Anda di halaman 1dari 87

Laporan Kegiatan

Praktek Kerja Profesi


di PT. Otsuka Indonesia
Oleh :
Apoteker 50
Universitas Surabaya

Sejarah PT. Otsuka Indonesia

Parenteral Production
Departement
PLANT TOUR

Small Volume Parenteral


Preparasi

Blow Fill Seal

Inspeksi dan
Pengemasan

PREPARASI
Purified
Water
Destiller

Water for Injection


(WFI)
Raw Material
Powder
Dumping

Preparation Tank

Filtration
Buffer Tank

IPC : Pemerian,
pH, Kemurnian,
uji batas mikroba

Blow Fill Seal


Solution
(Buffer Tank)
Blow Fill Seal
(BFS Machine)

Finish
Product

Primer Packaging
Material

EPC : Pemerian,
pH, Kemurnian,
Volume, kadar
larutan, partikel
dalam larutan,
Uji sterilitas,
Bacterial
endotoxin

Inspeksi dan Pengemasan


Inspection :
ALT, Visual Test

Labelling

Packaging

Warehouse

Label

Carton Box, Leaflet

Large Volume Parenteral Pla


Bottle

Flow Chart Produksi LVP Pla Bottle

Contoh Flow Chart Produksi


OTSU-RL

Large Volume Parenteral


SoftBag

Water for Injection

Roll Film

(WFI)

Seal Film
Raw Material

Preparation Tank
Pemasangan Port pada bag
Filtration

Water for Injection

Sealing Port

(WFI)

Head Tank
Raw Material

Preparation Tank

(Double Bag)

Filling Lower Chamber


Filtration
Sealing

Head Tank 2

Filling Upper Chamber


Sealing Cap
Line Seal

Inspection :
ALT, Visual Test

Packaging

Warehouse

Carton Box, Leaflet

Contoh Flow Chart Produksi


Double Bag

Engineering
Departement
PLANT TOUR

Sistem Tata Udara (AHU/HVAC)


Tujuan

menyediakan sistem sesuai dengan ketentuan CPOB


untuk memenuhi kebutuhan perlindungan produk dan
proses sejalan dengan persyaratan GEP (Good
Engineering Practice), seperti keandalan, perawatan,
keberlanjutan, fleksibilitas, dan keamanan.

Parameter kritis dari tata udara yang dapat


mempengaruhi produk, yaitu :
- suhu
- kelembapan
- partikel udara (viable dan non viable)
- perbedaan tekanan antar ruang dan pola
aliran udara
- volume alir udara dan pertukaran udara
- sistem filtrasi udara

3 kategori dasar untuk Sistem Tata


Udara :
Sistem Full Fresh-Air

Sistem Resirkulasi

Sistem Ekstraksi atau Exhaust

Proses pengolahan air

Raw Water

Anion
Exchanger

Purified Water

Sand Filter

Kation
Exchanger

Active Carbon
Filter

Reverse
Osmosis

Softener

Quality Control
Departement
PLANT TOUR

QC
QC

Seksi Water &


Parenteral Nutrition
Test

Seksi Raw Material


& Non Parenteral
Test

Seksi Biology Test

Seksi Atribute
Testing &
Inspection

Seksi Water & Parenteral


Nutrition Test
Water
Treatment
Plant
Air
Unit Produksi
(Plant area)

Produk parenteral

Uji IPC (In


Process
Control)

Uji Produk Jadi

Uji Stabilitas
Produk

Seksi raw material & non parenteral


test
Cara pengambilan sampel 1 + n
Uji idenfikasi raw material dilakukan identifikasi 100%
Setelah dilakukan analisis dan dinyatakan lulus uji, maka
status raw material diubah menjadi release atau reject
Masa simpan sampel raw material adalah sampai batas
waktu kadaluarsa ditambah 2 tahun.
Batas waktu pengujian ulang raw material adalah 6
bulan atau 1 tahun baik yang belum digunakan maupun
yang sudah digunakan untuk produksi.

