggunakan rumus-2 dan
hasilnya dibandingkan dengan
melakukan pengukuran suara
langsung.
Untuk percobaan ketiga, alat
dirangkai sebagai berikut :

Gambar 09. Pembiasan pada


prisma
Meletakkan
prisma
diatas kertad putih, kemudian
menancapkan
dua
jarum
pentul di A dan B di satu sisi.
Selanjutnya diletakkan jarum
pentul di sisi yang lain (C dan
D) sedemikian sehingga empat
jarum tersebut tampak segaris.
Bila tersedia Ray-Box, sinar
diarahkan pada salah satu,
sedangkan sinar yang keluar
dari prisma dapat diamati dari

b. Menentukan pergeseran sinar


pada kaca planparalel
No.
per
c

sisi yang lain. Menggaris tepitepi prisma, kemudian prisma


diangkat & posisi jarum-jarum
tadi dihubungkan. Bila tersedia
Ray-Box, menggaris berkas
sinar dilakukan sebelum prisma
diangkat. Mengulangi langkah
1 dan 2 tersebut untuk kondisi
yang
berbeda,
selanjutnya
untuk setiap kondisii diukur i, r,

Dari

data

1.
2.
3.
4.
5.

tersebut

selanjutnya ditentukan indeks


bias prisma dan sudut deviasi
minimumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Menentukan indeks bias pada
kaca setengah lingkaran
No.
per
c.
1
2
3
4
5

t
(t

0,05)
i
(i
cm
Lang0,5)0
Hitung
sung
20.0
18.0
6.00
3.00
0.22
30.0
20.0
6.00
2.30
1.09
40.0
25.0
6.00
1.80
1.71
50.0
30.0
6.00
1.20
2.34
60.0
25.0
6.00
2.00
2.77
Berdasarkan hasil percobaan
didapatkan pergeseran sinar
pada kaca planparalel dengan
menggunakan dua cara yaitu,
pengamatan dan perhitungan.
Jika perhitungan didapatkan
hasil sebesar (1,82 0,40) cm
denga taraf ketelitian 75,5%
sedangkan
hasil
dari
pengamatan didapatkan nilai
sebesar (2,06 0,018) cm.
data hasil dari perhitungan dan
pengamatan pergerseran sinar
pada kaca planparalel tidak
sesuai
dengan
teori
sebenarnya yang berkisar (2,4
-2,5).
Perbedaan
hasil
percobaan
dengan
teori
disebabkan
kaca
yang
digunakan
permukaannya
terjadi kecacatan.

Indeks
bias
(n)
20
10
2,00
30
20
1,39
45
26
1,61
50
30
1,54
c. Menentukan
60
51
1,12
pada prisma
Berdasarkan hasil data
diatas diperoleh bahwa sudut
I
r
bias
pada
kaca
dan No.

(i
(r
perhitungan
menggunakan
perc
0,5)
0,5)
hukum
Snellius
sebagai
.
berikut :

Sinar
datang (i)

Sinar
bias (r)

sin i
=n
sinr

Menurut teori indeks bias pada kaca


setengah lingkaran sebesar 1,0 1,1
tetapi hasil yang kami dapat sebesar
(1,53 0,095) dengan taraf ketelitian
93,8%.
Hasil
percobaan
ini
mengalami
perbedaan
teori
dikarenakan
kurangnya
ketelitian
dalam menempatkan jarum pentul
yang digunakan dalam percobaan.

1
2
3
4
5

d(d

0,05
) cm

R
(r
0,5)0

sudut

deviasi

Langsu
ng

Hitun
g

39,0
40,0
42,0
45,0
49,0

35,0
35,0
34,0
57,0
39,0
37,0
60,
58,0
41,0
40,0
0
59,0
43,0
44,0
61,0
50,0
50,0
Berdasarkan data hasil
tersebut
didapatkan
sudut
deviasi
dengan
berikut:

( ) pada

prisma

persamaan

sebagai

perhitungan dan pengamatan.


Diperoleh
hasil
dari

=( i+ r )
Diperoleh hasil dari perhitungan (41
2,8)

dengan taraf ketelitian

93,2%. Sedangkan dari hasil


pengamatan (41,6

2,48)

dengan taraf ketelitian 94,04%.


Sehingga dapat disimpulkan adanya
sedikit perbedaan hasil dikarenakan
kurangnya ketelitian dalam
menggunakan kaca prisma.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah
dilakukan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Besar indeks bias dari kaca
setengah lingkaran sebesar
(1,53 0,095) dengan taraf
ketelitian
93,8%
dengan
persamaan: :

sin i
=n
sinr

2. Besar pergeseran sinar dari


kaca planparalel terdapat dua
cara, yaitu perhitungan dan
pengamatan. Jika perhitungan
didapatkan hasil sebesar (1,82
0,40) cm denga taraf
ketelitian 75,5% sedangkan
hasil
dari
pengamatan
didapatkan nilai sebesar (2,06

0,018)
cm
dengan
persamaan sebagai berikut:

t=

d sin (ir )
cos r

3. Besar dari sudut deviasi pada


prisma terdapat dua cara, yaitu

perhitungan

(41

2,8)

dengan taraf ketelitian 93,2%.


Sedangkan
dari
hasil
pengamatan (41,6

dengan

taraf

2,48)

ketelitian

94,04% dengan persamaan:

=( i+ r )
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami
bersyukur
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada
kakak KOAS FISIKA DASAR 2, yang
telah
bersedia
membantu
baik
sebelum
maupun
pada
saat
percobaan hingga artikel ini selesai
ditulis. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada tim kelompok
atas
kerja
samaanya
dalam
melaksanakan praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA
Haliday, D., dan Resnick, R., 1984.
Fisika Jilid II(Edisi ke tiga). Jakarta:
Erlangga
Giancoli, D.C,. 2001.Fisika Jilid II (Edisi
ke lima). Jakarta: Erlangga
Tim Dosen Fisika Unesa. 2015.
Panduan Praktikum Fisika Dasar II.
Surabaya: Unipress
Tripler, P.A., 1991. Fisika Dasar Jilid II.
Jakarta: Erlangga.