Anda di halaman 1dari 19

METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

BENDUNG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Workshop Bangunan Air

MUHAMMAD ARIE NUGRAHA


3113120041

Politeknik Negeri Jakarta


2015

Kata Pengantar

Puji syukur Saya panjatkan atas kehadirat Allah swt,


tuhan YME atas berkat rahmat dan karunia-Nya
sehingga Saya dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul Metode Pelaksanaan Konstruksi
Bendung tepat pada waktu nya
Tidak lupa Saya mengucapkan terima kasih atas
semua pihak yang telah berjasa, membantu
terselesaikannya makalah ini. Saya berharap dengan
ada nya makalah ini dapat membantu teman-teman
saya sesama mahasiswa dalam mempeluas wawasan
yang ada.
Makalah ini adalah salah satu wahana belajar bagi
Saya, sehingga makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Sehingga saya meminta maaf atas segala
kekurangan yang ada.

Bekasi, 2 Maret 2015

Muhammad Arie
Nugraha
NIM 3113120041

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja
yg bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg
ditentukan. Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa metode pelaksanaan dalam dunia
konstruksi merupakan salah satu poin terpenting. Metode yang dipergunakan mempengaruhi
tahap-tahap pengerjaan suatu bangunan.
Dalam pelaksanaan konstruksi bangunan air diperlukan metode yang berbeda dengan
konstruksi bangunan yang terletak didarat. Hal ini disebabkan fluida, terutama air yang
menghambat pekerjaan. Hambatan yang ada biasanya menyebabkan sulit nya pekerja dalam
menyelesaikan bangunan, hasil pekerjaan yang tidak sesuai rencana, mutu bangunan yang
tidak sesuai dengan standar yang ada, dll.

1.2 Pembatasan Masalah


Dalam makalah ini hanya membahas tentang salahsatu contoh
metode pelaksanaan konstruksi bangunan air berupa bendung mulai
dari tahap prapelaksanaan dan pelaksanaan.

1.3 Tujuan
Adapun Makalah ini bertujuan menjelaskan metode dan tahap
pelaksanaan pekerjaan Bangunan Air, serta menambah khazanah
pengetahuan para siswa dan mahasiswa dalam membangun
bangunan air.

1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian yang saya gunakan baru hanya sebatas studi


pustaka, yaitu membaca dari berbagai sumber referensi dan
membandingkan nya dari satu referensi ke referensi lainnya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bangunan Air


Bangunan air adalah bangunan yang digunakan
untuk memanfaatkan dan mengendalikan air di sungai maupun
danau. Bentuk dan ukuran bangunan tergantung kebutuhan,
kapasitas maksimum sungai, dana pembangunan dan sifat hidrolik
sungai. Kebanyakan konstruksi bangunan air bersifat lebih masif dan
tidak memerlukan segi keindahan dibanding dengan bangunanbangunan gedung atau jembatan, dan perencanaan bangunannya
secara detail tidak terlalu halus.
Permukaan bangunan air atau bagian depannya sebaiknya
berbentuk lengkung untuk menghindari kontraksi sehingga
mempunyai efisiensi yang tinggi dan mengurangi gerusan lokal
(local scoure) di sekililing bangunan atau di hilir bangunan.

2.2 Tujuan dan Manfaat Bangunan Air


Tujuan pembuatan suatu bangunan air di sungai adalah sebagai
upaya manusia untuk meningkatkan faktor yang menguntungkan
dan memperkecil atau menghilangkan faktor yang merugikan dari
suatu sumber daya air terhadap kehidupan manusia.
Manfaat dari suatu bangunan air di sungai adalah untuk
membantu manusia dalam kelangsungan hidupnya, dalam upaya
penyediaan makanan nabati dan memperbesar rasa aman dan
kenyamanan hidup manusia terutama yang hidup di lembah dan di
tepi sungai.
Tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya untuk penyediaan
dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, dari sumber air ke
daerah yang memerlukan dan mendistribusikan secara teknis dan

sistematis.
Adapun manfaat suatu sistem irigasi adalah :
a. Untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah
pada daerah yang curah hujannya kurang atau tidak menentu.
b. Untuk mengatur pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar
daerah pertanain dapat diairi sepanjang waktu, baik pada musim
kemarau mupun pada musim penghujan.
c. Untuk menyuburkan tanah, yaitu dengan mengalirkan air yang
mengandung lumpur pada daerah pertanian sehingga tanah dapat
menerima unsur-unsur penyubur.
d. Untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah (rawa)
dengan endapan lumpur yang dikandung oleh air irigasi.
e. Untuk penggelontoran air di kota, yaitu dengan menggunakan air
irigasi, kotoran/sampah di kota digelontor ke tempat yang telah
disediakan dan selanjutnya dibasmi secara alamiah.
f. Pada daerah dingin, dengan mengalirkan air yang suhunya lebih
tinggi daripada tanah, dimungkinkan untuk mengadakan pertanian
juga pada musim tersebut.