Seksi biologi
Pengujian Mikrobiologi
Pengujian mikrobiologi meliputi pengujian bahan baku (padat
dan cair), pengujian selama proses (monitoring air,
monitoring ruangan, jalur larutan, dan produk sebelum di
sterilisasi), dan pengujian produk jadi (produk non steril dan
produk steril).

Pengujian angka lempeng


total (ALT), APM coliform, APM
E.Coli, Pengujian Membran
Filtrasi, Pengujian Flushing,
Swab test, Air Sample Test
dan Settle Plate Test, contact
plate test

Pengujian Hayati
Pada seksi pengujian hayati, alur proses pengujian meliputi
sampel bahan baku (padat, bahan kemas dan cair), kemudian
sampel selama proses yaitu monitoring WFI (Water
For
Injection), dan diakhiri dengan pengujian sampel
produk jadi
(produk steril).

Pirogen, LAL (limulus


Amobocyte Lysate),
Toksisitas Acute,
Antigenitas, Hemolisa,
Intrakutan, Implantasi,
Cytotoxic

Seksi Atrribute Testing dan


Inspection
Tugas: pemeriksaan bahan kemas dan pemeriksaan

produk jadi
pengambilan sampel menggunakan rumus 1 + n dan
AQL (Acceptable Quality Levels)
Metode pemeriksaan bahan kemas meliputi uji visual,
jenis bahan yang diuji antara lain outer box, inner box,
alumunium sachet, botol.
Pemeriksaan yang dilakukan pada produk jadi dilakukan
secara visual.

QA Departement
PLANT TOUR

BATCH RECORD
Batch Record disebut juga Catatan Produksi Bets yang
terdiri dari Catatan Pengolahan Bets dan Catatan
Pengemasan Bets. Keduanya merupakan reproduksi dari
masing-masing Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur
Pengemasan Induk dan berisi semua data serta informasi
yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi dari suatu
bets produk.

PELULUSAN PRODUK JADI

PENANGANAN DEVIASI ATAU


PENYIMPANGAN
Dalam CPOB, penyimpangan memiliki arti yaitu semua
kejadian yang tidak direncakan ataupun pada kondisi
tertentu akan terjadi potensi penyimpangan selama
dan/atau sesudah proses produksi.
Berdasarkan letak ditemukannya penyimpangan, yaitu :
1.Bets
2.Non-Bets

PENANGANAN DEVIASI ATAU


PENYIMPANGAN

Klasifikasi terhadap keamanan mutu dibagi


menjadi 3 (tiga), yaitu :
Kritis atau Tinggi
Menengah
Ringan

PRODUCT QUALITY REVIEW (PQR)


Dalam CPOB dijelaskan bahwa, Pengkajian
Mutu Produk secara berkala hendaklah
dilakukan terhadap semua produk yang
terdaftar, termasuk produk ekspor, dengan
tujuan untuk membuktikan konsistensi
proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan
awal, bahan pengemas, dan produk jadi,
untuk melihat trend dan mengidentifikasi
perbaikan yang diperlukan untuk produk dan
proses.

PENGENDALIAN
PERUBAHAN

KALIBRASI
Kalibrasi adalah serangkaian tindakan pada
kondisi tertentu untuk menentukan tingkat
kesamaan nilai yang diperoleh dari sebuah
alat atau sistem ukur, atau nilai yang
direpresentasikan dari pengukuran bahan
dan membandingkannya dengan nilai yang
telah diketahui dari suatu acuan standar
pada kondisi tertentu

KUALIFIKASI
Kualifikasi adalah pembuktian dengan dokumentasi
bahwa peralatan memenuhi persyaratan untuk proses,
dapat digunakan dan berfungsi sesuai dengan
spesifikasinya.
Kualifikasi terbagi menjadi empat tahap, yaitu Design
Qualification
(DQ),
Installation
Qualification
(IQ),
Operational Qualification (OQ), dan Performance
Qualification (PQ).

VALIDASI
Setelah kalibrasi dan semua tahap kualifikasi selesai
dilaksanakan, maka dilakukan tahap selanjutnya yaitu
validasi. Validasi ada beberapa macam yaitu validasi
proses, validasi metode
analisa, dan validasi
pembersihan.

