Anda di halaman 1dari 8

CARA BELAJAR YANG BAIK

Belajar adalah sesuatu yang menyegarkan. Jadi hadapi dengan penuh keceriaan
dan hati bahagia, anggap buku tebal-tebalmu itu seperti sebuah novel petualangan
yang sangat seru, buku cerita yang amat menantang, dan games yang sulit
dipecahkan sehingga bersemangat. Tentu, belajar juga ada cara-caranya, dan setiap
orang pasti berbeda-beda. Beberapa poin emas tips belajar:
1. Hari pertama sekolah, ulang kembali pelajaran yang didapat. Baca secara singkat
pelajaran yang akan diajarkan esok hari buat kerangkanya saja. Begitu pelajaran itu
diterangkan esoknya, kamu sudah punya gambaran. Dan sepulang sekolah kamu
tinggal mengulang untuk bikin kesimpulan atau ringkasan saja.
2. Usahakan untuk konsentrasi penuh saat guru mengajar di dalam kelas.
3. Mengetik atau menulis kembali pelajaran yang telah diajarkan juga akan
membantu, karena sama saja dengan membaca.
4. Setelah membaca ulang pelajaran, cobalah buat kesimpulan dengan kalimatmu
sendiri. Ini akan membantu agar materi tersebut membekas tajam dalam
memorimu.
5. Mengulang pelajaran tidak harus membaca atau menulis ulang pelajaran tapi
bisa juga dengan mengajari teman tentang materi yang baru saja diulang. Nah,
jangan ragu atau pelit untuk berbagi ilmu dengan teman, ingat ilmu itu semakin
dibagi akan semakin bertambah. Tidak seperti uang, dibagi-dibagi ya ludes.
Tambahan, menurut penelitian, kita akan mengingat 5% dari yang kita dengar, 10%
dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar-baca, 30% dari yang diperagakan,
50% dari diskusi kelompok, 75% dari yang kita latihan/praktek, 90% dari yang kita
ajarkan. Jadi mari berlomba-lomba duluan belajar, sehingga bisa mengajari teman.
6. Hindari belajar mendadak sebelum ulangan karena kurang efektif. Usahakan agar
waktu belajar saat persiapan mau ulangan tidak terlalu mepet.
7. Jangan lupa untuk selalu buat ringkasan atau kesimpulan pada setiap pelajaran,
kalau perlu pakai tabel atau gambar ilustrasi supaya mudah diingat.
8. Siang hari adalah waktu yang tepat untuk belajar. Jika pada pagi hari kita
konsentrasi untuk belajar di sekolah. Maka pergunakanlah waktu sepulang sekolah
untuk megulang kembali pelajaran karena pikiran masih fresh. Dan pada malam
harinya gunakan untuk aktifitas belajar yang agak ringan, atau mengerjakan
pekerjaan ruimah. Yang terpenting, hindari begadang, karena dampaknya kurang
baik bagi kesehatan.