2.3 Jenis-jenis Bangunan Air


2.3.1Bangunan Pengambil Bebas
Bangunan ini dibuat untuk memungkinkan dibelokkannya
air sungai ke jaringan irigasi tanpa merubah kondisi sungai,
jika muka air sungai cukup tinggi untuk mencapai lahan yang
akan diairi.
Bangunan tersebut berupa saluran pengambilan yang
dilengkapi dengan pintu air untuk mengatur debit air yang
masuk untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Bangunan tersebut
harus dapat mengambil air dengan jumlah yang cukup pada
masa pemberian air irigasi tanpa memerlukan peninggian
muka air sungai.
Bangunan seperti ini jarang diaplikasikan. Sulitnya sistem ini
seringkali kali memerlukan saluran yang sangat panjang untuk
mencapai sawah yang dapat diairi. Panjang saluran
disebabkan beda tinggi tekan yang harus disediakan agar air
sampai ke sawah secara gravitasi.
Saluran yang terlalu panjang menyebabkan banyaknya
kehilangan air, akibat rembesan dan penguapan. Hal ini
memprihatinkan banyaknya pencurian air disaluran yang sulit
dicegah.

2.3.2Bangunan Bendung
Bangunan ini dibangun melintang sungai yang berfungsi
untuk menaikkan muka air sungai, menaikkan tinggi tekan dan
atau membendung aliran sungai sehingga aliran sungai
mudah disap dan dialirkan secara gravitasi ke daerah yang
membutuhkannya dengan jarak saluran yang relatif pendek.
Tipe bendung dapat dibedakan menjadi:

A. Bendung Tetap
Bendung tetap adalah ambang yang
dibangun melintang sungai untuk
pembendungan sungai yang terdiri dari
ambang tetap, dimana muka air banjir di
bagian udiknya tidak dapat diatur
elevasinya.
Bendung ini juga merupakan
penghalang saat terjadi banjir sehingga
air sungai menjadi tinggi dan tanpa
kontrol yang baik akan dapat
menyebabkan genangan air di hulu
bendung tersebut. Untuk sungai yang
tidak mampu menampung tinggi luapan
yang terjadi tidak sesuai dengan
bangunan ini.
Bahannya dapat terbuat dari
pasangan batu, beton atau pasangan
batu dan beton. Dibangun umumnya di
sungai ruas hulu dan ruas tengah.
B. Bendung Gerak (Pintu Air)
Bendung ini dapat dihilangkan
selama terjadi aliran besar yaitu dengan
cara membuka pintu air,
sehingga masalah yang ditimbulkan
selama banjir kecil saja, karena kenaikan
muka air akibat banjir rendah.

Bendung gerak dilengkapi dengan


alat pembuka pintu mekanik untuk
mengatur muka air di depan
pengambilan agar air yang masuk
sesuai dengan kebutuhan irigasi.
Bendung gerak memerlukan
eksploitasi secara terus menerus karena
pintunya harus tetap terjaga dan
dioperasikan dengan baik dalam
keadaan apapun. Pada saat banjir, pintu
harus segera dibuka agar tidak
menimbulkan kenaikan muka air dihilir
bendung secara berlebihan yang akan
menyebabkan genangan di hulu
bendung.
C. Bendung Gerak (Bendung Karet)
Bendung ini dapat mengembang dan
mengempis secara otomatis, apabila air
telah mencapai ketinggian yang telah
ditentukan.
Ada banyak kelebihan bendung karet
dibanding pintu air, antara lain
bentangnya jauh lebih lebar dan
operasinya dilakukan secara otomatis,
tanpa menjaga dan mengoperasikan
pintu secara terus menerus, baik pada
aliran tinggi maupun aliran rendah.
Namun dengan kondisi sungai yang
banyak mengandung sedimen kasar
atau sampa padat, bendung karet tidak
dianjurkan karena akan cepat robek.
Isi bendung karet bisa udara bisa
juga diisi air, namun pengisian udara
lebih mudah karena tidak diperlukan
tampungan air untuk mengisi bendung
karet.