Compliance &Pharmacovigilance
Department (CPD)
Departemen CPD memiliki beberapa tugas dan fungsi,
yaitu:
Regulasi obat dan industry farmasi
Penanganan Keluhan Produk dan Pharmacovigilance
Inspeksi diri dan audit mutu

Regulasi obat dan industri farmasi


Izin industri farmasi

Sertifikasi
CPOB

Nomor izin
edar obat

Dikeluarkan oleh Badan POM RI


Diberikan untuk setiap jenis sediaan yang diproduksi dan fasilitas
produksi yang digunakan oleh industri farmasi
Sertifikat CPOB yang diperoleh berlaku selama 5 tahun dan wajib
melakukan pengajuan permohonan resertifikasi dalam waktu 6 bulan
sebelum masa berlaku sertifikat berakhir
Badan POM juga melakukan inspeksi secara periodik untuk
memastikan penerapan CPOB di industri farmasi dan digunakan juga
sebagai dasar untuk sertifikasi ulang.

Nomor izin edar harus dimiliki oleh setiap jenis produk yang dihasilkan oleh
industri farmasi sebagai persyaratan produk obat dapat diedarkan di
masyarakat.
Industri farmasi mengajukan registrasi produk yang dihasilkan ke Badan POM
dan selanjutnya izin edar obat dikeluarkan oleh Badan POM RI dan berlaku
selama 5 tahun.
Setelah mendapatkan Nomor Izin Edar maka industri farmasi dapat
mengedarkan produk obat yang dibuat apabila memenuhi spesifikasi.
Perubahan yang dilakukan oleh industri farmasi terhadap formulasi, spesifikasi,
metode pengujian, proses produksi serta asal bahan baku harus dilaporkan ke
Badan POM.

Penanganan Keluhan Produk


dan Pharmacovigilance

Inspeksi diri dan audit mutu


Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek
produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan
CPOB, dengan melakukan inspeksi diri dapat diketahui kekurangan
atas pemenuhan CPOB, baik yang kritis, berdampak besar maupun
berdampak kecil.
Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri.
Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian
dari sistem manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk
meningkatkannya. Audit mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok
dan penerima kontrak.

RAW MATERIAL DAN


FINISHED GOOD
WAREHOUSE
PLANT TOUR

Raw Material Warehouse


Material

RMW

Pallet

Sticker barcode

Komputerisasi

Nomor pallet

Receiver Report

Verifikasi

Status Material
Sample Lulus Uji

Investigasi, Sampling Ulang

Lulus Uji

Reject

Release

Raw Material Warehouse

Finished Good Warehouse


Pada prinsipnya sistem yang digunakan pada raw
material warehouse atau finished good warehouse (FGW)
adalah sama, yaitu menggunakan sistem komputerisasi
sebagai penataannya.
Pembeda antara RMW dan FGW
adalah letak pengujian QC. Pada RMW setiap material yang
datang akan dilakukan pengujian oleh QC untuk
memastikan apakah material tersebut sesuai spesifikasi
yang ditetapkan atau tidak. Pada FGW hal yang dilakukan
oeh QC hanya dilakukan sebelum produk tersebut masuk
kedalam FGW, atau selama produk tersebut masih dalam
proses produksi.

TUGAS KHUSUS

Media Fill Test


Merupakan salah satu proses validasi yang menggunakan
teknik pengisian media (media fill) atau pengisian agar
(broth fill) yang menggunakan cairan nutrisi sebagai
media pertumbuhan mikrobiologi yang disiapkan dan
digunakan dengan mensimulasikan suasana normal
operasional produksi.

Media Fill Test


Contoh media pertumbuhan mikrobiologi seperti Soybean
Casein Digest Medium (SCD) yang di proses dan
ditangani dengan mensimulasikan suasana proses
produksi dengan sistem pencahayaan yang sama dan
kemungkinan kontaminasi.
Yang pada akhirnya media tersebut di inkubasi dan dicek
kekeruhannya sebagai indikasi adanya kontaminasi dari
mikrobiologi.

