Anda di halaman 1dari 6

KERACUNAN SIANIDA

Sianida merupakan salah satu racun yang sangat toksik. Kematian akibat
sianida masih sering ditemukan. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat
menyebabkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit. 1 Sianida dapat kita
jumpai dalam beberapa bentuk, yaitunya :
1. Hidrogen Sianida (HCN)
Hidrogen sianida adalah cairan tidak bewarna dan dapat juga bewarna biru
pucat pada suhu kamar yang bersifat mudah terbakar. Mempunyai titik
didih 26,5oC sehingga mudah menguap dalam suhu ruangan, HCN sangat
mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. HCN
memmpunyai aroma yang khas yaitu seperti amandel (bitter almond,
peach pit), biasaya HCN digunakan dalam sintesisi kimia dan fumigasi
gudang-gundang kapal untuk membunuh tikus.2
2. Sodium Sianida
Sodium Sianida adalh bubuk kristal putih dengan bau almond, bentuk cair
dari bahan ini sangat alkalis dan cepat berubah menjadi hydrogen sianida
jika kontak dengan asam atau asam dari garam.
3. Potasium Sianida
Potasium Sianida adalah bahan padat bewarna putih dengan bau sianida
yang khas, bentuk cair dari bahan ini sangat alkalis dan cepat berubah
menjadi hydrogen sianida jika kontak dengan asam atau garam dari asam.
4. Kalsium Sianida
Kalsium Sianida adalah bahan kristal bewarna putih, dalm bentuk cair
akan cepat berubah menjadi hydrogen sianida, dikenal juga dengan nama
calsid atau calsyan.
5. Sianogen

Sianogen adalah gas beracun yang tidak berwarna dengan bau seperti
almond. Bahan ini secara perlahan terhidrolisis pada bentuk cair menjadi
asam oksalat dan ammonia.
6. Glikosida Sianogenik
Glikosida Sianogenik diprodukso sevara natural oleh berbagai jenis
tumbuhan. Saat terhidrolisis membentuk hydrogen sianida. 3
Sianida dapat kita jumpai dalam keadaan sehari-hari dalam konsentrasi
kecil, seperti pada rumput, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan buah-buahan
diantaranay singkong, ubi jalar, tebu, kacang-kacangan, almond, jeruk, apel,
cherry, prune, plum, dan butir jagung. Dari berbagai tanaman yang mengandung
sianida ini, keracunan sianida yang paling banyak dilaporkan adalah setelah
memakan singkong dan kacang.
Gejala Klinis Keracunan Sianida
Gejala yang muncul sangat tergantung dari dosis sianida, banyaknya
paparan, jenis paparan, dan tipe komponen dari sianida. Hipoksia jaringan yang
timbul secara progresif merupakan efek utama dari keracunan sianida. Efek yang
muncul mengenai semua system organ, seperti pada tekanan darah, penglihatan,
paru, saraf pusat, jantung, sistem endokrin, sistem otonom, dan sistem
metabolisme. Tanda awal keracunan sianida adalah hiperpnea sementara, nyeri
kepala, dispnea, kecemasan, perubahan perilaku seperti agitaso dan gelisah,
berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, dan tubuh terasa lemah. Dalam
konsentrasi rendah, efek dari sianida baru muncul sekitar 15-30 menit kemudian,
sehingga masih bisa diselamatkan dengan pemberian antidote.
Tanda khas yang dapat ditemukan pada keracunan sianida adalah adanya
warna merah terang pada arteri dan vena retinal pada pemeriksaan dengan
funduskopi. Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, busa keluar darimulut,

nadi cepat dan lemah, pernafasan cepat dan kadang-kadang tidak teratur, pupil
dilatasi dan reflex melambat, dari muntahan tercium amandel.
Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi, kesukaran bernafas, mual,
muntah, sakit kepala, salivasi, lakrimasi, iritasi mulut dan kerongkongan, pusing
dank kelemahan ekstremitas cepat timbul, dan kemudian kolaps, kejang0kejang,
koma, dan meninggal.
Pada keracunan kronik, korban tampak pucat, berkeringat dingin, pusing,
rasa tidak enak pada perut, mual dan kolik, rasa tertekan pada dada, dan sesak
nafas.2
PEMERIKSAAN KERACUNAN SIANIDA
Beberapa spesimen yang dapat

diambil

untuk

pemeriksaan

laboratorium adalah
1.

Lambung (isi dan jaringannya).


Material ini berguna untuk mengetahui keracunan sianida peroral atau
pada kasus mati mendadak dimana terdapat sejumlah besar obat-obat
yang tidak terabsorpsi pada lambung. Pada kasus-kasus overdosis obat
maka lambung harus diambil seluruhnya.

2.

Hati.
Specimen ini berguna untuk kasus keracunan yang kompleks. Biasanya
diambil 100 gram pada dari lobus kanan karena tidak terkontaminasi
dengan empedu.

3.

Darah.
Dianjurkan untuk mengambil spesimen darah dari berbagai pembuluh
darah perifer. Khasnya, tingkat sianida darah dalam 1 serial kasus yang
fatal antara 1-53 mg/l, dengan rata-rata 12 mg/L. 5 Kadar sianida normal
dalam darah sebesar 0,016-0,014mg/L.4 Selain pemeriksaan kadar

sianida dapat juga dilakukan pemeriksaan pH darah yang akan menjadi


lebih asam karena peningkatan asam laktat.
4.