2.3.3Bangunan Bendungan
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun
untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat
rekreasi. Bangunan ini dibangun melintang sungai untuk
meninggikan muka air dan membuat tampungan air. Dengan

dibangunnya waduk ini dapat berfungsi ganda antara lain


pengendalian banjir, irigasi, PLTA, industri, air minum,
perikanan, rekreasi dan lain-lain. Bendungan dibedakan
Berdasarkan:
A. Ukuran

Bendungan Besar (large dams)


Bendungan Kecil (small dams)

B. Konstruksi

Bendungan urugan (fill dams, embakment dams) yang


dibagi menjadi:
Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams rockfill
dams)
Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di
muka (impermeable face rockfill dams, dekced rockfill
dams)
Bendungan beton (concrete dams)

C. Fungsi

Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam,


dike)
Bendungan pengelak (cofferdam)
Bendungan utama (main dam)
Bendungan sisi (high level dam)
Bendungan di tempat rendah (saddle dam)
Tanggul (dyke, levee)
Bendungan limbah industri (industrial waste dam)
Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam)

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Syarat-syarat Konstruksi Bendung


Dalam pembuatan rencana bangunan bendung, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan agar bangunan
bendung dapat bekerja dengan optimal dan memiliki umur
yang panjang. Syarat-syarat suatu konstruksi bendung
antara lain:
1. Bendung harus stabil dan mampu menahan tekanan air pada
waktu banjir;

2. Pembuatan bendung harus memperhitungkan kekuatan daya


dukung tanah di bawahnya;
3. Bendung

harus

dapat

menahan

bocoran

(seepage)

yang

disebabkan oleh aliran air sungai dan aliran air yang meresap ke
dalam tanah;
4. Tinggi ambang bendung harus dapat memenuhi tinggi muka air
minimum yang diperlukan untuk seluruh daerah irigasi;
5. Bentuk peluap harus diperhitungkan, sehingga air dapat
membawa pasir, kerikil dan batu-batu dari sebelah hulu dan tidak
menimbulkan kerusakan pada tubuh bendung.

3.2 Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Perencanaan


3.2.1 Faktor Topografi
Dalam hal ini semua rencana daerah irigasi dapat terairi,
sehingga harus dilihat elevasi sawah tertinggi yang akan
diari. Bila elevasi sawah tertinggi yang akan diairi telah
diketahui maka elevasi mercu bendung dapat ditetapkan. Dari
kedua hal di atas, lokasi bendung dilihat dari segi topografi
dapat diseleksi.

3.2.2 Keadaan Hidrologi


Dalam pembuatan bendung, yang patut diperhitungkan juga
adalah faktor faktor hidrologinya, karena menentukan lebar
dan panjang bendung serta tinggi bendung tergantung pada
debit rencana. Faktor faktor yang diperhitungkan, yaitu
masalah banjir rencana, perhitungan debit rencana, curah
hujan efektif, distribusi curah hujan, unit hidrograf, dan banjir
di site atau bendung.

3.2.3 Keadaan Topografi


Dilihat dari lokasi, bendung harus memperhatikan beberapa
aspek, yaitu
o Ketinggian bendung tidak terlalu tinggi.
o Trase saluran induk terletak di tempat yang baik.

3.2.4 Kondisi Morfologi dan Hidraulik


o Pola aliran sungai meliputi kecepatan dan arahnya pada
waktu debit banjir;
o Kedalaman dan lebar muka air pada waktu debit banjir;
o Tinggi muka air pada debit banjir rencana;
o Potensi dan distribusi angkutan sedimen.

3.2.5 Kondisi Tanah Pondasi


Bendung

harus

ditempatkan

di

lokasi

dimana

tanah

pondasinya cukup baik sehingga bangunan akan stabil. Faktor


lain

yang

harus

dipertimbangkan

pula

yaitu

potensi

kegempaan dan potensi gerusan karena arus dan sebagainya.

3.2.6 Biaya Pelaksanaan


Biaya pelaksanaan pembangunan bendung juga menjadi
salah satu faktor penentu pemilihan lokasi pembangunan
bendung. Dari beberapa alternatif lokasi ditinjau pula dari segi

biaya yang paling murah dan pelaksanaan yang tidak terlalu


sulit.

3.3 Metode Pembuatan Bendung


1. Pembuatan
dengan

bendungan

dimulai

pembuatan

diversion

channel (saluran pengalihan) yang


dibangun di sebelah kanan sungai
2. Pekerjaan dimulai dengan dengan
mengerjakan diversion work dengan
menggali

tanah

dan

pembuatan

tanggul untuk mengalihkan aliran


sungai.

Setelah

sungai

dialihkan

lokasi bendung dapat dikeringkan


melalui proses dewatering.