Media Fill Test


Tujuan :
Untuk mengevaluasi simulasi dari proses aseptis (media
fill atau broth fill)
Untuk mempelajari bagaimana cara mengevaluasi
kesalahan dan konsekuensi yang didapatkan.

Media Fill Test


Prinsip Pelaksanaan MFT :
Selama MFT berlangsung, maka resiko
terbesar datang dari personel atau operator
yang bekerja dalam cleanroom sehingga
perlu dikualifikasi sebelum pelaksanaan MFT.
Selama MFT berlangsung, lingkungan kerja
harus dimonitor yang mana sangat berguna
data tersebut untuk backup hasil MFT yang
akan diperoleh.
Worse case condition harus termasuk dalam
pelaksanaan MFT.

Media Fill Protocol


Jumlah dan frekuensi MFT
Diawali dengan simulasi minimal 3 kali pengujian dengan
hasil yang sesuai spesifikasi (direkomendasikan untuk
dilakukan pada hari yang berbeda) dengan frekuensi
minimal 6 bulan sekali.

Media Fill Protocol


Media kultur :
Dibutuhkan
suatu
media
yang
mampu
menumbuhkan mikroorganisme dengan variasi
yang luas termasuk bakteri aerob dan anaerob,
jamur dan ragi.
a.Untuk kondisi aerob : SCD (Soybean Casein
Digest Medium) atau TSB (Tryptone Soya Broth).
b.Untuk
kondisi
anaerob
:
FTM
(Fluid
Thioglycollate Medium)
Dan diinkubasi selama 3 hari (bakteri) dan 5 hari
(ragi dan jamur)

Media Fill Protocol


Jumlah tiap unit MFT
Jumlah dari tiap unit MFT harus mencerminkan dari
ukuran batch yang sebenarnya.
Dan dapat dipastikan bahwa dengan jumlah terkecil MFT
tersebut sudah dapat mencerminkan dari total
keseluruhan produk dalam 1 batch produksi tersebut.

Media Fill Protocol


Ukuran container atau vial media
Ukuran container perlu dipertimbangkan
Container
yang
paling
besar
(biasanya
kecepatan pengisian terletak yang terendah
karena besarnya volume yang harus diisikan)
biasanya membutuhkan pembukaan yang besar,
jadi potensi untuk masuknya mikroba dari
lingkungan sangat besar.
Container yang paling kecil (biasanya kecepatan
pengisian terletak yang paling tinggi karena
kecilnya
volume
pengisian)
menunjukkan
kesulitan dalam penanganannya, karena pada
container yang lebih kecil maka lebih mudah
pecah dan kurang stabil

Media Fill Protocol


Volume pengisian
Tidak perlu harus tepat dari waktu ke waktu,
selama volume tersebut cukup untuk kontak
dengan permukaan yang akan di uji dan cukup
untuk digunakan sebagai deteksi secara visual
dari pertumbuhan mikroba setelah inkubasi.
Container yang lebih kecil sebaiknya tidak diisi
terlalu penuh, jadi perlu adanya ruang udara
yang bisa mendukung pertumbuhan dari
organisme aerob (biasanya 25% dari volume
total pengisian merupakan ruang untuk udara)

Media Fill Protocol


Lama Filling
Minimal 5000 botol per shift
Operator Shift
Jumlah operator dibatasi, bagian sampling dan mekanik termasuk
yang dihitung sebagai operator MFT.
Aktivitas Monitoring
Dilakukan selama 14 hari dengan rincian :
- 7 hari pada 20 25 C (posisi terbalik)
- 7 hari pada 30 35 C (posisi normal)
Kriteria penerimaan
Targetnya bahwa semua media harus tidak terdapat
pertumbuhan (zero growth), dengan rata-rata kontaminasi
ditemukan kurang dari 0,10%

JENIS PRODUK

Produk Parenteral terdiri dari:


Large Volume Parenteral (LVP) yang dibagi menjadi dua
macam
1.LVP Plastic Bottle (Plabottle)
2.LVP Soft Bag
Small Volume Parenteral
Contoh produk parenteral antara lain:
Aminofluid, Aminovel, Asering, KA-EN, Kidmin, Amiparen,
Otsu-RL, Aminoleban Inj, Aminoleban Oral, Neo-Mune

