Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN MATERI KULIAH

PERTEMUAN III
Pengukuran Kinerja Perusahaan Keseluruhan

Kelompok 1
Nama Anggota Kelompok:
Adrian Hartanto Darma Sanputra
Kamal Dwi Rasyid

JOINT PROGRAM AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSIAS BRAWIJAYA
2016

Total Shareholder Return (TSR)


Total (TSR) (atau hanya Total Return) adalah ukuran kinerja saham dan saham
perusahaan yang berbeda 'dari waktu ke waktu. Ini menggabungkan apresiasi harga saham dan
dividen yang dibayarkan untuk menunjukkan total kembali ke pemegang saham dinyatakan
sebagai persentase tahunan. Hal ini dihitung dengan pertumbuhan modal dari pembelian saham
di perusahaan dengan asumsi bahwa dividen yang diinvestasikan kembali setiap kali mereka
dibayar. Pertumbuhan ini dinyatakan sebagai persentase sebagai tingkat pertumbuhan tahunan
gabungan.
Manfaat utama dari TSR adalah bahwa hal itu memungkinkan kinerja saham yang akan
dibandingkan meskipun beberapa saham mungkin memiliki pertumbuhan yang tinggi dan
dividen yang rendah dan lain-lain mungkin memiliki pertumbuhan yang rendah dan dividen yang
tinggi.
Kebanyakan indeks pasar saham hanya menggunakan pertumbuhan harga dari
perusahaan yang membentuk indeks. Namun, ketika mereka menggunakan TSR untuk
perusahaan itu disebut indeks total return atau indeks akumulasi. Misalnya, sesuai dengan indeks
S & P 500 dihitung dengan Standard dan Poor, ada indeks TR S & P 500.
Terlepas dari ukuran perusahaan, semakin beragam portofolio, semakin sulit adalah untuk
menghasilkan TSR tinggi.
Dalam prakteknya TSR sulit untuk menghitung karena melibatkan mengetahui harga
saham pada saat dividen dibayarkan. Namun, sebagai pendekatan lebih satu tahun dapat dihitung
sebagai berikut dengan:
Instrument TSR digunakan untuk mengukur kenaikan atau penurunan modal yang ditanamkan
oleh investor. Pengukuran ini berupa seberapa banyak capital gain atas saham perseroan dan
deviden yang dapat dinikmati oleh shareholder.
Rumus TSR adalah:
TSR: Deviden per share + (share et end of period-initial share price) x100
Initial share price
Wealth Added Index (WAI)
Wealth Added Index (WAI) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan
kekayaan pemegang saham melalui deviden yang diterima dan capital gain saham selama

periode waktu tertentu, setelah dikurangi atau melampaui cost of equity. Cost of Equity adalah
tingkat pengembalian minimum yang diisyaratkan investor untuk menaruh uang pada saham
beresiko. WAI dihadirkan untuk menyempurnakan TSR.
Rumus WAI adalah:
WAI = Kapitalisasi Pasar (di awal periode) x (TSR CoE)
Perusahaan yang baik akan menghasilkan WAI yang positif, yaitu TSR lebih besar dari CoE-nya
demikian sebaliknya. Jika TSR sama dengan CoE maka perusahaan dianggap belum
menghasilkan WA.
Kebaikan WAI:
1. Tidak perlu membuat ( meragukan ) estimasi jumlah modal disuntikkan ke bisnis dari
neraca
2. Lebih mampu mengidentifikasi penciptaan nilai daripada MVA dan MBR
Kelemahan WAI:
1.
2.
3.
4.

Ada keraguan tentang CAPM


Asumsi kesempuraan harga pasar saham dapat dielakkan
Di pasar banyak perusahaan yang berkinerja baik namun memiliki WAI negatif
Dipengaruhi oleh ukuran perusahaan yang semakin besar

Market value added (MVA)


Menurut Brigham (Terjemahan, 2006 : 6), MVA adalah
MVA = nilai pasar dari saham ekuitas modal yang diberikan pemegang saham.
=(saham beredar) x (harga saham) total ekuitas saham biasa.
Menurut Warsono (2003:47), MVA adalah
MVA = Nilai pasar ekuitas Modal ekuitas yang dipasok
Zaky dan Ary (2002:143), MVA adalah
MVA = Market Value of Equity (MVE) Book Value of Equity (BVE)
MVE = Shares Outstanding x Stockprice
BVE = Shares Outstanding x nominal value of share
Kusnan (2007:30), MVA diperoleh dengan menghitung nilai perusahaan (company/enterprise
value), penjumlahan harga pasar seluruh saham, surat utang dan surat berharga lainnya yang

dimaksudkan untuk mobilitasi capital, dikurangi nilai buku (book value) atau modal yang
diinvestaskan. MVA merupakan net present value dari seluruh EVA yang akan datang.
Melani (2007:44) menerangkan MVA merupakan selisih antara nilai perusahaan (enterprise
value) yang merupakan nilai saham beredar ditambah dengan utang dan jumlah modal (capital)
yang ditanamkan.
Capital merupakan modal sendiri dan utang setelah penyesuaian (adjustment)
penyesuaian dilakukan untuk merefleksikan kondisi ekonomi baik atas hasil usaha (laba)
maupun modal, penyesuaian yang dilakukan, misalnya kelebihan kas dikeluarkan dari modal,
amortisasi goodwill ditambahkan dikeluarkan dari modal, biaya bunga dikeluarkan dalam
menghitung laba usaha.
Young & Stephen (2001:26) MVA adalah
MVA = Nilai pasar modal yang diinvestasikan
MVA yang positif berani menunjukkan pihak manajemen telah mampu meningkatkan kekakyaan
pemegang saham dan MVA yang negatif mengakibatkan berkurangnya nilai modal pemegang
saham, jika MVA sama dengan 0 maka perusahaan tidak meningkatkan kekayaan bagi pemegang
saham. Sehingga memaksimalkan nilai MVA seharusnya menjadi tujuan utama perusahaan
dalam meningkatkan kekayaan pemegang saham (Zaky, 2002 : 139).
Kelebihan dan kelemahan MVA
KELEMAHAN
a.