9. Badan yang capek akan tidak baik bagi otak kita. Selain itu konsentrasi juga sulit
tercapai. Sebaiknya libur dulu dari acara yang akan menguras stamina kita sehari
menjelang ujian.
10. Usahakan saat belajar untuk serileks mungkin, kalau bisa sambil ditemani
musik. Musik klasik semacam Mozart atau Beethoven atau mungkin bacaan ayatayat suci , mungkin bisa dijadikan pilihan. Musik dan juga bacaan ayat suci akan
bisa menambah semangat kamu. Atau jika kamu tipe orang yang susah konsentrasi
jika tidak di tempat sepi sebaiknya belajar tanpa ditemani musik.
11. Jika kamu ingin menghapal, misalnya UUD atau semacamnya, sebaiknya
dilakukan menjelang tidur. Karena disaat tersebut kamu akan lebih mudah ingat
akan sesuatu yang kamu pelajari saat bangun pagi harinya. Usahakan tidur dalam
kondisi REM (dengan pencahayaan sedikit), sehingga otak kita juga ikut istirahat.
12. Belajar Kelompok Bosan belajar sendirian? Coba saja belajar secara kelompok
bareng teman. Dengan belajar kelompok kegiatan belajar akan menjadi sangat
menyenangkan karena ada temannya. Belajar secara kelompok sebaiknya
mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar bisa termotivasi dan ketularan
pintar.
13. Selalau Disiplin Dan Tekun Dalam Belajar Yang penting di sini adalah kualitas
belajarnya. Walaupun hanya 1-2 jam sehari tapi kalau di lakukan setiap hari pasti
akan lebih baik dari pada belajar dalam waktu yang sangat lama pada waktu
tertentu saja. Misalnya hanya belajar kalau ada ulangan atau ujian saja.
14. Mind Mapping Nah, ini metode terbaru. Terbukti ampuh! Menurut penelitian,
mindmapping menyesuaikan dengan jalan pikiran otak kita yang menyebar, dan
garis-garis hubung menunjukkan syaraf-syaraf otak untuk meneruskan informasi ke
bagian memori jangka pendek. Jika dirasa perlu otak akan melanjutkan ke jangka
panjang. Bahkan jika di ulang-ulang dan sering dilihat-lihat hasil midmappingnya.
Otak bagian alam bawah sadar akan aktif, dan saat Anda membutuhkan informasi
tersebut, dengan mudah bisa kita sampaikan (tulis jawaban saat ujian-red)

Teori Otak Kanan dan Otak Kiri


Sejak Prof Roger Sperry, penerima Nobel tahun 1981 melalui penelitian panjangnya
bertahun-tahun, mengungkapkan hasil temuannya tentang gelombang otak, maka
paradigma baru muncul dan berkembang. Hipotesisnya telah dibuktikannya sendiri
bahwa setiap aktivitas yang berbeda memunculkan gelombang otak yang berbeda
pula. Temuan ini sungguh-sungguh mengubah cara pandang tentang potensi dan
kreativitas otak manusia.
Hal yang mengejutkan, rata-rata otak membagi kegiatannya secara jelas ke dalam
kegiatan "otak belahan kiri" (korteks kiri) dan kegiatan
"otak belahan kanan" (korteks kanan). Saat korteks kanan sedang aktif, korteks kiri
cenderung tenang atau istirahat, demikian sebaliknya.
Kegiatan yang paling mudah diamati tentang pergantian aktivitas otak adalah saat
kita berjalan. Kaki kanan digerakkan oleh aktivitas otak belahan kiri, saat kaki kiri
bergerak otak belahan kanan mengambil alih. Setiap otak memiliki keterampilan
yang khas dalam urutan kerja yang sangat rapi.
Kondisi penuh harapan dari olahan dan kembangan penemuan ini adalah setiap
orang memiliki banyak sekali keterampilan intelektual, berpikir, dan kreativitas,
yang belum digunakan sepenuhnya. Mengacu pada beberapa definisi bakat
terdahulu, jelas bahwa bakat-bakat yang dipenuhi oleh potensi intelektual,
keterampilan dan kreativitas masih dapat terus digali dari diri kita.
Hal ini memberikan harapan besar dan makna sangat dalam, yakni kita tidak
pernah menduga bahwa ternyata kita bukannya tidak berbakat menggambar atau
tidak berbakat matematika. Yang terjadi adalah kita tidak memberi kesempatan
pada kedua belahan otak untuk menggalidiri dan unjuk maksimal.
Orang cenderung bukannya menggali dan memaksimalkan fungsi perbedaan
kegiatan otak belahan kanan dan kiri, namun justru membatasi. Diketahui bahwa
otak belahan kiri melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan logika, analisis,
kuantitatif, fakta, rencana, organisasi, detail/perinci, sekuensial.
Tugas otak belahan kanan berhubungan dengan sifat keseluruhan, intuitif, sintesis,
integrasi, emosi, interpersonal, perasaan, kinestetik. Pembagian aktivitas ini
melahirkan label bahwa senimanberotak kanan sedangkan ilmuwan adalah orangorang otak kiri. Maka manusia pun seolah terbagi dikotomis, orang otak kiri dan
orang otak kanan. Betulkah?
Jangan pernah menggolongkan Albert Einstein sebagai orang berotak kiri. Ia adalah
manusia jenius yang berhasil menggali dan memaksimalkan fungsi kedua belahan
otaknya, sehingga melahirkan teori relativitas yang luar biasa itu. Awalnya Einstein
membiarkan otak belahan kanan melakukan aktivitas imajinasi tentang sebuah