Otak.
Pada kasus-kasus dimana sumber sianida tidak diketahui, dianjurkan
untuk mengambil sampel otak kurang lebih 20 gram dari bagian dalam
untuk mengkorfirmasi keberadaan sianida.

5.

Paru-paru.
Jika kematian mungkin disebabkan oleh inhalasi gas hidrogen sianida,
paru-parunya harus dikirim utuh, dibungkus dalam kantong yang
terbuat dari nilon (bukan polivinil klorida).

6.

Limpa
Limpa merupakan jaringan dengan konsentrasi sianida yang paling
tinggi, diperkirakan karena limpa banyak mengandung sel darah merah,
dalam 1 serial seperti diatas, tingkat sianida limpa berkisar antara 0,5398 mg/l, dengan rata-rata 44 mg/l. Dalam serial lain, tingkat sianida
darah rata-rata 37 mg/l.

7.

Urin.
Ekskresi sianida pada urine dalam beberapa bentuk salah satunya
adalah tiosianat.5 Pada orang yang tidak merokok konsentrasi tiosianat
berkisar antara 1-4mg/L sementara pada perokok konsentrasinya hingga
3-12mg/L.4
Jika terdapat kematian akibat keracunan sianida, pemeriksaan yang

dapat dilakukan terhadap jenazah adalah pemeriksaan luar dan pemeriksaan


dalam.

Pemeriksaan Luar
Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan bau sianida pada tubuh yang dapat
dikenali seperti bau almond akan tetapi banyak orang tidak bisa mendeteksi bau
ini sebagian karena kemampuan adaptasi indera penciuman dengan cepat akan
menghilangkan bau tersebut. Penampakan lebam mayat pada kondisi ini cukup
bervariasi. Yang klasik dikatakan menjadi berwarna merah bata, sesuai dengan
kelebihan oksi hemoglobin atau sianmethemoglobin (karena jaringan tidak dapat
menggunakan oksigen). Banyak deskripsi lebam mayat yang mengarah pada kulit
yang berwarna merah muda gelap atau bahkan merah terang, terutama bergantung
pada daerahnya, yang dapat dibingungkan dengan karboksi hemoglobin (HbCO).
Terdapat pula kemungkinan muntahan hitam disekitar bibir. Hal lain dapat dilihat
adanya tanda-tanda sianosis seperti kebiruan pada bibir dan ujung jari-jari.6
Pemeriksaan Dalam
Sebelum pemeriksaan dalam dilakukan sangat penting diketahui bahwa
pemeriksaan dalam (autopsi) korban dengan keracunan sianida cukup beresiko
karena pemeriksa akan terpapar sianida dalam waktu yang cukup lama.5
Kematian oleh karena sianida disebabkan oleh karena histotoksik hipoksia
maka tanda-tanda asfiksia dapat dilihat pada pemeriksaan dalam seperti adanya
kongesti organ-organ dalam akibat perbendungan sistemik. Organ dalam terlihat
membesar dan jaringan di dalam mungkin juga menjadi berwarna merah muda
terang disebabkan karena oksi-hemoglobin yang tidak dapat digunakan oleh
jaringan - yang mungkin lebih umum terjadi dari pada karena sianmethemoglobin.
Selain itu terjadi kongesti pada paru-paru dan dilatasi jantung kanan.6
Striae pada lambung dapat mengalami kerusakan hebat dan terlihat
menutupi permukaan, selain itu terdapat resapan darah pada lekukan mukosa. Ini
terutama disebabkan kekuatan alkali yang kuat dari hidrolisa garam-garam
natrium dan kalium sianida. Pada kasus keracunan berat, lambung akan ditandai

dengan striae berwarna merah gelap. Lambung dapat berisi darah maupun
rembesan darah akibat erosi maupun pendarahan di dindingnya. Jika sianida
berada dalam larutan encer, kerusakan yang terjadi lebih minimal. Apabila racun
masuk secara oral maka kekuatan alkali dari sianida akan mengiritasi saluran
cerna. Esofagus dapat mengalami kerusakan, terutama pada bagian mukosa pada
sepertiga distal, terutama saat post mortem dimana terjadi regurgitasi isi perut
karena relaksasi dari sphincter. Organ lain tidak menunjukkan perubahan yang
spesifik dan diagnosis dibuat berdasarkan bau dan warna kemerahan pada jaringan
dalam tubuh.7
DAFTAR PUSTAKA
1. Baskin SI, Brewer TG. Cyanide Poisoning. Chapter. Pharmacology Division.
Army Medical Research Institute of Chemical Defense, Aberdeen Proving
Ground, Maryland. USA. Available from:
www.bordeninstitute.army.mil/cwbw/Ch10.pdf. Access on: Nov 29, 2006.
2. Buku Forensik UI
3. WHO, 2004
4. IPCS. 2004. Hydrogen cyanide and cyanide : Human health aspect. Geneva,
World Health Organization, International Programme on Chemical Safety
(Concise International Chemical Assessment Document No. 61).
5. Chishiro T, 2000. Clinical Aspect of Accidental Poisoning with Cyanide. Asian
Medical Journal 43(2) : 59-64.
6. Idries, AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara:
Jakarta.
7. ATSDR. 2004. Draft toxicology profile for cyanide. Atlanta, GA, United States
Department of Health and Human Service, Public Health Service, Agency for
Toxic Substance and Disease Registry.

Anda mungkin juga menyukai