3. Selanjutnya pekerjaan bendung dilanjutkan dengan pekerjaan


galian tanah dengan excavator dan hasil galian diangkut dengan
dump truck untuk dibuang ke disposal area atau disimpan
sebagai stock untuk material timbunan sesuai dengan jenis dan
spesifikasi tanah.
4. Bila galian menemui lapisan tanah keras, dilakukan pekerjaan
galian batu
5. Dipilih metode drilling and blasting,
yaitu

pada

dibuat

pola

dibuat

lubang

(cradler

rock

permukaan
blasting.
dengan
driller)

batuan

Kemudian
rock
atau

drill
canal

drilling untuk diisi sejumlah bahan

peledak (dynamit) dan detonator


sebagai pemicunya
6. Setelah peledakan, hasil galian dikumpulkan dengan excavator
dan diangkut dump truck ke disposal area
7. Galian batuan dengan blasting (peledakan)biasanya sulit untuk
membentuk dasar galian yang rapi sesuai rock line excavation
yang ada dalam shop drawing
8. Selanjutnya digunakan giant breaker yang dipasangkan pada
excavator untuk membentuk dan merapikan galian batuan

9. Sebelum pekerjaan beton fondasi bendung dimulai, pekerjaan


yang harus dilakukan adalah finising permukaan batuan dengan
membersihkan semua loose material dan menutup permukaan
dengan splash grouting.
10.

Splash grouting adalah campuran semen pasir dan air yang

disiramkan ke permukaan batuan

11.

Tahap selanjutnya adalah pekerjaan beton (concrete) untuk

fondasi, tubuh bendung, kolam olakan (stilling basin) dan piers


serta column
12.

Di permukaan bendung yang terjadi pergesekan dengan air

sungai dimana diasumsikan terdapat batuan lepas, ranting dan


pohon, oleh karena itu perlu dilapisi dengan steel fibre concrete

13.

Pada bendung gerak dibuat bangunan hoist room yaitu tempat

mesin penggerak pintu, dipasang berupa katrol (hoist) elektrik


untuk menaikkan dan menurunkan pintu

14.

Setelah bagian utama terlaksana, diikuti bangunan lantai

apron dan lantai stilling basin yang diikuti pekerjaan backfill


dengan material terseleksi (selected embankment)

15.

Jembatan pelayanan dibuat terpisah di fabrikasi karena

menggunakan precast prestressed concrete, yang dilaunching


dengan metode launching trus
16.

Pekerjaan sipil utama yang paling berat adalah pembuatan

pier dan hoist deck, karena perlu ketelitian dan akurasi yang
tinggi

agar

interfacing

dengan

pekerjaan

pintu

(hydro

mechanical) tidak banyak menemui kesulitan

17.

Dalam penentuan penggunaan perancah bekisting di lantai

hoist room perlu penanganan khusus karena pada ketinggian 28


m, harus melakukan pekerjaan beton dengan beban ratusan ton
dan lendutan yang cukup besar
18.

Pelaksanaan bendung gerak dan bendung tetap merupakan

lintasan kritis . Sedangkan pekerjaan apron, stilling basin dan


fishway

merupakan

pekerjaan

tidak

kritis

tetapi

dapat

dilaksanakan paralel dengan pekerjaan bendung sesuai kapasitas


penyediaan beton per hari

19.

Untuk pembuatan pier dan kolom beton digunakan climbing

formwork dengan dua tipe, yaitu untuk lengkung dipakai


bekisting baja dan untuk yang lurus digunakan bekisting kayu
dan plywood
20.

Pada

tahap

pelaksanaan

pengecoranbeton

untuk

pier

terdapat dua jenis beton yang harus dilaksanaan bersama untuk


menghindari sambungan dingin (cold joint) yaitu antara beton
biasa dan beton campuran berton campuran steel fibre

21.

Agar kedua jenis beton tidak tercampur, digunakan kawat

ayam yang ditahan dengan besi beton atau wire mesh


22.

Pengecorannya dilakukan secara bergantian dalam waktu

yang relatif bersamaan antara steel fibre concrete dan beton


biasa
23.

Dilanjutkan dengan pengecoran bagian-bagian pada dan

elevasi di atasnya sesuai dengan ketinggian climbing formwork


24.

Untuk dinding bangunan hoist room yang awalnya adalah

beton biasa, dilakukan inovasi menjadi kolom dan balok rangka


baja dengan dinding precast prestressed panel (hollow core wall)
untuk dinding maupun plat atap.

BAB IV
KESIMPULAN & SARAN

4.1 Kesimpulan
Dalam pembangunan bangunan air diperlukan teknik yang
khusus. Dalam pembangunan bangunan air diperlukan ada nya
tempat aliran air sementara (diversion chanel) serta pembuatan
tanggul sementara. Hal lain yang harus diperhatikan adalah
kekuatan tanah yang akan didirikan bendungan, model bendungan,
dan bahan yang akan dipakai.
4.2

Saran
Saran untuk para Insinyur Sipil, apabila akan membangun
bendung harus dilakukan sesuai spesifikasi yang ada serta
memperhatikan keamanan pekerja. Selain itu harus tetap menjaga
ekosistem yang ada agar dapat bermanfaat bagi masyarakat.