Menurut Zaky & Ary (2002:139) MVA hanya dapat diaplikasikan pda perusahaan yang

sudah go public saja.


KELEBIHAN
b.

Menurut Zaky & Ary (2002:139) MVA merupakan ukuran tunggal dan dapat berdiri sendiri

yang tidak membutuhkan analisis trend maupun norma industri sehingga bagi pihak manajemen
dan penyedia dana akan lebih mudah dalam menilai kinerja perusahaan.
EVA dan MVA memiliki hubungan tetapi hubungan antara EVA dan MVA merupakan
hubungan yang tidak langsung. Jika pada perusahaan memiliki sejarah EVA yang bagus maka
secara tidak langsung juga memiliki MVA yang bagus juga. Harga saham yang merupakan unsur
utama MVA, lebih tergantung kepada ekspektasi kinerja di masa mendatang daripada suatu
kinerja historis oleh sebab itu, sebuah perusahaan dalam sejarah EVA negatif dapat saja memiliki

EVA yang positif, asalkan para investornya mengharapkan terjadinya suatu perubahan arah
dimasa mendatang.
Ketika EVA atau MVA digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial sebagai bagian
dari program kompensasi intensif, EVA adalah ukuran yang umum digunakan. Alasan pertama,
EVA menunjukkan nilai tambah yang terjadi selama suatu tahun tertentu, sedangkan MVA
mencerminkan kinerja perusahaan sepanjang hidupnya, bahkan mungkin termasuk masa-masa
sebelum manajer yang ada sekarang dilahirkan.
Kedua, EVA dpat diterapkan pad masing-masing divisi atau unit-unit yang lain dari
sebuah perusahaan besar, sedangkan MVA harus diterapkan untuk perusahaan secara keseluruhan
(Brigham&Weston, 2003:70).
Menurut Warsono (2003:49), MVA perusahaan selama periode tertentu, secara teoritis
dapat didefinisikan sebagai nilai sekarang dari seluruh EVA dimasa mendatang yang diharapkan
(expected future EVA). Ini berarti MVA merupakan jumlah nilai sekarang dari keseluruhan EVA
dimasa yang akan datang yang diharapkan. Berdasarkan definisi ini, jika investor mengharapkan
EVA nol pada satu tahun yang akan datang, maka mereka mengharapkan tidak ada nilai yang
diciptakan, sehingga saham akan dijual pada nilai bukunya jika EVA yang diharapkan negatif.
Teknik analisa menghitung MVA
a.

Menghitung besarnya nilai pasar perusahaan yang dapat melalui harga saham dikalikan

dengan jumlah saham yang beredar;


b.

Menghitung modal yang diinvestasikan perusahaan yang dapat melalui harga nominal

saham dikalikan dengan jumlah saham beredar.


Excess return (ER)
Excess return ini meneliti jumlah modal yang diinvestasikan dalam tahun-tahun
sebelumnya dan kemudian membebankan perusahaan untuk penggunaan selama bertahun-tahun.
Ini juga mengkredit perusahaan untuk pengembalian yang diperoleh pemegang saham dari uang
yang dibayarkan kepada mereka (misalnya dividen) ketika kembali diinvestasikan di pasar.
Excess return dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Excess Return = Actual Wealth Expected Wealth

Expected wealth dihitung sebagai nilai investasi awal dalam nilai saat ini jika telah
mencapai tingkat yang diperlukan pengembalian selama waktu yang telah diinvestasikan dalam
bisnis. Sedangkan actual wealth adalah nilai sekarang dari arus kas yang diterima oleh pemegang
saham yang ditambah dengan nilai pasar saat ini dari saham. Setiap arus kas yang diterima di
masa lalu perlu ditambah hingga saat ini.
Beberapa keuntungan yang dapat diraih dengan penggunaan metode excess return adalah
memungkinkan penerapan time value of money pada dana pemegang saham dimasukkan ke
dalam bisnis, memberikan kredit untuk dividen yang diterima oleh pemegang saham, menilai
kekayaan yang dihasilkan selama masa hidup perusahaan, manajer menilai pada ER yang
memiliki lebih sedikit insentif untuk berinvestasi dalam proyek NPV yang negatif daripada yang
dinilai berdasarkan pertumbuhan pendapatan.
Market to book ratio (MBR)
MBR adalah nilai pasar dibagi dengan modal yang diinvestasikan. Jika nilai pasar dari
utang dapat diambil untuk menjadi sama dengan nilai buku utang maka versi MBR adalah rasio
nilai pasar saham biasa perusahaan dengan jumlah modal yang disediakan oleh pemegang saham
biasa (jika saham preferensi modal dapat dianggap sebagai utang untuk tujuan manajemen
berbasis nilai). Bila MBR relatif tinggi dibandingkan rata-rata industri maka hal itu menunjukkan
bahwa perusahaan dapat lebih efisien menggunakan asetnya untuk menciptakan nilai

Anda mungkin juga menyukai