perjalanan di permukaan matahari.


Singkat cerita, perpaduan daya imajinasi dan hal lain yang dilakukan belahan
kanan, serta kemampuan matematika, berpikir sistematis dan hal lain yang
dilaksanakan belahan kiri, membawa dirinya pada sebuah temuan spektakuler yang
maha dahsyat. Bakat, tidak semata-mata hasil ciptaan yang mencuat secara
seragam pada kesempatan berbeda, tidak pula yang hanya digambarkan oleh
atribut profesi dan pekerjaan.
Bakat adalah penggalian terus- menerus dan pemanfaatan seluruh kapasitas otak
secara bertanggung jawab untuk mewujudnyatakan berbagai hal yang tidak itu-itu
saja, atau sesuatu yang sudah telanjur dicap sebagai bakat yang terbatas.
Artinya, tidak ada orang yang tidak berbakat untuk hal tertentu, karena kita semua
memiliki otak belahan kiri dan kanan. Coba saja mulai latihan menulis dengan salah
satu tangan yang tidak biasa digunakan secara dominan sehari-hari. Latihlah
selama satu atau dua bulan terus-menerus.
Apa yang terjadi? Ternyata tangan kita yang satu itu berbakat menulis juga. Hanya
saja tangan yang satu lagi sudah telanjur dominan dalam latihan bertahun-tahun
sejak kita belajar menulis. Betul?
Terdapat dua bahagian / hemisfera otak iaitu otak kanan dan otak kiri. Kedua-dua
hemisfera otak kanan dan kiri ini amat berpengaruh terhadap gaya pemikiran setiap
manusia. Terdapat individu-individu yang pemikirannya lebih dipengaruhi oleh otak
kanan dan terdapat juga individu-individu yang pemikirannya lebih dipengaruhi oleh
otak kiri. Gaya pemikiran otak kanan adalah lebih bebas dan rawak, lebih
menyeluruh (holistik), intuisi, subjektif, sintesis dan abstrak.
Gaya pemikiran otak kiri pula lebih kepada logik, rasional, analitik, objektif,
berturutan dan spesifik. Ilmu yang mudah dilihat banyak menggunakan otak kiri
contohnya ialah ilmu matematik dan ilmu yang berkaitan dengan otak kanan ialah
ilmu seni muzik, sastera dan lukisan. Walau bagaimanapun, terdapat juga ilmu-ilmu
yang menggabungkan pemikiran otak kiri dan kanan seperti ilmu-ilmu sains fizik,
kimia, astronomi dan falsa
Jika dilihat daripada sudut pendidikan, kebanyakan sistem pendidikan yang terdapat
di dunia lebih menjurus kepada aliran pemikiran otak kiri. Para pelajar di seluruh
dunia dilatih untuk membuat keputusan dan melakukan satu-satu tindakan
berdasarkan logik, rasional dan yang mendapat pulangan materi semata-mata. Ciriciri pemikiran otak kiri lebih ketara apabila pelajar memasuki gerbang universiti.
Jika dikategorikan dalam ilmu teknik berfikir, gaya berfikir menggunakan otak kiri ini
bolehlah dikelaskan sebagai gaya pemikiran vertikal. Gaya berfikir seperti ini
sangat-sangat memerlukan sebab-sebab rasional dan logik; segala keputusan mesti
berdasarkan sebab dan akibat, pengalaman-pengalaman yang lalu dan mesti
mempunyai rujukan; setiap idea mesti berasaskan logik dahulu kemudian baru