Produk Non Parenteral terdiri dari:


1.Medical Device: Firebird2, Hercules, Jasper, Tango, POC
one, Ubit
2.Therapeutic Drug: Abilify, Acuatim, Meptin, Mucosta,
Obucort, Pletaal, Samsca
3.Enteral Nutrition: Proten

BUDAYA PERUSAHAAN
Berfokus terhadap pelanggan atau konsumen
Disiplin, Jujur dan Integritas
Mandiri dan berfokus pada lingkaran pengaruh
Melaksanakan kerjasama secara sinergis
Menerapkan 3K (Keterbukaan, Komunikasi dan
Koordinassi)
Kreativitas dan aktualisasi
Selalu belajar dan berbagi ilmu pengetahuan antar
sesama rekan kerja

TERIMAKASIH

Penimbangan dan Preparasi

Ruang penimbangan
Ruang take off cloth
Ruang hand washing
Ruang take on cloth
Airlock
Material Storage Room
Material Receiving Room
Material Weighing Room
After Weighing Room

Ruang Preparasi
Ruang take off cloth
Ruang hand washing
Ruang take on cloth
Airlock
Preparation room
Equipment washing room
Equipment storage room
Control room
Water preparation room

Klasifikasi Kebersihan Ruang


Pembuatan Obat
Non-Operasional

Operasional

Jumlah maksimum partikel per m3 yang diperbolehkan


Kelas

0,5 m

5 m

0,5 m

5 m

3.520

20

3.520

20

3.520

29

352.000

2.900

352.000

2.900

3.520.000
Tidak

29.000
Tidak

3.520.000

29.000

ditetapkan
Tidak

ditetapkan
Tidak

3.520.000

29.000

ditetapakn

ditetapkan

DESIGN QUALIFICATION
Design Qualification (DQ) adalah unsur
utama dalam melakukan validasi terhadap
fasilitas, sistem, atau peralatan baru.
Dalam penentuan DQ diperlukan URS (User
Requirement Selection) yang merupakan
keinginan atau kebutuhan pemakai terhadap
suatu alat atau mesin.
Selanjutnya URS akan ditinjau dengan
desain alat dari pabrik yang memproduksi
alat tersebut. Design hendaklah memenuhi
ketentuan CPOB dan di dokumentasikan.

INSTALLATION QUALIFICATION
Pada tahap IQ dicek kesesuaian
diberikan oleh maker dengan URS.

spesifikasi

yang

OPERATIONAL QUALIFICATION
OQ mencakup beberapa hal diantaranya pengujian yang
perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang
proses, sistem, dan peralatan; dan pengujian yang
meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup
batas operasional atas dan bawah, sering dikenal sebagai
kondisi terburuk (Worst Case).

PERFORMANCE QUALIFICATION
Cakupan PQ meliputi pengujian dengan menggunakan
bahan baku, bahan pengganti yang memenuhi spesifikasi
atau produk simulasi yang dilakukan berdasarkan
pengetahuan tentang proses, fasilitas, sistem, dan
peralatan; dan uji yang meliputi satu atau beberapa
kondisi yang mencakup batas operasional atas dan
bawah.

VALIDASI PROSES
Validasi proses dilakukan sebelum produk dipasarkan
(validasi prospektif). Dalam keadaan tertentu, jika hal di
atas tidak memungkinkan, validasi dapat juga dilakukan
selama proses produksi dilakukan (validasi konkuren).
Proses yang sudah baik hendaklah juga divalidasi
(validasi retrospektif).

VALIDASI PEMBERSIHAN
Validasi pembersihan dilakukan
efektivitas prosedur pembersihan.

untuk

konfirmasi

Validasi prosedur pembersihan hendaklah dilakukan 3


kali berurutan dengan hasil yang memenuhi syarat untuk
membuktikan bahwa prosedur pembersihan telah
tervalidasi.