boleh dilaksanakan.
Ringkasnya, segala idea dan imaginasi akan dikongkong oleh logik dan rasional.
Para pelajar tidak akan bebas berfikir dan tidak mampu dan tidak berani melahirkan
idea-idea baru apatah lagi idea-idea yang amat bertentangan dan dianggap pelik
oleh individu-individu yang berfikiran konvensional. Fikiran konvensional adalah
fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima
ramai sebelum ini. Jika ada idea-idea baru yang dilahirkan pun hanyalah berbentuk
inovatif atau improvement daripada idea-idea sebelum ini, bukan berbentuk
kreatif.
Boleh jadi pelajar, boleh cemerlang dalam akademik tetapi mungkin mereka tidak
akan menghargai apa yang telah dipelajari. Sekiranya para pelajar dilatih lebih
menggunakan otak kanan, mereka akan menjadi lebih kreatif dalam mengeluarkan
idea. Idea-idea yang dilahirkan adalah lebih bebas, abstrak dan tidak terkongkong
oleh fikiran-fikiran lama / konvensional.
Berbeza daripada corak pemikiran otak kiri, dalam gaya pemikiran otak kanan, logik
dan rasional akan menyokong imaginasi bukan imaginasi menyokong logik dan
rasional. Di dalam ilmu teknik berfikir, gaya pemikiran otak kanan ini dikenali
sebagai gaya pemikiran lateral. Jika gaya pemikiran ini diterapkan dengan lebih
sistematik di sekolah-sekolah dan institusi-institusi pendidikan tinggi, maka
kemajuan teknologi sudah pasti akan lebih terkehadapan daripada yang kita lihat
hari ini.
Adalah tidak mustahil untuk melahirkan idea-idea yang tepat dengan menggunakan
imaginasi tanpa melihat dengan lebih teliti tentang sesuatu perkara asalkan
seseorang individu itu mempunyai asas yang cukup kukuh dalam sesuatu ilmu itu.
Sebagai contoh, pada abad ke12, terdapat seorang tokoh perubatan Islam yang
amat terkenal di Mesir bernama Ibnu An-Nafis.
Ibnu An-Nafis adalah amat terkenal sebagai orang yang pertama di dunia yang
menemukan peredaran darah dalam tubuh manusia. Beliau telah menggambarkan
dengan tepat bagaimana darah dalam tubuh beredar daripada jantung ke paru-paru
dan seterusnya kepada seluruh sistem-sistem tubuh yang lain. Anehnya ialah beliau
tidak pernah membedah satu pun mayat manusia seumur hidupnya.
Jadi bagaimanakah beliau boleh menemukan idea ini ? Sudah tentulah beliau
menggunakan imaginasinya setelah mempunyai pengetahuan yang kukuh dalam
bidang perubatan. Beliau juga banyak membuat kritikan, ulasan dan pembetulanpembetulan daripada ilmu-ilmu perubatan dari zaman Yunani seperti Galen dan juga
tokoh-tokoh Islam lain seperti Al-Razi dan Ibnu Sina.
Kesimpulan, teknik pembelajaran secara menghafal tidak pratikal kerana lumrahnya
apa yang dihafal itu akan luput daripada ingatan jika ia tidak diperlukan. Sebaliknya
pembelajaran dengan menggunakan semua sistem deria iaitu mata, telinga, kulit,