VALIDASI METODE ANALISA


Validasi metode analisa dilakukan untuk menunjukkan
bahwa metode analisis sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
Karateristik validasi yang perlu diperhatikan yaitu
akurasi, presisi, ripitabilitas, intermediet presicion,
spesifisitas, batas deteksi, batas kuantitasi, linieritas, dan
rentang.

Limbah padat domestik non B3 dihasilkan dari kegiatan


domestik antara lain bekas kemasan bahan baku, produk
reject, kantor administrasi, kantin, kebersihan ruang kerja
maupun taman. Sedangkan limbah padat B3 merupakan
reagent powder dari laboratorium Quality Control (QC),
material bahan baku yang reject dan dikategorikan B3,
sludge dari proses instalasi pengolah air limbah (IPAL).

Prinsip Pembuatan Produk Steril


Produk steril hendaklah dibuat dengan persyaratan khusus dengan
tujuan memperkecil resiko pencemaran mikroba partikulat dan
pirogen yang sangat tergantung dari ketrampilan , pelatihan dan sikap
personil yang terlibat
Pemastian mutu sangatlah penting dan pembuatan produk steril harus
sepenuhnya mengikuti secara ketat metode pembuatan dan prosedur
yang ditetapkan dengan seksama dan tervalidasi
Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi tidak dapat
dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin sterilitas atau
aspek mutu lain
Pedoman CPOB BPOM 2012

PEMBUATAN PRODUK STERIL

OVERKILLED
Sterilisasi 121O C 15 menit
Self life Produk pendek
Pilihan material sedikit
Bioburden control tidak sama kritisnya
dengan Terminal Sterilization

TERMINAL STERILIZATION

Proses sterilisasi dengan F0 8


Kontrol bioburden sebelum steril
Self life Produk cukup panjang
Pilihan material lebih banyak
Validasi Proses Sterilisasi sebagai
pembuktian jaminan proses

Aseptic Process

Proses perlu kontrol sangat ketat hingga


pengemasan primer
Kemasan lebih stabil tidak berubah , self life lebih
lama
Validasi Process aseptic sebagai pembuktian
jaminan proses (Media Fill Test)

Keselamatan
Kesehatan Kerja dan
Lingkungan (K3L)

1.
Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)
Dalam penerapan peraturan ini PT. Otsuka Indonesia melakukan pengelolaan terhadap faktor-faktor K3 , yaitu :

a. Alat Pelindung Diri


b. Log Out and Tag Out
(LOTO)
c. Rambu
d. Traffic Management

e. Rencana Kerja K3 Tahunan


f. Peralatan Darurat
Kebakaran
g. Peralatan Terkait K3
h. Izin Kerja dan Izin Kerja
Khusus
i. Simulasi dan Kondisi
Keadaan Darurat

2. Lingkungan
Pemantauan dan pengukuran dilakukan dengan
pengambilan sampel ambien dan di uji secara fisika
dan kimia. Limbah B3 meliputi limbah cair kimia, oli
bekas, aki bekas, lampu TL bekas, Infecsius (peralatan
bekas pakai uji coba atau sampling). Proses
pengelolahan limbah bertujuan untuk menghasilkan
output berupa selat (sludge yang diberikan kepada
pihak ke-3 yaitu PT.PPLI untuk diolah lebih lanjut) dan
air.

Proses Pengolahan Limbah


Kegiatan proses produksi di PT. Otsuka Indonesia, limbah
cair non B3 (Bahan Berbahaya Beracun) dihasilkan dari
kegiatan produksi dan laboratorium antara lain dari
produk jadi yang reject, kegiatan toilet dan kantin.
Sedangkan limbah cair B3 (Bahan Berbahaya Beracun)
dihasilkan dari reagent bekas titrasi pengujian dari
kegiatan laboratorium QC (Quality Control), minyak
pelumas dan atau bahan bakar bekas, serta laundry.
Untuk TPS limbah B3 mempunyai syarat yaitu harus
memiliki MSDS (Material Safety Data Sheet) yang berisi
cara penyimpanan, cara pemindahan, cara mengatasi
kondisi keadaan darurat dan karakteristik bahan.