hidung dan lidah dapat merangsang daya berfikir (secara semula jadi).
Dalam hubungan ini CVT menerusi formula E.Q - E.Quotient iaitu larutan berasaskan
air mengandungi hidrogen dan nitrogen memberikan tenaga dan khasiat kepada
otak seperti susu ibu. E.Q - E.Quotient perlu disemburkan pada lidah akan memberi
rangsangan kepada otak dengan lebih teratur yang secara tidak langsung
menggalakkan individu itu menggunakan daya imaginasi serta visual mereka untuk
belajar. E.Q - E.Quotient juga mengandungi magnesium, fosforus, potassium bagi
dijadikan tenaga untuk merangsang sistem deria.
APLIKASI OTAK KANAN DAN OTAK KIRI DALAM BELAJAR
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang
diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun
IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14).
Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal,
1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo
May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam
perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumbersumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).
Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga
mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati
dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi
itu adalah impuls untuk bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional
main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing
dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan
cara-caranya sendiri, bekerja secara sinergis dan harmonis
Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio,
yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa
yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan
organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan
kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber
kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam
mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).
Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional
seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan
tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual
passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex
menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit
keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang

tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang)
dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan
masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan
neuron-neuron dalam 'pabrik' otak ini. Amygdala adalah neuron yang mewujudkan
struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin
sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat
penyimpanan memori emosi.
Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University
menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima
input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun
juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada
kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikir.
Dalam perkembangan pendidikan terbaru saat ini, musik klasik (dengan ketukan
tertentu yang selaras dengan detak jantung manusiajadi tidak semua jenis musik
klasik) menjadi sarana penting dalam belajar di ruang-ruang kelas. Buku-buku
pendidikan dengan penjualan best seller international, seperti Quantum Learning,
Quantum Teaching dan The learning Revolution, semuanya mempromosikan musik
klasik untuk digunakan sebagai program belajar. Sebagai dampak dari ide yang
kompak dan serempak ini, beberapa lembaga pendidikan saat ini sedang berlombalomba membunyikan musik klasik sebagai pengiring kegiatan belajar mengajar di
kelas. Fenomena ini bisa kita sebut sebagai efek promosi Quantum Learning. Efek
promosi Quantum Learning ini juga merembet ke lembaga-lembaga pendidikan luar
sekolah. Banyak lembaga-lembaga kursus dan pelatihan di kota-kota besar
Indonesia saat ini yang memperdagangkan program-program learning skill berbasis
Quantum Learning.
Lalu mengapa musik klasik? Atau bahkan mengapa musik digunakan dalam
program belajar? Alasannya karena musik merupakan salah satu makanan
penting dari otak kanan. Selama ini program belajar hanya memfungsikan otak kiri
semata yang melulu bersifat linear, logis dan matematis. Penggunaan otak yang
tidak seimbang ini kemudian cepat menimbulkan kelelahan dan kejenuhan bagi
orang yang belajar. Otak kanan yang tidak punya kerjaan tadi kemudian berfungsi
sebagai pengganggu saudaranya, otak kiri yang sedang pusing dengan rumusrumus dan hafalan. Di sinilah fungsi musik klasik (begitu pula warna-warni dan
gambar) dalam belajar. Ia memberi sebuah aktifitas bagi otak kanan sehingga ia
tidak lagi mengganggu otak kiri di saat belajar.
Apa yang dibahas di atas merupakan efek pendukung belajar dari musik klasik.
Musik klasik juga punya efek memperkaya fikiran. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa musik klasik yang diperdengarkan secara terpola pada janin di
dalam kandungan bisa meningkatkan kecerdasan janin-janin ini kelak ketika lahir.
Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan oleh Van de Carr dan

Lehrer, diceritakan tentang seorang konduktor simfoni terkenal, Boris Brott, yang
suatu hari merasa akrab dengan irama selo yang belum pernah ia dengar
sebelumnya. Ketika ia menceritakan hal itu pada ibunya yang merupakan seorang
pemain selo profesional, ibunya menjadi heran. Ternyata musik selo tersebut sering
ia mainkan ketika Brott masih di dalam kandungannya.